Halooo lagi kita sudah kembali disini dan mengingatkan bahwa balonku ada lima rupa-rupa warnanya (ya elah, Author malah pada nyanyi) by the way saya mau omongin sesuatu bahwa di chapter ini adalah bagian lemon jadi itu berarti bakal ada yang segar lagi dan bisa dibilang bahwa Mate Natsu bertambah lagi karena ini genrenya harem jadi jangan heran dan protes karena ceritanya gini karena saya membuat fic untuk just having fun saja dan saya gak menuruti permintaan karena ini fic milik saya dan sesuka hati saya untuk menulis cerita bagaimana asalkan fine saja btw, perlahan manga lama sudah mulai tamat yah sungguh sedih sekali (T_T)

P.s : dan manga lawak Gintama akhirnya end setelah beberapa minggu sebelumnya membuat pernyataan ending palsu (laporkan karena dugaan penipuan publik -_-) tapi sekarang sudah real dan memang end tanpa nipu.

Chapter 39 : Tears Law (Lemon)

.

...

.

- Aula Guild

Akhirnya setelah semua kejadian yang terjadi dengan Guild dan hancurnya beberapa bangunan di kota Magnolia kini kondisi Guild dan juga kota kembali normal seperti biasa, dan beberapa orang tetap melanjutkan parade fantasia dengan wajah kalem seolah tak terjadi apapun dan yang sempat terhenti karena suatu hal.

Dan memang benar bahwa parade itu sempat terhenti oleh beberapa orang yang iseng saja atau bisa dikatakan ini adalah ulah Laxus sang cucu pemilik Guild Fairy Tail, dan di kota sudah siap dengan perlengkapan penyambutan parade namun di Guild masih dalam tahap perbaikan akibat kerusakan terjadi.

Semuanya tampak memasang senyum bahagia sekali untuk penyambutan ini seolah kejadian yang terjadi beberapa jam lalu itu hanya seperti sebuah sihir ilusi belaka saja, dan semua anggota Guild sedang beriatirahat dengan luka perban sehabis bertarung.

Jika mereka terluka itu wajar saja karena mereka saling bertarung satu sama lain akibat mereka mau saja diadu domba oleh Laxus meski secara dipaksa olehnya dan juga memang tingkah cucu Makarov itu sangat menyebalkan, tak berperasaan, dan tak manusiawi karena telah bertarung dengan temannya sendiri.

Sebenarnya acara pembuka Parade bisa dikatakan berjalan dengan normal dan baik namun seketika masalah kecil mulai muncul dengan para wanita yang disihir jadi batu oleh Evergreen meski ada beberapa yang tak terkena efeknya, ditambah Freed yang memasang Rune pelindung untuk mengekang agar semua orang tak bisa bertamabah dan masalah mulai serius ketika Laxus membuat seluruh kota menjadi kacau dengan mengaktifkan Half Thunder dan mengadu domba semua anggota guild.

Dan setelah itu masalah mulai teratasi berkat sisa anggota lain yang mengalahkan para anggota Raijuunshu dan juga menghancurkan tehknik milik Laxus, lalu Makarov akhirnya beregosiasi dengan cucunya itu tapi dia menolak hingga akhirnya tak ada pilihan lain

Karena orang itu memiliki prinsip yang keras kepala sekali jadi, pada akhirnya Laxus berhasil ditumbangkan oleh Natsu yang membuatnya babak belur dan rencanannya itu berakhir dengan sia-sia tapi bersyukur saja karena penduduk kota tak ikut dalam masalah ini.

"Berkat pengobatan dari Polyrusica kondisi master akan baik-baik saja jika istirahat beberapa menit" ucap Erza menjelaskan kondisi terakhir dari master ketiga itu dan dia juga terluka tapi dengan kondisi sedang saja.

"Ah, itu bagus sekali tadi aku benar-benar khawatir" ucap Lucy dengan tersenyum riang penuh syukur dengan kondisi itu.

"Itu karena kau gak berbuat apapun Luigi" ucap Happy meledek.

"Berisik kau kucing!" ucap Lucy sangat kesal sekali dengan ejekan itu.

"Dia itu pak tua jadi tak mungkin tumbang karena hanya seperti itu" ucap Gray dengan seringai.

"Heh, benarkah itu?" Natsu menyeringai dengan wajah menyebalkan.

Gray hanya diam sambil menggerutu tidak jelas sebenarnya dia ingin membalas dengan meninju wajah rivalnya itu tapi kondisinya yang banyak dibungkus oleh kain perban membuatnya agak sulit bergerak dan berbeda dengan Natsu yang hanya luka kecil jadi dia memilih diam saja.

Lelaki berambut hitam itu cukup aneh dan terheran sekali, bagaimana bisa si bodoh itu terluka hanya sedikit padahal lawannya adalah Laxus yang merepotkan. berbanding dengan dirinya yang babak belur sekali bahkan kalah dari Bixlow dan yang dia tau Natsu tipe menyerang tanpa otak jadi itu cukup mengherankan saja, mungkin hanya Kami-sama dan Natsu sendiri yang tau itu.

"Heh, kau ingin menghajarku bukan?" Natsu menunjukan senyum grin yang menyebalkan dan membuat Gray terlihat kesal sekali.

"Tapi, apakah kalian tetap yakin untuk melanjutkan parade ini?" Elfman bertanya dengan nada ragu karena bukan tanpa alasan dia berbicara seperti itu, memang kenyataannya kondisi dirinya dan yang lainnya belum memungkinkan untuk tampil.

"Aku rasa kita harus bisa mengusahakannya karena master ingin semua berjalan normal" jawab Mirajane.

"Bagaimana kondisimu sekarang Mira-nee?" tanya Lisanna yang sekarang sedang menggantikan posisi kakaknya yang melayani semua anggota dan jadi gadis bar meski dia memang cocok.

"Lisanna, aku pesan yang seperti biasa" ucap Natsu memegang perutnya.

"Baiklah" adik dari Mirajane itu berjalan ke dapur dan Elfman hanya bisa sweatdrop karena orang ini berbicara biasa saja padahal semuanya sedang kesulitan.

"Kenapa?" Natsu bertanya karena merasa ditatap

"Aku heran kau lebih memilih rasa laparmu daripada lukamu sendiri" jawab Elfman.

"Rasa sakit itu bisa ditahan sedangkan rasa lapar mana mungkin bisa" balas Natsu dengan logikanya sendiri yang masuk akal.

"Logika macam apa itu" Elfman sweatdrop.

