Dan kita masih tetap kembali lagi walaupun masih gak konsisten sekali terkadang masih banyak beberapa typo di tulisan dan cerita boring meskipun begitu saya cukup senang saja menulis ini meski ada sedikit rasa tergiur dan iri terhadap orang lain tentang masalah itu dan juga seperti yang dibilangin arc kemarin sudah berakhir dengan lemon penutup dan juga arc baru bakal menanti seperti itu juga karena kita akan ada lemon lagi di akhir Arc karena saya memang orang yang seperti itu membuat cerita dan please jangan banyak ngluh karena saya melakukan apa yang saya inginkan terhadap cerita ini dan bukan yang kalian inginkan kesannya seperti kerja Rodi paksa.
P.s : Agustus lagi saja dan adik saya kembali ke sekolah seperti biasanya karena dia sudah smp dan tentu saja banyak pengeluaran juga terutama di uang saku tapi saya batasi karena sesuatu berlebihan itu tak baik
Chapter 40 : Oracion Seis
.
...
.
- Restaurant Yajima
Ini adalah sebuah Restaurant yang berada di Cartrona sebuah kota yang bersebelahan dengan Magnolia dan juga pemilik dari Restaurant ini adalah seorang anggota dewan sihir atau bisa dibilang mantan karena setelah kejadian Etherion itu beberapa dari anggota dewan mundur termaksud dia ini.
Dan sekarang setelah kejadian itu dia sekarang memilih membuka Restaurant saja yang baru berjalan satu bulan dan tentu saja sudah terlihat ramai beberapa pengunjung yang datang untuk makan-makan dan cemilan karena lumayan enak.
Dan kebetulan sekarang beberapa dari pekerja miliknya sakit jadi bisa dipastikan Restaurant ini tak bisa berjalan sebagaimana mestinya karena beberapa dari tenaga kerja itu tak ada dan makanya Yajima menyewa tenaga kerja cadangan untuk sementara waktu sampai pegawainya yang asli bisa bekerja kembali.
Dan tentu saja dia menyewa pegawai sementara bukan dari orang biasa melainkan dari Guild penyihir dan yang jadi sasarannya adalah Fairy Tail, hal seperti itu wajar saja karena Yajima dan Master Makarov sudah saling kenal sejak saat di Dewan dan saling membantu satu sama lain.
Dan tentu saja yang anggota yang terkena misi permohonan ini adalah Team Natsu yang memang hari ini sedang tidak ada misi dan kebetulan juga Makarov memang memberi misi ini yang tidak bisa ditolak sama sekali meski kenyataanya mereka mengeluh karena harus melakukan sesuatu pengecualian buat Lucy.
Dan untuk Lucy memang dia sangat memerlukan misi ringan ini tanpa ada bayaran denda atas semua kerusakan untuk membayar sewa apartement miliknya itu yang sudah jatuh tempo selama dua hari dan hingga akhirnya dia mau melaksanakan misi ini.
Lucy seperti biasa menjadi pelayan Restaurant yang melayani dengan senyuman ramah terhadap pembeli meski sebenarnya dia tak ingin tapi ini demi uang sewa apartement yang mengenakan pakaian maid warna jingga pendek sepaha yang bagian atas terbuka dan menampakan belahan dada, sarung lengan panjang, dengan celemek putih terikat di pinggangg, kaos kaki putih panjang selutut, sepatu hitam dan itu terlihat sangat sexy atau cocok untuknya.
"Aku gak tau ada tugas seorang Anggota Guild harus seperti ini" Lucy menghela nafas dengan segala keluh kesah yang ada dan sebenarnya dia kurang nyaman sekali dengan pakaian ini "dan kenapa juga aku harus bertingkah seperti pelayan ini"
"Kau banyak mengeluh seperti nenek-nenek Lucy, nanti cepat keriput" ucap Happy yang seperti biasa sangat senang meledek gadis itu.
"Berisik kau kucing!" teriak Lucy sangat kesal.
"Ini perintah dari Master sendiri dan kau tak bisa menolaknya" ucap Gray yang membawa secangkir Es Lemon di tangannya "dan juga ini untuk dirimu sendiri karena kau belum bayar sewa dan seharusnya kau ucapkan terima kasih kepada kita karena membantumu" dia sebenarnya ingin tidur seharian tapi harus terganggu dengan ini.
"Iya, iya, aku tau itu" balas Lucy memilih mengalah karena perkataan itu memang benar adanya dan juga jika karena bukan uang sewa apartement dia sama sekali ogah menjadi pelayan seperti ini apalagi dipandang dengan tatapan tak mengenakan "dan di mana pakaianmu?" dia sweatdrop melihat laki-laki itu sudah hanya mengenakan boxer.
