"Bagus. Sekarang aku sudah mengeluarkan hal itu, aku ingin beberapa makanan penutup. Mau sesuatu?"

Seakan mendapat isyarat, perut Baekhyun berbunyi, dan dia tersenyum lebar. "Walaupun aku seharusnya tidak mau, maukah kau membawakanku beberapa potong cake buatan rumah itu lagi?"

Mr. Park tersenyum. "Pilihan bagus. Aku juga akan mengambilnya untukku sendiri."

Dia meraih lengan baju Mr. Park. "Hanya pastikan itu bukan milik Mrs. Yoon. Kupikir dia tanpa sengaja menaruh garam bukannya gula kali ini."

Mr. Park tertawa. "Oh Tuhan. Aku percaya dia membuat satu atau dua kekacauan."

"Kau seharusnya tidak mengatakan itu. Kau tahu dia manis padamu," Goda Baekhyun.

"Dan jangan berpikir aku tak akan terus melarikan diri darinya. Dia mungkin akan membunuhku dengan keracunan makanan atau lainnya."

Baekhyun tertawa. "Kau tak harus lari terlalu cepat. Dia hanya satu dari sekian banyak penggemarmu."

"Terserah," dia menggerutu.

Saat dia berdiri dari kursinya, Ayah Chanyeol itu meringis dan memegang dadanya.

"Kau baik-baik saja?" Baekhyun bertanya.

"Aku tak apa-apa." Dia menggumam. Tapi saat dia mengambil langkah ke depan mengitari meja, dia terkesiap dan lalu jatuh ke lantai.

"Mr. Park!" Baekhyun menjerit, melompat dari kursinya. Dia berlari ke arahnya dan berlutut, menggenggam tangan Mr. Park dalam tangannya.

"Jantungku," Mr. Park mengerang.

"Seseorang panggil 911!" Baekhyun berteriak, berusaha melawan rasa panik yang mulai melanda di dadanya.

"Aku!" penyiar menjawab, mengangkat teleponnya ke telinga.

"Ini, berikan dia ini," seorang wanita berkata, mendorongkan sebutir aspirin di depan muka Baekhyun.

Dia mengambilnya dari tangan si wanita dan membawanya ke bibir Mr. Park.

"Telan ini."

Mr. Park mengangkat kepalanya dan membiarkan Baekhyun meletakkan pil itu di mulutnya.

"Kau tak punya obat lain yang harus kau minum?"

Mr. Park meringis. "Tertinggal di celanaku yang lain," dia mendesah.

Melihat apa yang pasti menjadi ekspresi Baekhyun yang ketakutan, dia menggumam, "Maaf."

"Tidak, jangan meminta maaf. Tidak apa-apa."

"Berdoalah, Angel." Sebuah tangan gemetar dengan lembut menyentuh pipi Baekhyun.

Air mata terasa sakit di matanya. "Tentu, aku akan berdoa. Aku sedang berdoa. Dan kau juga!"

Mr. Park tertawa kecil dan lalu meringis. "Jangan membuatku tertawa."

"Maafkan aku." Baekhyun meremas erat tangan Mr. Park dan mencoba memberikan senyum menenangkan padanya.

"Jika ini tidak berjalan baik." Tubuh Baekhyun menegang.

"Tidak! Jangan berani-beraninya kau berbicara seperti itu!"

Mr. Park menutup matanya sesaat sebelum membukanya. "Dengarkan aku. Jika aku tidak berhasil melalui ini, berjanjilah padaku kau akan memberi Chanyeol kesempatan lagi."

"Oh Mr. Park," Baekhyun mengerang.

"Berjanjilah," dia memaksa.

Hal terakhir yang ingin Baekhyun lakukan di dunia adalah berbohong pada seorang lelaki yang berpotensi untuk meninggal. Entah bagaimana dia menemukan keberanian untuk menganggukkan kepalanya.

"Okay, aku berjanji."

"Gadis pintar."

Ketika petugas pemadam kebakaran tiba, Baekhyun mengucapkan terima kasih pada Tuhan karena kantor pemadam kebakaran berada tepat di seberang jalan. Karena sebagian besar dari mereka mendapatkan pelatihan perawatan medis, dia tahu mereka dapat menolong Mr. Park sampai ambulans tiba.

