Hohohohohohoo! Selamat datang kembali di fic saya yang penuh imajinasi dan khayalan tingkat rendah ngmongin soal khayalan jadi ingat sebuah lagu lama ang yang udah lama berkembang band nya (sorry gak tau apa nama band nya tapi, enak lagunya menurutku sih -_-)
Yah yang kudengar curhatan author berhenti Update pada ficnya sih karena sebuah alasan karena, fic nya di copas oleh orang lain yah, hal itu wajar ajah bahkan orang lain juga gak mau karyanya di aku-akui, yah intinya "gua yang capek buat ehh lu malah seenaknya ngeprint tanpa izin" njirr ngeprint memang bener sih.
Oke kumohon ini saranku jangan copas lah setidaknya cerita sendiri lebih bagus meskipun itu tulisan ancur yah, hal wajar karena baru awal nanti, juga lama-lama bagus dan terbiasa (curhatku doank terserah mau nanggepin atau enggak)
Wah, jika ada yang nanya FB ku yah lihat ajah di biodataku kalau ada request sayang sekali aku tolak dulu karena, akan ke ganggu ke fic yang lain.
Prinsipku adalah tamatkan dulu baru yang baru lagi meskipun terkadang gak sepenuh benar yah sudahlah jangan terlalu di pikirkan
Aye sir!
Chapter 3 : Scarlet From Tower and Demon Take-Over
.
...
.
Perjalanan Natsu yang terus berlanjut untuk mencari ayahnya tapi, kini dia terhenti sebentar karena, saat ini dia berada di sebuah kapal karena tak sengaja dia mendengar suara teriakan minta tolong.
Sempat sebelumnya Natsu mendengar suara orang-orang ketika dia berada di hotel lantas dia mengejarnya dan mencari tau dan tak lama dia langsung masuk ke dalam kapal.
Kembali di mana Kapal sudah sampai di sebuah pulau kecil tampak menara besar dan panjang tapi, tampaknya itu belum sepenuhnya jadi di lihat orang-orang yang tengah membuat menara itu.
"Sudah sampai!" Natsu terbangun dari tidurnya buru-buru ia keluar.
"Hueeekkk!"
Semenjak Natsu naik kapal dia tiba-tiba saja mual dan setelahnya dia langsung muntah.
"Hadeh! Aku tak mau naik lagi" keluh Natsu memegang perutnya.
"Mungkin kau mabuk laut" celetuk Kurama.
"Oh kau Kurama kemana saja baru muncul dan apa itu mabuk laut?" Natsu sedikit kaget.
"Yah ada di mana para Jinjucriki beristirahat tanpa bicara dan apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kurama mengalihkan pertanyaan Natsu.
"Yah, aku mendengar suara jeritan dan teriakan ketika aku sampai di sini suara itu makin jelas" balas Natsu.
"Hmmm! Instingmu cepat tapi, sebaiknya kau cari tau mungkin saja itu benar" usul Kurama dan kemudian Natsu berlari masuk ke dalam menara itu.
.
.
.
.
Kini sekarang Natsu ke dalam menara itu dia mencari sumber teriakan dan terus berlari ke sana kemari dan melihat sebuah tangga menuju ke bawah dan Natsu langsung cepat ke bawah.
Begitu sampai di bawah Natsu sedikit cengang karena banyak orang yang berada di bawah tapi, kondisinya begitu menyedihkan karena orang-orang ini kedua tangan dan kaki di belenggu rantai dan di kurung sebuah penjara.
"Mereka tampaknya jadi budak?" celetuk Kurama.
"Apa itu budak?" Natsu tampak bingung.
"Orang yang di jadikan Tahanan mereka di perlakukan lebih buruk dari hewan mudahnya merekalah yang minta tolong ini" jawab Kurama.
"Aku tak tau apa yang kau maksud tapi, aku tak suka ini" Natsu memasang wajah serius.
"Kalau begitu bebaskan mereka dan mereka takkan teriak lagi" ucap Kurama
Natsu berjalan perlahan dia sampai di sebuah penjara dan penghuni penjara itu menoleh dan melihat bocah berambut pink tengah menatap mereka.
"Hei, apa yang kau lakukan di sana? Harusnya kau cepat kabur?" ucap lelaki berambut mangkok.
