The Pandora of Memory
[Mata yang Kosong]
"Baiklah nona, biarkan kami memeriksamu dan katakan segala-nya dengan jujur,"Ucap Lady Eva seorang elleth cantik, berambut pirang lurus, mengenakan gaun putih yang merupakan assisten Lady Hayara yang menjadi salah satu, tiga ellent cantik nampak terlihat disamping kasur Sakura. Disana ada Lady Hayara, Eva, dan Kia, yang ditugas untuk memeriksa sekaligus mengintrogasi Sakura sebelum, gadis bersurai pink itu akan dibawa dihadapan Raja. Sementara Legolas, Stella dan Shadi duduk ditempat duduk pojok kasur dalam keadaan diam. "Kau mengerti," Tanyanya lagi memastikan.
Hening
Sakura hanya memandang dengan pandangan polos, serta kosong seolah hanya ada tubuh-nya disana bukan jiwa-nya, ia terlihat seperti boneka pintar yang bergerak mengikuti intrupsi seseorang. "Umm,"Dengkusnya mengangguk-lemah.
"Ah baiklah, mari kita cek!,"Lady Hayara ellent cantik paling tua, berambut pirang ikal, lalu mengenakan dress hijau kini mengetuk-ngetuk sebuah map gulungan dengan pena bulu ditanganya. "Siapa nama-mu Dear?,"memandang Gadis itu tenang.
"Sakura...Haruno,"Jawab Sakura datar. Sementara semua ellent hanya mengangguk serius. Entah kenapa hawa disekitar Sakura nampak begitu dingin, seolah ada dinding pembatas antara mereka dan Sakura."Ba-Baiklah beri aku alasan mengapa kau berada didekat perbatasan kami kala itu,"Ucap Hayara kembali.
"Perbatasan...Aku tak tahu,"Ucapnya datar, Sakura sembari memijat keningnya, lalu memalingkan matanya beberapa kali pada Legolas dan Kedua Twins, ia tak henti-hentinya memandang ketiganya (Terutama pada Legolas) sejak Sakura bangun lalu menemukan dirinya dipangkuan Legolas, ia selalu memandang Legolas dengan artian : Tak terbaca.
"Haah kau tak mungkin jalan sembari menutup mata-kan?,"Desis Eva lagi menambah pertanyaan pada Sakura lalu menunduk sedih menatap tanganya, yang mencengkram ujung kain-sprai, sementara Legolas yang memandangnya dengan tatapan simpati juga perduli.
"Sudalah ia pasti akan mengatakan :Tidak tahu?,"Ucap Kia menaikan alisnya, ellent ketiga bernama Kia merupakan assisten Hayara, dia mengenakan gaun kuning-gading, berambut coklat muda, dan berombak-susun, diurai sepinggul mulai membuka suara. "Baiklah kalau begitu beri tahu kau berasal darimana,"Ucap Kia sembari menyilangkan tanganya didepan dada.
"Aku tidak tahu,"Ucap Sakura memandang datar, kali ini Sakura malah mengucapkan kata-kata yang sama, membuat ellent bernama Kia hanya mengeram kesal.
"Maaf nona jangan keras kepala, kami disini untuk menyembuhkan-mu,"Ucap Lady Kia mendengkus sebal menghadapi sifat datar, Sakura yang sedari tadi berbicara minim dan juga respon-nya sedikit.
"Kia!,"Ucap Eva memandang ketus pada Kia, tak lama, ia mengalihkan pada Hayara lalu berkata : "So fe Hareth-Nin Hayara (maafkan dia My Lady Hayara) lalu Hayara hanya mengangguk menatap Eva.
"Tenanglah Kia,"Ucap Hayara menenangkan Asistenya yang lebih mudah dari Eva.
"Tapi Hareth-Nin(My lady), tampaknya kita tak bisa menyuruhnya dengan halus,"Dengusnya memandang wajah-batu Sakura. "Sebaik-nya kita gunakan mantra pembaca ingatan, agar dia mengakui semua-nya,"Desis Kia. Lalu terlihat cahaya merah-indah muncul berbentuk seperti sebuah tulisan-tulisan yang tak dimengerti oleh Sakura, lalu cahaya itu didekatkan kekepala Sakura, netra biru milik Kia pelan-pelan tertutup lalu fokus mengorek informasi.
Beberapa menit kemudian. Kia membuka matanya dengan pandangan menyengit bingung. Membuat para Healer cantik ini jadi saling berpandang bingung serta sebelum membuka suara. "Bagaimana Wen-Kia(Lady Kia)? Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan,"Tanya Eva dan semua yang ada disana menatap dengan tatapan tegang dan elletn cantik itu mengeleng pelan.
"Setelahku baca paksa dengan mantra, Ingatanya tak ada! Aku tak bisa membaca apa-apa kecuali saat aku melihat, ia sadar dihutan dan menemukan anak~anak itu,"Desisnya mengerutu.
