"Jadi tahun dimana kau berusaha mendapatkan Rose kembali itu semua merupakan–"
Chanyeol menutup matanya dalam kepedihan.
"Rasa bersalah, bukan cinta. Ia berhasil membunuh rasa cintaku padanya dengan cara menipuku. Tapi karena bayi itu, aku akan bertahan di sisinya."
"Apakah Baekhyun tahu tentang hal ini?"
Membuka kelopak matanya, Chanyeol menjawab, "Aku hanya memberi tahunya tentang perselingkuhan. Aku rasa dia tak sanggup menghadapi sisanya."
"Kurasa kau perlu untuk memberitahunya."
Chanyeol meringis. "Aku akan memberitahunya. Jika ia mau berbicara padaku lagi."
"Aku punya perasaan yang kuat dia akan ada di sekitar sini lagi."
"Jangan katakan itu." Kata Chanyeol, seraya menaikkan alis matanya.
"Tidak. Ini karena Saudaramu menemuinya saat ia meninggalkan rumah ini."
Mengerang, dengan frustasi Chanyeol menggosokkan tangannya ke wajahnya. "Bagus. Aku yakin mereka akan menyerbu kemari segera untuk memanggang kejantananku!"
Ayahnya terkekeh. "Jangan berpikiran sempit tentang kakakmu. Dia dan kakak-kakakmu yang lain mungkin akan mencincangmu karena apa yang telah kau lakukan, tapi mereka benar-benar mencintaimu dan ingin melihatmu bahagia." merunduk ke depan dan menepuk tangan Chanyeol.
"Dan mereka tahu bagaimana kau mengacau segalanya dulu dan menahan kebahagiaanmu sendiri."
Hidung Chanyeol mengembang dalam kemarahan. "Mereka tak tahu cerita lengkapnya, Ayah. Mereka tak tahu apa yang telah Rose lakukan!"
"Aku tahu itu. Itu adalah rahasia yang akan tetap terjaga antara kau, Rose, dan aku."
Chanyeol berkata sambil mengepalkan tangannya, "Tidakkah kau tahu berapa kali aku ingin berteriak pada Ibu saat dia menyanjung dan memuji Rose di depan mukaku tentang Rose yang telah menikah dan berbahagia? Jika saja dia tahu Rose yang telah mengacaukan isi kepalaku dengan semua wanita lain."
"Itu adalah pilihanmu untuk tak mengatakan padanya, Nak. Aku tak suka merahasiakan hal itu darinya. Ibumu dan aku tidak banyak menyimpan rahasia, tapi aku menyimpan rahasiamu."
Ekspresi marah Chanyeol melembut. "Aku menghargai itu, Yah."
Tersenyum. "Terima kasih kembali."
Ia berdiri dan menuang sisa kopinya ke wastafel. "Jadi kau akan berbicara pada Baekhyun dan
mengatakan yang sebenarnya padanya?"
"Secepatnya saat dia mau bicara padaku."
"Bagus. Aku senang mendengarnya."
Melihat ke jam tangannya. "Sebaiknya aku pulang sekarang."
Chanyeol merasa sesak menyadari kemungkinan dia sendirian. "Saat ini benar-benar sudah terlalu malam untukmu mengemudi. Mungkin kau sebaiknya menginap saja malam ini."
Chanyeol menangkap tatapan ayahnya. Dengan matanya, Chanyeol mencoba mengatakan apa yang ia terlalu malu untuk mengakui Ia tidak mau sendirian.
Ayahnya menganggukkan kepalanya. "Kupikir kau benar. Kau tak keberatan menginapkan orangtuamu di sini?"
Chanyeol tersenyum. "Aku sama sekali tak keberatan."
.
.
"N, tiga belas," suara penyiar Bingo berdengung.
"Apa yang dia bilang, sayang?" Mrs. Yoon bertanya pada Baekhyun, sambil melirik kartunya.
Mengetahui Mrs. Yoon praktis tuli, bahkan dengan alat bantu dengarnya, Baekhyun mengambil nafas panjang dan berteriak, "N, TIGA BELAS!"
Mrs. Park tersenyum dan menganggukkan kepala abu-abunya. Ketika Mr. Park tertawa kecil di sebelahnya, Baekhyun menaikkan alis matanya.
"Apa?"
"Ayolah, Baekhyun, kau wanita muda yang cantik dan bersemangat. Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini denganku dan sekelompok orang tua lainnya?"
Baekhyun terkikik. "Apa kau bercanda? Bagaimana bisa aku melewatkan Bingo hari Sabtu? Bagaimana dengan hadiah luar biasa yang dapat aku menangkan, itu memanggil namaku."
Ketika dada Mr. Park bergetar karena geli, Baekhyun menggoyangkan jari padanya. "Hey, kau tak seharusnya tertawa. Kau pernah punya seorang istri yang hamil dan anak perempuan. Kau tahu, ketidakmampuan mengontrol kandung kemih adalah masalah yang serius."
Matanya melebar. "Kau benar-benar menyebalkan, ya? Mulut luar biasa yang kau punya untuk seseorang yang seharusnya gadis manis."
