Me and, My Dad.

Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia

Okay, amarah Kim Minseok benar-benar sudah memuncak, ia sudah amat tersinggung dengan ucapan Luhan. Lupakah anak itu ketika pertama kali mereka menjalin ikatan, kalau tidak boleh ada pengekangan, Luhan benci penolakan dan Minseok benci dikekang, dengan melarangnya bekerja dan harus berdiam diri dirumah setiap hari memangnya Minseok tawanan? Minseok juga butuh kebebasan dan sudah sejak lama ia ingin bekerja, ketika ia sudah bekerja kenapa Luhan malah menentangnya, Minseok akui kalau Luhan memang mampu membiyayai hidup keduanya dengan uang yang ia hasilkan, namun tidak berfikirkah Luhan kalau Minseok juga menginginkan sesuatu dan itu merupakan hasil jerih payahnya. Bukannya selalu mengandalkan Luhan, dan tidak tahukah Luhan kalau selama ini ia merasa di tampar setiap mengingat kalau ia hidup kecukupan karena Luhan, dimata umum Minseok adalah ayah bagi Luhan namun kenapa semuanya malah terbalik, seakan-akan malah Minseok seperti beban.

"Kau tidak suka di tolak? Aku juga tidak suka, dikekang. Kau anggap aku ini apa? Tawananmu yang harus selalu dirumah kemudian menyambutmu pulang lalu kita bercinta semalaman. Cih, apa sekarang ini kau sudah menganggapku hanya seorang pemuas, bukan lagi kekasih yang kau cintai atau seseorang patut kau hargai? Jika kau pikir aku orang yang bisa kau rendahkan seperti itu, maaf kau salah orang."

Setelah mengatakan kalimat yang panjang, Minseok mendorong tubuh Luhan dari atasnya dan dia berlalu pergi, meninggalkan Luhan yang bertampang bodoh dan menyesali perkataannya, pasti ucapannya itu menyakiti Minseok, menyinggung perasaan Minseok yang sangat sensitive seperti pantat bayi, astaga Luhan bodoh, bodoh, bodoh.

Damchoo

LuMin/XiuHan ft BaekSoo/SooBaek

Yaoi

Malam akhirnya datang, berbeda dengan malam-malam yang sebelumnya, jika akan menjelang makan malam suasana pasti gaduh oleh ocehan Luhan dan Minseok yang berdebat untuk menentukan menu santap malam, namun kali ini, Minseok memasak seadanya sesuai bahan yang tersedia di kulkas dan Luhan menyantapnya tanpa protes, meskipun ada beberapa daging yang gosong dan sayur yang keasinan, Luhan tetap melahabnya, ia tidak ingin membuat Minseok semakin marah karena dia memuntahkan masakannya. Mereka duduk berjauhan, Luhan di ujung kanan dan Minseok di ujung kiri, tidak seperti biasannya saling berjejer atau malah kadang berpangku-pangkuan.

Minseok benar-benar marah pada Luhan dan Luhan sangat gengsi meminta maaf. "Aku selesai." Ujar Minseok, sambil membawa bekas makanannya yang sedah ludes ke wastafel "Kalau tidak berselera buang saja, jangan memaksa. Nanti kau mati keracunan" Ya Tuhan, ketus sekali. Tapi meski begitu Luhan cukup senang dengan kalimat yang terakhir, yang menandakan kalau Minseok masih perhatian padanya, apakah yang terakhir itu adalah maksud kalau Minseok tidak mau Luhan mati. Ah itu pasti maksud sesungguhnya.

Meninggalkan makananya yang masih tersisa setengah, Luhan berjalan mendekat Minseok dengan gaya seperti maling, memperhatikan punggung lelaki yang merupakan ayah sekaligus kekasihnya itu dengan tatapan memuja. Ah, marahan sebentar saja membuat Luhan gila apalagi kalau diteruskan bisa mati dia, dengan perlahan Luhan menelusupkan tangannya untuk memeluk sekitar area perut Minseok, diletakannya kepala Luhan di pundak Minseok kemudian berbisik. "Appa~"

Minseok tidak kaget, karena sudah menjadi kebiasaan jika ia sedang marah maka Luhan akan memeluknya dari belakang seperti ini, meski masih sangat kesal dengan perkataan bocah itu namun jujur saja, Minseok merindukan Luhan, merindukan sentuhan anak itu dan merindukan- astaga Minseok pikiranmu itu kenapa jadi mesum, digelengkannya kecil-kecil kepala Minseok untuk menghilangkan pikirannya yang mulai tidak beres tersebut.