"Jadi benar dia tak ingat apa-apa?!,"Ucap Eva.
Semua pandangan kembali ke Sakura. Dan akhirnya ellon tampan satu-satunya diruangan itu membuka suara. "Artinya dia memang hilang ingatan?!,"Ucap Legolas. Membuat ketiga elleth itu terdiam dan mulutnya hanya ber 'O' ditempat lalu mengangguk. "Dan kurasa kita bisa memberinya waktu beradaptasi sampai ia bisa menghadap Adar,"Ucap Legolas. Lalu kedua Twins itu loncat dari kursi dengan ceria.
"Sepertinya kita akan mencari beberapa ellon atau ellent untuk menjaganya selama disini,"Ucap Eva tersenyum.
"Kurasa itu tidak perlu,"Ucap Shadi ceria.
"Eh?!"Sementara Lady Hayara dan Lady Kia saling berpandangan menatap elfling yang berkata tersebut.
"Kalau begitu Kakak Sakura bisa bersama kami,"Ucap Stella lalu mengenggam tangan kanan Sakura.
"Kami akan merawat kakak, serahkan saja pada kami berdua,"Ucap Shadi dengan pandangan berbinar lalu mengenggam tangan kirinya.
"Baiklah jika begitu nampaknya elfling-twins ini sangat menyukaimu Dear,"Ucap Hayara sembari tersenyum lalu mendekati Sakura, lalu membelai pipi gadis itu pelan dengan penuh-kelembutan, layaknya seperti seorang ibu keputrinya. "Kami bertiga juga akan saling bergantian untuk memeriksa kondisimu setiap harinya,"Ucap Hayara dan Sakura hanya mengangguk sebagai persetujuan.
.
.
.
[PAGI~NYA]
"Kak Sakura kenapa rambutnya pendek, kalau panjang pasti cantik sekali,"Ucap Shadi yang tengah menyisir rambut Sakura yang nampak duduk diatas kasur, dan Shadi dibelakang sembari mengenggam sebuah sisir, entah kenapa sejak Sakura bangun Shadi terus memainkan rambutnya dengan gemas, apa rambutnya seaneh itu?.
"Kak Sakura pakai ini, lalu ini?,"Pinta Stella sembari menyerahkan baju ganti pada Sakura, sebuah baju lengan panjang dan celana panjang berwarna biru. "Shadi kau jaga pintu ya, aku tak ingin masalah memalukan kemarin terulang lagi,"Ucap Stella.
"Masalah?,"Ucap Sakura dengan pandangan menyengit saat jemarinya mulai membuka kancing piamanya dihadapan Stella yang akan melepas pakaian, Sementara Shadi berbalik untuk menjaga pintu.
"Bu-Bukan apa-apa!,"Ucap Stella sembari memandang ceria, lalu menutup tirai jendela saat Sakura berganti pakaian, lalu mengintip serta menangkap-basah beberapa ellon perawat yang berada diluar kamar Sakura, selalu menatap diam-diam kearah kamar ini,(Note :Elf memiliki mata yang tajam dan dapat melihat sesuatu dari jarak jauh).
"Apa sudah selesai?!,"Tanya Shadi berbalik menatap Sakura yang sudah selesai berpakaian, dan Stella yang sudah menyiapkan sendal-tali untuk Sakura.
"Ayo kak kita keluar, aku mau mengajak ketaman terdekat sini banyak sesuatu yang indah untuk kutunjukan,"Ucap Stella senang lalu memandang Sakura dengan tatapan berbinar, lalu menarik Sakura pelan keluar ruangan kamarnya.
Sesampainya diluar Healer heaven Sakura di suguhi dengan pemandangan yang sangat indah luar biasa. Mungkin biasa peradaban Manusia nampak terlihat biasa saja. Contohnya : Gedung besar yang merupakan istana yang megah, rumah yang berderet-deret, pasar atau gedung-gedung pekerja. Namun disini berbeda dengan apa yang dilihat orang biasa. Karna baik rumah-rumah yang dihuni, lingkungan-lingkunganya, bahkan istananya nampak bersatu dengan lingkungan hutan serta alam yang asri. Rumah-rumah penduduk juga tak hanya terletak diatas tanah akan tetapi, dibangun dalam pohon-pohon besar yang menciptakan sebuah tempat tinggal lorong-lorong untuk ditinggali semua orang.
"Hei siapa yang kita temukan?,"Sebuah suara dari kerumunan berisi tiga ellon tampan nampak berjalan tak jauh didepan Stella, Sakura dan Shadi, dari pakaian yang dikenakan terlihat mereka kaum bangsawan.
"Sepertinya gosip itu benar, lihat dia memang manusia berambut aneh,"Sahut seorang ellon tampan berambut hitam ikal menunjuk seolah, menemukan Hewan langkah ditengah hutan.
