Ahhahahahaha halo lagi buat para Readers yang setia ngikutin cerita saya dari awal meski ceritanya ngawur kayak Zoro yang buta arah kalau nyari jalan pulang (emang punya readers?) entahlah mungkin kebanyakan di balik bayangan.

Entah gimana nasibnya tapi, yang saya pikirin adalah buat fic lemon pas bulan puasa yah, kalau kata orang buatnya pas waktu buka ajah karena, gak ngebatalin yah, gak menutup kemungkinan chapter lemonnya pas puasa wkwkwkwkw :v

Yah, saya mah terkadang bisa update cepat seperti biasa atau lambat kayak siput yah, maklum ada kesibukan di dunia karena, setelah lulus author bingung untuk memilih masuk universitas mana yang bagus.

Bukan bagus fasilitasnya yang saya pikirin kualitas mengajarnya tapi, sih di semua Universitas pasti yang mengajarinya bagus-bagus dan orangnya pinter-pinter kalau enggak? Ngapain juga mereka ngajar hahay

Aye sir!

Chapter 2 : Bunny knight and go to tower

.

...

.

-Rosemary Village

Kini Natsu dan Irene berada di sebuah desa tapi, jika di katakan sebuah desa itu bukanlah sebuah desa yang di katakan layak bahkan lebih tepatnya tempat ini seperti bekas perang.

Seperti bekas perang dan mengerikan banyak mayat yang bergeletak di sana yang rata-rata di dominasi oleh orang dewasa, darah yang sudah lama mengering, dan rumah yang hangus dan gosong, rumah-rumah yang hangus dan terbakar kondisinya, sudah benar-benar sebuah desa lagi.

"Banyak sekali mayat apa di sini telah terjadi perang?" Natsu bingung matanya kesana-kemari

"Sepertinya bukan tampaknya, ada yang terjadi sesuatu di sini" Irene mengikutinya dari belakang "tampaknya ini ulah naga"

"Tidak, ini bukan Ulah Naga" Natsu menggeleng "biasanya semburan mereka bersifat menghancurkan bukan membakar"

Memang benar jika, di pikirkan lagi Natsu bisa mengetahuinya dengan cepat karena, dia Dragonslayer yang telah hidup dengan Naga jadi dia tau seluk beluknya, di tambah lagi para mayat di sini mati karena, sebuah benda tajam bukan karena semburan api.

"Kupikir di sini tidak ada orang" Irene hanya mengira.

"Tidak, dari semenjak awal aku mendengar suara teriakan kupikir, ada" Natsu mengangguk.

"Baiklah jika ada kuharap kita bisa menanyakan padanya apa yang terjadi" Irene menghela nafas.

Mereka terus saja berjalan mengitari desa yang sudah terbengkalai ini.

"Ada apa Natsu?" Tanya Irene yang melihat Natsu menoleh serius ke sebuah tempat.

Natsu tak menjawabnya dia hanya berjalan ke sebuah kotak hitam yang di dekat rumah dan Irene hanya mengikutinya, Natsu membuka kotak itu dan betapa terkejutnya Irene karena, ada seseorang anak kecil di sana.

"Ketemu kau! Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Natsu dan anak itu hanya diam tak menjawab.

Yang di lihat seorang gadis kecil berambut hitam panjang, dengan bando, mengenakan jacket ketat tertutup, dan celana hitam panjang, sepatu boot putih matanya merah terlihat dia sedang sedih.

"Hei, kau tak apa?" Natsu menanyanya balik tapi, wajah gadis itu ketakutan.

"Aku Natsu Dragneel Otsutsuki dan panggil aku Natsu kalau kau siapa?" Natsu mengulurkan tangannya.

"Umm! Kagura, Kagura Mikazuchi" jawabnya dan menerima uluran tangan Natsu.

"Oh, Kagura apa yang kau lakukan di dalam kotak apa kau sedang bermain?" tanya Natsu dengan suara polosnya membuat Irene tertawa kecil.

"Onii-chan!" Kagura hanya membalasnya seperti itu "Onii-chan aku sedang mencarinya dia menghilang"

"Oke Kagura bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" Irene sebagai yang dewasa bertanya pasti, ada yang terjadi sesuatu yang buruk.

"Aku tak tau tiba-tiba saja semua rumah terbakar, banyak orang yang berteriak kesakitan, dan aku segera berteriak mencari Onii-chan tapi, ada anak kecil rambutnya sama seperti bibi dan menyuruhku bersembunyi di dalam kotak itu hingga ama setelah, itu aku tak tau apa yang terjadi" jawab Kagura dengan mata berair.

"Rambut sama sepertiku?" Irene berfikir siapa seseorang yang rambutnya sama seperti dirinya.

