Hai, pada dasarnya aku kembali lagi setelah sekian lama dan sekarang sudah pergantian tahun dan awal baru bagi author yang sampai saat ini masih dalam keadaan jones abadi (mohon rasa ibanya kepada saya 😢😢😢 lalu juga kita baru akhiri ini arc mungkin tinggal dua chapter lagi ditambah lemon segar di akhir cerita seperti biasanya karena sudah dibilang sejak awal bakal ada lemon di akhir arc dan semuanya hanya tinggal menunggu waktu saja by the way hampir dua tahun juga fic ini masih berjalan dan jauh dari kata tamat lalu sama kayak fic NQS yang sudah dua tahun dan selama itu juga saya sudah lumayan lama jadi author.
P.s : mungkin ini agak lucu tapi, saya berniat buat fanfic baru lagi dengan judul beda dan juga dari anime beda karena sekarang otak saya udah memiliki banyak ide dan sebagai author tak ingin menyia-nyiakan itu karena no nice.
Chapter 35 : We still Friend
.
...
.
- Jalan Magnolia Utara
"Memang agak sulit juga mencarinya seperti ini dengan penciumanku ketika terlalu banyak orang yang ada disini"
Tampak terlihat samg character utama kita sedang berdiri di atas sebuah gedung tinggi dengan tangan di atas kepala yang nampaknya sedang tengah mencari sesuatu atau lebih tepatnya seseorang dan siapa lagi kalau bukan sang pembuat onar dan cucu dari master Fairy Tail Laxus.
"Daripada kau menggunakan cara kuno seperti itu kenapa tak gunakan kekuatan observasimu? bukankah itu lebih baik"
"Yah, aku rasa kau memang ada benarnya juga"
Natsu mengangguk setuju dengan ucapan hewan musang yang sudah lumayan lama bersemayam di dalam tubuhnya dan dia hampir lupa tak menggunakan tehknik yang sudah diajarkan itu dan memang jarang terpakai dalam pertarungan soalnya belum ada yang sepadan dengannya.
Tingkatan kekuatan observasi miliknya bisa dibilang cukup tinggi hingga sedikit mengetahui beberapa detik yang bakal terjadi ke depannya bisa dibilang sekilas masa depan tapi, itu tak semudah yang dibayangkan karena perlu kekuatan konsentrasi yang tinggi dan penuh untuk mewujudkan itu.
Tapi, yang jadi masalahnya adalah dia selama ini belum menemukan lawan yang seimbang atau bisa dibilang super cepat dan merepotkan jadi, ini agak sedikit tumpul seperti pisau yang tak diasah mungkin setelah ini dia akan mencoba kembali latihan dan juga memang belum ada orang yang bisa menyainginya.
"Merepotkan, bahkan kau tak pernah menggunakan kita, apakah kita disini hanya pajangan untuk teman curhatmu hah?!"
"Ahhh, maaf habisnya musuh disini gak ada yang bagus semua"
Natsu hanya tertawa yang dipaksakan ketika mendengar temannya itu ngambek seperti anak kecil yang tak dikasih uang saku dan itu tampak cukup lucu sekali dan lelaki berambut pink ini merasa sudah menyia-nyiakan apa yang sudah diberikan mungkin lain kali saja tapi, bukan sekarang.
"Kau sudah menemukannya?"
"Iya, baru saja tapi nampaknya si muka besi itu baru saja mulai untuk bersenang-senang"
Natsu sudah menemukan dimana lokasi Laxus berada dan bisa dibilang tak begitu jauh sekali dengan lokasi dia berdiri saat ini mungkin hanya sepuluh menit jika berlari dan apabila lewat atap mungkin lebih cepat lagi tapi, dia tak ingin dulu buru-buru.
"Kenapa kau tak segera kesana dan membantunya? bukankah kalau lebih cepat itu lebih baik?"
"Tak usah terlalu buru-buru bertindak seperti itu kita biarkan saja dan melihat semua yang terjadi jika, waktu sudah pas baru bergerak"
Sebenarnya Natsu hanya ingin berdiam diri saja dan biarkan si Gajeel itu mengatasi pria pirang itu sendirian dan apabila kalah dia takkan segera maju karena bukan hanya dirinya saja yang ingin menendang bokong orang itu karena semua yang terjebak dalam game absurd ini juga menginginkan hal sama.
