Me and, My Dad.
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia
.
.
Sesuatu yang sangat Minseok benci di dunia ini adalah, kotor, brantakan, lengket dan gerah. Sangat barokah hidupnya ketika, dipagi hari ketika dia baru terbangun, kamar dalam keadaan brantakan dengan tubuhnya yang kotor terasa lengket membuatnya gerah.
Ditambah sosok Luhan sedang meringkuk memeluknya setengah menindih, berbeda dengan Minseok yang merasa sangat benci dalam keadaan demikian, Luhan malah tertidur dengan nyenyak lengkap bersama dengkuran kecil menggelitik telinganya.
Dasar rusa sialan yang menyebalkan. Minseok memaki dalam hati, tangannya mencoba melepaskan Luhan yang masih memeluk dirinya sangat erat seperti ikatan tali mati, duh ini cinta atau percobaan pembuhuhan sih. Lagi Minseok menggerutu.
Kepalanya bergerak melihat jam berbentuk bola sepak diatas meja, masih menunjukan pukul empat, Minseok terlalu pagi bangunnya hari ini, padahal semalam dia dan Luhan tidur di jam yang hampir tengah malam, tapi kenapa dia masih bisa bangun sepagi ini?
"Kajima" bisik Luhan tiba-tiba, mata masih terpejam, tapi sangat yakin bagi Minseok kalau dia mendengar Luhan berbisik. "Kajima" lagi, disusul desakan Luhan yang semakin merapat dan pelukan yang mengerat, ia pasti mimpi buruk. Minseok harus segera membangunkannya, sebelum Luhan semakin larut dalam mimpi dan kembali mengalami tekanan seperti saat dia masih berumur lima tahun.
"Luhan-ah"
"Kajima"
"Ireona, waktunya sekolah. Luhan"
Mimpi buruk Luhan sama dengan mimpi buruk Minseok, dulu sekali.
Minseok bisa melihat kilat mata Luhan yang berbeda, saat masih menjadi mahasiswa dan kebetulan memiliki teman dari jurusan psikologi, Minseok membaca buku super tebal yang isinya tulisan dan teori-teori dari banyak ilmuan dan semacamnya.
Perubahan kilat mata, pandangan dan sikap, bisa saja salah satu dari gejala seorang anak mendapatkan kepribadian lain dalam dirinya. Luhan mulai suka menjerit, terkadang tidak mengenali Minseok dan suka berbuat sesuatu yang diluar nalar orang dewasa. Dan semua itu terjadi setelah Luhan mulai mengalami tidur yang tidak nyaman dan mimpi buruk.
"Luhan-ah, ini appa. Tidak ada yang akan menyakitimu" Minseok merengkuh tubuh Luhan dan membenamkan anak itu di dadanya, menyalurkan kehangatan dan ketenagan pada anaknya yang sejak enam bulan ini memasuki TK.
Melihat Luhan betapa tertekan diusia sebelia ini, hati Minseok terasa begitu nyeri, lebih dari apapun dia merasakan sakit yang teramat. "Kajima" Luhan memeluk leher Minseok terlampau erat dan bisa dikatakan itu seperti mencekik, namun sebisa mungkin Minseok tidak protes. "Tidak sayang. Appa tidak akan pergi."
"Kajima" disaat Luhan menangis tersendu, disaat itu Minseok menyadari satu hal, tangisan Luhan kecilnya adalah sesuatu yang juga menyakitinya.
"Kajima" bahkan setelah dua belas tahun berlalu Minseok masih bisa merasakan kesakitan yang sama jika Luhan menangis. Ya, sekarang Luhan mulai terisak. "Aku tidak akan pergi Luhan" Minseok membalas pelukan Luhan.
Sampai saat ini Minseok belum berani bertanya, apakah mimpi yang datang pada Luhan sehingga membuatnya terlihat rapuh, apakah yang membuat Luhannya sampai menangis bahkan ketika sedang dalam alam mimpi.
"Apa yang kau impikan Luhan? Apa yang sangat membuatmu takut dan tidak mau dia pergi? Aku tidak akan pergi. Jadi, berhentilah menangis karena kau menyakitiku dengan itu"
Diciumnya kening Luhan cukup lama, tidak ada nafsu. Cinta dan kasih sayang Minseok kepada Luhan sungguh murni, entah sebagai seseorang yang menginginkan kebersamaan atau seorang ayah kepada anaknya.
