Di dunia ini kau tidak hidup sendirian. Ada ibu yang melahirkanmu, ada ayah yang menafkahimu. Ada keluarga yang menjadi tempatmu pulang. Ada teman yang melengkapi hidupmu. Ada kekasih yang memenuhi setengah jiwamu. Dan ada musuh yang menjadi luka dari hidupmu. Semuanya ada dalam hidup ini.

Dan cerita setiap orang berbeda. Ada yang berjalan mulus dan menjadi tokoh utama dalam cerita orang lain. Ada yang biasa saja dan hanya menjadi karakter suportif. Dan ada yang tidak tertulis dan berujung dilupakan dimakan waktu.

Ceritamu termasuk yang mana?

Tapi tidak mengubah fakta kalau kau adalah tokoh utama dalam ceritamu sendiri. Kau yang menentukan ke mana jalanmu, kau yang menentukan apa pilihanmu, kau yang menentukan siapa yang kau kenal, dan kau yang menentukan bagaimana akhirnya.

Tapi ingatlah, di dalam ceritamu sendiri ada karakter lain, tokoh utama lain yang mendadak datang, tidak diundang, dan membuatmu kebingung.

Siapa kau?

Darimana datangnya?

Kenapa ada di sebelahku?

Dari mana asalmu?

Mengapa aku harus menyadarimu?

Karakter sampingan yang menjadi kunci dalam hidupmu sendiri inilah yang akan menentukan bagaimana akhir dari ceritamu nanti. Entah kau mengharapkannya atau tidak.

Hei, apakah itu cinta?

Tidak, orang itu bukan selalu cinta dalam hidupmu. Bisa saja orang yang paling kau takuti dalam hidupmu. Karena orang itu adalah orang yang bisa membacamu tanpa kau persilahkan. Setebal apapun topeng yang kau gunakan, maka orang itu akan membacanya seperti sebuah tulisan kapital di buku yang masih baru.

Saat kau bertemu dengan orang seperti ini, rasa takut yang sangat besar akan datang.

Dan Miyuki Kazuya, bertemu dengan karakter sampingan ini sejak awal ceritanya dimulai.

.

.

.

Rasa takut itu datang.

Kenapa rasa takut itu datang?

Bukankah seharusnya dia bisa menjadi sebuah sandaran saat merasa terpuruk?

Tapi kenapa yang datang bukan perasaan aman?

Logika dan kenyataan tidak akan berlaku dalam hukum ini.

Apa jawabanya? Tolong beritahu.

Rasa penasaran ini membuat sakit kepala dan sesak napas.

Seseorang, tolong beritahu.

.

.

.

Dulu saat kecil Miyuki Kazuya anak yang polos. Dia menganggap kalau kejahatan itu tidak ada. Semua orang baik, dan orang jahat hanya ada di dalam kotak persegi empat dengan bentuk lucu seperti rubah atau beruang. Dia percaya kalau semua orang menyayanginya. Dia selalu menunjukkan senyuman polos terbaiknya yang bisa membuat semua orang tersenyum.

Miyuki Kazuya, bocah berumur lima tahun yang tidak tahu kalau di belakangnya ada banyak sekali duri yang siap menusuknya kapan saja.

Tapi bagaimana dia bisa sadar, kalau ada seorang ibu yang menyayanginya dan ayah yang melindunginya. Dia anak tunggal, permata yang paling berharga dalam keluarga bermaga Miyuki.

Tapi ada satu hari di mana Miyuki Kazuya mendapatkan jalur cerita yang tidak bisa dia elakkan. Tiba-tiba datang bagaikan meteor memusnahkan bumi. Jalan ke belakang sudah tidak ada, hancur hanya ada hitam kosong. Padahal sebelumnya dia lihat ada banyak awan cerah dengan matahari menggantung dan pelangi-pelangi, seperti taman kanak-kanak. Dalam hanya hitungan detik, semua itu hilang.

