Me and, My Dad.

Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia

Damchoo

LuMin/XiuHan

Yaoi

"Aku sudah dapat pekerjaan Luhan."

Mendengung.

"Kau tidak penasaran? Kau tidak senang?"

Mendengung.

"Aku akan menjadi seorang guru di salah satu SHS."

Mendengung.

"Kau kenapa sih Luhan? Ayahmu ini akan menjadi seorang guru dan akan menghasilkan uang. Kenapa reaksimu seperti itu." grutu Minseok kesal karena Luhan terus saja mengabaikannya dan menjawab semua pertanayaannya dengan dengungan. Ayolah, Luhan itu tidak se-cool itu dan tidaklah sediam itu. Justru Luhan sangat agresif dan malah aneh kalau seorang Kim Luhan terlihat begitu tenang dan sok dingin.

"Tidak mau tanya sesuatu? Tidak mau tahu aku bekerja dimana? Tidak mau- Eh.

Luhan pergi begitu saja, sesaat setelah menatap Minseok dengan malas lalu pergi begitu saja. Bisakah Minseok memasukannya ke salah satu keajaiban dunia? Luhan yang mengacuhkan Minseok adalah salah satu keajaiban dunia.

Jadi ini yang membuat Luhan tadi pagi mengacuhkan aku? Oh baiklah tuan, mari kita main-main dan akan ku buat kau menyesal sudah mengabaikan aku. Batin Minseok jahat sambil terus menatapi Luhan yang duduk di kursi paling belakang dengan wajah menahan marah.

Luhan benci, Luhan marah, Luhan ingin memukul dan Luhan ingin menangis, oh tidak manly. Hatinya mencabik di pagi hari sambil berjalan menendangi kerikil tidak berdosa sepanjang jalan. Jalan? Seorang Luhan berjalan? Si bocah jenius pencipta kendaraan roda empat dan sudah memiliki perusahaan sejak tujuh tahun yang lalu berjalan? Bisakah seseorang memasukannya menjadi salah satu keajaiban dunia? Yeah. Luhan yang mau berjalan kaki dari apartemen super mewah ke sekolah adalah salah satu dari sekian banyak keajaiban.

Ingin menangis pula. Kapten sepak bola sekolah SungY High School ingin menangis karena sesuatu yang konyol, sesuatu yang seharusnya di senangi bukan di tangisi. Kim Minseok, lelaki berwajah bayi yang merupakan ayahnya akan bekerja. Menjadi guru di sekolahnya. Bukankah seharusnya Luhan senang, ayahnya akan menjadi guru. Setelah sekian lama menjadi pengangguran abadi akhirnya Minseok akan bekerja. Tapi tidak untuk Luhan, dia si bocah jenius yang kayaraya. Bisa menghidupi Minseok dan Luhan lebih senang kalau Minseok dirumah, tidak berinteraksi dengan siapa-siapa dan hanya bersama Luhan. Ingat hanya bersama Luhan.

Tapi lelaki itu dengan kurang ajarnya malah mendaftarkan diri pada sekolah Luhan yang kebetulan sedang membutuhkan guru seni budaya. Jika biasanya Minseok akan mendaftar pekerjaan dalam jangkauan Luhan maka tidak kali ini, mungkin karena tahu kalau setiap kali Minseok mendaftar pekerjaan dan ditolak itu karena ulah Luhan, Luhan yang menyabotase link pendaftarannya dengan cara diretas, dan kali ini, ia mendaftar di dua jam sebelum pendaftaran ditutup dan saat Luhan sdang tidur, dengan ijazah yang mengagumkan dan pengalaman kerja yang mumpuni Minseok dengan mudah mendapatkan pekerjaan di sekolahnya meski sedikit melenceng.

Dan itu yang membuat Luhan ingin menangis, karena itulah pagi tadi dia mendiamkan Minseok, tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau mempedulikannya, Minseok harus tahu kalau Luhan sakit hati, merasa dihianati dan dibohongi. Berelebihan. Tapi tidak tahukah Minseok kalau Luhan ini sangat mencintai lelaki itu, sangat tidak ingin kalau lelakinya itu di pandangi penuh minat dan lebih parah nanti di sentuhi. "Arghhhh." Erangnya kesal, di tampat umum dan banyak orang yang kini memperhatikannya.