.
.
a Fanfiction
by
Moonbabee
.
.
Chu~
"Akhirnya kau bangun juga" sapa Minseok kepada Luhan yang akhirnya membuka mata setelah ditunggu satu jam, dan yang langsung dia lakukan ketika matanya terbuka adalah, mencium Minseok. Bukankah dengan begitu membuktikan kalau kadar kemesuman Luhan benar-benar diatas rata-rata.
"Jam berapa sekarang?" hari masih terlihat gelap dan mata Luhan masih terlihat mengantuk. Namun semua itu segera sirna ketika "Jam lima" Minseok menjawab pertanyaan Luhan, mata sayu mengantuk anak itu segera berubah menjadi segar dan sumringah.
"Jinjja?"
"Iya, tapi segeralah bangun karena aku harus membereskan kamar ini, tidak ada morning sex, kita sudah melakukannya semalam" Minseok segera mendorong dada Luhan yang otomatis membusung ketika mendengar angka lima dibelakang jam. "Ah waeee~~~" rajuknya langsung.
"Kita sudah melakukannya semalam"
"Tapi hanya empat kali, aku mau lagi"
"Dasar bocah mesum gila, empat kali itu keterlaluan, sekali saja melelahkan"
"Toh hari ini sekolah libur"
Libur? Ah benar, ini adalah akhir dari akhir pekan, yang berarti ia akan terjebak satu hari full dirumah bersama rengekan Luhan yang tidak ada habisnya jika tidak dituruti. "Tidak, aku berniat pergi ketaman hiburan. Kan kita akan kencan, sesuai rencana"
Luhan bermuka datar, seperti emotikon dalam perpesanan. "Kita sudah pergi kemarin dan itu bukan kencan" ia mendesis. Hey, dia merasa sangat jengkel jika ingat kemarin. Kencan apanya. "DAN ITU BUKAN KENCAN, ITU SEPERTI AKU MENEMANI ANAK TK BERMAIN DI TAMAN HIBURAN. AH, AYOOO~~~"
Sial, sepertinya Luhan berniat membuat Minseok tuli dan membuatnya tidak bisa berjalan. Dibawah sana kakinya menghentak-hentak sehingga mengenai kakinya. "Aishh, jangan berteriak, bodoh"
"Kalau begitu ayo lakukan~~ atau kau lebih suka aku memerkosamu?" demi Zeus dan segala pengikutnya, Luhan ini bocah 17 tahun yang sedang meminta hubungan intim bernama sex, tapi kenapa lagaknya seperti seorang bayi meminta permen.
"Tidak! Atau aku tidak akan mau sekalian bemain denganmu lagi" kata Minseok dengan suara yang lumayan tinggi, dan berhasil menghentikan rengekan Luhan. Seketika pelukan anak itu kepada tubuhnya mengendur, lepas, dalam sekali hentak dia keluar dari selimut, berjalan tanpa malu keluar kamarnya dalam keadaan telanjang bulat.
Astaga, apa dia masih punya urat malu? Ya tuhan. "Ya! Pakai bajumu"
Jawabannya adalah bantingan pintu yang cukup keras berasal dari kamar Luhan. "Aish, dasar si mesum itu. Apa ini karena dia terlalu banyak bergaul dengan Baekhyun. Tapi kenapa yang menular malah yang jelek-jelek sih"
.
.
Baekhyun sedang dalam masa hukuman, perbanyak belajar, membaca dan berhitung. Sumpah ya, dia ini anak SMA yang mendapat predikat siswa terpandai di kelas, kenapa jenis hukumannya seperti ini. Kan dia bukan anak SD.
"Jangan menggerutu Baekhyun, atau kau mau aku tidak memasak"
"Aku tidak menggerutu kok, kan aku sedang diam dan membaca." Kilah Baekhyun yang kini mendongak dan menurunkan buku. "Kau ini ya, sudah tidak pintar, malas, suka membantah pula. Kau ini mau jadi apa sih kalau besar nanti hah?"