Miyuki Kazuya tidak ada jalan lain selain berjalan maju.

"Kazuya, kau mau ke mana?" tanya sang ayah, nadanya datar. Tapi Miyuki merasakan kehangatan dan kekhawatiran di sana.

"Hasegawa mengajakku main ke taman." Jawab si anak tunggal, dia memakai topinya yang masih kebesaran itu.

"Sudah izin ibumu?"

Napas Miyuki Kazuya terkecat dalam hitungan sepersekian detik. Pupil matanya menatap sepatu tiga warnanya dan menjawab dengan pelan, "Sudah."

Bukan sang ayah kalau menyadari ada yang aneh. Tapi dia hanya diam, lebih memilih tidak menanyakan lebih lanjut. Membiarkan sang putra pergi bermain adalah pilihan terbaik.

Tidak, Miyuki kecil bukan pergi ke taman untuk pergi bermain dengan Hasegawa tetangganya. Tapi dia pergi ke salah satu lapangan baseball SMP dekat tempat tinggalnya. Karena pagarnya yang tinggi, Miyuki memilih memanjat pohon dan menontonnya lebih jelas. Karena di bawah ramai orang tua yang tidak Miyuki kenal. Dia tidak bisa menerobos.

Ini seperti sebuah hiburan yang tidak akan bisa digantikan.

Baseball memang yang terbaik, kan?

.

.

.

Miyuki Kazuya berumur enam tahun. Satu bulan setelah ulang tahunnya, sang ibunda satu-satunya meninggal. Korban tabrak lari di bawah derasnya hujan siang hari.

Tidak, Miyuki Kazuya ada di sana. Dia sudah menahan tangan ibunya untuk tetap berada di trotoar karena lampu rambu lalu lintas masih berwarna hijau, tanda kalau kendaran yang jalan, dan manusia berdiri di pinggiran. Miyuki Kazuya sudah berusaha menahannya.

Di bawah hujan deras, Miyuki Kazuya tidak berani berjalan lagi menghentikkan langkah sang ibunda. Rasa takut itu menguasainya. Rasa takut dari definis lain.

Karakter sampingan itu ada kan?

Suara dentuman itu terus mengelilingi dunia Miyuki Kazuya dalam jangka waktu sepersekian detik. Tangan kanannya hanya terulur, meraih angin dan sosok fana (karena di depan matanya masih sosok seorang wanita dengan payung tranparannya). Sementara di tengah persimpangan, tubuh itu sudah terkulai. Payungnya jatuh tepat di depan Miyuki Kazuya.

Selamat tinggal.

Apa yang kau rasakan jika orang yang paling berharga mati tepat di depanmu? Miyuki Kazuya tidak menggunakan kata 'meninggal', dia lebih memilih kata 'mati'.

Jika kau bertanya pada Miyuki kecil, dia tidak merasakan apapun. Syok dan terkejut hanya berlangsung singkat. Dia tidak merasa takut atau sedih. Dia juga tidak gembira atau berbahagia, "Akhirnya aku bebas!" dia tidak merasakan itu.

Tapi Miyuki tahu, ada perasaan berat, tidak rela. Dan ditambah trauma berlangsung singkat. Pertama kali Miyuki ditinggal mati oleh seseorang. Dan tangan besar ayahnya yang menenangkannya. Mengusap kepalanya lembut dan membiarkan sang tunggal menangis sampai tenang. Suara dentuman keras terus mengiang di kepalanya. Bayangan itu terus muncul ketika matanya terpejam. Tidak bisa dia hilangkan walau sudah berusaha keras.

Walau ibunya sendiri yang mati, tapi kenapa dirinya trauma bukan karena kehilangan? Karena perasaan berat dan tidak rela ini bukan karena kematian ibunya? Miyuki Kazuya yang berumur enam tahun sama sekali tidak paham.