"Aku rasa itu manis untukmu Luce" Natsu memujinya dan membuat gadis pirang itu malu tak karuan "aku rasa pakaian ini sangat cocok dikenakan" dia merasa ini cukup nyaman di tubuhnya dan terkena juga ajakan karena harus ikut ini meski sebenarnya ada sebuah urusan di hari ini tapi dia lakukan saja demi Lucy.
"Dan kenapa kau memakannya bukannya diberikan ke Pelanggan?" Gray sweatdrop karena kerakusan rivalnya itu tak melihat situasi.
"Bukan urusanmu!" balas Natsu tak peduli dengan ocehan itu "dan sebaiknya kau urusi saja pakaian yang kau kenakan!" dan temannya itu panik berlari segera sambil mencari pakaiannya.
Dan itu untuk Erza dia mengenakan pakaian yang sama seperti Lucy dengan sebuah catatan di tangan kiri, sedang menanyakan pesanan kepada pembeli sambil berpose duduk di atas meja menyilangkan kaki sexynya, membuat payudaranya menggelembung ke atas, dan tatapan mata menantang. Bagi siapapun yang melihat ini pasti terlena dan gadis berambut Scarlet itu tak tampak risih dengan tatapan mesum itu.
"Aku rasa itu alasannya kenapa Tuan Yajima merekrut kita" ucap Gray yang sudah kembali dengan pakaiannya "dan kebanyakan para pelanggan sangat senang sekali bahkan Erza juga sangat menikmati itu"
"Aku rasa dia sangat senang dengan pakaian itu dan bukan pekerjaan ini" ucap Lucy sudah bisa menebak dari gelagatnya.
Erza kembali ke mereka setelah tadi "ini adalah sesuatu yang master perintahkan jadi kita harus jalani ini"
"Kau ini terlalu ketat Erza, seperti Nenek-nenek" ucap Gray.
Erza memberi glare mengancam "kau ingin berbicara lagi Gray?!"
"Oh, enggak" balas Gray bergidik tak karuan dan memilih mundur.
"Dan kau kenapa?" Erza bertanya karena melihat orang yang dia cinta sedang memasang wajah masam dan terlihat tak mengenakan sekali.
"Oh, bukan apa-apa" balas Natsu memalingkan wajahnya dan entah kenapa merasa tak nyaman atas sikap Erza terhadap para pelanggan itu atau lebih tepatnya gak suka.
Erza menyadari itu dan tersungging senyum jahil di wajahnya "kau cemburu pada mereka heh?"
"Ah, enggak mana mungkin" balas Natsu tapi dia bukan tipe orang yang ahli dalam berbohong karena sifat yang tak bisa dikontrol.
Erza hanya tersenyum sambil menarik Syal lalu menempelkan kepalanya ke Dadanya "fufu! kau sangat buruk jika berbohong tau" dia sambil mengusap rambutnya yang warna pink "tenang saja, kau akan mendapatkan perlakuan seperti itu juga"
Natsu sangat senang sambil menggosokan wajahnya karena jarang seperti ini dan selalu terhalang armor besi yang menyakitkan "hmmmm, bau kau enak juga" dia sambil mengendus aroma strawberry yang selalu ada di tubuhnya.
"Dasar idiot!" Erza dengan wajah semerah rambutnya karena malu "kita kerja lagi dan selesaikan ini dengan cepat"
"Oke"
Dan pada akhirnya mereka menyelesaikan tugas itu hingga malam hari setelah itu mereka istirahat sejenak di samping Restaurant dan ditemani sang pemilik.
"Aku senang kalian membantuku dengan giat dan tanpa kalian mungkin aku sedikit kerepotan karena beberapa pegawai mendadak sakit" ucap Yajima sangat berterima kasih sekali.
"Yah, ini sebenarnya kita lakukan karena sedang gabut saja" jawab Erza yang mengenakan kostum pelayan tadi "dan juga bayarannya sesuai dengan yang dikerjakan"
Gray menghela nafas sambil berbaring dan terlihat kelelahan "sekarang aku faham bagaimana rasanya Mirajane yang sering melakukan"
"Ini benar-benar menyenangkan" ucap Natsu yang perutnya membuncit karena mungkin dia bukan membantu melainkan ikut makan juga.
"Aye" Happy cuman setuju saja.
"Oh, ya bagaimana dengan Dewan Sihir?" Erza bertanya.
"De-dewan?!" Gray merinding takut ketika mendengar nama itu karena dia memang sering membuat masalah dan kerusakan saat misi makanya sering dipanggil terus oleh Dewan dan membuat Kakek Makarov kerepotan karena ulahnya.
"Kau gak tau? Yajima-San itu Anggota dewan" ucap Lucy.