"Hei, kau tak apa-apa?" Natsu melihat wajah Kagura yang menangis.

"Ahh maaf aku hanya ingin bertemu Onii-chan saja" Kagura mengelap matanya.

"Bagaimana begini kau ikut dengan kita mungkin, saja Kakakmu ada di mana di suatu tempat" Saran Irene.

"Benarkah" Kagura tampak tak percaya mendengarnya "aku ikut dengan kalian?"

Dan Irene hanya mengangguk.

"Yeayy! Terima kasih Natsu-kun dan bibi" Kagura berlari dan memeluk Natsu dan mencium kening bocah itu tapi, Natsu hanya pasang wajah bingung atas tindakan Kagura.

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Seperti biasa mereka kembali mengadakan perjalanan dan sekarang kini sudah menambah satu orang saja dan tujuannya mereka sama yaitu mencari orang yang berharga bagi mereka.

"Oh ya Natsu-kun kau berkelana memang tujuanmu apa?" tanya Kagura menatap bocah pink di sampingnya.

"Aku mencari ayahku, dan bisa-bisanya meninggalkanku" jawab Natsu kesal "jika aku bertemu dengannya lagi maka, kutendang bokong besarnya itu"

"Hihihihi kau lucu, ayahmu sangat spesial bagimu" Kagura tertawa kecil.

"Tentu saja dia Raja Naga Api Igneel dia mengajariku sihir dan terkadang dia bisa saja menjadi menyebalkan!" Natsu hanya cemberut

"Woww! Itu keren berarti kau kuat" puji Kagura Natsu mengusap hidungnya.

Seperti yang terjadi sebelumnya kini mereka kembali di cegat oleh lima orang dengan mengenakan senjata tajam.

"Natsu-kun! Aku takut!" Kagura bersembunyi di belakang Natsu

"Orang seperti ini lagi" Natsu menghela nafas

"Hey! Kalian berhenti serahkan-"

Sebelum orang itu bicara secara cepat Natsu langsung menghajar wajahnya telak dengan aura petir biru di tubuhnya.

"Bocah sialan!"

Yang berambut pendek melayangkan pedangnya dan Natsu menghilang dan kembali menghajar perut orang itu tepat di perutnya Natsu, melakukan hal yang sama pada tiga orang sisanya dan pada akhirnya mereka semua tergeletak.

'Tadi, cepat sekali aku bahkan tak bisa melihatnya' Irene terkejut melihatnya.

"Sudah kubereskan tenang saja Kagura" Natsu menghampiri gadis kecil itu.

"Kau kuat Natsu-kun!" Kagura dengan noda merah di pipinya "tapi, bisakah kau mengajariku aku ingin kuat juga"

"Huh?" Natsu tampak bingung

"Kumohon ajari aku! Yah?" Kagura berjongkok dengan memberi efek mata anak anjing yang sayangnya tak berefek pada Natsu.

"Aku tak bisa" balas Natsu tapi, membuat mata gadis berbando itu kembali air.

"Kau jahat katanya kita teman!" Kagura masuk mode keras kepala.

"Ya! Ya! Terserah kau sajalah!" Natsu hanya mendengus.

"Yayyy! Kau yang terbaik" Kagura memeluk Natsu

Irene yang melihat interaksi dua orang bocah kecil ini hanya bisa geleng-geleng tak karuan.

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Sebenarnya untuk Natsu sendiri dia melatih seseorang tak tau bagaimana caranya dan di tambah dia sekarang masih kecil akan sulit pastinya jika memberi arahan yang benar-benar sesuai.

Soal di tambah lagi karena Natsu memang taunya di ajar oleh seseorang bukan mengajar seseorang tapi, dia tak bisa mundur lagi karena di sudah janji dengan Kagura untuk melatih wanita walaupun dengan paksaaan kecil.

Dan jika harus di samakan latihannya yang akan di berikan Kagura itu tak bisa sama karena Natsu sudah kuat sedangkan Kagura masih kecil dan parahnya dia wanita.

Jadi, dia memilih mengajar cara biasa yaitu tehknik mengolah pedang karena, itu tak terlalu sulit di jelaskan dan hanya perlu praktek saja dan sangat cepat wanita itu menguasainya.

Natsu hanya duduk bersandar pohon dirinya hanya memperhatikan Kagura yang memainkan pedangnya ke sana kemari bahkan, kelihatannya sudah lihai.

"Bagaimana anak itu?" tanya Irene duduk di sebelah Natsu.

"Seperti yang kau lihat" balas Natsu seadanya

"Hei Natsu?" panggil Irene membuat Natsu menoleh "kupikir sebaiknya kita tinggalkan dia?"

"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Natsu mengangkat sebelah alisnya.

