Halo! Aku ada lagi di sini di tempat ini penuh dengan cerita dan kasih sayang seluruh umat manusia di dunia FFN hahaha hamba lagi sibuk sebentar dengan tugas Author di dunia nyata yah maklum lah hidupku bukan terfokus kepada sini ajah hmmm! Aku akan ada rencana buat atau publish fic baru tapi, dengan anime yang berbeda yah bukan Crossover melainkan regular jika, ingin tau apa? Itu rahasia karena aku buatnya gak akan lama maksudnya dalam waktu dekat tapi, aku masih tahap rencana saja yah mudah-mudahan bisa tapi, tak tau lah gimana kedepannya ajah.
Ahhh ya ada yang mesen Request buat fic baru tapi, aku masih bingung gimana cara nulisnya maksudku perkenalan awalnya cerita karena, bagiku yang sulit dari menulis sebuah cerita adalah awalannya dan kedepannya jika, awalnya udah blank maka kedepannya buntu kayak jalan setapak yah aku minta maaf ajah bagi yang belum ke request soalnya yah aku tak terlalu hafal semua anime apalagi yang musiman intinya aku bukan ahli jika bikin sesuatu yang gabungan tapi, akan kulakukan sebisaku.
Ohh ya aku sudah main game yah masih tipe Horror jika kalian punya Ps2 mungkin tau game Siren yah efek dan grafiknya lumayan bagus dan ceritanya menarik dan yang membuatku menarik game ini hampir sama kayak game Haunting Ground yang ngandelin anjing buat ngedeteksi musuh tapi, di Siren main character buat jadi, ngandelin penglihatan anjing buat ngedeteksinya dan ingat ini ada 2 yaitu : Forbidden Siren dan Siren : Blood curse untuk seri pertama memang gak bisa pake senjata ( cara gameplay agak mirip outlast) dan yang kedua memang bisa pake senjata tapi, gak selamanya pale senjata terkadang ada beberapa jenis musuh yang sulit dan kebal di tembak maka harus sembunyi. Oke sekian terima kasih.
Chapter 17 : Galuna Island
.
...
.
- Guild
"Master! Master! Ini gawat!" Mirajane berlari panik dari lantai dua "salah satu kertas misi Class-s menghilang!" Makarov langsung menyeburkan minumannya ketika mendengar teriakan Mirajane.
"Oh, itu barusan aku melihat kucing biru mengambilnya dan dia punya sayap" balas Laxus menopang kakinya.
"Happy?!" Mirajane terkejut 'jangan-jangan Natsu kesana juga kuharap dia baik-baik saja aku tau dia kuat hanya saja aku tak bisa menyembunyikan rasa khawatir'
"Sebenarnya apa sih yang mereka pikirkan!"
"Aku tau dia bodoh tapi, tak pernah dia melakukan hal idiot seperti ini"
"Dia benar-benar serius!"
"Hey Kakek! Mereka melanggar peraturan Guild dan tentunya mereka akan di usirkan?" Laxus menyeringai "tapi, aku ragu mereka bisa pulang dengan selamat dengan kekuatan payah seperti itu hahaha!" Dengan nada arogannya.
"Laxus jika kau tau kenapa kau tak menghentikanya!" Mirajane memberi Deathglare "aku bersumpah akan melakukan sesuatu terhadapmu jika Natsu kenapa-napa!"
"Hei! Hei dia bukan anak kecil lagi yang harus di asuh dan lagipula aku tak tau itu Happy dan apa salahnya jika aku membiarkannya?" Laxus menyadari tatapan Mirajane "ho?, sudah berapa lama aku tak melihat wajahmu seperti itu?"
"Mira, misi mana yang dia ambil?" tanya Makarov.
"Misi Pulau Galuna" jawab Mirajane yang masih memberi tatapan tak menyenangkan.
"Ohh kesitu rupanya!" Makarov wajahnya terlihat tenang dia tau kekuatan anak asuhnya seperti tingkat S hanya saja statusnya masih belum S jadinya dia belum boleh ke atas karena, peraturan "Laxus! Cepat pergi dan bawa mereka kembali"
"Hah! Jangan bercanda aku saat ini juga akan melakukan misi" Tolak Laxus kasar "dan lagipula sudah kubilang mereka bukan lagi anak kecil"
"Lalu siapa yang memaksa mereka kembali!" Makarov Sewot.
"Bagaimana dengan Erza? Aku yakin itu berhasil?" Usul Sorano "dan Nona Irene? Mungkin dia akan sedikit menurut jika di beritau"
"Erza pergi misi dan Nona belum kemari" jawab Lisanna.
"Baiklah kakek! Biar aku saja!" Gray beranjak dari kursinya "dan akan kupaksa si bodoh itu untuk kembali lagi"
.
.
.
.
.
- Pelabuhan Hargeon
"Wahhh sudah lama sekali kita tak kemari" Lucy terlihat senang dia mengenakan kemeja putih "bukankah ini tempat pertama kali kita bertemu?"
