The Pandora of Memory

[Percikan yang Nyata]

Setelah itu, beberapa hari berlalu tampa masalah. Setelah permintaan Twins elfling yang ngotot untuk menjaga gadis-pink itu sebagai ucapan terimakasi. Mereka berdua menjaga dari, Pagi dan Siang hari sampai gadis itu bangun. Meski awalnya pihak dari Healer Heaven melarang-nya. karna takut keberadaan elfling justru akan menganggu pasien yang lain (Ya namanya kebiasan anak-anak biasanya membuat keributan) Namun mereka diizinkan, karna Legolas mengizinkan-nya.

Dan bagusnya keberadaan kedua Twins menjaga gadis itu selama koma, justru membuat Legolas merasa senang dan disudut hatinya entah kenapa.

"Hir nin,"Panggil seseorang pada Legolas.

"Mumm?!,"Ucap Legolas lalu memandang sosok ellon-rupawan berambut coklat gelap, terurai dibahu, mengenakan baju-rajut abu-abu tampa lengan, dan celana coklat serta sendal tali.

"Anda terlihat berbeda?!,"Jawab ellon itu sembari mengusap-ngusap dagu-nya, seolah memiliki sebuah janggut didagunya. Saat ini baik dirinya dan sang Pangeran Legolas tengah berada di tempat latihan diarena panah, karna tutor yang akan menjadi pengawas mereka berhalangan datang, dan nampaknya mereka akhirnya latihan-sendiri, dan sekarang latihan mereka hampir berakhir.

"Apa? Ah maksutmu Aku!?,"Legolas menyengit berjalan mengarah ketempat peristirahatan bersama teman-nya itu. Dan dengan lihai ia mulai sibuk mengasah, mata panah setelah memakainya. "Mengapa? Kau berkata begitu?!,"Tanya Legolas dengan nada penasaran.

"Aa

Aura anda begitu bersinar beberapa hari ini, seperti anda menemukan sesuatu yang selama ini anda cari,"Ucapnya dengan nada-intelejent.

"Menemukan yang aku cari!,"Legolas menyengit mendengar rekan latihan memandangnya sembari tersenyum jujur yang tak terlihat ada kebohongan. Saat diarea itu hanya mereka berdua saja disana, dan teman-nya lalu ikut-ikutan mengolesi minyak besi busur-nya sendiri, sembari menunggu Legolas membuka suara. Namun belum Legolas menemukan jawabanya, dari otak encernya seseorang ellon berbaju zirah-bajah datang memanggilnya sekali.

Seorang pengawal-zirah penguna tombak masuk ke area-latihan, ellon itu membungkuk, menatap Legolas, "Maaf, Hir nin. King Thranduil ingin bertemu dengan anda!."Ucapnya santun.

"Baiklah!, dimana King sekarang?!,"Tanya Legolas saat lelaki itu meletakan busurnya diatas meja.

"Saat ini Beliau ada diruang Study,"Ucap sang pengawal, sembari kembali mengangguk pasti, membuat Legolas terdiam membuat ellon tampan disampingnya, memutar matanya bosan.

"Pergilah! Sebelum kemurkaan Ayahmu muncul, bagai meteor didalam lava jika kau terlambat,"Ucap Sang lelaki menghelah nafas membuat, Legolas ikut menghelah nafas mendengar-itu. "Aku akan membersihkan tempat ini! Sebelum pulang,"Ucapnya sembari tersenyum menepuk bahu Legolas akrab. "Asalkan kakimu tak tersesat malah ke Heaven healer,"Ucapnya dengan nada mengoda.

Mendengar ucapan main-main sang-rekan latihanya. Membuat tubuh membeku seketika, mata Legolas membulat, matanya langsung menatap tajam namun dibalas dengan tatapan ceria dan seringai ala kemenangan seolah berkata : Anda kalah Pangeran. "Kita harus bicara setelah ini Cappu!,"Dengkus Legolas memandang lelaki itu, langsung meninggalkan Arena latihan bersama pengawal, dan berharap tak ada masalah saat ia bertemu sang Ayah.

Bisa jadi Cappu mengodainya, karna sepertinya Cappu sudah mendengar gosip-gosip elleth yang memberinya kabar soal keberadaan Legolas yang sering mengunjungi di Healing Heaven, akhir-akhir ini.

.

.

.