"Bicara sama otak api itu sama saja bicara dengan tembok gak akan ada habisnya" Gray berguman

"Sifat dia memang seperti itu dan mustahil kau bisa merubahnya" ucap Mirajane tertawa kecil lalu mata birunya itu menatap terhadap lelaki yang memiliki syal itu 'aku rasa mungkin ini sudah saatnya giliranku' dia sudah siap dan memantapkan hati dari segala keraguan.

Natsu merasa dia ditatap lalu menoleh namun Mirajane tersenyum seperti biasanya dan kembali lagi, lalu menoleh lagi tapi tak terjadi apapun hingga akhirnya Natsu tak peduli lagi namun, dia tak sadar sepasang mata biru langit itu terus menatap dengan ekspresi beda dan rona pink di pipinya.

'Aku tak bisa menahannya lagi'

"Aku sangat bahagia juga bisa melihatnya" ucap Juvia tersenyum riang.

Cana berbicara dengan botol bir di tangan "apa maksudmu melihat? ngomong-ngomong kau harus ikut juga"

"Kau juga termaksud Luigi" ucap Happy

"Eh, kenapa aku?" Lucy bertanya balik tapi dia kesal karena nama panggilan itu "itu Lucy! kucing brengsek!"

"Padahal Juvia baru saja bergabung" ucap gadis berambut biru itu terkejut.

"Yah, sebaiknya kalian ikut juga karena ada beberapa dari kita yang tak bisa berpartisipasi" ucap Gray sambil menunjuk ke belakang "salah satunya yah orang itu"

Lucy melihat disana ada Natsu yang sangat rakus makan tengah berbicara dengan seseorang laki-laki berambut hitam tapi hampir separuh tubuhnya dibaluti perban seperti Mumi dan kaki kirinya harus diangkat ke atas seperti keseleo sebelah.

"Kau menyedihkan sekali" ucap Natsu meledek dengan sangat senang.

"Oh, diamlah kau paling menyebalkan di sini" balas Gajeel dengan biasa saja dan juga memang kondisi tubuhnya yang tak bisa memungkinkan untuk menghajar DragonSlayer api itu tapi, Natsu malah tertawa bahagia di atas penderitaan orang lain.

"Oh, begitu" Lucy sweatdrop melihat Gajeel yang berusaha memukul Natsu tapi malah yang ada membuatnya konyol.

Ur mendekati wanita rambut scarlet itu sambil memegang pundaknya "nah, sekarang kau tak lupa dengan janjimu bukan"

Irene hanya mendecak tak karuan "aku tau itu tapi, biarkan aku dulu" dia sangat menyesal sekali membuat perjanjian dengan wanita itu karena hanya akan merugikan saja.

"Oke" Ur tersenyum lalu berjalan ke arah muridnya.

"Memang apa yang sedang kalian bicarakan?" Sorano bertanya penasaran.

"Rahasia" Irene berkedip dengan jari di telunjuk.

Gajeel memegang hidungnya dengan wajah risih "oiii, Salamander! cepatlah mandi tubuhmu bau keringat"

"Ribet sekali jadi orang, terserah aku lah!" balas Natsu tak peduli dan akhirnya Gajeel mengalah dengan menggeser posisi duduknya agak jauh.

"Aku itu aroma pria yang keren" ucap Ur menutup hidungnya dan tampak rona kecil di pipinya karena tak kuat menahan bau itu yang seperti membuatnya bernafsu dan hal itu juga yang dirasakan oleh seluruh wanita di Guild ini.

Gajeel melongo mendengar itu dan mengucek telingannya tapi tak ada yang aneh. dia fikir wanita ini memiliki fetish yang aneh dan siapa juga yang ingin mencium keringat seseorang dan jangan heran karena semua anggota di Guild ini memang gak waras semua.

"Sial, aku tak bermaksud jika membasuh tubuhnya itu" ucap Cana menjilat mulutnya sendiri.

"Usaha yang bagus Cana" ucap Sorano dengan grin dan dia ingin mencobanya tapi belum pas saja.

Erza dengan blushing berat dan mengarahkan pedangnya ke depan "sungguh perkataan yang cabul! aku takkan membiarkan kalian seperti itu" dia mengaktifkan mode disiplin.

"Begitukah, cara bicara orang yang selalu menyimpan novel cabul di ruangannya" ucap Cana dan Mirajane cuman terkekeh.

Erza langsung berbalik dengan wajah yang sama dengan rambutnya"itu hanya buku biasa!"

Dan tak lama pintu Guild terbuka dan menampakkan pria tinggi, berambut pirang, dengan mantel sebut saja cucu dari Master Guild dan sekaligus menjadi otak dari semua kekacauan yang telah dia buat meski akhirnya gagal.

Terlihat kondisi Laxus lebih parah dari Gajeel dengan sekujur tubuh dibalut perban dan hanya menyisakan mata, berjalan dengan dua alat penuntun karena kedua kakinya masih sangat sakit sekali hingga sulit untuk berjalan normal tapi, bagi yang lainnya ini pemandangan tak biasa karena Laxus bisa sangat separah itu.

Dan banyak yang berasumsi bahwa itu ulah Irene atau gurunya Gray, bahkan ada yang bilang itu ulah Mirajane atau Erza tapi kenyataan semuanya salah dan tersangka aslinya hanya bisa bersendawa setelah makan dengan wajah tak peduli

Banyak anggota guild yang protes terhadap DragonSlayer petir itu karena masih marah dengan apa yang dia buat tapi Erza menghentikan surakan itu dan membiarkan Laxus berjalan masuk meski terlihat kepayahan tapi tetap memaksakan diri.

"Jadi, sangat buruk sekali huh?" Natsu menyambutnya dengan wajah meledek tapi Laxus hanya diam menatapnya beberapa menit hingga akhirnya masuk ke dalam ruangan di mana Makarov berada.

"Sebenarnya kau punya muka berapa? hingga tak ada rasa malu seperti itu?" Gray sweatdrop.

Natsu mengangkat kedua tangannya "hah! hari ini benar-benar melelahkan sekali, mungkin mandi sebentar bisa menyegarkan tubuhku" dia berjalan ke kamar mandi.

'Oh, waktu yang bagus sekali' Mirajane tersenyum dan melihat kesempatan itu "ah, aku agak lelah mungkin istirahat sebentar di ruang perawatan" dia berjalan ke atas bangunan Guild.

Irene melihat ke belakang "berani bertaruh jika dia akan melakukannya?"

Ur mengkerutkan dahinya lalu bicara "oh, sesi taruhan sekarang sedang ditutup" dan wanita berambut Scarlet itu hanya pokerface.

"Menyebalkan"

.

.

.

.

.

