"Aku tidak membuat janji apapun."
Chanyeol tersenyum. "Aku bisa menerimanya, aku dapat mengambil apapun yang akan kau berikan kepadaku."
Jenny menyela mereka dengan membawa tagihan mereka. "Apakah kalian ingin beberapa makanan penutup?"
Baekhyun tertawa ketika dia tampaknya menanyakan itu padanya dari pada ke Chanyeol. Baekhyun menepuk-nepuk perutnya yang sangat penuh.
"Tidak, aku pikir aku sudah kenyang."
Chanyeol menyelipkan tangannya ke dalam saku jaketnya untuk mengambil dompetnya. Bahkan tanpa melirik tagihan itu, ia memberikan segepok uang dalam amplop.
Ketika Jenny mulai memprotes akan kemurahan hatinya, Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Aku berutang banyak lebih dari itu padamu dan ayahmu karena mengurusku dalam beberapa minggu terakhir."
"Kami sangat senang melakukannya." Jenny membungkuk dan memberi Chanyeol pelukan cepat.
"Berjanjilah untuk mengurus dirimu sendiri, dan kita sebut itu impas, oke?"
Chanyeol mengangguk saat matanya terbakar ke Baekhyun. "Aku sudah merasa seperti diriku yang dulu lagi."
Baekhyun memiringkan alisnya pada Chanyeol. "Marilah kita berharap tidak setiap aspek dari dirimu yang dulu," katanya, lalu berdiri keluar bilik.
"Sialan, Baekhyun, apakah kau selalu harus mencabik-cabikku dengan cakar sialanmu itu?" Gerutunya sambil berdiri.
Jenny melayangkan pandangan khawatir diantara mereka berdua sebelum memaksa senyum ke wajahnya.
"Aku berharap segera melihat kalian lagi."
Baekhyun memberi Jenny sebuah senyum meyakinkan. "Terima kasih."
Setelah memberikan pelukan cepat, Baekhyun mulai keluar dari bar. Chanyeol bergegas menyusulnya. Dia melangkah di depan Baekhyun sebelum dia bisa membuka pintu untuknya.
"Terima kasih," gumam Baekhyun, berusaha mengabaikan adanya sedikit aliran listrik ketika ia merasakan tubuh Chanyeol menyentuhnya.
Baekhyun beringsut menjauh darinya saat mereka mulai kembali masuk ke mobil Chanyeol. Perjalanan menuju VFW dalam keheningan kecuali suara teredam radio yang menyiarkan lagu-lagu cinta seperti duri yang menusuk hatinya yang hancur.
Ketika mereka berhenti di dekat mobil Baekhyun yang ditinggalkan disitu, dia tidak ingin meninggalkan Chanyeol.
Tapi otaknya berteriak kepadanya untuk menggerakkan tangan dan kakinya dan segera pergi. Akhirnya, saat tangannya meraih pegangan pintu, Chanyeol meraih bahunya.
"Tunggu!" Teriaknya.
.
.
Dada Chanyeol mengencang pada prospek membiarkan Baekhyun jauh darinya bahkan cuma sedetik.
Mereka telah banyak berbicara beberapa jam terakhir ini, sehingga Chanyeol takut semuanya akan memudar seperti mimpi jika mereka tidak tetap bersama-sama.
Dia nekat melakukan apapun agar tetap bersamanya. Sebuah pemikiran terlintas di dalam benaknya, dan ia berseru, "Bisakah aku melihat Toben?"
Baekhyun menatap pangkuannya. Chanyeol tahu Baekhyun sedang bertempur hebat di dalam pikirannya sendiri tentang apakah dia akan membiarkan Chanyeol datang.
"Please!" Desak Chanyeol.
Bahu Baekhyun merosot, tapi ia mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Tentu saja. Maksudku, dia merindukanmu."
Chanyeol tertawa keras. "Aku meragukan hal itu. Dia lebih memilihmu daripada aku, bukan?"
Kemudian dia seakan diserang memori menyakitkan pada malam itu ketika Baekhyun memergokinya dengan Jinri.
Menyaksikan Toben mengejar Baekhyun, menyenggol perutnya dan merengek ingin ikut dengannya, telah merobek-robek hatinya sama seperti malam itu. Dengan gemetar, Chanyeol memaksakan sebuah senyum di wajahnya.
"Aku yakin dia terlalu sibuk memakan sisa makanan dan berbaring di sekitar sofamu untuk merindukan aku."
"Tidak, dia benar-benar merindukanmu. lagipula, kau sudah menjadi ayahnya selama dua tahun."
"Bagus karena aku merindukannya." Chanyeol membungkuk bergeser ke arahnya.
