Ahhh, sorry untuk tak Update seperti biasanya dan yah namanya juga manusia pasti ada fi sela kesibukan yang gak berarti yah bukan tak padat tapi, terkadang kita gak tau apa yang terjadi di kemudian Hari dan kedepannya yah, aku intinya mohon maaf jika, aku agak telatan yah gak usah marah dan itu hal wajar karena, jika kamu pernah jadi Author pastinya ngerti gimana rasanya yah hal yang wajar dan aku tak peduli.

P.S : hahahahaja bazengg! Baca TOkyo ghoul Re di Chapter terbaru memang kanmfret gua fikir dah tewas rupanya zonk -_- yah itu hal wajar karena, tubuhnya setengah2 kayak otak saya yang gak jelas oke sekian.

Chapter 21: Battle Guilds

.

...

.

"Element Four huh, kebetulan sekali" Elfman membuka bajunya "dan, katakan padaku bagaimana cara menghentikan bendan besar sialan ini! BEAST ARM : KOKYGYU!" dia mengepalkan tangan kanannya dan tak lama menjadi besar dan Hitam.

"Oh, sepertinya rumor itu benar kau hanya menggunakan satu tangan" Komentar Sol tampak biasa "kalau kau terkejut tak usah heran aku punya semua banyak informasi tentang Penyihir Fairy Tail!"

"Bisakah! Kau berhenti mendumel tak jelas!" Elfman melayangkan pukulannya namun, dapat dihindari dengan mudah oleh orang itu.

"Aku, yakin kau punya adik SABLE DANCE!" Sol membuat debu pasir di sekitarnya sehingga pandang jadi tak jelas untuk Elfman dia hanya hening kenapa, orang ini cukup tau masalah Pribadinya "RONCE CONCERTO!" dia menembakan tumpukan batu ke arah lelaki itu "apa kau masih Trauma dengan kejadian yang hampir membunuh adikmu sendiri? Sehingga kau tak bisa berubah sepenuhnya"

"BEAST ARM : TETSUGYU!" Elfman Frustasi langsung mengubah tangannya menjadi besi dan melayangkan tinjunya namun, tubuh Sol yang lentur seperti karet malah mengikat tangannya "hei, sialan apa-apan orang ini!" dia mencoba melepaskannya namun, tak bisa.

"Hohoho! Menarik sekali" Sol melepaskan tubuhnya dia menendang wajah lelaki besar itu "cuman segini saja kah kekuatanmu?"

'Lisanna' Batin Elfman ingin berubah sepenuhnya namun, mengingat kejadian itu membuatnya tak ingin melakukannya lagi dan membatalkannya.

"Kau malah lengah di saat seperti ini!" Sol menendang Perut Elfman dan dia mulai mengerakan tangannya dan membentuk sesuatu "Hmmm, sebagai Gentleman kau tak buruk juga jika, berakhir di sini PLATRE SONATA!" dia membentuk tanah yang menyerupai sebuah Tinju dan menghempaskan lelaki berbadan besar itu dan menghancurkan dinding.

*Jduarrr

"Guh!"

.

.

.

.

.

"Hei, Happy aku punya ide" Celetuk Natsu memecah keheningan di saat tengah berlari "bagaimana kalau kita kalahkan Jose langsung daripada harus susah mencari cara menghentikan ini dengan begitu perang gak jelas ini akan berakhir"

"Kau gila!" Teriak Happy panik "kekuatan Jose itu sama dengan Master dan juga dia salah satu 10 penyihir suci!"

"Hah, hanya sebuah Gelar bukan berarti mereka sepenuhnya kuat dan tak terkalahkan!" Jawab Natsu tak begitu merisaukannnya "dan juga, aku berani bertaruh jika Jose melawan Irene atau Gildarts mungkin dia akan kalah karena, perbandingan kekuatan mereka jauh!"

"Wha! Kalau itu kau ada benarnya" Happy mengangguk setuju "aku akan bertaruh setumpuk ikan jika mereka bertarung mereka berdua lelaki dan wanita terkuat di Guild bukanlah main" tapi, Partnernya ini hanya menatap ke arah lain dengan wajah termenung "ada sesuatu?"

"Oh, tidak apa hanya sedang berfikir tentang sesuatu" balas Natsu asal dia tampaknya merasakan seseorang yang berbahaya 'Mira sedang kesulitan dan tak berani menampakan kekuatannya lagi, Lisanna di sana juga kurang membantu dan tampaknya Elfman sedang di sibukan oleh seseorang sehingga tak ada waktu'

"Jangan terlalu di pikirkan yang lain pasti tengah berusaha" Happy mencoba menghibur

"Aku, tau! Hey, bisakah kau tunggu di sini sebentar ada sesuatu yang harus kulakukan" Perintah Natsu dan Kucing biru itu mengangguk patuh "dan kau tenang saja aku takkan lama" dia hilang bersama dengan kilauan cahaya.

*Cling

"Berhati-hatilah"

.

.

.

.

.

"Ughh, orang itu sungguh menyebalkan" Keluh Elfman membuka matanya serangan tadi mementalkannya keluar namun, dia melihat sesuatu yang tengah di pegang Robot itu dan merasa familiar "Lisanna! Nee-chan!" dia shock melihat dua saudarinya yang berada di sana.

"El-Elfman! Jangan pikirkan aku dan juga aku baik-baik saja" Mirajane dengan senyum terpaksa meski keadaanya tengah dikunci oleh tangan besar

"Nii-chan tetap Fokus pada musuh yang tengah di lawan" sambung Lisanna yang mencoba melepaskan kakaknya itu namun, tak bisa dan tak lama muncul kilauan cahaya dan menampakan lelaki pink bersyal.

*Cling.

"Natsu?" Lisanna cukup terkejut melihat lelaki itu yang tiba-tiba berada di sini dengan cepat "kau bisa tau kita berada di mari tapi, bagaimana?"