"Ah, soal itu aku rasa sudah bukan bagian dari Anggota dewan lagi" jawab Yajima menggaruk kepalanya "setelah pengkhianatan Siegrain dan juga Ultear itu adalah sebuah kesalahan terbesar kita dalam dewan sihir tapi, yang aku dengar mereka sedang menata ulang untuk membuat yang baru"
'Ultear?' Natsu sedikit membuka sebelah mata itu karena mendengar nama yang tak asing lagi 'bukankah itu seorang laki-laki yang memiliki bau seperti wanita' dia tau berada dimana orang itu sekarang setelah pertemuan pertamanya di Pulau Galuna.
"Yah, maafkan kita karena sampai harus membuat kalian kerepotan sampai sejauh itu" ucap Yajima merasa menyesal.
"Itu bukan masalah besar lagipula memang anda orang satu-satunya yang menentang penembakan Etherion itu hingga akhir" balas Erza yang mengingat itu tapi dia perlahan mulai melupakannya juga dan teman-temannya sudah bebas berkelana jadi itu bukan sebuah masalah yang difikirkan lagi.
"Makanya sekarang aku membuka Restaurant setelah keluar dari dewan" ucap Yajima merasa senang karena bisa menyalurkan hobinya "dan memasak memang jauh lebih menyenangkan daripada harus memikirkan politik"
Gray melihat rivalnya sedang termenung dan matanya berpaling ke arah lain "kau tak seperti biasanya jadi apa yang sedang kau fikirkan"
Natsu tersentak "oh, tidak maksudku hanya saja bagaimana caranya apabila kita tidak bisa menepati janji namun kita ingin memberi sesuatu sebagai tanda permintaan maaf" sebenarnya dia memiliki janji sejenis Kencan atau menemani belanja apapun itu hari ini namun tak bisa karena terhalang oleh misi ini lagipula dia juga ingin membantu Lucy tentang Uang sewa apartement.
"Hah?" Gray memasang wajah tak faham sama sekali karena kata-kata itu terlalu berbelit.
"Maksudku jika memiliki janji dengan seseorang namun tidak bisa dilakukan karena sebuah alasan jadi pemberian apa yang cocok sebagai tanda permohonan maaf" jawab Natsu yang merasa tak enak sama sekali dengan wanita itu yang ditolak apalagi ekspresi sedih dan kecewa sangat terlihat jelas meski cuman sedikit.
"Ohhh, begitu toh" Gray mengangguk faham sekarang "ini cuman pendapatku tapi jika itu seorang wanita biasanya kasih dia Gelang, Kalung, atau kau bisa mengajaknya ke suatu tempat sambil bicara 'aku minta maaf karena tak bisa menepati janjiku' begitu"
"Oh, jadi seperti itu" ucap Natsu.
"Memang kenapa kau bertanya seperti itu? tak biasanya?" ucap Gray yang kini balik bertanya.
Natsu menjulurkan lidah "bukan urusanmu!"
"Oh ya, Natsu-san dan juga Gray-san" ucap Yajima memanggil kedua orang itu "dewan sihir sekarang sudah berubah dan aku sekarang sudah tak di sana lagi membela kalian jadi jangan terlalu banyak buat masalah"
"Oke!" kedua orang itu menjawab dengan kompak.
"Baiklah sudah saatnya kita pergi" ucap Erza menarik lelakinya untuk pergi dan diikuti yang lainnya "kita pamit dulu
"Yah, sampaikan salamku ini pada Makarov" ucap Yajima melambaikan tangannya.
.
.
.
.
.
- House Natsu
Di sebuah rumah sederhana yang bagus namun sangat nyaman sekali yang berlokasi di dalam tengah hutan dan tak ada satupun orang yang lewat jadi bisa dikatakan pemilik rumah ini ingin memilih ketenangan dan berbaur dengan alam atau bisa jadi ingin tak mau dari keramaian banyak orang.
Berdiri sebuah rumah terlihat bagus yang ditinggali oleh tiga orang dan satu hewan peliharaan dan tak jauh dari rumah itu ada Air terjun dengan sungai mengalir yang sangat indah sekali dan siapapun bakal betah tinggal di sini karena rasa tenang itu.
Dan di dalam rumah itu atau lebih tepatnya di ruangan dapur ada seseorang yang sedang bersenandung riang sekali sambil tengah memasak masakan untuk seseorang yang saat ini belum pulang tapi sudah pasti bakal pulang jadi hanya sekedar menunggu waktu saja.
Dan orang yang bersenandung itu adalah Irene Belserion seorang wanita dewasa dengan wajah yang cantik sekali, dilengkapi bedak pemutih wajah yang tidak begitu tebal dan lipstick merah gelap di mulutnya yang sangat cocok sekali untuknya, rambut merah scarlet yang diikat jadi satu dengan menggunakan penjepit, dengan kedua cabang rambut di sisi kepala yang dibiarkan tergerai ke bawah, mata coklat.
