Halo lagi wahai kalian semua Author sudah comeback lagi dari hibernasi panjang ini dan harus sangat terpaksa si edotensei oleh Kabuto untuk terus menulis dan terus update salam membuat cerita yang sudah punya chapter banyak ini dan akan sangat disayangkan apabila harus terbengkalai ahhh, yang sudah pasti para reader langsung ngamuk gak jelas sambil menanti kepastian yang kutunggu by Gigi band (dihh, malah promosi lagi lul!) ohh, dan aku kebetulan ingin publish fic baru tapi ahhh gak jadi deh aku urunhkan niat itu karena stuk di ide jalan cerita apalagi kalau saat pertengahan chapter ahhh, kadang ajah saja yang namanya Writter Block lul :v

P.s : hmmmm, ini masih berjalan cukup lama dari arc Skip yah, sekitar dua arc lagi apabila arc ini selesai dan well masuk dalam Arc daimatou enbu hmmmm, salah satu arc yang saya suka apabila nonton FT selain Alvarez di anime nanti

Chapter 34 : Battle Of Fairy Tail 2

.

...

.

- Di Sudut Kota

Sementara di sebuah tempat yang berada di bar kecil telah terjadi pertarungan yang baru saja berlangsung beberapa menit yang lalu yah, sebut saja lelaki berambut hitam yang sering telanjang bernama Gray Fullbuster dan seorang lelaki mengenakam baju hitam tertutup dengan penutup mata yang selalu menjulurkan lidahnya sebut saja itu Bickslow.

Gray yang tadinya berlari dengan mata menatap sekeliling sambil mencari Laxus yang siapa tau sedang bersembunyi di sebuah tempat tapi yah, meski itu bukan keberuntungannya tapi ada sedikit keuntungan bahwa dia bertemu dengan salah satu anggotanya dan jika beruntung lagi dia bisa mengalahkannya dan membuat situasi ini jauh lebih baik tapi, kondisi sekarang masih bisa dibilang seimbang.

"Ohhh, yang benar saja bahkan dia tak mau keluar dari sarangnya" ucap Gray dengan wajah kesal sambil menunduk menghindar dari sebuah laser kecil lalu mengepalkan tangan "ICE MAKE : RAINYICE!" dia langsung menembakan puluhan tombak es dan mengarahkannya ke depan.

Bickslow dengan lincah menghindar "heitss! yang tadi itu lumayan nyaris tapi kau kurang keberuntungan untuk mengenaiku" meski mengenakan penutup tapi nada bicaranya seolah mengejek lawannya "yeah, tapi giliranku juga BABYLON : BLASTER!" dia menyuruh enam boneka kayu jiwanya menembakan cahaya laser secara bersamaan.

"Tck, kau memang cukup menjengkelkan" Gray mendecak kesal sambil menghindari dengan memutar badan tapi, sebuah serangan lain datang dan cukup dekat namun dia menjatuhkan diri agar tak terkena itu karena sangat sakit "ICE MAKE : GEYSER!" dia langsung membekukan seluruh lantai disini.

Bickslow meloncat dan bergelantungan di udara "whoppss! yang tadi itu lumayan nyaris dan bahaya yah" dia menggerakan jarinya dan menyuruh enam boneka kayu jiwanya membentuk formasi lurus sejajar "BABYLON : SLASHER!" dan membentuk seperti tebasan udara bercahaya.

Gray meloncat ke atas sambil memiringkan badan 'phew! yang tadi cukup bahaya" dia sedikit memutar jarinya.

"Yang tadi gerakan bagus tapi menghindar saja takkan cukup mengakhiri games ini" ucap Bickslow sambil menunjuk ke depan sambil membuat formasi lagi namun, ini cukup aneh karena sesuatu tak terjadi dan begitu melihat ke belakang "apa?! sejak kapan dia melakukan itu?" yah, boneka kayu miliknya langsung dibekukan begitu saja jadi tehkniknya tak bekerja.

*Duaghhhh "ughhhh!"

