Di meja pendaftaran, Chanyeol pelan-pelan mendudukkan Baekhyun ke kursi. Ketika petugas tidak segera datang, ia memukulkan kepalan tangannya di atas meja.
"Tolong, dia mungkin akan mengalami persalinan prematur disini!"
Resepsionis mengangguk ke arah perawat. "Kami akan membawanya masuk kedalam."
"Terima kasih," kata Chanyeol.
Seorang perawat keluar dari pintu dengan membawa kursi roda. Chanyeol menolong Baekhyun berdiri kemudian membantu dia duduk di kursi roda.
Ketika ia akan ikut masuk kedalam dengan mereka, resepsionis memanggilnya. "Anda tidak bisa masuk kedalam sampai kami memiliki semua data medisnya."
"Saya sebelumnya sudah terdaftar." gumam Baekhyun, dengan gigi terkatup menahan rasa sakit.
"Dia harus tinggal sampai kami mendapatkan informasi asuransinya."
Chanyeol menatap putus asa ke arahnya saat Baekhyun menyerahkan tasnya. "Kartuku ada di dompetku."
Chanyeol segera mengisi dokumen. Sebagian besar ia biarkan kosong, berharap mereka sudah memiliki data itu karena ia tidak tahu itu.
Ironi itu tidak hilang pada dirinya karena Baekhyun mengandung bayinya, tapi Chanyeol tidak tahu apakah dia sudah pernah melakukan operasi besar atau punya penyakit pada masa kanak-kanak.
Pada waktu yang sama saat ia mulai memencet tombol untuk membuka pintu, seseorang berdeham.
Ternyata petugas keamanan. "Brengsek!" Teriak Chanyeol. Beberapa orang di ruang tunggu menatapnya.
Mengambil kunci dari saku, Chanyeol berlari melewati petugas keamanan dan menuju mobilnya yang telah menunggu. Ban berdecit saat dia memutari pintu masuk dan kembali mengikuti jalur ke tempat parkir yang tersedia.
Ketika Chanyeol kembali ke dalam, ia menekan tombol pintu "Hanya untuk Petugas yang Berwenang."
Tatapannya berputar-putar dengan putus asa di sekeliling lorong kamar-kamar. Perasaannya rasa aneh seperti deja vu pada hari ini sebelumnya, ia baru saja akan melambaikan tangannya pada perawat ketika Dr Jaehyun muncul di hadapannya, wajahnya tegang tampak khawatir.
"Dia berada di kamar lima," katanya.
Meskipun ia benci mengatakan itu, Chanyeol bergumam, "Terima kasih."
Chanyeol mendorong ke depan untuk membuka pintu dan menemukan tirai tertutup. Suara detak jantung bayi bergema di dinding.
"Baekhyun?" Teriaknya.
"Aku di sini."
Dia bergegas melangkah maju, lalu menyibakkan tirai ke samping. Saat melihat kaki Baekhyun naik ke stirrups dan seorang dokter di antara kedua kakinya, Chanyeol membeku.
"Chanyeol" desaknya, sambil memberi isyarat agar dia ke sisinya. Nada suaranya mendesak yang membuatnya bergerak dengan cepat.
Dia melangkah ke samping dokter lalu ke sisinya. Dia meraih tangan Baekhyun dan meremasnya.
"Maafkan aku. Aku harus mengisi semua dokumen itu kemudian harus memindahkan mobilku."
"Tidak apa-apa."
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Kau seharusnya tidak harus kembali kesini sendirian. Kau membutuhkan aku."
Dia menatap ke arah Baekhyun. "Aku butuh bersamamu."
"Kau disini sekarang. Itu saja yang paling penting."
Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk membungkuk dan mencium kening Baekhyun. Tapi dia harus menujukkan rasa terima kasih pada rumah sakit. Mereka baru saja disana hampir dua puluh menit, dan Baekhyun sudah memakai baju rumah sakit dan sedang diperiksa oleh dokter.
Dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya apakah hanya kondisinya yang sangat serius, atau karena Dr Jaehyun juga membantu menangani masalahnya.
Sang Dokter, yang mengenakan jas putih dengan bordir warna biru bertuliskan "Dr Pendleton", turun dari kursinya.
"Anda bisa menurunkan kaki sekarang." Pelan-pelan Baekhyun menarik kakinya dari stirrups saat Dr. Pendleton menarik meja kembali dibawah untuk Baekhyun.
Setelah ia melemparkan sarung tangan karetnya ke tempat sampah, ia berbalik menghadap mereka.
"Meskipun anda mengalami persalinan prematur, Anda tidak mengalami pembukaan, dan plug serviks Anda masih utuh."
Melihat Chanyeol yang bisa diasumsikan ekspresinya kosong, Dr Pendleton mengatakan, "Itu adalah faktor yang baik. Saya akan meminta seorang perawat datang dan memberikan Turbutaline, yang akan menghentikan sisa kontraksi yang Anda alami. Saya akan datang kembali dan melakukan USG untuk melihat bagaimana kondisi bayi Anda. Dari detak jantungnya, tampaknya ia menjadi sedikit gelisah, tapi itu bisa dari dinding rahim yang berkontraksi."
Dia berbalik berjalan menuju pintu. "Karena kondisi Anda sekarang stabil, aku akan kembali beberapa saat lagi untuk memeriksa Anda."
Kaki Chanyeol terasa seperti tidak bisa mendukung dia berdiri lagi, sehingga ia jatuh ke kursi di samping tempat tidur. Membebaskan rasa mualnya. Untuk sementara, tampaknya Jiwon akan baik-baik saja, dan sebaliknya, Baekhyun juga.
"Terima kasih Tuhan," gumam Baekhyun.
Sebuah keributan datang dari luar pintu. "Apa s—" kata Chanyeol terpotong karena Irene dan Connor berhamburan masuk ke dalam ruangan.
.
.
"Baekhyun!" teriak Irene, bergegas ke samping tempat tidur. Ia memelukBaekhyun dan meremasnya dengan erat.
"Bagaimana hasilnya?"
"Untuk saat ini, aku baik-baik saja, dan Jiwon juga baik-baik saja. Beberapa gejala persalinan prematur, tapi mereka bisa menghentikannya."
Irene dan Connor menghembuskan napasnya dengan lega. "Syukurlah," kata Connor.
Seorang perawat datang menyela untuk menyuntikkan Turbutaline. Ia menatap semua orang sebelum menggeleng tidak setuju.
"Anda benar-benar tidak membutuhkan ruangan yang penuh sesak. Anda membutuhkan istirahat dan santai."
"Kumohon jangan membuat mereka pergi. Mereka membuatku santai," protes Baekhyun.
Ia berkata sebelum menyuntikkan jarum ke selang infus Baekhyun. "Dr. Pendelton tidak akan senang dengan banyak orang di dalam sini, mengganggumu, dan ia akan datang kembali untuk melakukan USG pada Anda."
"Kami akan keluar sebentar," kata Irene dengan diplomatis.
"Yeah, kami tidak ingin membuatmu dalam kesulitan," Connor menyetujuinya.
Ketika Chanyeol tidak bergerak, Irene menatapnya dengan tajam. "Aku tetap di sini bersama Baekhyun dan anakku," jawab Chanyeol dengan ringkas.
"Terserah," katanya sebelum menuju ke pintu. Ia dan Conner pergi keluar ketika Dr. Pendleton masuk. Mereka menempelkan dirinya menjauh sampai ke tembok. Tanpa menyapa ataupun peringatan pada ruangan yang terlalu padat, ia mulai melakukan USG.
Baekhyun merasa sedikit tenang melihat penampakan Jiwon di layar. Detak jantung Jiwon mulai tenang.
"Tampaknya Jiwon berencana untuk tetap tinggal di dalam sana sementara waktu," kata Dr. Pendleton sebelum mematikan mesinnya.