Suara langkah-kaki terdengar amat tajam, disetiap pijakan marmer indah yang terbuat dari batu ukiran-ternama, dan tanduk yang berjejer didinding sebagai hiasan, plus langit-langit ruangan yang tinggi serta dapat memantulkan suara diberbagai sisi dinding, membuat siapa-pun dapat mendengar suara langkah keberadaan seseorang disini. Tiba-lah Legolas didepan sebuah ruangan berpintu putih nampak terlihat dua ellon-zirah sedang berdiri menjaga pintu, demi mengamankan ruangan itu. "Wi tu Adar?! (Apa Ayahku ada didalam?!),"Desis Legolas mengunakan bahasa Elf, memandang dua penjaga didepanya.

"Ki! (Ada!),"Jawab salah satu dari Pengawal sembari memberikan sikap hormatnya pada Legolas.

"Hir nin Legolas?!, Silahkan masuk,"Ucap Pengawal kedua. Dengan perlahan kedua pengawal, membuka pintu secara bersamaan. Setelah pintu terbuka Legolas memasuki pintu, dan disambut oleh bau serat-kayu dalam jumlah mengunung. Terlihat banyaknya yang lemari-lemari tinggi yang berdiri kokoh dan terbuat dari batu ukiran berisi buku-buku dan gulungan bertuliskan bahasa Elf serta mantra-mantra perlindungan pada beberapa lemari buku, yang nampak tak boleh dibuka oleh beberapa macam-elf. Legolas lalu memandang seseoran ellon penguna tunic bangsawan yang megah, dan bermahkota-tanduk rusa dikepalanya, nampak duduk disebuah kursi dan meja istimewanya.

"Kau akhirnya datang ?,"Sambutnya datar dikursinya sembari meletakan gulungan yang sebelumya ia baca.

"Mengapa Arda, mencariku,"Ucap Legolas sembari berdiri didepan meja sang Raja, sembari membungkuk hormat.

"Aku ingin membicarakan soal upacara Merethan Gilith (Pesta Cahaya Bintang), yang akan diadakan lima hari lagi,"Ucap sang Adar.

"..."Legolas terdiam mendengarnya, dia sepertinya tahu apa yang akan dibicarakan Adar. "Apa ada masalah soal kunjungan,"Tanya Legolas berdehem, mungkin Ayahnya akan menuntunya mengecek perbatasan.

"Tidak semua berjalan Normal,"Ucapnya bangkit dari Kursi lalu berdiri memandang wajah putranya. "Kuharap kau akan datang, karna beberapa orang terhormat dari tempat lain akan datang nanti, jadi kau harus berada disana sampai acara usai,"Ucapnya datar."'Kau mengerti."Katanya memastikan.

"Baiklah,"Ucapnya membungkuk Hormat dan segera pergi dari sana, namun saat ia berbalik sang raja kembali memanggilnya.

"Tunggu Legolas,"Ucapnya membuat Legolas menyengit. Jika sang Ayah memanggilnya dengan sebutan namanya, maka yang akan dikatakanya adalah hal serius. "Aku mendengar desas-desus tentang dirimu akhir-akhir ini ke Healing Heaven, apa itu benar?!,"Ia menyengit dengan tatapan tajam.

Deg!

Mata Legolas membulat mendengar pertanyaan, yang lebih terdengar seperti desakan ditelinganya ketimbang pertanyaan, sorot mata angkuh nan tajam-nya milik sang Raja, nampak membuat, Legolas mengeliat dalam kegelisaan. "Ah soal itu!,"Sorot mata Legolas menari-nari keberbagai arah, dan keringat dingin seolah berlomba-lomba keluar dari pori-pori wajahnya, dan saat ini mencari alibi didepan Ayahnya.

"Aku memang datang kesana!,"Ucap Legolas memandang datar sang Ayah, entah kenapa Pangeran tampan satu ini memiliki kendala besar jika menyangkut kejujuran. Dia tak bisa berbohong pada Ayahnya. "Dan mengecek gadis manusia misterius yang aku temukan saat pencarian dua anak Desa yang tiba-tiba menghilang,"Tandas Legolas mantap.

"Oh!,"Sang Raja hanya ber-'O' ria. Entah menandakan kalau dia akan percaya begitu saja, justru tidak sama sekali. "Ini cukup menarik,"Tandasnya. Senyuman tampan Raja memberi makna yang dalam serta menghanyutkan, membuat Legolas mengidik waspada. Dengan pikiran yang lantas kemana-mana.

