"Ah, kau pasti penggemar selai kacang, ya?" dia memperhatikan, saat dia duduk di kursi di depan Baekhyun.
"Iya," Baekhyun bergumam, saat dia membuka bungkusnya. Mengintip pada Jaehyun lewat bulu matanya, dia berkata, "Aku harap aku tak menahanmu dari pasien-pasienmu."
"Kau beruntung. Ini benar-benar hari yang pelan untuk kami, mengingat sebagian besar pasien trauma telah di antar ke pusat kota."
Baekhyun mengangkat alisnya dalam keterkejutan, mengingat semua kesibukan yang dia lihat di lorong.
"Benarkah?"
Jaehyun mengangguk. "Selain itu, kau mungkin belum secara resmi di opname, tapi dengan kau yang hampir pingsan dan denyut nadimu, aku khawatir denganmu. Sehingga, aku menganggap ini sebuah konsultasi."
Kebingungan melanda Baekhyun pada perasaan yang agak romantis yang dia rasakan mengenai kekhawatiran dan perhatian Jaehyun.
Setelah dia menggigit krakersnya, Jaehyun menawarkan minuman soda dan air mineral untuk Baekhyun pilih. Saat Baekhyun mencoba meraih minuman soda, dia menjauhkannya.
"Sekarang Baekhyun, kau tahu lebih baik dari pada itu. Kafein tidak bagus untukmu."
"Tidak adil," Baekhyun menjawab, sambil menyeringai.
Jaehyun mengedipkan satu mata padanya. "Kau benar. Aku seharusnya tidak menggodamu dengan barang yang sudah jelas."
Sekali lagi pipi Baekhyun terasa terbakar, jadi dia menenggak air mineral untuk mencoba mendinginkan kepalanya.
"Bagaimana Mr. Park?"
"Lebih baik. Setelah kau selesai makan, kau dapat pergi menemuinya."
"Benarkah?" Baekhyun bertanya, melalui mulut yang penuh dengan kraker.
Jaehyun mengangguk. "Dia menanyakanmu."
"Dia menanyakanku?" Baekhyun lalu memenuhi mulutnya dengan kraker yang lain saat dia berdiri.
Setelah dia menelan, dia berkata, "Okay, ayo pergi menemuinya."
Dengan menggelengkan kepalanya takjub, Jaehyun berkata, "Aku seharusnya tidak mengatakan apapun sampai kau selesai makan."
"Bagaimana jika aku berjanji untuk menghabiskan kraker ini saat aku bersama Mr. Park?"
"Kupikir itu terdengar adil."
Baekhyun tersenyum lebar saat mereka berjalan ke arah pintu. "Aku tak dapat cukup berterima kasih untuk makanan dan untuk merawatku dan untuk Jiwon."
Jaehyun memasukkan tangannya ke dalam saku jas prakteknya. "Ah, jadi lelaki kecil kita yang kuat ini akan dinamakan Jiwon?"
"Iya." Jaehyun tersenyum.
"Dia akan sangat beruntung memilikimu sebagai ibu."
Baekhyun tak dapat menahan rasa panas yang menjalar di pipinya saat mendengar pujian Jaehyun.
"Terima kasih. Aku akan mencoba yang terbaik untuknya. Aku dapat contoh yang terbaik pada almarhum ibuku dulu."
"Kau telah kehilangan kedua orangtuamu?" Dia mengangguk.
Jaehyun menggelengkan kepalanya. "Terlalu banyak kesedihan."
Tangan Jaehyun menyentuh bahu Baekhyun. "Tapi hanya dengan melihat wajahmu dan cinta di matamu, aku dapat mengatakan seberapa besar anak ini membawa kebahagiaan untukmu."
"Ya, memang," Baekhyun bergumam.
Dia hampir merasa terlalu kewalahan dengan kesungguhan di wajah dan suara Jaehyun.
"Dr. Jaehyun ke ruang periksa lima. Dr. Jaehyun ke ruang periksa lima," sebuah suara terdengar dari pengeras suara.
"Kupikir kau sebaiknya pergi," Baekhyun berkata.