Rahang Baekhyun langsung jatuh, langsung menganga menghilangkan kadar ketampanannya yang sudah terpahat begitu indah ini. Tidak pintar katanya? Malas? Bisa tolong tunjukan dimana letak kemalasannya? Ketidak pintarannya? Rasanya ingin sekali Baekhyun mencekik si mata burung hantu ini.
Manusia mana yang di pukul lima pagi sudah bangun dan belajar, manusia mana yang ketika sedang gundah gulana mendapatkan nilai 89 di ujian matematika. Masih bisakah di sebut bodoh? Malas?
"Apa? kau pasti sedang merencanakan pembunuhan untukku? Apa? Mau mencekik aku? Memangnya kau bisa hidup tanpa aku?"
Dan sialnya bayangan mengerikan itu muncul, mencekik Kyungsoo? Jangankan mencekik, mencubit pipinya saja terkadang Baekhyun takut, bukan takut menyakiti, tapi takut dimarahi. Hehe.
Selain itu Kyungsoo juga benar, memangnya dia bisa hidup tanpa Kyungsoo? Baginya Kyungsoo lebih dari sekedar belahan jiwa, Kyungsoo itu nyawa, nafas dan alasan kenapa Baekhyun hidup.
"Tidak kok, memangnya aku sejahat itu?" Baekhyun manyun dan kembali meraih bukunya. Sesekali curi pandang pada Kyungsoo yang sedang memasak, hari ini teman lamanya akan datang, teman yang sudah lama tidak temui, jadi Kyungsoo bangun pagi sekali, menyeret Baekhyun sekalian untuk segera bangun, sementara Kyungsoo memasak, Baekhyun duduk di kursi meja makan sambil belajar, dengan begitu Kyungsoo bisa mengamati, apakah Baekhyun belajar atau tidak, sekalian mencari tahu dimana kesalahannya sehingga Baekhyun tidak mendapatkan nilai sempurna seperti biasanya.
Atau mungkin karena Baekhyun terlalu banyak bergaul dengan Luhan sehingga dia ikutan bodoh seperti Luhan?
.
.
Luhan ngambek, marah dan terus diam. Mengabaikan panggilan Minseok yang meminta dibantu membereskan kamar, dia hanya terus mengurung diri di kamar Embul, bermain bersama anak abu-abu mereka yang bahkan terlihat enggan bersamanya.
Mungkin Embul merasa muak dengan Luhan yang terus menjejalinya dengan makanan padahal si abu-abu sudah kekenyangan. "Luhan-ah kau tidak dengar aku? Ayo bantu aku bereskan kamar" Minseok muncul dari balik pintu, Luhan hanya menoleh kemudian kembali fokus pada Embul.
"Kau dengar sesuatu Mbul? Ah benar… seperti orang berteriak… ih aku jadi mrinding"
Woah. Apa baru saja anak itu menabuh genderang serta mengibarkan bendera perang? Baiklah, mari kita lakukan Luhan, mari berperang dan terus diam seperti itu. Jangan pernah berfikir untuk kau bisa menyentuhku. Dasar sialan, dasar anak mesum menyebalkan, dasar… segalanya. Argh.
Minseok jadi kesal sendiri. Bersama bunyi bantingan keras pintu kamar Embul, Luhan terjengit. Kaget bukan main tapi dia harus terus diam.
Sebenarnya mendiamkan Minseok adalah semacam bunuh diri secara perlahan, karena pihak yang pasti kalah duluan adalah Luhan, kenapa? Karena Luhan tidak bisa barang sedetik saja jauh dari Minseok. Tapi kali ini situasinya berbeda.
Okay baiklah, mungkin keterlaluan dia ingin bersama Minseok lagi saat pagi hari padahal semalam sudah melakukannya, tapi yah anggap saja itu ganti rugi karena kencan mereka kemarin sangat brantakan, sangat tidak sesuai dan sangat menyebalkan.
Logikanya, kau seorang yang memiliki kekasih, kekasihmu mengatakan akan mengajak kencan namun yang terjadi malah kalian terpisah di tempat tujuan, menghabiskan waktu sendiri-sendiri kemudian pulang karena alasan tidak masuk akal, jadi siapa yang patut disalahkan?