"Apa helai dikepalanya hanya ilusi?!"Salah satu ellon tampan yang berambut coklat gelap, nampak melirik dengan tatapan aneh pada Sakura, dan membuat kedua Twins memandang ketiga ellon itu sinis. "Bisa jadi itu hanya mantra ilusi menjebak saja, biar Raja menorerir nyawanya,"Ucapnya.
"Maaf tolong jang-"Terdengar Stella mau berkata sesuatu namun langsung dipotong oleh lelaki berambut hitam datar.
"Jangan mencoba untuk melarang kami elfling! Kami lebih tua darimu serta lebih tinggi derajat kami darimu,"Desisnya tajam, sementara Raut wajah Sakura yang awalnya sedatar batu, langsung menunjukan raut menyengit.
"Bagaimana kita membuktikan saja!, tak ada ellent yang tak luluh pada kita,"Ucap sosok ellon berambut lurus, serta pirang maju sebagai yang paling berani dan merasa paling tampan dari kedua temanya, memandang dengan percaya-diri super tinggi.
Ia mendekati Sakura, perlahan-lahan lalu tersenyum setampan mungkin pada Sakura. Akan tetap tak-mendapat respont oleh Sakura, tak ada emosi apa-pun dirautnya, membuat sang ellon merasa tertantang menganggap Sakura manusia yang menarik, juga dari berbeda dengan ellent yang selama ini didapatkanya. Semua elleth biasanya akan menerima tatapanya serta memerah saat dipandang beberapa inci dari wajah tampan-nya, namun Sakura tak memberi tanggapan apa-pun hanya memandang dingin 'Tak Suka' Pada ellon dihadapanya "Findesselya vanya. Ci ya vain (rambutmu indah. Kau begitu cantik),"Seru ellon itu nampak mendekat lebih dengan senyuman paling memukau, memandang Sakura intens. Sembari tanganya dengan sengaja membelai surai pink itu.
TAK!
"Maaf tolong jaga jarakmu,"Desis Sakura lalu memukul-pelan tangan lelaki itu lalu menjauhkan jemari ellon itu dari kepalanya dengan raut datar, dan bergerak mendekati Stella dan Shadi. "Dan apa kau tak bisa menjaga bicaramu didepan anak-anak,"Ucap Sakura tajam, ia lalu menarik tangan Stella dan Shadi seolah meminta keduanya membawanya pergi.
Mendapat penolakan terang-terangan membuat mata biru ellon itu membulat Shock, sementara Stella dan Shadi lalu tampa aba-aba membawa Sakura meninggalkan tempat itu. Sementara kedua temanya juga melongo tak percaya dengan apa yang terjadi. Kaum Elf yang biasa-nya dianggap sebagai Kaum yang sempurna ketampanan-kecantikan, kekuatan serta mahluk abadi yang dipuja-puja setiap kaum, hari ini mendapat penolakan yang langka sekali dari seorang wanita dan dia adalah manusia.
Setelah meninggalkan ellon tadi. Stella dan Shadi memutuskan menuju kearah taman desa yang tak jauh dari Healer-Heavend, dan akhirnya ketiganya memutuskan duduk bertiga dibangku taman. "Maafkan aku Kak! Andai aku tak mengusulkan kakak keluar bersama kami, kakak tak akan bermasalah dengan ellon tadi,"Ucap Stella terduduk dengan murung disamping Sakura.
"Tidak apa-apa!,"Sakura mengeleng dengan datar, serta menatap air mancur kecil ditaman itu.
"Semua salahku, aku ini Elf kasta rendah saja, yang salah-,"Ucap Stella dengan tatapan terisak. Membuat Sakura menghelah nafas.
"Stella Bolehkah kubertanya,"Tanya Sakura membuat elfling-perempuan itu mengangguk dengan tanda mengiyakan. "Mengapa kalian menolongku, bukankah aku hanya orang asing, dan aku ini rendah, kurasa kalian tak perlu terlalu perduli padaku"Jawab Sakura.
"Kakak ini bicara apa-sih!,"Bentak Stella sembari menempatkan tangan kecil-nya dipinggang lalu terlihat sedih. "Kalau disuruh tidak peduli maka kami tak bisa,"Kelu-nya lalu pandanganya berpaling ke Shadi.
"Kakak adalah orang menjadi penyelamat bagi hidup kami,"Ucap Shadi memiringkan kepalanya, menanggapi ucapan Stella yang nampak masih memandang sedih dan ikutan sedih.
"Maka dari itu!,"Ucap Sakura lalu bangkit dari kursi lalu memandang wajah kedua twins yang masih duduk, sembari berjongkok dengan satu kaki ditanah dan mengenggam kedua tangan mereka dikiri dan kanan Sakura, lalu seulas senyuman kecil nan tipis terukir disana. "Kalian tak perlu merasa jika akan membebaniku, jika itu semua demi menolongku, maka aku akan melakukan hal yang sama, jadi jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi tadi Stella,"Bisik Sakura, membuat Stella yang mendengar ucapanya, lalu bangkit dan menerjangnya.