- Ruang Makarov

Makarov memang sudah tersadar dari penyakit kumatnya itu dan kondisi dia sekarang sudah membaik lagi jadi hanya perlu waktu beberapa hari istirahat agar semuanya bisa kembali normal lagi namun dia tak sendiri karena ada cucunya yang tiba-tiba berkunjung ke sini dan itu sedikit membuatnya terkejut.

Makarov bisa tenang dan mengerti dengan apa yang dia lakukan nanti dan hanya menatap cucunya itu yang memalingkan muka dengan kedua tangan terlipat dan bersandar tembok jadi yang ada cuman hening saja karena tak ada yang mau bicara sama sekali.

"Jadi, kau terlihat sangat buruk sekali" ucap Makarov melihat kondisi Laxus yang sangat parah sekali, entah siapa dari salah satu anggotanya yang melakukan ini tapi jika Laxus tak memulai duluan maka hal seperti ini tak bakal terjadi dan dia sangat menyayangkan pertarungan antara teman Guild sendiri.

Laxus hanya diam saja tak bicara karena mulutnya diperban jadi, dia hanya melangkah beberapa senti lalu berhenti dengan tatapan mata serius sekali dan Makarov sudah tau itu tanpa harus berfikir lagi. dia hanya sedikit tertawa karena cara berfikir Laxus masih bocah meski badan sudah dewasa.

"Kau ingin membuat Guild yang terkuat?" ucap Makarov bertanya dan sedikit tertawa lagi "sebenarnya itu sebuah keinginan yang bagus tapi cara kerjamu sedikit salah karena hal itu bukan menjadi dasar berdirinya Guild yang bersama melainkan egois sendiri"

"Guild sendiri memiliki makna yang artinya Kebersamaan dengan orang-orang yang tak memiliki rumah dan dikumpulkan di satu tempat saling berbicara satu sama lain dan melakukan misi bersama"

"Dan kau sudah merusak istilah itu jadi, itu tak bisa dimaafkan seperti itu dan mungkin mimpimu itu bagus tapi jika caranya dengan emosi seperti itu yang ada kau tetap sendiri karena tak ada makna dari kebersamaan"

Laxus hanya diam tak bicara mendengarkan pak tua itu yang berbicara panjang lebar lalu diakhiri dengan anggukan kepala karena faham.

"Hidup ini jangan diambil pusing, nikmati saja bahkan bagiku melihat semua orang tumbuh dan berkembang sudah cukup membuatku senang, hal itu juga sama seperti dirimu yang tumbuh besar dan jadi kuat"

Makarov mengepal tangannya dengan kasar, dia tau ini sulit tapi harus dilakukan meski pada keluarganya sendiri "Laxus dengan ini aku mengatakan kau dikeluarkan dari Guild!" dia tak ingin melakukannya tapi ini juga sebagai pembelajaraan bagi cucunya.

Laxus awalnya sangat terkejut namun dia berubah ekspresinya dengan tersenyum menerima itu dan berjalan keluar ruangan sambil melambaikan tangan perpisahan.

Tanpa disadari Laxus tampak rintikan air mata keluar dari Master ketiga itu.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Pemandian

Natsu tengah mandi dan membersihkan tubuhnya, entah kenapa dia ingin mandi karena tak biasanya mungkin saja karena gerah, kepanasan, atau tubuhnya secara alami menyuruhnya untuk membasuh tubuh. dan dia hanya berdiri di sana dengan tangan kanan di dinding kayu Guild.

Dia menutup matanya dan merasakan semburan air mancur dari atas dan mulai membasahi tubuhnya sendiri dengan menikmati mandi itu, lalu tak lama ada orang lain yang masuk ke dalam yaitu Mirajane hanya berbalut handuk yang menutupi setengah tubuhnya yang putih dan mulus itu juga dengan poni rambut dibiarkan tergerai.

Dan siapapun pasti ingin memberikan jiwanya jika di posisi Natsu seperti apalagi mengingat Mirajane memang cantik, lekuk tubuh yang indah, pinggang ramping, Dada besar dan tentu saja sangat terkenal sebagai model Foto majalahan harian penyihir dan majalah khusus dewasa.

Tampak senyum kecil dari gadis barmaid itu yang melihat Natsu mandi dengan fisik tubuh sudah mulai banyak berubah sejak kecil tapi rambut salmonnya itu menjadi ciri khas Natsu menjadi menarik apalagi kalau sedang dalam kondisi tubuh yang basah.

Mirajane memegang dadanya merasa jantungnya berdetak tanpa henti dan mungkin ini memang sudah tak bisa ditahan lagi karena dan dia sudah memendam perasaan ini cukup lama tapi karena takut kalah bersaing makanya dia memilih jalur tengah tapi setelah membaca buku itu jadi perasaannya sudah semakin besar dan dia tak tahan atau ragu lagi.

Lagipula dia sudah tertinggal beberapa langkah dari rivalnya maka dari itu dia tak ingin kalah apalagi dari Erza dan sifat lamanya biasanya muncul pada saat berselisih namun Mirajane akan bersikap seperti gadis normal jika melayani orang lain di Bar.

Natsu membuka matanya karena merasakan tamu tak diundang datang kesini "jadi, Mira apa yang kau lakukan di tempat ini? jika ingin mandi ada di ruangan sebelah" dia sudah bisa mencium aroma lavender dari gadis itu dan tak merasa terkejut karena Natsu sudah biasa dalam situasi ini. bahkan malahan sering namun dia takkan memaksa karena lebih menyenangkan jika itu keinginan sendiri.

Mirajane tak terkejut jika Natsu mengetahuinya karena memang hidungnya itu cukup sensitive sekali "aku hanya ingin mandi bersama dan menggosok punggung, bukankah kau sering mandi bersama dengan Erza"

Natsu teringat waktu sering dipaksa mandi bersama oleh Erza dengan Gray tapi waktu itu dia masih polos tapi setelah mulai dewasa fikirannya mulai tercemari oleh hal-hal negatif dari para orang tua mesum itu dan juga sifatnya yang ingin tau segalanya. namun Natsu bisa menahan itu karena memang belum saatnya tapi sekarang sudah mustahil tapi dia mencoba untuk tetap mengontrol diri karena tak ingin ada paksaan disini.

"Ini aneh, bukan seperti kau biasanya" Natsu bertanya balik.

Mirajane tak menjawab hanya melangkah maju ke depan hingga tubuhnya saling berdekatan dengan Natsu "kau seharusnya beruntung karena banyak yang ingin menjadi seperti dirimu" dia tersenyum usil seperti waktu dulu dan memeluk Natsu dari belakang sambil menekan Payudaranya ke punggung Natsu.