Luhan yang meminta ganti rugi atau Minseok yang keras kepala, dan sialnya lagi mereka sejenis batu, batu yang bertemu batu, sama-sama keras dan sulit pecah jika belum melalui tahab pertengkaran hebat. "Ah dasar menyebalkan" Luhan menendang mainan-mainan yang ada dibawah kakinya.
Mainan yang sebenarnya sangat tidak ada gunanyanya karena tidak pernah dimainkan. Hey, Embul itu kucing, bukan anak-anak yang akan mengerti kalau dibelikan mainan.
"Embul-ah"
Meow
"Apa menurutmu aku salah?"
Meow
"Aku tahu, lalu sekarang bagaimana? Meminta maaf duluan padanya? Dia tidak akan mengampuni aku dengan mudah"
Meow
"Ah, sepertinya aku mendadak gila berbicara denganmu ya. Dasar Minseok itu" Jauh dari pada itu, Luhan punya alasan lain kenapa dia marah, huh.
Jadi pada akhirnya, Luhan keluar kamar Embul, pergi ke kamar Minseok yang masih agak brantakan, segera ia berlari menuju Minseok dan memeluknya dari belakang. "Dasar tsundere" ejek Luhan lalu menggigit ujung telinga Minseok. "Duh, mendadak sesak nafas, seperti ada yang mencekik, ih apa aku akan mati ya?"
"Iya, kau akan mati. Aku akan mencekikmu dengan cintaku"
Pipi gembul bulatnya memerah. "Dasar tsundere" ia mengejek lagi. "Maaf"
Ketika bisikannya menjadi serak, Minseok mendadak berbalik, Luhan menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Minseok mendadak dirundung perasaan tidak enak. "Ya apa kau menangis"
"Aku mimpi buruk semalam, aku merasa mimpiku sangat nyata, pikiranku mendadak panas dan menjadi pemarah"
Apa ini jujur atau akting, Luhan tiba-tiba menangis dengan kadar kemerahan wajah yang mirip cabai atau paprika merah. "Aku sudah lama tidak mendapatkan mimpi ini, tapi tiba-tiba itu datang lagi. Aku jadi takut"
Sekarang Minseok yakin kalau Luhan benar-benar merasa sedang tertekan.
"Apa ini seperti mimpi ketika kau berusia lima tahun?"
Dalam dekapannya Luhan mengangguk "Tapi ini lebih terasa nyata dan sangat menakutkan"
"Mimpi apa itu Luhan"
"Itu mimpi kita terpisah Minseok, mimpi dimana kau melepaskan aku"
"Itu tidak akan terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu Luhan, kita akan bersama selamanya"
Minseok dengan perhatian menepuki punggung Luhan agar anak itu tenang, tapi sepertinya tangisnya tidak akan segera reda dalam waktu dekat dan Minseok tahu, ini adalah waktu dimana Luhan sangat tertekan. Mimpi semacam apa? Perpisahan mereka? Sepertinya lebih dari itu, Luhan akan dengan sangat percaya diri mengatakan kalau mereka tidak akan terpisahkan meski jurang membentang antara keduanya, lalu hanya karena sebuah mimpi dia mendadak selemah dan serapuh ini? Sudah pasti ini bukan sekedar mimpi perpisahan mereka, lebih dari sekedar itu.
Atau apa ini semacam trauma? Tapi trauma tenang apa? Seumur hidup Luhan, Minseok menyaksikan tumbuh kembangnya, selalu Minseok limpahi kasih sayang dan mengutamakan apapun yang terbaik jadi jika dia mengalami sebuah trauma sepertinya tidak mungkin.
Atau trauma Luhan adalah trauma bawaan? Keturunan seperti itu? Tapi memangnya ada yang semacam itu?
.
.
Baekhyun mengantuk, terlalu lama menatap rentetan huruf, dia mulai muak, sampai kapan hukuman ini akan berakhir. Ya tuhan, jika Kyungsoo mau, Baekhyun bisa membacakan isi buku yang sudah ia baca, Baekhyun sudah hafal mati buku setebal lima ratus halaman ini. Dia tidak bohong.