"Appa~"

Minseok mendengus, kalau dia sudah marah baru manis seperti ini. Masih diam, Minseok sibuk dengan mencuci peralatan kotor bekas memasak dan bekas makan dirinya. "Na bogoshipo." Bisiknya, sambil meniup belakang telinga Minseok. Sialan anak ini batin Minseok mengumpat. "Aku disini Luhan, dan minggirlah aku sedang mencuci piring, cepat habiskan makanmu, lalu kembali kekamar." Minseok masih bertekad membuat anaknya itu menyesal telah mengabaikannya sekaligus menyinggung perasaannya.

"Tapi kau mengabaikan aku."

"Aku tidak mengabaikanmu buktinya aku memasak untukmu dan menemanimu makan, jangan mengada-ada lepaskan aku sekarang, aku sedang sibuk."

"Shireo."

"Kim Lu-

"Mianhae." Sela Luhan saat Minseok akan memanggil nama lengkapnya. "Untuk apa?"

"Eum eum." Luhan tetaplah Luhan yang selalu gengsi untuk mengungkapkan kesalahannya. Pekerjaannya telah selesai, sedikit bergerak, Minseok melepaskan tautan tangan Luhan di peutnya lalu melenggang, memasuki kamarnya. Meninggalkan Luhan yang sekali lagi bertampang bodoh. Tidak mau semakin lama diabaikan Minseok, segera Luhan menyusul Minseok kekamar yang untungnya belum di kunci, sebuah kebiasaan kalau hendak tidur, Kim Minseok pasti akan mengunci pintu.

Minseok sudah berbaring, melihat posisinya yang demikian, seringai miring muncul di bibir remaja itu, berjalan dengan cepat Luhan langsung menyerang tubuh terlentang di atas tempat tidur dengan ciumannya yang mematikan, sekali serang Minseok langsung kehabisan nafas, menerbitkan senyum kemenangan diwajah tampannya. "Ya! Kau ingin membunuhku ya?" maki Minseok begitu tautan bibir mereka terlepas. Sambil terengah dan mengatur nafas, bukannya merasa bersalah Luhan malah tersenyum tanpa dosa. "Mianhae." Ucapnya sekali lagi, sekarang dia harus mengungkapkan permintaan maaf, sudah cukup Luhan tidak mau marahan lagi dengan Minseoknya.

"Maaf untuk apa? Aku tidak tahu kau sedang membahas masalah yang mana, sedari tadi kau hanya minta maaf terus tanpa aku tahu kesalahanmu." Kata Minseok, masih ketus dan masih berpura-pura tidak tahu, biarlah. Minseok ingin Luhan sadar akan kesalahannya.

Luhan terdiam cukup lama, dan tentu saja keterdiaman itu membuat Minseok semakin kesal, sekali lagi didorongnya tubuh Luhan cukup keras, dan lagi-lagi ia segera pergi dari kamarnya, tanpa sadar langkahnya membawa Minseok pada kamar anaknya. "Embul-ah." Panggilnya seraya membuka pintu bercat biru bertuliskan Embul. Anaknya sedang berguling-guling di tempat tidur rupanya.

"Embul-ah." Mendengar namanya dipanggil Embul mendongak, mendapati ibunya sedang berjongkok di depan pintu, segera saja si Embul berlari mendekati ibunya.

Meow

"Oh anakku, sayang" kata Minseok sambil mengangkat anaknya, menimang dengan benar seakan-akan kucing gembul berbulu abu-abu gelap itu adalah seorang bayi. Meow, Embul mengeong sambil mendusul-dusulkan kepalanya didada Minseok, diisi lain Luhan berucap. "Duh, mau deh jadi si Embul."

"Ah Mbul-ah, jangan begitu kau membuatku geli." Desah Minseok, sambil meletakan Embul di atas karpet lalu ia bergelung disana, menikmati kelembutan yang tercipta dari karpet mahal bergambar club sepakbola kesukaan Luhan.

