The Pandora of Memory

[The Dwarf]

"Kau Tauriel,"Bisik Sakura, saat sosok yang ia tebaknya nampak tersenyum lalu memasuki Sell-nya sembari membawa sesuatu diatas nampan berupa makanan, juga ditemani seorang elletn pelayan yang membawa sebuah kotak. Yang ikut memasuki Sell-nya dan meletakan kotak itu dilantai.

"Tinggalkan kami berdua, Jaga pintu dan himpun penjaga untuk menjauh dari Sell ini selama beberapa menit,"Ucap Tauriel tegas, membuat elleth itu lalu membungkuk dengan anggun setelah itu meninggalkan keduanya.

"Mengapa anda bisa berada disini!,"Ucap Sakura menyengit. Saat sepeninggalan elleth tersebut, Tauriel nampak sibuk membuka kotak putih pemberian elleth tadi.

"Tanggalkan bajumu?!,"Jawabnya datar, lalu mengeluarkan beberapa perban-bersih, botol kecil salep berwarna-warni, kain bersih dan air-steril dalam sebuah bottol kaca khusus.

"Eh?!,"Sakura memandang bingung saat elleth-kesatria dihadapanya, menyuruhnya untuk melepaskan pakaianya dihadapanya.

"Kau tahu anak-anak itu panic, saat tahu kau berada dipenjara,"Ucap Tauriel, sembari tersenyum "Mereka berkata padaku jika kau masih memiliki Luka-dalam yang belum terlalu kering bagian perut."Ucapnya menyusun satu persatu botol dikotak, lalu membaca labelnya. "Mereka memohon aku memasangkan ini pada lukamu, saat aku mengunjungimu dipenjara, jadi kuputuskan membawakanmu obat saat waktu makanmu tiba,"Ucap Tauriel.

"..."Akhirnya Sakura membuka baju atas-nya satu-persatu dibagian tertentu, agar Sakura memperlihatkan punggung-nya yang tampa penghalang. "Luka diluarnya sudah hilang, tapi tetap kuberikan perban serta salep untuk, meredakan memar sendi-dalam,"Ucap Tauriel dengan focus menaruh salep serta perban pada punggung telanjang Sakura.

"Terimakasi kau sudah berbuat lebih pada tawanan penjara sepertiku,"Ucap Sakura datar, namun Tauriel tahu tak ada kesinisan sama-sekali dari bahasa Sakura.

"Mereka perduli padamu!,"Ucap Tauriel pada Sakura. "Mereka berusaha menyakin-kan hal ini padaku jika kau tidak salah,"Ucap Tauriel.

"..."Sakura Terdiam menatap dinding didepanya, terlihat Sakura menghelah nafasnya beberapa kali. "Taurel aku mau tanya?!,"Ucap Sakura datar.

"Ya?!,"Ucap Tauriel melirik gadis itu, rupanya elleth kesatria itu mulai nampak ramah saat insident diruang tahta.

"Apa kau adalah orang yang memasuki sell-ku sebelumnya?!"Ucap Sakura, dan ungkapan itu membuat Tauriel menyengit, perlahan tangan-nya, berhenti bergerak mengoles obat dipunggung Sakura.

"Tidak aku baru masuk hari ini!,"Ucapnya menyengit. "Orang lain yang boleh menyentuh sell ini sesuai perintah raja dan baru aku yang mengunjungimu,"Ucap Tauriel membuat Sakura terdiam.

Jika bukan milik Tauriel, lantas jubah itu milik Siapa?!

Sakura terdiam, pandangan penuh tanda-tanya terlihat samar diraut wajahnya, sementara Tauriel juga nampak memperhatikan jubah yang tergeletak diatas kursi-batu, dipinggir tembok dengan tatapan serius. Setelah selesai menganti perban milik Sakura, Tauriel meninggalkan Sakura sendirian dalam Penjara lalu meminta gadis pink itu untuk makan-makanan yang diberikan.

Sepeninggalan Tauriel, Sakura terdiam hanya memandangi makananya dengan tatapan jenuh, ia lalu mengalihkan pandanganya pada jubah misterius. Bau nampak tertinggal disana, namun Sakura merasa Yakin jika jubah itu sempat dikenakan oleh seseorang, sebelum dipasangkan diatas tubuhnya yang tertidur.

Aroma harum yang khas seperti dinginya angin, serta aroma kelembapan hutan-hujan alami nampak tercium disana.

Sakura terdiam lalu bangkit menarik Jubah itu ditanganya lalu mengenakanya sebagai Jaket penghangat lalu memakan sarapanya tenang, seolah tak memikirkan apa-pun.

.

.

.

Siang berganti malam, tak ada bedanya dalam penjara, membuat Sakura banyak menghabiskan waktu untuk tidur dibangku-batu yang keras, sehingga ia merasa punggungnya sakit-sakit. Beberapa kali saat ia tertidur, ia juga dibawa Shun ketempatnya dan mengajak-nya bicara, Sakura juga mencoba berlatih sedikit cara memasuki alam milik Shun tampa perlu dipanggil, agar dia ia bisa kesana dan datang semaunya.