Kenapa? Karena setiap dia mendapatkan nilai kurang meski hanya 0,5 Kyungsoo akan melemparkan buku ini. Buku dengan judul, TIPS RAJIN BELAJAR, SUKSES BELAJAR, DAPAT ILMU DAN PRESTASI SETINGGI LANGIT. Heol! Judulnya saja sudah menyebalkan apalagi isinya kan.
"Ini seperti mimpi buruk, bahkan anak SD tidak perlu buku semacam ini"
"Baekhyun aku dengar ya" terdengar seruan Kyungsoo dari arah ruang tamu saat Baekhyun selesai menggerutu. Membuat Baekhyun meringis kaget.
Bukankah Kyungsoo itu sangat ajaib, bahkan gerutuan lirih Baekhyun saja bisa di dengar. Tapi kalau, ugh masakan Kyungsoo itu yang terbaik.
Tik
Tok
Tik
Tok
Hening, tidak ada sahutan. Kalau pujian, Kyungsoo tidak pernah mendengar. Kan aneh.
Sampai si mata bulat memasuki dapur lagi bersama tumpukan toples untuk di isi kue kering yang tadi dibuatnya. Ck, padahal hanya teman yang akan datang tapi persiapannya seperti menyambut besan.
"Baekhyun aku dengar ya, memangnya salah menyambut teman lama"
Padahal Baekhyun mengumpatnya dalam hati, wah sepertinya dimasa lalu Kyungsoo adalah seorang cenayang, dukun, paranormal atau apalah itu.
"Apa kau sudah selesai belajar?"
"Dari satu jam yang lalu. Sudah"
"Kalau begitu mandi sana."
"Ne" dengan badan lesu. Baekhyun membereskan alat tulisnya berjalan menuju kamar.
.
.
Minseok menepuki pantat Luhan yang kini berbaring disampingnya. Jadi akhirnya Minseok menghentikan acara beres-beresnya untuk menenangkan Luhan, yeah pikirannya sih boleh mesum, keterlaluan, suka menjadi dominan dan suka merajuk, tapi kalau sudah begini pasti dia sama sekali tidak ada bedanya dengan anak-anak pada umumnya, bahkan keterlaluan manjanya melebihi bayi sekalipun.
"Aku baru tahu"
"Mwo"
"Minseok si clean freak belum menyentuh air sampai jam akan menunjukan pukul sembilan, kau sangat bau"
Sepertinya, sifat menyebalkan Luhan mulai kembali, menandakan dia sudah baik-baik saja, bahkan tubuhnya mulai bergerak mendekat dan mendaratkan kecupan di lehernya yang berkeringat. Minseok mendengus. "Aku seharusnya sedang marah kepadamu, sudah mengejek, mengabaikan dan mengatai pula. Tapi kau selalu punya cara untuk meredakan amarahku"
"Kan aku adalah Luhan"
"Ya, Luhan yang menyebalkan"
"Luhan yang dicintai Minseok lebih tepatnya"
"Cih, memang iya? Tidak tuh"
Luhan berdecak, dengan nakal giginya menggigit pipi Minseok, hingga si gembul memekik. Dengan gerakan cepat Luhan berada diatas tubuh Minseok. Mencium belahan bibir yang menurutnya sudah mulai nakal, sudah berani membantah dan menyangkal kalau dia cinta.
Pada akhirnya, mau menolak bagaimanapun akhirnya terjadi juga. Luhan tetap memenangkan segalanya, berakhir mereka bergumul dipagi yang dingin menjadi panas, hanya dalam hitungan detik ciuman hangat penuh keromantisan berubah menjadi ciuman panas penuh tuntutan.
"Luhan-ah" Minseok bergerak tidak nyaman, bersama dengan desakan dibawah sana yang disebabkan oleh tekanan dari lutut Luhan yang ingin Minseok lebih cepat terangsang sementara bibir anak itu menjelajah di setiap kulit Minseok yang perlahan terbuka karena pakaiannya ditanggalkan oleh tangan hebat Luhan.
