Me and, My Dad.

Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia

Julukannya adalah LuBaek atau Luhan Baekhyun. Dua kawan yang dianggap mempesona namun gila, jika mereka terpisah julukan pangeran sekolah mungkin akan cocok, namun jika bersama mereka akan disebut badut, radio rusak, sibadut tampan dan masih banyak lagi julukan mereka, namun bagi Minseok dan Kyungsoo, Luhan dan Baekhyun adalah dua kriminal, sahabat kriminal dan semua hal yang berbau kriminal adalah gambaran dari Luhan dan Baekhyun.

Dan hari ini, duo kriminal yang biasanya akan onar pagi-pagi kini tampak lesu, murung dan tidak bersemangat, alasannya? Tentu saja duo ayah sedang marah, Luhan belum berbaikan dengan Minseok dan begitu juga dengan Baekhyun yang masih marahan dengan Kyungsoo, parahnya Kyungsoo memberikan syarat jika ulangan matematika hari ini mendapatkan nilai sempurna lelaki burung hantu itu akan memaafkannya tapi jika tidak maka jangan harap.

Dan tentu saja kata pertama yang keluar dari mulut Baekhyun adalah gila, yang benar saja, nilai tertinggi yang pernah ia capai dalam pelajaran matematika adalah 88 dan sampai sekarang masih belum ada yang mampu melampaui, sekeras apapun Baekhyun berusaha, nilainya hanya berkisaran disana tidak naik apalagi kurang. Terlebih sekarang, jika sedang ada masalah begini dengan Kyungsoo pula, bagaimana bisa ia mendapatkan nilai sempurna, mendapat nilai yang biasa saja entah apalagi sempurna.

"Arghhh." Erang Baekhyun frustasi, dan ternyata, sepertinya mereka berdua memag kembar, karena mereka melakukan hal yang sama yang langsung menjadi pusat perhatian dari semua teman sekelas.

"Ini gila Baek." Ujar Luhan sambil menjambak rambutnya dan memutar badan menghadap Baekhyun. "Minseok bilang kalau ingin aku dimaafkan aku harus mendapat nilai sempurna diulanganku hari ini." ujar Luhan, yang sontak membuatnya menganga, hey bagaimana bisa sama seperti itu.

"Ini sangat bertentangan dengan masalah kami, aku bahkan sudah mengizinkan dia bekerja tapi katanya itu tidak cukup sebagai kesungguhanku meminta maaf dia mau aku mendapat nilai sempurna diulangan hari ini, astaga lulus dari KKM saja aku belum tentu." Sejujurnya mengenaskan sih, terlebih Luhan. Diakan memang bodoh dalam urusan pelajaran, tapi cukup lucu, akhirnya Luhan yang memiliki hargadiri tinggi mengakui kebodohannya hanya karena seorang lelaki bantet bernama Kim Minseok, dan tawa Baekhyun tidak bisa ditahan. Terbahak sampai rasanya ingin kencing.

"Ya, kenapa kau tertawa, sialan." Bentak Luhan pada Baekhyun.

"Kurasa kau tidak akan berbaikan dengan Min-appa, kau tahu kaukan bodoh dalam semua mata pelajaran, apalagi matematika, nilai tertinggi yang pernah kau dapatkan hanya 3,26 astaga itu masih sangat jauh Luhan." Dan perkataan itu sontak mengundang gema tawa dari seluruh teman sekelas, bukan hanya Baekhyun yang mentertawakan Luhan sekarang tapi semua teman sekelasnya. Dan tentu saja tangannya tidak bisa tidak menggeplak kepala Baekhyun.

"Ya" teriak Baekhyun tidak terima sambil memegangi kepalanya yang kena pukulan sayang dari Luhan. "Orang bodoh mana yang menciptakan mobil diusia sepuluh tahun?" ujar Luhan lalu Baekhyun menampilkan wajah berfikir. "Ada" Baekhyun berkata. "Siapa?" tanya Luhan.

"Kau."