Kesal sekali, ayolah Luhan bahkan bisa memberikan uang yang lebih banyak dari bayaran yang didapatnya menjadi guru. Tapi kenapa lelaki bayi itu malah memilih menjadi guru dan tidak meminta izin padanya? Sudah bosan berjalan yah. "Arghhh" sekali lagi dia mengerang, tidak peduli ditempat umum dan tidak peduli orang-orang mengatainya apa.

"Yo Luhen, kenapa bro? Wajahmu kusut sekali tidak sarapan ya?" itu Baekhyun teman sekelas dan teman kriminalnya. Kenapa teman kriminal? Karena bereka memiliki kegiatan kirminal yang jika di bayangkan akan tidak masuk akal dan mengguncang dunia. Hahaha – Lupakan.

"Mau sarapan bagaimana kalau aku sedang dalam emosi yang meledak-ledak Baek, arghhh."

"OWW." Baekhyun mundur satu langkah dan saat Luhan melompat-lompat tidak jelas sambil menjambaki rambutnya. "Ckck sepertinya efek sarapan memang sangat dahsyat kemarin aku, sekarang kau. Ada masalah apa? Ngomong-ngomong tahu tidak kalau hari ini katanya ada guru baru, kudengar sangat imut, manis, cnti-

"Berhenti bicara atau ku culik Kyungsoo dan buang dia ke jurang." Potong Luhan sambil menarik kerah seragam Baekhyun.

"Ya! Ya! Ya! Apa maksudmu sialan, lepaskan tanganmu itu atau kucabut fasilitas olahraga sekolah."

"Baiklah maka kucabut fasilitas keamanan kantor Kyungsoo sehingga kau tidak bisa mengawasinya selama dua puluh empat jam."

Skak mat. Baekhyun tentu diam. Jika sudah menyangkut Kyungsoonya maka ia harus diam, nomong-ngomong, dua bocah kriminal ini adalah dua bocah jenius yang sudah memiliki perusahaan masing-masing, Luhan perusahaan elektronika dan Baekhyun perusahaan yang mencakup fasilitas olahraga dan kesehatan termasuk rumah sakit. Mereka bersahabat sejak sejak TK, memiliki kesamaan nasib, mulai tidak punya ibu, anak angkat dan dan sama-sama memiliki sindrom aneh. Oedipus syndrome.

Selain itu mereka juga punya otak yang benar-benar brilian, di usia yang begitu belia mereka masuk dalam jajaran orang terpandai bersama beberapa penemu hebat dari seluruh dunia. Tapi sayangnya mereka gila dan sama-sama mendapat julukan si Jenius yang gila dari orang tua mereka.

"Dasar tidak mau mengalah, ya sudah aku masuk dulu lah, selamat menikmati hukuman Park sonsaengnim." Mendengar perkataan Baekhyun, Luhan menoleh kebelakang dan ternyata guru Park sedang berjalan kearahnya, secepat mungkin Luhan berlari mengejar Baekhyun yang sudah duduk di kelas.

Sampai, Luhan duduk manis di kursi paling belakang menunggu guru Park – wali kelas mereka. Oh, ternyata ia tidak sendiri, bersama seorang – Minseok. Desis Luhan kesal. Sementara itu di sampingnya Baekhyun menyikut lengan Luhan. "Jadi guru baru kita Xiumin? Pantas saja kau-

"Diam kau Bacon." Desis Luhan tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari sosok Minseok yang berdiri sambil memperkenalkan diri. Ya tuhan berhenti tersenyum seperti itu, kata Luhan sambil menatap tajam, inilah yang sangat Luhan benci. Tatapan teman-teman sekelasnya yang penuh minat pada Minseoknya. Ingin sekali berteriak, berhenti menatapnya seperti itu. Dia miliku. ARGH. Tapi apa daya, Luhan hanya bisa mengerang dalam hati sabil duduk tidak tenang.

