The Pandora of Memory

Hidup adalah Milikmu
Sekarang dan selamanya.
doa dan ingatanku, kuberikan padamu
meski kau bukan aku sepenuhnya
temukan takdirmu, dan bahagialah.


'

Kau mau melakukan sesuatu?,'

""Project Human?," Desisku dengan mata membulat tidak percaya.

"Ya,"Terdengar helaan nafas lemah dari wanita itu.

"Tolong jelaskan, padaku,"Tanyaku dengan nada menyengit seolah meminta penjelasan.

"Intinya adalah Project manusia buatan yang digunakan sebagai pembantu kepentingan perang, Dunia ninja kala itu menginginkan sumber kekuatan juga pengetahuan lebih dari kemampuan mereka, agar suatu hari jika perang ada kejadian yang sama seperti ulah Madara, maka itu tidak akan terulang lagi,"Jelas Sakura haruno padaku. "Aku mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu peneliti Project itu,"

"Lalu memangnya ada apa dengan kejadian itu?,"Tanyaku dan aku menatap Sakura Haruno memandangku dengan pandangan sedih seolah alur. cerita memilukan akan kudengar.

"Aku memang salah satu peneliti disana tapi aku juga adalah salah seorang yang menentang hal itu,"Desis Sakura haruno menatapku. "Dengan semua penelitian itu, begitu pula Naruto sahabatku yang merupakan pemimpin desa kala itu, juga menentangnya,"Ucap Sakura Haruno.

"Kenapa?,"

"Karna mereka memakai tubuh manusia, dengan cara yang tidak aku sangka, sebuah project penelitian yang dipikirkan semua orang legal ternyata Ilegal,"Desisnya penuh kebencian. "Beberapa peneliti ternyata membayar Ninja bayaran untuk menangkap beberapa orang-orang hidup, sebagai kelinci percobaan dan hal itu, membuatku semakin tak bisa melanjutkan penelitian itu,"Ucap Sakura.

"Kau tahu darimana?,"Tanyaku dengan pandangan datar.

"Suatu ketika aku sedang mengambil sebuah proposal diruanganku, dan diam - diam aku mendengar beberapa peneliti yang meracau karna Project kali ini sudah gagal beberapa kali dan mereka mau memakai tumbal hidup sebagai pecobaan selanjutnya.

"Kejam!,"Desisku.

"Meski aku mencoba mempercayainya, akan tetapi aku tak bisa mengubah apa-pun jika kenyataan itu ada didepan mataku sendiri,"Ucapnya sedih.

"Hari itu aku memutuskan untuk keluar dari Oraganisasi dan mencoba untuk memberitahukan Naruto soal penyimpangan yang terjadi dalam Organisasi itu, tapi perjalananku berakhir tragis dan aku meninggal, salah satu dari mereka membunuhku dan aku meninggalkan seluruh bukti-bukti tentang Perbuatan kotor mereka,"Ucap Sakura haruno padaku.

"La-lalu,"Ucapku dengan tatapan bertanya, dari story diceritakan padaku belum ada sesuatu yang diungkitnya tentang aku. "Apa hubunganya denganku?,"Tanyaku dengan nada sedikit ragu, membuat nya menatap teduh.

"Ya, hubungan dengan ceritaku berhubungan tentangmu, kau tahu dalam membuat Kloning yang hidup baik manusia, atau boneka terkadang seseorang harus menumbalkan nyawa sebagai pengantinya.

"Usai berhasil membunuhku mereka mendapatkan sel hidup dan membentuk Kloningan, dan berdahli pada publik kalau aku meninggal akibat Shock secara tiba-tiba dan karna bekerja terlalu keras, tampa diketahui orang mereka mengambil paksa tubuhku dan berpura-pura dikebumikan menjadikan objek penelitian, Lalu membentuk dirimu yang seorang Kloningan dari tubuhku,"

DEG!

"Whaat? Aku,"Ucapku membulat mendengar ucapan Sakura Haruno, membuat tubuhku sedikit tergetar diraut datarku memeluk tubuhku sendiri, apa itukah penyebab kalau ketika aku sadar dihutan maka aku tak ingat satupun memori, aku hanya tahu namaku dan rasa terbiasa mengunakan kemampuan ini.

Lalu aku apa?
Apa aku hanya boneka, lalu aku hanya senjata?
Jika aku hanya kloningan? lalu buat apa aku merasakan banyak perasaan, emosi yang ternyata bukan miliku, aku hanya boneka ciptaan, jadi rasa ini hanyalah kebohongan..

Aku hanya membohongi Apa yang disebut Hati juga Tuan Legolas.

Apa ini hanya palsu.

Tes

Air mataku terjatuh perlahan, dari pipiku wajahku yang semula datar tampa expresi menatap Sakura Haruno dengan air mataku, yang keluar deras, isakan kecil mengiring-nya, membuat dadaku sesak, dan suara seolah tidak bisa keluar, bayangan seseorang lelaki tersenyum tulus yang sebelumnya memeluku, dan berjanji tak akan melepaskan aku tergambar jelas diotaku.