"Permisi," seorang pemuda berkata.

Baekhyun dengan enggan melepaskan tangan Mr. Park. Kedua pemadam kebakaran beringsut melewati Baekhyun dan berjongkok di sebelah Mr. Park.

Menjalin jari-jarinya, Baekhyun membawa tangannya ke bibirnya yang menggumamkan doa-doa. Dia memperhatikan saat salah seorang pemadam memasangkan masker oksigen pada wajah Mr. Park ketika yang lain memeriksa denyut nadinya.

Hilang dalam pikirannya sendiri, Baekhyun bahkan tidak mendengar sirene ambulans. Hal berikutnya yang dia tahu anggota para medis tiba dan meletakkan Mr. Park di atas usungan.

"Baekhyun!" teriakan panik Mr. Park terdengar melalui maskernya.

"Aku ada di sini," Baekhyun menjawab, mendorong salah satu pemadam kebakaran dari hadapannya. Meraba-raba sepanjang brangkar, dia menyambar tangan Mr. Park.

"Aku di sini. Kau akan baik-baik saja."

Brankar bergemuruh dan bergetar sepanjang trotoar yang tidak rata saat mereka mendorong Mr. Park menuju pintu ambulans yang terbuka.

Baekhyun harus berjuang untuk menyusul mereka, dan dia kehabisan nafas saat mereka mulai memasukkan Mr. Park ke dalam ambulans. Wajah panik saat Baekhyun dipaksa untuk melepaskan tangannya.

"Aku masih di sini!" Baekhyun berteriak, menahan air mata membakar tenggorokan dan matanya.

Baekhyun merasa sebuah tangan di bahunya. Seorang petugas pemadam muda dengan sorotan mata baik hati tersenyum padanya.

"Apakah kau mau berkendara dengannya?"

"Tolong, bisakah?"

"Tentu saja kau bisa. Kemarilah untuk duduk di depan denganku." Baekhyun mendekat ke pintu ambulans, "Mr. Park, aku akan ada di depan. Aku tidak meninggalkanmu. Oke?"

Ia menganggukkan kepalanya. "Aku mencintaimu dan aku akan ada di depan," Baekhyun berteriak lagi, saat petugas pemadam menariknya.

Baekhyun memposisikan dirinya di depan pintu dan mencoba menarik dirinya ke atas. Dengan adrenalinnya yang terkuras, dia terlalu lemah. Sepasang tangan muncul di pinggangnya dan mendorongnya ke depan. Dia terkesiap saat dia terduduk di jok kursi.

Setelah dia menenangkan diri, dia berputar. Pipi pemuda pemadam kebakaran itu merah merona.

"Maafkan tentang hal itu."

"Tidak apa-apa. Terima kasih untuk bantuannya." Dia menyeringai sebelum menutup pintu.

Baekhyun berputar di kursinya untuk melihat petugas medis bekerja pada ayah Chanyeol.

"Lihat, aku tidak meninggalkanmua," dia berkata.

Suara raungan sirene ambulans mulai menyala menyebabkan Baekhyun bergidik. Seperti badai listrik di musim panas, memori yang telah lama terkubur berkelebat di pikirannya. Walaupun diamencengkeram pinggiran kursinya, dia telah berada jauh dari kekacauan di sekitarnya.

Dengan tangannya menggenggam erat tangan ibunya, dia melewati kantor pemadam kebakaran. Saat melihat ayahnya, dia memekik dan lari ke depan.

"Daddy! Daddy!"

"Hai sayang," katanya, mengangkat Baekhyun ke dalam pelukannya.

Baekhyun melilitkan kakinya di sekeliling ayahnya saat dia memeluknya erat. "Jadi kau akhirnya dapat melihat kantor baruku, ya?"

Baekhyun mengangguk. Dia belum mengerti kenapa mereka harus meninggalkan pegunungan untuk pindah ke kota. Kenyataannya, dia harus menangis kencang dari belakang kaca mobil saat dia melihat Kakek dan Nenek melambaikan tangan.

Tapi Daddy telah mencoba menjelaskan kepadanya dia akan mendapatkan penghasilan lebih jika dia bekerja sebagai pemadam kebakaran.