Gray yang berhasil mengambil momentum tadi langsung meloncat dan menendang wajah lelaki itu sambil mengambil ancang-ancang "ICE MAKE : HAMMER!" dia membuat bongkahan es besar sambil dihantamkan ke lelaki itu namun, tak terjadi apapun bahkan seperti tertahan oleh sesuatu "huh? apa yang terjadi?"

Bickslow langsung membuat boneka jiwa baru dengan manekin dan membentuk silang yang berhasil melindunginya "yah, sedikit informasi saja bahwa sihir milikku ini adalah dimana bisa memindahkan jiwa ke dalam benda mungkin kau bisa membekukan benda yang kumasukan tapi, tidak dengan jiwa dan aku leluasa memindahkan itu" dia menjulurkan lidah karena mengejek.

Gray sangat kesal sekali dengan tadi "sialan kau! penipu rupanya!" dia menembak pecahan es ke arah lelaki itu.

"Silahkan jika kau ingin mencobanya lagi tak ada yang melarang" ucap Bickslow menghentikan tembakan itu dengan patung manekin tadi "tapi, yah tempat ini cukup tak bagus untuk bertarungku nyahahahaha!" dia tertawa sambil berlari keluar bangunan itu.

Gray sangat kesal dan langsung mengejarnya "ghhh! Sialan! berhenti jangan kabur!"

Dan beberapa saat setelah pengejaran Gray sudah sampai disebuah gang kecil dengan nafas tersenggal "huftt! huft! sekarang kau takkan bisa lari lagi"

Tapi nampaknya Bickslow berada di atas bangunan "mustahil aku akan kabur menghilang begitu saja"

Gray shock karena melihatnya tapi ada yang membuatnya lebih shock lagi yaitu sebuah tulisan sihir aneh di tanah dan ada sebuah pelindung kecil yang menghalang dan ini sudah jelas perangkap "sialan, ini jebakan" dia sangat emosi sekali karena tak bisa keluar dan sudah jelas ini milik Freed ditambah peraturan yang membuat situasinya tak menguntungkan

Note : sampai pertarungan selesai yang berada di dalam gang ini takkan pernah bisa menggunakan sihir apapun.

"Hahahaaha ini menyenangkan yah seperti remote control" ucap Bickslow menyeringai dan dia menggerakan boneka manekin dari luar "BABYLON : BLOMBAST!" dan para boneka itu langsung menembakan bola cahaya ke arah Gray yang sudah sangat terjebak dan tak bisa berbuat apapun lagi untuk melawan karena peraturan Rune ini.

*Jduarrrrr!

Dan ketika mengenai Gray langsung meledak dengan daya cukup kuat dan langsung menghempaskan lelaki berambut hitam itu dan langsung tumbang seketika.

Bickslow menatap Gray yang tak bergerak "ahhh, yang tadi lumayan juga tapi ini memang cukup-guahhhhh!" dia berteriak sakit lalu ke terhempas ke bawah karena ada sesuatu bola pasir berukuran sedang yang mengenainya.

"Apa ini? Bahkan sekarang sudah selesai padahal aku baru saja mulai"

.

.

.

.

.

- Pusat Kota

Erza berlari ke pusat kota dimana disini banyak orang yang berkumpul untuk sekedar membeli sesuatu atau ada beberapa orang juga yang memanfaatkan tempat ini untuk berjualan karena ramainya orang datang dan alasan dia ke tempat ini adalah mencari Evergreen untuk segera menyelesaikan games yang menyebalkan ini.

Yah, alasan dia datang mencari Evergreen di tempat ini adalah dari informasi yang diberikan olehnya bahwa gadis itu ada disekitar sini karena sehabis bertarung dengan Elfman tadi dan ditambah dia sudah resmi menjadi mate Natsu jadi kekuatannya juga menjadi kekuatan miliknya seperti penciuman jadi tak begitu sulit sekarang.

"Ohhh, selamat siang Erza-chan apa yang sedang kau lakukan dimari?"