"HAHAHA" Dan gema tawa terdengar lagi, kini semakin nyaring dan menggelegar, seakan mentetrtawai Luhan adalah sebuah kebahagiaan dan baru berhenti ketika Minseok datang, guru baru itu sekarang menjadi wali kelasnya, menggantikan Chanyeol yang sekarang menjadi guru seni musik, dia benci dengan fakta itu, pasalnya guru seni budaya dan seni musik adalah dua guru yang paling sering mendapatkan kerja sama, terlebih sekolah Luhan sangat terkenal dengan seninya, sebut saja Kim Jongdae anak kelas sebelah yang memiliki suara emas dan nada jernihnya sangat mengagumkan, nada tingginya juga sangat baik, ia bisa melampau jika tidak salah tiga oktaf, dan jika sedang ada kegiatan di sekolah, Jongdae selalu menjadi bintang karena penampilannya sangat ditunggu, baik penampilan individu maupun bersama kelompok paduan suaranya.

Dan jika sudah seperti itu yang selalu ada dibelakang layar adalah guru seni budaya dan seni musik, guru seni budaya merangkai konsep untuk penampilan dan seni musik untuk memadupadankan konsep dan yang akan tampil. Mengesalkan dan menyebalkan, meski Luhan tidak tahu Chanyeol itu lurus atau bengkok tapi tetap saja itu membuat Luhan was-was, dia belum menikah, dan dengan Minseok terlalu dekat. Luhan tidak mau kalau Minseok sampai berpaling darinya, Luhan bahkan enggan membayangkan.

"Luhan kurasa anak itu memandangimu." Baekhyun yang menyiku lengan Luhan, sambil mengarahkan dagunya pada seorang anak laki-laki berseragam sama dengan mereka namun wajahnya terlihat asing, ah tidak tapi setengah familiar, membuat lamunannya yang tegah menerawang tentang Chanyeol dan Minseok buyar seketika.

Mata keduanya bertemu, remaja berkulit pucat itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Luhan yang jujur saja membuatnya risih, hey jika yang memandanginya seperti itu adalah Minseok mungkin bukan masalah, namun orang asing yang ternyata adalah siswa baru, pindahan dari luar negeri namun sangat fasih berbahasa Korea, tentu saja lain cerita.

"Kau bisa duduk disamping Luhan, Sehun."

Damchoo

LuMin-XiuHan ft BaekSoo-KyungHyun

Yaoi

"Jadi namamu Luhan." Tanya sianak baru sambil menghadap Luhan, mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan menunggu Luhan menjabat tangannya. Luhan memperhatikan sejenak tangan anak itu, ia merasa aneh, tatapannya tajam, seperti menyimpan kebencian namun bibirnya melengkung, menandakan kalau dia sedang tersenyum.

"Eoh, Kim Luhan imnida." Meski begitu Luhan tetap menjabat tangannya, biar bagaimanapun Luhan masih tahu sopan santun walau dia merasa aneh dengan Sehun yang entah kenapa terus memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan tapi dia teman sekelasnya sekarang.

Setelah perkenalan dengan Sehun yang lumayan kaku, Luhan berjalan menuju meja Baekhyun, anak itu sedang belajar, niat sekali mendapat nilai sempurna, ah Baekhyun memang yang terpandai dikelas, meski berteman dengan Luhan yang malasnya luar biasa namun Baekhyun tidak pernah lupa belajar, Luhan kagum, dan ia merasa bangga memiliki teman semacam Baekhyun, ia mengakui tapi tidak akan pernah mengatakan secara langsung pada temannya itu, pasti dia akan besar kepala. Repot kalau kepalanya besar padahal tubuhnya kurus kering. Oops.

"Kau tidak pergi ke rooftop?" tanya Luhan seraya mendudukan bokongnya dikursi dihadapan Baekhyun. "Tidak, aku harus belajar kalau masih ingin hidup." Sahut Baekhyun sambil menghapus beberapa angka dikertasnya.

"Kau berkata seakan nilai adalah penentu hidupmu."

Baekhyun mendongak, menatap Luhan sebelum kembali pada bukunya. "Hidupku memang bergantung pada nilai, kau tidak akan menyangka bagaimana gilanya Kyungsoo terhadap nilai sempurna."

Duo kriminal yang sedang asik mengobrol tidak sadar sedang diperhatikan oleh sepasang mata, memperhatikan Luhan sebenarnya, tatapan yang sulit diartikan karena sedikit tersembunyi dibalik poninya.

"Aku lapar Baek, kalau kau mau belajar ya sudah, aku ke kantin dulu." Ujar Luhan, baru beranjak sedikit langkahnya terhenti oleh panggilan Sehun.

"Luhan."

Dan yang dipanggil hanya menoleh. "Kau mau kekantin? Bersama denganku ya, aku juga lapar tapi tidak tahu jalan." Katanya, Luhan tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan.

