Ahhh maaf jika aku agak telat dan sorry update yah, intinya author mendekati lebaran agak sibuk juga dan parahnya mungkin gak bisa update yah sorry mungkin author akan mulai nulis lagi di hari normal karena, lebaran Author juga harus bermaafan dan mau mudik ke rumah nenek, oke cukup curhatnya.

Dan sudah di bilangin ada yang gak suka sama cerita saya tolong tinggalin ini fic jangan buat nyampah di review fic saya, ngasih masukan enggak yang dapet malah ocehan kayak Sony wakwaw. Gak suka? Ya masa bodo lah.

Aku mulai masukin character Dari Naruto jadi, jika tak ada yang seneng karena, ceritanya memuakan, ancur dan gak jelas saya bilang mohon maaf cari fic lain enggak usah nyampah, karena yang saya butuhin orang yang bijak memberi arahan jika ada penulisan saya yang salah.

Oke saya minta maaf saja soalnya saya sedikit kesal dengan hal itu dan juga pastinya orang juga akan melakukan hal yang sama dan kesal jika hasil jerih payah mereka di hina yah, saya minta maaf saja malas cari masalah.

Chapter 8 : Defend Builder & Momochi Zabuza

.

...

.

"Misi khusus?"

"Yah, ada seseorang yang meminta khusus kepada kita" jawab Makarov kepada anak itu yang tengah mengupil "memang biasanya kita akan mengambil kertas permintaan tapi, terkadang ada saja yang kemari dan meminta secara langsung"

"Misi macam apa itu?" Irene mengangkat sebelah alisnya

"Yah, biasanya menjaga sesuatu atau membantu menyerang sesuatu kebanyakan mereka yang meminta pekerjaan seperti tadi langsung datang kemari tanpa kertas misi" jawab Makarov selain itu dia hanya tau misi apa yang sebenarnya.

"Oke, kenapa kita yang melakukan misi ini?" Irene mengacungkan tangannya.

"Yah, kau kekuatannya tak di ragukan lagi, dan alasan aku membawa Natsu dia juga memiliki kekuatan yang bagus meski sering menghancurkan apapun" jawab Makrov selain dia membawa dua orang kuat karena, tak menutup kemungkinan ada sesuatu yang buruk.

"Yah, kau tau Natsu kasian kakek jika kau menghancurkan semuanya nanti, kau takkan mendapat hadiahnya" Happy dengan menutup mulut

"Hey!" Natsu protes namun, dia diabaikan.

"Oke, untuk penjelasan misinya biar mereka yang menjelaskan" Makrov menunjuk dua orang di sampingnya.

Natsu melihat dua orang, yang satu wanita cantik, dengan tubuh ramping, dadanya yang menonjol ke depan memberi kesan indah,dengan rambut hitam ala ekor kuda, dengan mata emerald hijau, mengenakan celana panjang hitam, baju seleting tanpa lengan, dan juga sarung tangan

Dan yang satunya seorang kakek paruh baya, tak setua Makarov, mengenakan kacamata, dan kaos abu-abu, celana pendek, dan sandal, mengenakan tas, dan handuk melingkar di leher.

"Aku Tazuna seorang arsitek"

"Aku cucunya bernama Shizuka"

"Natsu, apa itu Arsitek?" tanya Happy ke partnernya yang sedari tadi masih mengupil.

"Seorang yang merancang dan mendesain sebuah bangunan" jawab Irene karena, Happy di cueki Natsu "dan aku Irene Belserion dan di sebelahku Natsu Dragneel Otsutsuki salam perkenalannya semoga kita bisa membantu"

"Dan aku Happy!"

Natsu menatap Irene dengan tatapan tak suka setelah berbicara, wanita Scarlet segera menyadari sesuatu dan menutup mulutnya lalu meminta maaf karena, ada sesuatu yang tak boleh di beritau kepada halayak banyak.

"Kapan berangkat kakek tua?" tanya Natsu dan Makarov terlihat menahan kesalnya karena pemuda pink itu selalu memanggilnya seperti itu.

"Hari ini jam 10 kalian jangan sampai telat terutama kau Natsu" Makarov menatapnya Natsu hanya mendengus tak peduli "dan juga ajak satu orang lagi untuk menemani misi kalian"

"Ou!"