"Insting" Jawab Natsu seenaknya Lisanna hanya tertawa kecil dia sudah menebak jawaban yang akan di berikan dan memakluminya "oi! Bocah besar kau urus musuhmu dan untuk ini biar aku saja deh" dia membuat kepala tangan merah berasap dan mulai melelehkan tangan robot itu dengan magmanya

"Oh, sebuah reuni yang mengharukan" Komentar Sol menendang Elfman dan tak memberi kesempatan lelaki itu berdiri 'tapi, ini menyebalkan ada seorang Salamander di sini dari semua orang hanya dia yang paling merepotkan aku harus waspada' dia memasang wajah hati-hati.

"Tunggu, dulu Elfman masih belum bisa bertarung" Ucap Mirajane setelah lepas dari genggaman mahluk itu.

"Tunggu, kau tetap diam biar aku urus, yang ini" Natsu menahannya dan langsung menggendong Wanita itu dan membuat Mirajane berteriak terkejut namun, dia langsung tenang dan malah memeluknya dengan senyuman "Hoi! Bocah besar ada apa denganmu? Kau terlihat lemah bahkan mengalahkannya kau tak sanggup? Tch, sungguh menyedihkan kau benar-benar lemah!"

"Kau tak tau apa-apa jadi, diamlah guh!" Balas Elfman dia masih tetap tak bangun meski Sol terus menendang tubuhnya.

"Natsu, jangan berbicara seperti-" Mirajane sempat protes namun, segera di potong oleh Natsu.

"Kau, diam saja jika dia seperti ini terus dia takkan kuat" Natsu tampaknya tau apa yang harus di lakukan untuk ini "kau tau, kenapa, karena kau lemah? Tentu saja karena kesalahanmu dan kau juga hampir membunuh adikmu sendiri ? Apakah kau takut? Hei! Lihat dengan matamu! Saat ini dia masih hidup dan tinggal bersamamu apakah jika merengek dan menyesal seperti itu akan mengubahmu? Tentu saja tidak tolol! Ketakutan adalah hal wajar tapi, jika sampai kepanjangan malah kau seperti anak kecil yang masi perlu perlindungan dari ibunya!" Elfman hening dengan kata-kata tadi.

"Natsu!" Mirajane juga hening dengan kata-kata yang keluar dari Natsu yang terkesan langka.

"Kau ini selalu berteriak bahwa kau jantan tapi, kenyataannya malah tingkahmu bukan mencerminkan dari katamu intinya kau pencundang!" Teriak Natsu kata-kata darinya bersifat menyinggung tapi, memiliki maksud tujuan "jika, kau masih takut dengan kekuatanmu? Huh biar kutanya satu hal apa jadinya, jika hal itu terulang lagi dan dia benar-benar Mati! Apa yang kau lakukan? Merengek tak jelas? Menyesal? Itu percuma sekarang Katakan padaku! Apa kau Masih Takut hah!"

'Dia benar aku pecundang dan lemah bahkan aku masih takut dengan kekuatanku sendiri, karena ini Lisanna hampir mati tapi, jika kejadian itu terulang lagi apa yang harus kulakukan?' Batin Elfman kata-kata Natsu masih tergiang di telinganya "Guahhh! Yang benar saja! Sebagai seorang lelaki dan juga kakak mana mungkin takut!" Dia berteriak lalu wujudnya berubah sempurna menjadi Monster yang pernah hampir membunuh Lisanna jika, saja tak ada Natsu yang datang tepat waktu.

"Hohoho ini bagus" Natsu menyeringai.

"Rargghhh! Kau menyebalkan Natsu!" Teriak Elfman merasa kesal dengan ejekan tadi dia langsung bergerak cepat ke arah Sol dan terus meninjunya bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan ke orang itu untuk membalasnya balik "hah, rasakan itu!" dia memberi pukulan terkhir dan mengalahkannya dan menghampiri Saudarinya

"Kau, tidak jadi liar!" Mirajane bersyukur karena, perubahan tadi tak mengambil alih tubuh adiknya.

"Maaf, Nee-chan sebenarnya aku tak ingin melihatmu menggunakan kekuatan ini lagi" Elfman memeluk erat kakaknya ini "dan aku tak ingin menyakiti kalian lagi dan melukai kalian karena, kelemahanku makanya aku ingin menjadi lebih kuat lagi"

"Tak, usah menyalahkan diri lagipula kau sudah bertambah kuat dengan mengendalikannya" Mirajane tersenyum

"Baiklah sudah selesai ada sesuatu yang harus kuurus" Natsu menghilang meninggalkan kebahagian keluarga itu

"Yah, dan lagipula aku sekarang di sini dan hidup bersama kalian" Sambung Lisanna tertawa senang "ahh, dan Natsu kau seharus-" dia menoleh namun orang itu sudah menghilang.

"Uhg, dia terkadang seperti Hantu cepat datang dan juga Cepat Hilangnya" Komentar Elfman Sweatdrop Mirajane hanya Tertawa kecil.

"Kurasa kecepatan menulis Raksasa ini mulai melambat" Ucap Lisanna menatap ke arah yang di maksud.

'Begitu rupanya sumber kekuatan mereka berada dari Element Four' Batin Mirajane menyadari sesuatu kekuatan mahluk besar itu "hei, berapa banyak dari Anggota Element Four yang tersisa?" Tanyanya.

"Hmmm, Satu sudah aku kalahkan dan satunya juga sudah diurus oleh Natsu jadi, kupikir tersisa Dua lagi" Jawab Elfman mengira-ngira.

"Sebaiknya kita cepat mencari anggot yang tersisa karena, sumber kekuatannya berasal dari mereka" Ajak Mirajane "karena, jika Element Four semua di kalahkan maka itu berarti sihir Abbys Break takkan berfungsi!" dan kedua adiknya langsung menyusulnya.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

"Hujan?" Guman Gray mengangkat tangannya "tapi, kenapa tiba-tiba dan berada di sekitar sini saja" dia melihat Gadis berambut biru berdiri tak jauh dari posisinya.