Di pintu tidak sadar kalau seonggok manusia sedang memperhatikan, ingin ikut bermain dengan Minseok dan anaknya namun takut dituntut jawaban mengenai izinnya, Luhan bingung ia benar-benar tidak suka kalau Minseok menjadi pusat perhatian, namun kalau tidak diizinkan Minseok pasti akan terus marah padanya.

Untuk beberapa saat, Luhan hanya bisa memperhatikan dari jauh tanpa berani mendatangi Minseok dan anak mereka, padahal sangat ingin, namun tidak mau disuguhi pertanyaan tentang izin itu. Sampai suara bell didepan mengalihkan keduanya. Menoleh sebentar pada Minseok kemudian Luhan melangkah menuju pintu, menekan tombol interkom bisa dilihatnya ada dua manusia sedang berdebat.

Kyungsoo menghela nafas, meladeni semua hal yang keluar dari mulut Baekhyun adalah sesuatu yang menguras tenaga, melelahkan dan berujung jengkelan, hari ini ia sedang senang dan ia tidak mau kesenangannya dirusak hanya karena alasan-alasan tidak masuk akal yang terus dilontarkan Baekhyun untuk menghentikan kunjungannya pada hyungnya, hyung imutnya yang juga hari ini sedang merasa senang.

Hari ini Minseok mendapatkan pekerjaan setelah bertahun-tahun menyandang predikat pengangguran abadi dan juga dirinya, ia akan mendapat promosi kenaikan jabatan, sudah sangat lama Kyungsoo menginginkan ini, merasakan kebahagiaan bersama dengan orang yang sudah dianggap keluarganya sendiri dan malahan Baekhyun mencoba menghancurkan kesenangannya, dengan mengatakan kalau Luhan tidak akan suka, anak itu tidak akan suka dengan kunjungan mereka. Hey, ia tidak berniat mengunjungi Luhan kok, dia berniat mengunjungi Minseok untuk merayakan hari yang membahagiakan ini.

"Iya, aku tahu Kyungieku sayang, cintaku, manisku, burung hantuku, pinguinku." Ujrnya dengan bibir monyong-monyong minta di tendang, rasanya itu terdengar bukan seperti rayuan tapi ejekan, apa katanya? Manis? Burung hantu? Penguin?.

"Ya Byunbaek, aku ini laki-laki, aku tidak manis. Aku ini manusia apa kau pikir aku ini terlihat menakutkan sehingga kau memanggilku burung hantu atau aku ini terlihat pendek dan aneh ketika berjalan? Kau sedang menghina aku." kata Kyungsoo berapi-api matanya melotot tajam kentara sekali tidak sukanya dan Baekhyun langsung terdiam, mengatupkan mulutnya, tapi memang dasar Baekhyun betah diam pasti hanya beberapa detik habis itu "Bukan begitu maksudku sayang, itu hanya bentuk rasa cintaku tidak ada hal didunia ini yang bisa membuat hidupku menyenangkan dan semanis gula selain kau, dan kau tidak menakutkan aku begitu karena matamu yang bulat seperti burung hantu dan kau sangat menggemaskan seperti penguin" jelasnya panjang, tidak mau membuat Kyungsoonya yang garang ini semakin marah, bisa gawat kalau dia marah, bisa-bisa Baekhyun uring-uringan seperti Luhan, tidak.

"Dasar raja gombal, aku tidak percaya padamu."

"Siapa Luhan? Kenapa kau hanya memandanginya tanpa membukakan pintu." Luhan berjengit dan memutar tubuhnya cepat, ia kaget mendengar suara Minseok yang terdengar begitu dekat dan ternyata memang berdiri tepat dibelakangnya sambil menggendong si Embul. "Astaga kau mengagetkan aku." kata Luhan dengan tangan memegangi dadanya, nada suaranya yang meninggi sepertinya membuat Minseok kembali tersinggung, terlihat dari kepalanya mundur sedikit juga menggertakan giginya.

"Kau membentakku? Aku hanya bertanya Luhan dan kau sudah berani membentak aku? Sudah bosan dengan aku ya? Sudah ingin putus."

Sontak ia menggeleng, meraih tangan Minseok dengan wajah menyesal namun segera ditepis "Jangan sentuh aku."

