Halo semuanya kembali lagi padaku yang penuh absurd dan penuh omong kosong saja hahaha! Ah dua minggu lagi FT akan tamat dan masih banyak pertanyaan dan keganjilan yang ada di pikiran saya ahhh lupakan saja ini mungkin kegelisahan saya mungkin tak lama lagi mereka akan pergi huaaaaa!
Bicara soal itu mungkin saat ini lagi ngetren meme "terima kasih telah menghibur dan menemani kami" gambarnya pokoknya anime yang sama tapi, di sisain satu yang berbeda biasanya suka gini "ehh ini siapa?" "bukan elu" atau "lain Anime bego!" wkwkw cukup lucu juga hahaha ada hiburanlah lumayan
Huhuhuhu perlahan banyak yang ninggalin kita yah, anime wahhh moga adalagi Manga yang berkualitas muncul seperti terdahulunya hihihihi aku berharap gak banyak Ecchi tapi, boleh Ecchi dan juga di bagusin aksinya yah jika itu manga berbasis Shounen kalau bukan tak masalah lah hihihi.
Ahhh ya soal Chapter kemarin aku lupa dan typo harusnya Chapter 9 malah Chapter 10 sekarang ini adalah Chapter 10 tapi, yah aku minta maaf jika ada yang typo berlebihan dan aku sangat bersyukur jika ada yang suka
Chapter 10 : Meeting Second
.
...
.
Malam harinya setelah bertemu dengan Haku yang tak lama akan jadi musuhnya nanti, dia langsung memilih istirahat tapi, sebelum memejamkan matanya dia mendengar suara pintu di ketuk.
"Masuklah!"
Dan tak lama muncul Shizuka dengan rambut tergerai panjang ke bawah, dengan mengenakan piyama pink, yang menunjukan bentuk lekukan tubuh indan profosionalnya.
"Oh ada apa?" tanya Natsu dia menatap wanita itu.
"Aku minta maaf" Shizuka duduk di sebelahnya.
"Atas apa kau berbicara seperti itu?" Natsu mengangkat sebelah alisnya.
"Yah kelakuan adikku waktu di meja makan" balas Shizuka dia juga setelah tadi berbicara kepada adiknya.
"Oh itu ya tak masalah lagipula aku tak terlalu peduli" Natsu tersenyum dengan tangan mengusap kepala "dan lagipula dia pastinya ada sesuatu hingga dia bertingkah seperti itu"
"Yah dia bertingkah seperti itu karena Ayah" balas Shizuka dengan raut wajah sedih Natsu menyadari itu langsung terdiam "ayah kita dulunya di sebut Pahlawan karena, dia berhasil mengarungi dan menakluki laut selama sepuluh tahun yang sangat mustahil di lakukan orang-orang makanya, dia di sebut pahlawan"
"Jadi, itu alasannya?" tanya Natsu Shizuka menggeleng.
"Bukan, pada saat Sidang pembangunan Jembatan waktu itu banyak orang yang tak setuju atau lebih tepatnya takut tapi, Ayahku dengan lantang menyetujui ide itu dan semuanya ikut setuju juga dan saat itu dia dianggap pahlawan oleh semua orang" balas Shizuka "tapi, di balik itu pastinya kau tau tak ada yang setuju bukan, dan salah satunya Gato dan suatu hari dia menyuruh anak buahnya membunuh Ayah dan saat itu terjadi"
"Itulah sebabnya adikmu itu tak suka kalau kita membantumu karena, ayahmu waktu itu terbunuh?" tanya Natsu Shizuka mengangguk dia tau wanita ini tengah menahan kepedihannya.
"Maaf aku menceritakan ini tapi, aku tak mau menyembunyikannya lagi" Shizuka menyeka matanya yang berair pipinya yang basah dan lembab.
"Oke sudah kubilang kita akan membantumu menyelesaikannya" Natsu dengan senyum Grinnya membuat Shizuka berhenti menangis.
"Yah, sebaiknya aku pergi ingin tidur" Shizuka beranjak dari kasur "dan istirahatlah yang banyak besok kita mulai membangun jembatan itupun, jika tak ada yang menganggu"
"Oke!"
.
.
.
.
Setelah berbicara sedikit lama dengan Shizuka wanita itu segera kembali ke kamarnya dan Natsu merasa kebelet ingin buang air dan setelah dia buang air dia melewati kamar Inari yang sedikit terbuka
Natsu mencoba mengeceknya dengan pelan agar tak mengagetkan anak itu dan terkejut ketika melihat Inari yang duduk di kursi sambil menangis dengan memegang sebuah bingkai foto yang tampaknya foto ayahnya sendiri.
