The Pandora of Memory
Kau seperti dirinya!
Tapi kau bukan dirinya!
Kau dia (Hatinya)
Tapi kau berbeda!?
Kau bukan Tubuhnya!
Lalu kau apa?!
Apa kau adalah ibuku
Atau kau hanya
Tiruan
"Ayo Sakura,"Ucap Legolas.
"Baiklah tuan," Legolas bergerak lebih dulu mendekati Pemimpin Orc itu dengan emosi yang terlihat ingin meledak, hal ini membuat Sakura nampak tidak nyaman.
Mereka tampak mengejar Orc-besar itu yang nampak akan melarikan diri, namun keduanya dicegat oleh dua orc yang muncul dari persimpangan kiri dan kanan.
PRANG
Legolas nampak dengan lihai bergerak lalu menebas tubuh bagian atas mereka dengan sebuah pedang panjang, sementara Sakura tetap menyerang dengan kepalan tinju-panasnya saat mendapat cela melawan mereka, Legolas dan Sakura bahkan menciptakan banyak mayat bergelimpangan disekitarnya. "Tuan dia mau kabur,"Bersamaan bidikan lesatan anak panah yang megangumkan dari Legolas mencoba mengejar sang Orc.
"Dia menjauh!,"Sahut Sakura langsung, sebelum ia melihat Legolas mengejar dengan kuda.
"SAKURA!,"Ucap Legolas lalu menarik tangan Sakura untuk berkuda bersamanya, dengan cepat.
Mereka berlomba dengan angin
Mereka berlomba dengan Waktu
Hawa dingin menyeruak melewati punggung Sakura membuat gadis-boneka itu nampak tak bisa menyembunyikan tubuhnya yang rentan akan rasa dingin.
Aku tidak boleh runtuh sekarang..
Meski mantel tebal itu menyerap dingin mampu menjaganya, dari angin tapi bagaimana simbol kevanahanya melewati batas itu.
Kejar-mengejar mulai terjadi kecepatan kuda terus melaju, namun mereka kalah. Karna Sakura tak mampu melampaui batas tubuhnya, yang nyaris ambruk jatuh dari kuda. Dan Dengan nada penuh perhatian Legolas memilih berhenti untuk gadis yang berharganya lebih dari pada balas dendam pada ketua-orc yang dibencinya.
Kudanya berhenti disebuah area hutan diluar, Town dan ia memutuskan untuk menyandarkan tubuh Sakura yang mulai setengah tak sadarkan diri.
"Maafkan aku, aku selalu menjadi bebanmu, Tuan,"Ucap Sakura kecil saat Legolas membantunya bersandar. Disalah satu dahan pohon.
'Yis Shaa'
Suara dahan Pohon terdengar hanya Elf yang mampu mendengar suara mereka itu. Sakura pun mulai kehilangan kesadarannya.
'Tempat ini, tidak cocok bagi manusia, Anda tahu itu kan Elf'
"Aku mohon Lindungi kami, dengan dahanmu,"Ujar Legolas pada Dahan.
'Aku tidak bisa, kau bisa meminta pada para dahan dewasa membantumu, mereka mungkin bisa, aku masih terlalu muda,'
"..."
'Musim ini akan menjadi musim yang panjang, lihatlah teman-temanku yang lain mereka sama rentanya dengan aku, Jadi maaf jikalau aku tak bisa membantumu'
Mata Legolas menahan nafas lemah memandang kembali wajah Sakura yang mulai melihat juga bibirnya yang membiru, membuat hatinya dilanda kecemasan.
[KEMBALI]
[KE GREENDWOOD]
..." Cappu terdiam, ditempat saat dia dan dua-belas penjaga tengah di-introgasi oleh sang King Tranduli, perihal soal Komandan mereka juga sang pangeranya pula ikut pergi dari istana, masalah terlihat semakin besar saat King Tranduil dan seisi Wilayah tahu.
