Me and, My Dad.
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia
…
Seperti dugaan Baekhyun, nilainya tidak akan jauh berbeda dengan nilai biasa, Nilai Luhan maksudnya bukan nilainya. Nilainya sih memang tidak sempurna seperti yang diinginkan Kyungsoo, tapi lumayan naik satu angka 89, berkat usahanya yang sangat patut di acungi jempol, ia mendesah pasrah ketika pembagian hasil ulangan saat melihat nilainya, ia sebenarnya sudah ingin menangis karena nilainya 89 tapi ia malah dibuat tertawa oleh jeritan Luhan yang menghebohkan dan hampir membunuhnya, mengerang dengan mengguncang keras tubuhnya sambil berteriak "Astaga Baek, aku akan mati, aku pasti akan dibunuh. Baek nilaiku." Jerit Luhan histeris.
"Apa sih Luhan."
Kim Luhan 30,25.
Dan tawanya meledak seketika. Ini pertama kalinya Luhan rebut mengenai nilai, mengingat bagaimana mengerikannya Minseok kemarin saat menatap Luhan tajam, setajam pedang Goblin, Baekhyun rasa Luhan patut setakut ini, tatapannya bahkan setajam itu, lalu bagaimana cakarannya? Hii. Merinding Baekhyun.
"Nilaimu kenapa?" tanya Baekhyun sok tidak mengerti, sok tidak tahu dan dia sok sedih, padahal dalam hati ia sudah terbahak keras, sangat keras malah.
"Nilaiku turun Baek, biasanya kan 30,26"
Astaga. Lalu kenapa kalau biasanya nilainya 30,26 toh tidak ada bedanya, sama-sama jelek dan jauh dari batas tuntas, Baekhyun lalu menepuk kuat-kuat kening Luhan. "Sadar bodoh, mau nilaimu nambah satu atau naik satu itu tidak akan ada bedanya. Kau pikir nilaimu yang 30,26 itu membanggakan."
Luhan berdiri tegak, sungguh tersinggung, dengan gayanya yang songing ia berdeham. "Yah, setidaknya aku konsisten dengan nilaiku dan cintaku."
Rahang Baekhyun jatuh seketika, menggeleng perlahan karena begitu tidak percaya, kutukan semacam apa yang tuhan berikan padanya, sehingga ia dikaruniai sahabat sejenis Luhan, apa Luhan ini sebenarnya, sejenis jamur? Kobis? Atau siput yang lamban. Otaknya itu benar-benar hanya diisi oleh cinta, ah bukan, bercinta lebih tepatnya.
"Makan itu cinta Luhan, dan aku turut berduka atas kematianmu, aku akan menyumbang uang banyak untuk pemakamanmu" Baekhyun menoyor kepala Luhan dan pergi.
"Ya! Kau juga akan mati bodoh, aku yang akan menyumbang uang banyak padamu, Kyungsoo akan memotong lehermu dengan pisau mengkilapnya karena nilai sempurna yang selalu dia agungkan. Dasar siaplan" umpat Luhan menggelegar, semua mata langsung tertuju padanya dan dia tidak peduli, dia murka pada Baekhyun, bukannya membantu temannya yang kesusahan malah menyumpahinya, dasar sialan.
…
LuMin – XiuHan
Yaoi
…
Apartemen sepi senyap seperti kuburan, Luhan mengurung diri dikamar dan Minseok terus berdiam dengan tatapan kosong sambil member makan anaknya, Embul namanya, kucing abu-abu gembul yang sangat penurut, saking patuhnya Embul, sampai-sampai Minseok mengatakan kalau Embul adalah anaknya, ia memaksa menjadi ayah Embul namun Luhan berkata, aku ayahnya dank au ibunya. menjengkelkan sih dia jadi ibunya si kucing abu-abu itu, tapi jika saat Luhan mengatakan sungguh pipinya serasa direbus, panas dan matang. Sialan.
Pikiran Minseok sedang tidak fokus, dia terus berfikir mengenai suara jepretan kamera ponsel saat ia dan Luhan tengah berada di rooftop. Hatinya gelisah saat itu, hanya karena Luhan tidak mendengar dan dia tampak santai dan biasa saja, itu sama sekali tidak membuat Minseok merasakan hal yang sama. Luhan anak yang terkenal, bagaimana jika benar-benar ada yang memotret mereka dan menyebarkannya di intenet. Bagaimana kalau orang tuanya melihat? Bukan ia ingin egois memikirkan dirinya sendiri, tapi dia dan Luhan adalah sepasang kekasih dan hubungan mereka sudah sangat jauh, ia ingin mengenalkan Luhan pada orang tuanya suatu saat, meskipun nantinya ia akan ditolak dan diusir lagi, intinya dia sudah meminta izin. Itu semata agar, orang tuanya tahu kalau Luhan sangat berarti, ia mencintai Luhan, bahkan lebih dari dia mencintai Jimin.