"Kau sudah tau apa yang bakal terjadi selanjutnya nanti ke depan?"
"Sangat jelas sekali"
Natsu menjawab itu dengan seringai penuh keyakinan di wajahnya terkadang menurutnya memiliki kekuatan seperti ini tak buruk juga malahan menyenangkan sekali bisa mengetahui sesuatu yang bahkan orang lain pun belum mengetahuinya juga.
"Jadi, sebaiknya kita duduk dan nikmati semua pertunjukan ini Kurama"
"Hmm!"
.
.
.
.
.
- Jembatan
"Nee-chan, aku ini bisa berjalan sendiri jadi jangan dituntun juga"
"Itu, mustahil karena kau sudah kelihatan kepayahan"
Elfman hanya berusaha menolak secara halus ketika kakak perempuannya itu memberinya bantuan dengan cara membantunya berjalan tapi, yang namanya perempuan sudah pasti keras kepala dan jika sudah itu maka harus itu dan tak bisa diganggu gugat.
Sebenarnya dia masih merasakan sakit setelah bertarung itu dan bahkan bisa dibilang dia tak berguna sama sekali dan setidaknya sedikit membantu yang lain untuk mengakhiri games konyol ini tapi apa daya kekuatannya belum cukup malahan tak membantu sama sekali.
Mirajane tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukan adiknya "jangan, bersedih seperti itu kau sudah melakukan yang terbaik dan sebisa dirimu sendiri"
"Tapi, nyatanya aku sama sekali gak berguna dan malah merepotkan yang lain" ucap Elfman dengan senyum kecil kepada kakaknya "ini, benar-benar bukan seorang pria"
"Mungkin kau bisa mencobanya ulang nanti" balas Mirajane tertawa kecil.
*Crashhhh!
Moment canda tawa mereka kini sedikit terganggu karena tiba-tiba saja ada sebuah bangunan yang hancur karena ada seseorang yang menabraknya dengan keras dan jika diteliti lagi itu seorang wanita berambut coklat panjang agak keriting dan mereka mengenali siapa orang itu.
Mirajane panik dan langsung menghampirinya "Cana! apa yang terjadi denganmu? bagaimana bisa kondisi kau seperti ini?" namun tak ada jawaban dari wanita itu yang menandakan dia tak sadarkan diri.
"Freed, disaat seperti ini..." Elfman menatap seseorang yang jadi penyebab wanita itu terluka dan dia tak berharap orang itu datang tapi, keberuntungan belum memihak kepadanya.
"Aku fikir kau cukup kuat karena anggota yang sudah lama bergabung tapi, nyatanya sama saja" ucap Freed menatap sinis wanita itu dan tak sadar ada orang lain yang datang juga.
"Hei, Freed hentikan semua tingkah omong kosong ini! bukankah dia itu temanmu!" ucap Mirajane yang membentak lelaki itu dengan penuh emosi.
"Ah, siapa yang mengira aku bisa bertemu dengan kalian disini" ucap Freed yang tersadar dengan orang lain dan mengabaikan bentakan keras dari gadis barmaid itu "ohhhh, itu mungkin dulu karena sekarang jika Laxus memganggap kalian musuh itu berarti musuhku juga"
"Kau benar-benar sangat menyebalkan sekali" ucap Elfman merasa jengkel dan ingin segera menghajar lelaki itu.
"Maaf, tapi orang yang sudah gugur dalam game tidak diizinkan kembali ikut berpartisipasi" ucap Freed membuat gerakan seperti menyayat pedang di udara "dan sebagai gantinya kau terima rasa sakit hukuman melebihi dari sebelumnya"
"Huh?.. Apa ini?!" Elfman merasa tubuhnya bertingkah aneh dan melihat tulisan aneh di dadanya lalu tak lama terasa sangat nyeri.
"Arghhhhhhhhhh!"
"Itu yang terjadi pada tubuhmu" jawab Freed dengan salah satu matanya berubah hitam.
