Me and, My Dad.
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia
…
Kencan adalah, kau dan kekasihmu menghabiskan waktu berdua,hanya berdua. Bukannya berkeliling sambil menunjuk permainan ini itu yang jelas akan ramai dirubuti banyak orang. Ah dasar sibantet itu, untung sayang, untung cinta, kalau tidak, dimakan sajalah, toh dia seperti bakpao isi daging.
Eh, tapi bukannya Luhan memang sering memakannya, menglahabnya, menjilatinya, ugh. Dasar otak rusa, mesumnya.
Hehe. Tapi toh pacar sendiri, kalau dia membayangkan isteri orang lain baru dosa, salah dan bisa mendapat hukuman, apalagi kalau membayangkan Kyungsoo, si burung hantu yang gila nilai sempurna, bisa-bisa ia dihajar Baekhyun dengan jurus Hapkido-nya, ngomong-ngomong sudah tahu kan kalau Baekhyun adalah pemegang sabuk Hapkido? Sabuknya warna apa ya? Warna-warni mungkin seperti bendera LGBT, kan ini cerita Yaoi jadi pasti benderanya bendera pelangi, bendera yang sangat cantik kan.
Tidak hanya dua atau tiga warna. Ugh, kenapa jadi membahas bendera pelangi, tapi sumpah deh, benderanya cantik, secantik senyuman Minseok yang meneduhkan hati. Huh, jadi pengen menciumnya. Sepertinya Luhan mulai gila. Ya, dia gila sejak Minseok meninggalkannya di taman hiburan sedangkan pria itu berkeliling sendiri. Kan bangke.
Jauh dari ekspektasi kencan dalam bayangan Luhan. Tahu begini kencan saja dirumah, dikamar mungkin. Hufft.
Kesal karena Minseok yang entah berada dimana Luhan memilih mencari kedai makanan atau minuman, dia ingin membeli sesuatu, kopi barangkali. Dia berjalan pada konter kopi dan memesan minuman kesukaannya, satu cup kopi hangat dengan asap mengepul.
Ugh – sialnya.
Baru dia ingin menyesap sedikit, seseorang bertubuh tinggi menjulang menabraknya, baru dia ingin mengumpat namun gerakan alisnya itu sedikit menakutinya, jangan-jangan sekarang si tiang itu yang akan memarahinya, Luhan harus menyiapkan semburan yang dirasa cocok, ayo Luhan lidahmu sangat pandai jia harus berdebat, pengecualian jika itu dengan Minseok atau Baekhyun, dia pasti kalah.
"Ah, apa aku menabrakmu?"
"Ya kau-eh" dia tidak marah pada Luhan? Ah benar, yang salah kan memang lelaki itu. "Maafkan aku, aku tidak memperhatikan jalanku"
Duh, Luhan jadi kikuk, perkataan yang siap rilis dari bibirnya seketika hilang, lenyap terbawa angin. "Aku akan menggantinya, mari kita ke kedai, aku juga tadi ingin membeli kopi"
Luhan masih bungkam, tapi mengikuti. Berdiri dibelakang sipria tinggi sampai pria itu mengulurkan cup kopi baru untuknya. Minuman yang sama seperti miliknya yang jatuh. "Kamshahamnida" katanya lalu mulai menyesap minuman itu.
"Kau terlihat tidak senang? Kenapa?"
Luhan mendesah dramatis. "Aku sedang sangat kesal, kupikir hari ini aku akan menikmati waktu kencan yang menyenangkan tapi semua brantakan, seharusnya aku ingat kalau dia begitu kekanakan, saat dia ingin pergi ke taman hiburan seharusnya aku menolak, tapi tidak tega, senyumnya itu sangat indah- maaf aku terlalua banyak bicara" Luhan segera mengatupkan mulutnya begitu melihat kerutan dikening si pria tinggi, lagipula aneh sekali kau Luhan, kenapa bercerita pada orang lain, kau sudah benar-benar gila sepertinya.
"Apa yang kau maksud dia itu adalah kekasihmu?" tanyanya dan dia hanya menjawab mendengung. "Jadi kau sudah punya kekasih?" hampir saja ia terdesak, kenapa lelaki itu bertanya dengan raut seakan ia tidak senang, kaget dan sejenisnya. "Kenapa?"