Membayangkan dia ditolak dan dicoret dari keluarga Kim lagi, hatinya memang sakit, tapi membayangkan kehilangan Luhan juga sakit, sangat sakit sampai paru-parunya seperti diremat, tidak bisa bernafas, selain itu bagaimana jika perusahaan Luhan yang sudah malang melintang itu hancur dalam semalam, hanya karena foto dia dan Luhan berciuman dikamar atap sekolah, Luhan dan dirinya pasti akan dicap tidak bermoral, fakta bahwa dia adalah guru sekaligus ayahnya pasti akan menuai cemoohan dan Minseok tidak siap dengan itu.
Tidak masalah jika dirinya saja yang dicemooh, namun jika Luhan? Tidak dia tidak sanggup. Meski Luhan bukan darah dagingnya dan hanya anak angkat, tapi Minseok menyayangi Luhan lebih dari apapun, dan pikirannya sungguh kacau sejak ia mendengar suara jepretan kamera itu, ia mendadak takut, bahkan menemui Luhan ia menjadi takut, tidak pernah Minseok setakut ini sebelumnya.
…
Luhan akhirnya memberanikan diri keluar dari kamar, ia sudah menyiapkan serentetan kalimat untuk membela diri jika Minseok menyembur tentang nilainya yang menjadi syarat pengampunan, dia sudah menyiapkan semuanya, tapi ketika matanya menemukan sosok Minseok sedang duduk tidak fokus dikamar Embul tanpa menyadari kehadirannya, Luhan menjadi bingung, ada apa dengan Minseoknya? Dia terlihat linglung dan tidak terganggu padahal Embul dengan kurangajar dan tanpa seizinnya mendusel-dusel didadanya. Hey, hanya Luhan yang boleh melakukan itu, dasar anak kurang ajar. Umpat Luhan pada Embul.
Ia mengetuk pintu kamar anak mereka dua kali, Embulnya langsung menoleh dan dia melepaskan diri dari Minseok, berlari menuju Luhan namun tidak dengan Minseok, maka ia memutuskan mendekat, merangkul pundak lebar Minseok dan mengecup pipinya. "Appa?"
"Eoh wae?" Minseok benar-benar tidak fokus, bahkan Luhan yakin kalau Minseok pasti melupakan tuntutan nilai sempurna yang ia berikan kemarin, ia bersyukur tapi juga penasaran, kenapa Minseok tiba-tiba tidak fokus seperti kehilangan daya, apa ini berhubungan dengan suara kamera yang ia tanyakan tadi siang.
"Apa yang kau pikirkan, aku lapar dan kau malah sibuk dengan Embul." Luhan mengikuti apa yang dilakukan anaknya, mendusul-dusul didada Minseok sambil sesekali mengecupnya, aromanya sungguh enak, memikat dan, ugh, membuat iman tergoyah.
"Mian, aku akan siapkan makan malam, tunggu sebentar." Setelah mengatakan itu dan mengusap puncak kepala Luhan, Minseok hendak bangkit berdiri namun tidak diizinkan oleh Luhan, dengan cepat pemuda tujuh belas tahun itu menarik Minseok dan menghempas tubuhnya keatas karpet, setengah menindih Luhan, menatap Minseok sedikit tajam. "Ya! Apa yang kau lakukan" Minseok menyeru kesal, gerakan Luhan sangat tiba-tiba dan terlalu cepat, membuat kepalanya pusing saja.
"Kau? Kau ada apa?"
"Apa maksudmu?"
"Apa ini tentang suara kamera yang kau dengar di rooftop?"
Minseok terdiam menandakan kalau jawabannya adalah iya, Luhan mendengus, Minseok sangat pemikir, sudah ia bilang abaikan saja kenapa malah dipikirkan begitu. "Sudah kubilang abaikan, kau hanya salah dengar, tidak ada yang berani melakukan itu, rooftop adalah area Luhan dan Baekhyun, dan Baekhyun tidak akan melakukan hal tidak berguna dengan membidik kita" suara Luhan naik satu oktaf, ia terpancing, maksudnya sih dia ingin Minseok tidak banyak berfikir dan mengabaikannya, tapi seperti yang ia katakana sebelumnya, Minseok itu maha sensitive, lihat saja sekarang, tadi seperti orang bingung kemudian setelah Luhan membentaknya, tanduknya langsung keluar.