Satu jam perkenalan lalu pelajaran, akhirnya jam istirahat datang. Dengan cepat Luhan mengambil ponselnya dan mengetikan beberapa kata.

Temui aku di rooftop. Tulis Luhan dalam pesan.

Melemparkan sebuah tab di depan Baekhyun Luhan berkata. "Jangan ke rooftop. Awasi Kyungsoo mu dari sana, itu terhubung pada ponsel Kyungsoo." Tanpa penjelasan lebih panjang Baekhyun sudah mengerti, Luhan punya urusan penting dengan si guru baru dan adiknya.

Temui aku di rooftop.

Membaca pesan tersebut Minseok hanya mengangkat bahu malas, lalu menerima ajakan Chanyeol unuk keruang musik, Minseok lulusan sekolah praktis musik jadi pasti bisa membatu Chanyeol menyelesaikan tugas akhir S3nya di bidang yang serupa kan.

"Jadi kenapa kau berhenti?" tanya Chanyeol pada Minseok sambil berjalan, menuju ruang musik. Yang ditanya bukannya menjawab malah garuk-garuk kepala. Harukah Minseok jujur. Aku di pecat karena kedapatan memiliki anak sebelum menikah, dan waktu itu berita seorang dosen menghamili mahasiswanya sedang menjadi topik. Tidak mungkin kan dan lagi pula Minseok tidak menghamili seseorang untuk mendapatkan Luhan.

"Aku merasa kurang cocok menjadi dosen." Jawab Minseok akhirnya. "Aku sangat ingin menjadi dosen dulu, aku meneyelesaikan pendidikan ku sangat cepat karena ingin menjadi dosen tapi tetap saja itu tidak cukup." Ngomong-ngomong, Chanyeol dan Minseok adalah teman, mereka teman seangkatan S1 di universitas yang sama, ketika mereka sama-sama lulus S1 kemudian melanjutkan S2 Chanyeol pindah dan belajar di London, S2 Chanyeol tidak berjalan lancar karena dia juga bekerja sebagai produser musik maka itulah sekarang ia baru sempat merampungkan S3 nya dan sebentar lagi akan siding dan lulus, Chanyeol menjadi guru adalah tawaran dari saudaranya sekaligus mencari pengalaman Chanyeol bercita-cita menjadi dosen meskipun karirnya di dunia musik sudah gemilang, katanya membagikan ilmu lebih bermanfaan karena mencerdaskan.

Ponsel dalam saku Minseok bergetar, pasti Luhan. Kubilang ke rooftop. Pesan yang sama, namun Minseok memilih mengabaikan dan mengantongi lagi ponselnya dan mendengarkan perkataan Chanyeol.

Jika saja seorang remaja tujuh belas tahun itu tidak menghadang, memasang tampang paling menjengkelkan di depan dua pria dewasa. "Luhan? Kau mengagetkan kami." Tegur Chanyeol seraya memegangi dadanya. "Mian saem, tapi aku ada keperluan dengan Minse- ah maksudku Xiumin saem."

"Keperluan apa?" tanya Minseok acuh tak acuh. "Aku kesulitan membuat not balok, Park saem, permis." Tanpa menunggu jawaban Chanyeol, Luhan menarik tangan Minseok sedikit menyeret. Meninggalkan Chanyeol yang mengernyit heran.

"Luhan, lepas kau menyakiti tanganku." Kata Minseok ketika Luhan terus saja menariknya hingga keduanya sampai di atap sekolah yang terdapat sebuah ruangan seperti kamar. Setelah mengunci kamar tersebut Luhan menghempaskannya keatas tempat tidur, astaga tempat apa ini, kenapa ada tempat seperti ini di atap sekolah.

"Apa yang akan kau lakukan bodoh kau gila ya." Ujar Minseok pada Luhan yang sedang memposisikan dirinya diatas Minseok. "Aku memang gila aku memang bodoh dan itu gara-gara kau."

"Apa sih yang kau bicarakan, aku tidak tahu apa maksudmu."

