Bad Girl ( Chapter 5 )
Author : Bacon14
Length : Chaptered
Genre : Romance, SchoolLife, Genderswitch
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Additional Cast :
DO Kyungsoo
Xi luhan
Oh Sehun
Sinopsis :
Byun Baekhyun. Yeoja berwatak keras, dingin dan sadis. Ia bertemu dengan Park Chanyeol. Seseorang geek yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal. Bagaimanakah awal pertemuan mereka?
Happy Reading😀
Baekhyun memegang pipinya yang terasa sangat panas. Ingatannya terus berputar ke arah Chanyeol yang mencium bibirnya. Ia memindahkan tangannya ke arah bibirnya dan mengusapnya perlahan. Bibirnya mengumpat pelan. Ck.. memalukan. Semua ini salah Park Chanyeol.
"Byun Baekhyun?" Baekhyun menoleh dan terkejut dengan kedatangan seorang namja. Namja dengan tinggi di atas rata-rata, wajah campuran China-Kanada, rambut pirang, dan tampilan acak-acakan. Baekhyun menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia berusaha percaya bahwa di hadapannya ini adalah Kris.
"Kris?" Kris mendekati Baekhyun dan memeluk tubuh mungilnya dengan erat. Perasaan Baekhyun benar-benar campur aduk. Senang, terkejut, sedih, rindu, dan rasa sakit yang melebur menjadi satu. Ia tidak membalas pelukan Kris dan hanya membiarkan Kris memeluknya. Pikirannya mendadak kosong dengan segala hal mengejutkan yang terjadi hari ini.
"Aku merindukanmu, Baek." Baekhyun tidak berucap apa-apa. Lidahnya benar-benar kelu. Luka yang sempat dibuat Kris dahulu terbuka perlahan. Setelah beberapa saat, Baekhyun tersadar dan menjauhkan tubuh Kris darinya. Matanya menatap benci Kris.
"Untuk apa kau kemari lagi? Kembali kesini lalu nanti pergi lagi dariku? Pergilah..Kris. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahmu. Kris yang kukenal dahulu sudah mati setelah kau meninggalkanku ke Brazil." Ucap Baekhyun dingin. Ia berusaha pergi dari Kris namun Kris terus menahannya. Tangan Kris memegang dagu Baekhyun dan memaksanya untuk menatap kedua mata Kris. Kedua bola mata Baekhyun terlihat menyedihkan. Tidak ada sinar mata Baekhyun yang ceria. Hanya ada Baekhyun yang dingin dengan penuh luka terselubung dalam kedua bola matanya.
"Kenapa kau berubah?" Baekhyun melepas paksa tangan Kris darinya. Ia menatap Kris dengan segenap kekuatan yang berhasil dikumpulkannya. Bibirnya menyeringai pelan.
"Apa urusanmu? Memang siapa dirimu hah? Kau bukanlah sahabatku lagi. Aku tidak memiliki sahabat bernama Kris. Kris sudah mati." Kris terkejut dengan ucapan Baekhyun. Baekhyun benar-benar telah berubah. Ia tidak mengenal Baekhyun di hadapannya ini. Baekhyun yang dahulu sangat ceria, childish, cerewet, dan manis. Namun kenapa sekarang semua berubah drastis? Apakah kepergian Kris menjadi salah satu faktor pengubah kepribadian Byun Baekhyun?
"Kembalilah Baek. Aku membutuhkanmu. Tolong jangan seperti ini." Baekhyun tersenyum meremehkan. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Kris dan berbisik kecil.
"Tidak akan ada Baekhyun yang tersenyum untukmu seperti dahulu. Sekarang, terimalah kenyataan bahwa aku sudah berubah total. Aku bukan seperti Baekhyun yang kau kenal dahulu. Baekhyun yang kau kenal dahulu sudah mati." Baekhyun menjauhkan tubuhnya dari Kris dan melangkah pergi. Kris menatap punggung Baekhyun yang mulai menjauh dengan tatapan sedih.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja dariku, Byun Baekhyun. Aku tidak akan kehilangan dirimu untuk kedua kalinya. Aku akan dapatkan dirimu bagaimanapun caranya." Tekad Kris.