Natsu hanya bisa memejamkan matanya merasakan sensasi lembut, kenyal, dan besar yang menggosok punggungnya itu dan dia tau bahwa ini adalah dua buah bola yang dimiliki oleh semua wanita dan dia memang menikmati itu.

Mirajane tersenyum usil melihat reaksi Natsu "jadi, kau tak ada masalah dengan itu?" dia bertanya lagi dan laki-laki itu hanya mengangguk setuju.

Natsu duduk di lantai dengan kedua kaki menyilang sambil membelakangi gadis itu dan Mirajane duduk di atas lutut lalu mengambil sabun dan mulai menggosok punggungnya dengan sabu hingga membuat busa gelembung yang begitu banyak.

Natsu hanya diam saja sambil menikmati sentuhan tangan lembut dari kakak Lisanna ini dan Mirajane tetap menggosok punggungnya dengan senyum blush yang makin jelas tapi matanya sedikit melirik ke depan di bagian bawah dan melihat senjata milik DragonSlayer api itu.

'Astaga...' Mirajane sangat terkejut sekali dengan ukuran tampak wajahnya yang memerah sekali membayangkan itu masuk ke dalam miliknya tapi dalam hati kecilnya ada sedikit rasa bergairah melihat ukurannya 'aku tak tau apakah itu masuk ke dalam atau tidak?' dia menghela nafas panjang untuk tetap tenang. sebenarnya dia fikir panjang dan ukuran itu bukan hal yang mustahil dimiliki oleh Natsu karena dia sangat aktif banyak bergerak.

Gadis berambut putih itu memberanikan diri tangannya perlahan bergerak ke bawah dan mulai memegang barang milik Natsu, dia tak mengira bakal terasa sebesar ini padahal belum mengeras lalu akhirnya kedua tangannya bergerak dan mulai mengusap itu..

Natsu menarik nafasnya dengan berat berusaha untuk tetap menahan "hhh! kau tau Mira jika tak ingin melakukan itu silahkan saja aku takkan memaksa" dia memberi peringatan karena setelah ini nafsu intsting alaminya akan mengambil alih tubuhnya dan takkan terkontrol lagi.

Mirajane tak menggubris malah mulai mengocok barangnya "jika ini bukan keinginanku sendiri, aku takkan ke sini dengan Handuk" dia merasa terkejut senjata Natsu mulai mengeras, membesar dan memanjang 'astaga, ini benar-benar besar' dia tak tau bagaimana rivalnya itu mengatasi ini.

Natsu tetap diam sambil menarik nafas lalu dihembuskan lagi berusaha untuk tetap menahan tapi insting alaminya mulai mengambil alih tubuh, lagipula Mirajane yang memilih ini atas keinginannya sendiri dan perlahan Natsu sudah tak bisa menahan nafsunya lagi. hingga akhirnya berbalik badan dan langsung mengunci mulutnya begitu saja.

Mirajane sedikit kaget tapi secara perlahan menutup matanya dan menerima itu sambil menciumnya balik, kedua mulut mereka saling mendorong satu sama lain memaksa di antara mereka untuk membuka mulut tapi tentu saja tak ada yang mau mengalah sama sekali.

Mirajane tak selemah itu dia akan mengajari Natsu dengan dirinya yang dulu tapi tentu saja lelaki DragonSlayer itu tak mau mengalah sama sekali dan akan tetap bertarung. kedua mulut mereka masih tetap beradu hingga membuat sedikit suara.

Tangan Mirajane bergerak dan mulai mengocok barang panjangnya itu agar Natsu mau membuka mulutnya tapi Natsu yang sudah sering melakukannya mengerti apa yang harus dilakukan dan melepas handuk yang dikenakan gadis itu dan membiarkan Payudaranya yang bergetar itu.

Kedua tangan Natsu mulai meremas dua buah bola besar itu yang terasa sangat kenyal dan lembut kecil hingga terdengar suara kecil dari gadis berambut putih itu dan Mirajane mulai membuat tangannya bergerak kencang untuk mengocoknya.

Natsu tak mengerti kenapa tapi rasanya milik Payudara semua wanita kenyal dan lembut sekali tapi dia tau bahwa ukuran milik Irene sangat besar sekali. dan tangannya tetap memutar sambil meremas Payudaranya.

Beberapa menit terlalu belum ada yang mengalah sama sekali bahkan belum ada yang orgasm dan Mirajane tetap mengocok barang milik Natsu namun lelaki berambut pink itu sudah pengalaman dengan ini.

Dan jarinya langsung memencet dua putingnya yang keras dengan kasar dan membuat gadis itu membelalak shock lalu tubuhnya sedikit bergetar karena merasakan orgasm kecil karena itu sensitiv hingga akhirnya tanpa sadar membuka mulutnya juga.

Natsu langsung menyerbu dengan ganas, lidahnya berputar merasakan manis di dalam mulut Mirajane yang mulai menerima mulut dari DragonSlayer itu. Kedua lidah mereka saling berputar dan beradu dengan bertukar rasa.

Tampak air liur keluar dari gadis itu yang menetes karena saling beradu lidah dan Mirajane masih tetap mengocoknya tapi sedikit aneh karena Natsu belum keluar sama sekali, dan DragonSlayer itu tetap meremasa Payudaranya sambil memutar putingnya.

Terdengar desahan dari mulut gadis itu karena akan orgasm lagi dan Natsu sangat benar-benar ahli sekali memainkan tubuhnya lalu beberapa saat kemudian kedua orang itu melepaskan ciumannya.

"Aku tak tau kau sangat hebat Natsu" ucap Mirajane mengusap air liurnya dan tampak blush berat di wajahnya.

"Mungkin sudah sering melakukannya" balas Natsu terkekeh.

Mirajane mendorong Natsu ke lantai sambil melebarkan kakinya dan membiarkan wanita itu melihat barang besar yang sudah berdiri mengeras itu, gadis berambut putih itu menelan ludahnya dengan kasar karena melihat itu sangat dekat dan sebuah aroma kuat yang menusuk ke hidungnya.

Mirajane mulai menjulurkan lidanya lalu menjilati ujung kepala penisnya memberi sedikit tip kecil, lidahnya berputar untuk membasahi bagian ujung itu. dan akhirnya lidahnya itu mulai menjilati bagian tengahnya lalu mulai kembali menjilatinya secara perlahan.

Natsu sedikit mengerang ketika barang miliknya merasakan pergerakan basah dari gadis itu dan dia hanya membiarkan Mirajane melakukan tugasnya sendiri. Gadis berambut putih ini tetap menjilati penis Natsu dari ujung hingga ke bawah dan terlihat basah oleh air liurnya.