"Pertama kali? Bukankah itu di rumahmu aku rasa lebih bagus jika ini sebuah tempat reuni" balas Natsu "dan kupikir masih seminggu dan itupun belum lama?"
"Baiklah jika, untuk ke sana kita harus mencari kapal" Usul Lucy celingak-celinguk.
"Tunggu kapal!" Natsu langsung berkeringat mendengar nama itu "sial! Aku lupa! Minta obat untuk menghilangkan rasa mual!"
"Huh! Kapankah kau pintar? Sedari tadi aku hanya melihat tingkah konyolmu itu"
"Bukankah di misi sudah jelas ke sebuah pulau?" Lucy Sweatdrop lalu tersenyum "tapi, tak masalah aku akan menenangkanmu"
"Kau menyukainya!" Ledek Happy.
Mereka bertanya kepada para pemilik kapal untuk mengantarkan mereka namun, hasilnya nihil karena, ada yang menolak, terlalu takut, atau memang benar-benar tak tau pulau itu, dan ada juga yang tak mau kesana dengan alasan yang di ketahui.
"Huh, gimana nih tak ada yang mau di ajak kesana" Lucy mengeluh kesal.
"Baiklah kita berenang kalau kau tidak bisa, naik ke punggung biar aku yang akan membawamu" Balas Natsu.
"Yang benar saja!" Lucy sewot "di laut itu luas dan lagipula banyak hiunya di sana dan lagipula kau tak bisa menggunakan api di sana!"
"Di sini kalian rupanya!" Gray muncul di belakang mereka dan membuat keduanya shock "maaf aku atas perintah Master untuk membawa kalian kembali ke Guild"
"Gahhh! Jadi Jii-chan sudah tau!" Natsu terlihat panik.
"Benar dan kau akan di usir jika melakukannya" Gray menyeringai "tapi, bukan itu masalahnya dan masalahnya jika Erza mengetahui ini!" Dia langsung gemetar ketika mendengar nama itu.
"Di-di usir?" Lucy berkeringat.
"Peduli amat setan!" Natsu langsung menolak "akan kutunjukan pada mereka bahwa aku ini yang terkuat dan bisa melakukan misi ini!"
"Ini perintah! Jika cara lembut tidak bisa maka terpaksa aku harus membuatmu menurut" Gray mengeluarkan sihir esnya.
"Kau menantangku!" Natsu bersiap menyemburkan sesuatu dari mulutnya.
"Kalian ini idiot!" Lucy berusaha melerai keduanya
"Jadi, kalian semua penyihir yah?" Celetuk salah satu Nelayan dan membuat ketiganya berhenti beberapa saat "jika kalian kemari untuk melepaskan kutukan itu ayo naiklah!"
"Tidak mau!" Protes Gray tapi, dia tak sadar Seringai jahat di wajah Natsu beberapa saat wajahnya kena tendang dan membuat lelaki berambut hitam ini pingsan dan tak sadar.
"Wow! Itu benar-benar tendangan yang telak!"
"Kenapa kau menendangnya?!" Lucy Sweatdrop "dan bukankah lebih baik jika kita tinggalkan dia di sini?"
"Tidak! Jika kita membiarkannya dia pasti kembali ke Guild" balas Natsu menyeret Gray ke dalam perahu "dan bisa saja Erza atau Mira yang akan kemari menyusul kita"
"Errr!"
"Kita berangkat!"
.
.
.
.
- Di perjalanan
"Perasaanku jadi gak enak gini yah!" Komentar Lucy dia yang tengah mengelus rambut Natsu di pangkuannya "mungkinkah pulau itu cukup buruk dan berbahaya?"
"Hadeh! Kau di saat begini malah tak bisa di andalkan bwahahaha!"
"Sial! Bisa-bisanya kau berbicara seperti itu dan sialan! Kalian menyerteku dalam kekacauan ini?!" Gray kesal dia berusaha berontak dari tali yang mengikat tubuhnya "hey, pak tua kenapa kau tiba-tiba berniat mengantarkan kita ke pulau itu?" dia menoleh ke arah nelayan itu.
"Jika kau tak di begitukan maka kau akan mengadu pada Master" Ucap Happy
"Namaku Bobo dan aku pernah tinggal sekali di pulau itu" jawabnya sambil mendayung "tapi, aku melarikan diri dari pulau itu"
"Memang seperti apa pulau itu?" tanya Happy
"Entahlah? Tapi, sesuatu yang mengerikan di sana" jawab Bobo "dan bisakah kalian melepas sebuah kutukan itu? Karena aku juga terkena imbasnya ketika di sana" dia menunjukan tangannya yang berubah seperti iblis.
"Ehhh?!"
"Wowww! Ini menarik!"
"Tanganmu?!" Gray terlihat shock "jadi yang kau maksud kutukan itu seperti iblis?"