Elfman berteriak sangat kencang sekali dengan rasa sakit yang sangat luar biasa sekali menimpa tubuhnya dan yang dia bisa lakukan hanyalah menahan rasa sakit yang semakin terus bertambah lebih parah lagi.
"Sudah, cukup Freed hentikan ini jangan lakukan ini kepadanya!" teriak Mirajane menutup matanya karena tak tega melihat adiknya itu menderita kesakitan sekali dan nampaknya dia tak punya pilihan lain.
"Ini hukuman, kau tak bisa membatalkan itu" jawab Freed yang mengabaikan permohonan dari gadis itu dan memilih menyiksa lelaki berbadan besar itu.
"Kau tampaknya tak memberiku pilihan yang bagus sekarang" ucap Mirajane yang suaranya berubah drastis dari yang lembut menjadi agak besar dan menakutkan seolah ada monster yang bangkit dari persembunyian.
Freed berkeringat dingin merasakan aura yang besar dan sangat kuat sekali "tunggu, sensasi mengerikan macam apa itu" dia melihat ke belakang dimana aura ungu gelap membeludak sangat besar sekali seperti kobaran api 'sial! jadi itu Satan Soul milik Mirajane?'
Mirajane nampaknya sudah berubah wujud tapi tak jelas karena kabut asap "kau benar-benar memaksaku untuk melakukan ini" dia membuat bola percikan hitam besar dan langsung melemparkannya.
*Booooooommmmmm!
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Gereja Katredal
"Ohhhh, siapa yang mengira bahwa kau duluan yang sudah kemari"
"Gihii! mereka hanyalah orang-orang yang lemah dan tak tau cara menemukan seseorang"
Gajeel menyeringai tajam ketika melihat musuh yang dia cari tengah duduk di sebuah kursi dengan wajah yang menyebalkan serasa dia ingin menghajarnya langsung tapi, dirasa itu tak semudah diperkirakan.
Laxus menopang dagunya "sulit dipercaya tapi, yah siapapun yang aku temui sekarang itu berarti jadi musuhku"
"Bukankah kau ingin mengetes siapa yang paling kuat disini?" ucap Gajeel dengan kepalan tangan.
"Kenapa kita tak mencari taunya sendiri?" balas Laxus dengan seringai tertarik.
*Boooommmmmm!
Kedua orang itu maju secara bersamaan dan saling beradu tinju hingga menciptakan hentakan angin yang besar dan setelah beberapa saat mereka langsung mundur kembali.
"IRON DRAGON CLUBBING!"
Gajeel membuat tangannya menjadi besi keras yang memanjang, lelaki berambut pirang itu dengan mudah menangkap serangan itu menggunakan satu tangan tapi, sebelum membuat serangan balasan besi panjang itu melebar dan menjadi banyak tapi Laxus langsung mundur lagi.
Laxus mengeluarkan aura kilat di sekitar tubuhnya dan langsung bergerak cepat ke depan lalu mengayunkan tinjunya tapi, hal itu tak kerasa oleh dragon slayer besi itu malahan tinju tadi hanya ditahan oleh jidatnya saja.
"Gihiii! Cuman segini saja yang kau dapat?" Gajeel menunjuk seringai dan seolah ucapannya terkesan merendahkan.
"Aku rasa jika kau kesakitan dengan serangan seperti itu bakal tak seru dan berakhir dengan cepat" balas Laxus senyum yang menunjukan gigi dan dia belum pemanasan sama sekali "tapi, bukankah ini menjadikan games yang lebih menarik?"
Laxus sedikit mengeluarkan tenaganya lalu tinju tadi sedikit lebih keras hingga mendorong lelaki berambut hitam gondrong itu menjauh.
Gajeel mengibaskan kepalanya "tinju yang penuh semangat tapi, ini baru awal" dia langsung menarik nafas dalam.
"IRON DRAGON ROAR!"
"LIGHTNING DRAGON ROAR!"
*Jduarrrrr!
Keduanya saling menyemburkan kekuatan mereka hingga membuat ledakan besar dengan dampak hebat.