Lalu lidah Mirajane bergerak ke bawah mulai menjilati di bagian bolanya sambil mengocok bagian tengah secara perlahan dan setelah beberapa menit berlalu dia melepaskan itu dari mulutnya.

Dan setelah itu Mirajane memasukan penisnya ke dalam mulutnya secara perlahan namun cuman bagian setengah saja yang masuk karena itu terlalu besar dan panjang. dia lalu memutar lidahnya membasahi bagian penis yang masuk ke dalam mulutnya.

Dia seperti itu untuk beberapa saat lalu mengeluarkan itu dari mulutnya untuk mengambil nafas terlebih dahulu dan setelah itu dia memasukan kembali penis Natsu tapi kali ini lebih dalam hingga mengenai kerongkongannya tampak mata gadis itu berlinang air mata.

Gadis berambut putih itu mulai menggerakan kepalanya 'Ya ampun, ini terlalu parah tapi aku sudah basah' fikir Mirajane dengan kepala terayun secara perlahan agar dia terbiasa dengan ukuran ini di dalam mulutnya.

Natsu mengerang panjang merasakan barang miliknya hangat di dalam mulut wanita itu dan dengan sentuhan gerakan lidahnya yang berputar-putar menjilati batang penisnya. dia memilih diam saja dan membiarkan gadis itu melakukannya dengan dirinya sendiri.

Kepala Mirajane terayun ke atas dan ke bawah secara cepat sekali hingga air liur sedikit menetes dari mulutnya karena terlalu berlebihan namun dia menikmati itu, kakak dari Lisanna merasakan penis itu menghantam ke dalam tenggorokannya namun dia sudah terbiasa sekarang.

Mirajane bingung Natsu belum terlihat tanda akan mengeluarkan orgasm meskipun dia sudah menunjukan skill miliknya itu dengan cepat dan ahli tapi terlihat DragonSlayer Api itu masih tetap menahannya hingga dia menggunakan cara yang lainnya lagi.

Mirajane memegang kedua buah Payudaranya yang besar itu lalu mengapit penis Natsu dengan Payudaranya dan menutupinya, lalu sedikit menjilati bagian ujungnya dengan lidah hingga akhirnya mulai bergerak lagi.

Natsu merasakan miliknya sangat hangat sekali karena ditutupi oleh dua buah bola kenyal ini dan dia sangat menikmati ini sementara itu Mirajane dengan pelan mulai menggesekan penisnya itu dengan Payudaranya ke atas dan bawah secara pelan.

Dan tak lama dia mulai mempercepat ritme gesekannya itu secara kencang sambil sesekali menjilati ujungnya itu, Natsu terlihat mengerang lebih panjang lagi dan nampaknya dia merasakan sensasi kenyal itu lalu memegang kepalanya dan dia dorong ke bawah.

Mirajane terkejut dengan dorongan kasar itu namun dia menerimanya dengan senang, terdengar suara dari gadis itu yang tersedak tapi Mirajane tetap menggesek milik Natsu tapi kali ini lebih kencang sambil mengulum bagian ujungnya.

Mirajane merasakan milik Natsu sudah berkedut dan menandakan dia akan melepaskan orgasm yang sedari tadi belum keluar. Natsu juga merasakan hal yang sama karena sesuatu ingin keluar berkat bantuan dari dua bola besar itu.

"Guahhhh!"

Natsu meraung kencang sekali sambil melepaskan sesuatu yang keluar dari penisnya dan dia tetap menekan kepala gadis itu agar dian di sana dan tak melepaskannya.

Mirajane langsung menyeruput cairan kental putih ke dalam mulutnya, dia merasakan sebuah tembakan cair yang begitu banyak masuk ke dalam melewati tenggorokannya hingga perut tapi dia hanya menerima itu dan menelan semuanya.

Gadis barmaid itu cukup terkejut luar biasa karena jumlah cairan yang lezat itu keluar cukup banyak sekali bahkan seperti tak mau berhenti tapi dia tetap menerimanya namun, semakin lama itu terlalu banyak hingga mulutnya sulit untuk menampung semua itu dan sedikit membuat otaknya blank.

Dan tak lama dia lepaskan dari mulutnya tapi wajahnya terkena tembakan cairan putih yang akhirnya menetes turun ke bawah dan mengenai Payudaranya juga lalu beberapa saat kemudian tembakan tadi sudah berhenti dan Mirajane langsung kembali duduk.

'Astaga, ini benar-benar gila' Mirajane menghela nafas berat dan membersihkan sisa cairan dengan menelannya semua dan dia tak terkejut jika itu Natsu karena orang ini memang memiliki jumlah tenaga yang tanpa batas "kau keluar cukup banyak Natsu" dia tertawa kecil.

"Yeah..." Natsu tak tau harus menjawab apa.

DragonSlayer api itu kini yang bergerak karena tau apa yang harus dilakukan lalu dia berdiri sambil menarik tangan gadis dan menempelkannya ke tembok kayu membuat Mirajane berteriak kecil karena terkejut lalu Natsu mencium mulutnya beberapa saat.

Lalu Natsu memposisikan miliknya di bagian depan labia gadis itu dengan sedikit menggesekan secara pelan dan terdengar desahan kecil dari adik Lisanna itu lalu setelah dirasa pas DragonSlayer api itu langsung memajukan pingganya ke depan.

Terdengar suara jeritan kecil yang ditahan oleh Mirajane yang menutup mulutnya agar suaranya tak dapat didengar oleh anggota Guild lainnya. dia merasakan sakit di bagian bawah karena milik Natsu langsung menusuk ke dalam meski ini baru setengah tapi rasanya sakit karena ini baru pertama kalinya.

"Apa kau baik-baik saja?" Natsu bertanya karena melihat Mirajane meringis sakit dan dia sudah pernah melihat ini waktu pertama kali dengan Lucy dan Erza makanya dia belum memasukan semuanya ke dalam.

Mirajane menghela nafas untuk menghilangkan sedikit rasa sakit dan mengangguk "iyah, tak masalah tapi pelan-pelan lebih dahulu" dia belum terbiasa dan baru pertama kalinya.

Natsu faham lalu mendorong lagi secara pelan sambil memegang kedua pahanya agar lebih mudah hingga semuanya masuk ke dalam dan Mirajane tetap menahan mulutnya untuk diam sambil merasakan semuanya berada di dalam miliknya.

DragonSlayer api akhirnya mulai bergerak maju mundur secara pelan untuk melakukan Musim kawin Naga, suara rintihan kecil keluar dari mulut manis itu.