Dia mengenakan pakaian baju biasa warna hijau pendek, celana biru tua selutut, dengan mengenakan celemek putih yang terikat di pinggangg, dan itu terlihat sangat cocok sekali karena tak menyembunyikan lekukan tubuhnya dan proporsi yang luar biasa itu bisa dibilang sexy dan menawan sekali bahkan sangat beruntung sekali jika seseorang memilikinya.
Dia berperilaku seperti seorang Istri yang sedang menunggu kepulangan suaminya dan memang sangat mirip sekali apalagi badannya itu seperti seorang wanita muda yang sudah memiliki anak meski kenyataanya belum dan menonjolkan di bagian tertentu yang membuat siapapun nafsu untuk membawanya.
Meski terlihat normal atau senang dalam hati wanita ini cukup kesal, emosi tak tertentu, dan juga kecewa berat mungkin ini terdengar seperti anak kecil dan tak cocok untuk umurnya tapi tetap saja dirinya masih seorang wanita. yang di mana seharusnya dia mempunyai agenda yang menyenangkan namun harus batal karena hal tak masuk akal.
Sebenarnya dia ada jadwal kencan dengan Natsu hari ini bahkan dirinya sudah menyiapkan baju yang sangat spesial sekali untuk hari ini namun ternyata hanya berbuah sebuah kekecewaan saja karena Natsu harus melakukan misi meskipun dia memaksa tapi tau bahwa DragonSlayer Api itu tak terlalu suka jadi dia hanya mengikhlaskan itu saja dan bisa sabar.
'Huffftt! Ini benar-benar aneh, gak biasanya aku bertingkah kekanakan seperti ini' Irene menghela nafas untuk menghilangkan rasa kesal itu dan dia sudah menyelesaikan masakan itu jadi tinggal menunggunya pulang 'aku gak tau rasanya ditolak memang gak menyenangkan' dia memegang dadanya merasakan jantung yang gusar.
Dia tetap melanjutkan pekerjaan itu setelah selesai memasak dia beres-beres rumah sambil menunggu lelaki itu pulang dan sudah menjadi kebiasaan dirinya seperti itu karena tinggal di sini dan tentu saja dengan ada anggota baru yang tinggal juga. Irene melakukan semuanya karena tau Natsu tipe orang yang selalu membuat sesuatu berantakan tapi belakangan ini sudah jarang.
Dia tetap seperti itu hingga tak beberapa lama pintu terbuka secara kasar dengan suara teriakan berisik yang khas.
"AKU PULANG!"
"Aye!"
Irene membersihkan kedua tangannya lalu berjalan ke depan dan menyambut mereka dengan sebuah senyuman manis di wajahnya "selamat datang kembali!" dia melihat tak ada yang banyak berubah dengan senyum grin dan selalu bersemangat yang berlebihan tapi itu memang ciri khas dia.
Natsu mengendus dan hidungnya mencium sesuatu yang enak "kau seperti membuat sesuatu?" dan menbuatnya ngiler tanpa henti.
"Yup" Irene mengangguk.
"Yosh! Ayo Happy kita makan!" teriak Natsu langsung ngacir ke dapur dan reaksi Irene cuman tertawa kecil.
"Aye!"
Irene menyusul mereka dan duduk di depan DragonSlayer Api itu "jadi bagaimana dengan misimu?" dia bertanya sambil menopang dagu dan melihat Natsu yang sangat lahap sekali makan bahkan bisa dibilang sangat rakus dan seperti hewan buas yang memasukan apapun ke dalam mulut.
"Mwaasakhanmu! beghenar-bgfenar uweeenamdak!" ucap Natsu yang mulut masih penuh dengan makanan.
"Fufufu! Aku sangat senang kau menikmatinya" Irene tertawa kecil dan entah kenapa rasa tak menyenangkan itu perlahan hilang setelah melihat senyum itu 'sungguh luar biasa dia'
Tapi Natsu teringat sesuatu lagi lalu mengambil barang dari kantung dan menyodorkannya ke arah wanita itu "ohhhh, ya aku ada sesuatu untukmu!" dia memberi kota hitam kecil yang berisi sesuatu.
"A-apa i-ini?" Irene bertanya dengan ekspresi terkejut dan suara gagap namun dia sedikit mengira apa yang ada di dalamnya namun belum saatnya senang.
Natsu membuka kotak itu dan Isinya sebuah Kalung Emas dengan hiasan permata merah berbentuk bintang "hmmm, sebenarnya ini permintaan maaf dariku karena tak bisa menepati janji itu" dia menggaruk rambutnya "aku tak tau harus beli apa karena membingungkan tapi aku harap kau menyukainya hihihi!" dia tertawa cengengesan.
