Chanyeol merengut padanya. "Yeah, maafkan aku jika pada saat itu aku pikir hal itu benar-benar akan mengacaukan momen kita dengan mengakui bahwa setelah dua kali tidak memakai kondom, mantan pacarku hamil."

Chanyeol tertawa kasar melihat Baekhyun yang terkesiap. "Aku cukup berpotensi, kan? Karena itulah aku yakin aku akan menjadi kandidat yang baik untuk membuatmu hamil."

"Itu cara yang menjijikkan untuk diungkapkan," Baekhyun mendesis.

Ekspresi Chanyeol melunak. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengatakannya seperti itu."

"Jadi saat Rose hamil, dia masih minum pilnya?"

Senyum getir kemudian berputar di wajah Chanyeol. "Oh tidak. Kehamilan tidak diinginkan? Hal itu akan menjadi mudah untuk memaafkan. Lagipula, petunjuk sialan pada kotak pil bahkan tertulis hanya 98 % efektif." Jari-jari Chanyeol merobek label pada birnya.

"Tidak. Dalam setahun kami kembali bersama dan aku melarikan diri seperti neraka dari komitmen apapun, dia berhenti memakai kontrasepsi tanpa sepengetahuanku."

"Oh Chanyeol," gumam Baekhyun. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan.

"Jadi kau mencoba memberitahuku kalau kau memiliki anak di luar sana?"

Ekspresi kemarahan seakan terkuras dari wajahnya dan digantikan oleh kesedihan murni.

"Aku berharap itulah yang terjadi."

Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangannya ke seberang meja dan menggenggam tangan Chanyeol dengan tangannya.

"Apa yang terjadi?" Desaknya.

Pelayan kembali dengan membawa bir, dan Chanyeol meneguk setengah botol sebelum berbicara lagi.

"Beberapa minggu sebelum aku tahu dia hamil, Rose dan aku keluar berpesta dengan beberapa teman, dan aku sangat mabuk. Malam itu ketika aku sedang mencari Advil di dalam lemari obat, dengan tidak sengaja aku menjatuhkan pil Kbnya di wastafel. Kau bisa bayangkan bagamana terkejutnya aku ketika pilnya tidak di minum, belum lagi resep itu tidak ditebusnya dalam dua bulan. Ketika aku menanyakannya, dia mengakui kalau dia berhenti meminum pilnya karena dia pikir seorang bayi akan memperkuat hubungan kami."

Chanyeol bergidik. "Aku sangat marah. Aku menceritakan semuanya ke orangtuaku. Aku menolak untuk berbicara dengan Rose atau melihatnya."

Dia membungkuk ke depan dengan bersandar pada sikunya. "Agaknya seperti apa yang telah kau lakukan untukku."

Baekhyun memutar matanya. "Selesaikan cerita sialanmu, Chanyeol."

Chanyeol mengangkat tangannya. "Baiklah. Dia akhirnya datang ke kantorku dan menunjukkan kepadaku hasil tes kehamilan itu."

Dia tersenyum sedih pada Baekhyun. "Fakta bahwa Rose yang kupikir sudah aku kenal dan aku cintai telah mengkhianati aku dengan menjebakku untuk menikah adalah sangat mengerikan, tetapi bagian terburuk adalah fakta ketakutanku keluar dari pikiranku yang panik melihat prospek aku akan menjadi ayah pada umur dua puluh empat."

Dia mengambil dua tegukan agak banyak dari birnya. "Aku yakin kau bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya."

Perut Baekhyun berputar pada prospek itu. "Teruskan," perintahnya.

Chanyeol menyeringai padanya. "Kau ingin aku benar-benar mengucapkan kata-katanya?"

"Baik. Saat itulah Rose menangkap kau meniduri wanita lain."

"Ya," katanya parau.

Baekhyun menyipitkan matanya. "Wow, kurasa kami memiliki banyak kesamaan. Mungkin kami harus memakai t-shirt yang bertuliskan, 'Kami berdua telah disakiti oleh Chanyeol Park'!"

"Baekhyun, please," pintanya.

Baekhyun mendengus sambil menghembuskan napasnya dengan jengkel. "Baik. Teruskan."

"Rose mengusirku keluar dari rumah malam itu. Keesokan paginya aku kembali lagi dan mencoba memberi alasan kepadanya. Aku bilang aku menyesal, bahwa aku mencintainya, dan bahwa meskipun apa yang terjadi antara dia mencoba menjebakku kemudian aku meniduri orang lain, aku masih ingin menikahinya. Tapi dia tidak menginginkannya. Dia masuk ke mobil dan melaju dengan cepat. "

Alis Baekhyun melonjak naik karena terkejut melihat air mata berkilauan di mata Chanyeol. "Dia ngebut dan terus melaju walaupun ada tanda berhenti di kompleks perumahan karena mencoba menjauh dari aku. Sebuah mobil menabrak di sisi pengemudi. Untungnya, yang tertabrak bagian belakang dan dia hanya mendapatkan beberapa luka goresan dan memar."

Dadanya naik dan turun dengan nafas kasar terengah-engah. "Tapi dia keguguran hari itu."