"Benar kutukan dari pulau Galuna" balas Bobo menghilang tapi, mereka bertigak tak menyadarinya.
"Ah paman?" Lucy menoleh tapi, yang ingin di tanyakan orang itu sudah menghilang "kemana paman itu?!"
"Apakah dia terjatuh?" tanya Gray bersikap tenang.
"Dia tidak ada di sana" jawab Happy yang muncul dari dalam laut.
"Ada tsunami!" Gerutu Natsu masalah pendengaran dia sedikit tajam.
Dan memang benar ada ombak besar setinggi 12 meter ke arah mereka dengan kecepatan tinggi sontak mereka berteriak histeris.
"Gahhh! Kita tenggelam!".
" Happy bawa kita semua!"
"Yang benar saja!"
"Grrr! Ini semua gara-gara kalian!"
Natsu sudah bangun dari mabuknya dan menyadari dia tak di kapal dan melihat teman-temannya terombang-ambing oleh air laut dan tak bisa bergerak dan dengan cepat mengambil mereka dan menganggkutnya di pundak.
"Hah, kalian ini" Komentar Natsu yang membawa ketiganya dan dalam kondisi pingsan "hah! Apa boleh buat aku akan membantu jika kalian kesusahan"
"Oii! Kekuatanmu dan mereka berbeda jauh jadi, jangan salahkan seseorang" Kurama Sweatdrop namun Natsu tak begitu peduli.
Natsu langsung menyilangkan tangannya dia melihat ombak besar datang ke arahnya tak lama aura dingin menyertai sekitar.
"ICE AGE!"
Krkkkkkk!
Tak lama separuh dari laut membeku karena serangannya tadi.
"Baiklah saatnya pergi!"
"Refleks yang bagus!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Pulau Galuna
"Huh cukup melelahkan membawa tiga orang ini" Natsu tampaknya telah sampai di pulau dan menjatuhkan kedua orang itu plus kucing "tapi, ngomong-ngomong di mana paman itu? Apakah Hantu?"
"Urgh! Ini dimana?" Lucy mengerang dan membuka matanya "tunggu ini di mana tapi, kalau di pikir ombak besar tadi menghempaskan kita tapi, kenapa tadi aku merasakan hawa dingin"
'Dia tak tau apa yang terjadi' Natsu memutar bola matanya.
"Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba paman itu menghilang" Lucy memegang dagunya "kuharap di sini ada sebuah desa maksudku kepala desa ini adalah client kita"
"Tunggu! Sebentar!" Gray bangun tidurnya.
"Jangan bilang kau ingin menghentikan kita" Natsu menyipitkan matanya "dan kita sudah sejauh ini maka mustahil untuk kembali lagi"
"Bukan itu yang kumaksud" Gray membenarkan kerah bajunya "aku akan tetap ikut karena, aku tak suka jika seseorang mendahuluiku karena, aku yang berhak di depan kalian!"
"Yoshh! Sudah di putuskan!"
"Yahhh!"
.
.
.
.
.
- Gerbang Masuk
"Dilarang masuk? Apa-apaan itu" Gray Pokerface melihat Gerbang tertutup rapat "pulau ini terlihat menjengkelkan!"
"Jika tak bisa cara lembut kita gunakan cara kasar" Natsu bersiap menghancurkan gerbang "kita dobrak! Paksa!"
"Tunggu dulu!" Lucy langsung menghentikannya untuk berbuat kerusakan
"Permisi kami dari Fairy Taill kita kemari karena, permintaan di kertas ini" Lucy bersikap formal
"Fairy Taill? Tapi, aku tak menyangka bahwa kalianlah yang akan kemari"
"Mungkin ada kesalahfahaman di sini sebaiknya kita pergi saja" Gray Pokerface
"Ogah!" Protes Natsu.
"Bisa perlihatkan lambang kalian? Hmmmm tampaknya mereka asli"
"Baiklah buka gerbangnya!"
Mereka semua masuk ke dalam hingga akhirnya di sapa oleh kepala desa tersebut beserta rakyatnya mengenakan pakaian tertutup dan aneh.