Ia berdiri. "Sementara semuanya tampak semakin lebih baik, aku akan bersikeras menyuruh bed-rest dengan ketat paling tidak selama seminggu atau dua minggu ke depan. Anda diperbolehkan berbaring atau duduk, tetapi kaki Anda hanya akan menyentuh lantai untuk ke
toilet. Saya juga menyarankan Anda untuk menggunakan kursi di dalam kamar mandi. Apa sudah jelas?"
Baekhyun terkesiap. "Tapi pekerjaanku– "
Dr. Pendleton mengangkat satu jarinya untuk membungkam Baekhyun. "Ms. Byun, saya tahu itu tampak baik-baik saja sejak kita bisa mengendalikan situasinya, tapi stabilitas kehamilan Anda di masa depan terletak pada perawatan Anda pada diri Anda sendiri di sepuluh hari ke depan."
"Saya mengerti," gumam Baekhyun, mencoba menenangkan peningkatan rasa panik yang menusuk sekujur tubuhnya seperti jarum.
"Sedangkan untuk pekerjaan Anda, saya akan mengisi dokumen yang Anda butuhkan untuk mengambil cuti. Yang paling penting sekarang untuk Anda adalah istirahat dan membatasi tingkat stres Anda. Kita tidak ingin ada persalinan prematur lagi."
"Berapa lama saya harus tinggal di rumah sakit?" tanya Baekhyun, dengan suaranya yang bergetar.
"Saya ingin memantau Anda sepanjang malam, dan kemudian Anda bisa pulang ke rumah. Saya akan memeriksa tentang pemindahan anda ke kamar di lantai atas."
Setelah Dr. Pendleton keluar dari kamar, emosi Baekhyun meluncur keluar di luar kendali. Ia mencoba melawan dengan semua yang dimilikinya agar tidak benar-benar kehilangan kendali pada kemungkinan hidup Jiwon masih dalam bahaya.
Isakan tangis lolos dari bibir Baekhyun, membuat Irene dan AChanyeol balapan menuju ke arahnya untuk menenangkannya. Entah bagaimana Irene menyikut Chanyeol keluar dari jalannya, menghalangi Chanyeol untuk mendekati Baekhyun.
Sebuah dengusan frustasi keluar dari bibir Chanyeol. Irene menghiraukannya dan meraih tangan Baekhyun. Ia meremasnya dengan erat dan memberikannya sebuah senyuman menyakinkan.
"Jangan menangis, Baekhyun. Semuanya akan baik-baik saja. Banyak wanita yang harus menjalani bed-rest sementara, dan kemudian seluruh proses kehamilannya benar-benar normal."
Diantara isakan tangisnya, Baekhyun menjawab, "Aku harap begitu."
"Aku tahu. Dan aku akan mengantarkanmu dulu ke Grammy besok pagi, dan ia akan membantumu melewati ini."
Baekhyun menggelengkan kepalanya saat air mata mengalir turun ke pipinya. "Aku tidak bisa pergi ke Grammy. Granddaddy telah melalui operasi penggantian pinggul seminggu yang lalu, dan ia telah repot untuk merawatnya. Aku tidak bisa memberikan stres lebih padanya di usianya yang sudah senja."
Chanyeol membersihkan tenggorokannya dan melangkah ke samping Irene agar berdiri di depan Baekhyun. "Kau pulang ke rumah bersamaku. Aku akan merawatmu."
Sebuah desisan keluar dari bibir Irene. Ia menyentakkan tangannya dari Baekhyun untuk menusukkan satu jarinya pada dada Chanyeol.
"Langkahi dulu mayatku!" Alis Chanyeol terangkat.
"Maaf?" Lubang hidung Irene melebar.
"Kau pasti telah kehilangan akal sehatmu! Kau merawatnya? Kau adalah alasan utama dia berada di dalam situasi ini."
.
.
TBC
terimakasi untuk kalian yang masih setia menunggu ini up :')