"Aku dengar kalau tak salah di daerah sini ada sebuah Guild" jawab Irene.

"Apa itu Guild?" tanya Natsu memiringkan kepalanya.

"Sebuah rumah bagi seseorang yang tak memiliki keluarga maksudku, tempat itu penuh kasih sayang, teman dan keluarga dan kupikir itu akan cocok karena, dia tak mungkin mengikuti kita karena, tujuan kita beda" jelas Irene.

"Keluarga? Seperti Igneel dengan aku?" Natsu balik

Irene menganggukan kepala "kupikir jika kita tempatkan Dia di sebuah Guild mungkin dia akan senang karena, ada teman dan jangan khawatir dia bakal di lindungi"

"Ahh begitu tapi, apa dia mau?" tanya Natsu

"Itu masalahnya tapi, jika kau yang bicara dengan sedikit berbeda mungkin dia akan mau" jawab Irene Natsu hanya diam tak membalasnya.

.

.

.

.

Malam yang dingin tiga orang yang sudah terlelap tapi, Natsu terbangun lagi dia mengamati dua orang yang satu terlelap tidur yang satunya lagi hanya memeluk tubuhnya sendiri.

Jika, Natsu pikir Irene kedinginan karena, tidur hanya beralaskan dan berselimut daun pisang dan segera dia melepaskan Syal dan menyelimutkannya ke tubuh wanita itu walaupun, kecil tapi itu memberi efek hangat dan terbukti Irene kembali tidur nyenyak.

Natsu kembali tidur meskipun cuaca dingin toh, ini tidak mempengaruhinya karena dia api dan tahan segala sesuatu dingin tapi, saat terlelap ia kembali berguman sesuatu dalam mimpinya.

"Igneel!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Latihan berakhir Natsu, Irene, dan Kagura berjalan melewati desa kecil tampaknya mereka menuju tempat yang di namakan Guild tapi, Natsu tak mengetahuinya untung saja Irene mengetahui tempatnya.

Kagura bingung karena, dia akan di bawa kemana Natsu menjelaskannya secara rinci awalnya Kagura protes dan ingin ikut dengan Natsu tapi, Kagura akan menyetujuinya jika Natsu memberi sebuah janji dan Natsu hanya mengangguk.

Dan Irene sedari tadi dia menyadari bahwa syal Natsu ada pada lehernya dia memang malam tadi kedinginan tapi, dia merasakan hangat dan dia baru sadar bahwa ada syal yang melingkar tubuhnya entah apa alasannya tapi, Natsu mungkin tak tega membiarkan kedinginan.

Dan akhirya mereka bertiga berdiri di sebuah bangunan kayu dengan tinggi 30 Meter sangat sederhana terlihat, dan di depan bangunan itu, ada sebuah patung berbentuk duyung, dan lokasinya tak jauh dari laut.

"Ini Guildnya?" tanya Natsu.

"Yup! Di sini yang kudengar" jawab Irene mengangguk.

Dan tak lama muncul dari dalam bangunan seorang nenek tua mengenakan gaun ungu tua dan tampaknya dia hanya menampakan senyumnya sungguh terlihat damai.

"Ahh anak muda ada keperluan apa kalian di Guild wanita ini?" sapa nenek tua itu rumah

"Ahh jadi ini Guild apakah anda masternya?" tanya Irene.

"Benar namaku Grondur aku Master Guild dari Mermaid Heel sepertinya kalian kemari ada sesuatu" jawabnya.

"Aku kesini karena dia ingin masuk ke Guildmu!" Irene menunjuk Kagura.

"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gondur.

"Yah, dia berasal dari desa Rosemary dan sekarang desa itu sudah hancur dan beruntung sekali aku menemukannya" balas Irene.

"Sungguh Gadis kecil yang penuh ketakutan" Grondur geleng-geleng "dan tenang saja dia di terima baik dan tak ada diskriminasi"

"Ahh itulah yang kuharapkan" Irene tersenyum

"Jadi, Natsu-kun akan meninggalkanku sendiri?" Kagura menatap Natsu dengan ekspresi sedih.

"Tidak, aku harus mencari ayahku dan kau juga kan harus mencari kakakmu dan ini bukan perpisahan suatu saat nanti kita akan bertemu, dan sekuat apa kamu sekarang nanti" Natsu melebarkan senyumannya.

"Baiklah, aku akan kuat dan suatu hari nanti aku akan mengalahkanmu" Kagura menyeka matanya dan langsung memeluk Natsu.

"Aku tak sabar menunggu itu" balas Natsu.

"Ahh mengingatkanku waktu muda" Grondur tersenyum

Setelah mengucapkan kata perpisahan Natsu dan Irene kini melanjutkan kembali perjalanannya kedua anak ini saling melambaikan tangannya.