"Kau-
"Aku hanya tidak mau kau memikirkan hal tidak penting, kalaupun ada yang membidik kita, untuk apa? Menjatuhkan aku? aku tidak terlalu menonjol disekolah, satu-satunya yang membuatku popular karena aku berteman dengan Baekhyun si kriminal itu, dan jika ingin menjatuhkan aku, bukankah Baekhyun akan lebih menguntungkan." Sela Luhan sebelum Minseok memuntahkan amarahnya.
"Aku hanya takut, bagaimana jika itu tersebar diinternet. Perusahaanmu akan terancam, kau merintisnya sejak kecil dan ajaib-
"Ajaib?" ngomong-ngomong Luhan tersinggung jika Minseok mengatakan usahanya itu adalah ajaib, seakan-akan dia menggunakan sihir padahal ia memeras otak mati-matian.
"Seorang bocah menciptakan mobil juga keajaiban, dan kalau itu hancur hanya karena kau ketahuan berbuat tidak senonoh denganku, itu akan merusak citramu. Aku tidak mau kau dicemooh orang"
"Aku tidak peduli orang lain, asal kau tetap bersamaku, itu cukup."
Asek, Luhan bersorak dalam hati. Ketakutannya tentang tidak diampuni Minseok gara-gara nilainya hilang sudah, suasana yang tadinya ia kira akan penuh perdebatan dan permohonannya rupanya malah berbanding terbalik, menjadi romantis dan mendukung untuk- ah, kau tahu apa yang aku pikirkan kan.
Dengan pelan, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Minseok, hidung mereka bertemu lebih dulu sebelum akhirnya bibir mereka. Perlahan namun pasti keduanya memejamkan mata, tangan Minseok mengalung pada leher Luhan dan matanya mengatup, ketika Luhan semakin liar, Minseok tahu anak itu ingin ia membuka mulutnya, dengan senang hati.
Lidah Luhan masuk kemudian, menginvasi seluruh permukaan mulut Minseok, mengabsen deretan gigi timunya dan berakhir dengan bertarung lidah, saliva meluncur dari sudut bibir keduanya yang sesekali terbuka, tidak beberapa lama setelah pertarungan lidah yang cukup menguras tenaga dan oksigen, keduanya beristirahat sejenak, sambil menetralkan nafas yang saling menerpa satu sama lain, keduanya berpandangan.
Intens dan sangat intim. "Aku lapar" bisik Luhan diatas bibir Minseok, bukan lapar dalam artian anak itu ingin makan masakan namun lapar dalam artian terhadap kekasihnya, Minseok yang tahu maksudnya dan dia yang sudah terlalu merindukan Luhan, dengan sengaja menggeakan pinggulnya, mengangkat kakinya yang berada tepat diselangkangan Luhan, sedikit menekan dan dapat ia rasakan Luhan mendesah kenikmatan.
Mengerti isyarat Minseok, yang dilakukan anak muda itu adalah mengangkat tubuh Minseok tanpa beban dan menghempaskannya keatas tempat tidur ukuran sedang yang ada dikamar Embul, kasur anak abu-abunya yang sekarang dikuasai Luhan. Embul-ah, tidurlah dilantai malam ini arraseo.
Melucuti pakaian dan menelanjangi satu sama lain adalah pekerjaan tercepat bagi keduanya, hanya butuh beberapa detik dan keadaan langsung naked. Lampu terang berganti temeram, dengan cahaya demikian bagi Luhan, Minseok akan semakin menggairahkan karena ia tampak berkilau. Luhan mencium lagi bibir Minseok, lebih dalam, lebih panas sehingga.
"Ah." satu desahan keluar dari mulut Minseok, tepat setelah ciuman mereka terlepas dan bibir Luhan berpindah, menyapu setiap inci tubuh Minseok dan meninggalkan bekas, berhubung besok hari libur, maka Luhan tidak akan ragu meninggalkan tanda kepemilikan cintanya dimanapun, Luhan menang banyak.
"Ugh."
Minseok mengeliat, ketika Luhan meremat kejantanannya dan bibirnya mengecupi dadanya. "Emmhh." Minseok sudah sepenuhnya terangsang, hanya dengan sentuhan Luhan tubuhnya sudah bergetas dan sesuatu dalam dirinya bergejolak menginginkan lebih.
…
Tubuh Minseok membusung kedepan, menempel langsung pada dada berkeringat Luhan, peluh sudah membanjir, tubuh keduanya sudah lengket dan malam semakin larut, namun tanda-tanda keduanya akan selesai dengan kegiatan panasnya belum tampak.
"Ahh" Minseok mendesh, ketika batang kejantanan Luhan menusuk semakin dalam dan menyentuh titik dirinya didalam sana, meski sudah sering melakukannya, namun ketika Luhan menyentuh dirinya terdalam seperti ini, tetap saja, mereka melambung tinggi, seakan berada disurga yang penuh kenikmatan.
