"Itu salah satu dari kata-kata Irene."

"Biar kutebak. Mungkin ini salah satu kata Irene untuk aku?"

Baekhyun mengangguk sambil membuka pintu depan. "Ya, tapi dengan sejumlah kata makian yang lebih kasar bersamaan dengan itu."

"Aku menyadarinya."

"Silakan duduk. Aku akan melepaskan Toben dari basement."

Ketika Chanyeol turun pelan-pelan di atas sofa, sebuah memori terlintas di dalam pikirannya ketika ia bercinta dengan Baekhyun di sofa ini sebelum pergi menemui kakek-neneknya untuk pertama kalinya. Dia mendengar Toben dari jauh sebelum ia melihatnya berlari dari sudut rumah.

"Hey boy!" Teriaknya, sambil berdiri dari sofa.

Saat melihat Chanyeol, Toben benar-benar kehilangan kendali, terlihat dari seluruh tubuhnya yang menggeliat saat ia mendengking dan menggonggong.

Dia berlari menuju Chanyeol, menjatuhkannya kembali ke sofa. Lalu ia menjilati wajah Chanyeol, serta tangannya, dan bagian tubuh lainnya yang bisa dia jangkau dengan lidahnya.

Baekhyun tertawa. "Lihat, aku sudah bilang kalau dia merindukanmu."

Toben menyalak beberapa kali seolah-olah setuju, kemudian lidahnya kembali menjilati wajah Chanyeol.

"Oke, boy, aku juga merindukanmu." Chanyeol menggosok atas punggung Toben kemudian menepuk kepalanya.

"Sekarang duduk, Toben, dan jadilah anak yang baik," instruksi Baekhyun.

Yang mengejutkan Chanyeol, Toben menurut dengan patuh meluncur turun ke lantai dan duduk dan tidak bergerak sama sekali saat Chanyeol membelainya.

"Sialan, aku tidak percaya kau sudah membuatnya patuh."

"Dibutuhkan beberapa waktu."

"Apakah kamu merawat Mommy dengan baik sementara aku pergi?" Tanya Chanyeol, sambil menggaruk-garuk telinga Toben.

Mendengar itu Baekhyun menarik napas tajam, Chanyeol melirik ke arahnya dan mengedipkan matanya.

"Dia sudah menjadi teman yang luar biasa. Terutama pada malam hari," jawab Baekhyun lirih.

"Aku bisa membayangkan. Malam sendirian seperti neraka bagiku."

Baekhyun membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian tiba-tiba menggoyang-goyangkan jarinya ke Toben.

"Berhentilah menjilati dirimu sendiri."

Chanyeol tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Toben. "Jangan terlalu tegang, Baekhyun. Dia hanya seekor anjing. Biarkan dia menjilati dirinya sendiri jika dia ingin."

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Jika dia terus menjilati seperti itu, dia akan menyebabkan infeksi pada jahitannya setelah operasi."

"Operasi?" Ulang Chanyeol dengan lemah.

"Apa yang terjadi padanya?"

Ketika Baekhyun tidak menjawab, Chanyeol mendongak dan melihat muka Baekhyun memerah sambil merundukkan kepalanya. Oh tidak. Dia tidak bisa melakukan itu. Dia tidak akan melakukan hal itu. Meraih kalung di leher Toben, perlahan-lahan Chanyeol membalikkannya.

Begitu melihat kejantanannya hilang, dia menghela napas. "Kau telah mengebirinya?"

Baekhyun menggigiti bibir bawahnya. "Dokter hewan menyarankan itu. Dia mengatakan itu akan membantu menenangkan Toben dan membuat lebih mudah baginya untuk menyesuaikan diri saat Jiwon lahir."

Chanyeol bangkit dari lantai. "Ya Tuhan, Baekhyun, pada awalnya kau ingin bolaku di tusuk seperti sate, dan sekarang kau mengebiri anjingku!"

"Aku tidak pernah ingin bolamu!" Protesnya dengan gusar.

"Secara simbolis kau ingin melakukannya."