"Aku tidak sengaja Minseok, aku kelewat kaget karena tadi memperhatikan Kyung-ahjussi dan Baekhyun berdebat diluar jadi aku-

"MWO? Jadi yang diluar Kyungie dan Baekkie? Lalu kau tidak membukakan pintunya malah hanya memperhatikan? Kau mau membuat mereka mati kedinginan ya. Kau keterlaluan sekali Luhan, mereka itu teman kita, astaga."

Bruk, tubuh Luhan terhempas kedingding karena Minseok mendorongnya sambil menyerahkan Embul, setelah itu tergesa menuju pintu untuk membukakan pintu bagi tamu tak diundang yang kehadirannya sangat Luhan kutuk, untuk apa mereka bertamu malam-malam, Baekhyun pula sudah tahu ia sedang dalam masalah dengan Minseok pakai datang segala kemari. Awas kau Byun Bacon.

"Astaga Kyungie-Baekkie, apa kalian baik-baik saja? Aku tahu diluar dingin, seharusnya begitu sampai kalian menghubungiku jadi aku akan langsung membukakan pintunya"

"Diluar memang sudah sangat dingin udara musim gugur begitu mengerikan, sebenarnya aku bisa saja menghubungimu tapi seseorang mengajakku berdebat dan itu membuatku kesal jadi aku lupa untuk menghubungimu." Dapat Luhan lihat, Minseok menoleh sedikit pada Baekhyun yang kini hanya menggaruki punggung kepalanya yang Luhan yakini tidak gatal, ah rupanya nasib Luhan dan Baekhyun lagi-lagi sama. Sama-sama sedang dimusuhi kekasih.

"Ah jinja? Kalian sedang bertengkar?" bisik Minseok yang mencoba untuk menyembunyikan perkataannya namun sepertinya Kyungsoo sedang tidak peduli pada Baekhyun maka "Bertengkar apanya? Dia saja yang mengatakan hal aneh, dia bilang kalau berkunjung malam ini itu akan menganggumu dan Luhan, dia bilang kau sedang dalam malam yang panjang bersamanya dan tidak mau diganggu padahalkan aku sudah mengatakan padamu kalau aku akan berkunjung malam ini untuk merayakan sesuatu." Kyungsoo berkata sangat panjang dan penuh penekanan membuat wajah Minseok otomatis memerah dan dia memicingkan matanya pada Luhan dan Baekhyun bergantian. Bukan tanpa alasan wajahnya berubah jadi merah, itu karena ia paham maksud dari perkataan Kyungsoo, itu menjurus pada hal-hal berbau dewasa dan Minseok sangat malu.

Ayolah, Minseok dan Luhan memang memiliki kegiatan malam tapi apakah hal semacam itu bisa diumbar terhadap semua orang meskipun dia adalah teman sendiri. "Dasar bocah kriminal." Desisnya, dan itu membuat Luhan dan Baekhyun langsung cekukan, sungguh seperti anak kembar dua bocah ini.

"Hyung bicara apa?"

"Ah ani, eum oh ya tadi kau bilang ingin merayakan sesuatu. Apa itu?"

"Ah majja, merayakan promosi kenaikan jabatanku dan merayakan hari pertamamu bekerja, hyung chukkae"

"Jinja? Jadi kau naik jabatan? Kyungie chukkae." Lalu keduanya melompat-lompat kegirangan seperti seorang fangirl yang baru saja disentuh pipinya oleh sang idola, dan LuBaek hanya bisa mendengus.

"Gomawo hyung, ah lihat ini." Kyungsoo mengangkat tinggi rantang besar yang ia bawa dari rumah, berisi makanan yang ia masak dengan sepenuh hati sebagai bentuk rasa senangnya dengan apa yang diterimanya hari ini dan juga apa yang diterima Minseok.

"Aku memasak ini untuk merayakan hari baik ini"

"Gomawo Kyungie kau memang yang terbaik." Ujar Minseok sambil mengacugkan dua ibu jarinya, lalu menuntun Kyungsoo menuju ruang makan untuk memulai perayaan ala XiuSoo, meninggalkan LuBaek yang sakit hatinya karena diabaikan.

"Jadi namanya Luhan? Ya tuhan dia tampan sekali, dia sudah besar dan tumbuh dengan baik." seorang wanita berumur tigapuluh delapan tahun itu menatap sebuah ketas dimana terlihat seorang bocah mengenakan seragam sedang tertawa, foto yang diambil dari kejauhan tapi tetap terlihat jelas bagaimana rupa wajahnya.