Jantung Baekhyun terhenti saat dia mendengar suara dalam Chanyeol menggema di telinganya.
"Mulutmu itu adalah masalah."
Rasa sakit yang membara membakar dadanya, dan dia berjuang untuk tetap bernapas. Mencoba untuk mendorong jauh kenangan menyakitkan itu, dia menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu alasan yang sebenarnya aku di sini adalah karena kau baru saja mengalami sakit kepala dan tidak seharusnya menyetir."
"Sekarang liburan musim gugur untuk anak-anak mereka, dan mereka hanya akan pergi ke Disney World selama 4 hari. Itu bukan salah mereka jika mereka cukup mengkhawatirkanmu untuk mengambil kunci-kuncimu. Itu salahmu sendiri untuk membiarkan kekeraskepalaan Chanyeol menahanmu pergi ke dokter."
"Aku sudah buat janji minggu depan." Ketika Baekhyun menaikkan alisnya tidak percaya, Mr. Park mengusapkan jarinya di atas jantungnya dan bersumpah, "Janji pramuka."
"Jika kau bilang begitu. Aku tetap akan mengantarkanmu sendiri untuk memastikan kau sampai di sana."
Mengerang. "Bagus. Sekarang aku punya anak perempuann tukang khawatir lainnya di sampingku setiap saat."
Hati Baekhyun menghangat pada gagasan dianggap sebagai anak perempuan. Terlepas dari apa yang dia rasakan tentang Chanyeol, dia tak akan pernah bisa menjauhkan diri dari Mr. Park dan cintanya.
Setelah wanita dengan hiasan rambut berwarna biru bertepuk tangan dengan hebohnya dan berteriak, "Bingo!" Mr. Park mencondongkan tubuh ke depan di kursinya, sebuah ekspresi serius tergambar di wajahnya.
"Jadi kita tidak akan membicarakan tentang hal itu?"
Baekhyun melempar pandangan padanya dan menyeringai. "Maksudmu kenyataan bahwa satu diantara hadiah itu adalah sebuah tas?"
Menyilangkan kedua lengan di depan dadanya, Mr. Park mendengus, "Bukan itu yang aku bicarakan, dan kau tahu itu."
Baekhyun menundukkan kepalanya, menatap kartu Bingo nya seakan itu adalah hal yang paling menarik yang pernah dia lihat.
"Aku sebaiknya tidak membicarakannya," dia berbisik.
"Lihat, Baekhyun, aku yakin kau telah mengalami rasa cinta yang mendalam yang orang tua miliki untuk anak mereka. Chanyeol adalah putraku, dan aku mencintainya dengan seluruh hatiku."
Ketika Baekhyun menyentakkan kepalanya ke atas untuk melotot padanya, Mr. Park mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Tapi itu tak berarti aku memaafkan apa yang dia telah lakukan padamu. Percayalah padaku, aku ingin melakukan sesuatu yang bisa melukai tubuhnya." Sebuah kilatan geli bersinar di matanya yang gelap.
"Anggap saja aku sudah melakukannya." Baekhyun terkesiap.
"Apa yang telah kau lakukan?" Mr. Park tertawa kecil.
"Percayalah padaku, aku memberikan padanya sesuatu yang layak ia dapatkan, atau tubuh tua 72 tahunku ini mampu lakukan!"
"Kau benar-benar mengerikan!" Baekhyun menjawab, tetapi ia tak dapat berhenti tertawa cekikikan.
Meletakkan tangannya di dalam tangan Baekhyun. "Aku hanya ingin kau tahu aku netral dalam semua masalah ini, oke? Aku mencintaimu dan cucuku, seperti aku mencintai Chanyeol."
"Terima kasih. Aku menghargai itu." Baekhyun meremas tangannya.
"Dan aku harap kau tahu aku tak akan pernah memintamu untuk memihak atau menjauhkanmu dari bayi ini karena apa yang terjadi dengan Chanyeol."
"Aku tahu itu, sayang. Sejak hari pertama aku bertemu denganmu, aku tahu gadis seperti apa kau ini, dan tidak ada satupun tulang jahat di dalam tubuhmu." Mr. Park berhenti sejenak dan menggelengkan kepalanya.
"Tapi jika aku tak mengatakan apa yang ada di hatiku, aku akan meledak."
Sambil menggigiti salah satu kukunya yang sudah sedikit rusak, Baekhyun menahan nafasnya, memberanikan diri untuk apa yang akan Mr. Park katakan.
"Aku benar-benar khawatir dengan Chanyeol. Ini sudah 3 minggu, dan dia benar-benar sengsara, Baekhyun. Dia tidak tidur, dan dia nyaris tidak makan."
Sisi jahat dan dendam pada diri Baekhyun menikmati pemikiran tentang penderitaan Chanyeol. Dia memberikan Mr. Park pandangan tidak percaya.
"Aku benar-benar meragukan itu. Dia mungkin hanya berusaha mendapatkan simpatimu dan mencoba untuk membuatmu berpaling dariku."