"Yah, Juvia yang membawa Hujan di mari dan juga salah satu Element Four!" Jawab Gadis itu dengan nada monoton "untuk menghentikan ini kau harus mengalahkan kita tapi, Juvia takkan semudah itu"

"Element Four? Tak kusangka itu seorang Gadis tapi, tak peduli akan kulawan siapapun itu" Gray mengepalkan tangannya entah kenapa pipi Juvia bersemu pink mendengarnya.

"Baiklah kalau begitu sampai jumpa! Juvia tak ada urusan" Gadis itu berlalu pergi dan tingkah anehnya mulai tampak jelas 'tapi, perasaaan apa ini kenapa Hati Juvia dag! Dig! Dug! Juvia pernah merasakan ini sebelumnya!' wajahnya menjadi Blushing tak karuan.

"Tunggu! Inikah yang kulawan?" Gray Sweatdrop melihat kelakukan musuhnya "Hei! Hei! Tunggu dulu! Nona jika kau tak mau melawan setidaknya beritau aku cara menghentikan mahluk ini!"

"WATER ROCK!" Juvia mengurung Gray dalam lingkaran Air dan melukainya 'wah! Kenapa ini dia terluka! Juvia harus bagaimana?! Haruskah aku melepaskannya?' tingkahnya semakin gak jelas seperti orang yang sedang Gugup tak lama Gray melepaskan diri meski dengan keadaan luka.

"Kau, sudah puas? Baiklah Giliranku!" Gray melepas Bajunya Gadis berambut biru itu hanya blushing melihatnya "ICE MAKE : LANCE!" dia menembakan peluru Es dan tentu saja serangan tadi hanya melewati tubuh Gadis itu begitu saja.

"Maaf, tubuh Juvia sendiri adalah air hujan itu sendiri" Ucapnya malu-malu 'ini adalah perang dan Juvia harus kuat' dia malah berguman tak jelas "WATER SLICER!" dia membuat tebasan Air di udara.

"Sebenarnya ada yang salah dengan otak orang ini!" Gray bergerak ke samping lain untuk menghindarinya dan menyatukan kedua tangan "ICE MAKE : AXE!" dia membuat Kapak Es dan memberi tebasan namun, seperti yang terjadi tadi itu hanya melewatinya.

"Menyerahlah kau takkan bisa mengalahkanku" Ucap Juvia tampaknya dia memberi kesempatan atau tak tega melawannya dengan alasan Pribadi "dengan menyerahkan nona Lucy mungkin, Juvia akan mengatakan pada Master untuk menghentikan ini?"

"Oi, yang benar saja!" Protes Gray tak terima mendengarnya "Lucy adalah teman kita dan kita akan mengorbankan seluruh tubuh dan jiwa kita meskipun, itu harus mati"

'Mengorbankan! Cinta! Walau harus Mati!' Juvia Shock tingkahnya makin Gak jelas dan dia mulai mengeluarkan air matanya Gray hanya iritasi melihatnya dia mulai kesal dengan tubuh kobaran api atau api cemburu "arghhh! Juvia tak terima! Dan takkan memaafkan Lucy!" dia malah sangat marah.

"Ahh, panas!" Gray shock karena, airnya menguap panas "dan kenapa dia marah pada Lucy? Sudah kuduga orang ini tak beres" dia hanya menepuk dahinya sangat keras.

"ZELLAH!"

Juvia marah dia menjadikan tubuhnya menjadi Gumpalan air dan membentuk Naga dia langsung menghantamkannya ke tubuh lelaki itu sebelum Gray mencoba membekukannya Juvia terus menyerangnya tanpa memberi langkah sedikitpun Gray untuk mengeluarkan tehkniknya.

"ICE MAKE : SHIELD! Gahh! Yang benar saja!" Gray membuat tameng Es namun, pertaahanannya tadi dapat mudah meleleh dan di tembus "sebenarnya ada apa dengan orang ini!"

Juvia tak terpengaruh dia terus menghujamkan air panasnya tanpa henti dan terus melukai Gray lalu dia menerbangkannya ke udara.

"Sial! Kulitku jadi terbakar berkat tadi!" Gray langsung sedikit menjauh dan memberi sedikit ruang untuk mengeluarkan tehkniknya "membekulah sialan! ICE MAKE : FREEZE!" dia mengayunkan satu tangannya dan dengan mudah membekukan air panas tadi tapi, Gadis berambut biru itu dengan mudah melepaskannya.

"Maaf, aku tak bisa melukaimu" Ucap Juvia membuat Gray bingung apa yang di ucapkannya ini "kau sudah tau kau tak bisa melukaiku dan juga takkan menang melawanku"

"Ahh, Hujan ini semakin deras saja!" Keluh Gray mengelus rambutnya "arghh! Hujan ini benar-benar menyebalkan" Keluhnya membuat Juvia Shock

'Dia sama dengan yang lain yang membenci Hujan tak seperti orang itu yang menyukai Hujan' Batin Juvia sedih "kau harus menyukai Hujan!" dia berteriak dan sikapnya kembali berubah seperti tadi membuat Gray Sweatdrop melihatnya.

Juvia kembali dalam mode Air panas Gray sekarang sudah mengerti tata cara serangannya dia langsung berlari dan menghindar dia langsung membekukan air tadi dan juga termaksud hujannya.

"Argghhh kau menyebalkan! ICE GEYSER!" Gray langsung membuat pilar Es dan menyerang gadis berambut biru itu dan meledak.

"Aku kalah yah," Juvia sulit mempercayai bahwa dia kalah dan tak lama Hujan berhenti ini pemandangan kedua kalinya dia melihat seperti ini 'hujannya berhenti hanya saja tanpa pelangi meski ini kurang bagus tapi, Juvia senang bisa melihat ini lagi' dia tersenyum.