Tanpa sadar, Baekhyun mengulurkan tangan dan meraih tangan Chanyeol lagi. Ekspresinya, air matanya, dan kata-katanya telah menghancurkan hati Baekhyun. Semua potongan-potongan puzzle Chanyeol akhirnya dia paham.

"Selama bertahun-tahun ini kau merasa bersalah tentang bayi itu, kan?"

Chanyeol mengangguk, mengusap air mata dari pipinya. "Aku tidak pernah menginginkannya, dan kemudian aku ... membunuhnya."

Kemudian Chanyeol mulai terisak. Baekhyun menggigit bibirnya dan berusaha menahan diri untuk berdiri dari bilik dan mendekati Chanyeol.

Usahanya kalah, dan ia mendapati dirinya sedang memeluk Chanyeol dengan lengannya. Baekhyun tahu sosok Chanyeol yang sudah dewasa tidak akan pernah menangis, apalagi di depan umum.

Dia benar benar kesakitan karena dihantui oleh masa lalu dan sekarang. Baekhyun mengusap dengan memutari lebar-lebar di punggungnya.

"Kau tidak bisa disalahkan atas apa yang terjadi dengan bayi itu, Chanyeol, Rose lebih bersalah karena dia mengemudi terlalu cepat dan terus melaju walaupun ada tanda berhenti. Kecelakaan kadang terjadi."

Mengangkat kepalanya, Chanyeol mengusap air mata dari pipinya. "Kecelakaan mungkin terjadi, tapi orang-orang tidak pernah melupakannya atau memaafkan yang terjadi."

Baekhyun mengabaikan makna ganda pernyataan Chanyeol sehubungan dengan dirinya. "Aku yakin waktu telah membantu untuk menyembuhkan perasaan buruk yang dimiliki Rose denganmu. Aku yakin dia berusaha melawan rasa bersalah dengan dirinya sendiri atas apa yang dia lakukan padamu karena mencoba menjebakmu."

Chanyeol mengangkat bahu. "Aku berharap begitu. Dia jelas membantu aku melakukan kekacauan dengan setiap wanita lain."

Mata birunya tertuju pada tatapan Baekhyun. "Mungkin itulah aku, orang yang tidak bisa dimaafkan. Jika bukan karena dia, mungkin aku tidak akan melakukan kekacauan sampai begitu hebatnya denganmu."

"Mungkin," gumam Baekhyun.

Jari-jarinya memegang dagu Baekhyun. Memiringkan tatapannya untuk bertemu dengan mata Chanyeol, Chanyeol menggelengkan kepalanya.

"Sebagian besar, proposisi kita adalah tentang aku ingin mendapatkan kesempatan untuk berhubungan seks denganmu, dan aku berjanji pada almarhum ibuku, suatu hari aku akan memiliki anak. Tapi itu juga agar aku bisa menebus dosa pada diriku sendiri dan pada Tuhan. Kupikir jika aku bisa membantumu memiliki bayi yang lahir ke dunia, mungkin itu akan menghilangkan luka dari masa lalu."

Mulut Baekhyun menganga karena terkejut. Selama beberapa saat, dia hanya bisa menatapnya dengan sangat syok. Selama ini ternyata Chanyeol benar-benar memiliki keinginan yang lebih dalam dan sangat mengagumkan karena ingin menjadi donor spermanya.

"Apakah kau membenciku sekarang karena hal itu?" Baekhyun menggelengkan kepalanya bolak balik dengan kencang.

"Tidak, bagaimana mungkin kau bahkan berpikir seperti itu?"

"Kau hanya menatapku dan tidak mengatakan apa-apa. Aku pikir mungkin kau merasa hanya digunakan untuk pelampiasanku atau tertipu."

"Sama sekali tidak. Bahkan, aku berpikir aku lebih menghormati kau karena apa yang kau ceritakan padaku."

"Benarkah?"

"Aku senang memiliki Jiwon adalah cara agar kau bisa bertobat untuk apa yang sudah pernah kau lakukan. Tidak ada istilah terlalu terlambat untuk menebus dosa, Chanyeol."

Sebuah harapan terlihat memasuki matanya yang tersiksa. "Aku akan memberikan apapun dan segalanya di dunia ini untuk menebus diriku kepadamu. Hanya tolong, tolong beri aku kesempatan."

Baekhyun tidak bisa menahan lagi intensitas tatapan putus asa Chanyeol. Menatap pangkuannya, Baekhyun berjuang untuk mengambil napas.

Otaknya berputar mencoba untuk memproses keluar dari kontrol pikirannya sedangkan dadanya menghela nafas dengan emosi.

Apakah dia benar-benar ingin memberi kesempatan Chanyeol untuk menebus dirinya sendiri? Bisakah dia benar-benar melakukan itu untuk dirinya sendiri dan hatinya? Dan jika dia menyangkal diri Chanyeol, bagaimana Baekhyun bahkan memiliki dia untuk menjadi bagian dari kehidupan Jiwon tanpa membiarkan perasaannya turut terlibat?

"Kumohon, Baekhyun," pintanya.

"Kurasa aku bisa mencoba, " akhirnya dia menjawab. Ketika Baekhyun menatap kembali ke arahnya, mata birunya bersinar penuh dengan tekad.

.

.

TBC

maaf maaf maaf pokoknya maaf baru bisa up sekarang hikss

semoga aja masih pada ingat sama ini ff ya