Netra Jadenya memandang pengawal yang nampak berganti formasi, mereka nampak berlalu-lalang dengan tatapan dingin, diam-diam dilayangkanya pada Sakura. Namun seperti biasa Sakura sudah mulai membiasakan dirinya dilingkungan Penjara selama hampir dua hari ini, andai jika diluar sudah berganti malam. "Seperti kemarin kau selalu terdiam, seperti ini tak seperti para napi yang nampak meronta-ronta ingin dilepaskan,"Ucap ellon berambut hitam sembari berdiri tak jauh dari Sell Sakura.

"Kau siapa?!,"Tanya Sakura dengan tatapan datar, Sakura bangkit dari bangku-batunya lalu melirik ellon tampan itu.

"Namaku adalah Cappu, salah satu pengawal,"Ucapnya melayangkan senyuman ceria, berbeda dengan beberapa ellon pengawal yang tadi mondar-mandir serta menatapnya tajam. "Kebetulan aku baru saja berjaga hari ini,"Ucapnya. "Siapa namamu,"Ucapnya.

"Sakura,"Jawab Sakura Singkat padat dan jelas. Dia menatap punggung tegap ellon itu, sembari mengeratkan jubah ketubuhnya. "Mengapa kau menyapaku! Bukankah aku ini aneh,"Ucap Sakura datar.

"Ya kau benar,"Terdengar dengusan rendah, dari ellon dihadapan sell-nya. "Akan tetapi tak-ada masalah kau dan aku ngobrol sebentar, apa kau tak bosan hampir dua hari mendekam disitu, hanya tidur, makan atau tak-bicara?,"Ucapnya.

"Kau mengawasiku?!,"Ucap Sakura menyengit.

"Yup! Masih lebih baik mengawasi dari pada dianggap aneh, ya seperti itu,"Ucap Cappu sembari disudut bibirnya. "Saat aku akan kesini, aku mendengar perdebatan tentangmu diruang tahta,"Ucap Cappu, sesaat ia mengatakan itu dia teringat kembali kejadian saat ia melihat kejadian itu.

.

.

,

[Author POV]

Hari ini adalah pergantian patroli, setiap seminggu sekali para pengawal disetiap Divisi akan di-roling untuk berganti wilayah untuk menjaga perbatasan dan penjara-bawah tanah. Dan Cappu juga salah satunya pengawal yang pindah waktu jaga, karna beberapa minggu ini, Cappu menjaga dibagian perbatasan. "Pekejaan yang bagus!,"Sebuah suara yang ditujukan Pada Cappu yang nampak terdengar tepat dibelakangnya. Ellon berambut hitam ber-ombak itu menghelah nafas datar, saat berbalik menatap Farren sosok ellon berambut hitam, dengan tunic gading kini, nampak berdiri lalu nampak akan pindah dari Penjaga Penjara dan mulai besok ia akan berjaga diperbatasan.

"O Band Farren (Dipenjara Farren) ,"Ucap Cappu memutar mata, dan menghelah nafas, sembari memandangnya kesal, jujur saja Cappu lebih suka berjaga diperbatasan ketimbang penjara.

"Le Ruth? (kau marah?),"Ucapnya sembari mengeleng kecil. "Seperti anak kecil saja,"Ucapnya lalu mengucek rambut Cappu, membuat ellon yang digoda cemberut, melihat itu ellon bernama Farren nampak tertawa. "Kalau begitu pergilah,"Ucapnya sembari melambaikan tangan menjauh.

Mendengar ucapan itu Cappu hanya menghelah nafas pasrah, dan kembali ke desa. Ia berpikir akan membersikan rumah-nya dulu sebelum langsung ke tugas penjara. Namun sebelum itu dia harus menghadap keistana untuk membicarakan laporan aktifitas perbatasan, serta keanehan beberapa hari ini.

Beberapa portal Sihir nampak terlihat berbekas dihutan Greendwood beberapa hari ini, seseolah ada orang yang mengaktifkan dengan sengaja, lalu aktifitas Orc yang nampak sering mengintai diluar perbatasan seolah menunggu sesuatu, memancing banyak pertanyaan.

Sebenarnya bukan tugas dia yang membawa laporanya itu, (bahkan pangkatnya tak setinggi itu untuk membawa laporan) melainkan komandan perbatasan yaitu Sir Trea, namun karna beliau sibuk diperbatasan meminta, salah satu dari anak buah-nya untuk mengantarkan laporan itu keistana, dan Cappu-lah ellon pilihanya.

Dengan membawa kertas laporan, Cappu nampak mengerutu kesal dalam hati. Karna tugas Sir Trea memaksanya mengubah jatwal pekerjaanya di Desa. Ia berjalan pelahan memasuki area kerajaan dengan tatapan datar, melakukan beberapa langkah serta penghormatan formal memasuki istana serta tetekbengek disana, ya memang seperti itu-lah memasuki istana kau tak akan bisa melangkahkan kaki semaumu, apa lagi statusmu yang rendah.