Irene menutup mulutnya tak percaya dan merasa sangat tersentuh sekali atas perlakuan romantis ini dan hadiah yang sangat indah sekali "a-ku g-gak tau harus berbicara apa tapi ini sangat indah" jantungnya berdetak karuan dan tak bisa menyangka dengan kejutan ini.
Natsu tersenyum menampakan gigi "jadi kau menyukainya?"
Wajah Irene memerah seperti rambutnya "aku sangat senang sekali dengan hadiah ini" dia tak pernah dapat perlakuan seperti ini bahkan semasa hidupnya 'jadi itu adalah alasannya kenapa diriku jatuh hati padanya' dia sekarang mengerti kenapa cinta kepada lelaki ini meski sifatnya sedikit kekanakan, rakus, dan barbar tapi ini yang berbeda dari lelaki lain.
Natsu tipe orang yang normal namun tidak begitu bodoh cuman spontanitas jika berbuat sesuatu dan selalu membuatnya terhibur dengan caranya sendiri meski terdengar bodoh tapi asal membuatnya senang itu cukup.
"Kau menyukainya!" teriak Happy menutup mulut.
"Yah, aku menyukainya" ucap Irene tersenyum sangat manis sekali dan menatap Natsu lalu muncul blush di wajahnya dengan ekspresi malu-malu seperti gadis normal sedang jatuh cinta "uhmmmm, bi-bisakah ka-kau membantuku untuk memakaikannya untukku?"
"Baiklah!" balas Natsu berjalan ke belakang wanita itu dan memakaikan kalung pemberian tadi.
"Terima kasih banyak!" ucap Irene berdiri lalu memeluknya.
"Hihihihi aku harap kau tak marah dan sedih lagi karena soal tadi" ucap Natsu tertawa sambil memeluknya balik.
Irene menggeleng "tidak, meski cuman kecewa tapi aku sudah senang sekarang" lelaki ini tau bagaimana membuat mood seseorang berubah lalu menoleh ke Exceed biru itu "Happy, bisa kau masuk ke kamar sekarang?"
"Aye!" kucing itu menurut dan terbang masuk ke dalam.
"Kenapa?!" Natsu bertanya dengan wajah bingung.
Irene menaruh telunjuk di dagu seperti memikirkan sesuatu dan bicara dengan nada sangat ramah sekali "hmmm, mungkin kau lelah setelah misi? aku sudah siapkan air hangat jadi kau mau mandi lebih dahulu atau..." dia menggantungkan kalimatnya sambil melepas celemek dan nampak jelas sekali bentukan tubuhnya yang sexy itu "mungkin diriku?.." dengan suara penuh ajakan dia melipat tangan dengan sambil membuat payudaranya menonjol keluar dan sangat besar sekali.
Natsu hanya berkedip beberapa saat tapi tau bahwa wanita ini mengajaknya seperti itu dan ini bukan seperti dia polos bahkan sudah mengetahuinya sekarang dan secara insting alami lelaki dia menggendong Irene lalu membawanya ke kamar mandi untuk rutinitas pelepas stress mereka.
Dan tak lama mereka melakukan itu lagi tanpa khawatir ada yang mendengar teriakan dan jeritan karena posisi rumah itu berada di tengah Hutan.
.
.
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx
.
.
- Guild Fairy Tail
Ini adalah sebuah hari yang biasa dan begitu normal sekali di Guild yang terletak di kota Magnolia, setidaknya itu yang mereka katakan tentang normal bukan berarti diam dan hanya sekedar berbicara biasa saja melainkan membuat keribuatan dan kegaduhan.
Karena hal seperti itu adalah sangat normal sekali bagi Guild ini yang tiada henti berbuat masalah dan kerusakan di mana-mana yang disebabkan oleh seluruh anggota Guild ini yang di mana banyak meja dan kursi berterbangan ke sana kemari, suara pecahan botol, dan teriakan kelebihan energi yang kontan sangat didominasi oleh kaum Adam.
Dan bukan Fairy Tail namanya jika tanpa sebuah keributan dan pesta meriah namun kurang sedikit menarik karena sang provokator pembuat keributan itu belum ada atau datang di sini.
Dan terlihat di sini Gray dengan Gajeel saling adu tinju yang di sana ada Elfman untuk selalu ikut serta dalam kerusuhan yang selalu bernasib buruk karena terkena terus tinju nyasar yang entah datang dari mana, Kelompok Raijuunshu minus Laxus yang sedang tanding Minum dengan Cana terutama Evergreen yang tak mau kalah, Lisanna yang seperti biasa menjadi pelayan Bar menggantikan kakaknya, Juvia yang bersembunyi di pojokan sambil memperhatikan Gray.