Sebelum Gajeel mengeluarkan tehknik lain tiba-tiba Laxus sudah berdiri di depannya dan juga dia tak sempat mengelak atau menahan karena pria berambut pirang itu memegang kepalanya dan langsung menendang wajahnya dengan tumit.
Gajeel mengusap mulutnya "tck! orang yang merepotkan" dia meninju ke tanah.
"IRON WALL MAZE!"
Muncul tumpukan besi panjang dari bawah tanah yang jumlahnya semakin banyak saja, Laxus tau ini memang merepotkan tapi, nampaknya dia tak punya pilihan lain lalu dia kepalkan tangan kanannya hingga muncul gelombang eletrik.
*Booommmmmm!
Lalu dia lepaskan begitu saja hingga membuat ledakan besar sekali bahkan serangan Gajeel tadi langsung hancur seketika karena itu memiliki daya kekuatan yang hebat.
Laxus maju ke depan dengan cepat, Gajeel memutar badannya lalu memberi sebuah tendangan kaki kanan tapi pria pirang itu menangkap kakinya lalu memberikan tinjuan telak diperut dan langsung terhempas begitu saja.
"Brengsek! Kau lumayan tangguh juga" ucap Gajeel memegang perutnya yang sedikit nyeri.
"Oh? Sudah menyerah? Jadi seperti ini sajakah kekuatan dragonslayer itu?.." ucap Laxus yang raut wajahnya terkesan merendahkan lawannya "sungguh, tak sesuai yang diharapkan padahal aku berfikir kau cukup beda karena pernah memalukan orang-orang idiot itu?"
Gajeel hanya diam tak bergeming tentu saja lelaki itu menyinggung tentang masa lalunya sewaktu dimana dia masih di Phantom ketika melukai Levy dan kawan-kawan serta menghacurkan guild Fairy Tail tapi, pada dasarnya dia hanya menuruti perintah Jose sebagai seorang anggota guild.
"Itu dulu dan sekarang lain lagi faham?" balas Gajeel sangat kesal dengan itu "tapi, bukankah kau sudah selesai melampiaskannya kan?"
Gajeel tak sempat reaksi karena Laxus sangat cepat dan memukul wajahnya tapi, itu belum selesai karena cucu dari Makarov itu langsung memegang kepalanya dan menyeretnya secara paksa.
Tapi, Gajeel tak mau dipermalukan atau menyerah begitu saja disaat cengkraman Laxus agak terasa longgar dia membuat tangannya memajang seperti besi dan diarahkan ke depan alhasil langsung terkena wajah lelaki berambut pirang itu.
*bltajkkkkk!
"Orang lemah yang cukup merepotkan" ucap Laxus masih arogant seperti biasanya mungkin tadi itu belum membuatnya tersadar.
Gajeel berniat memukul Laxus lagi tapi, orang itu menahan tangannya dia bermaksud melepaskan diri tak bisa tapi matanya membelalak dan sadar akan sesuatu namun semuanya sudah terlambat.
"Maaf tadi itu pemanasan karena mulai sekarang aku akan serius" ucap Laxus dengan tangan kanannya melebar dan muncul lingkaran listrik
"DRAGON THUNDER SHOCK!"
*BZZTTTTTTT!
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Jembatan
Siapa yang mengira ini bisa terjadi begitu saja dan tak ada yang bisa membayangkan sebelumnya, sepertinya Freed tak bisa menduga ini terjadi karena niatnya hanya mengalahkan orang yang dianggap musuh oleh Laxus tapi dia malah membangkitkan sisi iblis yang sudah lama tertidur.
Mirajane sebenarnya tak mau melakukan ini dan tak mau menggunakan cara kekerasan tapi, nampaknya lelaki itu cukup menyebalkan karena melukai adik tersayangnya jadi, dia memang harus melakukan ini jika tidak dia bakal berbuat seenaknya.
'Sial, jadi ini yang disebut Demon Mirajane itu?' Freed cukup gemetar dan keringat dingin karena hawa kuat yang keluar dari gadis itu.
"Kau ingin mati? baiklah akan aku tunjukan padamu" ucap Mirajane memberi glare.
Gadis berambut putih itu langsung terbang ke depan lalu mencengkram kepala Freed dan langsung menyeretnya ke tanah lalu setelah itu dia lemparkan seperti sebuah bola.