Legolas...selama ini aku menipunya.

"Aku bisa melihat apa yang kau pikirkan, Maafkan aku, tapi aku ingin kau mengetahui rahasia ini lebih baik dari aku,"Ucap Sakura haruno memeluku kencang. "Apakah pria berambut emas itu, sangat berharga, untukmu?,"Ucapnya lembut.

"Aku merasakan sesuatu yang mengikatku, sebuah emosi yang berbeda dari kemarahan, sesuatu yang penting dan berharga bagiku,"Ucapku disela isakanku.

"Jika begitu maka, Ambil jalan yang kau pilih dan bahagialah,"Ucap Sakura haruno sementara aku menatapnya cepat.

"Aku tak mungkin bersamanya, aku hanyalah sebuah kloningan darimu, aku ini mahluk ciptaan, aku tak sepertimu Sakura haruno, kau manusia dan Aku-,"Ucapku dengan nada kecewa.

"Tapi kau harus melakukanya, dengar kan aku Saki,"Panggilnya padaku dengan senyuman lembut dan membelai pipiku. "Perduli setan atau Dewa sekali pun, Lihatlah dirimu sekarang, Kau hidup, kau bernafas kau yang awalnya hanya objack yang dibuat dariku, justru bisa hidup layaknya manusia normal pada umumnya, tidakah itu tidak berakhir sia-sia?,"Ucapnya tersenyum lembut. "Ini Mukjizat juga keajaiban,"

"Apa maksudmu,"Ucap ku memandang wanita itu penuh arti.

"Hidupmu! Adalah Milikmu!, perjalanku mungkin sudah berakhir disini namun perjalananmu baru saja dimulai, kau tidak perlu merasa terbebani atas apa-pun yang terjadi padaku, apa lagi menyesalinya, yang harus kau lakukan ialah mengikuti arus yang sorot matamu lihat,"Ucap Sakura haruno tersenyum sedih.

"Aku tak bisa melakukan semua ini, aku tak sanggup untuk memilih jalan ini,"Desisiku putus asa. "Aku rasa aku tak bisa,"

"Kau bisa! kau pasti bisa,","Ucap Sakura tersenyum padaku matanya memancarkan kelegaan. "Aku bersyukur meski mereka berhasil membuat Clone human yang mereka inginkan, akan tetapi aku senang pihak peneliti konoha itu tak berhasil mendapat dirimu,"Ucap Sakura.

"Sakura," Desisku pelan sembari meremas kepalan tanganya.


Set~

Mataku dan Sakura memandang cahaya sekitar kami semakin meredup, kelopak bunga bermunculan terbang dari langit, entah apa dan dari mana asalnya membuatku tergugah tak percaya, pada keindahan ribuan kelopak yang gugur diatas kepalaku. "Nampaknya waktuku tak lama lagi,"Ucap Sakura tersenyum memandang sekitar kami yang nampak mengelap. "Banyak yang ingin kukatakan akan tetapi waktuku tak cukup,"Ucap Sakura mulai beranjak dari atas kursi. "Maaf ya,"

"Tunggu aku masih banyak pertanyaan, aku masih ingin tahu lebih dari ini, kau tak bisa meninggalkan semuanya,"Ucapku yang entah kenapa merasakan tidak adilan disini.

"Kau akan menemukan jawaban ya, Sakura,"Ucapnya memanggilku dengan namanya, membuatku mulai terisak, dia menyatuhkan dahinya dengan dahiku lalu, aku merasakan sebuah cahaya memasuki kepalaku yang merupakan banyak gelombang gambar-gambar yang tak kupahami.

"Sepertnya berhasil,"Ucapnya tersenyum senang, setelah itu.

"Apa maksutmu,"Ucapku memandangnya dengan bingung, membuatnya menatapku dengan helaan nafas juga.

"Sebelum aku pergi, aku ingin memberikanmu sesuatu yang penting, aku tak bisa memberikan sesuatu yang banyak namun hanya ini yang bisa aku berikan padamu,"Ucapnya lalu memeluk dadanya.

"Berharga,"

"Sebuah ingatanku, yang terputar dari masih kecil, masa remaja dan ketika akhir hidupku, aku ingin kau memilikinya,"Ucapnya tersenyum.

"Memori-mu?, kenanganmu?,"

Seketika airmataku kembali menetes merasakan beberapa lembar kenangan layaknya menonton sebuah gambaran ilussi dengan berbagai macam cerita, membuat air mataku langusng menetes deras jatuh kepipiku.

"Maaamaaa..."

Mataku membulat menatap keberadaan Sarada dengan pandanganĂ  ngeri.

"Lu-lumina,"

.

.

.