"Kenapa kau tetap datang kesekolah, kenapa kau tetap mengambil pekerjaan, apakah uang yang kuberikan padamu itu tidak cukup? Mau seberapa banyak lagi? Akan kuberikan, dan berhentilah tersenyum bodoh seperti tadi. Aku benci kau kau melakukannya pada orang lain selain aku.

Chu.

Perkataan Luhan terhenti saat bibir Minseok mendarat sekilas di bibirnya, meski sebenarnya sangat tersinggung dengan perkataan Luhan yang mengatakan seakan Minseok ini gila uang, tapi dia cukup senang, karena Luhan begitu karena dia ingin Minseok hanya tertuju pada Luhan.

"Jangan menggodaku, aku sedang marah."

Chu.

Sekali lagi lalu mengalungkan tangan kecilnya di leher Luhan, meskipun mereka memiliki perbedaan usia yang cukup jauh namun jangan salah, karena tubuh Luhan lebih besar darinya dan lebih tinggi darinya, malah Luhan terlihat lebih tua darinya. Hihi. Jangan katakan padanya ya.

"Marah saja. Aku tidak peduli." balas Minseok sambil sekali lagi mendaratkan kecupan di bibir anaknya.

"Kau yakin? Sudah bosan berjalan ya? Aku tidak bawa mobil dan jangan sampai aku lepas kendali." Setelah mengatakan itu tanpa Luhan ketahui Minseok menyelapkan kunci mobil di saku celana. Semakin menarik Luhan mendekat, Minseok mengusakan hidungnya dengan hidung Luhan. "Dasar pembohong kecil, ku potong adikmu baru tahu rasa kau."

"Memotong adiku? Oh, kau sangat menyukainya tuan, kau tidak akan berani."

"Akan kulakukan. Bagaimana jika dengan gigiku."

Luhan meneguk salivanya, sialan sepertinya Minseok memang berniat menggoda, argh di selatan sudah menggembung dan Luhan sudah sedikit kehilangan tenaganya akibat terangsang, terlebih ia sedari tadi sekuat tenaga menahan diri karena Minseok mendesaki selangkangannya dengan lutut kecil itu.

"Berhenti menggodaku Min-

"Appa, panggil aku appa baru ku turuti kemauanmu."

Luhan mendecih. "Kau benar-benar ingin bermain-main denganku ya? Baiklah, lagipula kita sudah disini jadi tidak masalah kalau kita bermain kau bisa bolos mengajar di hari pertama dan aku memang sering bolos juga kan?"

Sialan, Luhan memabalas Minseok, anak itu memang sering bolos sekolah dan menghabiskan waktunya dirumah saat Minseok masih menyandang pengangguran abadi. Dan perkataan itu sukses membuat pipi bulat putih itu merona. "Wajahmu memerah sayang? Kau sepertinya menginat kan. Aku memang jarang sekolah."

Tapi ingat Minseok kau tidak boleh lemah, kau harus membuat anak sialan itu menyesal telah mengabaikanmu, di tegakannya kepala Minseok kemudian miring ke samping, memperlihatkan lehernya yang langsung membuat Luhan meneguk salivanya lagi. "Tentu saja aku ingat." Katanya, sambil memutar keadaan, sekarang Minseok berada diatas dan Luhan dibawah. "Dan aku sudah tidak sabar memotong adikmu dengan gigiku."

"Lakukan sayang."

Senyuman terbit di wajah Minseok atau lebih tepatnya seringai, seorang Kim Minseok yang manis ini menyeringai rasanya sedikit lucu dimata Luhan. Meluncur kebawah, Minseok membuka ikat pinggang Luhan dan menurunkan zipper celana remaja itu. "Wow, ini terlihat lebih imut, kau sedang sakit? Atau karena tadi pagi tidak diberi asupan? Salah sendiri sok-sokan mengabaikan. Hihi." Minseok terkikik sendiri sambil menusuk-nusuk adik Luhan dengan jarinya, mengabaikan erangan Luhan yang ingin cepat-cepat dibelai. Menjuluran lidahnya, Minseok memberisedikit sengatan pada Luhan, matanya melirik ke atas dan bisa melihat Luhan sedang menikmati sentuhannya, rasakan ini anak nakal. Bisiknya jahat, lalu melahab milik Luhan, baru setengah dan Luhan seperti sedang dibuai-buai Minseok menarik diri, mengambil kuci ruangan dinakas lalu segera keluar. Membuat Luhan terbelalak kaget dan mengerang. Menyumpahi dan memaki Minseok dengan perkataan yang malah membuat Minseok terekah geli, ngomong-ngomong ia masih bisa mendengar umpatan Luhan itu lho.