"Astaga berapa lantai atau belokan lorong lagi yang harus kulewati!,"Cappu memandang tak sabar, ellon tampan satu ini, meruntuki nasipnya pada selembar-kertas laporan(?), sebenarnya Cappu ini ellon yang aktif, serta menyukai exploring, akan tetapi meski sudah menjadi pengawal dan sudah mondar-mandir keistana sejak beratus-ratus tahun, ia tetap tak menyukai area istana, terutama lorong(?) Entahlah mungkin dikehidupan masa-lampaunya dia mengalami trauma dengan lorong siapa yang tahu.

"Aku rasa anda harus memberi ketetapan akan masalah ini,"Ucap Sebuah suara, saat Chappu memandang sebuah pintu yang terbuka, dan itu Ruang dewan."Ini adalah hal berbahaya yang mungkin akan dibawah oleh gadis-manusia itu?!,"Desisnya dengan datar.

"Sebaiknya kita menyiksanya lebih dari ini, agar ia mengakui semua perbuatanya,"Ucap salah satu dewan, yang nampaknya sudah memikirkan ratusan cara penyiksaan yang bagus serta menyakitkan, untuk gadis manusia itu.

"Benar Lagi pula dia hanya manusia, dan undang-undang kita mutlak disini,"Seru anggota dewan nampak berseru, membuat Cappu yang dibalik pintu membulatkan matanya bosan. "Anda harus melakukan pencegahan untuk mengurangi bahaya ditanah kita Yang-mulia,"Ucapnya.

"Kita hanya membunuh satu manusia tuanku, hanya Satu tak ada yang aneh untuk itu!,"Ucap lainya datar.

"Sertakan alasanmu,"Jawab Tranduil menatap tajam, sang anggota dewan yang mengusulkan untuk membunuhnya.

"Bukankah sehari lalu anda dan, sebagian dari kalian lihat kejadian, diruang tahta dimana gadis aneh itu, dengan kekuatanya itu, dia bukan manusia biasa,"Ucapnya datar.

"Dasar Rasis?,"Mood Cappu nampak jelek, dan ingin melangkah pergi dari sana segera. Sejujurnya ucapan para Dewan membuatnya jijik, meski hidup dan dibesarkan tak dekat dengan kaum Edain, seperti manusia, metode membunuh atau mengeksekusi bukanlah hal yang tepat, bukankah mereka bisa mencari letak kesalahan, sebelum anggota Dewan itu mulai menyiapkan ratusan cara exekusi mati bagi wanita itu.

"Jika saya boleh memberi pendapat!,"Suara derit bangku terdengar pelan membuat, Cappu terdiam ditempat ia yakin itu adalah Suara pangeran Legolas.

"Lanjutkan Io-in,"Jawab Thanduil mempersilahkan, Legolas mengemukakan pendapatnya.

"Jika ia mendapatkan pelanggaran seperti itu bukankah kita, memberi dia waktu atau harus kita mencari tahu dulu apa dia bersalah atau tidak, dan tujuan dia ditanah ini,"Ucap Legolas terdengar tenang.

"Anda terlalu baik Pangeran Legolas!,"Ucap seorang Dewan terdengar sinis.

"...,"Legolas terdiam mendengarnya, mungkin benar bisa saja Sakura adalah musuh, tak menutup kemungkinan itu benar, dari semua hal itu mungkin bisa terjadi, namun jika pendapat mereka salah dan melakukan sesuatu yang buruk pada Sakura apa Eru sang pencipta mau memaafkan perbuatan mereka, Elf memang ras yang tercipta dengan kaun yang terbilang indah, juga keabadian. Akan tetapi mereka juga punya sesuatu yang dimiliki oleh setiap ras didunia ini kegelapan hati.

"Tapi aku harap kalian mau memberikan kesempatan, karna kondisinya yang hilang ingatan,"Ucap Legolas datar.

Sepanjang argumen, yang dicuri pendengaran oleh Cappu. Ia bisa mendengar dengan jelas Legolas terus berusaha membela gadis itu, dari tiang hukuman mati. Cappu juga mengintip sedikit melirik dimana sosok duduk diruang-dewan. Terilihat ellon tampan itu nampak berdiri tenang, dan sabar mencoba sebisanya menjauhkan topik masalah itu dari Gadis itu, Raut Legolas nampak terlihat biasa saja, namun Cappu tahu jika kondisi Legolas nampak terlihat tertekan, ada rasa takut, lelah, terbebani, kekawatiran serta berbagai emosi yang meluap dari pancaran matanya.

Cappu terdiam setelah memandang wajah Legolas, sembari menatap senduh, pantas saja ia tak melihat Legolas latihan memanah kemarin. Segitu istimewa-kah gadis itu sampai seorang Pangeran Greenwood dari Mikiword membelanya, Cappu hanya bisa berguma dalam hati.