[NOIR HERE]
[NORMAL POV]

Noir tak bisa menyangka suasana Kota yang sepi disaat yang menegangkan, nampak warga tak menunjukan reaksi banyak melawan para orc, sebagian mereka nampak diam lalu dirumah lalu sembunyi tampa menolong tetangga atau orang lain. Dia nampak merasa heran kenapa para penduduk masih berkeras tinggal di area pegunungan dengan area musiman salju terpanjang disungai seperti ini.

"Oi...Shun aku sudah sampai dilokasi, kabari aku langkah-langkanya,"Ucap Noir lalu terbang pergi menuju Kota tersebut dengan niat mencari informasi, belum cukup dirinya sampai disandarkan sebuah tempat rakit atau perahu, dia dikejutkan oleh dua Orc yang tiba-tiba menyerangnya.

"Hei-Hei apa kalian bodoh sampai tak punya otak menyerangku,"Desis Noir menghindari serangan dari Gada para Orc. "Sayang sekali kalian hanya berakhir sia-sia,"Ucap Noir datar sebelum kedua tanganya mencengkeram kepala Orc itu dan membuatnya terbakar sampai menjadi abu.

Suasana pekat semakin terlihat, diarah gunung membuat Noir menyengit, hawa mengerikan mengeluar sebelum ia merasakan auman besar diarah gunung, membuat ia berjalan pelan mengelilingi desa guna mengambil informasi, dari suara auman Smugh nampaknya perjalanan para kurcaci nampaknya kurang baik-baik saja sebelum melangkah lebih jauh menatap beberapa orc memasuki sebuah rumah, berlantai kayu yang nampak sederhana, spontan suara kocar-kacir membuatnya merasa penasaran untuk melihat kedalam.

Set

Seketika sebuah suara Gasrak gusruk menghilang entah kemana? Dan ketika Noir ingin memasuki ruangan, mayat tiga Orc nampak terletak begitu saja, belum sempet berkomentar sebuah todongan senjata diarahkan pada area yang vital bagi manusia yaitu dibidik keJantungnya.

"Siapa kau?!,"Suara Maskulin namun indah terdengar, sebuah langkah siaga yang diberikan oleh seorang Elleth (Panggilan untuk Elf wanita) pada nya, tak hanya itu dia melihat tiga orang manusia, juga 3 orang kurcaci yang salah satunya sekarat dan butuh pengobatan.

"Hanya seseorang 'Visiting' aku adalah pengembara kebetulan aku pergi mengunakan sebuah perahu-sedang, namun ada badai salju di luar sana dan aku memutuskan untuk kemari mencari penginapan agar bisa melanjutkan perjalananku besok,"Ucap Noir dengan wajah santai juga malas, Noir sengaja membuat alasan agar tidak membuat masalah baru, jika ada cara santai dan mudah untuk menyelesaikan tugas tampa bertarung kenapa tidak?!.

"Apa itu benar?!,"Tanya seseorang lelaki sengah abad dan dia manusia, yang fokus mendekati tiga orang remaja yang tengah bersembunyi, dua gadis berbeda usia, dan juga anak lelaki yang berumur belasan. "Jika kau suguhan seorang pengelana nampaknya perjalananmu tidak beruntung, sebaiknya kau pergi dari sini meski kau harus terkena Demam, saat ini desa kami tak aman,"Ucap Pria itu lalu memandang Mayat Orc dilantai.

"Maaf jika aku menganggu Tuan,"Ucap Noir dengan nada sopan, dan disela percakapan nampaknya pertahanan pria manusia itu juga para Kurcaci menurun terkecuali Elleth itu masih memasang pose membidik.

"Nama saya adalah Bard the Bowman, anda,"Ucapnya menanyakan nama Noir.

"Nama saya Adalah Noir,"Ucapnya memperkenalkan diri. "Saya melakukan perjalanan mengumpulkan sejarah dari kota-kota tempat saya mengembara?,"Ucapnya memberikan jawaban yang super logis.

"Buat apa kau melakukan semua itu?,"Tanya Sang Elf wanita itu dengan nada menginterogasi.

"Dari seragam anda mungkin anda Elf Greenwood bukan, menurut yang saya dengar Elf dari tanah pimpinan Raja Elf Thrandulil,"Ucap Noir tenang. "Saya dengar kabar berita para Elf dari hutan Greendwood jarang keluar hutan atau pergi dari kampung halaman,"Jelas Noir.

"Buat apa anda melakukan itu?,"Tanya Kurcaci yang sedang terluka bernama Kili.

"Saya biasanya membuat buku,"Jelas Noir logis. "Dan mengambar peta,"

Namun pembicaraan mereka berhenti saat suara auman besar mulai terdengar jauh dari desa.

Deg!

Dan mendekati desa.


Sesuatu yang besar akan datang
Dan membuat teriakan manusia semakin kentara.


[BERSAMBUNG]
[SENIN-18-FEBRUARY-2019]