"Selamat datang Fairy Taill dan terima kasih sudah datang namaku Moka Kepala Desa sini" jawabnya "dan maaf jika ini tiba-tiba tapi, semuanya perlihatkan pada mereka"
Sesuai yang di perintahkan mereka semua melepas jubah mereka dan hasilnya sama seperti Bobo tadi salah satu dari tubuh mereka seperti iblis
"Begitu rupanya" Gray mengangguk "bukan hanya orang itu semua yang di sini terkena dampaknya juga"
"Whoa! Keren! Aku bisa seperti itu?!" Natsu malah tampak tak begitu peduli
"Kita memang mau memperlihatkan ini" Ucap Moka menunjukan tangannya "semua orang di pulau seperti ini tak peduli itu hewan ataupun apa selama mereka mahluk hidup mereka akan terkena seperti ini"
"Tapi, apa yang membuat pulau ini terkena kutukan? Mungkin saja ini hanya sebuah penyakit?" tanya Gray
"Kita sudah menanyakannya tapi, dokter bilang tak ada sesuatu penyakit" Balas Moka "dan sejak dulu pulau ini selalu di terangi cahaya bulan tapi, entah kenapa beberapa bulan yang lalu warna bulan ini menjadi merah dan pada saat waktu itu wujud kami pun berubah"
"Lihat warnanya berubah merah!" Happy menunjuk ke atas
"Mengerikan" Gray berkeringat
"Inilah kutukan sihir bulan" Moka berubah menjadi mahluk mengerikan begitupun penduduk di belakangnya dan membuat mereka berdua melonjak kaget "dan maaf bila membuat kalian kaget ketika bulan muncul kita akan berubah seperti ini dan paginya kita akan kembali normal seperti biasanya"
"Adakah resiko dari perubahan kutukan ini?" tanya Lucy
"Yah sebenarnya ada beberapa orang yang tak kembali ke wujud semulanya dan kami memutuskan untuk membunuh mereka sebelum kehilangan kendali" jawab Moka
"Tunggu dulu! Kenapa kau membunuh mereka?" tanya Natsu terlihat kesal
"Bila kita biarkan maka mereka akan membahayakan orang lain jika di tahan mereka akan berontak dan kabur" balas Moka "itulah sebabnya aku membunuh adikku sendiri karena, jika tidak itu bisa membahayakan yang lain" menunjuk sebuah foto dengan raut sedih.
"Tunggu! Itu kan-" Lucy tau siapa yang ada di foto itu
"Sshhhh!" Gray menyuruhnya diam 'dan itu sebabnya tiba-tiba dia menghilang karena, arwahnya masih penasaran'
"Aku tau kalian penyihir terkenal maka tolonglah selamatkan pulau ini" Moka membungkuk "bila tak di cegah semua orang di sini akan menjadj moster!"
"Tentu saja ini sudah jadi, tugas kita" Natsu memamerkan Grinnya "tapi, bagaimana caranya?"
"Grrr! Dasar idiot!"
"Hanya ada satu cara! Yaitu hancurkan bulan" jawab Moka "karena, dari kekuatan bulan itu wujud kita menjadi seperti ini jadi, kurasa tak ada cara lain selain menghancurkan bulan itu"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Penginapan
"Kalau kulihat bulan semakin lama semakin menyeramkan" Komentar Happy
"Cepat tutup pintunya! Apa kau tak dengar kata kepala desa tadi!" Perintah Lucy "jika kita terus melihat bulan maka kita akan berubah juga seperti mereka"
"Ini agak sulit" keluh Natsu ia berbicara dengan Partner di dalamnya "oi! Kurama! Bisakah kau tembakan sesuatu dari mulutmu atau Bijuudama supaya mudah menghancurkannya?"
"Oi! Kaupikir bulan sekecil bola sepak punyamu apah!" Kurama Sweatdrop " dan lagipula kau harus mengeluarkanku dalam wujud besar tapi, aku masih ragu jika sendiri tapi, jika gabungan kurasa itu berhasil"
"Sepertinya hal itu mustahil" Komentar Gray sudah bertelanjang dada.
"Tak peduli sedulit apapun aku akan tetap menghancurkannya" Natsu terlihat serius.
"Oii! Tolol otakmu sedang terbentur apa!" Gray menggaplok rivalnya "sangat tidak mungkin seseorang dapat menghancurkan bulan bahkan sekelas Master Guild sekalipun"
"Sesuai yang di ucapkan pak tua itu tak ada cara lain selain menghancurkanya!" Balas Natsu.
"Mustahil namun, yang jadi pertanyaanku bagaimana caranya kita ke bulan?" Tanya Gray
"Gampang ada Happy" balas Natsu seenaknya
"Aku tak bisa terbang sejauh itu" Ucap Happy
"Baiklah nanti saja diskusinya sebaiknya kita tidur! Hoammxz!" Natsu langsung ambruk dan tidur
"Yah kau benar!" Gray menguap lebar
"Baiklah selamat tidur" Lucy berbaring dan memejamkan mata dia menyadari bahwa dia tidur diapit dua laki-laki untuk Natsu dia tak mempermasalahkannya malahan senang tapi, untuk Gray 'ya ampun! Bagaimana bisa aku tidur di sebelah orang yang sering kehilangan pakaian ini benar-benar buruk' tubuhnya berbalik ke arah Natsu dan sedikit memberi pelukan lalu tersenyum
'Selamat tidur My King'
.
.
.
.
.
- Keesokan Harinya.
"Sial! Aku masih ngantuk!" Gerutu Natsu sambil tidir berjalan "kenapa kita harus berangkat sepagi ini hoamzzz!"
"Kita misi juga tak terlalu terburu-buru jadi, santai saja!" Gray mengikuti gaya Natsu.
