Bad Girl ( Chapter 2 )
Author : Bacon14
Length : Chaptered
Genre : SchoolLife, Romance, Genderswitch
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Additional cast :
Xi Luhan
DO Kyungsoo
Sinopsis :
Byun Baekhyun. Yeoja berwatak keras, dingin dan sadis. Ia bertemu dengan Park Chanyeol. Seseorang geek yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal. Bagaimanakah awal pertemuan mereka?
Happy Reading😀😀
Chanyeol menegukkan ludahnya berat ketika berada di depan pintu apartemen Baekhyun. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung membasahi pelipisnya. Aish... kenapa masuk ke kamar Baekhyun seperti masuk ke kamar singa? Hmm.. memang hampir mirip sih karena yeoja yang berada di balik pintu ini tingkah lakunya buas seperti singa. Tidak heran, Chanyeol yang seperti kelinci akan menyerahkan nyawanya kepada singa, merasa takut dan waswas. Chanyeol menutup matanya sejenak dan memantapkan pegangan pada tumpukan buku di depannya. Ia memencet bel dengan susah payah. Namun, pintu berwarna coklat ini tak kunjung dibuka.
Chanyeol menggigit bibirnya sendiri. Apakah ia terlalu malam menyerahkan buku ini? Jelas, Park Chanyeol babo! Ini jam 12 malam dan kau masih berkeliaran di depan kamar seorang yeoja. Aish.. kau memang bodoh, Chanyeol.
Krieett..
Suara deritan pintu terbuka seiring dengan seulas senyuman di bibir Chanyeol. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Seorang yeoja langsung menimpa tubuhnya dan membuat dirinya serta yeoja tersebut jatuh di lantai. Semua buku berserakan dan yeoja ini masih belum bangun dari tubuh Chanyeol. Chanyeol segera mendorong tubuh yeoja yang baru ia sadari adalah Byun Baekhyun. Ia segera menggendong Baekhyun ala bridal style dan menaruhnya di sofa. Ia kembali keluar untuk mengambil semua buku dan memastikan tidak ada yang melihat 'kejadian tidak terduga' tersebut.
"K-kau s-siapa?" Ucap seorang ahjumma terbata-bata. Chanyeol baru menyadari ada seorang ahjumma yang meringkuk ketakutan dekat dapur. Ia mendekati ahjumma tersebut dan menenangkannya. Ia berkata bahwa dirinya adalah teman akrab Baekhyun. Hhh~~~ teman akrab? Bahkan, ia yakin 100% Baekhyun tidak pernah mengenalnya atau hanya tahu namanya dari papan murid beasiswa. Ahjumma tersebut tersenyum tipis walaupun dari wajahnya masih terdapat gurat ketakutan.
"Baekhyun sunbae, kenapa?" Ahjumma bernama lengkap Shin Hyena tersebut menceritakan kronologis ceritanya sambil bergetar ketakutan.
( Flashback On )
Baekhyun mengusap wajahnya kasar. Memori buruk silih berganti muncul di otaknya. Ia tidak dapat berpikir jernih kembali. Ia melemparkan semua yang ada di depan matanya. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan berubah menjadi orang gila.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Baekhyun acuh tak acuh dengan teriakan Shin ahjumma. Ia kembali menghancurkan sebagian kamarnya hingga ia sendiri merasa lelah. Tangannya yang terluka akibat memukul tembok di sekolah ( part 1 ) makin parah dengan luka yang semakin mendalam. Ia terduduk di atas lantai sambil terengah-engah. Pecahan kaca menusuk kakinya hingga berdarah dan penampilannya buruk sekali. Rambut berantakan, eyeliner yang luntur, dan baju yang sedikit sobek. Baekhyun sekarang sangat berbeda dengan Baekhyun yang berada di sekolah. Selama ini, Baekhyun selalu menampilkan sisi anggun dan angkuh. Baekhyun sekarang hanya menampilkan sisi terlemahnya. Sisi gelapnya yang bahkan belum pernah ada orang yang mengetahuinya. Sisi yang selalu ia sembunyikan selama ini dan selalu berpura-pura kuat. Baekhyun sekarang adalah Baekhyun yang 'sebenarnya'. Bukan Baekhyun dengan rangkaian topeng yang menutupi sifat aslinya.
