Me and, My Dad.

Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia

.

.

"Lu Han"

Minseok mengejakan nama itu saat ia melihat seekor rusa kecil memakan pemberiannya dikebun binatang sore itu.

Hari ini Minseok mengajak bayi kecil yang ditemukannya ini ke kebun binatang, sejak empat hari pasca ia menemukan sang bayi, Minseok hanya berdiam di kamar hotel sembari memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan kepadanya, maka ia memutuskan untuk membawa bayi kecil tersebut jalan-jalan, dan kakinya berhenti pada sebuah kebun binatang.

Dan secara kebetulan ia menemukan nama untuk sang bayi "Lu Han – Kim Lu Han" yang berarti Rusa, dan Kim tentu saja marga darinya, tidak mungkin bayi ini tumbuh tanpa marga, lagipula Minseok sama sekali tidak keberatan menyematkan namanya pada sang bayi.

"Jadi mulai sekarang namamu adalah Luhan – Kim Luhan, bagaimana?"

Sibayi tergelak, tangan kecil mungilnya menyapa belahan pipi Minseok yang mana diartikan oleh pemuda dewasa itu bahwa si bayi menyukai. Ada rasa bangga menyeruak dalam dada Minseok saat ia melihat reaksi bayi kecil tersebut, seperti sesuatu yang hangat dan menanangkan dan Minseok menyukainya.

"Kim Luhan – aku adalah orangtuanya"

"Kami adalah orangtuanya"

Minseok tertegun saat dari arah samping ia mendengar suara tersebut, apa katanya tadi? Ia menoleh.

"Kami adalah orangtuanya" ulang pasangan laki-laki dan perempuan yang ada didepannya.

Lalu tidak berapa lama,si wanita menghampiri Minseok dan mengambil bayi Luhan, sebelum ia sempat bereaksi pasangan tersebut pergi meninggalkannya dengan keterpakuan dan kebingungan.

.

.

Fanfiction

By

Moonbabee

.

.

"Ada tamu" Minseok membisik malas, disaat kesadarannya akan habis, dia mengantuk lagi, sial ini gara-gara Luhan. "Apa kau mengantuk?" tentu saja, tapi dia terlalu malas untuk membuka mulutnya lebih lebar lagi, maka ia hanya menggumam sebagai balasan "Hmm"

"Kalau begitu biar aku yang membukanya"

Minseok mengangguk kecil, sesaat setelah Luhan pergi dengan baju acak-acakan, Minseok menarik selimut, membungkus dirinya serta mengabaikan fakta jika kamarnya yang tadi setengah rapih kini kembali brantakan, melupakan fakta jika dia belum mandi, dia mengantuk, ingin tidur. TITIK.

Siapa yang bertamu sepagi ini? Tidak tahu kalau hari-hari libur adalah quality time bersama kekasih. Dasar tamu tidak tahu aturan, kan jadi yang harusnya menambah ronde malah digunakan untuk membuka pintu. Dasar. Gerutu remaja itu dalam hati sembari mengancingi kancing baju dan berjalan menuju pintu.

"Uh?" Luhan sepertinya mendengar suara Minseok mengerang dalam tidur.

Ketika pintunya terbuka, yang dia dapati adalah orang asing.

"LUHAN?"

Belum sempat ia menanyakan siapa mereka, ia segera berlari kembali ke kamar karena mendengar Minseok menjeritkan namanya.

"Minseok" panggilnya, lalu dia mengguncang tubuh Minseok yang bergetar dan keringat dingin mulai bermunculan, apa Minseok sedang mimpi buruk.

"Kalian siapa? Dia Luhanku, hey kembalikan"

"Minseok, sadarlah aku disini, hey" semakin keras Luhan mengguncangkan tubuh Minseok agar lelaki itu segera membuka mata dan bangun.

"Luhan, Luhan" dan saat kelopak cantik itu terbuka, Minseok langsung menerjang tubuhnya dan mendekapnya begitu erat. "Kenapa ada apa?"

"Jangan pergi"

"Aku tidak akan kemana-mana" bisik Luhan menenangkan, tagannya mengusapi punggung Minseok agar lelaki itu sedikit tenang, tadi pagi ia yang mimpi buruk, sekarang Minseok, dan apa yang Minseok mimpikan tadi? Apa ini berhubungan dengan kejadian kemarin ketika merekapergi ketaman hiburan? Oh tidak mereka sudah sepakat untuk tidak membahas itu, tapi sepertinya Minseok masih memikirkannya sampai terbawa mimpi.