Freed membuat aksara aneh namun nampaknya Mirajane tak memberinya kesempatan dan langsung meninju wajahnya tapi, dia belum selesai lalu menunjuk ke depan dan muncul percikan bola ungu di ujung jari telunjuk.
*Cyutttt!
Langsung keluar seperti laser panjang dan menembus perut orang itu lalu terdengar suara teriakan kesakitan dari Freed yang memilih terbang menjauh dari iblis itu karena berbahaya.
"Tckk! memang nampaknya Iblis harus dilawan dengan Iblis" ucap Freed menyilangkan kedua jarinya "YAMI NO ECTURE : DARKNESS!" dia langsung merubah wujudnya jadi monster besar yang menakutkan.
Kedua orang itu saling beradu tinju lalu mundur beberapa senti, Freed mengeluarkan semburan aura gelap tapi gadis berambut putih itu terbang ke atas sambil mengelak lalu menendang sangat keras kepala Freed hingga terhempas ke bawah.
Tapi lelaki berambut hijau belum kalah dan langsung terbang cepat ke belakang Mirajane, gadis itu menyadarinya tapi terlambat karena Freed langsung meninju wajahnya yang dilapisi aura hijau gelap dan menghempasnya ke sebuah bangunan.
Freed langsung mengejarnya tapi dia tak menyadari bahwa Mirajane menggerakan kedua tangannya berputar hingga membentuk aura pusaran berwarna ungu gelap dan ketika lelaki berambut hijau itu tersadar namun semuanya terlambat.
"WINDER DARKNESS!"
Kekuatan tadi langsung dia hempaskan ke atas dan langsung membuat pusaran angin yang besar dan langsung menerbangkan lelaki tadi cukup jauh tapi, dia kembali mengejarnya.
'Sial, sebenarnya berapa banyak sihir yang dia punya?' Fikir Freed sangat shock dengan jumlah mana sihir gadis itu yang sangat banyak dan tidak habis.
"Kau seharusnya tau jika, berurusan denganku bukan?" ucap Mirajane dengan suara lembutnya yang berubah kini menjadi lebih kasar dan menakutkan lalu dia laser beam dari kelima jarinya.
"Ughhh! benar-benar merepotkan" ucap Freed mengerang sakit karena salah satu serangan tadi mengenai tubuhnya tapi, dia tak sadar gadis itu sudah berdiri di belakangnya.
"Aku harus mengakhirimu disini" ucap Mirajane membuat bola orb ungu yang besar setelah mengumpulkan mana yang cukup banyak.
"SOUL EXPLOTION!"
Dia langsung melemparkan bola besar itu yang mustahil dihindari oleh Freed alhasil dia terkena dan langsung membuat gelombang ledakan yang sangat besar hingga orang-orang di tempat lain melihat ledakan itu.
*Booommmmmmm!
Setelah beberapa saat Freed kembali ke wujudnya yang normal dengan tubuh terluka sangat parah sekali dan dia tak mengira kalah begitu saja mungkin karena kekuatan gadis ini sangat kuat dan hebat sekali seperti yang dirumorkan waktu itu.
Dia hanya bisa diam melihat ketika gadis itu bersiap menghabisinya dan juga dia tak bisa bergerak sama sekali dan memilih menutup matanya untuk menerima serangan itu namun, tak terjadi apapun atau sekedar sebuah serangan
Ketika Freed membuka mata tampak sebuah tinju di depan wajahnya namun ditahan "kenapa kau tak teruskan? bukankah aku sudah menyakiti adikmu?" dia sedikit tak mengerti padahal posisi gadis itu cukup menguntungkan.
Mirajane kembali ke wujud normal "pertarungan ini tak berguna sama sekali, karena kita ini adalah teman semua yang kita lakukan sama-sama bahkan saat sedih sekalipun" dia tersenyum kecil.
"Mana mungkin! cuma Laxus saja seorang yang aku anggap teman" teriak Freed yang tak mau menerima kenyataan.