Baekhyun berjalan dengan lunglai ke arah kulkas kecil yang ia letakkan dalam kamarnya. Ia memencet password yang melindungi kulkas tersebut. Pip. Kulkas tersebut terbuka. Hawa dingin dari kulkas tersebut langsung berebutan untuk keluar. Baekhyun menutup matanya, menikmati hawa dingin dari kulkas. Ia mengambil salah satu dari banyak botol bir di dalam kulkas. Bir dengan kadar alkohol tertinggi.
Baekhyun menenggak bir tersebut dalam sekali teguk. Rasa panas langsung menyakiti tenggorokannya. Sudah sekian lama ia tidak pernah minum lagi. Terakhir kali ia minum bir ketika ayahnya menikah dengan yeoja murahan itu. Hari itu ia sangat kacau. Tidak berbeda jauh dengan keadaannya sekarang. Rasa pusing mulai memenuhi kepalanya dan menusuk-nusuknya hingga nyeri. Baekhyun menutup matanya dan kembali meminum bir yang tersisa. Ia melempar bir tersebut ke arah dinding dan botol bir malang itu pecah berkeping-keping. Shin ahjumma semakin panik dan terus berteriak memanggil namanya.
Baekhyun yang mulai mabuk, keluar dari kamar dengan tubuh sempoyongan. Ia menatap Shin ahjumma dengan dingin dan mendorongnya ke lantai dengan kasar. Shin ahjumma tidak menyerah. Ia kembali berdiri dan menahan Baekhyun yang akan keluar dari apartemen. Baekhyun berteriak kasar pada Shin ahjumma dan membawa yeoja berumur 30-an ke arah dapur.
"Kau hik..tidak.. usah ikut hik.. campur urusanku.." Baekhyun mengambil salah satu pisau dan hampir menusukkan pisau tajam tersebut ke arah Shin ahjumma. Shin ahjumma memejamkan matanya ketakutan. Ia berpikir mungkin ini ajalnya, dirinya akan dibunuh oleh majikannya sendiri.
Tingtong..tingtong..
Suara bel pintu menyelamatkan Shin ahjumma dari maut. Baekhyun memalingkan wajahnya dan berjalan sambil berpegangan dengan tembok. Ia membuka pintu apartemen dan langsung terjatuh tak sadarkan diri.
( Flashback Off )
Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Shin ahjumma. Baekhyun yang selama ini ia tahu adalah yeoja yang dingin, angkuh, dan kasar. Namun, ia tidak menyangka kepribadiannya jauh lebih buruk dari ini. Chanyeol menatap Baekhyun prihatin. Ia memang tidak mengetahui secara jelas masalah yang dihadapi Baekhyun. Tetapi, ia merasakan kesepian ketika melihat wajah Baekhyun. Wajahnya tergurat rasa lelah, sakit hati dan kesepian.
"Ahjumma, bolehkah saya minta tolong padamu? Hm.. tangan dan kaki Baekhyun terluka parah. Darahnya tidak mau berhenti. Bisakah kau merawat lukanya? Tidak enak kalau saya yang merawat luka seorang yeoja di tengah malam seperti ini." Shin ahjumma tersenyum tipis. Ia mengambil kotak P3K dan mengobatinya dengan telaten. Dalam beberapa menit, perban telah menutupi luka-luka Baekhyun.
"Ahjumma istirahat saja. Biarkan saya yang menjaganya. Nanti kalau saya membutuhkan sesuatu, saya akan memanggil ahjumma." Ahjumma kembali tersenyum. Tingkah laku Chanyeol sangat sopan. Ia terbiasa dengan Baekhyun yang sering berbicara banmal padanya ketika sedang marah. Namun, ia tidak menyangka Baekhyun memiliki seorang teman yang sopan seperti dirinya. Chanyeol menggendong Baekhyun ke arah kamar. Namun, ia urungkan niatnya ketika mengingat cerita Shin ahjumma. Kamar Baekhyun hancur berantakan.