"Iya, nama marganya Kim, karena dia diasuh oleh seorang lelaki bermarga Kim, seorang ayah tunggal yang berasal dari Guri, namun sejak tujuh belas tahun lalu ia pindah dan membesarkan Luhan di Seoul, kehidupan awal mereka sangat mengenaskan, Luhan kecil dibawa pergi bekerja kemana-mana karena ayahnya bekerja serabutan, namun sejak tujuh tahun ini hidup mereka berubah setelah Luhan mendirikan perusahaan otomotif, keamanan dan elektronika, mereka pindah di kawasan perumahan elit dan Luhan bersekolah ditempat dimana dia menjadi salah satu penyumbang dana." Jelas lelaki berjas hitam sambil mendorong beberapa lembar berisi catatan kehidupan Luhan.

"Orang seperti apa ayah angkat Luhan itu?" kali ini seorang lelaki yang duduk disamping siwanita yang mengeluarkan suaranya, menyuarakan pertanyaannya yang sudah tidak bisa lagi ditahan.

"Namanya Kim Xiumin, tidak banyak yang bisa kucari tahu mengenai Xiumin karena dia hidup dengan misterius, siapa orangtuanya, latar belakang, pendidikan, tidak ada yang tahu, yang aku tahu adalah dia seorang ayah tunggal bagi Luhan dan selama sepuluh tahun dia bekerja keras untuk meghidupi dirinya dan Luhan, namun sejak Luhan menjadi jutawan muda karena mampu menciptakan mobil ramah lingkungan dan kamera pengintai yang kini merajai pasaran, ia berhenti bekerja, tapi hari ini saya mendapat informasi kalau ia diterima sebagai seorang guru seni budaya di sekolah dimana Luhan belajar." Kembali lelaki berjas hitam menyodorkan beberapa lembar kertas printout dan beberapa lembar foto.

"Kau yakin ini ayah Luhan?" tanyanya lagi dengan kening berkerut, tidak hanya silaki-laki namun juga siwanita, pasalnya yang mereka lihat dalam foto seperti seorang remaja SMP. "Benar tuan, dia adalah Xiumin, dari beberapa sumber yang saya dapat ia seumuran dengan anda, malahan dia lebih tua dari anda 26 Maret 1990." Ucapnya, mengingat tanggal lahir Xiumin yang ia dapat dari registrasi kartu sekolah milik Luhan.

"Apa dia memiliki isteri."

"Tidak tahu, tercatat dalam kartu sekolah Luhan kalau Xiumin orangtua tunggal."

"Apa kami bisa mendapatkan kontak Xiumin?"

"Semuanya sudah tercantum dalam lembar terakhir data Xiumin, termasuk alamat rumah dan nomor telepon."

"Oh baiklah, kalau begitu kau bisa pergi."

"Baik tuan, saya permisi kalau begitu."

Silaki-laki hanya mengangguk lalu berjabat tangan, mengantarkan lelaki berjas hitam kedepan lalu masuk lagi.

"Akhirnya kita menemukannya" kata siwanita yang merupakan isterinya.

"Eum, kita menemukannya."

Minseok menatap sengit pada Luhan yang kini dengan bringas melahab masakan buatan Kyungsoo, rasanya sungguh dia semakin tersinggung, ia ingat dengan jelas tadi Luhan sangat setengah hati memakan masakannya dan sekarang anak itu melahab masakan orang lain didepan matanya seakan-akan dia tidak pernah makan enak atau tidak pernah diberi makan, keterlaluan.

"Enak sekali ya Lu? Kau terlihat sangat menikmatinya."

"Eoh, masakan Kyungie-jussi memang yang terbaik, mengalahkan chef terkenal dimanapun." Sahutnya tanpa menatap siapa yang berbicara. "Benarkah? Wah pasti Baek beruntung sekali kan memiliki appa seperti Kyungsoo yang masakannya melebihi chef terkenal dimanapun."

"Tentu saja, iya kan Ba- aw. Ya! Kenapa kau menginjak kakiku Bacon!" seru Luhan keras, tidak terima dan marah. "Ah, Luhan hanya bercanda kok, masakan Min-appa juga enak." Gumam Baekhyun sambil memberikan isyarat pada Luhan untuk menoleh pada Minseok, namun dasar Luhan, tidak peka yang justru malah mengibaskan sebelah tangannya, "Iya, tapi kadang-kadang. Tadi saja masakannya gosong dan keasin- aw. Ya!