Jaehyun mengangguk. "Tidak boleh sampai kelelahan di sekitar sini."
Baekhyun tersenyum. "Sangat menyenangkan bertemu denganmu."
Jaehyun menggenggam tangan Baekhyun di kedua tangannya, dengan lembut mengelus kulitnya dengan ujung jarinya.
"Kesenangan itu milikku."
Sesulit apapun Baekhyun telah mencoba, dia tak dapat mengabaikan rasa merinding di tubuhnya karena sentuhan tangan Jaehyun di kulitnya.
"Selamat tinggal," Baekhyun bergumam sebelum masuk ke dalam ruangan Mr. Park.
.
.
Chanyeol mengulurkan tangannya untuk memberhentikan seorang perawat yang lewat, tapi suara nyanyian menghentikannya di tengah lorong yang dingin. Alunan Danny Boy melayang kembali ke telinganya. lagu favorit ayahnya.
Chanyeol tidak ingat satu kalipun dalam hidupnya kalau ayahnya tidak menyenandungkan salah satu dari lagu itu.
Tapi itu bukan ayahnya yang bernyanyi. Harmoni suara merdu ini menembus jiwa Chanyeol, yang menyebabkan dia tersentak.
Itu suara Baekhyun. Suaranya menarik Chanyeol lebih dekat dan semakin dekat seperti sebuah sirene memimpin seorang pria yang akan menemui ajalnya.
Langkahnya melambat seakan merangkak saat dia menajamkan matanya ke pintu di koridor di depannya. Terakhir kali ia mendengar Baekhyun bernyanyi saat acara Barn Dance di rumah kakek-neneknya.
Pada malam sebelum dia menyadari bahwa dia benar-benar dan sepenuhnya jatuh cinta dengan Baekhyun sebelum Chanyeol menghancurkan hatinya.
Berhenti sejenak di depan pintu, Chanyeol berusaha meredam detak jantungnya yang sangat cepat. Ayahnya berbaring dengan Baekhyun duduk di sampingnya di tempat tidur rumah sakit.
Baekhyun memegang sebelah tangan ayahnya yang ditambatkan ke tiang infus dengan kedua tangannya. Meskipun Mr. Park memiliki selang oksigen yang tertahan di hidungnya, ia tampak baik-baik saja dan sedang menikmati konser dadakan itu.
Ketika nada terakhir dari lagu tersebut bergema di dinding bertirai kain belacu, Mr. Park bertepuk tangan.
"Indah, Baekhyun! Benar-benar indah!"
Meskipun dia menundukkan kepalanya, Chanyeol bisa melihat semburat merah khas di pipinya yang seperti biasanya karena malu.
"Terima kasih."
"Tidak diragukan lagi, kau memiliki suara seperti seorang malaikat, sayang."
Baekhyun membungkuk dan mencium pipi Mr. Park. "Kau tahu tidak ada sesuatu yang tidak akan aku lakukan untukmu, dan itu termasuk menyanyikan lagu dengan nada terlalu tinggi di ruang UGD."
Satu tangan melayang ke perutnya sambil sebuah senyuman menyebar di seluruh wajahnya.
"Jiwon pria sejati."
Mengambil tangan Mr. Park, ia membawanya ke perutnya.
"Lihat?"
Chanyeol tercekat dan terhuyung-huyung ke belakang. Apa-apaan ini? Anaknya memiliki nama, dan dia bahkan tidak dilibatkan di dalamnya.
Bagaimana Baekhyun bisa melakukan sesuatu yang sangat monumental dengan menamai anaknya tanpa bertanya kepadanya?
Dia seharusnya tidak peduli bahwa Baekhyun sudah memberi nama pada anak mereka, tetapi Chanyeol tidak begitu.
Kemarahan berdenyut melalui dirinya. Berjalan dengan angkuh melewati pintu, ia berseru, "Maaf? Jiwon?"
Mr. Park dan Baekhyun sama-sama berpaling untuk menatapnya. Wajah Baekhyun memerah dari pipi putih gadingnya turun ke bawah ke lehernya, sementara tatapannya tampak panik melesat di sekeliling ruangan seolah-olah mencari jalan keluar.