Akhirnya, Chanyeol menaruh Baekhyun di kamar yang lainnya. Entah kamar siapa itu, Chanyeol tidak peduli. Ia mementingkan yeoja yang berada dalam gendongannya. Yeoja ini terlihat lemah dan pucat. Chanyeol takut ia sakit parah atau semacamnya.
"Eomma..eomma.." Chanyeol mengulurkan tangannya, mengelus kepala Baekhyun dengan kaku. Kata eommanya, ketika seseorang sedang mengigau atau sedang sakit, berikan kenyamanan padanya. Chanyeol tidak tahu maksud dari kata 'kenyamanan' yang eommanya maksudkan, tetapi hanya ini yang ia bisa lakukan. Ia tidak mungkin melakukan hal yang lebih.
Chanyeol menarik selimut hingga leher Baekhyun dan menyalakan pemanas. Ia tidak bisa pergi kemana-mana. Tangannya digenggam erat oleh Baekhyun. Akhirnya, Chanyeol tidur di samping Baekhyun dengan posisi duduk. Ia yakin besok badannya akan pegal semua. Tetapi, ia tidak tega untuk menarik tangannya ketika tangannya digenggam sangat kuat oleh Baekhyun.
"Nggghh.." Mata Baekhyun perlahan terbuka. Semuanya terlihat buram namun lama kelamaan makin jelas. Ia baru menyadari ada seseorang di sampingnya ketika tangannya ia tarik. Baekhyun berteriak keras sehingga Chanyeol terbangun.
"Ya! Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini? Aarggh.." Baekhyun memegang kepalanya yang terasa ditusuk-tusuk jarum. Chanyeol segera mendekati Baekhyun dan memintanya untuk kembali tidur. Baekhyun menatap tajam Chanyeol karena berani menyuruhnya macam-macam. Tetapi akhirnya, Baekhyun menurut juga. Ia berbaring sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Mianhae, sunbae. Saya hanya dimintai tolong Luhan sunbae untuk mengantarkan buku-buku sunbae. Tetapi, ketika tadi malam saya mengantar buku-buku sunbae.. ehm.." Chanyeol menggigit bibirnya sendiri. Baekhyun memindahkan tangannya ke arah lain dan menunggu penjelasan Chanyeol.
"Apa? Lanjutkan!" Chanyeol kembali menundukkan kepalanya. Ia seperti seorang anak yang akan dihukum oleh eommanya karena mendapat nilai buruk.
"Kau pingsan karena mabuk, sunbae." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengerang sakit ketika mencoba mengingat semua kejadian tadi malam. Nihil. Tidak ada yang ia ingat. Baekhyun menatap tajam Chanyeol dan memberinya peringatan keras.
"Oh begitukah? Hm.. baiklah. Terima kasih dan sana cepat pulang. Oh ya kalau kau memberitahukan apartemenku pada orang lain, aku tidak segan-segan mengeluarkanmu dari sekolah. Siapa namamu?" Baekhyun membaca plat nama berwarna emas di dada kiri Chanyeol. Ia menggumamkan nama 'Park Chanyeol' beberapa kali untuk mengingat namanya.
"Chanyeol-ssi, jangan ceritakan apapun pada Luhan. Kalau kau bercerita sedikit saja, bibirmu akan kurobek." Chanyeol bergidik ngeri mendengar ucapan Baekhyun. Ia membungkuk hormat dan melangkah keluar kamar. Namun sejenak, ia berhenti dan berbicara kepada Baekhyun dengan membelakanginya.
"Baekhyun sunbae, saya tidak tahu masalahmu apa. Tetapi, jangan menyakiti dirimu sendiri. Hati-hati lukamu masih belum sembuh sempurna. Annyeong." Chanyeol keluar dari kamar dan menghembuskan nafasnya lega. Beban di punggung Chanyeol terasa hilang sepenuhnya. Ia menatap kamar itu sekali lagi dan melangkah keluar apartemen.
"Bagaimana keadaan nona? Apa dia sudah sadar?" Chanyeol mengangguk.
"Dia baik-baik saja. Tetapi, luka di tangan dan kakinya belum sembuh sempurna. Jadi, dia tidak boleh bergerak terlalu banyak." Shin ahjumma mengangguk-angguk. Ucapan Chanyeol yang seperti dokter profesional meyakinkan Shin ahjumma.