"Mulutmu berkata tidak tapi, wajahmu jelas sekali menunjukan kejujuran yang sesungguhnya" balas Mirajane yang bersuara lembut dan tidak terbawa emosi "karena pada dasarnya kau tak bisa bergantung pada satu orang karena ada banyak orang yang ada di sekitarmu yang selalu membantu jadi, itulah gunanya teman"
Freed menutup wajahnya dan berusaha menahan air matanya yang jatuh tapi itu mustahil "hikz! hikz! sial! sebenarnya aku agak kurang nyaman melakukan ini tapi, itupun sangat terpaksa"
"Yah, daripada bertarung gak jelas seperti ini sebaiknya kita nikmati saja festivalnya ok?" ucap Mirajane dengan senyum.
"Kau tau itu, sangat mustahil mengalahkan seorang monster" komentar Cana yang baru tersadar dan hanya melihat ending pertarungan itu.
Elfman hanya diam tak berbicara apapun dan memang sangat menyetujui ucapan wanita karena dia tau kakaknya memang monster pada saat masanya dan entah bagaimana dia bisa menemukan Juvia yang sedang digendong olehnya dan itu cerita lain.
.
.
.
.
.
- Menara Jam Magnolia
Tampak disana ada dua wanita cantik yang tengah duduk di tempat itu yang satu rambut merah scarlet dengan dikepang dan mengenakan topi besar lalu yang satunya lagi wanita berambut pendek hitam dengan mata sayu yang mengenakan jacket coklat.
"Kau yakin, kita tak sebaiknya membantu?" Ur bertanya kepada wanita yang berada di sampingnya, yang sedari tadi bersenandung ria sambil menatap sesuatu.
"Nah, biarkan yang muda melakukan itu lagipula hal seperti ini hanya permainan anak kecil" balas Irene tak begitu peduli dengan ini "lagipula itu tak seperti mereka yang tak bisa mengatasinya sendiri"
"Oh, lantas kenapa kau memanggilku kemari?" tanya Ur bingung dan juga dia nampaknya memiliki sesuatu urusan untuk diselesaikan tapi, itu bisa saja nanti.
Irene memutar bola matanya jenuh "astaga, bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya? Apa ini efek karena terlalu lama membeku di dalam es? atau mungkin karena sudah tua jadinya pikun hmm?" dia menunjukan senyuman mengejek.
Ur memberi sedikit glare lalu tersenyum licik "Ohh, bukankah kau sendiri lebih tua dan sangat jauh umue dariku?" dia mengabaikan tatapan tak mengenakan yang diarahkan kepadanya.
"Baiklah, terserah kau saja lah" Irene memilih mengalah dan tak melanjutkan debatnya karena itu benar adanya bahwa umurnya terpaut sangat jauh sekali bisa dibilang beda seabad tapi, jika membandingkan kecantikan dia tak kalah jauh "kau, hanya dengarkan nasihat interuksiku jika waktunya sudah pas"
"Lalu apa yang harus aku lakukan" Ur bertanya lagi.
"Kita akan sedikit berurusan dengan benda menyebalkan itu" jawab Irene menunjuk bola lacrima besar itu yang mengelilingi kota Magnolia.
"Oh, begitu" Ur hanya mengangguk faham "tapi, jangan lupa dengan perjanjian itu okay?"
"Tch, giliran yang seperti itu saja kau ingat" Irene mendecak kesal "tapi, akan lebih baik kita lakukan secara bersama jadi, double team?!" dia menunjukan grin.
"Sungguh kotor tapi, itu boleh juga" Ur menyeringai.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Guild Fairy Tail
Note : Freed vs Mirajane kedua peserta sudah kalah dan tak bisa melanjutkan pertarungan lagi.
Makarov bersorak senang setelah melihat papan rune pengumuman itu dan dia tau ini bakal berakhir yang tersisa hanya tinggal Laxus cucunya seorang yang membuat games menyebalkan ini dan sekarang tinggal lakukan serangan balasan balik.
'Sekarang apa yang kau lakukan Laxus?'
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Dan cutttt akhirnya selesai juga di chapter ini dan akan kembali lagi di chapter selanjutnya lalu aku akan update lagi di fic selanjutnya karena saya gak suka ingkar janji dan juga gak ada publish fic baru.
Pm
RnR