"Kalian pikir aku bisa tidur juga apah!" balas Lucy yang memanggil Hologrium.
"Bohong! Buktinya aku lihat kau memeluk Natsu lalu mendengkur kecil itukah yang di namakan tak bisa tidur?" Ucap Happy membuat wajah Lucy memerah.
"Oh pantas saja tubuhku bertambah hangat" Natsu yang terlihat cuek dan asik mengurek lubang hidung "oh ya aku baru ingat jika kita menghancurkan bulan berarti aku takkan bisa melihat lagi Festival"
"Ohh ya Festival itu jika seperti itu tak ada maka aku takkan bisa menikmati dagingnya" Sambung Gray dia Sweatdrop ketika melihat Lucy masuk ke dalam Jam Hologrium "dan apa-apaan kau masuk ke dalam seperti itu"
"Katanya kalian semua idiot! Karena, bisa saja ada sesuatu yang tak menyenangkan yang terjadi di luar sana" Jawab Hologrium sebagai Juru bicara Lucy.
"Hah! Apapun itu akan kumusnahkan saja!" Gray tampak tak peduli.
"Tampaknya ada sesuatu yang besar kemari?" Komentar Natsu dia dengan Haki Kenbun sudah mengetahuinya dan benar saja ada tikus raksasa dsngan wajah jelek berdiri di hadapan mereka "apakah ini juga salah satu kutukan juga?!"
"Tikus!" Lucy terkejut.
Sebelum Gray melakukan sesuatu Tikus menyeburkan nafas yang tak menyenangkan tentunya ini berefek pada orang yang memiliki penciuman tajam contohnya Natsu.
"Gahhh! Baunya menyebalkan!" Natsu menutup hidungnya.
"Baunya melebihi kotoran kambing!" Gray berusaha menahan nafas
"Sebaiknya kita lari!" Usul Lucy berlari di susul yang lain di belakang"
"Percuma saja!" Gray menyatukan tangannya dan menempelkannya ke lantai "ICE MAKE : FLOOR!"
"Aku bantu!" Natsu menahan nafas sambil membuat segel tangan "DOTON : DOKUENGE!"
Gray membuat jebakan lantai sementara Natsu membuat tangan tanah memegang kaki tikus itu dan membantingnya ke arah Es yang di buat Gray.
"Yosha!"
"Berhasil!"
"Teman-teman aku melihat sebuah kuil sebaiknya kita kesana" Lucy menunjuk sebuah bangunan namun, ketika dia menoleh hanya bisa Sweatdrop ketika kedua temannya menyiksa tikus itu yang sudah tak berdaya "kalian benar-benar kejam!"
"Hahaha rasakan!"
"Inilah akibatnya jika menantang kita!"
"Ini pembalasanku atas nafas sialanmu itu!"
"Terima ini!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Kuil
"Tempat ini luas sekali!" Lucy terkagum "tapi, kira-kira berapa umurnya? Kalau kupikir mungkin sudah tua"
"Lihat di sana ada lambang bulan" Gray menunjuk sebuah motif di dinding "kalau di fikir pulau ini di sebut juga pulau bulan"
"Tempat ini sudah lama kupikir daya ketahanannya juga buruk" Komentar Natsu menginjak lantai dengan kasar "arrhghh! Menyebalkan!" dia menggunakan kekuatannya
"Natsu jangan-" Lucy terlambat karena Natsu sudah melakukannya alhasil tempat yang mereka pijaki ambruk dan runtuh ke bawah.
*crash!
"Gahhh sialan kenapa lantai ini tak ada penyangganya!"
"Idiot! Mana ada lantai seperti itu!"
"Tolol! Memangnya ini atap Guild yang ada penyangganya!"
.
.
.
.
- Di Bawah.
"Hah! Yang benar saja!" Natsu yang baru bangun dari reruntuhan yang menimpanya "tampaknya kita baik-baik saja setelah tadi"
"Sini kubantu Happy" Lucy menolong kucing itu yang lehernya tersangkut tulang.
"Kau ini sok tau banget sih!" Gray yang merapihkan bajunya "kurasa ini lantai bawah!"
"Ayo kita telusuri ini!" Natsu sudah berjalan namun, langkahnya terhenti karena, ada sesuatu yang besar di depannya "tunggu! Apa ini?"
"Ada apa?" Tanya Gray
"Monster raksasa membeku" Natsu menunjuk reaksi Gray setelah melihat Monster itu berbeda dan agak risau dengan wajah ketakutan.
"Deliora!" Teriak Gray berkeringat ketakutan "maksudku! Kenapa ada Deliora di sini!"
"Apa kau mengetahui Sesuatu?" tanya Natsu tapi, Partner di dalamnya juga ingin berbicara sesuatu "hmmm? Ada sesuatu"
"Maaf bukan aku yang ingin bicara melainkan SonGoku" Jawab Kurama
"Gagagaga! Hmmm halo Dragneel! Maaf aku berbicara sekarang" Sapa Songoku "oke aku kesini ada sesuatu di dalam monster aneh itu hmmm? Seperti seseorang yang tersegel di dalam Es ini"
"Maksudmu?" tanya Natsu tak faham.