Masih setengah tertawa, Minseok berjalan tanpa memperhatikan langkah sampai ia menabrak seseorang yang ternyata Baekhyun, si gila yang jenius nomor dua setelah Luhan. "Oh Baek, annyeong." Sapa Minseok. Bukannya membalas sapaan Minseok, Baekhyun malah mencondongkan tubuhnya sehingga Minseok harus memundurkan kepalanya.

Baekhyun mengamati Minseok, disekitaran wajah lelaki imut itu adakah noda di sana jika ada pasti perbuatan Luhan, ternyata tidak ada. "Appa Luhan tidak memakanmu kan? Kalian tidak- aw."

Belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya Minseok sudah lebih dahulu memukul kepala anak itu. Dasar anak-anak mesum. "Jaga bicaramu itu bocah. Perkataanmu frontal sekali."

"Aku kan hanya bertanya, Luhan uring-uringan sejak pagi karena tidak sarapan, dan ketika dia melarangku untuk ke rooftop jadi kupikir kalaian sedang-

Baekhyun menghentikan kalimatnya ketika tangan Minseok sudah mengudara. "Baiklah, aku diam. Ngomong-ngomong dimana Luhan?"

Mendengar pertanyaan Baekhyun, Minseok terkekah teringat lagi tentang keadaan dan makian Luhan. "Sedang dikamar mandi mungkin, sudahlah Baek sebaiknya kau masuk kekelas, jam istirahat hampir habis. Aku akan menghukum siapa saja yang datang terlambat di kelasku, termasuk kau dan Luhan."

Kalau Luhan sih memang biasa di hukum, tapi kalau Baekhyun, tidak mau. Kyungsoo – ayahnya adalah gila angka Sembilan dan sepuluh. Jika ada satu saja nilai Baekhyun yang dibawah itu maka habislah sudah remaja itu, bahkan meski Baekhyun mendapat nilai 89,99 maka sudah seharian Baekhyun akan mendapat cramah yang mengatakan kalau Baekhyun menjadi malas, tidak mau menurutinya lagi, ingin tidak sukses dan blablabla, berlebihan sekali. Bandingkan jika Kyungsoo menjadi ayah Luhan, wah sudah jantungan dia melihat pelangi di buku nilainya. Pasti Kyungsoo mati muda.

Seperti apa kata Minseok, Luhan sekarang sedang ada di kamar mandi, kamar mandi di lantai dua karena ia sudah turun dari rooftop. Ia mengerang keras, Minseok harus diberi pelajaran malam ini karena telah mengerjai Luhan. Ayolah, mereka sama-sama laki-laki seharunya Minseok tahu bagaimana rasanya kesakitan menahan ereksi. Jika saja tadi Luhan sadar kalau marmutnya ini hanya akan mengerjainya, mungkin Luhan sudah siap ancang-ancang. Ini adalah pelajaran, tidak akan terulang lagi. Memijat-mijat miliknya dan sesekali mendesah, membayangkan tangannya adalah tangan Minseok, lubang hangatnya atau mulutnya.

Sial, bukannya semakin cepat selesai malah Luhan semakin terangsang, Minseok benar-benar sumber rangsangan bagi Luhan, terlebih tadi pagi ia tidak mendapatkan apapun, jangankan morning sex, morning kiss saja tidak.

Luhan menyalahkan Minseok sepenuhnya karena ia menjadi uring-uringan sepanjang hari. Seharusnya lelaki bayi itu peka kalau Luhan sangat tidak suka Minseok menjadi pusat perhatian, dilihat-lihat seperti itu dan "Argh" bagaimana kalau di sentuh-sentuh. Minseok adalah milik Luhan, Luhan si pencemburu, tapi dia tidak pernah mau di sebut pecemburu, dia selalu menyangkal kalau Minseok mengatakan Luhan terlalu cemburu. Sebenarnya Luhan akui kalau dia memang cemburu, tidak masalah kan dia cemburu, cemburu wajarkan, karena Luhan cinta, Yeah Luhan mencintai Minseok begitupun sebaliknya, persetan dengan status ayah anak mereka.