"Aye!"

(Di Depan Guild)

Semuanya sudah berkumpul tepat jam sepuluh walau ada yang sedikit telat macam Natsu tapi, itu tak menjadi masalah dan saat ini Natsu mengajak Erza karena, gadis itu telah berjanji akan pergi misi bersamanya.

"Oke semuanya telah berkumpul" Irene dia mengenakan pakaian gaun merah tanpa lengan, bagian sisi kiri dan kanan menampakan pahanya yang putih, dan Highheels

"Jadi jenis misi apa yang kita lakukan?" tanya Erza ditangannya sepotong kue.

"Nanti aku jelaskan di jalan" balas Irene dia segera menyusul Tazuna.

"Berhati-hatilah" Makarov menatap mereka pergi meskipun dia tau misi sebenarnya.

"Jadi, mereka pergi misi jenis apa?" tanya Sorano di samping master Guild.

"Hanya menjaga seseorang sampai tujuan" balas Makarov dia hanya berlalu pergi masuk ke dalam Guild.

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Misi mereka mengantar tuan Tazuna hingga sampai ke rumahnya, kakek tua ini takut jika ada bandit atau orang tak waras yang mencegatnya dan meminta sesuatu darinya.

Tadinya mereka menaiki sebuah kereta kuda untuk kesana namun, sesat di tengah perjalanan mereka kembali berjalan kakinya alasan Tazuna melakukan hal yang seperti itu masih di rahasiakan dan terlebih rumah Tazuna berada di dekat sebuah perbatasan antara negara Isghar dan negara Delmar.

"Rasanya pernah mendengar nama negara itu sebelumnya" Irene memegang dahunya mencoba menngingat kembali "bukankah, itu sebuah negeri di mana hanya terdiri dari sungai dan danau-danau kecil?"

"Benar, negeri tempat kami tinggal lain, berbeda dengan Isghar mata pencaharian di sana yang berfariasi berbeda dengan kita kalau tak melaut, yah, seorang arsitektur" jawab Tazuna.

"Aristektur?" Natsu memiringkan kepalanya bingung.

"Yah, karena kebanyakan negeri itu berisi perairan terkadang jika, seseorang ingin pergi ke suatu tempat biasanya akan terhalang oleh sebuah sungai, makanya di buat Jembatan jadi, jangan heran jika kalian ke tempat itu menemui banyak sekali jembatan dari berbagai jenis" balas Tazuna menjawab kebingungan Natsu.

"Karena, Jembatan itu adalah sebuah acses jalan penghubung jika, tak ada jembatan maka jalan dan aktifitas terputus?" Irene menoleh, Tazuna mengangguk.

"Keliatannya, Negeri itu terlihat bagus" puji Erza dengan mata berbinar.

"Tenang saja di sana pemandangannya bagus nanti, akan kuajak ke tempat yang bagus" balas Shizuka tersenyum.

"Benarkah?" Erza terlihat senang, Shizuka hanya mengangguk.

'Yah, pemandangannya bagus tapi, bukan orang-orangnya' Shizuka raut wajahnya berubah kecut Natsu menyadari orang itu namun, dia diam saja.

"Kau merasakannya? Ada dua orang tua mengintaimu tak juga dari sini" celetuk Kurama bagi dirinya dia dengan merasakan kehadiran seseorang apalagi yang memiliki niat jahat.

"Yah, dua orang orang itu mereka tengah sembunyi dan juga mudah sekali menemukan mereka" jawab Natsu mengangguk baginya yang bisa mengusai Haki hal seperti itu malah biasa bagi dirinya.

"Apa yang kau lakukan? Kau tau mereka mengincar si kakek tua?" tanya Kurama.

"Yah, biarkan mereka berbuat semau mereka tapi, jika niat mereka membunuh pak tua itu akan kuhentikan dengan cepat" Natsu memegang kunai milikinya.

"Yah, lakukan semaumu dengan secepat kilat" Kurama menutup matanya kembali.

Irene melihat Natsu yang tengah memegang sebuah Kunai dia tau pastinya bakal sesuatu buruk terjadi, dan juga dia merasakan hawa tak enak ketika turun dari kereta.

Wushh!

Cling! Cling!

