"Lihat, kita semua tahu aku telah mengacau! Sangat. Meskipun aku akan memberikan segalanya untuk menariknya kembali, aku tidak bisa. Tapi aku bisa memperbaikinya, dan satu cara untuk membuktikan pada Baekhyun betapa pedulinya aku padanya adalah dengan merawatnya di saat ia paling membutuhkanku."

Baekhyun menarik napas pada kata-kata Chanyeol. Baekhyun yakin salah satu monitor yang tak terhitung jumlahnya yang terhubung padanya akan rusak karena detak jantungnya yang semakin cepat.

Syok bergema di dalam tubuhnya bahwa Chanyeol telah menyarankan untuk merawat dirinya, apalagi ia benar-benar ingin melakukannya.

Baekhyun sangat tersentuh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana saraf-sarafnya bisa memungkinkannya menjadi sangat dekat dengan Chanyeol.

Akhirnya, Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Aku pikir tidak –" kata Baekhyun memulainya.

Mata biru Chanyeol menyala dengan tekad baja. "Ini bukan untuk didiskusikan."

Irene mendengus. "Oh yeah, ini memang untuk didiskusikan. Jika ada seseorang yang akan merawat Baekhyun, itu adalah aku, brengsek!"

Wajah Chanyeol menggelap karena amarah, dan Baekhyun takut dia akan benar-benar kehilangan kesabarannya. Rahangnya terkatup rapat saat dia mendekati Irene. "Kau tampaknya lupa bahwa dia mengandung anakku. Dia adalah tanggung jawabku. Kau pasti bisa mempercayai bahwa tidak ada yang lain yang lebih penting bagiku di dunia ini daripada anakku."

Melotot ke arahnya, Irene membalas, "Sayang sekali kau tidak pernah berpikir tentang Jiwon saat kau hampir menyetubuhi pelacur itu."

Saat Chanyeol menggeram, Connor melerai di antara mereka. "Okay, cukup!" dia menggelengkan kepalanya.

"Sial, kalian berdua harus santai dengan kontes memperebutkan Baekhyun. Maukah kalian berhenti sejenak dan berpikir tentang seberapa banyak kalian telah mengganggu dia?"

Chanyeol dan Irene mengalihkan pandangan mereka dari Connor dan menatap Baekhyun. Perhatian mereka membuat leher dan pipi Baekhyun merona.

Ekspresi Chanyeol melembut. "Maafkan aku, Baekhyun. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku hanya ingin," dia menjalankan jari-jarinya di rambutnya yang berwarna pasir. "Aku hanya ingin kau mengizinkanku merawatmu dan Jiwon."

Ketulusan kata-kata Chanyeol membuat jantung Baekhyun berdebar lagi, dan dia membenci dirinya sendiri karena itu. Setelah menggigiti bibirnya sendiri, Baekhyun bertanya, "Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau tidak mungkin melakukan perjalanan seperti sebelumnya dan merawatku sekaligus."

"Aku tinggal mengambil cutiku seperti dirimu."

Baekhyun tidak bisa menahan matanya sendiri yang melotot. "Kau akan melakukannya?"

"Tentu saja aku akan melakukannya. Kau membutuhkan aku," kata Chanyeol, perlahan mendekati tempat tidur.

"Tapi dengan posisimu, apakah mereka bahkan akan mempertimbangkan memberikanmu cuti? Maksudku, ini bukan seperti jika kita menikah."

Chanyeol mengangkat bahunya. "Jika mereka tidak memberikannya, maka aku tinggal berhenti bekerja. Kau dan Jiwon sangat berarti bagiku daripada sebuah pekerjaan."

Irene menyilangkan tangan di depan dadanya dengan marah. "Dan bagaimana jika libidomu menggelora di suatu malam setelah melihat beberapa pelacur dengan rok pendek? Apa kau hanya akan berlari menjauh darinya lagi?"

"Irene." Baekhyun memohon pada saat yang sama dengan Chanyeol membentak, "Jangan mengungkitnya!"

"Aku tidak percaya kau benar-benar mempertimbangkan untuk mengizinkannya melakukan ini. Dia mematahkan hatimu, Baekhyun!" teriak Irene, mengangkat tangannya dengan frustrasi.

Baekhyun mendesah. "Ya. Aku cukup menyadari apa yang telah dia lakukan. Tapi saat ini, aku tidak punya pilihan lain selain menerima apa yang dia usulkan."

Lalu dia mengalihkan pandangannya ke Chanyeol. "Rumahku berantakan karena pindahan. Aku akan tinggal bersamamu."

Senyum berseri-seri Chanyeol sedikit mencairkan es yang tersisa di dalam hati Baekhyun pada Chanyeol. "Tentu saja kau bisa melakukannya. Aku akan menempatkanmu di kamar tidurku karena itu di lantai bawah dan kamar mandinya yang terdekat."

"Terima kasih. Aku akan membutuhkan beberapa barangku. Irene, bisakah kau pergi bersama Chanyeol dan membantunya mengambil barang yang aku butuhkan?"

Mata Irene melotot seperti Baekhyun baru saja menyuruhnya untuk membantu Setan mencapai dominasi dunia. "Aku tidak bisa berada di ruangan yang sama dengan dia, apalagi membantunya mengemas barang-barangmu!"

Baekhyun memutar matanya. "Baiklah, jadilah keledai yang tak dewasa karena itu. Aku yakin Connor akan senang hati untuk melakukan itu."

"Tentu saja, Baekhyun," jawab Connor, melangkah ke depan untuk menepuk punggung Chanyeol. Dari cara Chanyeol meringis, Baekhyun yakin Connor telah memukulnya sedikit lebih keras dari yang dibutuhkan.