Luhan tidak peduli. Entah sejak kapan tepatnya Luhan seakan mulai tidak peduli kalau Minseok adalah laki-laki dan merupakan ayahnya, perasaan itu tumbuh begitu saja. Terlebih saat ia tahu kalau sebenarnya Luhan bukanlah anak kandung Minseok, semakin gila saja kerja diri Luhan, ia semakin sering menunjukan kalau cintanya sungguhan pada Minseok, hingga ketika ia berusia sebelas tahun, pertahanan Minseok tumbang, semuanya habis oleh Luhan hingga akhirnya mereka mengikat diri sebagai sepasang kekasih, tinggal bersama yang orang lain ketahui sebagai sepasang ayah dan anak. Namun nyatanya sebagai sepasang kekasih.

Sejujurnya Luhan enggan menceritakan sindrom aneh yang biasanya disebut sindrom Oedipus pada Baekhyun jika saja anak itu tidak memergokinya dengan Minseok sedang berciuman panas. Karena ia takut kalau Baekhyun akan menjauhinya, dan membocorkan keanehannya kepada seluruh dunia, dan akan mengakibatkan pada usahanya dibidang otomotif dan elektronik. Namun, siapa yang sangka kalau Baekhyun juga sama, sama-sama memiliki sindrom Oedipus dan bahkan sudah menjalin hubungan dengan Kyungsoo jauh sebelum Luhan dan Minseok melakukannya. Jika hubungan Minseok dan Luhan sudah berjalan satu tahun, maka Baekhyun dan Kyungsoo sudah tiga tahun namun Baekhyun baru bisa menghabiskan Kyungsoo di duatahun hubungan mereka ketika anak itu berusia tiga belas tahun, berbeda dengan Luhan yang hanya butuh waktu satu tahun.

Ponselnya berbunyi, membuyarkan lamunan Luhan bersamaan dengan selesainya permainan solonya. Baekhyun.

Kau dimana? Minho mencarimu katanya selepas pulang sekolah jadi tidak latihan sepak bola?"

Tidak, katakan padanya aku sedang sibuk, nanti antarkan tasku kerumah ya. Aku akan langsung pulang setelah ini.

Aku sudah menaruhnya di mobilmu. Minseok sudah menunggu dan aku harus menjemput Kyungie ku.

Mobil? Luhan mengernyit heran, dia tidak membawa mobil hari ini, dia jalan kaki tadi pagi karena sangat kesal pada Minseok dan akibatnya ia melupakan dimana ia meletakan kunci tersebut. Tapi apa kata Baekhyun tadi? Minseok menunggu di mobil? Seringaian tercetak di bibir Luhan. Merapihkan penampilannya lalu mengantongi ponsel di saku ketika tangannya menyentuh sesuatu dan Luhan menariknya. Ah kunci mobil, Minseok yang menyelapkannya tadi, oh benar-benar ingin di hajar orang itu.

Minseok duduk dengan tenang di kursi samping kemudi sambil menunggu Luhan, anak itu bolos, selama satu tahun menjadi seorang pelajar SHS entah sudah berapa kali Luhan sudah membolos, namun anehnya ia tidak pernah dipanggil untuk mendapat teguran, mungkin karena Luhan berprestasi, anak nakal seperti Luhan yang meskipun tidak pernah belajar dan lebih suka bermain dengannya namun Luhan adalah anak yang jenius, ada nama Luhan dalam daftar siswa di sekolah sudah mengundang siswa lain berdatangan untuk satu sekolah dengannya, selain itu Luhan juga kan salah satu donator sekolah dengan Baekhyun.