"Shin ahjumma, saya pulang dulu. Permisi." Chanyeol tersenyum ramah dan melangkah keluar apartemen.
Baekhyun tertegun dengan ucapan Chanyeol. Masih adakah orang yang mempedulikannya dan mengkhawatirkannya? Ia teringat perkataan Kyungsoo ketika bertengkar dengan Luhan. Masih banyak yang menyayanginya dan mengkhawatirkan keadaannya. Baekhyun tidak memungkiri bahwa ia merasakan ketulusan mereka. Tetapi, Baekhyun enggan menerima ketulusan mereka. Ia takut kejadian dahulu terulang. Ketika ia dekat dengan seorang namja yang juga mengumbar ketulusannya sama seperti Kyungsoo dan Chanyeol. Namja yang membuatnya sakit hati sama seperti appanya. Memang hubungan mereka belum sampai tahap 'berpacaran' tetapi ketulusannya membuat Baekhyun tenang. Sifat Baekhyun berubah ketika berada bersamanya. Hanya dirinya yang mengerti Baekhyun saat itu. Tetapi, ketika ia berkata bahwa ia memiliki yeojachingu saat Baekhyun menyatakan perasaannya. Baekhyun merasa dikhianati dan kembali merasakan sakit. Padahal, ketika bersama namja tersebut, Baekhyun mulai melupakan semua rasa sakit yang ia terima.
Baekhyun tahu hubungan mereka hanya sekedar persahabatan. Tidak ada yang spesial sama sekali. Tetapi, Baekhyun merasakan perasaan yang lain ketika bersamanya. Baekhyun tidak punya hak untuk melarangnya berpacaran dengan orang lain. Karena Baekhyun hanyalah sahabatnya. Bukan orang yang berada di hatinya. Setelah Baekhyun menyatakan perasaannya, Baekhyun harus dihadapkan dengan rasa sakit yang lain. Namja itu pindah ke Brazil tanpa sepengetahuan Baekhyun. Bahkan, Baekhyun mengetahuinya dari teman-temannya bukan dari bibirnya sendiri. Baekhyun merasa terpukul dan merasa kehilangan. Setelah kehilangan eommanya, ia harus menelan pil pahit dengan kehilangan namja yang paling berharga dalam hidupnya.
Baekhyun menutup matanya sejenak. Kenapa nama namja itu tidak bisa pergi dari otak Baekhyun? Apakah ia masih mencintai namja itu? Iya. Baekhyun sangat merindukannya. Merindukan senyumnya. Merindukan tingkah lakunya. Merindukan semuanya. Ia ingin memutar kembali waktu ketika ia dan namja itu masih bersama. Berbagi tawa dan kesedihan bersama.
Luhan menggigit bibir bawahnya sendiri. Chanyeol dan Baekhyun tidak ada yang menjawab pesannya sama sekali dan mereka berdua kompak tidak masuk sekolah. Aish.. Luhan hampir saja frustasi karena ulah mereka berdua. Bagaimana tidak? Yang satu sedang ada masalah dengan appanya dan bisa saja tingkahnya menggila dan yang satunya lagi, entah ada niatan apa mengantarkan buku ke apartemen yeoja gila itu. Luhan memikirkan yang tidak-tidak. Apakah mereka berdua tidur bersama? Atau mereka melakukan hal yang lebih buruk lagi?
Luhan mempoutkan bibirnya. Para fanboy yang berdiri di depan pintu segera mengambil foto Luhan yang mempoutkan bibirnya. Foto langka, kata mereka. Seorang namja dengan wajah datar seperti tembok *maafkanakuSehun* masuk ke dalam kelas dengan gaya maskulin. Namja yang bernama Oh Sehun itu mendekati Luhan dengan santainya. Yeoja-yeoja yang berada di dekat Luhan segera menyingkir ketika menerima tatapan es dari Sehun.
"Lu.. ayo, ke kantin. Temani aku beli bubble tea." Sehun mulai merajuk manja. Para fanboy yang geregetan membanting ponsel mereka atau menggigit bahu temannya yang berada di sampingnya. Luhan tersenyum manis. Para fanboy kembali bertingkah gila karena senyuman manis Luhan walaupun mereka tahu senyuman manis itu untuk siapa.