"Hah, begini lebih baik" Komentar Gray tersenyum senang "tunggu, kenapa kau di sini dan tak membantuku?" Dia Sweatdrop melihat rivalnya yang berada di sekitar sini.

"Hanya menyimak, dan percuma saja aku khawatir berlebihan" Balas Natsu memutar topinya "hah, jika di bantu kau akan manja minta bantuan terus dan juga jika, kau tak bisa mengakahkannya berarti kau pecundang" dia mencium bau yang familiar.

'Suara itu mungkinkah dia?' batin Juvia mendengar suara yang dia kenal dan ketika menoleh dia cukup terkejut melihat orang yang sedang dia cari berambut pink, Bertopi Jerami, dan Syal "tidak mungkin, kaukah itu tuan Sakura?"

"Hmmm?" Natsu melirik ke arah Juvia "rasanya baumu tak asing dan Hei! Bukankah kau Gadis yang selalu bawa payung?" dia cukup mengenalinya dan pernah bertemu kira-kira waktu umur dia 14 tahun waktu dia sepulang misi bersama Erza.

"Kau masih mengingatnya? Juvia senang" Dia tersenyum senang.

"Hei, FlameBrain bagaimana bisa kau tau Gadis ini?" Tanya Gray tak habis pikir bagaimana Rivalnya ini mengenal salahsatu Anggota Element Four.

"Biar kuceritakan jika, kau ingin tau" Jawab Natsu jika, tak di jawab maka temannya ini akan bertanya terus tanpa henti.

[ Flashback ]

Erza dan Natsu sekarang setelah selesai Misi kini mereka berteduh di sebuah rumah karena Hujan lebat dan perut Erza keroncongan kelaparan sampai terdengar oleh Natsu tentu saja wajah gadis itu memerah malu seperti rambutnya.

"Baiklah, kau tunggu di sini biar aku saja yang beli" Ucap Natsu dia malah tak tega jika menyuruh gadis itu makanya dia yang mengajukannya.

"Kau yakin? Hujan di sana cukup deras sekali?" Tanya Erza cukup khawatir "mungkin, kau bisa kedinginan dan nanti demam?"

"Hah, kau lupa aku ini DragonSlayer Api" Balas Natsu dengan Grin "hal seperti ini takkan membunuhku bahkan dingin adalah hal yang mudah kuatasi" dia langsung ngacir tanpa peduli apapun

Natsu berjalan normal dia tau ini bukan Hujan Alami yang jelas ini pasti berkat seseorang namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang Gadis berambut biru, dengan rambut digulung di sisinya, mengenakan payung dan duduk di tepi danau dan Natsu menghampirinya.

"Hei, apa yang kau lakukan duduk di sana dan juga ini hujan Deras" Ucap Natsu dia tak peduli dengan siapa yang dia bicara

"Juvia adalah Ameonna" Jawab Gadis itu ketika dia menoleh dan melihat seorang laki-laki yang tampak seumuran dengannya, dengan rambut pink yang cukup lucu menurutnya "tapi, kenapa rambutmu Pink? Padahal seharusnya itu hanya untuk perempuan?" dia baru pertama kali melihat lelaki berambut pink.

"Ini Salmon kau tau" Jawab Natsu dia sudah pasrah karena, kebanyakan orang menyebut rambutnya Pink "jadi, kau yang membuat hujan ini?" dia langsung pada inti masalahnya karena, ucapan gadis tadi yang menyebut Ameonna.

"Yah, kemanapun Juvia berada Hujan selalu mengikuti" Jawabnya dengan nada monoton "apa kau membenciku karena, Hujan ini?"

"Hah, aku tak tau kau jadi, tak ada alasan aku membencimu karena, Hal sepele macam ini" Jawab Natsu cuek Juvia cukup hening mendengarnya

"Tapi, karena Hujan kau tak bisa pergi kemana-mana, dan karena Hujan kau bisa sakit dan deman" Juvia memasang wajah sedih.

"Terus aku peduli dengan itu?" Celetuk Natsu tak mempermasalahkannya "malah aku senang dengan hujan karena, jika kau haus kau langsung bisa meminumnya hah! Masalah Deman itu tak mempan padaku karena aku ini panas" dia menununjukan sihirnya Gadis itu terlihat senang mendengarnya

"Juvia, senang mendengarnya" Dia tersenyum tapi, entah kenapa perasaan jantungnya berdetak tak karuan ketika melihat Natsu 'ughh! Perasaan apa ini? Dia Api dan Juvia Air? Benar-benar saling mendukung apakah ini cinta?' wajahnya blush tak karuan.

"Hei, kau tak apa-apa?" Tanya Natsu melihat ada yang aneh namun Gadis itu buru-buru menggeleng "dan Juga Igneel pernah bilang ada sesuatu yang indah setelah Hujan yaitu Pelangi mungkin kau akan senang melihatnya" dia menatap langit.

"Juvia, juga ingin melihat seperti apa Pelangi itu" Dia tersenyum dan penuh harap seperti apa indahnya yang di sebut pelangi itu

"Ahh, sudah berhenti juga rupanya" Komentar Natsu yang melihat langit menjadi cerah dan bercahaya dengan Hiasan lekungan warna-warni "nah seperti ini pelangi"

"Indah sekali!" Ucap Juvia terkagum dia baru pertama kali melihat hal yang seperti ini dan rasanya tubuhnya sangat hangat.

"Ahh, sial saking asik mengobrolnya sampai lupa waktu! Erza pasti akan marah!" Natsu panik dia langsung berlari meninggalkan Gadis itu yang masih termenung "ahhhh, sampai jumpa lagi!"