Baekhyun memutar matanya. "Tapi lihatlah bagaimana dia sudah jauh lebih tenang."

Chanyeol melirik Toben. Walaupun ia benci mengakuinya, Toben terlihat lebih santai. "Kau seharusnya berkonsultasi denganku terlebih dahulu. Dia anjing miliku!"

Baekhyun mengernyit seperti kesakitan. Dia perlahan-lahan melangkah sebelum pelan-pelan duduk di kursi. "Tunggu sebentar. Jangan pergi dulu. Kita belum selesai membahas hal ini."

"Baekhyun?" Ketika dia tidak menjawab, Chanyeol berjalan mengitari sisi kursi. Dia berjongkok di depan Baekhyun.

Jantungnya tersentak berhenti dan berdetak kembali saat melihat ekspresi menderita terukir di wajah Baekhyun.

"Baekhyun, ada apa?"

"Aku...kram." Baekhyun menutup matanya, dan dadanya naik turun dengan napas yang berat.

"Sakitnya benar-benar buruk." Rasa ketakutan jatuh di atas kepala Chanyeol.

"Ayolah. Ayo kita ke rumah sakit." Sebelum Baekhyun bisa memprotes, Chanyeol mengambil tangannya dan membantunya berdiri dari kursi.

Baekhyun merintih dan mencengkeram perutnya. "Aku akan menggendongmu jika kau mau," katanya.

"Tidak, aku bisa berjalan," jawabnya.

Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun untuk menyeimbangkannya. "Tetap disitu Toben," Chanyeol memerintahkan dari balik bahunya.

Toben merengek, tapi dengan enggan, ia duduk di beranda. Ketika mereka mulai keluar pintu, Baekhyun membeku.

"Tasku."

"Aku akan mengambilnya." Chanyeol berbalik dan berjalan meraih tas yang di tempatkan di atas lantai. Kemudian ia kembali ke samping Baekhyun untuk membantunya keluar dari pintu dan menuruni tangga teras.

"Kau ingin naik mobilmu karena itu lebih dekat? Aku bisa memindahkan mobilku."

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, mobilmu saja tidak apa-apa."

"Bagaimana rasa sakitnya?"

"Sangat intens," jawabnya terengah-engah.

"Apa kamu perdarahan atau kau merasa air ketubanmu pecah?"

"Tidak, ini hanya kontraksi saja."

Secercah sedikit rasa lega memenuhi diri Chanyeol. "Ini akan baik-baik saja, Baekhyun. Aku akan membawamu ke rumah sakit, dan apapun itu, mereka akan menolongmu."

Hatinya hancur ketika Baekhyun menatapnya dengan mata penuh air mata. "Aku harap begitu."

"Percayalah."

Chanyeol membuka pintu mobil dan pelan-pelan membantu Baekhyun duduk ke jok mobil. Begitu ia menutup pintu, ia berlari ke sisi pengemudi. Dia masuk ke dalam dan memutar. Setelah mempercepat mobilnya menuju jalan raya, ia melirik Baekhyun.

Mata Baekhyun tertutup dan alisnya berkerut sementara dia menggigit bibirnya. Melepaskan satu tangannya dari setir ia meraih salah satu tangan Baekhyun. Mata Baekhyun langsung terbuka, dan dia menatap ke arah Chanyeol.

"Aku disini untukmu, Baekhyun."

"Terima kasih, aku senang." Dia meremas tangan Chanyeol dengan ketat. Tidak mau membiarkan tangan Chanyeol lepas, Baekhyun menggunakan tangannya yang lain untuk mengeluarkan ponsel dari tasnya. Dia menyodorkannya ke arah Chanyeol.

"Tolong telepon Irene," gumamnya.

Dengan satu tangannya tetap di setir, ia menggunakan tangan satunya untuk menggeser kontak di ponsel Baekhyun.

Dia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi amarah yang akan di terimanya saat jarinya menekan dial. Irene menjawab pada dering ketiga.

"Hey, maaf aku belum punya kesempatan untuk meneleponmu lagi," katanya tanpa Halo.

"Um, ini Chanyeol."