Kau gadis yang beruntung!

.

.

.

Cappu lalu berhenti berhayal lalu menghela nafas datar, ia lalu menatap gadis dalam penjara sudah berganti posisi dari duduk-diatas balok kursi penjara, kini duduk dilantai dekat Jeruji. "Hei Cappu?,"Panggil Sakura datar.

"Mum?!,"Ucap Cappu merespont dengan datar, namun matanya masih menatap kedepan, dan berjaga.

"Apakah aku akan mati?!,"Desis Sakura datar, mata hijaunya memandang punggung Cappu membelakanginya, dan ia sedang berdiri.

"Mengapa kau bisa mengatakan soal kematian dengan mudah?!,"Bisik Cappu dengan pandangan menyengit. "Apa kau sudah menyerah,"Ucapnya berbalik sempurna memandang Sakura.

"Aku tak menyerah untuk hidup,"Jawab Sakura datar, ia menatap mata-hitam Cappu tegas. "Aku hanya tak yakin bagaimana menjawab pertanyaan mereka jika aku sendiri tak bisa menjawab,"Ucap Sakura lemah.

Sebuah helaian nafas, berat tertahan ditenggorokan, Cappu lalu berjalan mendekati Sell tampa lalu memasukan tanganya kecela jeruji. Lalu mengarahkan tanganya keatas surai rambut pink Sakura, lalu tatapanya memandang dengan tatapan tenang." Ten Gei olamin Ru da cua (Semua akan baik-baik saja),"Bisiknya didepan jeruji, sementara Sakura hanya memandang wajah Cappu membuat ellon tampan itu tersenyum penuh arti.

"LEPASKAN KAMI ELF SIALAN!,"

Sontrak teriakan kasar terdengar, membumbung memantul dinding batu penjara, membuat Sakura dan Cappu menyengit. Sakura memandang bingung, sementara Cappu melepaskan tanganya lalu kembali berdiri menjadi sigap-pengawal. Suara langkah kaki terdengar begitu kasar, dan begitu banyak dari bawah, membuat Cappu hanya memasang muka datar, membuat alisnya terangkat sebelah.

Mata Sakura lalu menatap beberapa pasukan berseragam hijau, yang membawa mahluk dengan tubuh lebih pendek seperti anak-anak, namun Sakura yakin jika sosok itu sangat jauh dari kata anak-anak, melihat otot-otot mereka yang kekar, atau rambut mereka yang panjang dan memiliki janggut, serta raut yang dewasa menandakan mereka bukan anak-anak lagi.

DUARK

Sell Sakura terbuka, bersamaan salah satu mahluk itu ditendang paksa, dan mahluk langsung tersungkur, kesakitan menabrak dinding penjara yang keras, ia meringkuk tak elitnya. Di-dekat Sakura, membuat gadis itu menatap dengan pandangann seperti anak kecil yang baru melihat hal yang baru, datar dan Polos.

Legolas membulatkan matanya, menatap seorang elleth-kesatria telah memasukan salah-satu kaum Dwarf 'Kurcaci' kedalam sell penjara Sakura, demi Valar, hatinya tak ikhlas jika salah satu Dwarf itu mencemari gadis itu, sungguh dia tak bisa merelakanya. Hal itu bahkan membuatnya mondar-mandir untuk melihat kondisi Sakura. Gadis bersurai pink itu nampak membantu Dwarf itu bangkit serta tidak segan-segan menepuk debu yang menempel ditubuh Dwarf, meski raut Sakura mencerminkan sisi Datarnya nampak tersiar jelas, Dwarf itu nyaman dengan sosok Sakura yang terlihat bak Dewi yang mau memperhatikanya.

Sementara Cappu tetap berdiri ditempat, sambil menghelah nafas, ia tak menyapa sang pangeran sama-sekali. Tauriel nampak bebicara dengan salah satu Dwarf dan Legolas tak menyukainya, dan mengatainya Pencuri atau Jelek, hal itu membuat Cappu menghelah nafas, semoga para Kurcaci itu bisa tenang agar ia tak perlu menyumbat telinga Elf-nya dengan akar daun, dimalam jaga pertamanya dan akhirnya Cappu memutuskan pindah tempat menjaga bagian sayap atas gerbang dan meninggalkan sell yang dipenuhi dengan kawanan heboh yang layaknya pemandu-sorak.

"Te-Terimakasi Nona!,"Ucap Dwarf itu nampak terlihat canggung menatap Sakura, yang nampak tak segan membantunya, serta menepuk-nepuk tubuh berpasir sang Dwarf, sungguh baik gadis itu.

"Sakura Haruno, kau tak perlu memanggilku Nona!,"Ucap Sakura datar. Sembari menghembuskan nafas, lalu Sakura berbalik mendengar sesuatu dari teriakan sell-sell lain yang nampak ribut, agar mereka dibebaskan, membuat dirinya tak bisa tidur dengan bebas malam ini.