"Kabur? Apa maksudnya aku malah ingin kemari" balas Natsu.
"Apa kau sinting? Orang-orang di sini ingin keluar kau malah kemari" lelaki berkacamata terlihat panik.
"Apa kau ingin menyelamatkan kami Nyaa!" tanya gadis berwujud kucing.
Natsu tak menjawabnya seperti yang Kurama katakan berarti tempat ini bukanlah hal baik dia mengepalkan tangan kanannya menjadi Magma dia menyentuh pintu besi itu dan membuatnya meleleh sontak orang-orang yang melihatnya shock.
"Katanya kau ingin keluar? Kenapa diam saja?" tanya Natsu.
"Ugh! Terima kasih tapi, bisakah kau bebaskan yang lain, oh dan sebelumnya namaku Simon" pintanya
"Aku Natsu," balasnya.
"Nyaa~! Natsu terima kasih Namaku Milliana" Gadis itu memeluk Natsu.
Natsu melakukan hal yang sama dia membebaskan para tahanan lain tapi, pada saat dia selesai membebaskan yang lain tak lama para penjaga turun dan melihat sebuah kekacauan yang terjadi.
"Ahhh! Kita ketahuan!" Simon terlihat panik.
Clingg!
Wingg!
Sebelum para penjaga itu mulai menangkap mereka kembali secara refleks Natsu langsung membekukan para penjaga itu dengan esnya.
"Wow! Kau kuat dan bisa sihir juga hebat!" puji bocah berambut perak.
"Cepat! Katanya kalian ingin keluar dari sini" ucap Natsu tenang.
Dan mereka semua bergegas keluar saat Natsu ingin beranjak pergi dia merasakan ada seseorang di belakangnya dan melihat seorang kakek tua uzur dan di sampingnya Gadis berambut merah dengan mata sebelah tertutup.
"Ini hanya dugaanku atau gadis itu mirip sekali dengan dia?" tanya Kurama.
"Ahh benar juga dia mirip Eileen bahkan baunya juga sama -sama mirip" Natsu mengangguk dan memasang ekspresi wajah bingung.
"Gadis ini ingin bicara denganmu" Kakek itu menunjuk gadis rambut merah.
Tapi, gadis itu tampak malu-malu dia perlahan maju dan mendekati Natsu wajahnya dialihkan ke arah lain.
"Ummm! Bisakah aku memintamu satu hal?" tanya gadis berambut merah.
"Apa,? Dan Namaku Natsu Dragneel Otsutsuki" Natsu menjulurkan tangannya.
"Umm! Erza Scarlet bisakah kau membantuku untuk menyelamatkan temanku? Kulihat kau kuat?" Gadis itu tampak malu-malu.
"Oke, Erza di mana dia apakah ada di sini!" tanya Natsu.
"Ikuti aku" Erza berlari dan Natsu segera menyusulnya.
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Natsu dan Erza kini masuk lebih dalam lagi ke dalam menara dia mencari seseorang yang Erza cari tapi, halangannya ada para penjaga untung saja Natsu bisa mengatasinya dengan menembakan beamnya.
Dan akhirnya mereka berada di depan ruangan dan masuk ke dalam kondisinya agak cukup gelap mereka dan melihat seseorang yang tengah duduk di kursi.
"Jellal!"
Natsu melihat lelaki berambut biru dengan tatto di mata kirinya dia hanya duduk dengan ekspresi jahatnya dan Natsu sudah merasakan hawa tak enak.
"Aku punya firasat buruk patner" Kurama mendesah.
"Jadi, Erza apa yang kau lakukan di sini?" lelaki bernama Jellal tampak menyeringai.
"Ayo! Kita pergi dari sini karena kita akan bebas!" ucap Erza dengan mata berair.
"Bebas? Hahahaha kau lucu sekali kebebasanku mutlak di sini dengan menara ini kebebasanku akan muncul di sini atas nama Zeref!" Jellal tertawa lepas.
"Jellal! Ayo pergi dari sini menara ini bukanlah kebebasan melainkan, sebuah kurungan yang membelenggu dirimu" ucap Erza.