Mereka bisa mendapatkan barang barang yang lebih baik. Dia bahkan membelikannya anak anjing untuk membuat segalanya lebih mudah.

"Biarkan aku memakai topimu! Kumohon Daddy!"

Ayahnya tertawa kecil, "Tentu saja kau boleh." Saat dia meletakkan visor pemadam kebakaran di kepalanya, leher Baekhyun gemetar dan tertunduk keberatan. Dia mengajak Baekhyun ke mesin berwarna merah api yang berkilauan.

"Kau mau dengar suara sirene, Angel?"

Baekhyun menggeliat di lengan daddynya. "Oh iya!"

Dia memanjat ke dalam mobil pemadam dan mendudukkan Baekhyun di jok kursinya. Tangan Baekhyun otomatis memegang roda setir, dan dia memutarnya bolak balik, berpura-pura menyetir.

Daddynya membunyikan klakson yang meraung. "Lagi, Daddy!"

Dia menyeringai dan membunyikannya lagi sampai para pria di kantor pemadam siap untuk mencekiknya.

Seperti bayangan kabut tipis berputar-putar di sepanjang atap dan langit, pikiran Baekhyun meluncurkan memori lain hanya setahun kemudian.

Baekhyuna sedang di sekolah dan duduk di karpet membaca. Dengan penuh perhatian dia mendengarkan gurunya membaca sebuah buku tentang beruang yang mengadakan pesta Halloween dimana popcorn memenuhi rumah mereka.

Pintu ruang kelas berderit terbuka, dan Baekhyun menatap dalam keterkejutan pada Kakek yang berdiri di pintu masuk. Dia berlari untuk menemuinya, dengan senang hati menyambut tangannya.

Di luar kelas, dia menarik Baekhyun ke dalam pelukannya dan membawanya keluar. Nenek berada di mobil. Baekhyun menghujani Kakek dengan beberapa pertanyaan.

"Apa yang terjadi, Kakek? Kenapa kalian semua ada di sini? Dimana Mommy dan Daddy?"

Untuk pertama kalinya sejauh yang pernah dia ingat, ada air mata di mata Kakek yang gelap. "Baekhyun, ada kebakaran yang sangat besar, dan daddy-mu mencoba menyelamatkan anak-anak ini. Dia berhasil mengeluarkan mereka dengan selamat, tapi dia"

Suaranya tercekik oleh emosi. "Sayang, daddy-mu pergi untuk tinggal bersama para malaikat."

Satu pernyataan itu membuatnya menendang dan menjerit melepaskan diri dari pelukan Kakek. "Tidak, tidak, tidak! Daddy tidak akan meninggalkanku! Dia akan membawaku ke sirkus akhir minggu ini."

Tinjunya memukuli perut Kakek. "Kau bilang pada para malaikat untuk membawa daddy kembali!" Baekhyun menjerit.

Suara pintu ambulans yang berderak membuka menyentak Baekhyun ke memori yang lain.

Sekali lagi dia menggenggam tangan ibunya saat mereka berjalan di antara batu-batu nisan di pemakaman. Baekhyun tak pernah melihat begitu banyak orang di hidupnya. Semua orang menyebut ayahnya seorang pahlawan.

Mereka duduk di salah satu kursi beludru di bawah tenda hijau. Menempel di sisi ibunya, Baekhyun akan terlonjak setiap ledakan senapan dari 21 tembakan penghormatan meletus. Lalu seorang lelaki berlutut di depan ibunya dengan bendera yang dilipat.

Dia melirik Baekhyun dan memberinya senyuman sedih. Dia tidak akan melupakan mata coklat penuh perasaanya.

"Permisi?"

Baekhyun tersentak kembali ke masa kini. Melirik ke belakang bahunya, dia melihat brankar Mr. Park telah dikeluarkan dari ambulans. Petugas Medis, yang mengemudikan mereka ke rumah sakit, berada di sisi pintu penumpang yang terbuka, mengisyaratkan dengan tangannya.

"Mari aku bantu."

"Terima kasih," dia menggumam. Setelah dia melompat turun, dia mengarahkannya melewati pintu otomatis.

Menunjuk ke arah lorong, dia berkata, "Mereka membawanya ke ruang dua."

Dia mengangguk. "Terima kasih untuk segalanya."

.

.

TBC