Padahal dari film yang Miyuki Kazuya tonton di televisi, kalau ada orang kesayangan yang mati, mereka selalu menangisi orang itu. Tidak rela akan kepergiannya. Ingin waktu terulang dan menyelamatkannya, atau menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang itu. Ini televisi yang mengada-ada atau Miyuki Kazuya yang mengada-ada?

Seminggu setelah kematian sang ibunda, Miyuki Kazuya mendapatkan jawaban kenapa dirinya merasa tidak rela. Dia mendapatkan jawabannya saat datang ke dapur dan mau mengambil minum.

Ibundanya bunuh diri.

Di ruangan ini, ibundanya mengusirnya.

Tatapan tajam menusuk ibundanya terbentuk ketika mendapati Miyuki Kazuya.

Tiga bulan sang bunda tidak menyahut ucapan sang anak.

Hari itu tiba-tiba sang ibunda mengajak Miyuki Kazuya jalan-jalan di bawah derasnya hujan.

Ayah tercintanya adalah jembatan komunikasi.

Rasa sayang itu semu.

Cinta dan perlindungan itu palsu.

Pada akhirnya semua akan mati dan meninggalkannya.

Hanya ayahnya tempat Miyuki Kazuya berpulang.

Sang ibunda membenci anak tunggalnya.

Miyuki Kazuya anak yang tidak berguna.

Kehadirannya tidak diperlukan untuk kebahagian wanita yang memilih bad ending.

Kenapa sang ibunda mengusir Miyuki yang kebetulan hanya ingin duduk menemani?

Perasaan tidak rela ini karena Miyuki tidak bisa memaafkan.

Kenapa harus menyayangi orang yang sejak awal membencinya?

Sebuah fakta, sang ibunda membunuh hati putranya sendiri.

Miyuki Kazuya memilih jalannya, dia tidak akan menyayangi siapa pun.

Di dunia ini orang yang layak Miyuki Kazuya bahagiakan hanyalah Miyuki Toku.

Tiga bulan setelah ulang tahunnya, Miyuki Kazuya memantapkan diri, dunia luar itu semu.

.

.

.

Benar, tokoh sampingan itu ada.

Jalan hidup yang berubah, tujuan baru seperti banting setir.

Selamat datang di kehidupan yang sesungguhnya.

Dan selamat, telah membuat hati ini mati.

Tokoh sampingan mana lagi yang akan merubah cerita?

Tidak ada yang tahu, biarkan waktu dan kematian yang membimbing.

.

.

.

A/N: Kesambet apa saya malah update cerita gak jelas ini. Tapi biarlah, dan akhirnya saya memutuskan membuat ini jadi chapter. Silahkan para reader menangkap apa maksud cerita di atas. Selamat menimati. Saya kebiasaan ngasih bonus juga. Jangan kembali ke halaman sebelumnya dulu ya.

.

.

.

Miyuki Kazuya berumur empat belas tahun. Tanggal tujuh belas Desember dia menemani sang ayah untuk pergi ke makam sang ibunda. Sang ayah membawakan sesajen, sementara Miyuki Kazuya tidak membawa apa-apa.

Tapi saat itu Miyuki Kazuya membawa satu hal yang tidak akan pernah bisa dibalas oleh sang ibunda.

Saat ayahnya pergi, Miyuki Kazuya masih berdiri di sana. Menatap batu nisan hitam itu dengan tatapan kosongnya.

Mulutnya terbuka, menanyakan sebuah kalimat, "Kenapa hari itu ibu mengusirku?"

Tidak ada balasan verbal. Yang ada hanya angin kencang yang seperti menerpa keras.

Sang ibunda masih mengusir putra tunggalnya.

Sejak saat itu Miyuki memilih tidak datang lagi. Dia meninggalkan orang yang melahirkannya di belakang. Meninggalkan orang yang membunuh hatinya secara perlahan. Tidak, bahkan sampai sekarang orang itu masih membunuh hatinya.

Jerat rantai yang selamanya tidak akan bisa hancur.

Apakah ini yang namanya terkekang perasaan dan masa lalu?