Berjuang turun dari tempat tidur, ia mundur sejauh mungkin dari Chanyeol. Meskipun perhatiannya seharusnya pada ayahnya yang sakit, tapi Chanyeol tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari Baekhyun.
Setiap kemarahan yang dia rasakan pada Baekhyun cepat menguap, dan hatinya berkontraksi dengan cinta untuk Baekhyun.
Ya Tuhan, Chanyeol merindukannya. Dia tidak menyadari bagaimana Baekhyun sampai berdiri tepat di depannya seperti sebuah visi. Dia bisa saja menjadi salah satu mawar Mr. Park yang sedang mekar. Payudaranya tampak sangat penuh, perutnya membulat, dan pinggulnya yang melebar.
Chanyeol berjuang untuk menarik napas. Ketika Ayahnya berdehem, Chanyeol segera berpaling menatap ke arahnya.
Mr. Park tersenyum. "Ya, Jiwon Park. Tidakkah kau berpikir itu adalah nama terbaik untuk anakmu?"
"Ya," gumam Chanyeol, lalu melirik kembali ke Baekhyun. Ketika Baekhyun akhirnya berani menatapnya, Chanyeol menganggukkan kepalanya.
"Jiwon Parkadalah nama yang sangat bagus."
Mata Baekhyun melebar mendengar sindiran dari nama belakangnya. Chanyeol menyiapkan diri untuk protes darinya, tapi sebaliknya Baekhyun mulai beringsut menuju pintu.
"Um, aku akan pergi mendapatkan sesuatu untuk di minum."
"Aku akan mengambilnya untukmu," Chanyeol menawarkan.
"Tidak, tidak, aku baik-baik saja. Kau seharusnya bersama ayahmu."
Ketika Baekhyun melewatinya, Chanyeol berjuang untuk menjaga lengannya terjepit di samping tubuhnya sehingga tangannya tidak akan meraih dan menangkap Baekhyun. Aroma parfum Baekhyun mengisi lubang hidungnya dan menyerang akal sehatnya.
Dia memejamkan mata merasakan kesakitan. Begitu Baekhyun sudah aman keluar dari pintu, bahu Chanyeol merosot penuh kekalahan.
"Dia benar-benar membenci aku," katanya parau.
"Tidak, Nak, dia tidak begitu." Ketika Chanyeol mendengus karena membenci dirinya sendiri, Ayahnya menggelengkan kepalanya.
"Seberapa banyak dia sangat ingin untuk membencimu, tapi dia tidak bisa. Dia hanya takut padamu sekarang karena langkah tolol yang kau lakukan padanya."
"Sebenarnya, aku yang harus membencinya." Chanyeol meringis.
"Berakting layaknya aku seperti penyakit dan dia menamai anak kami tanpa aku!"
Mr. Park mendengus. "Kapanpun kau selesai dengan omelan kecilmu, bolehkah aku mengingatkan kamu kalau aku sedang dirawat di rumah sakit?"
Chanyeol membelalakkan matanya. "Sial, Ayah, aku sangat menyesal. Melihat Baekhyun lagi membuat aku terkejut."
Baekhyun menutup kesenjangan diantara mereka. "Kau tampak baik-baik saja, tetapi benarkah? Maksudku, apa ini serangan jantung?"
Mr. Park mulai membuka mulutnya ketika ketukan datang dari arah pintu. Seorang dokter bertubuh tinggi dan berambut gelap tersenyum pada mereka. Setelah matanya menyapu cepat ke seluruh ruangan, senyumnya sedikit memudar.
"Halo lagi, Mr Park. Anda tampak jauh lebih baik sekarang daripada ketika pertama kali aku melihat anda hari ini."
"Saya merasa saya harus berterima kasih untuk itu, Dr. Jaehyun."
Dr. Jaehyun melangkah masuk ke dalam ruangan. "Kami sudah mendapakan hasil tes anda kembali. Tampaknya Anda memiliki dua arteri pembuluh darah yang delapan puluh persennya tersumbat. Saya telah berkonsultasi dengan bagian kardiologi kami, dan hanya untuk memastikan supaya aman, dan menjadwalkan untuk melakukan tindakan besok pagi."