"Kasian anak kecil itu"
Natsu sedikit iba baginya Inari seperti dirinya yang dari kecil sudah kehilangan sosk figure seorang ayah karena, dirinya sendiri juga pernah merasakannya juga kehilangan ayah jadi, dia tak menyalahkan anak itu ketika membenci sesuatu.
Dan setelah puas berdiam diri di sana Natsu kembali ke kamarnya dan kembali tidur untuk misi terakhir besok.
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
( Keesokan Harinya )
Semuanya sudah berkumpul di luar untuk melaksanakan misi mereka, dan berangkat di pagi hari karena, pastinya para pekerja lain sudah berada di sana.
Ketika Natsu hendak berbalik, Inari berjalan ke arahnya Natsu hanya memiringkan kepalanya saja menunggu sesuatu yang terjadi Namun anak itu tak bicara sedikitpun.
"Ada apa Nak?" tanya Tsunami yang melihat tingkah anaknya.
"Aku minta maaf, soal kemarin" Inari tampak malu-malu "jika, kau pahlawan hebat kumohon kalahkan Gato dan tetaplah hidup"
"Yosh! Seorang pahlawan akan menepati janjinya" Natsu mengelus kepala anak itu "Happy, kau bersamanya dan menjadi partnernya"
"Aye sir!"
"Ibu, aku berangkat dulu!" Shizuka membungkuk.
"Berhati-hatilah jangan terlalu jauh dengan yang lain" balas Tsunami.
"Ayo! Kita hancurkan orang yang bernama Sato itu dan membangun jembatannya" Natsu dengan teriakan lantangnya
"Yang benar Gato!"
.
.
.
.
( Di Jembatan )
Mereka sekarang berada di Jembatan terlihat di bawahnya para pekerja yang melakukan penyelesaian jembatan yang tinggal sebentar lagi.
"Sebaiknya, kita waspada takut ada sesuatu yang terjadi" Irene memperingatkan kawannya.
"Kupikir Zabuza akan kembali mengingat misi sebelumnya dia gagal" balas Shizuka dan tak lama kabut muncul tapi, tak terlalu tebal.
"Kupikir dia sudah datang dari perkiraaan kita" sambung Natsu.
Wushhh!
Dan tak lama muncul di depan mereka Zabuza dan orang bertopeng di belakangnya yang bisa Natsu asumsikan dia adalah Haku orang yang dia temui waktu latihan itu.
"Bersiaplah untuk hari akhirmu" Zabuza dengan suara lantangnya "nikmatilah hari ini sebelum besok kalian tak bisa menikatinya dan tujuanku adalah kau"
"Kau pikir kita yang sama seperti pertama kali bertemu" Irene menyeringai "aku akan membalas apa yang kau lakukan waktu itu"
"Kita harus berhati-hati terhadap orang itu" Shizuka menunjuk ke arah Haku "dan Erza bisakah kau menjaga kakekku aku tau, kau ingin membantu tapi, tujuan mereka adalah Kakek"
"Baiklah" Erza mengangguk
"KIRI TSUTSUMA NO JUTSU!"
Zabuza membuat segel tangan dan tak lama muncul kabut lagi tapi, kondisi kabutnya agak tebal dan Haku langsung meloncat ke belakang dan menghilang di tengah Kabut.
"Natsu, Shizuka kalian urusi pria bertopeng itu, dan aku yang akan mengurus pria ini" perintah Irene keduanya mengangguk sementara Erza tetap dalam kondisi melindungi Tazuna.
"Oh-oh rupanya kau, yah siapapun yang kulawan aku tak peduli" Zabuza menghilang di tengah kabut.
"Dia, menghilang lagi" guman Irene matanya tetap waspada jika ada serangan mendadak.
Trang!
Trang!
Zabuza yang tak terlihat langsung melemparkan tiga kunai, Irene menangkisnya dengan tongkat tapi, Zabuza muncul di belakangnya dan mengayunkan pedangnya beruntung Wanita Scarlet itu menahannya dengan tongkatnya.
"Tongkat itu terlihat rapuh tapi, jika di gunakan oleh orang yang benar malah akan lebih keras dari besi" komentar Zabuza.
"Ini tongkat, sudah kulapisi dengan sihir di mana benda yang rapuh akan sekuat besi jika sudah di lapisi itu" balas Irene dia menembakan Laser namun, Zabuza menghilang "ya ampun tampaknya kita harus main petak umpet"
"SUUITON : HOSUI NO JUTSU!"
Blarrr!
Seperti meriam air yang muncul dari dalam kabut dan menghempas langsung ke kepala wanita berambut Scarlet itu.