DATS!
"Makasi kak Sakura, hueeeee!,"Ucapnya dengan nada kecil. Saat memeluk tubuh Sakura yang masih berjongkok membuat, Stella terlihat lebih tinggi. Dan melihat itu Shadi jadi ikut-ikutan memeluk Sakura.
Dibalik punggun Stella raut Sakura kembali tersiar datar sembari menghelah nafas, menginggat pertemuanya dengan sosok penyihir atau Dewa yang melakukan kontrak denganya, sebelum tubuh-nya ditarik dikesadaranya.
"Perjanjian selesai,"Ucap Shun tersenyum, sembari memandang wajah Sakura. "Kau bisa menghubungiku kapan saja, dan 50% tenagamu sudah kuterima, sebentar lagi kau bisa kembali pada tubuhmu,"Ucap Shun lalu melepas genggam tangan, lalu beralih mengelus surai pink Sakura. "Semua akan baik-baik saja, percayalah pada dirimu,"Ucapnya. Lalu turun mengelus pipinya Sakura, dan tersenyum ramah. "Carilah orang yang menurutmu pantas untuk dipercaya dan berbaurlah, mungkin sedikit demi sedikit itu akan mengembalikan ingatan yang kau cari my-dear,"Ucap Shun.
"Berbaur dan percaya,"Sakura berdesis dalam hati, bukan hal yang mudah baginya untuk percaya pada kaum Elf disekitarnya. Terbangun dengan kondisi hilang ingatan, dan tempat yang asing adalah sesuatu yang tak bisa diterima dengan mudah. Pertama ia menemukan dirinya di hutan Greendwood sendirian dengan kondisi terluka, lalu dia mendengar suara ketakutan dari sebuah tempat, lalu menemukan dua elfing terjebak pada laba-laba raksasa, lalu melakukan sebuah pengikatan jiwa sebagai pemegang kontrak ditangan seorang yang mengaku sebagai 'Dewa' dan berakhirnya dia disini.
"Kalau begitu ayo kita kembali keruangan, kakak butuh sarapan-kan?!,"Ucap Stella melepas pelukanya pada Sakura. Lalu menarik tangan Sakura lembut. "Biar pulikan tenaga kakak lebih cepat,"Ucap Stella.
"Terdengar menyenangkan! Aku akan mengambil makanan dengan porsi paling besar!,"Teriak Shadi lalu ikut melepas pelukanya pada Sakura. "Buat Kak Sakura juga!,"Ucapnya lalu menarik Sakura.
"Kau jangan Rakus Shadi! Mentang-mentang makanan Healing Heaven, gratis dan enak-enak,"Ucap Stella, mengerutu karna Shadi dan dirinya memang selalu mendapat makanan gratis selama menjaga saat Sakura koma.
Namun saat ketiga mereka akan segera kembali keruang rawat. Terlihat seorang ellent berambut merah-terang, lurus nampak mendekat dan mengenakan Tunic kesatria, berwarna hijau-coklat, nampak berbeda dengan ellent-ellent yang mengunakan dress dengan tampilan yang manis dengan sikap anggun, ellent ini berbeda di sangat krismatik, tegas, serta pancaran kuat dimata lentiknya. "Kau Sakura,"Dia berdesis.
"..."Sakura nampak mengangguk, sembari menatap datar sosok elleth didepanya. Membuat seulas senyuman dengkusan terlihat dari sang elletn.
"Seperti gosip, kau seperti manusia-boneka,"Ucapnya sembari mengeleng. "Namaku Tauriel aku adalah salah satu Komandan penjaga perbatasan,"Ucapnya memperkenalkan nama-nya ala kesatria.
"Sakura,"Jawab Sakura datar. Kepalanya dimiringkan seperti burung. Membuat Taurel berguma putus seperti : Sanggupkah kau menatapnya seperti itu. Sementara Twins hanya saling memandang bingung.
"Aku mau bilang jika The-King mau menemuimu?! Sekarang,"Ucap Tauriel datar. Dan tanggapan Sakura mengedipkan mata datar, sementara Twins yang mendengarkan membulat kaget, seolah akan ada pasukan Orc yang dalam beberapa menit lagi, siap memakan mereka berdua bulat-bulat. "Jadi kau harus ikut denganku,"Jawabnya.
"Baiklah.."Jawab Sakura datar, mata jade-nya lalu menunduk memandangi tanah dipijakinya, sementara Stella yang membaca pikiran Sakura, hanya melihat Jika Sakura hanya 'Penasaran dan masih ragu dalam menjawab pertanyaan' tampa ada 'Sesuatu Jahat 'Dipikiranya. Jadi Stella hanya mengenggam tangan Sakura dan tersenyum.