"Baiklah, Hun." Sehun mengecup pipi Luhan dan mengacak rambutnya dengan hangat. Pipi Luhan merona karena tingkah laku Sehun. Hm.. mereka baru saja berpacaran 3 hari yang lalu. Tetapi, tingkah laku mereka seperti sudah berpacaran selama 3 tahun.
Prince School dan Princess school berpacaran sudah biasa terjadi di sekolah ini. Contohnya saja Kai dan Kyungsoo. Tidak ada yang berani memisahkan hubungan mereka karena mereka sangat serasi dan cocok. Mungkin hanya beberapa fans gila yang mengganggu mereka. Kini, harapan para fanboy untuk menjadi salah satu namjachingu Princess school pupus sudah. Luhan sudah punya Sehun, Kyungsoo sudah punya Kai, lalu bagaimana dengan Baekhyun? Hanya yeoja dengan tatapan dingin itu yang tersisa. Walaupun Baekhyun cantik dan manis, tidak ada yang berani terang-terangan mendekatinya secara langsung. Kalaupun ada, mungkin hanya menaruh surat atau coklat di loker Baekhyun dan ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah dengan sangat mengenaskan. Oleh karena itu, Baekhyun dicoret untuk dijadikan 'calon yeojachingu para fanboy'. Walaupun dicoret dari 'calon yeojachingu para fanboy' , Baekhyun tetaplah primadona dan paling menonjol di antara para Princess School. Para fanboy menunggu namja yang beruntung yang dapat menaklukkan 'Ice Princess'.
Chanyeol diintrogasi oleh hyungnya karena tidak pulang semalaman. Setelah menjawab rangkaian pertanyaan dari eomma mereka, Chanyeol harus dihadapkan oleh hyungnya yang IQnya tinggi dan berjiwa ingin tahu yang juga sangat tinggi. Chanyeol menjawab dengan jujur sama seperti jawabannya kepada eomma. Namun, Chanhyun tidak terlihat puas karena Chanyeol seperti mengcopy paste ucapannya tadi tanpa ada niatan untuk menceritakannya dengan detail. Chanhyun semakin penasaran dan melontarkan banyak pertanyaan pada Chanyeol.
"Siapa yeoja yang kau tolong? Kau tidak melakukan apapun padanya, kan? Jelaskan dengan detail dan lengkap!" Bagaikan polisi yang mengintrogasi penjahat, Chanhyun melontarkan pertanyaan yang langsung to the point. Chanyeol menghembuskan nafasnya. Mulai darimana ia bercerita, dari pertemuannya dengan Luhan atau kejadian tidak terduganya dengan Baekhyun. Akhirnya, perlahan-lahan Chanyeol mulai menceritakannya.
"MWOYA?! YEOJA YANG KAU TOLONG ITU BYUN BAEKHYUN?!" Chanyeol mengangguk. Chanhyun menatap Chanyeol sambil menghembuskan nafasnya.
"Dia pasti menghafal wajah dan namamu, Yeol. Aish.. kau berada dalam masalah." Chanyeol mengernyitkan dahinya. Menolong orang lain itu dapat membuatnya dalam masalah? Apa maksud hyungnya?
"Hhh~~ yeoja itu pasti tidak akan berhenti mengganggumu. Apalagi kau memiliki janji dengannya. Tutup rapat-rapat mulutmu kalau kau mau selamat! Jangan dekat-dekat dengan yeoja buas itu." Ucap Chanhyun memperingatinya. Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya polos sambil mengangguk-angguk.
"Anak baik.." Chanhyun mengacak rambut Chanyeol lalu beranjak keluar kamar.
"Aish~~ aku masih tidak mengerti ucapan hyung." Chanyeol menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia memejamkan matanya sejenak namun bayangan Baekhyun menangis di taman masih membayanginya. Bukankah Chanyeol sudah menolong dan merawat Baekhyun dengan baik? Lalu kenapa dirinya masih merasa bersalah?