Minseok suka, menyukai sensasi dan bagaimana cara Luhan menerbangkannya. "Luhanahhh" Minseok mendesah panjang, menangkap bibir Luhan yang terbuka dan mereka kembali berciuman. Basah panas dan kecipak terdengar keras, bunyi kulit bertemu kulit.
"Saranghae" bisik Luhan tepat didaun telinga Minseok lalu melumatnya, Luhan suka, rasa dan tekstur setiap inci dari tubuh Minseok, lembut, kenyal halus dan yang paling penting adalah, selalu bisa meningkatkan gairah Luhan.
Sementara bibrinya menyapu semua permukaan kulit Minseok, diselatan tidak mau kalah, menumbuk pada titik yang selalu membuat Minseok mengerang, meminta lagi, lagi dan lagi.
"Luhhhhh" Minseok melenguh panjang, ketika Luhan menggerakan mempercepat tumbukannya diselatan.
Sampai katika akhirnya mereka selesai, tubuh Luhan tumbang diatas Minseok, mereka berpelukan dengan Minseok menenggelamkan wajahnya pada dada Luhan, ya tuhan Minseok seperti terbang keudara, Luhan selalu bisa membuatnya melayang.
Seperti biasa, selepas bercinta, keduanya lalu tertidur sambil berpelukan mesra, baru ketika matahari menembus celah jendela dan mengusik para tukang tidur, salah satu dari mereka bangun. Tentu saja orang itu adalah Minseok, lelaki itu bangun terlebih dahulu dan merasakan pegal dimana-mana, namun ketika dia melihat kesamping, seluruh tubuh yang nyeri rasanya hilang, Luhannya tertidur dengan damai dalam posisi miring kesamping, sepertinya Luhan tadi sudah bangun dan mengamatinya.
Minseok suka, suka ketika dia bangun dipagi hari dan mendapati Luhan dalam posisi demikian, dia merasa dicintai dengan Luhan melakukan itu. Membuatnya yakin kalau seluruh perhatian Luhan terpusat pada dirinya. Luhan mencintainya, begitupun sebaliknya.
…
"Kau menyiapkan semuanya? Dari jam berapa?" ketika Minseok sedang berkutat didapur dengan masakan yang banyak, tiba-tiba terdengar suara Luhan dari arah belakang, Minseok berbalik dan mendapati Luhan sudah dalam keadaan segar, ia setengah telanjang dengan haduk kecil mengalung dilehernya.
Ugh, seksinya. Batin Minseok.
"Dari sebelum kau bangun" sahut Minseok, lalu kembali fokus pada masakannya. "Ini seperti kau ingin mengadakan pesta, apa ada perayaan?" Luhan duduk pada kursi tinggi didapur, mencomot makanan buatan Minseok yang selalu terasa enak dilidahnya. Pengecualian malam itu.
Sekali lagi Minseok berbalik. "Ini hari libur" Minseok berkata misterius, membuat Luhan yang tadi asik menikmati masakan Minseok mengerutkan keningnya, yeah. Hari ini memang libur. "Lalu?"
"Maukah kau kencan denganku?"
Luhan nyaris tersedak makanan dalam mulutnya ketika mendengar Minseok berkata dengan centil. Apa tadi katanya? "Kau mengajak aku kencan?" tanya Luhan memastikan dan dijawab Minseok hanya dengan anggukan. "Tentu, kita habiskan hari ini dengan kencan romantis" Luhan berseru senang, kemudian dia segera pergi kekamarnya, astaga mimpi apa dia semalam? Dihari yang masih pagi begini dia sudah diberikan hadiah yang luar biasa menyenangkan, kencan denan Minseok? Yehey. Apalagi yang lebih menyenangkan.
Minseok terkekah melihat tingkah Luhan, anak ajaib itu berhasil mengubah seluruh hidup Minseok. Sungguh tak terbayangkan. Minseok jadi berfikir, bagaimana ketika dia dulu tetap meninggalkan Luhan dan memilih kekasihnya, mungkinkah hidup Minseok akan seperti ini?
Jawabannya pasti tidak. Minseok akan hidup normal selayaknya lelaki pada umumnya, sudah menikah dan mungkin memiliki anak, dia menjadi ayah dari darah dagingnya sendiri bukannya menjadi ayah sekaligus kekasih anaknya sendiri, ia tidak menyesal hanya tidak habis pikir saja, bayi yang ditemukannya rupanya membalikan hidupnya dalam semalam.
…
TBC
…
Maaf kalau chapter ini tidak memuaskan dan agak gimana, untuk semua fanfic nge-block banget sama yang ini karena pas nulis ini bawaannya harus ceria, sedangkan aku kebanyakan mengharu biri untuk Between Love, jadi emosinya naik turun. Di chapter selanjutnya akan aku usahakan lebih maksimal.