'Huh, aku tak bertanya siapa namanya?' Batin Juvia murung karena, tak mengenal orang yang membuat hatinya tak karuan 'tadi, dia bilang Erza? Pasti itu wanita lain dan juga Rival Cinta!' Sekarang dia masuk dalam mode cemburu berlebihan.

[ END ]

"Dan, seperti itulah" Natsu yang telah menceritakan awal pertemuannya tapi, tampaknya gadis itu sudah tertidur karena kelelahan "baiklah, aku pergi dulu banyak hal yang harus kuurus" dia langsung menghilang dengan cepat

"Yah, yah! Pergi sana" Gray tampak tak begitu peduli setidaknya dia sudah melakukan misinya "oh, kau kemari juga tampaknya kalian sudah selesai melakukannya" dia melihat Strauss bersaudara

"Tampaknya kau sudah mengalahkan Anggota Element Four" Komentar Elfman "tapi, tunggu kenapa dia tampak bahagia seperti itu?" dia hanya Sweatdrop seharusnya jika kalah pasti wajahnya buruk bukan terlihat bahagia seperti ini.

"Tampaknya tinggal tersisa satu orang lagi" Ucap Lisanna "selain itu Abbys Break ini sumber kekuatannya berasal dari Element Four jika, mereka semua di kalahkan berarti sihir ini takkan berarti lagi"

"Yang, tersisa tinggal Aria lagi tapi, dia yang paling kuat diantara Element Four" Sambung Mirajane "apalagi jika dia membuka penutup matanya"

"Penutup Mata?" Gray tampak bingung.

"Yah, Aria selalu menutup matanya itu dilakukan agar sedikit menutup Sihirnya yang begitu besar" Jawab Mirajane "bila ia telah membuka matanya maka akan semakin sulit jika kita menghentikannya"

"Yang benar saja!" Gray memutar bola matanya.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

"Kau, butuh bantuan rupanya Feather freak!" Erza muncul mendadak di saat yang sama temannya tengah kesulitan "ahh, jadi ini orang yang telah mengalahkan Master? Aku masih sulit mempercayainya"

"Oh, diamlah jika kau di Posisiku kau pasti akan menyedihkan sepertiku" Balas Sorano dia masuk dalam mode Star Dress : Gemini tubuhnya cukup terluka atau kelelahan karena, pemakaian sihirnya cukup banyak "hah! Hah! Hah! Kau benar-benar gak membantu"

"Orang ini yang menghilangkan Sihir Master" Jawab Happy di satu Sisi dia menunggu Natsu namun, tak lama orang yang di bicarakan muncul di saat yang tepat.

*Cling

"Ahh, tak kusangka tempat ini jadi ramai juga, tadinya sepi" Komentar Natsu dia bisa melihat dua orang gadis dan juga seseorang yang pernah ia tendang waktu itu "kalian berdua menyingkirlah dengan luka seperti itu apa kalian yakin bisa mengatasinya?" dia cukup khawatir juga walau wajahnya terlihat cuek.

"Aku bukan Gadis kecil lagi" Jawab Erza tersenyum.

"Jangan remehkan seorang perempuan" Balas Sorano Natsu hanya duduk dan membiarkan mereka melakukan sesukanya.

"Ahh, ini benar-benar buruk tiga orang yang cukup berbahaya juga" Aria melepas penutup matanya "tampaknya ini tak bisa di anggap becanda lagi aku harus serius.. Huh?" dia melihat ke samping dan melihat Kloning yang sama dengannya tak melakukan dan membuatnya agak terkejut.

"Apa, ini ?"

"Kau lulus! Dan selamat Pirip! Pirip!" Ucap Sorano ternyata ini ulahnya yang membuat Gemini yang meniru Aria dan tampaknya ini trik rahasianya "ahh, ini menyenangkan dan juga Gemini bisa meniru seseorang bukan hanya Fisik dan jiwanya melainkan Sihirnya dan juga bisa menyerap informasi yang ada di Otak seseorang" Dia sudah belajar banyak tentang hal bintang rohnya.

"Kau! Bagaimana! Bisa METSU!" Aria masih shock dia mencoba mengeluarkan sihirnya tapi, tak muncul apapun artinya hilang 'sihirku di hilangkan?! Tapi, bagaimana ini terjadi dan dia tak hanya meniru fisiknya saja tapi, semuanya di tiru sangat sempurna!'

"Jika, dia bisa meniru orang lain kenapa, kau tak meniru saja aku atau juga Erza? Bukankah itu lebih Efektif?" Tanya Natsu sudah bisa memahami tehknik sihir gadis itu.

"Yah, tentu saja dia punya kelemahan yaitu tak bisa meniru kekuatan musuh jika, Jumlah sihirnya sangat banyak di bandingkan Sihirku yah, orang itu Kau, Laxus, Master, Gildarts, Mystogan, Irene itu yang tak bisa kutiru meskipun bisa itu malah akan melukaiku sendiri" Jawab Sorano menjelaskan kekuatannya "yah, Sihir orang ini menyebalkan makanya aku tiru dia karena, Jumlah Sihirnya sama denganku dan Bagaimana jika kau rasakan harus kehilangan sihirmu?" dia menyeringai dan menyatukan telapak tangan "AIR SPACE TIME!" dan tak lama Sihir Aria benar-benar hilang di saat yang sama Gaun dan roh bintangnya juga menghilang.

"Guh! Bagaimana bisa aku sampai lengah begini?!" Aria masih dalam shocknya.

"Oh, itu menyenangkan tak kusangka kau cerdik juga" Erza menyeringai dia kini ambil Giliran untuk menyelesaikannya "Sayang sekali yah, kau ketemu dengan Sorano yang notabene menggunakan Otak daripada Fisik" Dia masuk dalam mode Heaven Wheel's Armor dan membuat beribu pedang "TENRIN BLUMET BLAST!" dia langsung menggerakan semuanya dan menyerbu Aria yang sudah tak bisa apa-apa dan langsung mengalahkannya dengan pedang sebanyak itu.