Tidak, itu hanya sekedar mimpi, Luhan adalah miliknya jadi meskipun suatau saat nanti akan ada yang datang kemudian mengaku menjadi keluarga Luhan, maka mereka bukanlah keluarga dan satu-satunya keluarga yang dimiliki bocah itu adalah dirinya. Minseok mensugesti diri dalam hati sambil terus memeluk tubuh Luhan.

Dia takut setengah mati, mimpi itu bagai nyata, seakan sebuah pertanda bahwa suatu saat memang akan ada sebuah keluarga yang datang dan mencari namjanya, meskipun ia yakin kalau Luhan tidak akan meninggalkannya, tapi darah lebih kental daripada air, Luhan pasti akan memilih keluarganya yang sesungguhnya ketimbang dirinya yang hanya mengurusnya sejak kecil.

Oh tidak, Luhan tidak mungkin seperti itu dan itu tidak mungkin terjadi, Minseok menggelengkan kuat kepalanya menghilangkan pikiran tersebut, Luhan sudah berjanji untuk tetap bersamanya maka itu pasti terjadi, ia dan Luhannya akan bersama selamanya.

"Waeyo?"

Yang lebih muda mengerjapkan matanya ketika yang lebih tua menangkap wajahnya, lalu tidak berapa lama ia menempelkan bibirnya.

Oh wow. Luhan berdecak kagum dalam hati, apa ini? Minseok menciumnya? Oh oh oh rasanya manis sekali, menyenangkan dan dan dan, dan ia harus melanjutkannya sampai habis. Tapi ketika tangan Luhan baru memegang pundak Minseok, ciuman itu dilepaskan. Dengan pandangan sendu Minseok menatapnya.

"Kajima"

Eh.

"Kajimalago"

"Keurae, aku tidak akan pergi kemanapun" meskipun merasa aneh, tapi entah kenapa hatinya mendadak memanas, ia kembali berfikir tentang keluarganya. Keluarga sesungguhnya.

Sepasang lelaki dan perempuan yang membuatnya ada di dunia ini, seorang ayah yang seharusnya menjadi idola baginya, terlebih seorang ibu yang telah melahirkannya, bagaimana mungkin mereka tega membuang seonggok bayi kecil tak berdosa, sementara disni ada orang asing yang begitu menyayanginya dan sangat takut kehilangannya.

Luhan yakin tentang ketulusan kasih sayang Minseok, itu terbukti dari dia meninggalkan keluarga,orang yang dicintai serta pengakuan nama demi menyelamatkannya, demi membesarkannya dan dia tidak pernah mengeluh atau menyesal telah memungutnya, meski ia yakinni banyak kesulitan yang dia alami, kehilangan orang-orang yang dicintai dan juga pekerjaan mapan yang telah dia dapatkan.

Minseok melakukan semua demi dirinya, lalu mengapa yang secara nyata berhubungan darah, terikat takdir kemudian melepaskannya begitu saja. Pepatah mengatakan darah lebih kental daripada air. Tapi daripada cairan merah yang tidak bisa diminum ketika haus, air jauh lebih berguna dan memberikan banyak manfaat.

Itu seperti Minseok, dan Luhan adalah orang yang mengambang antara hidup dan mati. Tentu saja yang ia butuhkan air, untuk melepas dahaga dan membuatnya membuka mata. Dan sampai kapanpun ia yakin tidak akan membutuhkan darah untuk menyokong hidupnya, kalau memang pada saatnya nanti dia membutuhkan bukan darah dari mereka yang telah membuangnya, tapi lebih baik mereka yang serupa air.

Atau jika boleh memeohon kepada tuhan, ia tidak ingin apapun, ia hanya ingin Minseok, dan apapun yang terjadi mereka harus selalu bersama.

"Luhan, kenapa kau menangis?" tanya Minseok saat merasakan sesuatu mengalir dari pundaknya sampai kepunggung, Luhan menangis, ketika dia ingin melihat wajah pemuda itu, pelukannya justru dieratkan, kepalanya juga semakin dibenamkan. "Jangan lepaskan,biarkan saja seperti ini" sahutnya dengan nada bergetar.

"Tapi kenapa kau menangis?"

"Aku tidak menangis" elaknya.

"Kau menangis, biarkan aku melihat wajahmu dan katakan mengapa kau menangis?" Minseok masih mencoba melepaskan pelukan itu namun sungguh kewalahan, Luhan menempel seperti lintah, ini menyulitkannya melepaskan pelukan.

"Kau yang menangis Minseok, aku ini lelaki, tidak mungkin menangis"

Oh, suasana haru birunya sudah selesai.