"Namaku Gloin,"Jawabnya sembari tersenyum menatap Sakura, sebenarnya kami tak sengaja memasuki wilayah ini, dan kami ingin ke suatu tempat. Kami tiba-tiba diserang oleh kawanan laba-laba,setelah itu ditemukan oleh mereka, tapi mahluk-mahluk ramping itu mengatai kami pencuri!,"Ucapanya kesal terdengar dari kata-katanya Sakura yakin dialah karakter bersuara paling keras yang didengarnya tadi saat memasuki mereka, tempat ini.

"..."Sakura terdiam matanya malah sibuk melihat-saja dan kupingnya mendengar keributan dipenjara sekitarnya, yang nampak berisik membuat kuping Sakura agak sakit.

"Kau tak ingin memberitahu, maaf jika aku memaksamu,"Ucapnya dengan tatapan miris penuh penyesalan.

"Bukan,"Sakura hanya mengeleng-pelan wajahnya nampak ditekuk, memandang ubin berpasir dibawahnya, lalu mengepalkan kedua tanganya.

"Eh,"Sementara mahluk didepanya hanya berguma bingung, sembari menunggu gadis itu yang nampak berpikir, mencari bahasa yang tepat, untuk menceritakan apa yang ia rasakan saat ini. Lalu Sakura hanya menghelah nafas dan mulai bercerita.

"Bukan itu sebenarnya, aku juga tersesat hingga masuk kewilayah ini dan mirisnya aku kehilangan ingatanku,"Ucap Sakura menundukan wajahnya. "Nampaknya Raja tempat ini marah, karna aku tak bisa menjelaskan apa-pun padanya dan karna tak puas ia memasukanku kedalam penjara,"Ucap Sakura apa adanya.

"Maafkan aku, aku justru memaksamu menyatakan hal ini,"Ucapnya memandang sedih. Raut kedewasaan dihadapan Sakura hanya menatap iba dan penuh dengan simpati. "Jahat sekali mereka memperlakukanmu, padahal kau hilang ingatan,"Ucapnya sinis menatap luar jeruji.

"Ahg!,"Tiba-tiba Rasa sakit dikepala Sakura muncul membuat gadis itu menekik rendah penuh kesakitan, Membuat Dwarf didepanya merasa panic lalu mendekat mengenggam bahu Sakura, mengabaikan keributan diluar sel padahal biasanya dia paling ribut diantara semuanya.

"Kau baik-baik saja Sakura!,"Tanyanya Lalu membantu Sakura untuk duduk diatas batu-panjang. "Jika memang sangat sakit berbaring-lah nak dan tidurlah aku tak akan menganggumu,"Ucapnya dengan tatapan simpati, pada raut datar serta polos yang Sakura berikan.

"Aku baik-baik saja! Terimakasi sudah menghawatirkan aku,"Ucapnya tersenyum-tipis pada Gloin, membuat Pria Dwarf itu tersenyum. gadis-muda, bersurai unik, yang kehilangan ingatan, tampa siapa-siapa yang bisa dipercaya, serta dipenjara membuat Gloin simpati, serta tatapan polos Sakura mengingatkanya dengan putranya, hingga sikap kasarnya dapat diredam sementara waktu, sembari mengenggam kuat sebuah kalung besi berisi sebuah gambar istri dan anaknya. "Beristirahatlah juga aku tak keberatan jika berbagi tempat diatas kursi,"Ucap Sakura tersenyum tipis.

"Kau terlalu baik nak!, aku tidak apa-apa, aku akan tidur dibawah kau tenang saja,"Ucap Gloin heboh, dan tergagap berandai-andai memiliki putri seperti anak didepanya mungkin Gloin tak keberatan membawanya ketanah Kurcaci dan mengangkatnya menjadi putri angkat.

"Tanganmu?,"Bisik Sakura menatap gurat-gurat halus yang nampak membiru disana. "Mungkin saja saat jatuh tadi,"Ucapnya.

"Sepertinya begitu,"Ucapnya menghelah nafas.

"Kemarikan tanganmu Gloin,"Pinta Sakura membuat Kurcaci tua itu, hanya memandang bingung lalu Sakura tersenyum, saat Gloin mengikuti apa yang Sakura inginkan, Dwarf memberikan tanganya lalu, Sakura meremas lembut jemari milik Dwarf, dan mengeluarkan cahaya kehijauan pendar membuat mata Gloin membulatkan kaget.

"S-Sakura apa yang kau lakukan,"Tanyanya mengabaikan apa yang dibicarakan teman-temanya diluar, dan Fokus pada Sakura saja. "Apakah itu Sihir Penyembuh?!,"Ucapnya berbisik.