"Apa kau ingin membeli kue atau sekedar memperbaiki Armor dan pedang"

"Pakaianmu manis sekali"

"Tak usah khawatir dengan itu Festival berjalan baik dan aku sedang mencari seseorang sema" jawab Erza kepada orang-orang yang menyapanya dan kini dia mulai mengendus lalu bau gadis itu ditemukan dan tak begitu jauh dari sini yah, meski begitu ini masih baru dan dirinya belum terbiasa dengan cara ini

Erza berhenti di jalan lalu kembali mengendus dan bau gadis itu ada di sekitar sini "yupzz! ini tidak salah lagi dan cuman dia yang punya Farfum mahal menyengat seperti ini" dia menoleh sekeliling namun, suara yang dinantikan akhirnya muncul juga.

"Dan siapa yang kau sebut dengan Farfum mahal huh?"

Erza refleks menghindar ketika ada serbuan panah yang diarahkah kepadanya "ohhhh, memang itu benar bukan? kau memang selalu membeli Farfum yang cukup menyengatkan ke hidungku" dia berekspresi seolah tak terjadi apapun dengan ucapannya "sekarang kau berhenti melakukan hal yang absurd ini Farfum mahal"

muncul perempatan siku di kepala gadis itu dan sangat kesal dengan julukan tadi yang menyebalkan "tskk! aku ini punya nama sialan dan juga namaku Evergreen" dia membuka kipasnya dengan pose merendahkan "ahhh, lupakan saja dan bagaimana bisa kau terbebas dari kutukan batu itu?"

"Aku sendiri juga tak tau" jawab Erza dengan wajah polos "mungkin kau bisa tanyakan itu nanti kepada Master"

"Kau benar-benar menjengkelkan seperti biasanya dan menyebut dirimu Titania padahal cuman aku yang pantas mendapatkan itu" ucap Evergreen memberi Glare tapi Erza bersikap masa bodo "tapi aku akan sedikit memberikanmu hadiah kecil untuk memulai awal ini" dia terbang ke atas sambil melemparkan debu pasir ke arah Erza.

Langsung meledak seketika Erza mundur dengan cepat tapi ledakan itu lebih dari dua kali dan memaksa gadis itu untuk terus mundur lebih jauh lagi tapi nampaknya ledakan itu takkan pernah berhenti, Erza merasa frustasi akhirnya menerobos masuk ke depan tapi beruntung ledakan itu tak mengenai tubuhnya.

Gadis berjulukan Titania itu langsung mengeluarkan pedang dari tubuhnya dan langsung memberi tebasan ke arah gadis berkacamata itu yang masih bisa dihindari olehnya walaupun efek tebasan tadi terkena bangunan di sampingnya dan terbelah dua.

"Diantara kau dan Mirajane memang kau yang sangat menyebalkan disini" ucap Erza dengan tatapan emosi kepadanya "yah, meski semua gadis sudah bebas tak ada gunanya aku melakukan ini namun, kau akan membuat susah orang lain jika dibiarkan"

"Ohhh, itu baguslah karena Erza memang seperti ini" ucap Evergreen membuka kacamatanya dan berniat merubah gadis itu menjadi batu "tapi, jika kau ingin mencobanya kenapa tidak kemari?"

Erza menutup sebelah matanya "coba saja kalau kau bisa melakukannya.

Evergreen sedikit terkejut dan terbang menjauh " ohhh, aku hampir lupa kau memang memiliki mata palsu pantas saja kutukanku tak bekerja" dia berhenti terbang sambil menyilangkan tangan "baiklah kita akan gunakan cara lain dari yang tadi"

"FAIRY MACHINE : LEPIZEGUN!"

Evergreen langsung menembakan ribuah jarum pasir yang banyak ke arah Erza, gadis berambut scarlet itu tau bahwa ini sangat berbahaya dan dia memutar terus badannya karena serangan itu takkan pernah berhenti ditambah dia memanggil satu pedang lagi lalu mementalkan semuanya secara cepat.

"Baiklah bagaimana kau bisa bertahan dari serangan berikutnya" ucap Evergreen langsung kembali terbang dan menambahkan daya serangannya cukup banyak "yah, itu cukup menganggumkan dengan serangan pertama tapi kau takkan bertahan di serangan Kedua"

Erza tau ini sama seperti saat bermain kejar-kejaran dan cukup menyebalkan disaat harus menghindar sambil menangkis serangan tadi sambil mengejar gadis itu apalagi daya jumlah jarum itu semakin banyak dan dia tak bisa seperti ini terus atau bertahan dan memang harus sambil menyerang balik.