Ini bukanlah perpisahan melainkan pertemuan yang akan terjadi suatu saat yang akan mendatang.

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Setelah perpisahannya dengan Kagura kini Natsu terus melanjutkan perjalanannya mencari ayah mereka tapi, tampaknya mereka harus ke pusat kota di dekat sini terlebih dulu untuk mencari informasi dan istirahat selain itu perbekalan mereka menipis.

Soal mereka mendapat uang bagaimana? Tentu saja setiap orang yang kesulitan mereka segera temui sebagai imbalnnya mereka memberi hadiah atau bahkan makanan dan Uang.

"Bagaimana dengan Kagura yah! Apa dia baik-baik saja" Natsu terus berjalan

"Jangan khawatir bukankah kau telah berjanji akan menemuinya setelah dewasa?" tanya Irene.

"Yah begitulah" Natsu tersenyum "ehh itu bukankah itu kotanya?"

"Iyah itu benar, sebaiknya kita beristirahat dan memesan kamar!" Irene mengangguk.

Setelah itu mereka sampai di kota dan langsung memesan sebuah kamar dan mereka masuk ke kamar kondisinya cukup sederhana dengan kasur yang muat dua orang, dan jendela yang menghadap laut, dan sofa merah kecil, dan kamar mandi ukuran normal dan pada kenyataannya kota itu cukup dekat dengan laut.

"Ahhh lelahnya" Irene segera menanggalkan pakaiannya "kau mau bergabung Natsu?"

"Mandi? Kau duluan saja aku ingin istirahat sebentar" Natsu menghela nafas dia duduk di sofa.

"Baiklah" Irene tersenyum dia berjalan ke kamar mandi tak mempedulikan kondisi tubuhnya yang telanjang bulat walaupun, Natsu hanya masa bodo.

.

.

.

.

.

Setelah mandi yang Natsu hanya duduk menghadap jendela dia hanya menopang dagunya menatap langit sore tapi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Dan di luar hotel ini tampak kereta kuda yang membawa kotak yang banyak dan panjang saling bergandengan Natsu menyipitkan matanya dia menyadari sesuatu aneh yang di bawa kereta kuda itu.

"Ada apa Natsu?" Irene datang dengan handuk di atas kepala rambutnya diikat.

"Oh tidak ada sesuatu yang aneh" Natsu menoleh ke arah wanita scarlet ini "dan kenapa kau telanjang?"

Yah memang benar wanita ini hanya menutup rambutnya dan mengekspos tubuhnya yang ramping dengan Payudara yang besar dan pinggul yang membuat lelaku manapun mimisan.

"Apa salah? Dan lagipula aku habis mandi dan ini wajar" Irene dengan wajah tak berdosa tapi, Natsu cuek saja "dan apa maksudmu aneh?"

"Yah mendengar suara minta tolong di dalam kereta itu" jawab Natsu matanya masih fokus.

"Mungkin hanya firasatmu saja" balas Irene.

"Tidak, ini suaranya benar-benar jelas!" Natsu menggeleng kemudian dia segera mengganti pakaiannya.

"Kau mau pergi mengeceknya?" tanya Irene dia tau kekuatan anak ini meski sedikit tapi, dia mempercayai kata anak itu.

"Yah, maaf kau tak boleh ikut nanti, aku akan kembali" Natsu melompat keluar jendela.

"Baiklah, dan lekaslah lembali" Irene hanya geleng-geleng saja "dan gunakan pintu!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Dan Natsu pergi meninggalkan hotel itu dia segera mengikuti kereta itu secara diam-diam tanpa ada suara dan tak lama mereka sampai di tepi pantai.

Dan Natsu melihat sebuah kapal besar dan kereta yang tadi ia lihat dan kereta tadi masuk ke dalam kapal itu dan Natsu juga ikutan masuk dan bersembunyi di dalam gentong tak terpakai.

"Tolong kami!"

"Kami di mana!?"

"Lepaskan kami!"

"Bebaskan kita!"

Benar yang di ucapkan Natsu pada nyatanya ada suara orang berteriak di kapal itu dan pada dasar Natsu ingin segera menyelamatkannya Namun, ia tunggu saja dulu akan pergi kemana kapal ini.

Natsu sedikit merasa mual di perutnya dan memilih memejamkan matanya secepat mungkin.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Dan ohh ya aku di cerita ini Irene dan Erza adalah saudara kandung yaitu adik kakak yah walaupun di manga asli mereka ibu dan anak yah namanya fanfic 'unless your imagination'

Hehee yah maaf jika agak telat salah tolong koreksi dan ada apa2

Pm

.

RnR