"Aku menghargai itu Connor," jawab Baekhyun.

Menatap tajam pada Chanyeol, dia berkata, "Hanya yang penting. Aku tidak akan tinggal sangat lama."

Sudut bibir Chanyeol melengkung seperti seringaian puas diri. "Kita lihat saja nanti."

"Kau benar-benar tak dapat dipercaya," gumam Baekhyun.

"Oke, kalau begitu, sebaiknya kita segera pergi dan memulainya. Dengan begitu segalanya akan siap untukmu ketika mereka mengizinkanmu pulang besok pagi," kata Connor.

Chanyeol mengangguk. "Kedengarannya bagus."

Setelah sekian lama, menghembuskan napasnya, Irene berkata, "Baiklah. Aku akan pergi bersamamu."

"Serius?" kata Connor dan Chanyeol dengan bersamaan.

"Ya," tukasnya.

Baekhyun tertawa. "Bisakah kalian berhenti dan segera pergi?"

"Man, kau sudah memerintah kami semaumu," kata Connor, dengan menyeringai. dia menyikut Chanyeol.

"Kau berada di dalam dua minggu yang menyenangkan."

Chanyeol tertawa. "Aku tidak keberatan. Baekhyun bisa menggunakan dan menyalahgunakan aku sesuka hatinya. Selama dia senang dan sehat, aku akan melakukan semua yang dia inginkan."

Connor menatap Chanyeol sejenak dan menggelengkan kepalanya. "Kau terkena virus cinta yang buruk, dude. Sangat, sangat buruk." Dia menoleh kembali pada Baekhyun dan mengedipkan matanya.

"Sampai jumpa besok, Baekhyun." Dia mencondongkan tubuhnya dan memberikan Baekhyun sebuah pelukan dan sebuah ciuman.

Sebelum Connor menarik dirinya, dia berbisik di telinga Baekhyun. "Buat dia bekerja keras, Baekhyun, tapi berilah dia sebuah kesempatan juga."

"Aku akan mencobanya."

Connor bertukar tempat dengan Irene yang juga memberikan Baekhyun sebuah pelukan. "Saat aku sudah selesai, aku akan kembali kemari dan menginap denganmu," kata Irene.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, aku akan baik-baik saja. Ini hanya semalam. Ini tidak seperti aku belum pernah menghabiskan beberapa malam di rumah sakit. Hanya saja aku biasanya berada di bagian tempat tidur yang lain."

"Apa kau yakin?"

"Aku yakin. Kau bisa datang besok pagi atau ke rumah besok."

Tubuh Irene menegang pada prospek di rumah Chanyeol. "Kita lihat saja nanti."

Saat Irene berbalik pergi, dia mengayunkan tas besarnya ke sekeliling, mengenai Chanyeol tepat di selangkangannya. Dengan sebuah geraman, Chanyeol membungkuk, menghembuskan beberapa napas dan kemudian menarik napasnya. Setelah membaik, Chanyeol mendongakkan kepalanya. Mata birunya menyipit ke celah kemarahan.

Irene memberinya sebuah senyuman manis. "Oh, aku sangat menyesal. Itu salahku."

Chanyeol bergumam pelan, tapi dia tidak menantang Irene. "Ayolah," kata Connor, mengambil lengan Chanyeol.

Setelah Chanyeol dan Connor keluar dari pintu, Baekhyun memanggil, "Irene?"

Melirik melalui atas bahunya, Irene berkata, "Yeah?"

Baekhyun memberinya senyuman ramah. "Bersikap baiklah terhadapnya, please?"

Irene mengendus dengan frustrasi. "Bagaimana kau bisa menyuruhku seperti itu? Kau tahu bagaimana perasaanku pria itu!"

"Aku tahu, tapi ada lebih banyak yang terjadi daripada yang kau pahami. Jadi berikanlah dia sedikit kelonggaran."

Berputar-putar, Irene mengangkat kedua tangannya ke atas. "Sialan, Baekhyun, mengapa kau harus begitu baik dan pemaaf?"

"Aku tak mengatakan aku telah memaafkannya. Aku hanya lebih mengerti sekarang."

Pada ekspresi keraguan Irene yang terus berlanjut, Baekhyun berkata, "Percaya saja padaku untuk yang satu ini."

"Baiklah, aku akan lebih beradab, tapi aku tidak bisa bersikap baik."

"Lebih beradab berarti kau tidak akan memukulnya di bolanya lagi, kan?"

Irene memberinya seringaian jahat. "Itu berarti aku akan berusaha."

"Berusaha keras, oke?"

Dia mengangguk.

"Terima kasih."

Irene meniupkan sebuah ciuman sebelum menuju pintu keluar. Merebahkan kepalanya kembali ke bantal, Baekhyun menghembuskan napasnya.

Tangannya mengelus perutnya sambil terus menatap ke langit-langit. "Tolong Tuhan, tolong awasi Jiwon dan jangan biarkan hal buruk terjadi padanya. Tidak ada hal lain yang penting di dunia ini selain melahirkannya ke dunia dengan sehat di waktu yang tepat."

Saat Baekhyun menutup matanya, wajah Chanyeol melintas di depannya, membuat matanya terbuka kembali. "Dan jika Chanyeol adalah benar-benar satu-satunya, lembutkanlah hatiku padanya atau berikanlah satu pertanda aku harus berpaling darinya."

Doanya terpotong oleh seorang yang mengetuk pintu.

"Ya?" seru Baekhyun, alisnya berkerut pada siapa yang mungkin mengetuk pintunya.

Suara berdecit terbuka sebelum Jaehyun menyembulkan kepalanya masuk. "H-Hai."

.

.

TBC