Chanyeol merutuki tindakan bodohnya yang mencium Baekhyun tanpa ijin. Ia memukul kepalanya sendiri dengan kesal. Ia sendiri bingung mengapa dirinya mencium bibir Baekhyun. Ia hanya terbawa suasana dan ia tidak menyadari tindakan bodoh yang dirinya lakukan.
"Chanyeol! Apakah kau sudah bertemu dengan Baekhyun?" Chanyeol menganggukkan kepalanya. Luhan dan Sehun bernafas lega namun mereka langsung mencari Baekhyun di sekitar Chanyeol.
"Sekarang dia dimana?" Chanyeol mengendikkan bahunya. Luhan dengan seenak jidatnya memukul kepala Chanyeol dengan keras. Tangannya terlipat di depan dada dengan kesal.
"Ya! Harusnya kau menjaganya. Kau tahu sendiri kan seberapa liar Baekhyun kalau tidak ada yang mengawasinya. Kau kan pasangannya." Chanyeol melotot tidak terima. Dia tidak mau dianggap pasangannya Baekhyun. Ia benar-benar tidak ingin terlibat lagi dengan Baekhyun. Dekat dengan Baekhyun itu seperti malapetaka untuknya.
"Saya tidak mau berdekatan dengan Baekhyun sunbae lagi. Sudah cukup datang kesini bersamanya. Saya tidak ingin berurusan dengannya." Ucap Chanyeol berusaha untuk sopan.
"Aish.. tidak bisa begitu. Setidaknya kau harus bertanggung jawab untuk mengantarnya pulang. Sekarang kalau begini siapa yang mau bertanggungjawab hah? Aku tahu Baekhyun meminum alkohol disini dan mabuk. Kau tahu sendiri bagaimana tingkah Baekhyun kalau mabuk. Aku benar-benar meminta tolong padamu, Yeol. Ini permintaan terakhirku padamu. Tolong antarkan Baekhyun pulang!" Chanyeol menghembuskan nafasnya kesal. Ia akhirnya menyanggupi ucapan Luhan. Ucapan Luhan ada benarnya. Baekhyun kalau mabuk memang sangat mengerikan.
"Baiklah, sunbae. Saya akan mengantarkannya pulang."
Chanyeol cukup kesulitan mencari Baekhyun. Baekhyun bagaikan tenggelam dalam gemerlapnya Pesta Prom Night. Mata Chanyeol harus memicing beberapa kali untuk mencari keberadaan Baekhyun. Setelah beberapa kali berputar-putar, Chanyeol menemukan Baekhyun di pojok ruangan dengan alkohol berada di tangannya. Tidak ada yang menyadari keberadaan Baekhyun karena tempatnya jarang dilihat orang lain. Dengan berat langkah, Chanyeol mendekati Baekhyun.
"Sunbae, ayo pulang." Baekhyun melihat Chanyeol dengan sedikit memicingkan matanya. Ia terkekeh pelan dan menolak ajakan Chanyeol. Namun, Chanyeol juga tidak mau kalah. Ia menggendong Baekhyun paksa dan membawanya ke arah parkir. Baekhyun memukul-mukul dada Chanyeol dengan keras sebelum akhirnya menyerah.
"Dasar yeoja keras kepala!" Ucap Chanyeol. Chanyeol menaruh Baekhyun di samping kemudi. Ia memasangkan sabuk pengaman untuk Baekhyun. Matanya tidak sengaja melirik bibir Baekhyun. Chanyeol berdeham canggung dan mulai melajukan mobilnya. Ingatan tentang ciumannya dengan Baekhyun menghantui pikirannya.
"Sial.. kenapa aku memikirkannya." Umpat Chanyeol. Baekhyun melenguh pelan dan menyamankan posisinya. Tangan Chanyeol terulur untuk mengelus kepala Baekhyun. Wajah cantik Baekhyun terlihat berantakan.
"Yeoja malang.." Chanyeol menarik tangannya dari kepala Baekhyun dan fokus menyetir mobil. Ia ingin cepat-cepat mengakhiri hari melelahkan ini.
Chanyeol berhenti di depan apartemen Baekhyun. Baekhyun tertidur dalam gendongannya dan tidak ada niatan untuk bangun. Chanyeol tidak tega membangunkan Baekhyun tetapi kalau tidak dibangunkan mereka tidak akan bisa masuk ke dalam apartemen karena apartemen itu diberi password.