"Kakak Sakura semua akan baik-baik saja!,"Ucap Stella mengeratkan tanganya pada Tangan Sakura, dan beruasaha mengurusi perasaan cemasnya pada sosok kakak Pink-nya yang akan menghadap Raja. "Kami percaya kakak bukan Seorang-manusia yang jahat,"Bisiknya lalu pelan-pelan melepaskan gengaman tanganya dari Sakura.
.
.
.
Legolas berjalan tergesa-gesa dengan cepat layaknya seperti orang kerasukan roh. Ia bergegas cepat menuju ruang tahta dengan emosi yang naik-turun, kepanikan nampak terlihat samar diwajahnya, membuat para elf (ellent atau ellon) yang tak sengaja berpas-pasan didepan pangeran menyengit bingung, apa ada sesuatu yang bahaya di-perbatasan. Apa yang membuat Pangeran tampan nampak cemas dan tergesa-gesa begitu?.
BRAKS!
Legolas langsung masuk tampa aba-aba, mengabaikan kedua penjaga tampa salam formal seperti biasanya.
"Apa yang membuat rautmu seperti itu?, apa ada masalah denganmu,"Thranduil memandang dingin penuh kesan-angkuh diatas kursi tahtanya.
"Adar! Aku!,"Ucap Legolas mau berkata, namun belum menyelesaikan ucapanya, justru sumber kecemasanya sudah sampai didepan mata. "Demi Valar, Ini tak baik!,"Cicitnya dalam hati.
"Salam hormatku Yang-mulia,"Ucap Tauriel nampak membungkuk hormat. "Saya sudah membawa Sakura Haruno kesini,"Ucapnya tersenyum, meletakan tangan kanan-nya dada sebagai simbol-penghormatan. Sementara Sakura tak berkata apa-pun dan malah diam ditempat. Raut Legolas membeku saat melirik keberadaan Sakura yang memandang dengan raut tampa pancaran emosi, dan tingkah laku-nya nampaknya membuat mood-nya Adar terlihat tak baik.
"Aku cukup terkejut dengan sikapmu seperti batu, bahkan kau manusia yang menurut, paling buruk wahai perempuan manusia," Desis Thranduil yang masih berada diatas tahtanya, sembari menyilangkan kaki. Oke sang Elvenking Thranduil ada dihadapanmu.
Hening
"..."Sakura terdiam memandang sosok tenang. Sosok pria tegap, tinggi, gagah sekaligus indah dihadapanya. Rambut lurus pirang keperakan yang jatuh melewati bahunya, sorot mata biru nan dingin, seolah dapat membius siapa-pun yang menatap matanya, bibir tipis, hidung yang mancung dan raut yang tampan dapat membius elleth atau pun wanita-manusia, pasti mengilainya. Sakura menatap tenang serta kosong, menatap lelaki itu bangkit dari kursi tahtah-nya
Suara langkah tangga batu, bersamaan terdengar suara gesekan perlahan pada kain panjang pada jubahnya yang keperakan, bergerak dengan begitu anggun. Mendekati Sakura dengan tatapan misteri tak terbaca. "Dengarkan aku Manusia,"Ucap Thranduil dengan tatapan sinis terpancar dari sorot mata-tajamnya. "Apa yang ingin kau lakukan kemari, dan apa tujuanmu sebenarnya,"Desisnya rendah pada Sakura.
Sakura terdiam ditempat, dan memandang sorot tajam sang-Raja dengan tatapan datar, "Aku tidak tahu,"Ucap Sakura datar, pandangan sedih terlihat dari raut Sakura, bagaimana dia menjelaskan? Sementara dia sendiri juga mencari jawaban untuk semua itu.
"Pendusta!,"Desisnya Tajam memandang tajam. "Jangan berikan tatapan tegarmu atau kesedihanmu itu, karna mahluk sepertimu hanyalah Pendusta yang memiliki siasat Licik untuk sesuatu di wilayahku,"Bisiknya didepan wajah Sakura.
"Aku tak bisa berkata apa-pun dan itu bukan Dusta,"Ucap Sakura datar. Bola mata Sakura dengan memandang wajah Thranduil dengan tatapan berani.
"Kau manusia yang keras kepala,"Geram Thranduil menatap Sakura yang dirasanya sangat tak-sopan tak bisa berkata sedingin itu dihadapanya (pasalnyakan tak ada orang yang berani memandang Thranduil karna ia salah satu elf yang ditakuti).
"Aku tak bisa menjawab pertanyaan anda, karna aku juga ingin mengetahui-nya,"Ucap Sakura tak mau kalah, ia semakin menatap sorot ellon dihadapanya.
GRAB!