"GUARGHHHHHH!"

"Tentu saja aku cerdik" Sorano tersenyum dia sudah kelelahan langsung jatuh beruntung Natsu langsung menopangnya "ughh! Ini nyaman" dia langsung tertidur.

"Ini pembalasan kita!" Teriak Erza "kau pastinya akan menyesal jika, berurusan dengan kita bahkan, saat ini saja kau kalah dengan kita urghh! Aku lelah" dia langsung ambruk beruntung Natsu langsung menopangnya juga.

" yah, kalian sudah berusaha dan berhasil" Natsu hanya duduk dan membiarkan kedua Gadis itu tertidur di pangkuannya "ya, ampun tampaknya tinggal tersisa dua orang lagi" dia memikirkan Jose dan juga Gajeel.

.

.

.

.

.

"Ada apa ini?" Tanya Gray melihat bangunan bergetar dan mau runtuh

"Tampaknya mereka berhasil!" Jawab Elfman mengira "hohoho ini keren dan kemenangan seorang Pria!"

"Jangan senang dulu karena, masih ada dua orang yang tersisa yang harus di kalahkan" Balas Mirajane dengan wajah serius

"Gajeel DragonSlayer Besi, dan Master Guild Phantom Jose" Guman Lisanna dengan ekspresi masih khawatir.

"Jangan khawatir, masih ada Natsu dan yang lainnya" Mirajane mencoba menyemangati adiknya.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Di Luar

"Whohoho! Mereka berhasil!"

"Natsu dan yang lainnnya berhasil menghancurkannya"

"Jupiter kedua tidak terjadi!"

"Ini, kekalahanmu Phantom!"

"Menyerahlah!"

"Tidak mungkin! Bagaimana bisa! Sampah seperti kalian bisa mengalahkan Element Four!" Teriak Jose sangat kesal dan marah karena, anak buahnya dihancurkan dengan mudah "dan ngomong-ngomong di mana Gajeel?" dia tak melihat DragonSlayer besi itu.

"Aku di sini Master" Jawab Gajeel di belakang "gihi! Jika mereka berempat di kalahkan itu berarti mereka semua sampah seperti mereka dan ini ada sesuatu untukmu" dia membawa Lucy yang tampak terluka "sebaiknya kau serahkan orang ini padaku?"

"Lucy? Tapi, bagaimana bisa?" Jose masih cukup terkejut "apa dia masih hidup?"

"Kau lupa, DragonSlayer itu penciumannya sangat tajam" Gajeel memegang Hidung "hmmm, baiklah akan kucoba" dia menendang Lucy dan terdengar teriakan kesakitan dari Gadis itu "hmmm, tampaknya untukku dia masih hidup"

"Hmmm, sudah kuduga kau yang paling kuat diantara semuanya" Jose tersenyum dia memegang sebuah Mic "Hei! Dengarkan ini Fairy Tail yang tak berguna kita telah menangkap Target kita Lucy! Dan sekarang kita punya satu tujuan lagi yaitu menghancurkan kalian!"

"Baiklah Gajeel kau jaga dia" Perintah Jose Gajeel mengangguk "aku yang akan menghentikan ini sendiri para pengkhianat yang mengacaukan kita?!"

.

.

.

.

- Basement Rahasia

"Reedus! Reedus! Apa yang terjadi!" Teriak Loki panik melihat lelaki itu penuh banyak luka "oi! Bertahanlah! Apa yang terjadi di sini? Dan di mana Lucy?!"

"Ughh, Lucy, Maaf!" Reedus mencoba menjawab namun, agak kepayahan "urghh! Lucy telah di tangkap"

"Sial! Aku punya firasat buruk jika ini terjadi!" Loki meninju Lanati dengan ekspresi kesal dan bercampur emosi 'aku benar-benar bodoh dan juga terlalu ragu untuk datang kemari sial!'

"Maaf" Reedus hanya bisa mengucapkan kata itu saja.

.

.

.

.

"Oke, Orang itu cukup memiliki alasan untuk aku menghajarnya!" Teriak Natsu kesal ketika mendengar pengumuman tadi "dan akan kupastikan dia tak memiliki tempat untuk bernaung lagi!"

"Natsu!" Panggil Erza membuka matanya dan lelaki itu menoleh "aku tau kau masih menahannya dan juga kau belum serius" dia tau lelaki itu belum pernah serius dan sekalipun bertarung dengan hebat

"Hmm?" Natsu hanya berguman saja.

"Tolong selamatkan Lucy karena, dia adalah teman kita" Erza menyodok dahi lelaki itu dengan jarinya "kumohon padamu hanya bisa kuandalkan" dia berteriak.

"Baiklah akan kulakukan" Natsu tau dia tak bisa menolaknya dia mengelus rambut Scarlet itu agar membuat Gadis itu tenang "kau tunggu di sini dan jaga Sorano" dia langsung menghilang dengan cepat dan tak lama muncul Mirajane dan yang lainnya.

"Erza!" Teriak Lisanna.

"Wah, maaf jika kalian harus melihatku seperti ini" Erza tetap tersenyum "aku benar-benar memaksakan diri"

"Yah, bukan kau namanya jika bertindak gegabah" Komentar Gray "biar kutebak Natsu tadi kemari?" Gadis itu mengangguk.

"Sudah kubilang dia seperti Hantu menghilang dan datang tak diketahui" Ucap Elfman Lisanna hanya tertawa kecil mendengarnya tapi, mereka semua merasakan ada sesuatu yang janggal di sekitarnya.

"!"

"Wah! Wah! Wah! Pertunjukan yang cukup bagus" Jose datang sambil bertepuk tangan semuanya langsung pasang wajah waspada "baiklah coba tunjukan sesuatu yang membuatku senang" dia memutar jarinya

Jose membuat gelombang kejut dengan sekala besar dan Menyerang Elfman dan Gray secara Frontal, Lisanna langsung membawa Sorano ke tempat yang aman Erza memaksakan diri langsung maju melawan Pemimpin Guild Phantom itu.