"Ah, kau terlihat seperti anak polos, aku sedikit kaget ketika kau menggerutu mengenai kekasihmu."
Polos? Wah, Luhan memang memiliki wajah yang sangat cocok untuk menjadi penipu, dengan wajah demikian, siapa yang tahu kalau dia mencintai ayahnya dan sering melakukan hubungan intim. "Tapi aku ini sangat tampan, dan julukanku adalah little prince" sebenarnya itu cukup menjengkelkan, little prince? Huh, dia pangeran sesungguhnya.
…
Anak nakal itu, kemana dia pergi? Minseok kalang kabut mencari Luhan yang meninggalkannya dan mengabaikannya sehingga membuatnya harus mengitari taman hiburan seorang diri, kan dia sudah bilang, Minseok ingin kencan dengan Luhan, kenapa dia malah mengabaikannya. Dasar menyebalkan, awas saja nanti malam Luhan akan Minseok suruh tidur dengan Embul.
Minseok menggerutu, sedang sangat kesal dia malah bertubrukan dengan seseorang, seorang wanita bertubuh kecil dengan rambut coklat yang dibiarkan berkibar. Wanita itu membawa sebuah minuman dingin sehingga ketika dia bertabrakan dengan Minseok, minuman yang dibawanya tumah, menumpahi pakaian yang dikenakan Minseok dan siwanita.
"Ah maafkan aku, aku tidak sengaja" Minseok segera membungkuk, memohon maaf pada orang yang ditabraknya.
Seorang wanita tampak berdiri memandang dari jauh diluar sana dengan mulut menggigit tangannya, dari jarak yang meski cukup jauh namun dapat Minseok pastikan kalau wanita tersebut memperhatikan kearah Minseok dimana dia sedang duduk sambil memohon didepan seorang polisi.
"Kau" Minseok terperangah ketika wanita itu mengangkat kepalanya dan menunjukan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
"Tidak apa, aku juga tidak memperhatikan jalan tadi" siwanita ikut membungkuk, menyatakan kalau dia juga minta maaf, setelah mengucapkan hal tersebut siwanita langsung pergi, tidak menanyakan kenapa wajah Minseok tampak kaget saat melihatnya dan sempat menujuk wajah siwanita.
Minseok pernah melihatnya, dia sangat yakin karena sampai saat ini bayangan kejadian itu masih selalu terngiang dan membayang dipikirannya.
"Oh kamcchagia" Minseok segera menarik jari telunjuknya yang menunjuk wanita kecil berbaju motif bunga disaat seseorang berdiri tepat dihadapannya tanpa ia ketahui kedatangannya.
"Kau sedang memperhatikan apa?"
Itu Luhan, seseorang yang sedang dia cari sedari tadi. Mengikuti arah pandang Minseok namun tidak menemukan siapapun yang menarik perhatian, karena didepan mereka banyak orang yang berlalu lalang.
"Bukan apa-apa" Minseok menggeleng lalu membalikan tubuhnya menghadap Luhan. "Kau dari mana? Kenapa pergi begitu saja?"
Luhan menyesap kopi pemberian seseorang bernama Kris yang ditemuinya di kedai kopi tadi lalu memandang Minseok. "Mencari kekasih baru" Jawab Luhan asal, tentu saja hal yang langsung diterima pemuda tujuh belas tahun itu adalah pukulan dilengan. "Aku bertanya serius Luhan"
"Bisa tidak jangan main pukul, kan sakit." Luhan menggrutu pada Minseok. "Aku bosan, kau bilang kita mau kencan, nyatanya kau malah sibuk sendiri dengan duniamu ya sudah aku pergi, membeli kopi" Luhan menunjukan cup ditangannya pada Minseok.
"Apa kau menemui seseorang yang mencurigakan?" rupanya Minseok sedang paranoid karena baru dipertemukan dengan wanita yang sempat ia lihat di depan kantor polisi dulu. "Tidak"
"Sungguh?"
"Kenapa sih? Aku hanya bercanda mengenai mencari-
"LUHAN!"
Luhan tidak tahu, ada apa? Kenapa Minseok malah membentaknya? Apa karena dia membuat kesalahan? Apa yang sudah dia lakukan?
