"Apa sih yang kau lakukan?" desis Chanyeol.

"Memaksamu bertindak." Tampak sinar jahil terbakar di matanya, dan Chanyeol tahu tidak ada yang bisa menghentikan ayahnya.

Dia tidak tahu bagaimana setelah semua yang Ayahnya alami pada hari ini dan ia masih bisa menemukan energinya untuk mendorong anaknya sendiri. Dia harusnya tahu Baekhyun adalah titik kesakitannya.

Saat ini, Baekhyun benar-benar seperti memiliki sebuah lubang menganga di dadanya.

Mr. Park mengabaikannya dan perhatiannya fokus pada Jaehyun yang menatap aneh pada mereka berdua.

"Apa yang Anda akan katakan, Dok?"

"Saya tidak biasanya mengajak kencan wanita di ruang gawat darurat, Mr. Park," gumam Dr. Jaehyun, sambil menggeser kakinya dengan tidak nyaman.

"Ini bukan mengajak. Tapi ini adalah merawatnya. Jelas itu berbeda," bantah Mr. Park.

"Ayah," geram Chanyeol.

Dengan tersenyum ragu-ragu, Dr. Jaehyun berkata, "Mungkin kami bisa mendapatkan kesempatan untuk berbicara lagi."

"Dia hamil enam bulan!" Balas Chanyeol.

Dr. Jaehyun tersentak ke belakang seperti ia telah ditampar. Dia berdehem sebelum berbicara.

"Ya, Saya tahu itu. Hal itulah yang paling mengkhawatirkan Saya ketika Saya bertemu dengannya. Saya tidak ingin dia merasa sangat sedih dengan kondisinya seperti itu."

Chanyeol mendengus tapi tidak membantah. Menjatuhkan tatapannya ke lantai, Dr. Jaehyun mengatakan, "Setelah dia meyakinkan Saya bahwa dia tidak memiliki suami atau pacar untuk ditelepon, Saya pikir Saya menduga dia tidak dengan siapapun. Saya minta maaf jika asumsi Saya salah."

"Jangan khawatir dengan anak Saya, Dok." Mr. Park menatap tajam pada Chanyeol.

"Dia tidak memiliki klaim tentang kebahagiaan Baekhyun. Lagi."

Rasa paham tampaknya melintasi wajah Dr. Jaehyun. "Kapan Anda melihat Baekhyun lagi, katakan padanya untuk menelepon Saya." Dia mengambil kartu dari casing iPad-nya.

Chanyeol mendengus dan menyilangkan tangan di depan dadanya.

"Hal itu tidak akan pernah terjadi. Baekhyun bukan tipe gadis yang suka menelepon seorang pria. Dia sangat kuno."

Mata birunya menyipit pada mata gelap Dr. Jaehyun, diam-diam mengejeknya saat dia memberikan kartu ke Mr. Park.

Dr. Jaehyun tersenyum. Dia mengambil pena dari saku jasnya. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya kepada Mr. Park.

"Mr. Park, apakah Anda kebetulan memiliki nomor telepon Baekhyun? Saya akan senang untuk meneleponnya sendiri." Dia mengangkat tangannya.

"Tapi hanya dengan berpura-pura bertanya tentang kesehatannya setelah kejadian hari ini."

Mr. Park tertawa. "Ya saya punya."

Setelah Dr. Jaehyun menuliskan nomor telepon Baekhyun, ia melirik sekilas pada Chanyeol sebelum kembali memandang Mr. Park.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Dengan senyum malu-malu, Dr. Jaehyun mengatakan, "Sekarang, Saya kira kita harus kembali ke masalah pokok." Dia memandang ke iPad-nya.

"Jika Anda mau menunggu dengan sabar hanya beberapa menit saja, karena kami harus menyiapkan transportasi Anda untuk pindah ke lantai atas. Pembedahan dilakukan." ia menggulirkan sesuatu di layar sebelum mengernyitkan hidungnya.

"Pagi sekali pukul tujuh."

"Saya sudah pernah menjalani itu."

Dr. Jaehyun tertawa. "Saya berharap yang terbaik untuk keberhasilan Anda, Mr Park." Dia membungkuk dan menjabat tangan Ayah Chanyeol.

Sambil mengedipkan mata, Mr. Park menjawab, "Begitu juga dengan Anda, Dok."

Mengalihkan tatapannya ke Chanyeol, Dr. Jaehyun sedikit mengangguk sebelum berjalan menuju pintu.

Ketika ia keluar ruangan, Chanyeol kembali menatap penuh amarah pada Ayahnya. "Setelah tiga minggu terakhir ini aku benar-benar mengalami seperti berada di neraka, bagaimana kau bisa melakukan itu padaku, Yah?"

"Aku tidak melakukan sesuatu padamu."

Chanyeol mencengkeram palang besi tempat tidur rumah sakit dan membungkuk lebih dekat.

"Memberinya nomor Baekhyun? Menyodorkan Baekhyun pada dirinya?"

Ayahnya menyeringai. "Aku senang melihat kau berjuang melawan kekesalanmu sekarang."

"Oh, aku jauh dari kesal. Aku sialan marah!"

"Bagus. Kau memang harus begitu. Sangat penting kau menjaga semangat juangmu."

Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Apakah semangatku penting jika dia" Jantungnya bergidik memikirkan Baekhyun menerima pesona Dr. Jaehyun.

Bagaimanapun juga, ia seorang dokter tampan yang bahkan tidak hilang ketertarikannya pada Baekhyun walaupun dia sedang hamil.