"Yah ada jiwa yang tersegel di dalam Es ini bersama monster" Jawab Songoku "ada sebuah kehidupan di dalam es ini meski sangat kecil setidaknya kau bisa melepaskan segel es ini dan menyelamatkan orang yang tersegel ini"
"Maksudmu! Aku akan membuka Segel Es ini dan menyelamatkan seseorang tapi, bagaimana caranya?" tanya Natsu "dan jika ini berhasil berarti monster ini akan hidup lagi dan menyerang semuanya?"
"Yah memang begitu tapi, kau bisa mengalahkannya karena, perbandingan kekuatanmu dengannya cukup jauh" Balas Songoku "dan selain itu tampaknya seseorang yang tersegel di sini dan monster itu memiliki kaitan yang erat terhadap temanmu yang sering kehilangan pakaiannya dan kau bisa lihat raut wajahnya ketika melihat monster ini dan tenang saja akan kubantu kau!"
"Oke aku mengerti" Natsu mengangguk
"Ini Deliora! Iblis membawa petak kenapa dia harus ada di sini" Gray bergemetar ketakutan "seharusnya dia tak ada di sini!" Natsu melihat wajah itu dan faham ada sesuatu masalalu yang terjadi terhadap rivalnya.
"Hei, aku bisa merasakan seseorang kemari" Ucap Natsu dia memang mudah merasakan hawa kehadiran "sebaiknya kita sembunyi!" dia langsung menarik temannya.
Dan tak lama ada dua Figure muncul yang satu lelaki tenang, dengan rambut Gaya mohawk ungu, dengan alis tebal dan mata sipit, yang satunya lelaki seperti anjing, yang hanya mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada seperti Gray.
"Tampaknya ada seseorang yang kemari" Yuuka celingak-celinguk "ugh! Ini hanya firasatku saja jadi, aku ngantuk sekarang apa mungkin Efek Moon Drip dan apa kau terkena efeknya juga?"
"Sama sekali tidak bodoh!" Teriak Toby "ini memang wajah asliku!"
"Tenanglah ini hanya gurauan" balas Yuuka tenang
"Apakah itu yang di maksud kutukan itu?" Guman Lucy sambil menguping.
"Yuuka-san, Toby-san ada berita buruk" Figure wanita berambut pink, dengan dua kuncir kuda "Angelica telah di kalahkan!"
"Itukan hanya tikus!" Toby Sewot.
"Dia bukan sekedar tikus, Angelica adalah pelari tercepat di kegelapan dan cinta" Balas Sherry
"Ada yang gak beres dengan otak wanita itu" Lucy Pokerface.
"Bau mereka bukan asli orang sini" Natsu mengendus "dan di perparah mereka tak terkena kutukan itu jika, mereka orang asli sini seharusnya dia berubah jadi monster"
"Benar dugaanku ada penyusup di sini" Ucap Yuuka melihat sekitar
"Kita harus segera menangkapnya sebelum bulan menampakan cahayanya" Ucap Sherry "atau Reitei-sama akan marah"
"Aku setuju" Yuuka mengangguk "karena, mereka sudah melihat Deliora kita tak bisa membiarkan mereka hidup-hidup" dan tak lama mereka pergi dari tempat itu.
"Sekarang bagaimana?" tanya Lucy "karena, waktu yang belum tepat untuk menanyakan dan menangkap mereka sekarang"
"Aye!"
"Kau tau sesuatu Gray, tentang mosnter ini?" tanya Natsu "apakah ada sesuatu hubungan di masa lalumu dan jangan bohong aku bisa lihat jelas di wajahmu" dia langsung bertanya pada intinya.
"Yah memang benar dan asal kau tau Iblis ini tersegel dulunya 10 tahun yang lalu di benua Es Utara" Gray mengepalkan tangannya "dan iblis ini dulunya di Segel oleh guruku Ur yang telah mengorbankan dirinya untuk menyegel Mahluk ini"
"Bingo! Seperti dugaanku" Ucap Songoku "oh ya jika kau menyelamatkan wanita itu mungkin kau dapat hadiah khusus" Natsu hanya Sweatdrop mendengarnya.
"Aku tak tau siapa Reitei ini" Gray wajahnya terlihat kesal "tapi, takkan kubiarkan orang itu mencoreng nama guruku"
"Jika kau bilang ada di Utara kenapa malah ada di sini?" Tanya Happy
"Mungkin saja mereka yang membawanya kemari" jawab Lucy "dan mungkin saja ada hubungannya dengan ritual itu dan mungkin mereka mengira monster ini masih hidup makanya di bawa kemari"
"Yosh! Kalau gitu hancurkan!" Natsu sudah siap mengeluarkan sesuatu dari tangannya tapi, dia tau Gray melayangkan tinjunya namun, berhasil di tangkap dan membantingnya balik "oi! Apa yang salah dengan kau!"