Mereka menjadi pusat perhatian, namun tampaknya Minseok tidak peduli, dia malah menatap Luhan semakin tajam, pasalnya Luhan tidak menjawab apa yang dia tanyakan dan malah mengatakan sesuatu yang tidak diperlukan. "Waeyo?"
"Jawab saja"
Luhan menjatuhkan cup kopi ditangannya kemudian menarik nafas dalam-dalam, menatap Minseok dengan tatapan yang tidak sabaran. "Aku bertemu, kau aneh sekali hari ini"
Setelah mengatakannya dia berbalik pergi meninggalkan Minseok yang membatu, astaga bodohnya dia, kenapa malah membentak Luhan, sungguh Minseok tidak sadar kalau ia telah membentak anak itu. Dia tidak bermaksud melakukannya.
…
"Luhan dengarkan aku" Minseok mengetuk pintu kamar Luhan berkali-kali sejak tiba dirumah dan Luhan mengurung diri hingga sekarang, tangannya merah dan muncul luka-luka kecil sebab dia memukulnya membabi buta, namun Luhan sepertinya sungguh marah, Minseok tahu dia pasti malu dibentak didepan umum seperti itu. Terlebih Minseok menanyakan dengan tidak sabaran dan pertanyaannya sungguh sepele.
Tapi Luhan tidak tahu alasannya, alasan kenapa Minseok begitu kesal saat Luhan tidak menjawabnya dengan benar padahal Minseok sedang ketakutan, wanita itu muncul, setelah tujuh belas tahun dia muncul kembali, meski belum pasti jika wanita itu adalah dia namun dari gelagatnya menunjukan kalau ia memiliki sebuah hubungan dengan bayinya – Luhan kecilnya yang kini menjadi anak sekaligus kekasihnya.
"Kurasa aku bertemu dengan ibumu Luhan"
…
"Apa?"
Tangan Luhan yang siap membuka kenopa pintu tertahan diudara, apa tadi katanya? Bertemu siapa? Ibu? Ibumu? Ibu Luhan?
"Aku pernah pernah melihatnya sekali ketika aku memohon kepada polisi untuk percaya kalau kau bukan anakku"
Jadi Minseok pernah menolaknya? Tidak menginginkannya? Ah benar, Minseok tujuh belas tahun lalu adalah lelaki yang sedang berada di puncak kejayaan dan menjadi kebnggaan keluarga, untuk menerima dan menjadi seorang ayah diusia semuda itu pasti adalah sebuah hal yang sulit dilakukan. Terlebih Luhan bukan anak dari perbuatan Minseok.
"Aku melihat seorang wanita sedang memperhatikan kearah kita sambil menangis tersendu, bagaimana aku memohon untuk melepaskan aku, dan aku juga sempat memanggilnya, sayangnya ketika dia melihat seorang polisi keluar dia langsung lari, bagaimana jika dia memang ibumu Luhan, bagaimana jika dia berniat mengambilmu, jauh-jauh datang kemari hanya untuk mencarimu, apa yang akan aku lakukan jika mereka tiba-tiba datang Luhan"
Luhan mulai terisak, kelemahan Luhan adalah Minseok begitu juga dengan kekuatanya. Jika Minseok tertawa dengan begitu lebarnya itu adalah hal dimana Luhan bisa mengalahkan siapapun meski dengan tangan kosong, begitupun sebaliknya, jika terlihat sedikit saja kemurungan diwajah Minseok, mungkin hanya dengan goresan kecil Luhan akan langsung mati.
Apalagi sekarang, sigembul pendeknya sedang menangis, kemarahan Luhan sirna begitu saja setelah mendengar pengakuan Minseok, mendengar Minseok menangis terisak demikian karena takut kehilangannya, Luhan merasa menjadi manusia paling berharga di dunia.
"Aku tidak akan kemana-mana Minseok" Luhan membuak pintu kamarnya yang sudah tidak digedor oleh Minseok dan langsung merengkuhnya kedalam pelukan, menciumi sisi Leher Minseok supaya sedikit ketenangan bagi silelaki berwajah bayi itu. "Aku takut dia ternyata datang kemari untuk mengambilmu aku takut Luhan"
Minseok menggeleng histeris dalam pelukan Luhan sambil mengeratkan pelukannya, menunjukan kalau dia sungguh takut jika Luhan benar-benar diambil dan dibawa pergi, Minseok pasti akan memilih mati saat itu.