Mr Park meringis. "Bukan dengan yang satu itu lagi, kan?"
Dengan tertawa kecil, Dr. Jaehyun menjawab, "Ya, saya melihat dari catatan Anda, Anda sudah pernah melakukan prosedur itu sebelumnya."
"Sayangnya, ya."
"Anda harus mulai merawat diri sendiri dengan lebih baik lagi dan melakukan diet sehat yang menyehatkan jantung, sehingga Anda tidak akan kembali ke sini lagi."
Chanyeol mendengus. "Semoga berhasil dengan yang satu itu."
Mr Park memilih untuk mengabaikannya. "Setidaknya itu bukan sesuatu yang besar seperti operasi bedah jantung."
Dr. Jaehyun mengangguk. "Saya yakin berita ini akan membuat cucu perempuan Anda merasa lebih baik."
Alis Mr Park berkerut. "Cucuku?"
Dr. Jaehyun menundukkan kepalanya tapi sebelumnya Chanyeol telah melihat sebuah senyum tipis di wajahnya dan kilauan di matanya yang gelap.
"Baekhyun, si Cantik yang hampir pingsan karena dia sangat khawatir tentang kondisi Anda."
"Dia hampir pingsan?" Chanyeol bertanya pada saat yang sama Ayahnya menjawab, "Ah, semoga Tuhan memberkati hatinya, aku sangat benci karena aku membuatnya sedih sekali."
"Tidak apa-apa. Aku menyuruhnya berbaring sebentar, dan aku membawakan bayinya maksudku, dia, sesuatu untuk dimakan."
Dada Chanyeol mengepal bukan hanya melihat keakraban Dr. Jaehyun dengan Baekhyun, tapi saat menyebut Jiwon. Pria ini jelas langsung membuatnya tidak suka. Meskipun Chanyeol seorang pria, ia tahu ada kompetisi ketika melihatnya.
Itu bukan hanya fakta bahwa Dr. Jaehyun memiliki penampilan yang membuat celana dalam
perempuan terbakar, tapi tampaknya bajingan ini orang yang baik dan perhatian.
Sebagai fakta tambahan ia seorang dokter, dan jadilah dia seorang berwajah tampan, tubuh bagus, dan kepribadian menawan.
Akhirnya, Chanyeol menemukan suaranya. "Anda memang sangat baik. Saya menghargai Anda merawatnya," kata Chanyeol, berusaha keras berbicara tanpa menggertakkan giginya.
Senyum hangat berkembang di wajah Dr. Jaehyun itu. "Saya sangat senang melakukan itu untuknya. Adikmu seorang wanita muda yang baik semangatnya tampak bersinar dari dalam dirinya."
Mulut Chanyeol menganga. Apa-apaan ini? Dia pikir Baekhyun adalah adiknya? "Apakah Anda baru saja mengatakan?" Chanyeol tergagap.
Mr Park menggelengkan kepalanya. "Baekhyun bukan cucuku, Dok."
"Oh, Saya minta maaf. Anda memiliki seorang putri yang sangat manis."
"Tidak, tidak, dia bahkan tidak ada hubungannya denganku."
"Ah, Saya paham. Anda sangat beruntung memiliki seseorang dalam hidup Anda yang begitu peduli pada Anda."
Mr Park melirik dari Chanyeol ke Dr. Jaehyun. "Apakah aku mendengar Anda menyebutnya cantik?"
Ekspresi Jaehyun berubah minta maaf. "Maafkan Saya. Saya telihat jelas sangat berharap ya."
"Tidak apa-apa, Dok." Sambil menggosok kedua tangannya, Mr Park berkata, "Saya tidak bisa menahan diri untuk menjadi Biro Jodoh sementara Saya berbaring disini. Apakah Anda tertarik berkencan dengan Baekhyun? Dia masih lajang, Anda tahu kan."
Chanyeol melotot pada ayahnya, yang hanya membuat Ayahnya semakin memperlebar seringainya.
.
.
TBC
Mian baru bisa up sekarang ~~~