"ADAR!,"Hentakan Legolas mengema, Saat tangan kuat Raja langsung mengenggam kuat lengan Sakura, hingga berdarah keluar-dari sana dan menetes disekitar lengan tanganya, hingga kelantai. Tak ada yang tahu seberapa kuatnya tenaga ellon itu, mencengkram tangan gadis manusia itu, hingga bisa terdengar suara bunyi tulang patah. Mungkin baginya ancaman ini akan berguna bagi gadis dihadapanya akan mengakui segala perbuatanya.
"Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk menjawab,"Desisnya dengan seringai. "Dan jika kau mau mengaku maka aku akan membebaskanmu,"Ucapnya.
Sakura terdiam, tak henti-henti-nya ia memandang ellon agung itu dengan berani. Sorot mata penuh Kekosongan tetap tak berubah dari awal saat Sakura memandanginya, dengan nafas berat, raut dinginya juga tak luntur meski Lenganya dilukai dengan sangat parah. "Aku ingin mengetahui jawaban itu,"Jawab Sakura mulai terlihat merintih, dengan nafas memburu. "Apa yang harus kukatakan, aku bahkan tak ingat 'Aku ini apa',"Ungkapnya, akan tatapi ucapanya terdengar bukan diperuntuhkan untuk Raja, melainkan ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Adar kumohon, dia-,"Legolas berusaha memberi Ayahnya pengertian, sebelum masalah bertambah rumit. Kondisi ruang tahta yang nampak agung, berubah tegang dan tak ada yang mau bersuara, membuat keadaan menjadi sunyi dan dingin layaknya taman pemakaman.
SHER!
Bola mata Raja membulat kaget, menatap tiba-tiba sekumpulan cahaya Hijau mengeluar bagai cahaya api dari dalam luka lengan-Sakura, dengan cepat Raja menarik tanganya, namun terlambat cahaya hijau itu juga mulai masuk ketangan Raja, membuat Legolas tak bisa mengartikan tatapan Ayahnya saat ini, sampai ia mendengar gumaan Ayahnya yaitu. "Sihir... Penyembuh," Demi Valar ia tak bisa menutupi rasa kagetnya, jika Sakura memiliki kemampuan mengunakan Sihir ditubuhnya, ia jarang melihat kaum manusia memiliki kemampuan yang langkah karna punya karna ada batasan untuk melakukanya.
Merasa dipandang Sakura hanya terdiam ditempat, gadis Pink itu tahu seberapa-pun pertanyaan mereka ia hanya bisa menjawab 'Tidak Tahu' ia mencengkram lenganya yang terluka menunggu tindakan Raja dihadapanya selanjutnya, apa hidupnya akan berakhir disini, atau mati.
Jangan menyerah
Sebuah suara yang datang, langsung dari lubuk hatinya, serta memberinya harapan. Menunjukan bahwa mimpi saat Sakura bertemu Eras, adalah kenyataan dan tak main-main saat mengikat kontrak denganya.
Akan ada caramu untuk melewati masalah ini, serta melepaskan semua batasan-mu
Suara itu kembali bergema, dengan nada Serius. Membuat Sakura hanya terdiam. Bersamaan kilat mata Sakura memandang serius Raja dengan penuh keyakinan yang tak pudar.
Kuajarkan dirimu, merasakanya dan menginggatnya pelan-pelan kau tak perlu buru-buru, kau masih memiliki waktu.
Sakura memejamkan mata perlahan~perlahan api-hijau tak lagi hanya merambat lengan-nya yang dilukai oleh Raja dengan sengaja. Namun merambat memasuki pori-pori kulitnya yang lain, kesetiap sendinya, kesetiap tulangnya, kesetiap titik hidupnya, dan seluruhnya. Hal itu membuat Raja itu termudur beberapa langkah kebelakang, saat Aura itu nampak melebar seperti angin. Jauh kesekitarnya, seolah menembus udara, dan tubuh Sakura nampak bercahaya.
Bunga-bunga di dalam vas disisi. Setiap tiang ruang tahta yang mulai layu ikut terkena pancaran energi Hijau dari tubuh Sakura tiba-tiba segar kembali, hal itu membuat para elletn-elletn pelayan dan Tauriel tercengang, pada bunga itu seolah mereka mendapatkan nafas-baru untuk segar kembali. "Aku tak paham dengan mahluk apa dirimu ini,"Desis Thranduil menyengit.
"Yang mulia-,"Baru saja Tauriel ingin menyampaikan sesuatu, Thranduil mengangkat tanganya keatas, membuat Tauriel terdiam.
"GUARDS!,"Thranduil. "Tangkap Gadis-manusia ini dan taruh dipenjara,"Desisnya lalu berbalik meninggalkan Sakura, yang langsung akan digiring oleh dua ellon-berzirah yang akan menariknya pelan kepenjara. "Jaga dengan ketat dan tak ada yang boleh mengunjunginya, tampa izin dariku,"Desisnya.
"Adar! Aku mohon ini bisa kita bicarakan,"Ucap Legolas dengan wajah Panic. "Dia sedang sakit dan dia perlu perawatan,"Ucap Legolas.