Minseok menghentikan usahanya melepas palukan Luhan, bibir mungilnya mencibir. "Pundakku basah dan kau menyangkal tidak menangis?" jelas-jelas ia merasakan Luhan meneteskan air matanya, dan juga mendengar isakan dari pemuda itu, masih mau menyangkal? Tidak heran kalau Baekhyun sering bercerita kalau Luhan mendapat hukuman karena membantah guru-guru. Dasar.

"Itusih karena kita baru bermain makanya pundakmu basah, kupikir bukan pundakmu saja tapi… Aw"

Luhan dan mulutnya memang yang paling menyebalkan, jadi jangan salahkan tangannya yang kecil ini kalau tiba-tiba menggeplak kepalanya. "Aku serius, Luhan"

"Kau pikir aku tidak serius?" balasnya.

"Kau mana pernah serius, sudahlah lepaskan aku, aku mau merapihkan kamar dan mandi. Oh ya, bukankah tadi ada tamu? Siapa?" katanya, ah dia teringat dengan bel pintu yang tadi berbunyi, menjadikannya lupa pada rasa kantuk yang tadi mendera. Semua gara-gara Luhan.

Tamu? Mereka entah siapa, biarlah. Luhan mengedikan bahu "Orang asing, entahlah mungkin sudah pergi" katanya acuh. "Aw" lagi Luhan memekik, tentu saja karena Minseok kembali memukul kepalanya.

"Kau bodoh? Mungkin kau bilang? Berarti ada kemungkinan juga mereka masih diluar astaga"

Kali ini Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Minseok sembari menusapi punggung kepalanya yang kena pukul dua kali, "Aku bodoh? Ya tentu saja, itu karena kau selalu memukulnya" grutunya lalu bersandar pada sandaran tempat tidur, bibirnya mengeriting, mirip mi yang selalu Luhan dan Baekhyun makan jika sedang ada masalah dengan dirinya juga Kyungsoo.

Pikiran dua bocah itu entah mengapa selalu sama. Kata mereka kalau ditanya mengapa makan mi jika sedang ada masalah adalah mi ini kriting, seperti hidupku yang tidak pernah lurus. Baekhyun yang cerdas pasti tertular kebodohan Luhan, itu yang Kyungsoo katakan, dan Minseok akan menanggapi, aku baru tahu kalau bodoh itu menular. Oh.

"Kau memang harus dipukul karena selalu bersikap sembarangan" gerutunya, sembari mengambil baju yang tergeletak dilantai lalu memakainya, meninggalkan Luhan yang masih sibuk dengan gerutuannya untuk menuju pintu. Ada tamu, dia harus melihatnya.

Tapi ketika telah sampai disana dan membukanya, rupanya sudah tidak ada orang. "Apa aku bilang, mereka itu sudah pergi, salah alamat" suara Luhan mengagetkannya dibelakang.

"Ah kkamjagiya" pekiknya, tangannya langsung mengusapi dadanya. "Kau mengagetkan aku, astaga"

"Kau pikir aku tidak kaget?" balas Luhan dengan mata membulat, bibirnya maju dua senti menunjukan kalau dia sedang dalam mode kesal. "Tapi kau yang memulai mengagetkan aku" balas minseok tidakmau kalah.

"Salah sendiri tidak percaya padaku, kan sudah aku bilang kalau mereka sudah pergi"

"Kau bilang mingkin Luhan, MUNGKIN"

"Uh, apa bedanya"

Terus saja mereka bertengkar, padahal tadi suasananya sungguh haru biru, seperti drama menyedihkan dimana tokohnya harus berakhir kematian, sampai akhirnya Minseok mendenguskan nafasnya kesal, kemudian berbalik meninggalkan Luhan yang masih berdiri diruang depan.

"Ya, mau kemana kau" Minseok tidak menjawab, terus masuk kedalam yang mau tidak mau Luhan mengikuti, menarik tangan kecil yang sering digunakan untuk memukulnya itu sedikit kera, tapi Minseok segera menepisnya. "Awas ah lepas, pergi sana, aku tidak mau melihatmu"

"Pergi, kau yakin mau mengusirku?"

"Tentu saja kenapa tidak?"

"Oh, siapa yang tadi meminta jangan pergi. Luhan-ah saranghae, tetaplah disini, jangan pergi. Kajimalago, Luhan-ah saranghae"

Hah, sungguhkah dia mengatakan begitu. Wah, Luhan benar-benar. Ia hanya mengatakan untuk jangan pergi, tidak tuh pakai acara lebay-lebay dengan mengatakan cinta segala, wah anak ini memang, sampai membuatnya kehabisan kata-kata.