Sorano dan Mirajane berdiskusi sesuatu yang lebih mirip seperti perang urat saraf karena saling bentak, Ur yang duduk santai namun tak sadar kebiasaan bugil itu yang membuat Macao dan Wakaba pingsan dengan darah muncul deras dari hidung, Reedus yang terlihat menggambar sesuatu di papan besar, Erza yang asik sendiri dengan makanan favoritnya dan tak peduli dengan semua keributan itu, Levy dan Lucy saling berbagi hobby membaca buku.
"Hahahaha! kau kalah lagi putri Es!" ucap Gajeel tersenyum penuh kemenangan sambil memutar boxer yang sudah dipastikan itu milik Gray.
"Brengsek! kau!" Gray mengumpat tak jelas sambil melihat dirinya yang sudah telanjang dan bersiap menyerang DragonSlayer Besi itu dengan Es.
"Seorang Pria tak seharusnya ber-guahhhh!" Elfman belum saja selesai bicara karena wajahnya terkena hantaman Es keras dan membuatnya terbang melayang lalu mendarat tepat di kerumunan anggota Raijuunshu.
*Crashhh!
Cana berontak tapi wajahnya memerah dengan mata teler "guhhhh, oiiii brengsek! siapa yang melempar drum ke sini!" dia menarik Elfman lalu melemparkan laki-laki berbadan besar itu ke arah lain dan juga tampak semua Anggota Raijuunshu sudah tepar karena banyak minum.
Dan sayangnya juga Elfman tak bernasib baik karena harus mendarat di antara Sorano dan Mirajane yang sedang berdebat serius.
"Berhenti mengacau!" teriak kedua perempuan itu sambil menendang Elfman secara bersamaan dan sangat kasian juga karena mereka tak ada rasa iba sama sekali.
"Huffttt! Astaga mereka selalu saja ribut terus" Levy berkeluh kesah karena selalu saja waktu tenangnya harus terganggu dengan hal spele macam ini.
"Itu adalah ciri khas dari Guild ini bukan?" ucap Ur yang datang menghampiri mereka dan entah kenapa dia sudah terbiasa terhadap keributan ini dan dia hanya masih mengenakan Bra dan celana dalam.
"Dan di mana pakaianmu?" Lucy sweatdrop melihat wanita itu berekspresi biasa saja meski cuman bugil dan dia sekarang tak bisa menyalahkan Gray sepenuhnya atas kebiasaan buruk itu karena semuanya berasal dari wanita ini.
*Brakkk!
"Fairy Tail Aku datang!"
Sebuah pintu terbuka secara kasar karena ditendang oleh seseorang dan nampak di sana seorang lelaki berambut pink yang tersenyum ceria sekali seolah tak ada beban apapun di hidupnya, dengan seekor Kucing yang terbang, dan di sampingnya ada seorang wanita cantik rambut scarlet yang dikepang.
"Astaga sudah ribut sekali di sini" ucap Irene menutup mulutnya
"Lisanna aku ingin makan sesuatu!" teriak Natsu sangat nyaring sekali dan biang keributannya sudah ada di sini, bisa dikatakan Fairy Tail jika membuat keributan kurang lengkap jika tak ada DragonSlayer Api ini karena dia adalah biang masalah sesungguhnya.
"Baiklah" Lisanna berjalan ke arah dapur untuk memasak sesuatu.
Natsu menatap sekeliling dan akhirnya menemukan musuh bebuyutannya "oii stripper! bajumu hilang lagi tuh!" dia bersiap menantangnnya berkelahi dan kepalan tangan berapi.
"Apa kau bilang!" balas Gray yang tak terima dan sambil melemparkan meja dengan kencang.
Natsu mudah menghindari itu "whoopss! nyaris saja" tapi sayangnya lemparan itu mengenai wanita yang ada di belakangnya.
*brakksss.
"Gawat" Happy menutup mulutnya.
Irene tersenyum normal tapi bekas hantaman meja terlihat di wajahnya sekali "keliatannya semuanya sedang bersenang-senang yah" dia terlihat sangat jengkel buktinya aura gelap mengelilingi tubuhnya dan kepalan tangan seperti ingin menghajar seseorang "baiklah, aku rasa kalian harus sedikit di ajar sopan santun"
"Mampus kalian!" Droy mengumpat dan berdoa dalam hati agar dirinya tak kena.
Natsu yang tadi ingin ikutan dan mengurungkan niatnya lagi karena tau wanita ini sangat menakutkan jika sedang marah apalagi melebihi Erza atau Mirajane dan tak lama terdengar suara amukan tidak jelas dan beberapa teriakan orang-orang putus asa di dalam Guild.
Setelah itu semuanya kembali normal seperti semula meski ada beberapa dari orang-orang yang ribut itu bonyok wajahnya namun hal seperti itu sudah biasa.
"Tunggu kau menulis apa?" Lucy bertanya dengan melihat papan besar yang sudah digambar seperti sebuah struktur organisasi.
"Ini adalah bagian dari semua organisasi Guild ilegal" ucap Elfman melipat tangannya.