Semua orang berkata-tidak tahu soal kaburnya sang pangeran, mengejar Komandan Tauriel, begitu pula Cappu hanya diam tampa komentar. Akibat rasa bersalah nya karna membantu Legolas pergi dari istana, bagaimana pun dia tak bisa menolak permintaan Legolas.
Beliau akan mengantungku..
Thranduil memang adalah Raja yang kejam, dingin, mutlak namun disisi lainya dibalik topengnya beliau adalah Ellon, yang sangat penuh cinta kasih, baik pada kesetiaannya terhadap mendiang Ratu-nya dan juga curahan kasih sayangnya terhadap putranya.
"Kalian semua, pergi dari sini! Terkecuali Kau Cappu kita harus bicara,"Ucap Sang Raja menatap Cappu dengan tatapan datar.
Semua langsung pergi terbirit-birit mendengar perintah sang-Raja sementara Cappu hanya terdiam ditempat dengan menatap ubin dibawa kakinya. "Al gnoa dèq To Ende (Tentu kau tahu sesuatu soal ini),"Ucap Sang raja.
"Soal itu?,"Ucap Cappu membuang tatapan kearah lain. Hatinya semakin lelah karna sang Raja mengetahui keterlibatan ya membantu Pangeran.
"Aku bisa melihatnya mengingat putra ku dan dirimu adalah teman semasa Elfling,"Ucap Sang Raja.
"..."
"Cukup pembicaraan ini, ikutlah denganku, Panggil mentriku lalu pinta dia menyeleksi siapa yang siap aku bawa,"Ucapnya dengan nada angkuh. "Dan tebus dosamu dengan ikut dalam rombongan nanti,"
"..."
"Saya mengerti Yang-Mulia,"
Kepanikan sangat mulai merambat nyusup ruang hati...
Semua ini begitu putih, seolah terhempas pada sudut pandang yang kosong, rotasi waktu yang berbeda, tekanan pada permukaan kaki yang kupijak terasa dingin.
Ini dimana...
Tak seorang pun yang menangapi kepanikanku, sampai aku merasa sudut pandangku yang awalnya hampa, berganti tempat dengan cepat bersaman tempo nafas serta pacu jantungku yang berubah.
"Mama..,"
Suara itu langsung menyadarkanku, seorang anak-perempuan berambut hitam, serta bermata-onyx menatapku dengan cemberut. "Kau baik-baik saja, Kenapa mama terdiam?,"Tanyanya lagi mengenggam tanganku yang nampak gemetar.
"Kau siapa?,"Tanyaku padanya, mengapa dia memanggilku Mama, siapa anak-perempuan ini. "Ini dimana,"Ucapku sekali lagi menatap sekeliling tempat yang awalya putih-semua, sekarang menjadi sebuah teras-rumah kayu bermodelkan rumah-pinus (author: Rumah tradisional Jepang) tempat ini nampak tenang, aku merasakan sebuah perasaan Nostalgia.
"Kau tak mengenalku, Ini aku Sarada,"Ucapnya menatapku dengan serius, setelah itu mencoba mendekatiku lebih dekat, ia merasakan dingin-nya tanganku.
"Aku...Aku,"Aku terdiam tak tahu harus berkata apa, aku menundukan wajahku dan terhening tampa jawaban.
"Apa karna papa..! Apa karna Papa..Mama jadi begini!,"Ucapan Gadis bernama Sarada terdengar lemah. Namun terlihat lambat laun semakin menuntut.
"APA KARNA PAPA...HIDUP KITA BEGINI!
"APA KARNA PAPA, MAMA MATI!"
DEG!
"APA KARNA DIA MENJUAL MAMA UNTUK JADI PERCOBAAN PEMERINTAH!"
DEG!
"JAWAB AKU MAMA!"
Mata Sakura membulat dikala ia melihat mata Sarada mengeluarkan tetesan-darah dengan warna onxy yang terganti menjadi merah, bergambar tiga-lambang koma yang berputar dimata gadis itu dengan wajah menyeramkan.