Sebuah kunai banyak langsung mengarah ke Tazuna, Dan Natsu menyadarinya dia langsung menangkisnya semua dalam posisi bertahan dan tak lama muncul dua orang di depan mereka.

Dua orang laki-laki yang jika di lihat mereka berdua memiliki kemiripan yang sama, di salah satu tangan mereka sebuah sarung tangan logam besi besar, berbentuk cakar, dan di lingkaro rantai.

"Siapa mereka?" tanya Erza menunjuk kedua orang itu

"Siapapun itu yang jelas mereka tak ada niat baik" Natsu melindungi Tazuna di belakangnya.

"Di-dia orang-orang suruhan Gato!" Tazuna berkeringat pastinya siapapun akan cemas jika tiba-tiba ada seseorang yang ingin membunuhnya "mereka Takumi dan Tokumi bisa di bilang Mikami bersaudara, mereka bisa di bilang membunuh lawannya tanpa ada toleran"

"Hah, pak tua kemarikan lehermu itu!" teriak Takumi

"Sebaiknya kau menyerah atau kami akan memberimu rasa sakit" Tokumi dengan sifat arogannya.

"Siapa lagi, itu Gato?" Tanya Natsu menoleh ke pak tua yang tengah gemetar.

"Lupakan Nanti, misi kita membiarkannya selamat" Irene bersiap menyerang mereka dengan kekuatannya namun, Shizuka menahannya membuat wanita Scarlet itu bingung "ada apa? Ada sesuatu yang salah"

"Biarkan ini jadi urusanku" Shizuka memegang empat kunai biasa "sebaiknya kalian tunggu saja"

"Ayo kakak"

"Ho!"

Shizuka melemparkan empat kunai tadi, kedua bersaudara itu menahannya dengan mudah kini keduanya di depan Shizuka melayangkan pukulannya namun, wanita berambut hitam itu meloncat dan membelakang mereka dan menendang wajah merela berdua dan terpental ke arah lain.

"Gah! Jalamg sialan!" Tokumi menyeka mulutnya dan adiknya juga terlihat kesal.

"Wow, aku tak menyangka dia keren juga" puji Natsu dan Happy mengangguk setuju Erza juga awalnya ingin membantu tapi, dia memilih untuk diam dan tak merepotkan wanita itu.

Mikami bersaudara mengeluarkan rantai mereka dari kedua tangannya dan menyabetkannya Shizuka meloncat dan merunduk menghindari setiap serangan itu.

Kedua bersaudara itu kini mengelilingi Shizuka Rantai mereka di buat melingkari wanita itu, Shizuka tau jika bergerak ke salah satu mereka maka dengan cepat rantai itu bisa melilitnya.

Shizuka langsung meloncat dengan membalikan badan dia langsung menembakan Kunai dan Shuriken kecil pada saat Shizuka turun ke bawah di melihat Mikami bersaudara diam tak berkutik.

Alasannya mudah karena, Shuriken dan Kunai yang Gadis berambut hitam itu lemparkan nyatanya mengarah ke arah rantai mereka dan menguncinya membuat kedua saudara itu diam membeku

"Selesai sudah!" Shizuka memegang kedua kepala saudara itu dan menghempaskannya ke bawah membuat mereka mencium tanah secara paksa.

"Wow, Tazuna-san aku tak pernah menyangka cucumu hebat juga" Puji Irene melihat aksi akrobatik itu.

"Yah, itu bukan apa-apa" Tazuna menghela nafas lega karena, masalah kecil yang menghampirinya hilang sudah.

"Dan apa yang kita lakukan terhadap mereka?" Natsu menunjuk dua bersaudara yang sudah diikat rantai kuat oleh Erza.

"Lupakan saja tentang mereka" Irene menoleh ke arah Tazuma dengan aura gelap "bisa, kau jelaskan pada kami lebih detail karena, kita akan meninggalkanmu jika, ada kebohongan di sini"

Tazuna meneguk liurnya secara kasar menyaksikan wanita menakutkan di depannya

"Ba-baik!"

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

(Suatu tempat di ruangan gelap)

"Gah! Sudah kuduga Mikami sialan itu tak bisa di andalkan!"

Terlihat lelaki pendek, dengan rambut hitamnya, pakaiannya elegant jika, di lihat pastinya dia adalah orang kaya saat ini tengah kesal jika mendengar suaranya saja.