Itu sudah cukup untuk membuat terpesona setiap wanita manapun. "Tidak ada keraguan dalam pikiranku kalau Baekhyun mencintaimu, dan sementara perhatian Dr. Jaehyun yang mungkin menyanjungnya, hal itu hanya untuk satu tujuan."

"Dan apa itu?" Tanya Chanyeol dengan suara serak.

"Untuk menunjukkan pada Baekhyun bahwa tidak ada orang lain di dunia ini untuknya selain kau."

.

.

Saudara perempuan memberikan Chanyeol pelukan cepat sebelum melambaikan jarinya ke Ayahnya.

"Ayah, aku tidak percaya akhirnya kau mau diperiksa!"

Mr. Park memutar matanya. "Aku akan pergi ke dokter minggu depan."

"Selalu menjadi orang yang keras kepala," sambil menjepit hidungnya.

"Aku hanya bersyukur kau tidak sendirian. Terima kasih Tuhan, Baekhyun ada disana, dan kau begitu dekat pos pemadam kebakaran."

Penyebutan nama Baekhyun membuat indra Chanyeol meningkat. Dia pergi sudah begitu lama untuk mendapatkan minuman.

"Berbicara tentang Baekhyun, lebih baik aku pergi mencarinya."

"Kau seharusnya melakukan itu, Nak."

"Dia sedang berada di lorong ketika kami masuk,"

.

.

Berjalan dengan cepat, ia menekan tombol pintu masuk 'hanya untuk Personil yang berwenang' dan berjalan masuk ke ruang tunggu. Duduk merosot di salah satu kursi, jari Baekhyun mengirim pesan teks singkat dengan marah di teleponnya.

"Baekhyun?"

Baekhyun melompat mendengar suaranya. "Kupikir kau dan keluargamu membutuhkan beberapa ruang."

"Sangat manis, tapi kau tidak perlu diluar," katanya.

Baekhyun membalas tatapannya sampai pipinya merona, dan dia menundukkan kepalanya. "Aku baru saja mengirim pesan apakah Irene atau Connor bisa mengantarku untuk mengambil mobilku."

"Aku akan mengantarmu," Chanyeol menawarkan.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, Chanyeol tahu Baekhyun sama sekali tidak menyukai usulannya itu.

"Karena sekarang malam minggu, aku tidak mendapat jawaban salah satu dari mereka jadi,"

"Bagus. Kalau begitu ayo." Chanyeol mengulurkan tangan kepadanya.

Baekhyun menatapnya dengan hati-hati. "Ayo kita pamit pada Ayah."

Dengan ragu-ragu, Baekhyun menerima uluran tangannya. Aliran listrik melonjak dari jari-jari Chanyeol sepanjang jalan sampai lengannya. Dari ekspresi tertegun Baekhyun, dia bukan satu-satunya yang mengalami hal itu.

Chanyeol tidak membiarkan lepas sampai Baekhyun menarik tangannya dari Chanyeol. Dia tidak ingin berdebat dengan Baekhyun. Sebaliknya, ia menekan tangannya ke punggung Baekhyun, membimbingnya menuju kamar Mr. Park.

Ketika mereka sampai di ambang pintu, mereka menemukan ruangan itu kosong. "Oh, mereka pasti sudah membawanya ke lantai atas."

Sudut mulut Baekhyun ke bawah merengut. "Aku tidak bisa pamit padanya."

"Aku akan mengirim pesan untuk menyampaikan padanya kalau aku akan mengantarmu pulang."

Baekhyun menganggukan kepalanya tanda setuju. Ketika mereka mulai kembali menyusuri lorong, Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun.

"Aku bisa menjemputmu pagi hari, jadi kau bisa bertemu dia sebelum operasi."

"Chanyeol, aku—"

Chanyeol meringis. "Ya, kurasa aku orang terakhir di bumi ini yang kau inginkan untuk menghabiskan waktumu, ya?"

Baekhyun mengulurkan tangan dan menyentuh lengannya. Sekali lagi, aliran listrik berdenyut merasukinya, dan Chanyeol berjuang untuk mengatur napasnya.

"Aku hanya berpikir akan lebih baik kalau aku menyetir sendiri, jadi kau tidak punya beban mengantarku pulang besok setelah operasi Mr. Park."

"Percayalah. Ayah memiliki saudari-saudariku yang akan merecokinya." Chanyeol menyelipkan sejumput rambut yang menutupi wajah Baekhyun ke belakang telinganya.

"Selain itu, kau tidak pernah menjadi beban bagiku." Ujung jarinya menyentuh ringan di lehernya, menyebabkan Baekhyun menggigil.

Mata Baekhyun melebar, dan ia tersentak menjauh. "Kita harus segera pergi." Dia memutar tubuhnya dan mulai berjalan cepat kembali ke ruang tunggu.

Chanyeol hampir berlari untuk mengejar ketinggalan dengan Baekhyun. Ketika Baekhyun mulai keluar pintu, Chanyeol meraih lengannya.

"Tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil."

"Terima kasih," jawabnya, sambil merundukkan kepalanya.

Chanyeol melangkahkan kakinya dengan ceria saat ia mulai berjalan menuju tempat parkir. Dia memiliki kesempatan untuk bersama Baekhyun lagi, dan Chanyeol akan membuat Baekhyun untuk melihat kebenaran jika itu adalah hal terakhir yang harus dia lakukan.

.

.

TBC

Jaehyun yang aku maksud di sini itu Jaehyun nct, aku gak tau kalau sebenarnya ada Jaehyun lainnya -.-