.

.

.

[Kembali Ke Healing Heavend]

"Stella! Kakak berambut merah muda ini halus sekali surai-nya,"Ucapan polos Shadi nampak terdengar ceria, dan sembari memilin-milin rambut Sakura dengan tangan mungilnya.

"Aku sependapat,"Ucap Stella sembari mendengkus lalu mengangkat sebuah nampan-besi panjang yang diatasnya terdapat cangkir-cangkir bubuk dengan tiga warna merah, biru, hijau dari tanaman yang sudah ditumbuk halus. "Oh ya Shadi aku ingin memandikan kakak, tolong kamu siapkan bajunya, ambilah diruang cuci bilang saja aku yang minta pada madam Elma, dia pasti sudah tahu,"Ucap Stella, meletakan nampan besi itu diatas meja.

"Aku mengerti,"Ucap Shadi langsung loncat dari kasur. "Telepati aku jika kau sudah selesai,"Ucap Shadi melangkah meninggalkan Stella, dan menutup pintu perawatan dengan rapat.

Usai ditinggal Shadi, Stella mendengkus dengan senyuman semangat, lalu mengangkat tanganya tinggi-tinggi (layaknya orang bansai). "Oke saatnya bekerja,"Ucapnya ceria. Ia lalu dengan santai membuka kancing baju Sakura satu-persatu, lalu membantu mengangkat tubuh Sakura dengan sedikit kemampuan Telekinesis yang dipelajari dari ibunya. Setelah bagian atas dibuka sepenuhnya, sosok indah tubuh Sakura dapat ter-expost dengan jelas saat pakaian-ya sudah disingkirkan.

Hal itu membuat Stella memandang kagum tubuh telanjang Sakura yang terolek diatas kasur gadis itu yang memiliki kulit warna putih susu, dengan dua payudara yang tidak besar namun sedang, mulus tampa cacat, pinggang ramping tampa lemak-berlebihan, membuat lekuk setiap incinya, kaki serta ototnya yang langsing yang ditempa kuat, tanganya yang halus menyimpan kekuatan disetiap jemarinya, dan kecantikan itu juga terpancar dari wajah dan rambutnya yang berbeda dari manusia yang selama ini dia tahu.

(Note : Dalam cerita saya, tubuh ellent memiliki bentuk dada yang jauh lebih kecil ketimbang manusia perempuan, ini untuk bentuk kekaguman yang sopan).

Stella lalu memulai, membasuh rambut Sakura dengan air hangat, lalu setelah itu dia beralih pada wajah gadis itu, lalu beralih kedada dan-

KLEK!

"Stella aku-,"

Hening

Sosok Legolas masuk tampa pemberitahuan, lalu dihadapkan dengan Stella yang masih sibuk membersihkan tubuh Sakura, dan Legolas memandang tubuh Sakura polos tampa pakaian membuat Legolas membeku ditempat.

"Hir nin,"Jerit Stella berbalik dengan tatapan-Horror layaknya melihat hantu, mengalihkan pandangan kearah munculnya Legolas, yang membuka pintu dengan lebar, dan tampa sadar dua ellon perawat kebetulan lewat tak sengaja. Melihat pemandangan (indah) ikut terdiam dibelakangan Legolas hanya membeku. "KELUARRRR!,"Jeritan teriakan Stella terdengar lantang, membahana bahkan sampai ke Telepati adiknya, membuat telinga Shadi sakit dan harus segera ikut mendapatkan perawatan telinga secepatnya(?), dan hal itu membuat madam Elma kebingungan dihadapanya.

BRANG!

Legolas lalu berbalik cepat dan membanting pintu, lalu memberi tatapan 'Membunuh' pada Kedua ellon yang kebetulan lewat dan lari kocar-kacir menyusuri lorong dan menghilang meninggalkanya. Lalu Legolas yang ditinggalkan langsung meringkuk panic dan bersandar didaun pintu. Dengan wajahnya layaknya kepiting rebus, suram, sembari menjambak rambut emas sutra-nya dengan keras, dan merasakan sesuatu yang mengeras dibagian celananya, namun tertutupi dengan kepanikan serta pacu jantungnya yang tidak stabil."Oh demi Valar!,"

Dipihak lain Shadi baru saja sampai diujung Lorong, sembari masih menahan sakit-kuping gara-gara Stella. Sembari membawa baju ganti untuk Sakura dari madam Elma, elfling muda itu hanya terdiam bingung memandangi sosok Legolas yang nampaknya pikiranya kemana-mana juga suram. Apa pangeran Elf tampan kita baik-baik saja?.