"Aku merindukannya setiap saat setiap harinya." Mata Baekhyun melebar baik karena kedekatannya atau fakta bahwa mereka berdua tahu Chanyeol tidak berbicara tentang Toben lagi.
Aliran listrik berderak di sekitar mereka berdua.
"Kau bisa mengikuti aku pulang."
"Terima kasih."
Dia menunggu sampai Baekhyun sudah aman di dalam mobilnya dan memutar mobilnya sebelum Chanyeol mengeluarkan mobilnya sendiri dari tempat parkir.
Dalam perjalanan ke rumah Baekhyun, Chanyeol mengetuk-ngetukkan jari-jarinya dengan cemas di setir. Meskipun perjalanannya tidak lebih dari sepuluh menit, Chanyeol merasa sangat lama untuk sampai kesana.
Sebuah harapan berdenyut merasuki dirinya karena Baekhyun akhirnya memaafkannya dan sepenuhnya membiarkan dia kembali ke dalam hidupnya.
Saat ia mulai memasuki jalanan masuk kerumahnya, sebuah tanda di halaman menarik perhatiannya. Menyipitkan mata dalam kegelapan, dia tersentak mengenali tanda makelar.
Kata-kata Dijual telah melemparkan sebuah pasak menembus jantungnya. Rasa kebencian menutupi perasaan cinta kasih yang tadi merasuki dirinya.
Chanyeol berhenti mendadak sampai ban berdecit nyaris keluar dari jalan. Darahnya memukul telinganya saat ia keluar dari mobil dan membanting pintu. Dia berada di samping Baekhyun sebelum dia punya waktu untuk menutup pintu mobilnya.
"KAU AKAN PINDAH?" Menciut karena kemarahan Chanyeol, Baekhyun menempelkan dirinya ke mobil.
"Ya," bisiknya. Chanyeol merasa malu karena reaksinya telah membuat Baekhyun ketakutan.
"Maafkan aku karena berteriak padamu, tapi bagaimana bisa kau tidak memberitahuku?"
"Aku akan memberitahumu," bantahnya.
"Kapan? Pada saat mobil van untuk pindahan datang? Ya Tuhan, Baekhyun, kita sudah bersama-sama sepanjang malam! Aku sudah mengungkapkan hati dan jiwaku, tetapi kau tidak memberitahuku satu detail kecil ini?"
"Maafkan aku." Chanyeol takut untuk mengajukan pertanyaan berikutnya karena jauh di lubuk dia sudah tahu jawabannya.
"Dan ke mana kau akan pergi?"
"Aku akan pindah kembali tinggal dengan Grammy dan Granddaddy untuk sementara waktu sampai rumah terjual, kemudian aku mungkin akan menemukan tempat yang dekat dengan mereka. Mereka semakin tua. Granddaddy jatuh dari tangga seminggu yang lalu dan baru saja menjalani operasi penggantian pinggul. Mereka membutuhkan aku, tetapi yang lebih penting, aku membutuhkan mereka."
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan membiarkan kau menjauhkan anakku dari aku!"
Mata Baekhyun menyipit menjadi kemarahan. "Jangan coba-coba mengancamku seperti itu! Kau tahu aku tidak akan pernah menjauhkanmu dari Jiwon. Hanya karena aku tidak tinggal disini, tidak berarti kau tidak akan bisa melihat dia."
"Bagaimana aku akan bisa melihat dia ketika dia jauh dariku? Apakah kau akan membuat jadwal kunjungan untukku? Seperti setiap akhir pekan atau hari-hari sialan yang lain?"
Baekhyun mengusap pelipisnya. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku hanya tahu aku tidak bisa tinggal disini lagi. Sendirian."
"Sialan, Baekhyun, aku tidak percaya kau bisa begitu tidak berperasaan."
Baekhyun menyentakkan dagunya ke atas dan memelototinya begitu keras membuat Chanyeol melangkah mundur.
"Kau keparat! Berani beraninya kau menuduhku tidak berperasaan! Aku bukan orang yang
berselingkuh dan menghancurkan semuanya di antara kita!"
"Aku tidak tidur dengan dia," protes Chanyeol.
Baekhyun mengangkat tangannya. "Fakta kau tidak bisa ereksi atau aku menginterupsimu tidak relevan, Chanyeol! Kau membawa orang asing ke rumahmu dengan tujuan menipuku agar keluar dari hati dan pikiranmu!"
Dia meringis. "Aku sudah minta maaf jutaan kali dalam sejuta cara yang berbeda!"