"Hahahahaha! Kau terlalu Naif Erza! Dengar yah dengan membuat menara ini maka kebebasanku mutlak di sini" Jellal tampaknya dia takkan keluar "kemarilah Erza bersamaku dan membangun menara ini"
"Jellal, kumohon pergi bersamaku" Erza berjalan menghampiri orang itu.
Natsu merasakan firasat buruk ketika Erza maju dia melihat Jellal dengan seringai jahatnya di tangannya terdapat lingkaran sihir dengan cepat Natsu menarik Erza.
"Apa yang kau pikirkan! Lihat dia tak mau ikut denganmu sebaiknya kau pergi" Natsu terlihat kesal.
"Tidak! Aku tak mau pergi sebelum Jellal ikut! Jika kau ingin pergi! Pergilah!" teriak Erza balik.
"Dasar Aneh ya sudah terserah kau saja!" Natsu berlalu pergi meninggalkan gadis itu.
'Dia, benar-benar pergi apa ucapanku berlebihan?' batin Erza shock dia kembali ke arah Jellal "kumohon ayo pergi bersamaku!"
"Untuk terakhir kalinya tidak! Cepat pergi sebelum aku membunuhmu" Jellal dengan aura menyeramkannya
"Baiklah!" Erza segera kembali berlari dia segera cepat keluar dari menara itu.
Apesnya dia bicara tadi karena, benar Natsu sudah menghilang Erza segera berlari yang jadi, apesnya sudah banyak penjaga dan akhirnya dia ketahuan.
"Hey! Bos ada anak kecil di sini!"
Erza ketakutan dia tau sekarang dia lemah dan tak bisa berbuat banyak dan juga dia merasa bersalah terhadap Natsu karena, membentaknya terlalu keras harusnya dia berterima kasih.
"DOTON : EARTH STRANGLE!"
Nggggngkkk!
Sebelum para penjaga itu mengambil Erza tiba-tiba saja muncul banyak tangan dari dalam tanah memegang para penjaga itu hingga mereka tak bisa bergerak.
"Natsu!" Erza menatap figure yang menyelamatkannya "maafkan aku karena, bertingkah egois"
"Yah, tak apa ayo pergi " Natsu hanya memamerkan grinnya.
.
.
.
.
Kedua orang itu segera cepat keluar dari menara itu dan sekarang mereka hanya beristirahat bersandar sebuah pohon mereka, tampaknya lelah karena, belum tidur dengan cepat mereka tidur.
Dan keesokan harinya mereka terbangun dan sekarang Natsu harus kembali pasti Irene khawatir karena, dia belum kembali.
"Maaf, aku harus pergi bukan maksudku meninggalkanmu tapi, aku harus mencari ayahku" Natsu menggaruk kepalanya.
"Yah tak masalah terima kasih menyelamatkanku" Erza tersenyum.
"Tampaknya teman-temanmu sudah pergi" ucap Natsu yah semenjak ia di dalam menara tampaknya mereka sudah lebih dulu pergi.
"Yah, asal mereka bisa keluar bebas aku senang" balas Erza dan pada saat Natsu ingin pergi "hei tunggu dulu"
"Ada apa-" sebelum Natsu bicara lagi keningnya di cium oleh Erza.
"Terima kasih lagi!" Erza hanya blush kecil "kita akan bertemu lagi dan setelah itu aku akan jadi kuat dan akan mengalahkanmu"
"Aku tunggu" Natsu tersenyum dan kembali pergi dan melambaikan tangannya.
.
.
.
.
Natsu berlari cepat menuju Hotel secepat mungkin karena, pasti Irene menunggu dia berjanji takkan lama tapi, malah dia ketiduran dan pada saat dia berlari dia melihat wanita berambut Scarlet yang tengah berdiri memasang ekspresi lembutnya.
"Ahhh maaf harusnya kembali cepat tapi, malah kebablasan" Natsu menggaruk kepalanya.
"Tak masalah aku tau masalahnya" Irene tertawa kecil "ayo pergi kita cari ayahmu lagi"
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Di tengah perjalanan Natsu menceritakan semua yang terjadi dari perjalanannya naik kapal yang merasakan mual, dan menyelamatkan orang-orang yang di penjara dan seorang gadis kecil yang mirip sekali dengan Irene bahkan dari baunya pun sama.