Gadis berambut scarlet itu langsung membuat dua pedang lain dan memegang benda itu dengan kedua kakinya tapi gerakannya sekarang sangat gesit dan lincah sekali menghindar serangan itu sambil mementalkan balik ditambah dia harus tetap maju karena gadis berkacamata itu akan terus terbang kabur tanpa henti yah, meski ada beberapa yang mengenai tubuhnya tapi itu tak jadi masalah.

"Mustahil! Bagaimana bisa kau!" Evergreen sangat shock karena gadis itu masih bertahan dari serangan tadi.

Erza langsung melemparkan dua pedang lainnya ke arah gadis itu yang cukup terkejut dan tak bisa menghindar alhasil tubuhnya terkunci akibat dua pedang tadi yang menancap ke tembok berbarengan dengan bajunya yah, ini sudah berakhir dan tak ada kelanjutan lagi.

"Aku cukup memberi keringanan untukmu karena masih anggota Fairy Tail dan juga untuk gelar Titania itu aku tak peduli itu terserah jika kau ingin memakainya lagipula itu hanya gelar saja" ucap Erza dengan raut wajah yang begitu lembut "tapi, satu hal lagi kau harus menyerah dan berhenti gabung dalam games tak guna ini"

Evergreen berkeringat agak ketakutan dengan ancaman ini tapi dia tetap dalam tingkah soknya "hah, yang benar saja jangan sok kuasa untuk mengancamku" dia dengan sengaja melepaskan kacamata dan berniat menghipnotis gadis itu "bisa kau lepaskan aku sekarang? bila tidak kau akan musnah seperti debu"

Erza diam menundukan kepala mendengar jawaban ini tapi dia sangat kesal dan akhirnya membuat seribu pedang dari jenis berbeda yang dibalut kobaran api "baiklah akan aku tunjukan padamu kenapa julukan Titania ini melekat padaku" dia memberi Deathglare bahkan lebih seram dari biasanya dan memang dia sangat marah dam gadis kacamata itu akhirnya banjir keringat ketakutan.

"Hahhhhhhhah!"

*Jduarrrrr!

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Guild Fairy Tail

Note : Gray vs Bickslow pemenangnya adalah Bickslow dan Erza vs Evergreen pemenangnya adalah Erza dan kini pemain yang tersisa adalah 17 orang

Makarov sangat shock melihat pengumuman ini karena semua anak kesayangannya kalah dan secara satu-persatu tumbang dalam acara games ini bahkan laki-laki yang tersisa kini hanya Natsu dan Gajeel karena mereka belum melakukan apapun dan yang terpenting masih ada seorang anggota yang paling kuat belum bergabung jadi itu sedikit membuatnya lega.

Yah, semuanya yang masih selamat adalah anggota perempuan karena mereka tadi harus sedikit dijeda jadi batu dan berkat sihir Irene semuanya jadi kembali normal dan Makarov bisa sedikit bernafas lebih lega karena Erza melakukan tugasnya dengan baik dan kini hanya tiga orang lagi orang yang belum dibereskan untuk mengakhiri games konyol ini.

Cana meminum alkohol seperti biasanya "ughh! disini benar-benar suntuk sekali aku bahkan ingin melakukan sesuatu daripada harus diam"

"Jika, kau maunya seperti itu kenapa tak bantu saja yang lainnya" ucap Lisanna memberi saran.

"Nah, aku ingin sedikit minum lebih banyak lagi dari biasanya karena si sialan mata empat tadi" jawab Cana dengan wajah malasnya membuat adik dari Mirajane itu sweatdrop.

Bisca terlihat menghitung sesuatu "jika yang kulihat disini semua anggota yang masih tersisa terutama perempuan ada 11 jika dihitung semuanya ada 16 tapi kenapa disitu tertulis 17 orang? bukankah master tak dihitung?"