"Sunbae, bangun." Baekhyun hanya melenguh dan enggan bangun. Chanyeol menaruh Baekhyun di lantai dan mencoba membangunkannya. Ia menepuk pipi Baekhyun beberapa kali tetapi Baekhyun tetap saja tidak bangun. Benar-benar sudah mabuk berat rupanya...
"Aku telpon Luhan sunbae sajalah.." Chanyeol mengambil ponselnya dan menelepon Luhan. Beberapa kali Chanyeol menelepon Luhan namun Luhan tidak mengangkatnya. Sepertinya Luhan masih berada di pesta dan tidak mendengar suara dering telepon.
"Haduh.. ini terus bagaimana ya?" Chanyeol terus memutar otak agar bisa masuk ke apartemen Baekhyun. Ia benar-benar ingin menyelesaikan urusannya dengan Baekhyun.
"Lebih baik kubawa ke rumah dulu deh.." Chanyeol menggendong Baekhyun lagi menuju ke mobil. Ini solusi terakhir yang tercetus di otaknya.
"Sepertinya aku akan selalu berurusan dengannya." Chanyeol melirik Baekhyun sekilas dan menghembuskan nafasnya pelan.
Sinar matahari membangunkan seorang yeoja yang asyik menjelajah alam mimpinya. Mata yeoja cantik bereyeliner tersebut terbuka seiring dengan alisnya yang berkerut. Baekhyun benar-benar tidak tahu kamar siapa ini. Ia cepat-cepat memeriksa bajunya dan menghembuskan nafasnya lega. Semua pikiran negatif yang terlintas di pikirannya bisa sedikit hilang.
"Huh... beruntunglah pakaianku masih lengkap." Gumam Baekhyun. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Meninggalkan kehangatan yang sempat membelai tubuhnya. Pakaiannya masih seperti kemarin saat Prom Night. Baekhyun berkeliling kamar yang dipenuhi poster musisi terkenal. Ia benar-benar asing dengan kamar yang ia tempati saat ini. Kamar dengan nuansa putih ini berbanding terbalik dengan kamarnya yang serba hitam. Auranya juga lebih cerah dibandingkan kamarnya yang bernuansa gelap.
"Oh.. sunbae sudah bangun.." Chanyeol masuk ke dalam kamar membawa semangkuk sup yang menggugah selera. Baekhyun hampir berteriak tepat saat tangan Chanyeol membungkam bibir mungilnya. Sup yang berada di tangannya hampir saja tumpah saat menahan teriakan dari bibir Baekhyun.
"Ya! Kenapa kau disini? Jangan-jangan ini kamarmu ya?! Kau..!" Chanyeol mengangguk singkat. Baekhyun berteriak tertahan mendengar anggukan polos Chanyeol. Ia benar-benar ingin memukul, menendang, dan membunuh makhluk tinggi di hadapannya ini.
"Aku bisa jelaskan sunbae. Dengarkan dulu sebelum kau marah-marah. Kau mabuk berat kemarin. Aku membawamu ke apartemenmu tetapi.. aku tidak tahu password apartemenmu. Aku juga sudah menelepon Luhan sunbae tetapi dia tidak mengangkatnya. Aku tidak mungkin membiarkanmu tidur di mobil jadi aku membawamu ke rumahku. Aku jamin 100% kau tidak kuapa-apakan." Ucap Chanyeol sedikit takut. Baekhyun menghembuskan nafasnya. Penjelasan Chanyeol terasa nyata. Sedikit demi sedikit Baekhyun mulai mengingat kejadian saat Prom Night termasuk dengan pertemuannya dengan Kris. Pertemuan yang berujung tidak baik. Baekhyun juga ingat Chanyeol mencium bibirnya. Pipinya terasa panas saat mengingat Chanyeol mencium bibirnya dengan... err.. intens.
"Terserahlah.. antarkan aku pulang." Baekhyun berusaha berjalan tegak namun langkahnya terhuyung-huyung. Tubuhnya yang mungil berhasil ditangkap oleh Chanyeol. Sepasang mata Chanyeol bertemu dengan kedua mata Baekhyun. Hanya beberapa detik mata mereka bertemu sebelum Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol. Baekhyun berdeham canggung sambil menyembunyikan rona merah di kedua pipinya. Begitupun dengan Chanyeol yang menggaruk tengkuknya dengan kaku.