Plak. Satu tamparan mendarat dipipi Luhan, itu dari Baekhyun. Awalnya Luhan merasa tidak terima karena sudah kakinya diinjak, ditampar pula, namun sepertinya Luhan kali ini bisa memahami, mengerti mengapa sahabatnya itu melakukan itu, untuk Luhan menoleh dan melihat Minseok. Ayah sekaligus kekasihnya yang kini menatapnya begitu tajam dengan wajah merah sempurna, Luhan tidak bisa tidak menelan salivanya gugup, lalu tersenyum canggung.

Menampar pipinya sendiri dengan tangannya, lalu berkata. "Aku hanya-

"Eh, hyung mau kemana? Sudah selesai makannya? Ini masih banyak hyung." Kyungsoo yang baru kembali dari dapur membawa minuman hangat kaget, melihat Minseok yang terlihat kesal dan meninggalkan meja makan tanpa menjawab pertanyaannya.

"Xiu-hyung kena- eh, kenapa Luhan juga pergi ada apa?" lagi-lagi Kyungsoo dikagetkan oleh Luhan yang juga meninggalkan ruang makan. "Mereka kenapa?" akhirnya ia bertanya pada Baekhyun, satu-satunya orang yang tersisa dan melahab makanannya sambil geleng-geleng kepala. "Luhan bodoh itu, dia menyinggung perasaan Min-appa."

Beban Luhan untuk sebuah pengampunan dari Minseok sepertinya bertambah, bodohnya Luhan mengatakan hal demikian padahal Minseok jelas-jelas ada didepannya dihadapannya dan lelaki itu pula yang bertanya, seharunya ia hanya cukup menjawab, enak atau lumayan saja bukannya malah mengatai Minseok, okay memang apa yang dikatakannya adalah fakta namun Minseok adalah orang yang memiliki kesensitifan yang maha tinggi dan sangat mudah tersinggung, terlebih ia memang sedang dalam mood buruk gara-gara masalah yang sama, Luhan menyinggung Minseok.

"Aku tidak bermaksud mengatakan itu, sungguh."

Buk. Satu bantal tidur mendarat tepat diwajah Luhan, untung bantal, ah Luhan ingat semua benda keras sudah habis dilempar Minseok, seperti mainan, remot tivi kamar, sandal yang di pakai Minseok, sampai hampir ia melemparkan vas bunga berbahan kramik. "Biar kujelaskan dulu sayang, eoh. Dengarkan aku." kata Luhan sambil mencoba mendekat pada Minseok namun dengan kewaspadaan yang tinggi karena tukut jika ia lengah sedikit saja, kepalanya akan tertimpa benda yang tidak diinginkan.

"Tidak, aku sudah sakit hati denganmu, kau menyebalkan, aku benci padamu pergi dan jangan mendekat." Hampir saja wajahnya yang tampan ini terkena sandal Minseok yang tadi tersisa satu, untung refleknya cepat. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengataimu, lagipulakan memang benar masakan Kyung ahjussi memang enakkan, kau juga memujinya kan."

"Memang benar, tapi apa perlu kau umbar kalau aku tidak bisa masak, huh?"

"Aku tidak sengaja mengatakannya, aku reflek-

"Reflek mengatai kekasihmu sendiri? Kau ini sudah bosan berpacaran denganku ya."

"Ani-bukan seperti itu, astaga. Bagaimana cara menjelaskannya." Erang Luhan frustasi, sambil menjambak rambutnya dan menghentakan kakinya. Bagaimana cara menjelaskan pada Minseok. Tolong beritahu Luhan, berikan saran untuknya yang sudah sangat frustasi ini, ya tuhan.

"Apa mereka baik-baik saja?" diluar, Kyungsoo dan Baekhyun yang akan berpamitan pulang menjadi ragu, pasalnya di dalam terdengar seperti sedang perang dunia kedua, dengan bunyi barang-barang yang dilempar dan samar-samar Kyungsoo mendengar teriakan. "Aku tidak tahu, tapi kuharap Luhan masih hidup besok."

"Ish kau ini bicara apa? Memangnya apa yang akan dilakukan Min-hyung sampai kau berkata seperti itu."