"Aku tak tahu kekuatan macam apa yang ku punya ini,"Ucap Sakura datar, bersamaan pancaran cahaya hijau mulai memudar, dan luka Gloin menghilang secara perlahan. "Sejak aku menyadarinya, kekuatan ini seolah telah mendarah daging pada tubuhku, dan aku tahu cara mengunakanya,"Ucap Sakura menundukan kepalanya.

"Kau tahu nak?!,"Ucap Gloin, sembari rengangkan otot lenganya yang sembuh secara ajaib. "Ada Pembahasan yang kupernah dengar tentang manusia,"Ucapnya membuat Sakura merapikan posisi duduknya, dan menatap Gloin dalam-dalam. "Manusia memiliki tiga Ingatan selama dia hidup,"Ujarnya menatap Sakura. "Ingatan 'Kenangan', Ingatan 'Tubuh' dan Ingatan 'Emosi',"Ucapnya.

"Kenangan, Tubuh, Emosi,"Ucap Sakura menatap datar.

"Ingatan Kenangan adalah memori, yang kau simpan dari kau lahir sampai kau mati, Ingatan Tubuh adalah Gerakan-gerakan yang kau latih diluar kepala sampai tubuhmu sendiri mengingat, dan terakhir adalah 'Emosi' Yaitu Sikap seperti apa yang melekat padamu selama masih hidup,"Jelasnya tersenyum. Gloin tahu berceramah bukan keahlianya karena sikap kasarnya yang besar namun, ia merasa entah kenapa Gadis dihadapanya bisa menenagkan-nya.

"….Mungkin saja!,"Bisik Sakura tersenyum. Lalu menatap pergelangan tangan. "Aku harap apa yang anda katakan itu benar,"Bisik Sakura terdengar bergetar, membuat Gloin lalu membelai rambut Sakura.

"Jangan menyerah, semua akan baik-baik saja"Ucapnya.

"Terimakasi Gloin,"

.

.

.

Sakura nampak tertidur diatas bangku-panjang, suara-suara ricuh dari suara para Kurcaci nampak sudah tak terdengar, entah mereka tertidur atau apa, suara Dengkuran Gloin nampak terdengar ditanah berpasir penjara, namun jiwanya sudah pergi kealam mimpi.

Sayangku? Bangunlah Sayangku!

Sebuah suara terdengar, nampak diperuntuhkan untuk Sakura, membuat Sakura mengeliat tak nyaman dipembaringanya, suara itu semakin besar memenuhi kepalanya membuat Sakura meringis-pelan mengenggam kepalanya, Itu pasti bukan Suara Shun, karna terdengar bernada anggun, dan suara itu terdengar milik seorang wanita.

Sebentar lagi pilihan-hidupmu akan berjalan

Sakura membuka matanya kaget, Debaran jantungnya nampak terdengar cepat, tubuhnya terasa nyeri tampa sebab, Ia meringis sakit dalam diam sampai setetes air matanya turun tampa sebab, dan Gadis itu hanya bisa mencengkram jubah depanya tampa suara.

Jangan Takut Sayangku, Tenanglah

Kau tahu, Aku akan Selalu mengawasimu

Berkahku selalu Menyertaimu, Kau pantas mendapatkanya

Bisiknya lembut, Seolah menenangkan Sakura. Membuat Gadis itu hanya memandang kelangit-kelangit berbatu diatas kepalanya, sembari menunggu suara itu kembali terdengar. "Siapa kamu?,"Ucap Sakura dalam Hati.

Kita akan bertemu lagi nanti My Dear!

Dan saat itu tiba, apa-pun yang terjadi jangan-lah menyerah

Bisikan perlahan menghilang lalu membuat Sakura bangkit dari tempat duduknya secara perlahan, matanya terfokus pada suara bisik-bisik tak jauh dari sell-nya, lalu melangkah perlahan mencoba tak membangunkan Gloin disampingnya dan sedang mendengkur keras.

"Aku seperti mendengar keributan diatas? Apa ada pesta,"Sakura melirik tak jauh dari sosok Kurcaci yang nampak terpenjara berbicara dengan seorang Elf-kesatria, yang nampaknya tak menyadari dirinya, bahwa Sakura yang nampak menjadi penengar diam-diam dan rupanya Elf Kestria itu Tauriel.

"Itu Pesta Merethan Gilith, Pesta Cahaya bintang, sebagai Simbol Cahaya suci bagi kaum kami, Bangsa Eldar,"Ucapnya dengan senyuman, membuat Sakura sedikit terpanah, aura elleth itu nampak bercahaya berbeda dengan sebelum elleth itu menemui Sakura disell-nya. "Dan Para peri sangat menyukai Cahaya bintang,"Ucapnya lagi.

"Dulu yang terpikir bagiku, Cahaya bintang itu dingin,"Guma Kurcaci itu menatap mata-dalam Tauriel. "Begitu Jauh, begitu terpencil,"Bisiknya, membuat Tauriel berbalik menatap sosok wajah Kurcaci itu.