Sepertinya tidak :)

.

.

.

Selesai mengunakan Sakura baju, akhirnya baik Shadi dan Legolas diperbolekan masuk oleh Stella. Terlihat raut Sakura nampak terlihat segar setelah dibasuh air serta dibersihkan. "Kondisinya semakin baik,"Ucap Stella sembari tersenyum. "Hir nin? Bisa tolong gendong Kakak ini sebentar,"Ucap Stella tenang.

"Eh kenapa harus kugendong,"Tanya Legolas mengidik, sementara Stella memutar matanya kesal.

"Aku ingin membersihkan kasur!,"Ucap Stella dengan nada ngambek, lalu bertolak pinggang. "Atau sebaiknya aku akan memanggil ellon-perawat saja ya!? Supaya, kakak itu bisa diangkat dulu?!,"Ucap Stella mendengkus.

"Ku-Kurasa tak perlu aku bisa membantu kalian!,"Ucap Legolas cepat, Legolas langsung mengikuti titah elfling cilik tersebut. "Shadi kau bawakan kain-penganti aku mau pasang sprei baru,"Ucap Kakak kembarnya.

"Su-sudah disiapkan Stella,"Ucap Shadi panic mengambil Kain sprei baru, didalam laci. Sementara Legolas sedang menarik tubuh Sakura pelan-pelan dari kasur, lalu digendongan-nya dengan ala pengantin.

Deg!

Kedua Twins itu akhirnya memulai pekerjaanya dengan tenang, sementara disudut ruangan pacu-jantung Legolas berdetak tak-terkendali. Bagaimana tidak Pangeran Elf tampan itu berusaha untuk menahan wajahnya untuk tidak memerah dan menjaga topeng sikap dingin pada wajahnya, tak hancur begitu saja.

Tubuh Legolas saat ini, sedang dudu dikursi kamar dipojok ruangan, dan Sakura nampak diletakan diatas pangkuanya, kepala Sakura sengaja disandarkan didada bidang milik Legolas, lalu tangan ellon tampan itu tengah memeluk pinggang Sakura agar tak jatuh kesamping.

"Stella aku akan menyapu bagian itu, bisakah kau mengeser kakimu?!,"Tanya Shadi mulai menyapu ujung kamar dengan serius.

"Baiklah,"Ucap Stella mulai naik kekasur untuk melipat selimut. Sementara kedua twins nampak fokus membersikan ruangan dan saat ini Legolas nampak sibuk dengan pikiranya sendiri.

Legolas memandang gadis itu dengan perasaan cemas, meski para tabib mengatakan kondisi gadis itu semakin baik, namun tubuhnya terlihat semakin kurus, namun meski begitu kecantikan alaminya tak bosan untuk dipandang, rambut pink-nya yang halus, membuat Legolas nyaman-nyaman saja membiarkan tubuh ringan manusia dipangkuanya ini selama berjam-jam. Dengkuran-pelanya seolah sebuah suara melody yang tenang serta nyaman dikuping Legolas. akan tetapi bagai mana ia bisa menghentikan desiran aneh dihatinya.

"Egh!..," Hembusan-hembusan hangat tiba-tiba berhembus kewajah tampan Legolas, bersamaan pergerakan tubuh Sakura, yang mengeliat pelan dipangkuanya, membuat Legolas merasakan spot-jantung secara tiba-tiba, membuat ia membeku seketika. Kuping tajam para elfing twins muda nampak peka dan keduanya memandang keposisi Legolas dan Sakura.

Sorot mata hijau indah gadis itu mulai terbuka, dengan kesadaran serta auranya yang kilauan hidup yang nampak terlihat, memandang penuh kekosong layaknya boneka maknekin yang mulai bergerak seperti kisah dongeng-dongeng pengatar tidur anak-anak.

Sakura haruno mulai terbangun dari mimpi, lalu menatap kosong, sorot mata Pangeran elf tunggal kerajaan Greendwooddengan pandangan tak terbaca memandang kenyataan.

[Bersambung]

[Jumat - 5 - Mei - 2017]