-o0o-

"Annyeonghaseyo"

Baekhyun membungkuk dalam saat teman-teman Kyungsoo sudah duduk diruangan dan dia membantu Kyungsoo membawakan cemilan yang sejak pagi dibuat pria itu. Ternyata tidak hanya teman laki-laki, tapi ada juga teman perempuan. Kyungsoo cukup terkenal juga saat masih sekolah, itu yang Baekhyun pikirkan saat melihat dpara teman Kyungsoo tampak gembira bertemu dengannya, bahkan sapaannya yang sangat hormat itu dianggap sambil lalu, membuat pemuda itu malas saja untuk bergabung.

"Oh kau mau kemana Baek?" Kyungsoo bertanya saat ia bangkit dari duduknya.

"Kamar" balasnya singkat, ia merasa bagai patung pemenuh ruangan yang tidak berguna, mendengarkan mereka bercerita tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan, jadi akan lebih baik kalau ia pergi saja, membaca buku dikamar, bermain game, tidur atau keluar untuk hang out dengan Luhan mungkin tidak buruk, meski ia yakin kalau opsi terakhir akan sangat sulit mengingat ini adalah libur.

Luhan paling benci kalau saat libur di ganggu, tapi tidak ada yang salah bagi dirinya menganggu Luhan dihari libur, karena dia akan mendapatkan pembelaan dari Minseok, yang pasti Luhan tidak akan membantah, tapi daripada keluar menganggu orang, lebih baik ia tidur lagi saja, semalam ia sudah begadang untuk mengerjakan tugas rumahnya, ia masih mengantuk tapi melihat Kyungsoo yang sedang ini itu, tidak mungkin ia tidur, belum lagi tugas sekolahnya baru selesai pagi ini dan buku bacaannya juga belum selesai, jadi ia belajar dulu baru membantu Kyungsoo, dan sekarang karena ia sudah tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan, maka ia ingin tidur lagi saja.

"Aku tidak tahu kalau anakmu sidah sebesar itu, aku pernah bertemu dengan Sohyun ketika di Jepang, dia masih tampak seperti gadis"

Tapi baru ketika Baekhyun sedang mencoba memejamkan matanya, terdengar sebuah percakapan yang terasa mengusik telinganya, Sohyun?

"Dia pasti menjaga tubuhnya dengan sangat baik. Dia juga sempat menanyakan kabarmu, kalian lost contact?" imbuh suara lain.

"Benarkah? Seharusnya dia datang langsung dan menemui kami, sudah lama tidak berjumpa. Kami sudah jarang berkomunikasi sejak Baekhyun bersamaku" ini suara Kyungsoo.

Sohyun? Siapa dia?

Pikiran Baekhyun bertanya-tanya, sebelumnya Kyungsoo tidak pernah menyebutkan nama orang itu, dan kalau tebakannya benar, Sohyun pasti perempuan. Karena tadi ada yang mengatakan kalau ia masih seperti gadis.

Dan apa maksudnya sejak Baekhyun bersama ku? Apa dulu ia sempat bersama dengan orang bernama Sohyun itu?

[Ayo keluar dan temui aku di tempat biasa]

Disaat pikirannya sedang dipenuhi pertanyaan, ponselnya berbunyi dan rupanya pesan dari Luhan, dia sedikit kaget dengan Luhan yang mengajaknya keluar, biasanya Baekhyun harus memaksa atau meminta bantuan Minseok agar bisa mengajak Luhan keluar, tapi ini.

Baiklah, aku akan sampai dalam 30 menit – send. Balasnya, lalu segera melompat untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, tidak sampai sepuluh menit, Baekhyun sudah selesai, ia tentu saja segera menyambar kunci mobil pribadinya dan keluar dari kamar.

"Abeoji" panggilnya pada Kyungsoo, tapi semua orang menoleh lalu memandangnya.

"Iya?"

"Aku ingin keluar bersama Luhan, aku membawa mobilku" ia meminta izin, Kyungsoo masih belum terlalu percaya kepadanya jika harus mengendarai mobil diluar kebutuhan yang mendesak, ia menggunakan mobilnya hanya untuk sekolah dan beberapa kepentingan.

"Luhan?" kening simata burung hantu itu mengerut "Bersama Minseok hyung?"

"Tidak, kami hanya ingin main"

Kan, lihat. Wajahnya tidak tampak senang, ia hanya ingin bermain tapi membawa mobil. "Mungkin setelah keluar sebentar, aku akan berdiam dirumah Luhan, aku janji tidak akan urak-urakan" segera ia menambahkan, keluar dengan Luhan tanpa Minseok atau Kyungsoo, tentu saja akansulit di izinkan, Luhan kan tidak memiliki reputasi yang baik dimata Kyungsoo.