"Jangan mencegahku Legolas,"Ucap Thranduil mengeram.
"Tapi Ad-"
"Ikut kami!,"Ucap Salah satu ellon, mengabaikan Pangeran dan Raja berdebat lalu, mendekati Sakura dan Sakura hanya menurut, tampa perlu diborgol atau diseret paksa, karna Gadis pink ini mengikuti intruksi dalam Diam.
Saat dimasukan dalam penjara, ia mendengarkan intruksi berupa seperti ancaman-basa-basi berupa : Jangan berharap kami melepaskanmu atau Jangan berisik, namun Sakura tak peduli akan hal itu. Sakura hanya memandang susunan batu-gua bawah tanah, dengan ukiran tangan yang dingin. Sakura lalu memutuskan duduk diatas sebuah bangku-batu disudut dalam diam. Sakura cukup bersyukur ia tak-menganti pakaianya. Menjadi pakaian-tahanan yang nampak begitu tipis, saat ia melihat beberapa tahanan dalam sell penjara saat ia lewat bersama penjaga tadi, Sekarang ia masih mengenakan bajunya yang berkain lumayan tebal yang digunakan di Healing heaven. Membuat gadis menghelah nafas, ia merasa tak berdaya dengan kondisinya, disisi lain ia merasa sedih harus dipenjara namun memang tak tahu harus menjelaskan apa pada Raja kala-itu.
Merasa lelah memikirkan hal itu, membuat Sakura mendengkus pelan lalu berbaring datas tempat duduk panjang batu yang berdebu, untuk memutuskan tidur, rasanya gadis itu perlu mengisterahatkan pikiranya, baginya hari ini terlalu banyak hal yang terjadi. Bersamaan ia mendengar langkah-kaki terdengar menuju Sell-nya saat itu juga ia merasa bahwa rasa kantuk seolah melahapnya dengan dingin.
Bersama mantra-mantra aneh diluar Sell.
.
.
.
[Dream]
Sakura terdiam saat tampilan pandangan-nya bukan lagi berada diruangan sell penjara. Melainkan sebuah kawasan yang disebut 'Spryth' tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Shun no Eras. "Kuharap kau tak terlalu kaget jika aku membawa 'Jiwamu' ketempat ini,"Ucap Shun kini nampak berdiri tak jauh dari Sakura yang terbaring diatas rerumputan Gua Kristal. "Aku rasa kau akan bosan berada disana dalam waktu lama,"Ucapnya melirik Sakura.
"Lalu Anda membawa jiwaku kemari, Jadi ini bukan-lah mimpi,"Ucap Sakura mengubah posisi-nya menjadi duduk.
"Secara tehnik bisa dibilang Mimpi karna aku menarikmu kedimensi ini dalam keadaan kau tertidur, namun ada perbedaan,"Ucap lelaki itu tersenyum charming, ia nampak mendekati Sakura sembari berjongkok menyelaraskan tingginya dan tubuh Sakura. Lalu tangan lelaki itu lalu membelai surai-pink Sakura dengan lembut. "Apa-pun aktifitas yang kau lakukan ditempat ini akan berpengaruh besar pada tubuh aslimu, baik buah-buahan yang kau makan, sesuatu yang kau lakukan, semua-nya bukan-lah ilusi," Desis Shun.
"Dan jika aku mati ditempat ini!,"Ucap Sakura memastikan, sembari memiringkan kepala.
"Maka kau akan mati,"Ucap Shun lalu melirik beberapa orb warna-warni terbang mendekati mereka. Lalu melepaskan tanganya pada rambut Sakura, lalu memdudukan bokongnya disamping lalu duduk santai disamping Sakura. "Makanya tempat ini adalah kenyataan, aku memang membawa-mu, atau lebih tepatnya Jiwa-mu,"Ucap Shun, mulai bermain dengan orb-orb (io) yang terbang didepanya, meminta perhatianya.
"Lalu kekuatan yang mengeluar pada tubuhku waktu itu?!,"Desis Sakura menatap Shun datar, sembari menatap Io biru yang nampak terbang mengelilingi pinggang-nya.
"Salah satu Kekuatan dari dalam dirimu, yang kau miliki dan muncul secara alami untuk melindungmu, dan sekitarmu,"Ucap Shun.
"Kau mengetahuinya,"
"Apa kau lupa jika, aku sudah mengikat kontrak denganmu?! Aku bisa menyaksikan apa-pun dan merasakan segala yang kau rasakan tentang dirimu,"Ucap Shun. "Bukankah kau sudah memberiku 'Mahar 50% tenagamu, itu tak gratis bukan,"Ucap Shun ter-kikik lembut.
"Aku tahu! Tapi bisa jelaskan mengapa perawatku, tak bisa membaca ingatanku saat bertemu dengan anda,"Ucap Sakura, melirik Shun.