Ciuman yang sempat terlepas terjadi lagi, bertaut lagi sehingga kecipak bunyi saliva semakin terdengar, antara tabrakan kulit dan tabrakan mobil seperti tidak ada bedanya, suaranya sama besarnya, bedanya hanya, suara tabrakan mobil memekakan dan suara tabrakan kulit mereka menerbangkan, menyenangkan dan menyebabkan keinginan lagi, lagi dan lagi.
"Minseok-ahh" Luhan mengerang, ketika kebanggaannya mulai menebus lubang senggama Minseok yang berkedut panas, membungkus serta memijat, untuk beberapa saat Luhan dan Minseok sama-sama terdiam, terengah menyebabkan nafas panas keduanya bertabrakan di udara sebelum akhirnya Luhan bergerak, menggerakan miliknya yang sudah tenggelam jauh di dasar tubuh Minseok menyebabkan kenikmatan yang di awali kesakitan membumbung setinggi langit. Membuat keduanya melayang sejauh seakan terbawa angin dan melayang menyenangkan.
"Ngehhh"
Terlebih jika desahnya sudah keluar seperti ini, seakan angin yang membawanya terbang adalah angin dari surga, desah itu dari surga, mengundangnya memasuki ruang paling menyenangkan yang sangat ingin dimasuki orang-orang.
"Ah .. ah"
Luhan semakin gencar, semakin keras dan semakin cepat menumbuk titik kenikmatan Minseok juga mengejar kenikmatan untuknya, supaya mereka sama-sama melayang dengan kenikmatan. Bahkan remasan dari kuku Minseok yang lumayan panjang tidak terasa, yang dia rasakan hanya, betapa nikmatnya ketika dia bersama Minseok.
Meledakan diri di dalam Minseok dengan percintaan yang hebat.
"Luhhh…hhanhh..ahhh"
"Aku akan datang Minseokhhh"
Ledakan kenikmatannya terasa luar biasa. Disaat yang sama ketika Minseok dan dirinya bersama pada klimaks yang bahkan sudah berulang kali.
Tubuh Luhan tumbang dengan peluh banyak, banjir seperti terkena hujan. Keduanya terengah. "Saranghae Minseok-ah" Bisik Luhan tepat ditelinga Minseok, yang baru ketika akan menjawab, bel pintu terdengar nyaring. Luhan mengutuk siapapun yang datang. Jika itu Baekhyun, Luhan bersumpah akan menggudulinya.
"Ada tamu" Minseok membisik malas, ia kembali mengantuk setelah pergulatan mereka. "Apa kau mengantuk?"
"Hmm"
"Kalau begitu biar aku yang membukanya"
Minseok mengangguk kecil, sesaat setelah Luhan pergi dengan baju acak-acakan Minseok menarik selimut, membungkus dirinya, mengabaikan fakta jika kamarnya yang tadi setengah rapih kini kembali rantakan, melupakan fakta jika dia belum mandi, dia mengantuk, ingin tidur. TITIK.
.
.
Siapa yang bertamu sepagi ini? Tidak tahu kalau hari-hari libur adalah quality time bersama kekasih. Dasar tamu tidak tahu aturan, kan jadi yang harusnya menambah ronde malah digunakan untuk membuka pintu. Dasar.
"Uh?"
Ketika pintunya terbuka, yang dia dapati adalah orang asing yang dia kenali. Ada apa? Kenapa mereka datang kemari? Ada urusan apa?
"Luhan?"
"Kalian siapa?"
.
.
To Be Continue…
.
.
Guest Nggak masuk akal sebenernya, di usia 20 tahun udah jadi dosen, tpi umur asli yang aku maksud itu, Minseok lebih tua dari Luhan, jadi umur Minseok itu 37 tahun, Luhan 17 tahun jarak mereka 20 tahun.
HamsterXiumin Yeah, itulah Luhen, hormonnya kelewatan banget. Beda ama Baek meski sifatnya sama. Haha. Inget nggak ya? Nggak tahu, coba tanya mamanya Luhan aja ya. Kkkk
Guest Eh, nggak kerasa ya M nya ya? Haha, nggak pinter bikin yang itu jadi nggak kerasa, padahal aku ngerasa itu udah M lho. Haha.
Laras Sekar Kinanthi Hehe, mian.
.
.
Moonbabee