Minseok uring-uringan diruang kerjanya sambil berkali-kali melihat pada ponselnya, Luhan belum menghubunginya, mereka tidak bicara saat pagi dan sekarang anak itu belum menghubunginya, dasar tidak peka, sudah tahu kekasihnya sedang marah malah didiamkan, Minseok kan rindu, tapi malu mengakui gengsi dong, dia harus sedikit jual mahal.

Tapi Luhan benar-benar tidak peka, sudah tahu Minseok mudah merindukannya tapi bukannya membujuk agar tidak marah, eh sekarang malah mengabaikan, dan bodohnya kenapa kemarin ia mengatakan kalau jika Luhan mendapat nilai sempurna baru ia akan memaafkan Luhan, ya tuhan bodohnya Minseok, sudah tahu Luhan bukan Baekhyun, Baekhyun adalah juara kelas, pemilik nilai sempurna di beberapa mata pelajaran dan nilainya tidak ada yang dibawah 8, nilai terendahnya adalah 88 dan jika Kyungsoo memberinya syarat itu untuk pengampunan Baekhyun, itu wajar, Baekhyun pasti bisa melakukannya, sedangkan Luhan? Ya tuhan, Luhan lulus KKM saja sudah untung, masa disuruh mendapat niali sempurna.

Sebaiknya Minseok harus masuk kelas berbicara, ia harus mengontrol ucapannya agar tidak asal bicara dan agar tidak menyesali apa yang telah ia ucapkan, Minseok menyesal telah meminta Luhan mendapat nilai sempurna dan Minseok menyesal tidak langsung memaafkan Luhan, aduh kan, dia jadi kesal sendiri, kenapa dia bisa sebodoh ini. dan bisa-bisanya ia begitu merindukan Luhan.

Saat sedang asik dengan pikirannya tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, masuklah lelaki jangkung bernama Chanyeol. "Minseok sedang apa?" tanyanya. Sedang merana karena cinta. "Tidak sedang apa-apa, wae?"

Ngomong-ngomong berhubung mereka adalah teman lama, jika sedang berdua seperti ini Minseok dan Chanyeol sepakat untuk tidak bersikap formal, mereka akan bersikap selayaknya teman. "Aku mengantarkan ini, dari wakil kepala sekolah, bulan depan ada lomba menyanyi antar sekolah dan dia memintaku dan kau untuk mengurus semuanya." Katanya, mendorong sebuah map bening dan duduk dihadapan Minseok.

"Jadi kita ada dua perwakilan?" tanya Minseok saat sudah membaca isi dari map tersebut.

"Eoh, tahun ini dua, biasanya sih satu, hanya Jongdae tapi aku pernah mendengar Baekhyun menyanyi dengan Luhan disebuah karaoke." alisnya mengernyit kalau mendengar Baekhyun dan Luhan menyanyi di karaoke kenapa yang dicantumkan hanya Baekhyun, kenapa Luhan tidak, heh suara Luhan juga bagus tahu.

"Kenapa hanya Baekhyun? Tidak tertarik dengan suara Luhan?" tanyanya lagi, sebisa mungkin tidak menunjukan kekesalannya pada Chanyeol, iya Minseok kesal, kalau Luhan ikut kan ia jadi punya alasan untuk berduaan dengan Luhan. Hehe.

"Awalnya kupikir akan bagus kalau mereka digabungkan, tapi maksimal peserta tiap sekolah hanya dua, dan karena prestasi Jongdae sudah banyak dan tidak perlu diragukan lagi maka kita tinggal mencari partnernya saja, dan kurasa Baekhyun cocok." Kata Chanyeol, dengan wajah berbinar gembira, sepertinya Minseok mencium bau-bau aneh dengan mata Chanyeol, seperti ada maksud lain dalam perkataannya.

"Lalu kenapa kau menyerahkan ini padaku?"

"Tentu saja karena kau dan aku yang akan bertanggung jawab dengan ini, mulai besok kita akan mulai latihan dan kau tentu saja untuk mengkonsep seperti apa mereka akan tampil." Minseok mengangguk-angguk paham. Rupanya itu.

"Ah sudah dulu ya, aku harus memanggil Jongdae dan Baekhyun."

Aku akan dapatkan nilai sempurna.