"Ehmm.. sebelum kau pergi lebih baik kau makan sup buatan ibuku agar pusingmu sedikit hilang. Aku keluar dulu." Chanyeol segera keluar dari kamar. Atmosfer canggung yang tercipta benar-benar tidak mengenakkan. Baekhyun bernafas lega atas kepergian Chanyeol. Ia mengambil sup yang berada di atas meja dan mencicipi sup tersebut.
"Hm.. lumayan enak." Baekhyun duduk di tempat tidur dan mulai menghabiskan sup buatan ibu Chanyeol. Matanya 'berkeliling' melihat kamar Chanyeol. Kamar ini sederhana dengan sebuah lemari baju, meja belajar, tempat tidur, dan karpet berwarna merah maroon. Tidak banyak furniture yang ditaruh di kamar ini sehingga kamar ini terlihat lebih luas. Sebuah jendela besar mengalihkan perhatian Baekhyun. Jendela besar ini sepertinya jarang dibuka karena terhalang oleh sebuah pohon besar.
Rasa penasaran mengusik Baekhyun untuk menjelajah lebih jauh kamar Chanyeol. Baekhyun sebenarnya bukan tipe orang yang selalu ingin tahu segalanya tetapi entah kenapa ia tertarik dengan kamar Chanyeol. Sebuah bingkai foto menarik perhatian Baekhyun. Baekhyun tampak familiar dengan namja yang dirangkul Chanyeol. Sepertinya Baekhyun pernah melihatnya di suatu tempat.
"Aah.. aku ingat dia. Dia siswa yang pernah kubully itu kan? Hmm.. ada hubungan apa ya dengan Chanyeol? Jangan-jangan dia hyungnya." Gumam Baekhyun menebak-nebak. Matanya bergulir ke arah foto lain. Foto sebuah keluarga yang terlihat sangat akrab. Baekhyun menatap sendu foto keluarga tersebut. Ingatannya bergulir ke masa kecilnya yang sangat bahagia ketika eommanya masih hidup.
Baekhyun tersenyum sedih mengenang semua masa kecilnya. Masa kecilnya yang tidak akan pernah kembali. Ia berusaha menahan air mata yang berebutan turun di pipinya. Bibirnya mengulas senyum tipis, menguatkan dirinya sendiri agar tidak hanyut dalam kenangannya.
Tok..tok..tok..
"Ehmm.. sunbae sudah selesai makan?" Chanyeol menyembulkan kepalanya dengan malu-malu. Matanya menatap Baekhyun, menunggu jawaban terlontar dari bibir mungilnya. Baekhyun mengangguk. Ia menunjuk mangkuk kosong di meja.
"Lebih baik antarkan aku pulang. Pengap sekali disini dan aku tidak suka. Satu hal lagi.. aku risih mendengarmu memanggilku sunbae atau apalah itu. Heol.. aku tidak setua itu.. aku dan kau hanya beda beberapa bulan. Panggil aku Baekhyun saja atau terserahmu asal jangan ada sunbae." ucap Baekhyun dingin. Ucapannya berbanding terbalik dengan kenyataannya. Kenyataannya Baekhyun sangat nyaman berada di kamar ini. Tapi gengsi dan egonya yang tinggi membuatnya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Chanyeol. Selain itu keputusannya untuk menyuruh Chanyeol memanggilnya dengan nama aslinya cukup membuat dirinya sendiri terkejut. Baekhyun tidak mungkin menarik kata-katanya kembali karena hal itu 'melukai' image cool yang dibangunnya. Ketahuilah, hanya segelintir orang yang ia perbolehkan memanggilnya dengan sebutan nama aslinya. Biasanya mereka memanggil nona, sunbae, atau apalah itu. Baekhyun sangat risih dengan panggilan itu. Walaupun begitu Baekhyun tetap membiarkannya untuk mendukung image cool dan wibawa yang ia tekankan selama ini. Satu hal lagi hanya orang yang cukup dekat dengannya yang Baekhyun perbolehkan memanggil nama aslinya. Apakah ini artinya Chanyeol...? Baekhyun tidak ingin memusingkannya dan membiarkannya seakan-akan hal itu tidak akan berpengaruh pada imagenya.