"Jika, Gildarts kesini itu mustahil karena dia sekarang entah ada dimana" ucap Levy dengan dagu di tangan "tapi jika aku bisa menebak mungkinkah orang itu juga ikut berpartisipasi?"

"Siapa?" tanya Lisanna bingung.

"Yah, siapa lagi kalau bukan orang yang sering membuat orang lain tidur ketika masuk kesini' jawab Levy.

" ohh, dia toh" Lucy hanya mengangguk faham, dia sendiri tak tau wajah orang anggota lain bernama Mystogan karena dia orang yang cukup misterius

"Meski dia orang aneh tapi tetap saja dia anggota guild" ucap Cana yang mengeluarkan kartu tarot dan mengocoknya "baiklah siapa yang ingin diramal? aku mendapat sesuatu peruntungan tapi entah itu kapan"

"Serius dikit kenapa?!" teriak Lucy sewot.

Gajeel hanya memasang wajah heran dan bingung melihat keributan disini yang tak biasanya "entah ini hanya telingaku saja yang bermasalah tapi mereka semua cukup bising meskipun mereka perempuan" dan hal seperti ini tak pernah terjadi di guildnya yang dulu.

Gadis Penyihir Air ini menjawab "mungkin mereka memang seperti ini hanya saja kita belum terbiasa karena di Phantom selalu hening" dia merasa ini cukup seru dan menyenangkan "tapi ini masih taraf normal karena yang sering buat ribut tak ada dan Juvia harap dia baik-baik saja"

"Yah, mungkin kau benar" jawab Gajeel dengan wajah bosan dan ingin ke dapur dan memakan sesuatu benda besi tapi sebelum pergi dia menyeringai ke arah gadis berambut biru "tapi, jika kau memang khawatir dengan mate rambut pinkmu itu kenapa tak susul saja dan membantunya gihiii!"

Wajah Juvia langsung memerah sangat malu seperti tomat dan berteriak "Gajeel-kun! becandamu itu benar-benar gak lucu tau!"

Dan muncul layar hologram Laxus dengan seringai seperti biasa "Laxus! hentikan semua pernainan yang gak lucu ini karena kau sudah kalah sejak awal" ucap Makarov memperingatkan cucunya.

Laxus dengan grin menjawab "dengan Evergreen yang sudah kalah itu bukan berarti permainan ini akan selesai begitu saja dan juga gertakanmu tak begitu berarti karena aku masih ada beberapa cara lagi supaya ini begitu menarik"

"Ohhh ya aku menambahkan aturan baru lagi dalam permainan ini dengan mengaktifkan Hall Of Thunder dan waktu yang tersisa tinggal satu jam lagi dan kau fikir itu bisa mengalahkan kita semua? jika tak ingin itu terjadi cepat serahkan kursi Master itu padaku whahahahahaha!"

Makarov sangat shock mendengar tadi dia tau apa yang dimaksud dengan cucunya tadi dan itu sangat berbahaya atau kelakuan Laxus sudah kelewat batas "dasar cucu brengsek! apa yang sebenarnya otakmu fikirkan dengan melibatkan warga tak bersalah ke dalam urusanmu itu!" dia berteriak sangat marah tapi tiba-tiba dadanya terasa sesak dan nyeri mungkin penyakitnya kambuh "ughhh! Sial!"

Levy panik dan khawatir "ughh, ini gawat disaat seperti ini penyakitnya kambuh lagi dan dia butuh obat segera!"

"Hey, coba lihat apa itu?" ucap Lisanna menunjuk sesuatu di langit seperti sebuah bola besi yang dibalut dengan jumlah banyak dan mengelilingi seluruh kota Magnolia.

Cana mengetahui benda apa itu dengan keringat cemas "yang jelas jika itu diaktifkan atau dilepaskan maka muncul sekali hantaman petir dalam jumlah banyak dan bisa memusnahkan satu kota"

Bisca bersiap dengan senapannya untuk menembak "kalau begitu yang kita perlukan sekarang adalah menghancurkan benda itu secara satu-persatu"

Cana langsung mencegahnya "tahan sebentar dan jangan asal tembak saja karena benda itu saling terhubung jika kau menghancurkan satu maka yang ada itu serangan balik dan menyakiti dirimu sendiri"

"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Lucy cemas.