"Ak...Aku!," Sakura menahan Gugup dengan kecemasan tingkat tinggi saat melihat Raut Sarada semakin menyeramkan, dan ketika tanganya ingin ditarik, Sarada justru menarik tangan-nya dengan kuat. "
"Jangan coba untuk pergi sebelum memberikan aku jawaban,"Desisnya tajam.
((Holly NaveDarck))
Sebuah cahaya nampak terhempas, entah dari mana lalu menabrak Aku juga Sarada membuat aku kembali diliputih oleh hawa-dingin dan cahaya hampa, serta merubah tempatku sebelumnya.
Kini aku kembali sendirian tampa siapa-pun disampingku, tak ada Sarada disana dan sunyi kembali membuatku merasa sedikit takut. Sampai sebuah alunan Harpa terdengar dari belakangku.
Sebuah alunan Harpa itu mulai bermain, dan aku hanya mendengarkan, sembari melirik kebelakang. aku menatap kaget saat melihat seseorang yang kukenal tengah memetik harpa itu. "Shun,"
"Hei kau baik-baik saja,"Ucapnya tersenyum Charming padaku lalu menghelah nafas. "Setidaknya yang tadi itu, tidak menelanmu,"Ucapnya.
"Tadi itu?,"Ucapku gugup. "Kau mengetahui apa yang kualami tadi?,"Tanyaku.
"Yang kau lihat tadi adalah Lumina sebuah Energi-hidup masalalu yang timbul dari kenangan masalalu, yang diliputi kegelapan dan menjalar kedalam sanubari manusia,"Jelasnya masih terus memainkan harpanya, membuat aku yang mendengarkan musiknya membuat kondisiku merasa lebih baik.
"..."
"Kau harusnya sudah tau, beberapa kali kuterangkan kalau kau dan kesadaranmu dapat kupantau dengan mudah, meski begitu kau tak bisa lengah."
"Dia menyerang seseorang kehilangan memorinya,"Ucap Shun.
"Apa anak itu adalah bagian dari masalalu-ku,"Sakura Memandang penuh kebingungan Sakura memandang Shun teguh, dan Shun hanya mengusap kepala Gadis itu dengan penuh pengertian.
Jiwa Sakura nampak penuh beban saat ini..!
"Bisa jadi!,"Ucap Shun menatap serius, tapi ingat Sakura kau harus berusaha mengendalikan dirimu,"Ucap Shun mencengkram pundak Sakura. "Jangan lengah sampai kau menemukan jawaban dari teka-teki yang membelitmu ingat kata-kataku,"Ucap Shun.
Sakura mengangguk lemah dengan tanda mengerti, dan entah kenapa kepalanya memening seolah semua rotasi berputar sekelilinginya secara perlahan.
"Sudah saatnya kau kembali, kita bicara nanti,"Ucap Shun lalu tersenyum disaat itu pula, kesadaran Sakura kembali lagi, dan saat itu didalam rengkuhan sang Elf yang memeluknya erat dengan baju atas bagian depan ya sudah terlepas dihimpit oleh tubuh setengah telanjang milik Sang Ellon.
DEG!
Tubuh mereka bergeser, memberikan perasaan hangat nan berbeda bagi Sakura, belaian serta lengan kekar ramping merengkuh posesif dirinya, sejenak membuat nafasnya menghilang entah kemana, surai indah bagai Sutra, dan Kelereng biru nampak salah satu tak sanggup membuat Sakura berpaling.
"Maafkan aku,"
Suara bagai desisan terdengar bagai hembusan angin yang lembut bagi Sakura,
Ia tak bodoh dan bisa merasakan texture tubuh nya yang bagian depan atas sudah terbuka terkecuali (Celana dalamnya), tubuh bagian atasnya nampak dihimpit oleh tubuh berdada tegap, yang juga tampa penghalang apa-pun, cuma terpotong kain juga armor yang menutup punggung masing-masing punggung indah, putih dan Sempurna penuh tanpa Cacat. (Imajinasikanlah wahai pembaca) 😃.