"Kau tahu Mereka itu adalah kenangan, yang begitu berharga serta murni,"Ucapnya mendekati sell menyiratkan sorot penuh arti pada Kurcaci itu. "Layaknya Janjimu,"Lalu Menyerahkan sebuah batu kecil yang tak diketahui itu apa oleh Sakura.

"Kau tahu?,"Bisik Tauriel lagi. "Terkadang aku terkadang pergi keluar sana, menyusuri hutan malam hari, lalu memandang dunia yang mulai memudar setelah itu. Cahaya putih mulai menghiasi angkasa,"Ucapnya sembari tersenyum, tampa keraguan membatasinya, dan bagi Sakura wajah Tauriel terlihat indah.

"Kau tahu? Aku pernah melihatnya sekali sebuah warna yang indah melebihi Mawar diatas Dunland, sangat besar dan berwarna keemasan, dan mewarnai langit. Saat itu kami mengawal barang dan sekaligus berdagang. Menyusuri jalan setapak, berute hijau-selatan, disana terdapat sebuah gunung disebelah rombongan kami, Sebuah cahaya muncul dari sana indah yang sangat besar, menerangi jalan kami kuharap suatu saat aku bisa menunjukanya padamu,"Ucapnya

Sakuara mendengkus saat ia merasa waktunya tidur kembali kebangku-nya, namun Mata Jade Sakura menemukan, sosok Legolas berdiri tak jauh dari Tauriel, dan Kurcaci itu, dan ellon itu juga memandang mata Sakura penuh arti, dengan bibirnya bergerak-gerak mengatakan sesuatu pada Sakura, namun ia tak bisa mendengarkan apa yang dikatakan sang ellon padanya, mata mereka terputuskan saat Legolas berbalik begitu saja.

.

.

.

"Hai kak!,"Sosok pemuda manis, berambut hitam, dengan tinggi 168, bertubuh ramping mengunakan jacket hoodie putih, bawahan jins biru-longgar, serta sepatu bots, datang sambari mengenggam sebuah sabit raksasa, dibahunya nampak berjalan santai keluar dari portal dimensi lain, sembari membuka Hoddie-putihnya lalu tersenyum hangat pada Shun. "Sudah ribuan tahun kita tak bertemu kau masih tetap sama tak berubah,"Ucap anak itu tersenyum manis.

"Lama tak jumpa Naoto Sailea,"Ucap Shun nampak datar, menatap kedatangan pemuda-bersabit. Dan masih sibuk dengan para orbs-orbs warna-warni yang nampak melayang disekitarnya. "Kau bahkan tak terlihat berubah masih saja seperti anak-anak!,"Ucap Shun mendengkus, membuat Naoto meringis.

"Aku benci formalitasmu,"Sembur Naoto lalu berjalan duduk disalah satu Kristal padat dan menyilangkan kaki. "Aku mau tidur disini selama beberapa waktu, setelah itu aku akan berburu lagi,"Ucapnya sembari meletakan Sabit miliknya disebelah kakinya. "Oh-ya Seseorang menitipkan ini padaku, untukmu,"Ucapnya sembari tersenyum mengeluarkan sesuatu kotak hitam disaku miliknya.

"Untuku?,"Tanya Shun melirik datar, menatap kotak yang nampak melayang dari tangan Naoto, dan bergerak menuju Shun dan langsung diterima Shun. "Terimakasi,"Ucapnya menghembus nafas, memandang kotak hitam yang dua-kali lebih besar dari tanganya.

"Tidak kau buka?,"Tanya Naoto melirik benda itu.

"Umm…Nanti saja,"Ucap Shun menghelah nafas lalu mengenggam benda itu didadanya.

"Saat aku mulai berpetualang ratusan tahun lalu, aku mendengar beberapa Dewa mencarimu, namun mereka kesulitan menemukanmu serta tempat ini,"Ucap Naoto menghembuskan nafas perlahan.

"…"Shun terdiam mendengarnya, lalu berkata. "Mereka tak akan menemukan tempat ini, dan aku juga tak tertarik untuk kembali. dimensi ini diperuntunkan untuk orang-orang tertentu dan masuk sesuai kehendaku,"Ucap Shun menghelah nafas.

"Aku tahu Kak! Lagi-pula menyandang nama Dewa membuatmu tak terlihat lebih-bahagia, kau lebih bahagia sekarang, aku melihat kebebasan dimatamu,"Ucap Naoto tersenyum.

"Kebebasan,"Shun memiringkan kepala lalu tersenyum. "Kehidupan iblismu juga semakin bebas saja, dari ratusan-tahun,"Ucap Shun bangkit mendekati Naoto dan duduk disalah satu Kristal padat tak jauh dari Naoto. "Dan nampaknya Auramu semakin kuat saja,"Ucapnya.

"Bagiku ini adalah pujian yang menyenangkan, Terimakasi kak tidaknya aku bukan Iblis yang suka mencari ribut, dan membuat masalah,"Ucapnya terkikik manis.