Natsu merasakan sesuatu yang basah dan becek mengulum semua barang miliknya namun dia menyukai ini karena rasanya nikmat sekali, Mirajane langsung merintih tak karuan karena gerakan Natsu sudah mulai cepat terasa sesuatu yang luar biasa sekali di tubuhnya.

Natsu melihat dua buah bola yang memantul cepat lalu akhirnya menempelkan mulutnya ke bagian payudara kanan dan menghisapnya dengan penuh nafsu terdengar rintihan yang mulai berisik dari Mirajane.

Gadis Take Over itu melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Natsu sambil memeluk kepala dan membenamkannya ke Dadanya agar laki-laki itu dengan leluasa menikmati Payudaranya itu dan terasa nikmat sekali.

'Astaga, ini benar-benar luar biasa' Mirajane merintih kencang merasakan sensasi luar biasa tubuhnya, Payudaranya terasa sangat basah karena dijilati sambil diremas dan sekarang dia mengerti bagaimana rasanya sex.

Natsu memegang pantatnya agar gadis itu tidak terjatuh sambil terus menggerakan punggungnya ke depan dan belakang dengan tempo cepat lagi. Mirajane merasakan orgasm begitu hebat setiap kali Natsu bergerak cepat karena itu mengenai bagian G-spot apalagi milik DragonSlayer besar dan panjang itu.

Kedua orang itu sudah basah karena air keran yang membasahi tubuh mereka disaat melakukan adegan panas, Natsu berhenti mengemut putingnya lalu berganti dengan mencium mulutnya penuh intens.

Setelah beberapa menit Natsu sudah tak bisa menahannya lagi karena ingin keluar dan bergerak lebih cepat dari sebelumnya membuat Mirajane menjerit di dalam ciuman itu hingga akhirnya tak lama terdengar klimaks.

Dengan sekali dorongan Natsu langsung mengeluarkan semburan air yang hebat ke dalam Vagina gadis itu dan tetap mencium mulutnya sambil meremas Payudaranya.

Mirajane berteriak dalam ciuman itu merasakan semburan dahsyat yang begitu hangat di dalam Vaginanya dengan jumlah banyak sekali dan tubuhnya terasa panas sekali. terlihat sebuah cairan yang keluar dari kedua pahanya yang mengalir melapisi barang milik Natsu karena jumlahnya terlalu banyak maka Vaginanya tak sanggup untuk menerima semua itu.

Mereka masih tetap berciuman dan dalam posisi seperti itu lalu Natsu berpindah tempat dengan membaringkan gadis itu di lantai dengan tetap masih menciumnya dengan posisi dirinya masih di atas. Mirajane tau ini masih berlanjut dan tak terkejut sama sekali lalu melepas pelukan tangannya tapi kedua kakinya tak dilepaskan dari punggungnya.

Natsu mengangkat pinggangnya ke atas lalu tak lama dia turun ke bawah dengan sangat kasar membuat suara jeritan kencang dari Mirajane yang merasakan sesuatu seperti menusuk Vaginanya dan menghantam rahimnya ketika Natsu memasukan itu.

Natsu kembali bergerak lagi ke atas dan bawah dengan kedua tangan menahan pundaknya hingga membuat Mirajane merintih sangat keras tak karuan dengan Payudara yang memantul cepat seperti blur tak terlihat.

Mirajane merasakan otaknya berhenti beberapa saat ketika Natsu mulai bergerak dan akhirnya dia kembali terbiasa lagi, lalu mulutnya terbuka dengan air liur yang menetes, pandangan matanya sedikit kabur tak karuan merasakan sensasi dahsyat yang menyelimuti tubuhnya.

Kedua kakinya tetap mengunci, tak membiarkan lelaki itu untuk berhenti melakukan tusukan yang luar biasa di Vaginanya dan mulutnya tak bisa berhenti untuk merintih lebih lagi karena rasa sakit tadi kini berubah menjadi kenikmatan.

Natsu bergerak lebih kencang lagi hingga terdengar suara kulit saling beradu satu sama lain, kedua tangannya memutar Payudaranya yang memantul blur dengan cepat sambil menyubit bagian putingnya hingga Mirajane sedikit berteriak.

Mirajane merasakan orgasm tanpa henti yang luar biasa, tubuhnya bergetar tak karuan dengan sensasi kenikmatan ini, Vaginanya merasa dihantam oleh benda yang besar sekali dan lebih dalam hingga sampai ujung rahim.

"Ah, Ah, Ah, Ah!"

Mirajane membuat rintihan tanpa henti lalu Natsu langsung mengunci mulutnya, kedua saliva mereka saling beradu satu sama lain dengan bertukar air liu mereka sementara kedua tangan DragonSlayer itu tetap meremas kedua buah Dada itu.

Gadis barmaid itu merasakan tubuhnya bergetar tak karuan penuh kenikmatan, blush berat terlihat di pipinya, dengan mata yang mengarah ke atas karena rasa yang luar biasa di dalam Vaginanya juga.

Natsu melepaskan ciumannya "Mira... aku..." dia sedikit mengerang sambil menahan sesuatu tapi tak bisa.

Mirajane tersenyum dengan rona pink jelas di pipinya dan helaan nafas berat "ahhh, a-ku ta-tau itu, ohhhhh la-lakukan saja" dia mengelus rambutnya yang pink dan tiba-tiba saja menjerit karena gerakan lebih cepat dan sangat dalam sekali.

Gadis itu tau Natsu sudah sampai pada ujung klimaks itu terlihat dimana miliknya terasa berkedut dengan gerakan Natsu yang sangat cepat seperti bernafsu sekali, lalu beberapa saat kemudian mereka berdua berteriak secara bersamaan melepaskan orgasm itu.

Mirajane berteriak kencang dengan mulut terbuka, lidah yang menjulur keluar, air liur yang menetes, dan mata yang mengarah ke atas, merasakan sensasi hangat menyembur di dalam Vaginanya. dan jumlah cairan itu sangat banyak sekali di dalam hingga menembus ke dalam rahimnya.

Natsu langsung mengigit bahunya dengan kencang hingga membuat Mirajane meringis kesakitan sekali dan menandakan gadis ini adalah miliknya tampak sebuah Tatto naga merah muncul di antara leher dan bahu.

Dan setelah beberapa menit kemudian semburan itu berhenti mereka berciuman sebentar hingga Natsu melepaskan miliknya, dia melihat cairan putih kental yang menyembur keluar dari kedua pahanya dan ekspresi gadis itu yang tarikan nafas berat.

"Luar... biasa.." ucap Mirajane dengan nafas tak beraturan dan perutnya terasa penuh.

