The Pandora of Memory
Aku sudah pernah merasakan bagaimana tanpa sosok mereka, meski sesaat saja, serasa kesepian adalah milik utuh disaatku sendiri.
Aku tak menyangka hal ini,"Ucap Legolas dengan pandangan gusar, badanya bergerak mondar-mandir diruang perapian-pribadinya namun ia tak sendiri disana dia bersama Sakura, Shadi/Stella dan Cappu dalam keheningan. lantaran gara-gara mendengar ucapan Cappu ditaman ruang peristirahtan soal kepergian Tauriel tadi. Legolas saat itu memutuskan untuk segera melakukan pengejaran akan tetapi pihak istana melarang keras para Elf Greendwood keluar dari hutan, perihal masalah penyerangan para Orc kemarin. Dan Saat meminta langsung pada sang Raja Legolas juga mendapatkan penolakan yang tegas dengan alasan demi keamananya sebagai seorang pangeran.
"Bukan hanya kau kami juga merasa ini adalah masalah untuk komandan Tuanku," Guma Cappu mendengkus memandang Legolas dengan desaan napas yang berhembus secara pelan. "Aku rasa aku punya sedikit ide gagasan jika anda mau mendengar,"Ucap Cappu dan Legolas mempelototinya dengan cepat.
"Apa itu?,"Ucap Legolas.
[Beberapa jam kemudian]
Suara langkah kaki terdengar samar, melewati jalan curam menuju area jalan bawah tanah penjara, lorong itu nampak curam tampa penghalang membuat semua orang bisa melihat seberapa tingginya mereka ditempat mereka berada. dua sosok bertudung hitam melewati jalan dengan tenang dengan waspada. Hari itu jalur jembatan serta sekitarnya menyepi karna sudah waktu pergantian jaga.
"Apa anda yakin?,"Tanya salah satu pengguna tudung itu mengangkat kepalanya, menunjukan wajah Sakura haruno sipemeran utama yang ternyata berada dibalik tudung itu, dan pemakai tudung yang diekorinya adalah pangeran elf tampan kita sodara-sodara Legolas Greenleaf.
"Ya, kurasa cara ini tak buruk juga, diwaktu dimana matahari pagi sedikit meredup maka pergantian shiff jaga akan dilakukan,"Ucap Legolas menghelah nafas bergerak pelan mentatap sekeliling.
"..."Sakura terdiam datar, matanya memandang sekeliling dimana jalan ini tak asing sama sekali. ia ingat tempat ini adalah jalan yang mirip saat ia dilewatinya saat bersama para Darwh ketika mereka mencoba kabur dari istana waktu itu.
"Aku datang,"Ucap Legolas menguma pelan. ia berhenti dan berdiri didepan dinding berbatu dan mengetuknya beberapa kali, membuat Sakura menyengit bingung. namun siapa sangka terdapat sebuah pintu rahasia dibaliknya saat sebuah pintu dinding nampak terbuka pelan dihadapanya.
"Masuklah sebelum penjaga baru datang untuk berganti Shif,"Bersamaan dengan munculnya Cappu dari balik batu yang merupakan pintu rahasia yang tergeser sedikit diantara dinding lorong.
"Baiklah,"Ucap Legolas berguma sekaligus mengangguk, lalu menarik tangan Sakura memasuki pintu bersamaan Cappu yang berjalan keluar pintu, tak lupa ia menyerahkan obor tampa berkata apa-pun dan pintu tertutup dengan rapat tanpa cela.
"ini,"Desis Sakura menatap sekeliling sangat gelap. Bagaikan lorong gelap tampa ujung. Dan tak tahu sampai dimana ujungnya.
"Ini adalah ruangan aman yang biasa digunakan sebagai pintu pelarian bagi keluarga kerajaan, bisa juga digunakan sebagai jalur membawa masyarakat dibilik bawah tanah,"Desis Legolas tenang suaranya nampak lebih besar dari sebelumnya, tanganya satunya mengenggam obor, dan satu lagi mengengam tangan Sakura, yang terus mengikuti tampa berkata apa-pun.
"..."
"Sebenarnya Hanya keluarga kerajaan yang mengetahui sela-sela lorong ini, Namun Cappu dan beberapa rekanku adalah pengecualian,"Ucap Legolas terus berbicara, entah kenapa dia jadi sangat bisa berbicara selancar ini dengan seseorang, disisi lain ia menemukan ketenangan ini disisi gadis ini dan tak ingin melepasnya.
"Kita segera sampai, lalu keluar dari Tempat ini yang mengarah keluar dari sisi dinding melewati perbatasan istana,"Ucap Legolas senantiasa mengenggam tangan Sakura.
"Aku mendengar air,"Guma Sakura lalu menatap kearah Legolas dengan pandangan polos.
"Kita berada di trowongan dan diatas kita adalah arus aliran air sungai yang mengarah keluar istana,"Ucap Legolas merincingkan mata, ia melepaskan gandengan Sakura menatap jalan buntu dihadapanya yang nampaknya tak ada pintu sama sekali. "Sakura pegang ini untuku,"Ucap Legolas menyerahkan obor itu ke Sakura. Ia lalu bergerak kesamping dinding dan menemukan sebuah pipa obor dinding besi dan menarik tuas agar batu besar itu bergeser dari tempatnya.