"Dia tak akan membacanya,"Desis Shun datar. Lelaki itu memandang langit-langit gua kristal yang terang sembari menghelah nafas. "Hanya Penyihir atau dewa tertentu saja yang bisa melacak keberadaanku!, ikatan kontrak-ku bukan main-main seorang elf kuat saja tak cukup bisa menembus serta membaca ingatan kontrak kita,"Ucapnya.
"Elf?!,"Desis Sakura kebingungan. Mengingat sosok mereka agak persis manusia dengan telinga agak runcing, meski sebenarnya Sakura tak perduli soal itu.
"Dunia ini memiliki beberapa Kaum ras yang ada di dunia Middle-earth yang ia saat ini kau berada,"Ucapnya.
"Middle-earth?,"Desis Sakura.
"Ya akan kujelaskan sedikit tentang itu. Simak baik-baik apa yang kusampaikan ini,"Ucapnya dan Sakura hanya mengangguk, membuat Shun tersenyum manis."Baiklah! Pada awalnya jauh ribuan tahun sebelum berbagai ras terbentuk. Eru (Yang Esa atau kuasa), di dalam bahasa Peri dikenal dengan Iluvatar menciptakan Ainur dari buah pikirannya; lalu memerintahkan mereka memainkan tembang musik dihadapannya.
"Tembang...Musik?!,"Sakura menatap bingung. Dengan sedikit pertanyaan-pertanyaan dengan Sabar Shun menjelaskan segala hal yang tak diketahui oleh Sakura. Layaknya seorang Ayah Shun menjelaskan secara gampang mengenai pembentukan didunia, juga legenda-legenda terciptanya para Ras yang ada di Middle-earth meski Sakura tak begitu memahaminya, Shun Yakin informasi ini bisa membantu gadis bersurai pink-nya untuk berbaur akan lingkungan, atau siap mental, menatap mahluk apa saja yang akan ditemuinya nanti.
"Lalu bagaimana kau bisa mengetahui segala terperinci tentang Middle-earth,"Tanya Sakura.
"Buku dan kehidupan-mengajarkan semua itu Sakura,"Ucap Shun ia memandang sosok Sakura yang menatapnya polos. "Pengalaman adalah guru yang paling berharga,"Ucapnya.
"Anda begitu dewasa untuk penampilan, yang terlihat yang muda, apakah usia ini tak terlalu keliatan aneh,"Ucap Sakura datar.
"Kau menyadarinya!, hebat juga,"Ucap Shun tersenyum sembari membelai kepala-Sakura. "Bisa dibilang seorang mahluk abadi seperti kaum Elf, namun aku bukan kaum itu,"Ucap Shun memandang datar, ada raut kesedihan dibalik tatapanya, dan Sakura mengetahui itu. "Juga aku bukan bagian dari Middle-earth?." "Sejatinya keberadaanku berbeda dengan dimensi dimana kau berada sekarang, untuk itu aku memberimu sebuah pilihan untuk dimaharkan"Jelasnya.
"Lalu andai kau bukan dari Middle-earth lalu darimana tempatmu berasal!?,"Ucap Sakura menatap Shun.
"Suatu saat aku akan memberi tahumu, tapi tidak sekarang!,"Ucapnya tersenyum sebelum berkata. "Sakura tubuhmu mulai memudar sudah saatnya kau kembali ketubuhmu,"Ucap Shun memandang Sakura.
Gadis itu terdiam saat melihat perlahan tubuhnya, serta kesadaranya mulai menghilang sepenuhnya, diganti sesuatu yang mengelapkan semua penglihatanya. "Semoga beruntung My litte pink,"Guma Shun saat gadis itu menghilang sepenuhnya.
.
.
.
Suara besi nampak terdengar keras, suara pantulan langkah kaki penjaga terdengar muncul dari dinding. Bola mata Sakura terbuka perlahan namun dia masih terlalu mengantuk untuk bangkit dari bangku-panjang, dan merasakan kehangatan sesuatu yang membalut tubuhnya, hingga tetap hangat.
Mata Jadenya akhirnya terbuka sedikit. Dan sebenarnya tak ada yang aneh dengan sekitarnya, dia tetap ada dalam Sell Penjara yang mengurungnya semalam, namun yang berbeda adalah ia menemukan sebuah Jubah abu-abu hangat yang nampak berkelas, nampak menutupi tubuhnya sebagai selimut.
Mata Sakura menyengit bingung, mencengkaram ujung kain Jubah, tersebut siapa orang yang memasang jubah ini padanya saat ia tertidur. Tak lama ia nampak kaget saat suara langkah kaki mendekat mengarah disell Sakura. "Kau nampak terlihat baik Sakura,"Suara wanita nampak terdengar bersamaan siluet tak jauh dari ujung besi yang mengurungnya
"Kau?!,"
[Bersambung]
[]
.
[Bersambung]
[Selasa - 9 - Mei - 2017]