"Ne, sunbae.. ah ani.. Baekhyun-ssi." Ucap Chanyeol canggung. Chanyeol masih menjaga kesopanannya dengan embel-embel -ssi. Ia bisa lihat decakan yang keluar dari bibir Baekhyun karena mendengarnya memanggil namanya dengan embel-embel -ssi. Baekhyun keluar kamar dengan langkah anggun diikuti Chanyeol yang mengekor di belakangnya. Seperti seorang putri yang diikuti seorang pelayan pribadi.
"Silahkan naik, Baekhyun-ssi." Baekhyun masuk ke dalam mobil setelah pintunya dibukakan Chanyeol. Chanyeol berlari-lari kecil ke arah kemudi. Ia melirik sekilas Baekhyun yang memilih melihat jendela luar dengan sikap acuh tak acuh. Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan sebelum melajukan mobilnya.
"Kita sudah sampai, Baekhyun-ssi." Baekhyun mengangguk dan segera keluar dari mobil. Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan sikap Baekhyun. Ia yang belum lama ini 'dekat' dengan Baekhyun mulai terbiasa dengan sikap Baekhyun yang acuh tak acuh dengan sekitarnya. Mengucapkan terima kasih saja sulit sekali untuknya. Sepertinya mengucapkan 'terima kasih' bagai menelan pil beracun.
Baekhyun menekan beberapa digit password dan langsung masuk ke apartemen. Apartemen ini berantakan sekali karena Shin ahjumma pulang kampung. Ia menjatuhkan dirinya ke sofa terdekat. Kepalanya masih sedikit pusing. Matanya menatap langit-langit apartemen yang berwarna hitam dengan tenang. Apartemen dengan nuansa gelap yang sengaja dirancang Baekhyun setelah kematian eommanya, membuat dirinya betah berada di apartemen ini.
"Ponselku dimana ya?" Baekhyun merogoh tasnya di samping tubuhnya. Banyak sekali pesan dari Luhan dan Kyungsoo yang tidak dibalasnya. Ia menaruh kembali ponselnya, tak mempedulikan pesan kekhawatiran mereka.
"Ini jam berapa ya? Apa aku masuk sekolah saja ya? Aku bosan sekali.." Jam menunjukkan pukul 6, lebih dari cukup untuk siap-siap ke sekolah. Baekhyun mengambil seragam dan masuk ke kamar mandi.
Baekhyun telah rapi dengan seragam sekolah. Ia mengambil kunci mobil dari tasnya dan melangkah keluar apartemen. Tanpa ia ketahui, seseorang mengamati setiap gerak gerik Baekhyun.
"Sudah berapa hari ya aku bolos sekolah?" Baekhyun mengendikkan bahunya tidak peduli. Walaupun ia bolos satu tahun pun dia tetap naik kelas. Baekhyun bukan anak yang sangat bodoh di kelas. Ia cukup berprestasi. Sayangnya, ia lebih sering bolos daripada masuk sekolah. Ia langsung tancap gas ke sekolah.
Seorang namja dengan masker hitam di wajahnya membuntuti Baekhyun diam-diam. Bibirnya tersenyum dari balik maskernya. Sebuah rencana jahat terlintas di kepalanya.
Baekhyun memarkirkan mobil mewahnya di tempar parkir. Ia memasukkan kunci mobilnya ke dalam tas dan melangkah masuk sekolah. Beberapa siswa mulai membentuk suatu kelompok dan saling berbisik satu sama lain. Sesekali mereka mencuri pandang ke arah Baekhyun.
Baekhyun masuk ke kelasnya dengan anggun, mengabaikan bisikan-bisikan sinis dari siswi-siswi yang iri padanya. Ia mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Luhan.
"Ya! Kau dimana? Aku mencarimu semalam, babbo. Apakah Chanyeol mengantarkanmu pulang? Ya! Jawab dong!" Baekhyun menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia menatap malas ponselnya.
"Aku di sekolah, Luhan-ssi. Bisakah kau kecilkan volume suaramu agar telingaku tidak kehilangan fungsinya? Chanyeol mengantarku ke rumahnya..-"
"Rumah Chanyeol?! Benarkah?! Apakah dia melakukan hal yang iya-iya padamu?!" Baekhyun mendengus sebal saat ucapannya terpotong high note Luhan.