"Sudah kubilang kan? Mereka itu hanya orang bodoh membunuh pak tua itu saja tak bisa"

Terdapat suara lain, figure bayangan ini tengah duduk di sofa.

"Kau yakin bisa melakukannya Zabuza"

Orang yang di ketahui bernama Zabuza ini hanya mendecak atas ketidakpercayaan atas kekuatannya lalu dia memegang pedang besarnya dan menempelkan di lelaki itu.

"Jika, kau menyuruhku untuk melakukannya, tenang saja akan kubawakan kepala dia untukmu"

(Kembali ke tempat Natsu)

Setelah menghadapi serangan mendadak dari Mikami bersaudara kini Tazuna di paksa menjawab beberapa pertanyaan yang di layangkan Irene karena, ada hal banyak sekali yang di sembunyikan pak tua itu.

"Jadi, begitu itulah sebabnya kau meminta kita untuk menjagamu karena, musuh yang kita hadapi bukan bandit biasa melainkan penyihir" Irene menyimpulksn yang dia tangkap omongan dari Tazuna.

"Benar juga dan alasan mereka mengincarku adalah karena aku kepala Arsitek dari sebuah Jembatan yang saat ini tengah di bangun" balas Tazuna mengangguk.

"Jembatan?" Natsu memiringkan kepalanya.

"Yah, seperti Kakek bilang negeri ini terdiri dari sungai dan danau dan sekarang Kakek membuat usulan kepada dewan pemerintah di mana ia akan membangun sebuah jembatan besar sebagai penghubung antara Negeri Isghar dan Delmar dan semuanya setuju hanya saja..." balas Shizuka dia sedikit ragu untuk meneruskan ucapannya.

"Ada beberap orang yang tak setuju soal pembangunan ini?" Jawab Irene dan Shizuka mengangguk "itu sebabnya jika, Kakekmu di bunuh maka proyek pembangunan itu akan berhenti karena, kakekmu adalah orang yang mengusulkannya?"

"Benar sekali," Tazuna mengangguk dan menghela mafas pasrah "apa salahnya dengan itu? Padahal niatku baik supaya orang dengan mudah bulak-balik dari Isghar ke Delmar tanpa harus membayar ongkos kapal yang mahal"

"Waktu kau bicara seseorang, aku dengar ada yang bernama Gato?" tanya Erza.

"Yah, dari sekian orang yang tak setuju dialah yang paling menentang ide kakek ini" jawab Tazuna.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Happy bingung

"Mudahnya usaha yang dia buat sudah lama akan merugi" balas Tazuna membetulkan topinya "karena, sebelumnya untuk ke Isghar atau sebaliknya mereka harus menaiki Kapal yang Gato miliki tapi, si bajingan memanfaatkan kesempatan ini dengan memberi harga patokan yang mahal dan memberatkan orang yang tak mampu itulah alasanku membuat Jembatan itu"

"Dan juga, Gato adalah orang terkaya di wilayahnya sehingga dia dengan mudah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Kakek" sambung Shizuka raut wajahnya terlihat sedikit sedih "maaf telah membohongi kalian tapi, kalau tak begini mungkin kalian takkan mau menemani kita"

"Bagaimana sekarang Natsu?" Irene bertanya ke DragonSlayer api, memang mereka agak berbohong tapi, jika ada alasan lain yang seperti itu dia tak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya dan juga hanya Natsu yang bisa memberi keputusan saat ini.

"Yah, karena kita sudah jauh kesini dan akan melelahkan jika kembali" Natsu membetulkan topinya "dan juga misi kita adalah menjaga pak tua selamat makanya, kita akan menjaganya sampai jembatan itu selesai"

"Begitu yah, ya sudah!" Irene tersenyum.

"Aku ikut apa kata Natsu saja" sambung Erza.

"Aye!"

"Terima kasih semuanya" Shizuka mengangguk.

.

.

Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx

.

.

Perjalanan mereka menuju rumah Tazuna masih di bilang cukup panjang karena, mereka nanti akan memaiki sebuah perahu lagi untuk sampai kesana.

Clack!

"Kau merasakannya juga?" Natsu kini menginjak genangan air bertanya pada partnernya ini.