Jose menngerakan jarinya dia membuat pusaran angin, Erza menghindar dan mengayunkan pedangnya namun, Jose menghindarinya dia mencengkram Kaki Erza dan melemparkan ke Tembok.

"Seingatku, bukankah kau yang terkena Jupiterku?" Tanya Jose agak sedikit kagum "hmmm! Menarik kau wanita yang lumayan hebat menurutku" Erza memberi Deathglare.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

*Krakkk!

"Ahh, nyaris saja!" Komentar Gajeel dia menggunakan sebuah Kunai untuk menembakan ke arah Targetnya yang menempel di tembok yang tak lain dan tak bukan adalah Lucy yang tertempel di tembok"ahh, ini membosankan" dia melakukan seperti ini hanya mengisi waktu luang.

"Gajeel-san tolong berhenti kau bisa melukainya"

"Aku hanya bosan saja" Gajeel berkeluh kesah "tapi, aku tak habis pikir dengan mereka bagaimana bisa mereka melakukan hal bodoh dan tak jelas seperti ini untuk orang Manja dan tak berguna seperti dia?" dan menunjuk Lucy

"Apa Maksudmu itu?" Lucy terlihat tersinggung dengan kata tadi "kau tau jika mereka melihatku seperti ini aku yakin kau akan rata dengan tanah dan tak bisa bangun lagi" dia tersenyum percaya diri.

"Dongeng yang bagus tapi, cerita itu cukup membuatku ngantuk" Gajeel kali ini melemparkan Kunai besinya dan kali ini tak buat dia meleset tapi, sesaat kemudian Natsu langsung datang cepat dan menendang Kunai itu balik ke arahnya "gihiii sudah kuduga ada sesuatu yang menarik seperti ini" dia menghindar dengan menyeringai.

"Natsu!" Lucy sangat senang ketika melihat orang yang dia suka berada di sini.

"Kau menyebalkan!" Natsu langsung menghilang cepat dan meninju wajah lelaki berambut hitam itu

Gajeel langsung berdiri lagi dia langsung mengayunkan Pukulannya namun, Natsu bisa menepisnya dia meninju balik dan membuat Gajeel terpental Kedua orang itu menarik nafas dan saling beradu semburan mereka membuat ledakan dahsyat

"Ini Gila!"

"Sebaiknya kita menjauh!"

"Jangan mengganggu atau kau akan terkena dampaknya!"

"Gahhh! Cepat lari!"

Gajeel langsung maju lagi dia memberi pukulan bertubi-tubi tapi, Natsu tenang menghindarinya dia langsung menendang keras wajah Gajeel hingga terhempas jauh, Gajeel langsung memanjangkan tangannya menjadi besi namun, serangan itu hanya melewati tubuh Natsu saja dan Lelaki berambut pink itu langsung menyikut perut Gajeel dan menyeretnya sedikit jauh.

"Luar biasa!" Lucy terlihat Kagum "Natsu benar-benar cepat sekali"

"Aye! Itu Natsu!"

Gajeel menarik Syal Natsu dengan maksud membenturkan kepalanya namun, Natsu lebih dulu membenturkannya dengan Efek Bushou Kouka yang cukup keras dan membuat Gajeel tergempas jauh dengan kepala berdarah.

"Sial, aku benar-benar terpojok!" Gajeel terlihat sangat kesal dia memakan besi di lantai sebagai tenaganya.

"Kau, memang menyebalkan" Komentar Natsu kesal dia juga tau keadaan perutnya sedang tak bisa di ajak kompromi yah tengah lapar.

"DragonSlayer bisa mengembalikan tenaga dan kekuatan mereka sesuai dengan elemen yang dia makan" Ucap Happy.

"IRON DRAGON SWORD!"

"YATA NO KANAMI!"

Gajeel memanjangkan tangannya menjadi tongkat besi yang panjang dan banyak namun, itu hanya melewati tubuh Natsu dan DragonSlayer api itu langsung menjadi kilauan cahaya yang cepat dan memantul-mantul di ruangan itu.

"Sebenarnya apa maksudmu ini!" Gajeel terlihat kesal karena dipermainkan namun, Natsu berdiri di atasnya dengan Gaya berbalik Gajeel tak mungkin bisa menghindar karena, Natsu sudah menendang kepalanya hingga terhempas ke bawah dan membuat lantai runtuh.

*Jduarrr

Gajeel, benar-benar dibuat terdesak meski tubuhnya sudah sekeras besi namun, tetap saja bagaimana bisa Natsu memberinya luka yang cukup serius belum sempat dia ingin membalasnya Natsu sudah berada di depannya membuat pusaran bola Api dan menyerang perutnya dan membuatnya terbawa serangan itu dan menimbulkan sebuah bekas sementara Member Phantom yang lainnya di buat Shock atas serangan Natsu tadi.

*Boooommmm!

"Ini benar-benar sulit di percaya!"

"Gajeel benar-benar terdesak dan tak bisa menyerang balik!"

"Siapa sebenarnya orang ini!"

"Kekuatannya benar dahsyat!"

"Bagaimana, bisa aku yang terkuat bisa kalah denganmu" Gajeel menyeka mulutnya serangan tadi benar-benar membuat beberapa Organ dalamnya Hancur "Arghhh! Kau menyebalkan! IRON DRAGON ROAR!" dia menyemburkan semburan besi dengan sekala besar.

"Mudah, saja karena kesombongan semuanya menjadi Sirna" Jawab Natsu dengan terlihat tenang dia membuat pelindung untuk menghindari serangan tadi dia membuat segel tangan "akan kuakhiri ini dan membalas apa yang kau lakukan pada Guild dan juga Lucy RAITON : SUTA BURO!" tubuhnya di lapisi Petir biru yang semakin meningkat bisa di lihat rambutnya yang ikut berdiri.