"Tak ada pilihan lain, selain menghajar bokong Laxus itu!" jawab Cana sangat frustasi "dan berhati-hatilah jangan sampai bertemu Freed atau Bickslow"

"Aku akan mengevakuasi warga sebisa mungkin" ucap Levy.

.

.

.

.

.

- Di Atas Gedung

"Aku cukup terkejut kau masih bisa bertahan"

"Lah, kondisimu sendiri tak beda jauh denganku"

Sementara itu pertarungan di tempat lain masih berlanjut dengan musuh yang masih sama tapi berbeda orang yah, Bickslow kurang tau atau memperhatikan sekitar bahwa setelah mengalahkan Gray dia fikir ini sudah berakhir namun terkadang yang namanya rencana tak bisa berjalan sebagaimana mestinya dan kini dia berhadapan dengan orang lain lagi seorang gadis berambut perak dengan poni sejajar dahi, dan jambul melengkung ks atas tambahan aksesoris bando namanya Sorano Aguria.

berbeda dengan Gray tadi yang cukup mudah diakali tapi gadis ini cukup berbeda bahkan hingga bisa membuatnya terluka parah dan terdesak berkali-kali itu cukup merepotkan juga yah, niatnya dia ingin menjebak gadis itu sama seperti namun naasnya dia sendiri ikut terjebak juga alhasil dia harus mengalahkan Sorano agar bisa keluar dari Rune milik Freed ini dan tak bisa bebas melakukan apapun.

Sorano mengusap mulutnya dan saat ini dia dalam mode Star Dress : Scorpio "Gray mungkin memang orang yang bodoh tapi aku tak seperti itu lagipula kau juga bodoh masuk ke dalam perangkap sendiri" dia menggerakan kedua tangannya dengan cepat dan membentuk tiga tornado pasir.

Bickslow berlari sambil melompat serangan tadi "whoppss! bicara seperti itu kau sendiri juga masuk ke dalamnya gadis cosplayer" dia menembakan bola cahaya kecil dengan jumlah banyak.

Tampak perempatan urat nadi muncul di dahi gadis itu "tchk! Akan aku tunjukan padamu siapa yang kau panggil cosplayer itu" dia berlari cepat menyebar menghindar serangan itu dalam mode pakaian seperti ini dia sangat cepat berbeda dari mode bintang roh lainnya.

Bickslow menyuruh boneka kayu miliknya membuat formasi melingkar dan menembakan laser besar, Sorano menunggu moment tepat dan langsung bergerak ke belakangnya, Bickslow menyadari itu lamun telat karena perutnya langsung terkena seperti sayatan tajam dan melukainya.

"Guahhhh!"

Sorano menjauh tapi dia tau ini belum berakhir "huftt! kau cukup menyebalkan sekali untuk seorang lelaki"

Bickslow mengerang sambil memegang perutnya yang kesakitan "argghhh, dasar menyebalkan aku jadi tak punya pilihan lain untuk menggunakan ini" dia membuka topeng yang dikenakan dan menunjukan wajahnya dengan sebuah Tatto X di jidat "nyahahahaha! rasakan ini tidak, ada yang bisa mengalahkanku dengan kekuatan gabungan ini'

Sorano menutup matanya dia tau jika menatap maka akan gawat dan Bickslow langsung menyerang gadis itu dengan frontal, Sorano agak bergerak maju dan di telapak tangannya tampak mengepalkan sesuatu dan dia langsung melemparkan itu ke depan yang rupanya sebuah serbuk pasir.

Bickslow tak menduga serangan itu digunakan alhasil pasir itu langsung masuk ke dalam matanya " argghhhh, dasar tolol menggunakan trik licik seperti ini" dia coba memggosok matanya untuk menghilang pasir di dalam namun itu terlalu banyak.