"Apa maksudmu dengan hal yang iya-iya?! Cepatlah ke sekolah! Kalau tidak, sepertinya aku akan menghancurkan yeoja-yeoja yang membicarakanku saat ini. Kau ingin aku berubah menjadi lebih baik kan? Tanganku sudah gatal ingin menjambak rambut dan wajah plastik mereka." Baekhyun melirik sinis sekumpulan yeoja yang menatapnya ngeri. Sekumpulan yeoja itu mulai menyingkir dari kelas satu persatu dengan perasaan ngeri dan ketakutan.
"Jangan lakukan itu, Byun Baekhyun! Baiklah aku ke sekolah sekarang." Pip.. Telepon dimatikan. Baekhyun menatap ponselnya yang kembali sepi. Ia menatap jendela dengan dingin. Tangannya terus mengetuk meja dengan tidak sabar.
"Aku lapar lagi sepertinya. Supnya tidak membuatku kenyang dalam waktu lama." Baekhyun memeluk perutnya yang mulai berdemo minta makan. Ia berdiri dan melangkah ke arah kantin. Sepasang mata terus mengikuti gerak-geriknya dengan bibir melengkung sinis.
"Aku akan membuatmu hancur juga Byun Baekhyun." Desisnya lirih. Matanya menatap tajam Baekhyun yang berjalan santai ke arah kantin.
"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan murid baru dari Brazil." Baekhyun meneguk ludahnya berat. Brazil?! Tidak mungkin kalau itu..
"Annyeonghaseyo.. Kris imnida. Bangamseupmida..." Kris tersenyum manis. Matanya melirik Baekhyun yang membeku di tempat duduknya. Baekhyun langsung membuang muka ketika Kris menatapnya intens.
"Baek.. itu Kris ya? Sudah lama sekali sejak dia-" Luhan menutup mulutnya ketika Baekhyun menatap matanya tajam. Luhan memang sahabat sejati Baekhyun. Ia hampir mengetahui seluk beluk kehidupan Baekhyun.
"Jangan sebut nama dia lagi. Aku muak dengannya." Ucap Baekhyun dingin. Luhan langsung menundukkan kepalanya. Sesekali ia melirik ke bangku Kris yang terus menatap Baekhyun.
"Hhh~~~ kalian berdua seperti anak kecil." Gumam Luhan.
"Baek, kita perlu bicara.." Kris menarik tangan Baekhyun dengan paksa. Semua menatap Baekhyun-Kris dengan pandangan kaget. Baekhyun berusaha memberontak namun kekuatannya tidak sebanding dengan Kris.
"Ada apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan, Kris." Baekhyun terus membuang muka saat Kris mencoba berbicara dengannya. Kris menghela nafas panjang.
"Maafkan aku telah meninggalkanmu ke Brazil. Sungguh.. semua itu sangat mendadak. Bisakah hubungan kita kembali seperti dulu? Aku merindukan Baekhyun yang ceria dan selalu membuatku tertawa. Aku mohon Baek. Sungguh aku meminta maaf padamu. Aku mencintaimu, Baek. Saat itu aku terpaksa menolakmu karena aku tidak mau menyakitimu dengan kepergianku ke Brazil. Aku juga berbohong padamu dengan mengatakan aku memiliki yeojachingu. Mohon maafkan aku, Baek. Perasaanku masih sama. Aku harap perasaanmu masih sama untukku. Maukah kau menjadi yeojachinguku?" Rentetan penjelasan dari Kris membuat perasaan Baekhyun campur aduk. Penjelasna Kris membuat kepalanya seakan meledak saat itu juga. Perasaanya terhadap Kris... sudah hilang, digantikan dengan rasa hampa yang menyiksanya.
"Mian.. aku sudah memiliki namjachingu." Entah bagaimana Baekhyun mengatakan hal itu. Ia menatap Kris dingin. Tidak ada sorot kasih yang dahulu terpancar untuk Kris.
"Siapa? Siapa yang berani merebutmu dariku?!" Ucap Kris frustasi. Baekhyun tersenyum miring. Sebuah nama terlintas di kepalanya. Kalau Kris meminta 'bukti' bahwa ia berpacaran dengannya, Baekhyun juga bisa memberikan bukti yang sangat jelas walaupun ia sendiri benar-benar mual mengingatnya.
"Park Chanyeol."
TBC