"Aku tahu, tapi seperti yang sudah aku katakan kembali di O'Malley, aku akan berusaha memaafkanmu, dan itu akan membutuhkan sialan banyak waktu. Jadi jangan berharap aku jatuh ke dalam pelukan yang kau sediakan seperti tidak pernah ada yang terjadi dalam waktu
dekat ini. Aku punya kehidupan sebelum bertemu denganmu, dan aku akan memilikinya setelah bertemu denganmu!" Baekhyun berbalik dan berjalan menjauhinya.
"Baekhyun, tunggu!" Ketika dia terus berjalan, Baekhyun berseru, "Baik, kau ingin tindakan yang lebih besar? Ini yang satu lagi." Dia berlutut di trotoar.
Ketika Baekhyun berbalik, matanya melebar. "Apa yang kau lakukan?"
Chanyeol menatap sekeliling mereka. "Terlihat seperti apa yang kulakukan ini? Aku berlutut, benar-benar dan sungguh-sungguh memohonmu untuk memaafkan aku."
"Berdirilah!" Desis Baekhyun ketika ada pasangan sedang berjalan dengan anjing mereka lalu berhenti untuk menatap mereka berdua.
"Tidak sampai kau memaafkan aku." Baekhyun menggeram frustrasi.
"Aku sudah mengatakan itu akan membutuhkan waktu, jadi berhentilah bertindak dramatis."
Chanyeol mengangkat bahu. "Baik, panggil aku Ratu Drama. Panggil aku nama sialan apapun dalam buku! Hanya saja buang semua kemarahan dan kebencian dari sistemmu, jadi kau bisa memaafkan aku malam ini." Chanyeol membuka tangannya lebar.
"Aku sudah menuliskannya di kartu, di pesan teks, dan pesan suara, dan bahkan dalam buku puisi yang aku kirimkan untukmu. Tapi sekarang aku akan mengatakan itu di hadapanmu karena itu satu-satunya kesempatan yang aku miliki."
Tiba-tiba pada saat itu Chanyeol tidak merasa begitu yakin pada dirinya sendiri. Dia menarik napas dengan kasar.
"Aku minta maaf, Baekhyun. Aku sangat menyesal karena menyakiti hatimu. Aku minta maaf karena menjadi bajingan yang takut menyuarakan perasaanku kepadamu. Yang paling penting, aku minta maaf karena telah mengacaukan kehidupan sempurna yang kita miliki dengan mendorongmu pergi dan berselingkuh di hadapanmu."
Wajah Baekhyun memerah dengan kehangatan saat wanita yang ada di trotoar itu tersentak. Chanyeol berpaling ke arah wanita itu.
"Ya, memang benar. Aku salah satu bajingan tak terhitung jumlahnya yang telah menghancurkan hati para wanita. Aku tidak bisa mengatakan pada Baekhyun kalau aku mencintainya, dan aku hampir meniduri wanita lain karena mencoba untuk mendorong Baekhyun menjauh."
Chanyeol memukulkan telapak tangannya dengan keras ke dadanya. "Tapi dari lubuk hati dan jiwaku yang terdalam, aku sangat, sangat menyesal!"
"Ya Tuhan, apakah kau telah kehilangan harga diri?" Pria itu mempertanyakan, yang menyebabkan wanita disebelahnya memukul lengannya.
Chanyeol tertawa. "Ya, memang. Karena aku bersedia melakukan apapun untuk memenangkan dia kembali," Chanyeol menunjuk ke arah Baekhyun dan tersenyum padanya.
Ketika Baekhyun melangkah ke arahnya dengan tatapan penuh tekad, Baekhyun merasa harapannya meningkat. Dengan cepat memudar saat Baekhyun mencengkeram rambut dan menarik kepala Chanyeol.
"Berdirilah dari jalan masuk rumahku dalam satu menit, atau aku akan memanggil polisi!" Baekhyun menggelengkan kepalanya seperti orang sinting.
"Aku tidak percaya kau baru saja mempermalukan aku di depan tetanggaku seperti itu!"
"Kupikir kau menginginkan seorang pria yang mau mengatakan bagaimana sebenarnya perasaan dia?"
Baekhyun memutar matanya. "Ini," katanya, sambil menunjuk dengan liar kepada Chanyeol, "bukan apa yang ada dalam pikiranku."
"Baik," katanya sambil berdiri. Chanyeol mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Baekhyun dan memiringkan alisnya.
"Tapi bisakah kau jujur mengatakan kau agak sedikit terkesan dengan ini?"
Sudut bibir Baekhyun tertarik ke atas, dan Chanyeol tahu Baekhyun berjuang untuk tidak tersenyum.
"Mungkin sedikit."
"Aha, aku tahu itu!"
.
.
TBC