*wushhhh

Natsu langsung menghajar wajah Gajeel dan membuatnya terbang di udara gerakannya sekarang benar-benar sangat cepat dan tak terlihat dia terus silih ganti menghancurkan tubuh DragonSlayer besi itu dengan pukulannya dari segala arah dan membuat bangunan di dalamnya mulai bergetar dan runtuh bahkan jika, dari jauh malah terlihat seperti kembang Api berwarna biru di langit.

"Apa yang terjadi!" Max orang yang pertama melihat detik-detik hancurnya Guild Phantom.

"Guildnya mulai hancur!" Komentar Warren.

"Hei, Bisca kau bisa tau apa yang terjadi?" Tanya Cana dia juga penasaran tentang kembang Api itu.

"Tunggu, biar kucek" Balas Bisca dia menggunakan Scope Sniper miliknya tapi, tampak senyuman di wajahnya "ahh, itu Natsu! Dia tengah menghajar Gajeel habis-habisan tanpa henti!"

"Whoooo! Lanjutkan Natsu!" Teriak Alzack bersorak.

"Hajar dia!"

Gajeel sekarang benar-benar sudsh tak berkutik dan tak bisa melawan dia melayang ke Atas Natsu berada di belakangnya memerut peluknya dan mengangkat ke belakang dan membalikannya kini Posisi mereka berdua kepala di bawah dan Kaki di atas.

"BOSEKI DORAIBA!" Natsu berteriak dia langsung membanting tubuh Gajeel ke bawah dengan efek yang sangat keras dari atas langit dan membenturkannya ke arah Guild Phantom dan menghancurkannya membuat guncangan besar.

*Duarrrr!

"Natsu kau benar-benar kuat" Lucy tersenyum senang "aku tak salah jika, mencintaimu"

"Lain, kali jika kau mengganggu lagi aku takkan segan" Natsu langsung bangun dia melihat Kepala Gajeel tertancap di tanah dan tak bergerak "dan ini balasanku atas yang kau lakukan sekarang kita impas" dia membetulkan topinya.

"Hei! Natsu kau berhasil!" Happy memeluk Partnernya.

"Hei, Natsu ada yang ingin kubicarakan" Panggil Lucy Malu-malu sementara Natsu hanya menunggu apa yang terjadi selanjutnya "uhhhmmmm! Begini!" dia langsung menarik kepala Natsu dan bibir mereka saling bertempel satu sama lain.

Natsu hanya agak terkejut melihat reaksinya namun, dia tau dia memilih melanjutkan dia merangkul kepala Lucy dan mendekapkan dalam ciumannya untuk Lucy dia cukup terkejut atas aksi Natsu namun, dia memilih membiarkannya dan setelah itu mereka melepaskan ciuman mengambil nafas.

"Aku mencintaimu" Ucap Lucy dengan tersenyum senang dan efek blushnya.

"Errr,, yah gitu bagaimana yah?" Natsu agak Grogi harus menjawab bagaimana karena, dia sudah pernah melakukan ini "maksudku aku-"

"Aku, tau dan aku tak peduli" Lucy menahan bibir Natsu dengan jarinya "aku tau ada wanita lain yang menyukaimu selain aku tapi, aku tak peduli setidaknya diriku sudah lega menyatakannya" dia langsung merangkul leher Natsu dan menciumnya kembali.

"Kau menyukainyaaaaa!" Teriak Happy.

.

.

.

.

.

"Oh, wow!" Bisca hanya Kagum dengan efek blush dia melihat Scene romantis di depannya ketika melihat ciuman Natsu dan Lucy yang terkesan dalam ' ya Ampun! Andai aku dengan Alzack seperti itu' dia membayangkan jika berada di posisi yang sama.

"Hei, kenapa kau seperti itu?" Tanya Cana namun, wanita itu tak menggubrisnya dia langsung mengambil Scope dan melihat Apa yang terjadi "aku, penasaran kenapa, kau- oh wow!" dia juga langsung Blush melihat hal yang sama 'sial, itu benar-benar menyenangkan andai aku di posisi itu'

"Bagaimana kita beritau yang lain?" Usul Bisca pastinya jika, ada teman-teman yang lainnya mengetahui akan menjadi berita besar.

"Kupikir ini adalah masalah Pribadi" Jawab Cana "yah, kita sebaiknya merahasiakannya"

"Arrghhh! Padahal aku ingin memberitaunya!" Protes Bisca mulutnya yang gatal ingin berbicara maklum lah wanita.

"Yah, terserah kau saja lah" Cana Sweatdrop.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Rumah Natsu

"Yah, kupikir kau harus sedikit beristirahat terlebih dahulu setelah ini" Usul Irene dia mengenakan celemek yang tengah memasak "kau tau seperti orang yang telah sakit lama dan baru sembuh perlu istirahat cukup untuk mengisinya kembali"

"Yah, kutau ini juga agak melelahkan setelahnya" Jawab Ur setelah kekuatannya kini kembali pulih "tapi, ini tak masalah kita diam saja? Maksudku tak membantu mereka?"

"Yah, meski kita kesanapun kita hanya akan dapat endingnya saja" Jawab Irene dia sudah menebaknya bahwa perang gak jelas ini akan berakhir "jadi, biarkan mereka yang mengakhirnya sebagai aktor itu"

"Ahh, baiklah jika kau berkata demikian" balas Ur yang memilih membaca sebuah majalah harian menghilangkan kejenuhan "tapi, setelah ini kita ke Guild?"

"Tentu"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Hahahahahaha aku akhirnya selesai Update lagi dan mohon maaf atas keterlambatan saya karena, aku waktu itu benar-benar sibuk dan tak bisa mengetik selain itu aku cari-cari imajinasi meski gak usah sih hahaha.

Pm

.

RnR