"Jadi, begitu rupanya kau membebaskan para budak beruntung sekali mereka!" Irene hanya tersenyum tapi, yang dia pikirkan gadis berambut merah.
"Benar dugaanku mereka berdua mirip kenapa kau tak menanyakannya?" usul Kurama.
"Apa kau kenal gadis kecil itu?" tanya Natsu.
"Entahlah, jika belum melihatnya sendiri aku tak tau" Irene mengangkat bahunya.
"Dia tampaknya sedikit lupa karena perubahan Naga itu" Kurama mengerang.
"Hei Eileen ada yang kuingin tanyakan?" ucap Natsu.
"Apa itu?" Irene menoleh ke arah bocah di sampingnya.
"Waktu aku berada di menara itu mereka membicarakan Zeref! Zeref! Apa kau tau dia siapa?" tanya Natsu.
"Aku sih tak tau tapi, yang kudengar dia paling di takuti karena umurnya yang abadi" Irene memiringkan kepalanya.
"Ahh kita ada sebuah desa lagi" Natsu melihat ke depan.
Dan sekarang mereka kembali masuk ke sebuah perkampungan penduduk.
"Ugh! Ada apa dengan mereka?" Natsu menunjuk orang-orang yang mengelilingi sebuah rumah.
"Sebaiknya kita tanya saja" usul Irene berlalu dan di susul Natsu.
.
.
.
.
.
Sementara tak jauh dari Natsu beridiri ada sebuah rumah kecil dan sederhana tapi, yang membuat anehnya rumah itu di kelilingi banyak orang dengan berteriak dan ekspresi wajah marah dan itulah rumah yang maksud tadi.
"KELUAR KAU IBLIS!*
" TUNJUKAN DIRIMU KEMARI!"
"KELUARLAH AKU DENGAN MUDAH MEMBUNUHMU!"
"AYO! IBLIS KEMARI!"
sementara yang di teriaki atau lebih tepatnya penghuni rumah itu hanya ada tiga orang mereka semua masih kecil tanpa ada kehadiran orang tua dan mereka semua bersaudara.
"Jangan khawatir Mira-nee kita akan keluar setelah pergi" ucap Gadis kecil berambut pendek.
"Benar! Nee-chan kita akan segera pergi dari sini tapi, kita harus bersabar dikit" ucap Figure lelaki besar.
"Lisanna, Elfman kalian pergilah tak usah mempedulikan aku karena diriku monster" Figure wanita yang mengenakan jubah 'kuharap kita bisa pergi dari tempat inidan mereka tetap selamat'
Sementara di luar Natsu dan Irene menghampiri para kerumunan itu Natsu mencium bau orang-orang biasa di dalam rumah itu.
"Hei, ada apa ini?" tanya Natsu.
"Ini bukan urusan anak kecil sepertimu!" jawab Kakek tua.
"Bisa kasih tau kenapa kalian mengelilingi rumah seseorang seperti ini?" tanya Irene pelan.
"Ahhh biar kuberi tau di rumah ini ada seekor iblis jika di biarkan maka akan membunuh yang lain?" jawab lelaki muda
"Iblis? Apa maksudnya itu?" Natsu memiringkan kepalanya.
"Kau masuk dan akan cari tau sendiri"
Natsu segera masuk ke dalam rumah itu yang dia rasakan hanya hawa biasa bahkan tak ada tanda bahaya ataupun sesuatu yang buruk sedikitpun pada saat dia kembali melangkah langkahnya di cegat gadis berambut pendek.
"Tolong jangan sakiti Mira-nee dia tidak melakukan hal yang buruk" ucapnya.
"Aku tidak mencari orang yang bernama Mira, aku mencari iblis itu" balas Natsu.
"Akulah iblis itu"
Muncul figure lain yang mengenakan jubah dan menampakan gadis berambut putih panjang dengan mata biru laut.
"Huh? Kau bukan terlihat monster malah seperti yang lainnya" Natsu memiringkan kepalanya.
"Benar! Mira-nee kau bukan monster"
"Huh, sebenarnya apa yang terjadi sih kata orang-orang ada iblis di dalam rumah malah setelah kucek terlihat biasa saja" Natsu menggaruk kepalanya yang tak gatal "jika benaran ada aku ingin membunuhnya"
'Dia kuat kalau aku gegabah maka aku juga terbunuh' Batin Mirajane.