"Mereka sekarang sudah mulai banyak aktif bergerak lagi" ucap Mirajane.
"Dan kenapa ada lingkaran besar itu?" Gray bertanya yang sudah kembali kehilangan pakaiannya.
"Oh, mereka adalah Tiga Guild ilegal yang paling besar dan membentuk sebuah Aliansi yang bernama Aliansi Balam" jawab Juvia yang pernah mendengar sewaktu masih di Guild Phantom.
Aliansi Balam ini terdiri dari tiga Guild ilegal terbesar yang dimana memiliki Guild-guild kecil ilegal yang menjadi bawahan mereka dan ketiga Guild itu yang paling kuat dan berkuasa.
"Salah satunya Guild Eisewald yang dibawah kendali Oracion Seis" ucap Lisanna.
"Oh Guild Erigor" Lucy sudah pernah menghadapi mereka sewaktu misi pertama kali berkelompok dan banyak juga kehebohan waktu karena tujuan mereka berbahaya dengan menggunakan Sihir Pemanggil Iblis.
"Kalau tak salah kelompok Raijuunshu pernah membasmi beberapa dari mereka" ucap Sorano sedikit mengingatnya lagi.
"Oh waktu aku dan Gajeel-kun masih di Phantom kita sering mengalahkan mereka" ucap Juvia yang terlihat senang sekali.
"Yah, lagipula mereka cuman 6 orang jadi tak usah khawatir dan takut seperti itu" ucap Elfman terlihat sangat santai sekali dan seolah hal seperti itu mudah.
"Meskipun jumlah mereka sedikit tapi sangat kuat sekali makanya mereka memerinta beberapa Guild kecil" ucap Gray.
Makarov membuka pintu dan masuk ke dalam "tentang Oracion Seis itu adalah bahwa kita yang akan menyingkirkan mereka" dan membuat semua yang ada di sana terkejut minus Natsu yang tak begitu dengar dan asyik makan sendiri.
"Oh, selamat datang lagi master" ucap Mirajane menyapa dengan senyum ceria seperti biasa.
"Kenapa kau bisa tenang sekali" Gray sweatdrop.
"Pada rapat yang dilakukan oleh Anggota dewan sihir dan para penyihir Suci kemarin nampaknya Oracion Seis masuk dalam agenda karena mereka sedang merencanakan sesuatu" jawab Makarov langsung karena tau bahwa anak didiknya bakal bertanya "dan ini sudah tak bisa ditunda lagi jadi harus ada sebuah Guild yang mengemban tugas ini"
"Jadi, harus kita yang melakukannya? bukankah itu seperti bunuh diri?" ucap Gray tak percaya karena dia tau sangat sulit mengalahkan Anggota Guild ilegal yang besar apalagi seperti Oracion Seis.
Makarov menggeleng kepala "itu memang sangat mustahil dan disatu sisi bakal jadi blunder buat kita untuk mengatasi itu sendirian makanya kita buat Aliansi sendiri" dengan memasang wajah percaya diri "terdiri dari 4 Guild Fairy Tail, Blue Pegasus, Lamia Scale, Calt Shalter yang masing-masing mengirim beberapa anggota mereka"
"Tapi kenapa?!" Lucy bertanya.
"Untuk sekedar berjaga-jaga dan sebuah kemungkinan buruk yang terjadi" ucap Makarov.
Natsu beranjak dari kursinya dengan semangat setelah mendengar kata menghancurkan sesuatu "baiklah! kalau soal menghancurkan mereka semuanya serahkan padaku!" dia menonjok udara dan sangat tak sabar sekali dengan misi menyenangkan.
Erza dengan cepat memegang syalnya sangat erat "oh, tidak bisa begitu!" dia tau lelaki ini akan mengambil resiko meski apapun itu dan terkadang selalu ceroboh sekali.
"Oh ayolah!" teriak Natsu protes tapi gadis itu lebih keras kepala untuk menolak.
.
.
.
.
.
- Kendaraan Terbang
Ini adalah sebuah kendaraan terbang yang menggunakan energi sihir untuk bisa terbang dan kendaraan ini adalah milik sebuah Guild yang bisa dibilang ilegal atau bisa disebut Guild kegelapan yang di mana Guild ini paling besar dan mengatur semua Guild kecil lainnya bisa dikatakan masih masuk dalam Aliansi Balam.
Dan nama Guild itu adalah Grimoire Heart lalu nampak di dalam kendaraan itu terlihat seorang wanita cantik berambut hitam, dengan rambut panjang kuncir dua ke bawah, mengenakan dress tutul tanpa lengan yang menunjukan tatto guild di punggung, dan Orb hijau besar di lengan kanannya.