"Mereka sedang bertengkar dan itu karena kebodohan Luhan, ini sudah kedua kalinya sibodoh itu menyinggung perasaan Min-appa, sudah pasti nyawanya terancam. Luhan kan paling tidak bisa marahan dengan Min-appa karena jika Min-appa sedang marah pada Luhan, Luhan seperti sedang menghadapi detik-detik kematiannya tapi selalu saja tidak peka."

"Seperti kau ini peka saja, kau dan Luhan kan sama saja." cibir Kyungsoo.

"Eiy. Tapi aku ini lebih baik dari dia yang bodohnya keterlaluan."

"Kau juga bodoh Byunbaek, kau ingat berapa nilai ulangan bahasamu? Nilaimu itu benar-benar mengecewakan."

"Astaga, apa 98 itu masih kurang? Itu sudah lumayan dan aku adalah pemegang nilai tertinggi."

"Baru lumayan kan, biasanya kau mendapat nilai sempurna Baek, dan aku sangat kecewa melihatnya. Kau sudah mulai malas belajar tidak mau mendengarkan aku dan sekarang kau rasakan sendirikan hasilnya."

Ya tuhan.

.

.

Beginilah jadinya, jika Luhan dan Baekhyun sudah salah bicara. Memang seharusnya keduanya tidak bicara agar pembicaraan itu tidak berlanjut dan tidak melantur tidak melenceng dari pembicaraan awal dan tidak menjadi masalah yang berkepanjangan, Baekhyun akan dihadapkan pada Kyungsoo sigila nilai sempurna dan Luhan akan dihadapkan pada Minseok sisensitif luar biasa.

Memang mereka berdua memiliki nasib yang samakan. Jika Luhan dalam masalah perdebatan mulut dengan Minseok maka entah bagaimana Baekhyunpun juga seperti sekarang ini contohnya. Dan sebaiknya mari kita biarkan cerita ini berhenti sampai disini agar mereka menyelesaikan perdebatan itu sampai besok atau setidaknya sampai mereka lelah dan tidur. Kita sambung ini di cerita berikutnya. Jaljayo LuMin-ah, jaljayo BaekSoo-ah. Annyeong.

TBC/END?

Park RinHyun-Uchica : Varokah deh pokoknya. Haha.

jiraniatriana : Sabar ya chingu, nanti juga akan dijelaskan kenapa Minseoknya diasingkan keluarganya, Oedipus syndrome itu bukan makanan, haha. Itu sindrom dimana seorang anak berhasrat untuk memiliki orangtuanya, kalo laki-laki ke ibunya kalo perempuan keayahnya, tapi karena ini cerita Yaoi jadi aku bikinya laki-laki ke laki-laki. Sindrom ini diambil dari nama mitos Yunani tentang Oedipus yang tanpa diketahui membunuh ayahnya Laios kemudian menikahi ibunya Lokaste. Aku ngakak pas baca Oedipus itu sejenis makanan. Haha, bukan atuh.

Kyungxe : Nanti juga dijelaskan kenapa si Xiu itu nerima Luhan tapi belum di pacapter ini, dan aku sudah selipkan BaekSoo, apakah sudah banyak?

Laras Sekar Kinanthi : Iya sebenernya mau post lagi tapi takut pada terbengkalai jadi masih aku simpen, sesekali kalo yang di FFn udah selesai aku lanjut yang itu atau yang lain, jadi nanti kalau udah ada yang selesai bisa post post dan post hehe. Oke fighting.

minnie : Tambahan orang ke-3 akan aku pikiran tapi mungkin akan di usahain, kayaknya kalo cuma romantis-romantisan ntar jatuhnya jadi monoton dan malah ngebosenin, terimakasih lho sarannya.

guesswhoami : Pipisnya kan celananya dibukain sama pacar jadi pasti bener kaka haha. BaekSoonya, iya jarang banget aku suka BaekSoo pas baca ff LuMin ft XiuHan yang judulnya Annoying Brother itu lucu bgt tapi kayaknya udah dihapus soalnya aku cari nggak ada makanya aku bikin, sesuai pair fav aku. Okay aku pikirin, tapi sebenernya aku nggak terlalu jago bikin yang enaena, tapi aku tetep akan buat dan masalah hot atau enggak kan entar ada masukan jadi akan lebih baik, haha, apa ya ini.

.

.

See You.