"Sebenarnya kakaku yang seorang iblis!" jawab Lisanna.
"Bagaimana bisa begitu?" Natsu terlihat bingung "tapi, sebenarnya siapa kalian?"
"Aku Lisanna, dan ini kakakku yang tertua Mirajane dan dia adalah Elfman kakaku juga" balasnya
"Aku Natsu"
"Sebenarnya waktu itu ada sebuah iblis yang menyerang desa dan aku membantunya dan berhasil mengalahkannya tapi, setelah itu tubuhku jadi begini dan susah di kembali mereka akhirnya menjauhiku" Mirajane menunjukan lengannya yang berbeda.
"Bagaimana bisa orang-orang berkata seperti itu harusnya mereka berterima kasih" ucap Natsu.
"Tak apa kau tak perlu berkata seperti itu ini memang takdirku" Mirajane ekspresi matanya sayu tapi, Natsu mengabaikannya dan pergi keluar.
"Tunggu! Partner aku memang tak suka ini biar aku yang mengatasi ini kau cukup diam saja" ucap Kurama
Natsu keluar dia hanya menatap orang-orang di sana dengan tenang.
"Hei nak apa kau sudah mengatasi iblis itu?"
"Akan kutunjukan pada kalian manusia rendahan siapa iblis sebenarnya!"
Natsu berubah fisiknya seluruh tubuhnya di kelilingi aura berwarna orange, pupilnya berwarna merah, muncul kumis, gigi bertambah panjang, dan sebuah ekor satu sontak orang-orang yang melihatnya takut dan berlarian dan menyisakan Irene saja.
"Gahhh! Dia iblis!"
"Selamatkan diri kalian!"
"Kalian akan di bunuh!"
"Kalian keluarlah mereka sudah pergi" Teriak Natsu dengan wujud normal dan yang di panggil mereka keluar dari dalam rumah.
'Tadi, itu wujud apa?' batin Irene
"Terima kasih Natsu aku tak tau harus bagaimana jika tak ada kau" ucap Lisanna.
"Yah itu sungguh pria yang keren" puji Lisanna.
"Apa kalian tinggal di sini terus? Sebaiknya kalian pergi dari sini kalau tidak mereka akan kembali lagi" usul Natsu.
"Yah, memang tujuan kita akan pergi setelah mereka semua tak ada" jawab Mirajane.
"Ah, ngomong-ngomong siapa wanita itu?" Elfman menunjuk Irene.
"Dia temanku" balas Natsu.
"Ara! Ara! Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi, tampaknya itu buruk" Irene menghampiri mereka.
"Kau akan pergi kemana?" tanya Natsu
"Yah, kita akan ke tempat sebuah Guild di mana mereka menerimaku" balas Mirajane.
"Sama halnya dengan teman wanita berbando itu" ucap Kurama
"Yah, kau sendiri akan kemana Natsu?" tanya Lisanna.
"Yah aku akan terus mencari ayahku hingga ketemu" Natsu mengangguk.
"Semoga beruntung" Elfman memberinya jempol
Setelah pembicaraan mereka ketiga bersaudara ini langsung pergi meninggalkan rumah mereka dan Natsu kembali melanjutkan perjalanan mereka mencari ayahnya.
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Irene bertanya apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu Natsu menceritakannya dari tangan Mirajane yang berubah hingga sesuatu yang ia ketahui.
'Jadi, gadis kecil itu memiliki sihir Take-over huh?' batin Irene 'tapi, apa akan begini terus aku juga butuh rumah dan tinggal tapi, dia menyelamatkanku bahkan aku kembali bisa merasakan makanan, ah lain kali saja aku diskusikan ini'
"Ada apa?" tanya Natsu Irene menggeleng "huh asap apa itu?"
Natsu menunjuk asap yang mengepul di udara yang begitu banyak tampaknya terjadi kebakaran di sana.
"Apapun itu kita cek saja"
"Hm!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Ahhh belum ada pertarungan serius hmm nanti chapter besok dan besoknya lagi dan besoknya lagi (oiii yang konsisten donk)
Ini masih prolog atau pengenalah karakter belum permasalahannya jadi sabar dan tetap stay yah
.
Pm
.
RnR