"Mereka bukan orang tuaku Minseok, orang tua tidak akan membuang anaknya ditempat sampah seperti yang mereka lakukan, mereka bukan orang tuaku. Tadi kau bertanya apa aku bertemu orang aneh? Tidak, aku tidak bertemu dengan siapapun"
Setelah mengatakan hal itu Luhan mengecup penuh cinta bibir Minseok. "Tapi aku sangat yakin kalau wanita itu adalah wanita yang aku lihat di depan kantor polisi 17 tahun yang lalu"
"Banyak orang mirip di dunia ini Minseok, jangan dipikirkan, kalaupun memang mereka mencariku, untuk apa? Setelah aku menjadi kaya seperti sekarang mereka datang, saat aku masih bayi mungil tidak berdosa mereka membuangku, pantaskah itu disebut orang tua?"
Luhan selalu jujur tenang apapun terhadap Minseok, begitupun kali ini, dia selalu menganggap kalau satu-satunya keluarganya yang ada adalah Minseok, lelaki berwajah bayi yang mengambilnya dari tempat sampah dan memberinya pelukan kanguru, Luhan yakin – sangat yakin jika yang memberinya pelukan kanguru pertama kali adalah Minseok karena dia sangat menyukai dan merasa nyaman jika sedang menyamankan diri di dada Minseok, terlepas itu untuk urusan ranjang, bahkan jika ia hanya berpelukan dimalam hari, Luhan merasa dia ada dirumah, dia kembali pada ruang dimana tempat itu akan selalu menerimanya.
Susah, senang, gembira, sedih, kaya ataupun miskin. Luhan pernah merasakan semua itu dan itu bersama Minseok, dipelukan Minseok. Jadi jika suatu saat akan datang keluarga super power yang sempurna dan mengaku sebagai keluarganya, Luhan tidak akan percaya dan tidak akan mau percaya, keluarga apalagi ibu – tidak akan meninggalkan anaknya sendirian diluar sana, bahkan sekor ibu binatang rela mengorbankan hidupnya untuk sang anak, seharusnya sebagai manusia mereka melakukan hal yang sama, bukannya melakukan hal rendahan dengan membuang anaknya ditempat sampah.
"Kenapa kau menangis?" Minseok merasakan kulit kepalanya mulai basah dan ketika dia menengadah, Luhan sedang menitihkan air mata dalam diam.
Luhan menggeleng pelan. "Gwaenchana"
"Jangan berbohong Luhan" dan Minseok akan tahu Luhan jika sedang berbohong, Luhan tidak akan pernah bisa membohongi Minseok, begitupun sebaliknya.
"Aku hanya berfikir, kau begitu menyayangiku dan takut kehilanganku tapi kenapa ada orang yang tega membuang bayi kecil ditempat sampah yang jauh dari kata layak untuk bayi merah"
Minseok menggigit bibirnya, berniat menunduk untuk menyembuyikan kegelisahan, namun sayang, mata Luhan jauh lebih gesit dari gerakan Minseok, anak itu meraih dagu Minseok, melepaskan gigitan pada bibir lalu menyecapnya dengan miliknya. "Jangan gigit bibirmu seperti itu nanti terluka"
"Mungkin ketika wanita itu meletakan aku disana dulu aku menangis meraung-rangung, tapi sekarang aku berterimakasih karena jika dia tidak membuangku, aku tidak akan bertemu denganmu"
Minseok tersipu-sipu, Minseok paling tidak bisa menahan rona wajah jika Luhan memujinya, menyatakan betapa dia bersyukur bertemu dengan Minseok. Tidak bisa mengendalikan diri dia memilih memukul dada Luhan dengan keras yang menyebabkan pemuda itu mengaduh, dengan secepat kilat, dia membalik badan dan memasuki kamarnya, ah dia malu sekali. Pipinya pasti lebih merah dari tomat.
Luhan terkekah melihat tingkah Minseok, Minseok dan Luhan kan sudah tinggal bersama selama tujuh belas tahun, dan selama itu tidak hanya sekali dua kali Luhan melontarkan pujian, tapi kenapa Minseok selalu bereaksi seakan Luhan baru memujinya kali ini? Minseok benar-benar tampak seperti anak gadis yang dipuji pertama kali, ya tuhan manisnya.