Jadi meskipun dia suka bolos, mereka pasti enggan untuk menegur, memperhitungkan sebab akibat bagi sekolah jika Luhan menarik uang donasinya. Meski sebenarnya jika dengan tidak di tegur akan membuat Luhan semakin menjadi seharusnya di tegur saja, toh Luhan bukan satu-satunya pendonasi kan. Selain itu agar Luhan tidak merajalela, tapi tetap saja dimana-mana yang ber-uang yang berkuasa, jika kau punya uang maka semua orang tunduk padamu, maka belajarlah dengan giat dan raih kesuksesan agar kau dapatkan kemudahan.

Melihat batang hidung Luhan, tawa geli mulai terdengar dari mulut Minseok, mengingat kalau tadi pasti Luhan mmelakukan solonya dengan mengerang-erang dan mengumpati Minseok, tidak lupa pasti merencanakan untuk membalas pada Minseok.

Brak.

Pintu mobil tertutup dengan ganas, Luhan membantingnya, untung mobil itu dia yang membeli sendiri, coba kalau Minseok yang membelikan sudah di penggal kepala remaja itu. Tidak menyapa, Luhan hanya fokus pada kemudinya, melesatkan dengan kecepatan penuh ketika mereka telah di jalan raya. Sepertinya Luhan tidak main-main dengan amarahnya kali ini, jujur Minseok sedikit ngeri dengan amarah Luhan, bisa saja dia akan membalasnya dan membuatnya tidak bisa berjalan selama berminggu-minggu.

Ini amarah tentang apa? Ia bekerja tanpa izinnya? Mengerjainya? Atau mobil?. Minseok rasa opsi satu dan dua, yang ke tiga tidak mungkin karena Minseok sengaja membawa mobil Luhan karena anak itu sangat benci Minseok kelelahan dan dia sendiri benci berjalan, tadi pagi itu terpaksa karena Luhan sedang marah padanya.

"Luhan-ah, pelan-pelan kau ingin membunuh kita berdua ya?" kata Minseok takut-takut sambil mencengkram sabuk pengamannya. Tapi tidak di jawab, Luhan benar-benar marah. Sirine berbahaya mengiang di telinga Minseok. Bagaimana ini.

Luhan, ingin sekali ia tertawa keras-keras saat melihat ekspresi ketakutan Minseok yang benar-benar lucu jika saja sekarang ia sedang tidak berpura-pura marah. Biarlah ia tahu kalau Luhan sangat tidak suka dengan apa yang Minseok lakukan hari ini.

Tiba di rumah, Luhan memarkir begitu saja mobilnya dan membuka pintu untuk Minseok sedikit kasar, menariknya masuk ke apartemen dengan tergesa-gesa dan membuat yang ingin menenangkan jantungnya harus kembali mengikuti langkah super cepat Luhan yang membawanya masuk ke rumah kemudian kekamar. Seperti ketika di sekolah, anak muda itu langsung menghempaskan Minseok keatas tempat tidur.

"Luhan." Pekik Minseok, sungguh perbuatan anak ini sudah keterlaluan dan Minseok sangat ingin memarahnya saat ini. "Apa? Kau ingin marah? Marah saja aku tidak peduli." timpal Luhan tidak peduli.

"Kalau begitu lepaskan aku, sekarang aku akan benar-benar marah kepadamu."

"Tidak mau, aku tidak akan melepaskanmu." Kata Luhan sambil mendekatkan wajahnya dengan Minseok, ingin mencium bibir semerah darah tersebut namun Minseok menolak, memalingkan wajahnya sehingga bibir Luhan mendarat dipelipisnya. Minseok benar-benar marah.

"Lihat, sekarang kau sudah menolakku, tadi kau mempermainkan aku, sekarang kau menolakku. Kau tidak lupa kan kalau aku sangat membenci penolakan selain itu kau juga sudah melakukan sesuatu yang sangat tidak ku izinkan."