"Menjauhlah! Api itu bisa melelehkannya!" Gray melotot.
"Kau ini gila? Ini Es di gunakan pakai Segel" Ucap Natsu dengan nada serius "dan jika Es ini hanya meleleh dengan apiku seharusnya tahun-tahun kemarin Es ini sudah mencair!"
"Tch, kau benar" Gray mendecik "aku lupa bahwa Ur melepaskan segel Es ini dan kau benar mustahil untuk mencair"
"Jika kau bilang ini sulit mencair mungkin mereka tau cara mencairkan segel Es ini jadinya mereka membawanya" Sambung Lucy "dan lagipula apa tujuan mereka kemari?!"
"Mana kutahu!" Gray protes "sial! Aku jadi tak bisa tenang! Jika seperti itu sebenarnya siapa sih mereka yang membawa Deliora kemari?"
"Jawabannya mudah saja kita susul mereka dan paksa mereka untuk memberitahunya" Usul Natsu mengepalkan tangannya.
"Tidak bisakah kau melakukan sesuatu tanpa kekerasan" Lucy Sweatdrop.
"Jadi, bagaimana kelanjutannya?" tanya Happy.
"Sesuai yang mereka katakan Ritual Bulan jadi, kurasa mereka akan melakukannya di malam hari" Jawab Gray "yah, sebaiknya kita menunggu sampai malam"
"Menunggu! Bagaimana bisa aku diam tanpa melakukan apapun!" Natsu terlihat paling kesal duluan "dan katamu menunggu malam! Tapi, ini masih siang bolong!"
"Kurasa Gray benar kita harus menunggu ini sampai malam" Lucy mengangguk setuju.
"Ahh baiklah" Natsu langsung bersandar batu.
"Ur.." Guman Gray dia teringat kenangan waktu kecil dia hanya duduk memperhatikan Monster itu dan Natsu menyadari tatapan sedih rivalnya.
"Ahhh kesal juga menunggu" Keluh Lucy bosan dia memegang Kunci Perak dan tampak memanggil sesuatu "OPEN GATE : THE LYRE LYRA!"
Dan muncul seorang gadis dengan tingkah terlalu kecentilan, mengenakan gaun Hitam, dan penutup kepala, dan sayap putih kecil, dan di punggungnya sebuah Gitar Zaman kuno.
"Awww! Sudah lama kau tak memanggilku ahh!" Lyra bertingka seperti sifatnya "soalnya sudah lama kau tak memanggilmu"
"Itu karena, memanggilmu hanya bisa 3 kali dalam sebulan" Lucy Sweatdrop.
"Orang aneh yang sama seperti Lucy" Komentar Happy
"Baiklah lagu apa yang ingin kau nyanyikan?" tanya Lyra.
"Terserah kau aja dah" jawab Lucy.
"Baiklah... *Jreng *jreng *jreng" Lyra memainkan gitarnya dan mulai bernyanyi "umareru kotoba~ kiyeyue Kotoba~Anata no nakani~ikitsuzeru kotoba~tochidomori Soki~Yuuki Heto kaweru~Saa arukidaso~ano yori toki~anatawa suyoku natteiru kara~Mou Mayonada nawe~ano toki no Kotoba wo shinjite"
"Ehh, Gray kau menangis!" Lucy terkejut melihat lelaki berambut hitam ini mengeluarkan air mata.
"Ahh yang benar saja!" Gray mengusap langsung air matanya agar tak ketahuan
"Ftttt! Dasar cengeng!" Natsu malah menertawakannya.
"Diammmmmm!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
Setelah mereka tidur siang dan mereka terbangun dan hari sudah malam mereka melihat cahaya merah dari monster Deliora dan segera mereka ke atas dan mencari sumber tapi, diatas tak ada seseorang dan merekapun sembunyi sambil melihat keadaan.
"Tampaknya mereka sedang melakukan ritual itu" Komentar Natsu bersembunyi "tapi, aku tak bisa mencium bau orang di sana"
"Dan terlihat mereka telah melakukan Ritual membebaskan Deliora" Sambung Lucy dan menoleh ke Stellar Spiritnya "kau masih di sini rupanya" dia hanya Sweatdrop.
"Mereka sedang melakukan Ritual yang di sebut Moon Drip" Balas Lyra "dan mereka tampaknya membangkitkan monster itu dengan cahaya bulan"
"Tidak mungkin! Segel Es itu mencair begitu saja" Gray terlihat panik "jika Es itu mencair mereka tak tau betapa mengerikannya Deliora!"
"Mungkin saja tapi, sihir Moon Drip ini juga bisa mencairkan Es itu" Balas Lyra.