"Baiklah, tapi jangan terlalu malam"

Diizinkan, senyumnya mengembang, ia lalu mendekat kepada Kyungsoo lalu mencium pipinya. "Gomawo, saranghae" tentu saja di pipi, ada teman-teman Kyungsoo, jadi tidak mungkin di tempat lain.

-o0o-

Sepertinya, Luhan dan Baekhyun memang memiliki sebuah kesamaan takdir, bahkan lebih hebat ikatannya dari dari saudara kembar, atau mereka memang seperti saudara kembar, karena disaat Luhan merasakan kegundahan disaat yang sama Baekhyun juga merasakannya.

Ini sudah sering terjadi, dan sekarangpun kembali terjadi, saat Luhan mendengar bunyi lonceng diatas pintu dan dia mendongak, ia melihat wajah Baekhyun yang lesu dan berkeruh, dari tempatnya duduk yang dekat dengan jendela, ia melihat mobil milik sahabatnya itu terparkir, jadi jelas alasannya bukan karena dia kesal harus berdesakan di dalam kendaraan umum demi sampai kemari, atau dia kesal karena harus menggunakan sepeda atau semacamnya, pasti masalah dengan Kyungsoo,seperti yang sedang dialaminya.

"Ada apa dengan wajahmu?" tanya keduanya bersama, sepertinya Baekhyun juga merasakan kalau dirininya juga sedang tidak baik, mereka mengenal satu sama lain dengan sangat baik.

Mendesahkan nafas. Dan mereka kembali melakukannya bersama.

"Biarku tebak, kau ada masalah dengan Minseok abeoji?"

"Kau juga?"

Keduanya menggeleng. Oh, dua bocah itu dama-sama tertegun.

"Ini aneh, kau pasti menebak kalau aku ada masalah dengan Kyungsoo" Baekhyun berkata duluan saat Luhan akan buka suara, tepat setelah ia selesai bicara, Luhan mengangguk. Baekhyun kembali menarik nafasnya. "Baiklah, aku cerita duluan" dan Luhan kembali mengangguk

"Aku merasa takut kalau suatu saat keluargaku yang sesungguhnya datang" Luhan tidak merespon, matanya hanya mengedip beberapa kali. "Hari ini teman-teman lama Kyungsoo datang" lalu Baekhyun menceritakan tentang percakapan mengenai Sohyun "Entah kenapa tapi aku merasa kalau dia adalah ibuku"

Luhan ingin memekik karena, sekali lagi mereka memiliki masalah yang sama.

Ketakutan terhadap munculnya keluarga sesungguhnya.

"Dari bagaimana mereka berkata, itu yang dapat aku pahami"

"Daebak" baru pada saat Kyungsoo selesai bicara, Luhan memekik. Mengagetkan Baekhyun serta beberapa pengunjung. "Kau tahu, itu juga masalah yang sedang aku alami. Bedanya, aku merasa demikian karena aku dan Minseok mengalami mimpi yang sama"

Baekhyun mengernyit, karena mimpi? Mimpi yang sama, itu terdengar seperti justru kalau mereka terikat hubungan darah, misalnya seperti anaknya mengalami kesulitan, ibunya ikut merasakan.

"Tapi kalau begitu, tidakkah itu terdengar seperti kau dan Minseok terhubung sebuah ikatan darah" akhirnya Baekhyun mengeluarkan isi kepalanya.

"Seperti dirimu? Kalau Sohyun memang ibumu, lalu mengapa dia menyerahkanmu pada Kyungsoo? Dari yang aku simpulkan, ini seperti Sohyun memberikan hak asuh kepada Kyungsoo atas dirimu"

Keduanya kembali tertegun, pikiran itu hanya kelebatan kemungkinan yang terjadi. Tapi dari yang Baekhyun tahu, ia diambil dari panti asuhan, sedangkan Luhan, ia diambil Minseok dari tempat sampah saat lelaki itu sedang liburan.

Apa mungkin merekaber bohong tentang hal itu?

.

.

TBC/END?

.

.

lulus sekolah dan tidak melanjutkan kuliah, aku bakal banyak waktu luang untuk menulis ff, tapi ternyata aku salah. TT, aku malah semakin sibuk dan jarang banget ketemu laptop. Tapi tenang aja, aku akan tetap melanjutkan semua ff meski kerjaanku segudang(lebay banget aku. haha.) tapi mohon dimengerti jika lamakarena aku udah nggak mikirin ff aja, dan juga aku ada niat untuk melanjutkan kuliah tahun ini. Jadi, mohon mengerti dan maaf karena tidak membalas review. Sekian, salam cinta.

.

.

Moonbabee