"Tuan Legolas,"
Sakura mulai mencoba bangkit dari rengkuhan sang Ellon, namun kedua tangan pria itu memeluknya Erat. Hidung tirus sang Ellon bersisip disela-sela surai merah-muda milik gadis itu, meski pun malu, Sakura merasakan kenyamanan dibalik debaran yang kiyan dia rasakan saat ini.
Perasaan apa ini!
Setiap ia merasa Legolas berada disisinya, ia selalu merasakan pancaran aura-hangat disekitar sang Ellon yang semakin terang, sebuah pikiran aneh jika perasaan ini membuatnya terjebak dalam delusi yang manis sekaligus pahit.
Ada rasa kalut juga ada rasa keamanan bersamanya.
Suara gemuru terdengar, dengan angin ribut, dimana-mana, seketika Sakura menatap langit yang berkabut, membuat Sang-Ellon kembali merengkuhnya lebih dalam.
Celaka...sepertinya...
Sakura merasakan bibir ranum, tipis Legolas, manis nampak terkecup lembut padanya, berawal kecupan kecupan manis, lama kelamaan hawa panas menjalar dari keduanya.
"Hummp.."
Mendominasi hati, juga perasaan mereka, lidah Legolas mulai merengsek masuk meminta izin Sakura memberi Legolas izin memasuki mulutnya, membuat gadis itu mulai terdesak, dikala sang Pangeran mulai menjelajahi isi bibir milik Sakura berwajah boneka.
Sakura yang hanya bisa mengerang akibat desakan Legolas. Wajah lugu tampa tipu daya terpancar disana, namun justru pemandangan indah bagi sang Elf.
"Uhhh.."Bersamaan kedua jemari tangan saling merengkuh masing-masing.
Dengan nafas yang berubah berat, kelereng-hidup sang Elon memandang sayu, wajah gadis boneka yang nampak pasrah dalam rengkuhanya.
"Sakura,"Panggil Legolas, membuat gadis itu menatap tampa berkata apa-pun. "Izin kan aku memudar bersama-mu,"
[DITEMPAT LAIN]
"Waktunya datang juga,"Ucap Shun menghela nafas sembari duduk disofa, yang menghadap kerapian, membuat rautnya menjadi serius dalam, menatap sebuah buku yang dipegangnya, lalu pandangan ya teralihkan pada cermin di samping mejanya.
"Darft dan Kurcaci itu mulai ketahuan, oleh sang Naga. Dan penyakit itu akan merambat kedalam tubuh mereka satu-demi-satu ,"Ucap Shun serius, mengambil Cermin indah itu, lalu memandang Figur wajah wanita cantik disana.
"Pertarungan ini akan memakan banyak nyawa orang tidak berdosa,"Ucap Shun
'Kau mau melakukan sesuatu?,'
"Aku rasa ada salah satu adiku, bisa membantuku,"Ucap Shun melirik seseorang memasuki ruangan dan tersenyum dengan nada malas, namun beberapa detik berubah menjadi Seringai.
"Apa ada pekerjaan untuk-ku Shun?,"
[BERSAMBUNG] .
{JUMAT~23~NOVEMBER}
Lighting Shun note :
Hai-hai Pembacanya yang cantik plus ganteng, apa kabar. Akhirnya cerita ini lanjut juga setelah cukup lama dipending, mengingat semua cerita saya Rooling, satu-satu. Jadi mau tidak mau harus tetap up takutnya malah susah milih cerita yang mau di up duluan.
Sebenarnya author lemah dalam cerita berbau hentai, Romance atau gender love, ehhhmmm...ini pun aku ngerasa bingung plus gak yakin romance itu gimana😶😶😶
Kalau menurut kalian cocok gak sih😨😨😨
Makasih dah...membaca
I love yu guys!😶