"Payah! Aku harus mengahampirinya" Irene berniat berlari namun diurungkan "jika, aku ke sana? Bisa saja jebakan agar aku tak cepat ke Tazuna tapi, jika begini terus yang ada aku kelelahan"
Sementara itu di tempat Tazuna, Erza senantiasa berjaga matanya terus terfokus ke kiri dan kekanan tak mengendurkan rasa waspadanya.
"Ugh, sepertinya ini agak sulit juga" keluh Tazuna sedari tadi dia berkeringat dingin
"Tenang, saja selama kita bersama dan tak ada yang mustahil" balas Erza.
Trang!
Pedang Zabuza berputar ke arah kedua orang itu Erza melihat itu segera menangkisnya tapi, tangannya juga terluka terkena sabetan itu.
"Gah! Dia kemari!" Tazuna berteriak ketakutan.
"Ahhh! Tanganku" Erza memegang tangannya yang berdarah namun Zabuza berdiri di depannya dengan mengayunkan pedang "ah, siall! Dia sudah berada di sini"
"Matilah kau!"
Cratttttt!
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Trang! Trang! Trang!
Shizuka dan Haku saling beradu kunai dan jarum mereka menggunakan tehknik bela diri mereka sangat cepat saking cepatnya bahkan Natsu sulit melihatnya dengan mata telanjang jika, dalam perang mungkin sudah sangat cepat membunuh musuh.
"Aku tak tau kenapa kau menolong orang seperti dia padahal orang itu jahat?" tanya Natsu dia sengaja pura-pura tak tau pria bertopeng itu.
"Aku hanya berhutang budi pada tuan Zabuza saja" balas Haku dia tak curiga jika Natsu mengetahui identitasnya "dan juga sudah sepantasnya aku ikut membantunya tak peduli apapun itu"
"Berisik! Kau tetaplah salah" teriak Shizuka dia melayangkan pukulannya namun, Haku menangkapnya dan membuat segel jari dengan satu tangan.
"HYOTON : HYOSHO NO JUTSU!"
Haku langsung membuat tumpukan pisau es kecil dalam jumlah banyak di sekelilingnya Natsu menyadari itu dia berlari cepat ke arah mereka dan membuat segel tangan dan menghirup nafas.
"KATON : HONO KASAI NO JUTSU!"
Wushhh!
Sebelum butiran Es itu menancap ke wanita berambut hitam itu, Natsu lebih dulu menyemburkan apinya dan membuat Es itu meleleh dalam sekejap.
"Terima kasih" ucap Shizuka dia langsung mundur kebelakang.
"Jangan dulu gegabah kita belum tau kekuatan musuh sebenarnya" balas Natsu matanya menatap sekeliling.
Haku langsung membuat dinding cermin Es yang agak besar dan muncul bayangan dirinya lalu melemparkan lima jarum keduanya menghindar secara bersamaan.
Namun, secara mengejutkan Haku berada di belakang Natsu menyadari itu langsung cepat berpindah tempat namun, dia lupa Shizuka yang tak sadar Haku melihat celah itu langsung memberinya sabetan di punggungnya.
Slashhh!
Guh!
Natsu langsung bergerak cepat dan berdiri di belakang Haku melayangkan tendangannya namun pria itu cepat menghilang dalam cermin tapi, dia memberi jarum tepat di dengkul Natsu.
"Dia kabur lagi" Natsu mencabut jarum yang menempel di dengkulnya'sial aku tau jarum ini berbahaya dan juga dia menyerang ke titik saraf lemah manusia'
"Sebaiknya kita gunakan tehknik gabungan" usul Shizuka dia membuat segel tangan Natsu pun melakukan hal yang sama.
"FUUTON : TOPPU NO JUTSU!"
"KATON : HINOTAMA NO JUTSU!"
"HYOTON : KABE KAGAMI NO JUTSU!"
Bushhhh!
Jduarrr!
Shizuka membuat hembusan angin di tambah Natsu menciptakan bola api dari mulutnya dan membuat penggabungan kekuatan yang besar dan Haku dia menciptakan dinding cermin yang membuat jurus tadi terserap.
"Sial jurus gabungan kita" umpat Shizuka kesal
"Dia bisa menyerapnya huh?" pikir Natsu.
"Tehknik yang bagus" Haku membuat segel tangan lagi "tapi, apa jadinya jika serangan tadi berbalik ke arahmu"
"HANSHA HANTEN NO JUTSU!"
Seperti yang di katakan Haku serangan gabungan tadi kini berbalik ke arah mereka tapi, ini agak besar tapi, Natsu buru-buru membuat segel tangan.
"DOTON : HOGOSHEKI NO JUTSU!"
Brakkk!
Jduarrr!
Natsu langsung membuat dinding bebatuan dan serangan tadi hanya melewatinya jika, terkena pasti dampaknya akan sangat besar.