"Begitu yah hahaha" Natsu terkekeh.

Mirajane melihat ke bawah dan sedikit terkejut dengan tangan menutup mulut "astaga, kau sudah mengeluarkan sebanyak itu dan masih mengeras?" dia tertawa kecil.

"Yeah... jika kau tak keberatan" ucap Natsu menggaruk rambutnya yang tak gatal.

Mirajane melebarkan tangannya mengajak lelaki itu "kemarilah, lakukan sepuasmu" tapi sebelum itu terjadi pintu kamar mandi rusak didobrak secara paksa.

*Brakkkk!

"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?!"

Natsu melihat Erza yang melakukannya dengan menodongkan sebuah pedang besar ke depan, wajah merah seperti rambutnya dengan rasa malu sekali. dan di sampingnya ada Lucy dengan menutup mulut tak percaya sama sekali.

"Oh, Erza kita hanya melakukan itu" jawab Natsu santai tak begitu peduli gadis scarlet itu marah sekali.

"Kita hanya berkembang biak" balas Mirajane dengan senyum dan mengabaikan glare dari gadis itu.

"Itu sungguh absurd melakukan perbuatan kotor di Guild!" ucap Erza dengan blush berat dan masih memilih untuk berfikir rasional dengan rasa bangga diri.

Lucy berjalan maju mendekati mereka berdua "kau terlalu berlebihan Erza"

"Apa yang kau lakukan?" Erza bertanya.

"Tentu saja bergabung" jawab Lucy yang mulai melepas kancing baju dan membuat Erza blush.

"Astaga" Mirajane menutup mulutnya.

Natsu berjalan dan mendekati gadis itu sambil memegang pedangnya "apa kau ingin bergabung juga?" dia berbicara lembut karena tau Erza harus berbicara seperti ini.

"A-apa?! A-aku" Erza blush berat dengan suara gugup.

"Jujur saja" ucap Mirajane.

Erza hanya diam menunduk malu sambil berfikir disatu sisi dia ingin bergabung tapi dilain sisi dia mementingkan rasa bangga diri namun akhirnya nafsu mulai mengambil alih fikirannya untuk ikut dan dia mulai melepas pakaiannya lalu bergabung.

"O-oke"

Dan akhirnya mereka melakukan itu lagi secara bersamaan hingga terdengar suara teriakan, desahan, kulit yang beradu di dalam kamar mandi itu.

.

.

.

.

.

- Kota Magnolia

Akhirnya parade Fantasia dilaksanakan juga dengan sebagaimana mestinya untuk menghibur banyak orang yang menonton sekaligus merayakan ulang tahun Guild ini dan yang terpenting acara ini berjalan sangat lancar sekali di malam hari dengan iringan kembang api, converti, suara meriah terompet dan masih banyak yang lainnya.

Dan yang terpenting dari acara ini adalah para penyihir dari Fairy Tail melakukan atraksi mereka dengan sihir masing-masing yang sangat indah sekali tapi ada juga yang menyedihkan tapi tertutup oleh keindahan yang lain.

Bisca, Lucy, dan Levy melakukan tarian kompak dengan kipas berputar dan berpaduan sihir mereka tapi gadis pirang itu tampak agak kesulitan bergerak karena masalah pribadi dan rahasia.

"Berikan yang terbaik Lucy" ucap Levy tertawa riang.

"Aku tau" balas Lucy memaksa senyum 'tapi Natsu terlalu kasar'

Dan tentu saja bukan mereka yang melakukan atraksi itu sendiri lalu di sini ada Ur dengan Gray memasang pose membuat Es lalu Juvia di belakangnya membuat tarian tornado air besar dan kedua orang itu membekukannya hingga membentuk kastil Es yang sangat besar hingga membuat orang-orang terkagum sekali.

"Aku fikir kekuatan sensei sudah mandul semenjak terkurung lama" ucap Gray dengan grin.

"Apa kau lupa siapa yang mengajarimu" ucap Ur dan habitat lamanya kembali muncul.

Elfman berubah dengan wujud monster besar dan berteriak seperti tak terkendali meski hanya pura-pura saja, Lisanna hanya merubah fisiknya menjadi kucing sambil menari menggoda membuat kaum adam matanya berbentuk hati, dan untuk Mirajane malah buat prank dengan merubah wujudnya jadi ular raksasa.

"Whoa!" Elfman sangat terkejut kaget.

"Maaf tapi sekarang tak bisa" ucap Mirajane menunduk kepala tapi alasan sebenarnya adalah tak bisa menunjukan bagian bawahnya yang merah berkat tadi dan juga dia agak sakit karena tadi terlalu kasar.

Cana membuat sihir tipu muslihat kartu dan menyebarkan ke udara hingga seperti kertas bertebaran lalu Sorano dengan pakaian mode Gemini membuat bulu kapas lembut yang membuat awan di langit seperti nyata.

"Tak mau mengalah huh?" ucap Cana dengan grin.

"Mana sudi aku begitu" balas Sorano.

Erza melakukan tarian pedang melingkari tubuhnya dan pakaiannya berganti dengan selendang yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya namun menyembunyikan bagian itu karena memalukan sekali.

'Gak boleh ada yang lihat' Erza tersenyum.

Natsu lebih indah lagi membuat sihir dengan lima elemen dan membentuk berbagai macam jenis Naga yang berputar-putar di atas, lalu bersama dengan Irene yang rangkai Bintang dengan aksara sihir unik tapi bagus sekali apalagi dengan gabungan para Naga yang mirip barongsai.

"Tumben Natsu kau melakukannya dengan benar" ucap Happy meledek.

"Berisik" balas Natsu.

Dan akhirnya parade dilakukan lagi dengan tarian konyol dari Makarov berserta dengan pakaian bodoh untuk menghibur dan membuat semua anak-anak tertawa puas tanpa henti.

Sementara itu Laxus yang berdiri agak jauh dari keramaian itu menatap Festival itu dengan senyum senang karena dia teringat kembali pada waktu kecil saat dirinya sangat bahagia sekali melihat Festival itu bersama kakeknya itu dan dia tak ingin melupakan moment itu.

"Tunggu, apa maksudnya ini!"

Laxus melihat salah satu wanita berkacamata yang protes karena dia dikeluarkan dari Guild dan cuman satu-satunya bahkan kedua temannya yang lain protes juga karena cuman dia satu-satunya saja namun DragonSlayer petir itu hanya bisa menerimanya.

"Benar ini tak adil kenapa kita juga tidak dikeluarkan?" ucap Bixlow merasa tak percaya.