"Apa yang kau inginkan kali ini, kau tak hanya datang, untuk tidur-tiduran bukan,"Jawab Shun datar. "Atau kuberikan hadiah karna aku kesini repot-repot membawakan aku ini!,"Ucapnya menagkat kotak ditanganya.

"Hei-hei jangan langsung begitu, tak menyenangkan kak,"Gerutu Naoto kesal, ia menatap Shun yang hanya tersenyum melihat sifat Naoto, dengan sifatnya. "Meskipun itu benar biarkan aku isterahat disini beberapa menit,"Balasnya Cetus.

"Baiklah,"Ucap Shun lalu bangkit dari atas batu dan membuka portal menuju tempat lain.

"Mau kemana Kak!,"Panggil Naoto langsung bangkit dari tempatnya.

"Mau isterahat sebentar,"Ucapnya lalu berjalan melalui portal-tipis, seperti lapisan embun berwarna biru-air.

"AKU IKUT!,"Ucap Naoto langsung loncat, dari tempat duduknya dengan cepat lalu berlari meninggalkan senjata-nya begitu saja, mengikuti Shun memasuki portal.

.

.

.

Suara ricuh terdengar memenuhi, area sell, membuat seketika Sakura terkaget dan terbangun mendapati para Dwarf berbondong-bondong meninggalkan sell karna seseorang berhasil menemukan kunci ruangan dan membebaskan semua tawanan. "Ada apa ini!,"Bisik Sakura.

Gloin langsung tersenyum, memandang Sakura yang bangkit dari rasa terkejutnya. "Kami akan pergi, dan bebas dari sini,"Ucapnya sembari mengulurkan tanganya. "Ikutlah bersama kami,"Ucapnya.

"Eh!,"Bola-mata Sakura membulat, membuat gadis itu terdiam, ia harus mengambil keputusan dalam waktu yang singkat, ia harus terima atau tidak keputusan tersebut. Sementara itu terdengar ucapan-ucapan kaget saat mendengar Gloin akan membawa tahanan lain, dan itu adalah seorang gadis.

.

.

.

"Cari mereka!,"Suara panic disertai suara langkah kaki terdengar gabut, menyusuri jalan kecil istana, kepanikan terjadi saat mendengar informasi bahwa kurcaci-kurcaci yang ditangkap beberapa jam yang lalu saat ini melarikan diri.

"Benarkah itu terjadi?,"Tanya Legolas menatap salah satu anak buahnya, ia ikut setengah berlari bersama Tauriel, dan para anak buah-nya, menuju penjara.

"Benar Hir nin bahkan gadis berambut merah-muda itu, juga ikut dibawa mereka!,"Ucap sang anak buah. Dan seketika ucapan itu membuat detakan jantung Legolas seolah berhenti sesaat. Ia mengepalkan jarinya kuat sampai memutih, lalu kakinya langsung membawanya melesat cepat menuju penjara Greenlan. Sesuai informasi bahwa sell yang mereka tempati telah kosong, namun Legolas ia tak perduli dengan deretan sell yang didiami para kuracaci nista itu, baginya adalah menuju sell milik Sakura.

Legolas menahan nafasnya dengan kuat saat sampai didepan pintu sell Sakura yang kosong melompong, yang tersisah hanyalah jubah yang dipakai Sakura selama dua-hari ini, tergeletak diatas bangku-batu. Legolas berjalan mengambil Jubah-hitam itu, lalu mendekapnya didadanya."CARI MEREKA, PASTI BELUM JAUH!,"Teriakan Tauriel, pergi lebih dulu meninggalkan Legolas sendirian di sell tersebut, karna elleth itu tahu Legolas menyusul sebentar lagi.

Sepeninggalan Tauriel, Cappu nampak mendengkus dan bersandar disamping pintu penjara, tak ada siapa-pun selain mereka berdua disana, ellon itu mendengkus lalu berguma serius. "Ayo anda juga pasti tak mau kehilangan jejak bukan, jubah itu bisa diambil nanti tapi kalau dia pergi bersama para Kurcaci itu, aku tak yakin anda akan menemukanya lagi,"Ucap Cappu datar lalu berjalan pelan meninggalkan Legolas dari sana.

"Kau benar,"Ucap Legolas lalu bangkit mengikuti Cappu dari belakang, menyusul Tauriel serta anak buahnya.

[Bersambung]

[Sabtu 3 Juni 2017]

Note : Halo semuanya Lightning Shun kembali lagi! Terimakasi untuk kalian yang udah bersedia membaca cerita ini (^_^) Thehehe.

Ya sebenarnya udah 'Telat' beberapa hari tapi Author ingin mengucapkan 'Selamat Menjalankan Ibadah Puasa' Bagi kamu yang menjalankan, maaf author baru bisa mengepost cerita ini karna alasan Kesehatan author sedang menurun dan juga problem dunia nyata semakin memadat, membuat saya sentolop pelan-pelan oke segitu dulu untuk part kali ini sampai jumpa lagi dipart-part selanjutnya Bye-Bye.