"Uh terima kasih" ucap Shizuka.
"Sial, kita tertipu" Natsu melihat sekeliling yang tampaknya Haku sudah membuat tehknik ketika Natsu melindungi diri mereka.
"Sebaiknya kuakhiri dengan cepat"
"Payah!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Tak jauh dari tempat mereka atau lebih tepatnya dua orang misterius yang berdiri di rumah Shizuka memegang senjata, sementara Tsunami hanya duduk ketakutan sambil memeluk Inari anaknya dan tampaknya dua orang itu suruhan Gato dan juga dua orang ini juga yang meledek Zabuza tempo kemarin.
"Oho? Bos menyuruh kita untuk sesuatu yang mudah"
"Aku senang mengambil tugas ini"
"Lalu apa yang kita lakukan,?"
"Kau bodoh tentu saja sesuai di perintahkan tapi, sebaiknya kita bersenang-senang dulu"
"Kau benar"
Sementara kedua orang itu tengah berdiskusi yang enggak penting, Inari langsung maju ke depan mengarahkan pisaunya ke depan dengan bermaksud melindungi ibunya.
"Inari! Apa yang kau lakukan?!" Tsunami panik melihat tingkah nekat anaknya.
"Aku di sini untuk melindungi ibu seperti ayah lakukan!" balas Inari dia berusaha berani dan hebat seperti ayahnya "bahkan kak Natsu juga berani aku ini lelaki sudah sepantasnya juga aku melindungi ibu".
" oh anak kecil nyalimu berani juga!"
"Kau tau tak baik jika anak kecil melawan orang dewasa!"
"Hei lepaskan aku sialan!" teriak Inari tubuhnya yang kecil itu diangkat oleh pria berjaket itu dia memcoba meronta-ronta namun, tak bisa "heii! Sudah kubilang lepaskan aku brengsek!"
Wushh!
Happy terbang kearahnya dan menganggu mereka dan membuat kedua orang itu tak konsen dan menjatuhkan Inari dan keduanya menoleh ke arah Happy dengan ekspresi kesal.
"Kalian pergilah biar aku yang urus" Happy terbang ke arah lain sementara dua orang tadi terus mengejarnya.
"Oi! Kucing sialan! Kemarilah!"
"Tangkap dia! Kita buat dia sate kucing!"
"Terima kasih!" Tsunami langsung menarik anaknya dan membawanya sembunyi dari tempat itu.
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Sementara itu di tempat pertarungan Zabuza tiba-tiba muncul di depan Tazuna dengan mengayunkan pedangnya di satu sisi Erza yang tengah sibuk menangani tangannya yang berdarah tapi, Secara mengejutkan Irene berdiri di hadapan mereka berdua dengan menahan pedang Zabuza dengan tangan kosong.
"Aku cukup terkesan dengan kemunculanmu" Zabuza juga agak terkejut ketika kemunculan Irene tiba-tiba di depannya "dan kau cukup kuat untuk menahannya"
"Haha! Hal seperti ini sudah biasa bagiku" Irene tertawa sarkatis "dan juga trikmu itu sedikit kau perbaiki karena, mudah di tebak mulai dari sekarang"
"Kau tak apa-apa?" tanya Erza dia sedikit khawatir tangan Irene berdarah seperti yang dia alami.
"Yah, luka seperti ini biasa saja" Irene membalasnya dengan tersenyum mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.
Irene membuat gumpalan petir dari tangan kanannya dia langsung menembakannya dengan kedua jarinya dan Zabuza mengetahui itu langsung mundur walaupun begitu bagian bahu kirinya terkena serangan itu.
"Tampaknya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu!" Zabuza memegang bahunya lalu menghilang lagi dalam kabut.
"Ahh bdoh! dia menghilang lagi!" Umpat Irene kesal dia akhirnya menunjukan wajah seriusnya "saatnya akhiri main kucing-kucingan ini dan menyelesaikan misi ini"
.
.
.
.
.
Tak jauh dari jembatan tempat mereka bertarung ada seseorang gendut, dengan kacamata diatas kepala menggunakan teropong untuk mengamati pertarungan yang tengah di lakukan di jembatan dan orang itu menunjukan wajah seringai jahatnya.
"Lihat tampaknya di lemah dan gagal, sepertinya aku harus ubah rencana lainnya kukukuku!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Awww yeah selesai juga sangat sedikit yah? Maklum saya bukan tipe orang yang pandai ngolah kata tapi, saya selalu seadanya dan langsung ke intinya langsung oke?
Yah! Yah! Sorry jika Erza gak kebagian jatah buat tarung yah slow ajah gak usah buru-buru ini awal permulaan.
Wkwk
See ya!
Pm
.
RnR