Baekhyun tidak bisa bangun dari tempat tidur karena kakinya terluka lumayan parah. Ia hanya bisa menatap jendela dan bermain dengan ponselnya hingga bosan. Huft~~ ia meniup poninya sendiri dengan bosan. Shin ahjumma sedang pergi keluar untuk membeli keperluan dapur. Aku bosan sekali, gerutunya.
Tingtong..tingtong..
Baekhyun berdecak kesal. Ia terpaksa berdiri sambil meringis kesakitan. Sebenarnya yang terluka parah kaki kanannya sedangkan kaki kirinya hanya terluka goresan panjang. Akhirnya, Baekhyun berjalan dengan pincang ke arah pintu.
Baekhyun menatap malas wajah cantik yang berada di depan pintu lewat intercom. Siapa lagi kalau bukan Xi Luhan? Bagaimana Baekhyun menjelaskan ini semua ke Luhan? Apakah ia harus menjelaskan mengenai Chanyeol yang menginap disini semalam? Jangan-jangan, Chanyeol menceritakan segalanya pada Luhan. Kalau benar begitu, Baekhyun benar-benar akan merobek mulut namja geeks itu. Baekhyun membukakan pintu dengan malas.
"Omona..Byun Baekhyun. Ada apa dengan kakimu dan aish.. tanganmu juga? Bagaimana kejadi-" Baekhyun meninggalkan Luhan yang bibirnya sangat cerewet. Luhan mempoutkan bibirnya kesal karena Baekhyun mengabaikannya. Dalam hati Baekhyun bersyukur karena Luhan belum tahu apa-apa.
"Aku hanya terjatuh dari tangga." Jawab Baekhyun. Luhan mengernyitkan dahinya. Mencurigakan. Kalau jatuh dari tangga pasti lukanya akan lebih dari ini. Bahkan, mungkin akan mengalami patah tulang serius. Bukan maksud Luhan mendoakan Baekhyun patah tulang, tetapi tidak masuk akal saja.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, bodoh?" Baekhyun menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap tajam Luhan.
"Cepat katakan, apa tujuan kau kemari? Aku ingin beristirahat." Luhan kembali tersenyum dan dengan cerewetnya menjelaskan bahwa dia berpacaran dengan Oh Sehun blablabla.. Baekhyun menatap malas Luhan. Ia sudah menebak tujuan Luhan kemari untuk membicarakan namja yang sifatnya hampir mirip dengannya.
"Oh begitukah? Selamat ya." Ucap Baekhyun cuek.
"Apakah Chanyeol menginap disini kemarin karena hari ini dia tidak sekolah?" Baekhyun tersedak oleh minumannya sendiri karena ucapan polos yang dilontarkan Luhan. Luhan tersenyum menggoda Baekhyun.
"Ahh~~ apakah perkataanku benar? Jadi, Chanyeol menginap disini sehingga dia tidak sekolah. Pendekatan yang bagus, Chanyeol hahahha.." Pipi Baekhyun merona merah. Ia tidak pernah menampilkan ekspresi malu-malu di depan Luhan. Namun, ucapan Luhan yang ceplas ceplos membuatnya malu. Baekhyun menutup matanya sejenak, mengingat Chanyeol yang sangat memperhatikannya. Bahkan, Chanyeol tidak marah karena Baekhyun menggenggam jarinya sepanjang malam. Yah.. memang seharusnya dia tidak marah sih. Siapa yang berani memarahi Princess School SHS?
"Cepatlah pacaran dengannya. Kalau kulihat wajahnya dia tampan juga." Baekhyun memukul lengan Luhan dengan keras sampai Luhan mengaduh kesakitan. Ia kembali merubah ekspresinya menjadi dingin. Poker face.
"Jangan berbicara omong kosong, Luhan. Sudahlah, pulang sana. Aku mengantuk." Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh Luhan pulang. Luhan mendecak kesal lalu keluar dari apartemen Baekhyun.
"Aish.. kenapa kau berekspresi seperti yeoja yang baru jatuh cinta? Bodoh kau, Baekhyun. Kau kembali menjatuhkan harga dirimu." Gerutu Baekhyun pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa hari, Baekhyun masuk sekolah. Para fanboy yang seperti kehilangan nyawa saat Baekhyun tidak masuk, mulai bernafas lega dan bersorak gembira. Tidak ada yang berubah dari Baekhyun. Dia tetap yeoja yang dingin dan pemarah.