"Kenapa kau pergi begitu saja?"
Luhan setengah menindih Minseok yang kini berbaring dikasur kamarnya sendiri sambil menyembuyikan wajahnya.
Jadi di apartemen Luhan ada lima kamar, kamar Luhan, Minseok, Embul, tamu dan kamar bibi dibelakang tapi kosong. Apartemen Luhan adalah apartemen mewah dikawasan elit dengan fasilitas lengkap, kamar tamu biasanya digunakan oleh BaekSoo yang sangat suka menjadi pengganggu malam hari bagi LuMin, sementara LuMin sendiri kenapa memiliki kamar sendiri-sendiri adalah karena inisiatif dari Minseok.
Minseok ingin Luhan belajar dan mengurus perusahaannya dengan fokus, sehingga jika punya kamar sendiri Luhan tidak akan terganggu jika Minseok sedang dikamar, terlebih jika Minseok sehabis mandi, itu adalah gangguan terbesar bagi Luhan, anak itu lebih suka menyebut kalau Minseok sedang menggoda, jadi untuk jaga-jaga Minseok memiliki kamar sendiri yang secara bebas bisa ia tinggali kapanpun tanpa menganggu Luhan dan kamar Luhan adalah yang paling luas disini karena dilengkapi ruang baca yang disulap ruang kerja sekalian oleh Minseok.
Tapi meski mereka punya kamar sendiri-sendiri Luhan dan Minseok sering tidur disatu kamar yang sama. Jika sedang kesal mereka bahkan menyuruh yang lain tidur di kamar Embul – kucing mereka yang dianggap anak.
"Kenapa kau masuk kekamarku" Minseok masih malu-malu, masih menyembunyikan wajahnya diantara bantal, jadi meskipun dia berteriak, suaranya teredam oleh bantal besar. "Karena kau tidak menutup pintu"
Luhan berbisik sambil meniup daun telinga Minseok, cara paling ampuh dan ta – dah, Minseok membalikan badan, sesuatu yang malah sangat salah jika niatnya ingin menjauhi Luhan karena dengan begitu ia justeu terperangkap pada kukungan Luhan, kepala mereka sangat dekat hingga deru nafas maing-masing terdengar secara jelas. Desah nafas Minseok yang bergemuruh terasa menggelikan saat menerpa ujung hidung Luhan.
"Lucu sekali, padahal hanya lari dari kamarku tapi seperti habis marathon wajahmu sampai merah" Luhan menyetuhkan jemarinya pada pipi Minseok
Minseok mengerucutkan bibirnya, tanda protes yang menyenangkan dimata Luhan. "Lucu begitu?"
"Eoh, kau memang sangat lucu" Luhan menurunkan kepalanya semakin rendah, dia mecium lagi bibir mungil itu yang tentu saja langsung dibalas oleh siempunya. Luhan suka, snagat suka jika pertengkarannya dengan Minseok selalu berakhir manis seperti ini. Masalah rumah tangga memang selalu ada sebagai bumbu sebuah hubunga.
Minseok meremas tangan Luhan yang terjalin dengan jemarinya, perlahan namun pasti dia memejamkan mata. Menikmati sentuhan sensual yang Luhan lakukan menggunakan lidahnya di dalam mulutnya.
Sesuatu hal yang selalu ia syukuri dalam hidupnya adalah dia mempunyai Luhan saat semua orang menolaknya. Saat ia jatuh terpuruk demi memilih Luhan, perlahan justru pemuda itu yang membuatnya merasa sangat dihargai hidupnya.
"Saranghae"
…
To Be Continue…
…
Ada yang menunggu FF ini? Huhu, aku datang dan membawa update-an Me and My Dad.
Thanks to*
KookieL|KyungXe|Laras Sekar Kinanthi|Kiki2231|Park RinHyun-Uchiha|Classical Violin|Emvy551|nimuixkim90|HmasterXiumin|xiuxiuLaLa|minnie|asda45613|Bikuta-chann|guesswhoami|jiraniatriana|NameT362|anara|Lumin|Lia Darojatu966|NunaaBaozie|cici fu|Park Eun Yeong|Dan yang lain yang belum tersebutkan.