"Bagiku meskipun mereka handal bersembunyi jika, masih ada niat jahat di hati mereka dengan mudah aku bisa mendeteksinya" balas Kurama membuka matanya

"Bukan hanya itu saja, kau juga berfikir bagaimana bisa ada genangan air sedangkan hari ini tak ada hujan" Natsu jika serius biasanya otaknya akan cepat bekerja.

"Berhati-hatilah ini seperti yang tadi tapi, kekuatan yang ini agak lumayan jika ada sesuatu penggil saja" Kurama menutup matanya balik

Wuukk! Wuukk! Wukk!

Trang!

Suara seperti baling-baling terdengar, Natsu menoleh ke arah belakang di mana sebuah pedang besar kini berputar ke arah mereka Natsu langsung mendorong mereka semua dan menangkisnya dengan Kunai sehingga arahnya berubah dan menancap di pohon.

"Tadi, itu apa?" Tazuna terkejut dia menerima sebuah gerakan mendadak dan hanya duduk tak tau harus merespon seperti apa.

"Ya, ampun hampir saja kepalaku terpenggal jika tak kutangkis" Natsu mendesah kesal dia soal reflek serangan cukup hebat berkata latihan yang Rayleigh berikan.

"Tampaknya kita kedatangan tamu lagi" sambung Shizuka.

"Responmu cepat juga!"

"!"

Suara berbeda muncul lagi dan mereka semua menoleh ada seseorang yang berdiri diatas pedang yang Natsu tangkis tadi.

"Ternyata kau juga kemari untuk membunuh kakek yah, Zabuza" Shizuka menatapnya tajam.

Figure yang di sebut Zabuza ini memiliki postut tubuh tinggi, dengan ikat kepala melingkar, dan topeng yang hanya menampakan matanya, rambut hitam pendek bertelanjang dada mengenakan celana panjang bercak putih dan hitam, dan sarung tangan, di tubuhnya ads pengikat tali yang tampaknya sebagai wadah pedangnya.

"Oho? Tentu saja ini tugas dari Gato jadi, aku menyetujuinya" balas Zabuza dengan suara seramnya.

"Kau mengenalnya?"tanya Erza.

" di wilayah ini siapa yang tak mengenalnya" jawab Shizuke "dia Momochi Zabuza orang menyebunya 'Demon Hunter' karena, pekerjaan dia memenggal kepala orang hanya untuk uang"

"Orang ini sungguh buruk" komentar Irene pedas.

"Jadi, bisa kau berikan Kakek tua dengan cepat? Karena aku saat ini terburu-buru" Zabuza tampak tak acuh.

"Tampaknya aku akan memberikanmu dengan mudah? Omong kosong!" ketus Natsu.

"Kau punya nyali juga rupanya?" Zabuza melihat ke arah Natsu "tampaknya ini takkan mudah, sebaiknya aku harus memintanya paksa dengan kalian"

Zabuza mengambil pedangnya dan berdiri di atas pohon tak beberapa lama muncul asap kabut yang tebal.

"Karena, jika tidak maka dengan senang hati aku yang akan mengambil kepala kalian yang lebih dulu"

Perlahan tubuh Zabuza menghilang dan pertarungan merekapun di mulai.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Yapzz jika kalian tak tau siapa Shizuka kalian bisa search ajah di Google dan juga aku buat beda kalau di anime dia jadi kunoichi Nadeshiku (benar enggak yah?) tapi, di sini aku buat cucu Tazuna hahaha.

Dan juga aku sama sekali tak pernah peduli kata mereka di nikmati bagus kalau enggak suka yah masa bodo aku cuek ajah, dan alur ceritanya sama kayak di Manganya

Oh yah Delmar aku ambil dari bahasa Spanyol yaitu Deul Mar yang artinya Laut karena negara itu sudah seperti laut jika di lihat dari peta.

Jika ada sesuatu yang ingin di bicarakan add FBku : Nhia Scarlet Vermillion (shirahoshi)

Dan oh ya aku akan libur dulu dari menulis fic bukan WB atau Hiatus hanya saja ingin istirahat sejenak dan setelah itu aku akan menulis lagi.

Dan sampai jumpa tanggal 2 juli

Pm

.

RnR