Okay, amarah Kim Minseok benar-benar sudah memucak, ia sudah amat tersinggung dengan ucapan Luhan. Lupa kah anak itu ketika pertama kali mereka menjalin ikatan kalau tidak boleh ada pengekangan, Luhan benci penolakan dan Minseok benci dikekang, dengan melarangnya bekerja dan harus berdiam diri di rumah setiap hari memangnya Minseok tawanan? Minseok juga butuh kebebasan dan sudah sejak lama ia ingin bekerja, ketika ia sudah bekerja kenapa Luhan malah menentangnya, Minseok akui kalau Luhan memang mampu membiyayai hidup keduanya dengan uang yang ia hasilkan, namun tidak berfikirkah Luhan kalau Minseok juga menginginkan sesuatu dan itu merupakan hasil jerih payahnya. Bukannya selalu mengandalkan Luhan, dan tidak tahukah Luhan kalau selama ini ia merasa di tampar setiap mengingat kalau ia hidup kecukupan karena Luhan, dimata umum Minseok adalah ayah bagi Luhan namun kenapa semuanya malah terbalik, seakan-akan malah Minseok seperti beban.

"Kau tidak suka di tolak? Aku juga tidak suka, di kekang. Kau anggap aku ini apa? Tawananmu yang harus selalu dirumah kemudian menyambutmu pulang lalu kita bercinta semalaman. Cih, apa sekarang ini kau sudah menganggapku hanya seorang pemuas, bukan lagi kekasih yang kau cintai atau seseorang yang patut kau hargai? Jika kau pikir aku orang yang bisa kau rendahkan seperti itu, maaf kau salah orang."

TBC/END?

NGGGG. Nggak tahu mikir apa, tiba-tiba aja jadi kaya gini. Ini sekali ketik, sekali edit dan udah deh kayak gini(?) Aku kesurupan kah pas nulis ini. Huhu, maapken aku. Dan untuk INHERITORS lagi dalam pengetikan. Sebenernya aku lagi nulis FF(LuMin) baru, pengen langsung aku post juga, tapi apa nggak kebanyakan, padahal yang ini aja baru dan yang Inheritors masih belum beres, belum lagi FF Rectangle. Huft aku dilemma jadinya, tapi idenya ngalir aja terus maunya post aja. Haha. Dan apakah ini sesuai ekspektasi atau malah mengecewakan? Semoga readers-nim suka.

cicifu : Iya, ini udah next. Udah di bacakah?

NunaaBaozie : Iya straight awalnya terus belok gara-gara si Luhen. Jadi kepinterannya itu mungkit keturunan ibunya ibu Luhan ceritanya.

Lia Darojatu966 : Iya ini sudah di lanjut. Sudah dibacakah?

Park Eun Yeong : Aku juga mikir gitu, lucu kali ya, kalo si imut Minseok di panggil appa, gitu. Haha.

Lumin : Iya ini sudah dilanjut. Sudah dibacakah?

guesswhoami : Eum nggak deh, kan Luhan gantengnya abadi. Dan Minseok nggak om om lah, kan imutnya abadi jadi dua orang ini wajahnya abadi. Abadi indahnya, asekkk hehe. Si embul? Entar juga muncul tapi belum di chap ini.

Laras Sekar Kinanthi : Iya kebanyakan gitu, Luhannya lebih tua padahal aslinya nggak. Dan aku pengen bikin sesuatu yang beda meskipun kayaknya idenya pasaran dan semua orang bisa bikin tapi, kenapa nggak di coba aja bikin Minseoknya yang lebih tua. Nggak nyambung ya? Hehe. Aku juga dulu gitu lebih suka GS karena menurutku lebih berasa feelnya tapi semakin kesini, selama itu LuMin pasti feelnya kerasa. Terimakasih udah suka sama karya aku. kisskiss

anara : Inheritorsnya udah di update. Sudah dibacakah?

minnie : Ini udah di next, sudah dibacakah? Aku bayangin mungkin lucu kali ya kalau si Umin yang imut jadi bapak-bapak.

NameT362 : Ini udah di next. Udah dibaca kah?

Park RinHyun-Uchia : Huum sama aku juga kangennnn

jiraniatriana : Nggak bukan Minseok yang hamil Luhan, yang ada Minseok di hamilin Luhan eh. Ngawur aku jawabnya, jadi sudah ketebakkah Luhan anak siapa? Bukan anak siapa-siapa karena dia anak angkat Minseok.