"Huftt~~ kenapa aku diberi tugas sebanyak ini dan harus mengerjakannya di ruang laknat itu?" Baekhyun mengeluhkan nasib sialnya karena ketika ia tidak masuk tugasnya sangat banyak. Ia masuk ke ruang perpustakaan sambil menaruh buku-buku tugasnya. Saat ini, dia harus mengerjakannya disini karena buku perpustakaan tidak boleh dibawa keluar tanpa persetujuan petugas perpustakaan sedangkan tugas-tugas Baekhyun sekarang membutuhkan semua buku perpustakaan. Ia berniat untuk meminjamnya tetapi petugas perpustakaan sudah pulang karena sudah sore. Oleh karena itu, dengan terpaksa ia mengerjakannya disini sendirian.
"Baekhyun sunbae?" Baekhyun hampir saja terjungkal kaget karena suara berat Chanyeol. Chanyeol menyengir lebar sambil membawa buku tebal di tangannya.
"Kau belum pulang?" Chanyeol mengangguk. Ia sudah terbiasa berada di perpustakaan hingga perpustakaan hampir ditutup. Suasana sepi di perpustakaan benar-benar menenangkan.
"Sunbae sendiri juga belum pulang. Ada tugas?" Baekhyun hanya melirik sekumpulan buku laknat di sampingnya dan kembali menatap Chanyeol. Chanyeol mengangguk-angguk.
Baekhyun mulai berjalan mengelilingi rak-rak buku perpustakaan. Ia mencari beberapa buku untuk dijadikan referensi tugasnya. Sebuah buku menarik perhatiannya tetapi buku itu terlalu tinggi untuk ia gapai. Baekhyun melompat-lompat beberapa kali tetapi ia tetap tidak berhasil mendapatkannya.
"Sini kubantu, sunbae." Chanyeol mengambilkan buku yang ingin diambil Baekhyun. Dengan mudah ia mengambilnya karena tubuhnya tinggi dan langsung memberikannya pada Baekhyun.
"Sulit sekali ya mengucapkan 'minta tolong'" gumam Chanyeol. Baekhyun mendengarkan gumaman Chanyeol dan menjitak kepalanya dengan keras. Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan 'kenapa kau memukulku?'
"Kau kira aku tidak mendengar gumamanmu itu. Kalau kau tidak mau menolongku, tidak perlu menolongku. Kau kira aku menbutuhkan pertolonganmu?" Baekhyun berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia adalah orang yang tidak suka dikritik. Apa yang dilakukannya adalah kebenaran. Prinsip tersebut telah mendarah daging dalam hidupnya. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati ia juga kesal dengan tingkah laku Baekhyun yang tidak tahu terima kasih.
"Kau sering ke perpustakaan kan? Tolong katakan pada petugas perpustakaan, aku meminjam sejumlah buku. Aku mau pulang." Dengan seenaknya, Baekhyun menyuruh Chanyeol. Ia mengambil tasnya dan menaruh buku-buku tebal di dalam tasnya. Kemudian, dia melangkahkan kakinya ke pintu perpustakaan.
Ceklek..ceklek..
"Kok tidak bisa dibuka ya?" Baekhyun kembali memutar knop pintu tetapi tidak berhasil. Ia mulai panik dan berteriak histeris. Chanyeol mulai mendekati Baekhyun dan bertanya ada apa.
"Kita terkunci." Ucap Baekhyun lirih. Chanyeol mencoba memutar knop pintu sama seperti yang Baekhyun lakukan tetapi tidak berhasil. Ia melirik jamnya dan menepuk dahinya.
"Sekarang pukul 18.30. Perpustakaan dikunci jam 18.00. Aish, sial. Kenapa aku tidak memasang alarm jam 17.00? Terpaksa kita menginap disini semalam sampai besok pagi perpustakaan ini dibuka oleh satpam." Baekhyun melotot mendengar ucapan Chanyeol.
"MWOYA? KITA MENGINAP DISINI MALAM INI? BERSAMAMU?" Chanyeol mengangguk sambil menghela nafas panjang.
'Menginap disini bersama Chanyeol?'
TBC