"Tidak, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia sedang tinggal denganku karena dia tidak tahan berada dalam kesendirian." Mata Baekhyun melebar saat hatinya terasa perih untuk Chanyeol.
Walaupun bagian yang sangat besar dari dirinya merasa gembira karena berpikir dia terluka separah dirinya, bagian lain dirinya mengasihaninya. Seberapa besarnya dia ingin merendahkan Chanyeol, dia tidak bisa.
Setiap saat selama 3 minggu yang lalu, Baekhyun berusaha untuk mengubur perasaannya dan menerima kenyataan bahwa Chanyeol tidak akan pernah benar-benar ada secara emosional.
Untuk membiarkan dia kembali ke hidupnya akan seperti berjalan tanpa alas kaki di atas kepingan hatinya yang hancur lebur. Chanyeol akan melukainya lagi itu tak terelakkan.
Tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, Baekhyun masih mencintainya. Ada bagian dari dirinya yang dia khawatirkan akan selalu mencintainya–sama seperti bagian dari dirinya yang masih mencintai Kris.
Baekhyun membenci dirinya sendiri untuk merasakan itu. "Dapatkah kau dengan jujur mengatakan bahwa tak ada satupun yang telah dia lakukan di beberapa minggu terakhir yang telah melembutkan hatimu untuknya?" Mr. Park bertanya.
Helaan nafas penuh dengan rasa tersiksa keluar dari bibirnya. Saat Saudara Chanyeol mengatakan Chanyeol akan mencoba untuk memenangkannya kembali, dia tidak bercanda.
Bahkan tak ada satupun peringatan yang bisa mempersiapkan diri Baekhyun dari rentetan telepon, pesan, dan email.
Chanyeol bahkan mencoba mendatangi kantornya, tapi Baekhyun telah meminta petugas keamanan untuk mengusirnya. Itu menjadi sebuah tontonan saat Chanyeol berkelahi dengan keamanan karena mencoba mendekati Baekhyun.
Chanyeol kemudian diberi peringatan oleh manager Baekhyun untuk jangan pernah datang ke lantainya lagi. Lalu Chanyeol merubah taktik. Rumah Baekhyun segera berkembang menjadi dua untuk toko bunga dengan semua bunga yang Chanyeol kirim.
Setiap buket dan setiap lusin mawar yang dikirimkan mempunyai kartu yang terpisah yang penuh dengan kata-kata penuh penyesalan, betapa dia merindukannya, dan seberapa besar dia peduli padanya dan bayinya. Karena masih tidak ada pengakuan cinta, Baekhyun hanya mengabaikannya.
"Baekhyun" Mr. Park memanggil, menarikknya keluar dari pikiran-pikirannya.
Baekhyun memainkan keliman bajunya dengan jarinya. "Tak tahukah kau bagaimana beratnya hal itu dengan perasaanku, dikalikan dengan hormon kehamilanku, untuk mengacuhkannya?"
"Aku akan berbohong jika aku bilang aku tak terkesan dengan kegigihannya. Bahkan dengan Rose, dia tidak melakukan hal yang setulus buku puisi itu."
Baekhyun menutup matanya erat-erat. Buku sialan itu! Itu hampir menghancurkan tekadnya. Ketika Baekhyun membuka bungkus paket dan menemukan sebuah buku edisi lama tentang puisi cinta dari the Romantics, dia menangis terisak-isak selama 1 jam.
Dan sementara buku itu penuh dengan sentimen cinta, Chanyeol masih belum mengutarakan kata-kata itu secara langsung. Untuk Baekhyun, itu berarti segalanya.
"Aku benar-benar menyesal dia mengalami hal yang cukup berat. Tapi aku juga tersakiti,"
Baekhyun akhirnya berkata. "Aku tahu, sayang. Tapi jika aku memintamu hanya untuk berbicara padanya untuk beberapa menit, maukah kau menghibur orang tua ini?"
"Oh Mr. Park, tidakkah kau lihat. Aku takut."
"Bahwa dia akan selingkuh lagi?"
Dia menganggukkan kepalanya. "Dengan Kris, aku tak pernah harus khawatir tentang dia tidak setia. Dia benar-benar mencurahkan segalanya sejak pertama kali kami berkencan. Aku tidak sering berkencan atau pergi ke dunia luar, jadi aku tak tahu bagaimana caranya bersama seseorang seperti Chanyeol dan tetap waras."
Ayah Chanyeol mengusap dagunya. Baekhyun dapat mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak dia katakan-sesuatu yang memegang satu bagian dari teka-teki Chanyeol.
"Aku tidak suka memohon, tapi maukah kau mempertimbangkan untuk hanya duduk dengannya dan coba mendengarnya? Aku tahu itu akan sangat berarti untuknya, dan kurasa itu akan berarti untukmu juga."
Udara kekalahan berhembus di dadanya. "Kukira aku dapat mencobanya."
"Itu dia gadisku," katanya, wajahnya menjadi cerah.
.
.
TBC
Btw pilihan kalian ada di kubu mana Jokowi atau Prabowo