BREEEK...TREEEK...BREEK
Perlahan pintu itu bergerak sedikit demi sedikit, memperlihatkan cahaya senja yang memasuki ruangan dan Legolas kembali tersenyum lalu mengarahkan tanganya mengandeng tangan Sakura sembari berkata. "Ayo kita pergi pintunya segera tertutup lagi,"Ucap Legolas.
"Hmmm...,"Sakura bergerak lebih cepat mengikuti Legolas, sebelum pintu batu itu kembali menyatu dengan dinding. Sakura mengerjabkan matanya saat keluar dari trowongan bawah tanah, sampailah dia disebuah area dipinggiran sungai dengan batu batu besar, tak jauh dari hutan Greenwod ternyata memang benar mereka sudah diluar area Greenwood.
"Masih baru,"Cicit Legolas menatap bangkai orc dengan kondisi mengenaskan, dengan bekas tebasan brutal dibagian sisi badanya yang terkoyak dengan senjata tajam. "Tauriel pasti melewati tempat ini, kita harus bergegas mencarinya,"Ucap Legolas bergerak lebih dulu menyisir area sungai dan yang terdapat bangkai - bangkai orc yang masih baru.
"Tauriel yang lakukan ini,"Desis Sakura, netra hijaunya menatap sekitar yang tercium bangkai segar disekitar sana.
"Mereka pantas mendapatkanya,"Desis Legolas menatap, penuh dengan muak pada bangkai orc, bahkan menendang salah satu bangkai kepala orc yang tak sengaja tergelinding di kakinya. "Mahluk ras rendah ini pantas mendapatkan, semua ini,"Ucap Legolas dengan pandangan penuh kemurkaan dan dendam kesumat yang mendalam.
Sakura terdiam memandang sekitar, ia merasakan berbagai aura dan sekitarnya berupa bulat-bulatan, dengan berbagai warna, mengingatkanya dengan tempat sang penyihir.
"Mengapa aku bisa melihat para Io, inikan dunia nyata bukan mimpi?,"Desis Sakura dalam hati.
"Sakura,"Panggil Legolas mendekat matanya memandang gadis itu lekat, membuat bahu sakura menegang dan mengeleng mengisyaratkan mereka bergerak, dan Legolas yang memimpin jalan melewati hulu sungai. "Aku melihat jejak-jejak pertarungan mengarah kesini,"Ucap Legolas.
"Anda sangat perhatian dengan Nona Tauriel,"Ucap Sakura tampa sadar ia menatap kearah punggung bidang itu bergerak, namun Legolas terdiam saat Sakura mengatakan itu, apa jangan-jangan ia menyinggung Sang pangeran.
"Kami hidup dibawa hutan bersama sejak kami kecil, baik aku dan dia bisa mengetahui sifat masing - masing, aku menyayanginya dan Adar juga begitu,"Ucap Legolas dengan pandang kesal. "Tapu melihat dia bertindak seperti ini aku tak bisa membiarkanya,"Ucapnya Lagi.
PARK!
Mata Sakura terbelalak kaget saat sebuah kapak besar nyaris saja menyabetnya, kalau saja tubuhnya reflex mundur kebelakang, sementara Legolas menghindar kekiri, Bersamaan dua Orc berukuran sedang berlari kearah mereka, membuat keduanya harus bersiaga. Legolas menarik anak panah dan menyambut Orc yang siap menerkam mereka, lalu membidik jantungnya.
Tazt!
Serangan itu berhasil diarahkan. akan tetapi hanya berhasil menumbangkan satu orc saja, sedangkan satunya berlari kencang dan siap menerjang Legolas, jika sebuah kapak melayang tepat Kekepala Orc dan Sakura yang melemparnya. sepertinya gadis itu cukup akurat melempar sesuatu dengan timmingnya.
Mata Legolas nampak menatap kehadiran sesuatu di dekatnya, dan ia melirik cepat kedepan sembari mengancungkan bidikan panahnya yang disambut oleh orang itu dengan bidikan juga.
"Aku tahu kau pasti datang,"Ucap Tauriel nampak berdiri menatap Legolas dan menurunkan bidikan panahnya dan lalu menatap Sakura yang hanya diam tak berkomentar akan apa-pun, gadis bersurai merah itu nampak memperhatikan sekeliling yang menjadi bentangan bangkai orc dan juga laba-laba, terdapat darah dimana-mana aliran air-pun yang sebelumnya mengalir jerni keanak-sungai, berubah keru bercampur darah.
Sakura menghembuskan nafas memandang sekitarnya, ia tak merasa takut atau jijik melihat sekitarnya, entah mungkin dimasa lalunya yang hilang, Sakura terbiasa melihat kejadian macam ini, membuat hatinya bertanya-tanya seperti apa masalalunya dulu, seperti apa keadaan dan seperti apa pembawaan-nya. Semua masih misteri yang hitam-putih diotaknya.