"Padahal kita melakukan yang sama" ucap Evergreen masih protes.

"Yah, mungkin karena aku adalah dalang dari semua ini" ucap Laxus terkekeh dan dia tak tau harus jawab seperti apa.

"Jika kau dikeluarkan maka kita juga" ucap Freed dengan wajah serius.

"Benar, kita akan protes pada master" ucap Bixlow.

Laxus mengibaskan tangannya "hushh, tidak usah lagipula aku senang bisa jadi teman satu Guild dengan kalian" dia tak ingin ketiga temannya ini terseret ke dalam masalahnya "dan aku harap jaga diri kalian saja"

"Tapi..." Evergreen masih belum terima.

Freed menahan mereka dengan senyum "biarkan saja untuk saat ini Laxus pergi misi sendiri" dia mengerti apa yang lelaki itu maksud dan sudah ikhlas saja.

Laxus memasang senyum ke teman-temannya lalu melihat parade itu untuk terakhir kali dan disana sang Kakek membuat pose yang sering dilakukan dirinya waktu kecil lalu tak sadar air mata bahagia turun ke bawah pipinya.

DragonSlayer petir itu mengusap matanya lalu berbalik dan berjalan pergi sambil melambaikan tangan perpisahan.

"Dasar pak tua tak guna"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Di Suatu Tempat

Di sebuah daerah yang begitu jauh dan tak dikenali berdiri sebuah bangunan besar yang menyebutnya sebagai sebuah Guild meski itu benar atau tidak. dan di bangunan itu nampak berdiri seseorang yang menatap pemandangan di luar sambil bermain dengan burung gagak.

Orang itu adalah lelaki agak tua dengan rambut jambul sedikit ke atas, warna hitam, bewok yang menyatu dengan janggut, alis tebal, hidung agak besar, mengenakan jubah besar layaknya seorang Master yang bernama Ivan Dreyar atau yang dikenal dengan Ayah Laxus dan juga memang seorang Master Guild.

Namun dia tak sendiri karena di belakangnya ada seorang laki-laki dengan wajah familiar, luka perban, dan rambut hitam gondrong bernama Gajeel. entah apa yang dilakukan DragonSlayer besi itu disini tapi yang jelas mereka berdua sudah terlihat saling kenal satu sama lain.

"Bukankah ini hari yang indah Gajeel?" ucap Ivan

Gajeel tanpa ekspresi bertanya "aku terkejut bahwa ternyata anakmu itu seorang DragonSlayer juga" dia baru mengetahui ketika bertarung dengan Laxus tapi anehnya dia tidak dirawat seekor Naga.

"Oh, sebenarnya dia adalah palsu" jawab Ivan.

"Palsu?" Gajeel tak mengerti.

"Pada saat kecil tubuhnya melemah sekali" jawab Ivan dengan seringai iblis "karena itu aku memasukan sihir Lacrima ke dalam tubuhnya"

Gajeel terkejut mendengar ini memang benar ada yang cara seperti itu tapi kemungkinan berhasil itu sangat tipis mengingat kekuatan itu berasal dari Naga langsung bahkan ada kasus di mana tubuh mereka yang ditanam Lacrima Naga menjadi tak terkendali lalu mati karena kekuatan besar itu jadi hal seperti ini dilegalkan karena dampak kerusakan yang dibuat.

"Yah, sekarang dia sudah dikeluarkan maka ini akan mudah karena dia akan kembali ke sini" ucap Ivan menatap langit dan yang dia maksud adalah Laxus "dan sekarang kau tau harga Lacrima sangat mahal!" dia melotot ke DragonSlayer besi itu yang tak bergeming sama sekali.

Gajeel mengerti apa yang orang itu maksud "tunggu, itu berarti kau akan melepaskan Lacrima dari tubuhnya dan bila itu terjadi.." dia tau konsekuensi dari sarat sihir itu.

Ivan tak begitu peduli "lagipula itu adalah milikku dan aku juga membutuhkannya sebagai uang yang dijual untuk melawan Fairy Tail maka dari itu.." dia meninju tembok sambil mendelik tajam sekali "kau harus lanjutkan misimu sebagai agen ganda dan tetap berada di sana"

Gajeel tak takut "kau yakin? bagaimana jika aku ketahuan lalu mereka memaksaku untuk memberi tau di mana lokasimu?"

"Jangan khawatir" balas Ivan.

.

.

.

.

.

- Aula Guild

Fairy Tail seperti biasa melanjutkan pesta parade yang sudah usai itu kini sampai akhir namun hanya anggota Guild saja karena ini adalah kebiasaan mereka makan, minum, bercanda, dan saling adu pukulan ditambah dengan kebisingan. sementara itu Gajeel memperhatikan mereka dari lantai dua dengan tangan di dagu.

Makarov berjalan ke atas karena sudah lelah dan melihat lelaki itu "Gajeel, kenapa kau tak ikut pesta?" dia bertanya.

"Aku sedang tak minat saja" balas Gajeel.

"Sepertinya semua berjalan dengan baik" ucap Makarov melepas kostumnya "dan kau juga harus membantu"

Gajeel berjalan ke arah Makarov dengan memberikan secarik kertas yang entah apa tulisannya "ini dari anakmu sendiri Ivan dan aku tau lokasi dia berada"

Makarov menerima itu dan wajahnya sangat marah karena mendengar nama itu "bagus sekali, dan maafkan aku jika harus memaksamu menjadi agen ganda seperti ini" dia bukan tanpa alasan marah kepada mantan anaknya itu.

"Yah, lagipula dia belum tau sama sekali aku agen ganda" balas Gajeel berjalan ke ruang perawatan "ohhh, dan satu hal lagi dia berencana untuk mengambil Lacrima dalam tubuh Laxus"

"Yah, aku mengerti" ucap Makarov menahan amarahnya karena ini sudah kelewatan dan dia tak bisa menerima ini 'mungkin kita tau di mana dia berada tapi untuk sekarang biarkan dulu tapi itu bukan berarti aku membiarkannya seenak jidat begitu'

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

"Kita akan melakukan misi bersama karena ini adalah perintah"

"Aku tau tapi sedikit hati-hati dengan orang asing"

"Muuu! aku ini sudah dewasa jadi jangan mengatur"

"Tubuhmu masih kecil dan kau selalu bertindak ceroboh maka dari itu aku takkan membiarkanmu sendiri"

"Baiklah"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Cuttttt! Dan akhirnya selesai juga untuk ini dan sekarang sudah bertambah lagi yaitu Mirajane tapi mohon maaf untuk penulisan Lemon karena saya tak begitu ahli menulisnya hehehe.

Pm

RnR