Sebut saja wanita ini adalah Ultear Milkovich, seorang mantan sekretaris dewan yang menyamar bersama Jellal, yang juga bisa dibilang seorang pengkhianat dan juga dalang dari peristiwa menara Etherion itu, yang di mana dia adalah seorang Anggota Guild kegelapan dan sedang jadi buronan karena masalahnya itu.
Dan bagaimana bisa anak dari Ur ini bisa bergabung dalam guild ilegal adalah cerita yang sangat panjang, selain itu dia bisa menjadi agent dan seorang mata-mata karena penyamarannya sempurna dan tak pernah sama sekali tertangkap.
"Master Hades, nampaknya Oracion Seis sudah mulai bergerak sekarang" ucap Ultear memainkan Orb hijau itu dan tengah berbicara dengan seseorang yang duduk dan dipastikan dia adalah Master dari Guild ini.
"Hoh, mereka bergerak sendiri?" ucap orang yang diketahui bernama Hades ini.
"Yah, tampaknya mereka sedang mencari tanah Nirvana atau apapun itu" ucap Ultear tapi matanya terfokus pada Orb itu seperti sedang mengamati seseorang yang nyatanya memang seperti itu dan tampak senyum kecil di wajahnya 'hmmm, dia belum berubah ya? aku ingin tau sejauh apa kau berkembang'
"Oh, biarlah mereka melakukan apa yang diinginkan sementara itu tak mengganggu rencana kita" ucap Hades dengan seringai namun dia melihat wanita itu seperti tak berbicara dengannya dan terfokus pada suatu hal "sedang apa kau? dan kenapa kau tak mendengarkanku?!" dia mengeraskan suaranya.
Ultear langsung tersentak dan menundukan kepala "ohh, maafkan saya Master Hades-sama, saya berjanji takkan mengulangi lagi" dia nyaris saja ketahuan karena sedang melihat musuh tapi itu tak bisa menghentikan dirinya untuk memperhatikan dia dari jauh.
"Kau tau, ini sedikit membuatku agak bingung tentang dirimu..." ucap Hades menyilangkan kakinya "terlihat kau sedikit berbeda dari biasanya setelah misi menyusup jadi dewan itu dan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?" dia menatap gadis itu dengan perasaan curiga.
"Mungkin anda telah salah nilai, sebenarnya tak ada yang berubah tentang diri saya" ucap Ultear dengan nada penurut agar pak tau ini tak terlalu memasang wajah curiga kepadanya.
"Bagus, itu yang aku ingin dengar" ucap Hades mengangguk lega "karena aku sungguh tak suka ada parasit di Guild ini yang suatu saat bakal menghancurkan rencanaku"
'Memangnya kau ini siapa? suka mengatur keinginan orang?' Ultear mendecak kesal dan sedikit berjalan menjauh tampak senyum senang di wajahnya ketika melihat sesuatu di Orb itu yang tak lain adalah lelaki berambut pink yang terus dipantau olehnya semenjak kejadian di Pulau Galuna 'aku harap kau bisa menunjukan sesuatu yang lain Natsu Dragneel'
.
.
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx
.
.
- Di Suatu Tempat
Terlihat di sana ada 6 orang yang berdiri di atas bukit tinggi yang sedang menatap sesuatu di depannya dan salah satu orang itu adalah laki-laki yang berandalan, dengan rambut sedikit gondrong dengan poni lurus ke hidung, dengan tatapan mata tajam, mengenakan baju hitam polos, celana hitam, dengan dibalut jaket putih tanpa kancing, dan sebuah Ular besar berwarna ungu membelit tubuhnya.
"Yah, aku mendengarnya sekarang" ucap orang ini memasukan celananya ke dalam kantung "dan ini adalah sihir yang kita cari selama ini"
"Sepertinya kau terlalu terburu-buru Cobra atau mungkin hal seperti itu tak buruk juga" ucap seseorang lain yang memiliki gaya rambut mohawk, berwarna kuning, mengenakan kacamata hitam, dengan baju hitam lengan panjang dan corak garis merah.
"Kau benar-benar tak bisa melihat suasana Racer" ucap Lelaki yang bernama Cobra ini membalas.
Dan seorang pria paruh baya, dengan rambut putih disisir ke belakang, dan garis-garis hitam di wajahnya, mengenakan jubah besar berbulu, dan sebuah tongkat sihir yang bisa dipastikan dia adalah pemimpin dari kelompok yang beranggotakan 6 orang.
"Sihir legenda itu akhirnya menjadi milik kita" ucap lelaki itu sambil menunjuk ke depan dengan tongkat "dan di sana adalah sebuah bukti di mana Tanah mati itu menunjukan bahwa Nirvana itu ada"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Dan cuttttt akhirnya kita selesai juga untuk chapter ini di arc baru yang muncul lagi dan mungkin ada sedikit perubahan tapi terserah dengan hal itu.
Pm
RnR