Sebuah jeda panjang di ujung di telepon. "Apa sih yang kau lakukan dengan ponsel Baekhyun? Tolong jangan bilang kau telah melakukan sesuatu yang benar-benar gila untuk mencoba mendapatkan dia kembali? Karena jika benar, aku akan memastikanmu akan masuk penjara sampai lama sekali dimana seorang pria yang sangat besar dan berbulu dapat membuatmu menjadi suruhannya!" Ia menjerit cukup keras bahkan Baekhyun bisa mendengar.

"Irene, dengarkan aku. Aku tidak menculik Baekhyun. Kami sedang dalam perjalanan ke ER di Wellstar."

Irene terkesiap. "Oh Tuhan, apa ada yang salah?"

Chanyeol melirik Baekhyun yang matanya sekali lagi terpejam sementara rahangnya terkatup kesakitan.

"Dia mengalami beberapa kontraksi."

"Dia tidak pendarahan, kan?"

"Tidak, hanya kontraksi."

Chanyeol mendengar suara laki-laki yang dia duga Nate sedang berbicara di latar belakang sana.

"Kedengarannya seperti pertanda baik bahwa dia tidak pendarahan, tapi kami akan berada disana segera mungkin."

"Oke. Bisakah kau menelepon Connor, juga?"

Mata Baekhyun langsung terbuka, dan dia menatap Chanyeol dengan kaget. Chanyeol pikir Baekhyun kagum karena dia tidak perlu diberitahu untuk melakukan semua itu, dan ia benar-benar bisa memikirkan apa yang dirasakan Baekhyun.

"Ya, tentu."

"Bye."

.

.

Mereka melakukan seluruh perjalanan dalam keheningan yang menegangkan. Setelah membelokkan mobil sampai berdecit memasuki halaman parkir rumah sakit, Chanyeol meluncurkan mobilnya ke pinggir jalan di ruang gawat darurat dan mematikan mesinnya.

Ketika ia keluar dan mulai berjalan ke sisi Baekhyun, seorang petugas keamanan bergegas menghampirinya.

"Sir, Anda tidak boleh parkir disana."

"Dengar, is..." Chanyeol terdiam ketika dia menyadari bahwa dia tidak tahu bagaimana harus menyebut Baekhyun. Dia jelas bukan istrinya dan status hubungan mereka juga tidak memenuhi syarat sebagai pacar.

"Dia," akhirnya ia menekankan, "mengalami kontraksi dini, jadi aku harus membantunya masuk. Jika Anda tidak menyukainya, maka derek saja mobil sialanku!"

Petugas keamanan mengangkat tangannya ke atas. "Maaf Sir. Setelah Anda mendaftar, tolong segera keluar dan memindahkan mobilnya. Mercedes bagus seperti itu kalau di derek butuh biaya banyak untuk menebusnya."

Chanyeol menggeram dengan frustrasi saat ia mengulurkan tangannya pada Baekhyun. "Baik. Tapi aku tidak akan kembali kesini sampai aku tahu dia dan anakku baik-baik saja!" Dengan tangannya yang bebas, ia mengeluarkan seratus dolar dari dompetnya.

"Awasi mobilku, oke?"

Petugas itu menoleh kanan kiri sebelum ia buru-buru menyambar uangnya.

"Ya, Sir."

Mengalihkan perhatian kembali ke Baekhyun, Chanyeol membantunya keluar dari mobil. Baekhyun meringis saat ia melangkahkan kakinya.

"Bersandarlah padaku," instruksi Chanyeol sambil mengambil langkah dengan tentatif ke pinggir jalan.

Dengan satu lengan melilit di pinggangnya, Chanyeol menuntun Baekhyun melewati pintu ganda otomatis dan masuk ke lobi ER.

Dia mencengkeram tangan Chanyeol dengan erat dan dari ekspresi wajahnya, Chanyeol bisa tahu rasa sakitnya lebih buruk.

"Sedikit lagi, Baekhyun," katanya.

.

.

TBC

cuma mau ngasih tau aja Love in venice, bucin cy aku pub juga di wattpad ya