Pesan Luhan tepat setelah Chanyeol menutup pintu. Ia ingin percaya tapi sulit. Baru akan mengetikan balasan tapi pesan baru keburu muncul lagi. Temui aku di rooftop sebelum masuk. Yes. Minseok bersorak gembira, akhirnya Luhan mengajaknya bertemu, dengan cepat Minseok merapihkan rambut dan penampilannya, apakah dia sudah tampan atau belum untuk menemui Luhan, dengan semangat yang membara ia segera keluar dari ruangannya dan berjalan menuju atap. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Luhan tapi begitu tinggal dua anak tangga, Minseok memelankan langkahnya, berjalan sebiasa mungkin agar Luhan tidak GR, biar bagaimanapun Minseok tidak mau terkesan gampangan, dih enak saja.

Sehun rupanya seperti lintah yang selalu menempel padanya padahal jelas-jelas Luhan mengatakan kalau dia punya urusan pribadi, namun untngnya dia mendapat panggilan yang entah dari siapa dan langsung memisahkan diri jauh-jauh darinya sehingga Luhan bisa sampai disini, di rooftop untuk menunggu Minseok Aku akan dapatkan nilai sempurna. Pesan pertama, dia tidak yakin tapi dia telah merencanakan kencan singkat yang romantis dan berharap akan meluluhkan sedikit kekeras hatian Minseok yang menuntut hal mustahil. Hah, rasanya mustahil sekali, nilai sempurna adalah kiamat kecil.

Temui aku di rooftop sebelum masuk. Dan setelah menekan tombol send Luhan menoleh pada meja dalam kamar di rooftop yang sudah penuh dengan makanan, ia berniat mengajak Minseok makan bersama pasalnya pagi ini mereka belum sarapan gara-gara pertengkaran konyol ini, dan ia ingin menebus kesalahannya, dan siapa tahu ia mendapatkan jackpot kan lumayan, hehe.

Menunggu cukup lama, akhirnya pintu terbuka, menampilkan wajah Minseok yang ketus dan lelaki itu duduk berjauhan dengan Luhan, dengan cara menghempaskan bokongnya diatas kasur yang lumayan empuk ini. Duh, rasanya ingin sekali bokong itu menghempas di pangkuannya.

"Appa"

"Mwo"

Uh ketus sekali "Chagiya" Luhan terkekah saat melihat rona merah menyala dipip Minseok, pasti ia tersipu, dasar tsundere. Ia meraih tangan Minseok, kekasih galaknya itu ingin menarik tapi Luhan malah menariknya lebih dulu sehingga kini mereka saling merebah dengan Minseok menimpa tubuh Luhan.

"Ya apa yang kau lakukan"

Chu.

Mata tanpa lipatan itu membola. Menatap Luhan kemudian menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Luhan, beberapa saat tatapannya linglung namun sedetik kemudian memicingkan mata. "Kau- chu. Lagi Luhan melakukannya. "Aku akan dapatkan nilai sempurna dengan ini."

Dan ciuman itu menjadi lama tanpa Minseok bisa mengatakan apapun, saat bibir lembut Luhan menyapu bibirnya, Minseok seakan terbang keudara, dia sangat merindukan, sudah dua hari ia dan Luhan tidak bersentuhan jadi ketika kini Luhan dan Minseok saling menempelkan bibir kemudian Luhan menggigit kecil untuk Mnseok membuka mulutnya maka Minseok dengan senang hati melakukannya.

Lidah Luhan menyapu seluruh isi mulut Minseok, menyapa deretan gigi timun Minseok berakhir dengan pertrungan lidah, posisi Minseok yang ada diatasnya dan menumpukan beratnya pada Luhan tidak membuatnya kesulitan menginvasi rongga Minseok malah dengan begitu ia bisa memeluk Minseok sepanjang ciuman berlangsung, ketika akhirnya pasokan oksigen menipis barulah Luhan melepaskan kontak bibirnya, Minseok terengah meletakan kepalanya didada Luhan.

Klik.

TBC?

Seharusnya dengan mengetik seperti ini, tidak memerlukan waktu yang lama dan bisa di post kapan saja. Tapi berhubung kalo ngetik sambil mikir itu kadang bahaya apagi sambil puasa. Makanya aku baru bisa post sekarang, maaf kurang memuaskan dan abal bgt. Ini diketik disela pekerjaan yang sedang menumpuk karena menjelang lebaran(meski masih lama). Maaf masih belum bisa bales review. Di Chapter selanjutnya akan aku usahakan lebih baik dari ini.