"Sebaiknya kita sembunyi" Natsu mengendus "aku bisa mencium bau mereka kemari"
Dan selagi mereka sembunyi pada kenyataannya ada kelompok yang waktu itu kini muncul lagi bersama seseorang yang baru mengenakan jubah putih tertutup, dan topeng.
"Tch, aku tak bisa tidur gara-gara tadi malam" Yuuka menguap "dan parahnya kita tak menemukan penyusup itu"
"Aku juga lelah tolol!" Toby berteriak.
"Kabar buruk Reitei-sama" Ucap Sherry menoleh "kita kedatangan penyusup dan tak bisa menangkap mereka"
"Itukah orang yang di sebut Reitei?" Lucy menunjuk "dari gaya pakaiannya dia lebih terlihat seperti orang aneh"
"Tampaknya Deliora akan bangkit paling tidak hari ini" Ucap Reitei dia tampaknya tak begitu peduli "tapi, aku tak ingin para penyusup itu mengganggu rencanaku dan kalian pergilah ke desa itu dan hancurkan semuanya"
"Baik!"
"Ayo!"
"Uwohhhg!"
"Orang ini Stress!" Komentar Natsu.
"Sebaiknya kita tolong para penduduk" Lucy bertingkah panik.
"Tidak mungkin! Suara itu?!" Gray menggigil ketakutan "mungkinkah itu kau?"
"Lyon?"
"Sial! Aku kesal hanya jika menunggu di sini" Natsu menunjuk dan membuat putaran cahaya menyilaukan dan menembakan laser yang serangannya tak mengenai mereka sedikitpun atau memang di sengaja untuk menimbulkan kekacauan.
Jduarrr!
"Tampaknya mereka dari Fairy Taill" Komentar Yuuka "jadi, begitu rupanya penduduk di sini yang meminta mereka"
"Apa yang kalian lakukan cepat pergi dan hancurkan para penduduk itu" Perintah Reitei alias Lyon "aku tak peduli siapapun itu akan kuhancurkan siapapun yang berani menghalangi rencanaku"
Gray membuat Pilar Es bergerak ke arah Lyon namun, lelaki itu membuat perisai Es untuk menahannya, Lyon menggerakan tangannya berusaha membekukan Natsu namun, lelaki berambut pink ini sudah berada di depannya dengan aura petir.
"Kau cukup lambat untuk orang congkak sepertimu" Natsu memberinya tinjuan tak begitu keras tapi, itu cukup untuk meretakan topeng itu.
"Temanmu lumayan juga dan apa kabar Gray lama tak berjumpa," Lyon menampakan wajahnya karena, topengnya sudah hancur "tidak, atau harus ku sebut teman seperguruan" dia menyeringai.
"Lyon kau tau kau bukan murid Ur lagi" Ucap Gray
"Itupun berlaku untukmu Juga Gray" Lyon menyeringai "dan di tambah lagi Ur sekarang sudah tak ada di dunia ini"
"Hei yang ini kuserahkan padamu dan juga aku yang akan menyusul yang lainnya" Ucap Natsu dia tau tak ada gunanya ikut campur masalah orang lain
"Oke dan lagipula ada sesuatu yang ingin kuselesaikan secara pribadi" Gray mengangguk "dan di mana Lucy?" dia tak melihat Gadis berambut pirang semenjak tadi.
"Dia pergi lebih dulu kesana bersama Happy" jawab Natsu dan perlahan tubuhnya memudar oleh api "kuserahkan dia padamu"
"Heii kau tau apa yang kau lakukan?!" Gray bertanya "dia kehilangan nyawanya karena, menyegel monster itu dan kau malah melakukan sesuatu yang konyol seperti ini!" dia berteriak kesal.
"Hah, lucu sekali jika kau yang berbicara bukankah kau yang membunuh Guru kita sendiri" Lyon memberi Deathglare "dan bagaimana bisa kau berbicara seperti itu setelah yang kau lakukan? Apa aku benar?"
"Gray!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Di Laut
Tampak sebuah kapal besar yang tampaknya dimiliki seorang bajak laut tengah berlayar ke arah Pulau Galuna dan bisa di lihat para Kru yang tergeletak dan terluka berkat seseorang.
"A-apa yang kau lakukan ke-ke pu-pulau itu" Captain kapal itu ketakutan oleh seseorang gadis merah, berarmor "bukankah i-itu pulau te-terkutuk siapapun di sana da-dapat berubah jadi monster"
"Bodo amat! Karena, aku kemari ingin menyusul sesuatu yang ku khawatirkan" Balas Erza dengan Nada tinggi 'Natsu, baka! Kenapa kau melakukan sesuatu yang aneh dan membahayakan seperti ini, aku bersumpah akan menghukummu jika kau sampai terluka'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
HahaHaha akhirnya aku selesai ini seperti biasa gak ada yang spesial dan berarti dan begitupun aku tak peduli apapun itu yah See ya!
Pm
.
RnR