Sorano langsung mencapit leher Bickslow dengan ekor di belakangnya tampak lelaki itu mencoba berontak namun cekikan itu cukup kuat dan gadis itu mengepalkan tangannya hingga sebuah cahaya merah berbentuk seperti Capit Kalajengking yah, memang seperti itu bintang roh miliknya.

"Kau sudah berakhir sekarang bodoh" ucap Sorano yang sudah tak mau menunggu lebih lama lagi "SVARPES ACETRA!" dia menghempaskan pukulan itu telak ke perut dan membentuk seperti Capit besar yang menghempaskan laki-laki itu jauh ke ujung bangunan sana sekaligus menghancurkan Rune tadi yang mengurungnya.

*Duarrrr!

Sorano tau ini berakhir dan berbalik badan pergi "hah, ini cukup melelahkan dan aku akan mandi lalu Istirahat malam setelah ini"

Bickslow masih bisa bertahan namun tak sanggup berdiri lagi karena perutnya cukup terkena serangan fatal tadi tapi dia tak bisa kalah begitu saja dan langsung terbang ke langit secara paksa sambil teriak "BABYLON FORMATION : EYESHOCK!"

Dan boneka jiwa itu membentuk seperti mata dan menghempaskan bola gelombang kejut besar dan gadis itu yang sudah dipastikan tak siap untuk menghindari serangan itu karena kondisinya tadi namun.

*Scrsckkkkkkkk!

Tiba-tiba saja hawa sekitar menjadi dingin dan ketika Sorano membuka matanya lalu melihat serangan itu terhenti seketika karena tehknik Es yang langsung membekukan itu sekaligus Bickslow juga.

Sorano melihat siapa yang berbuat seperti itu dan sudah mengetahuinya "kau tadi telat kemana saja? aku sudah beres tapi terima kasih yang tadi"

Wanita berambut hitam pendek itu menjawab dengan kalem "tak masalah lagipula aku kebetulan saja lewat dan melihat ada ledakan jadi aku kesini"

"Ahh, iya" ucap Sorano yang bajunya kembali normal.

Ur merasa ada Komunikasi sihir datang ke telinganya "iyah, ini aku ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"

"Maaf, bisa kau sedikit membantu aku ada sebuah masalah disini"

Ur mengangkat sebelah alisnya dengan grin tertarik "boleh saja tapi kau tau ini tak gratis"

"Tch, menyebalkan baiklah apa yang kau mau?"

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Magnolia Selatan

Mirajane berkeliling sekitar kota ini sambil mencari Freed yang dia dapat kabar bahwa orang itu berada di sekitar sini dan berharap bisa mengalahkannya dan mengakhiri games menyebalkan ini, bukan berarti dia takut atau kalah terhadap lelaki berambut hijau itu tapi sudah lama sekali dia tak menggunakan kekuatannya dan memilih tak ambil misi lagi tapi sebagai gantinya dia bekerja sebagai Barmaid di Guild ini.

Tapi, Mirajane terkejut melihat badan besar tergeletak di tanah dan itu adalah adiknya "Elfman?! Apa yang terjadi? kau baik-baik saja?" dia membantunya bangun dengan wajah khawatir karena adiknya cukup terluka "lukamu sangat parah, ayo segera kembali biar yang lain merawatmu"

Elfman memberi senyum meski tubuhnya tak baik "tak usah bersedih seperti itu karena sudah sepantasnya si bodoh tak berguna itu mendapatkan hal yang setimpal terlebih aku memang tak berguna sama sekali bahkan melindungi diri saja tak bisa" dia melihat kakakmya mulai menangis

"Maafkan aku yang tak bisa membantu selama ini" ucap Mirajane yang sudah tak bisa menghentikan air mata yang jatuh ke pipinya.

"Nah, itu bukan masalah bagi seorang laki-laki" balas Elfman tetap terlihat sok kuat di hadapannya.

"Hikz! Hikz! Hikz! Aku benar-benar minta maaf'

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yoshh, akhirnya aku selesai lagi dan ini masih berlanjut untuk ke depannya dan aku sedang dalam masa perbaikan karena harus tetap on lel tapi see ya saja

Pm

RnR

,