Baik Legolas dan Tauriel mulai berbicara, intinya Legolas kembali membujuk serta Tauriel agar kembali ke Greendwood, daripada meninggalkan tanah mereka.
Sakura memutuskan tak mendengar serius pembicaraan Legolas dan Tauriel matanya kembali melihat sekitar, mata hijaunya memandang orb-orb kecil warna-warni mengelilingi area itu, terasa sebuah pancaran kesedihan mengeluar dari orb-orb mereka terlihat indah namun kesepian.
salah satu orb kecil nampak mendekati Sakura, warnanya berwarna biru dan Sakura mengarahkan tanganya, dan tau-tau orbs itu berada ditelapak tanganya dan diam disitu.
[Nampaknya dia menyukaimu]
Sebuah suara familyar terdengar dari batin Sakura membuat gadis itu, menghelah nafas karna tahu siapa yang memasang koneksi dengan batinya begitu saja, dan ini pasti Shun.
'Kenapa terasa adanya kesedihan dari orbs-orbs ini?' Sakura memandang sekitar, sebelum ia memandang langit yang menandakan siang akan datang. 'Ini hawa yang berbeda dari orbs-orbs yang kulihat ditempatmu'
[Mereka adalah korban jiwa-jiwa manusia yang terbunuh akibat Laba-Laba Ungloliat pemukiman yang ada dibawah hutan peri] Jelasnya lalu terdengar suara menghelah nafas dari Shun.
'Terasa menyedihkan, Rasa sangat sepi' Desis Sakura dengan raut lugu, muka datar yang sebelumnya terpasang diwajahnya berubah murung secara drastis.
Nē
(hei kamu)
DEG
Tiba-tiba Percakapan batin Sakura dan Shun terputus begitu saja, Sakura mendengar suara seseorang dalam dirinya seperti suara dirinya sendiri.
Anata ga megasameta sonohi o oboete imasu ka?
(apakah kau ingat di hari itu kau terbangun?)
Konran
(Kekalutan)
Kodoku
(Kesendirian)
Zetsubo kara kakusei suru.
(Dan serta keputusasaan)
Sakura terdiam mendengar ucapan kekepalanya, membuat jantungnya terasa sakit membuat ia diam-diam mencengkram baju depanya dalam diam, rasanya seperti tertusuk-tusuk secara perlahan.
'S-siapa' Sakura berguma pelan sebelum merasakan kemunculan nyeri pada kepalanya dan ia langsung mencengkram rambut kepalanya menahan sakit.
"Sakura,"Pergerakan Sakura yang Terlihat aneh, membuat Legolas langsung berlari mendekati gadis itu dengan Khawatir dan disampingnya Tauriel nampak turut mendekati memandanginya.
LIBRARY ROOM
Sementara di Sebuah ruangan yang tenang dengan ornamen kayu nampak terlihat disekitar yang berupa perpustakaan, bau dingin manis kayu terasa sangat nyaman dihirup dan menenangkan, ruangan dilengkapi sebuah sederhana, sebuah rak buku, rak baju dan juga beberapa atribut nampak terbuat dari kayu membuat kesan sederhana si pemilik ruang.
Seorang lelaki berambut panjang hitam nampak tengah duduk disebuah sofa sandaran panjang dengan lapisan bludru berwarna merah delima, dan menikmati susu coklat panas dalam cangkir berwarna kream ditanganya.
'Sepertinya sudah dimulai' Desisnya menghelah nafas.
Tok-Tok-Tok
Sebuah ketukan halus nampak terdengar pelan dari luar ruangan. membuat pria itu tersadar dari lamunanya. ia menghelah nafas lalu dengan malas ia memperbaiki posisi duduknya dan berkata. "Ia, masuklah Noir,"Ucapnya datar.
pintu terbuka pelan menampilkan pemuda jangkung, berambut merah spik nampak mengenakan tux hitam dan begitu formal memasuki ruangan dengan pelan, lalu menatap pemilik kamar yang masih bersantai seolah tak perduli denganya. "Shun. Kita harus bicara,"Ucapnya datar sembari matanya menatap datar Noir.
"Silahkan,"Ucap Shun masih menikmatai minuman hangatnya yang nyaman.
"Baiklah..."Ucap Noir dengan datar lalu duduk diatas kursi diseblahnya tampa sopan santun sama sekali. "Wanita itu sudah memberikan maharnya,"Ucap Noir menghelah nafas lalu mengeluarkan sebuah api besar berpijar membentuk sebuah kotak abu-abu.
Ia lalu menyerahkan pada Shun. Lalu pria berambut panjang itu membukanya menemukan batu hijau itu didalamnya, yang membuat Shun menyengit dengan sinis. "Wanita itu benar-benar serius,"Desis Shun memandang batu hijau yang memancarkan aura mistis tersebut.
"Jadi bagaimana Shun?!,"Tanya Noir menyengitkan alisnya serius dan datar menunggu kepastian Shun.
"Mari kita lihat saja nanti,"Ucap Shun sebelum ia kembali meminum minumanya dengan santai matanya masih menatap batu energi itu.
[Bersambung]
[Jumat-19-january-2018]
