Bad Girl ( Chapter 10 )
Author : Bacon14
Length : Chaptered
Genre : Romance, SchoolLife, Genderswitch
Disclaimer : FF ini aku share di fbku sendiri Ayu Meylianawati Santoso, pageku EXO Fanfic Indo, u/8926667/, wattpad AyuMeyliana dan blog EXO Fanfiction. So kalo ada yang pernah baca ff ini selain link" diatas itu namanya plagiat.
Main Cast :
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
Add Cast :
- Xi Luhan
- Do Kyungsoo
- Kim Taehyung
Sinopsis :
Byun Baekhyun. Yeoja berwatak keras, dingin dan sadis. Ia bertemu dengan Park Chanyeol. Seseorang geek yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal. Bagaimanakah awal pertemuan mereka?
Author Note :
Seneng banget sama respon kalian dan yang selalu nunggu ff Bad girl. Aku berharap kalian lebih mengantisipasi chapter ini karena penuh kejutan dan bikin kesel. Oh ya... Buat kalian yang punya temen banyak dan penggemar ChanBaek terutama. Bantu share ff ini ya.. Jadi banyak yang tau ni ff dan ngelike trus comment. Comment sama like dari kalian itu bikin aku semangat nulis karena menurutku banyak yang nunggu ff ini. Oh ya tinggalkan jejak lewat comment juga. Aku selalu baca comment dari kalian kok. Udah ya segitu aja. Annyeong😁
Happy Reading😁
Setelah beberapa hari, Baekhyun diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Bahkan dia memaksa untuk masuk ke sekolah. Keputusannya ditentang habis-habisan oleh Chanyeol tapi siapa sih yang bisa menghentikan keputusan Baekhyun? Chanyeol hanya mengangguk pasrah saat Baekhyun mengancam mogok bicara padanya.
"Kau boleh masuk sekolah menggunakan kursi roda. Kau tahu kakimu masih luka dan beberapa jahitan masih..." CUP. Baekhyun mengecup bibir Chanyeol dan tersenyum manis. Lagi dan lagi Chanyeol mematung terdiam dengan kecupan manis dari Baekhyun. Yah... Dia memang sering mencium Baekhyun tapi ketika Baekhyun mencium dirinya itu rasanya jantungnya akan meledak dan perutnya diaduk-aduk. Rasanya begitu membahagiakan dan menyenangkan.
"Aku baik-baik saja. Kau percaya padaku kan? Kalau aku sakit kan kau bisa menggendongku." Seulas senyum terbit di bibirnya. Baekhyun itu memang pandai merayu Chanyeol agar Chanyeol memenuhi permintaannya. Chanyeol menghembuskan nafasnya panjang. Astaga..kenapa sulit sekali mengatur Baekhyun.
"Ja.. Karena sekarang kau masih sakit, aku akan menggendongmu sampai mobil." Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun ala bridal style dan memasukkanya ke dalam mobil. Bibirnya membentuk senyum lebar setelah berhasil mengerjai Baekhyun. Siapa suruh daritadi Baekhyun selalu membantah perkataannya. Baekhyun mencebik bibirnya kesal. Perkataannya dibalik mentah-mentah oleh Chanyeol.
"Sekarang aku akan mengantarmu ke sekolah. Kalau kau banyak membantah sekarang aku akan pastikan menggendongmu sampai ke kelasmu." Baekhyun semakin mencibir perkataan Chanyeol. Ck... Lihatlah senyum lebar Chanyeol yang masih terpasang di wajah tampannya. Ah ani wajah bodohnya. Sayangnya dia adalah namjachingu Baekhyun.
"Yah terserah kau saja, Chan." Baekhyun mengambil ponselnya dan memainkan ponselnya karena bosan. Alunan musik di mobilnya tidak membantunya untuk mengusir rasa bosan. Chanyeol juga tidak berbicara apapun dan fokus menyetir. Padahal sebenarnya mobil Baekhyun dilengkapi fitur untuk menyetir secara otomatis lewat GPS yang terpasang di mobilnya.
"Chanyeol~~ aku bosan." Chanyeol melirik ke arah Baekhyun sebelum kembali melihat ke arah jalan. Ia berniat membalas perbuatan Baekhyun yang sempat mendiamkan dirinya selama 2 hari penuh karena keinginannya tidak dipenuhi. Baekhyun memanyunkan bibirnya kesal.
"Park Chanyeol." Chanyeol tetap tidak merespon rengekan dari Baekhyun. Matanya masih fokus menyetir sambil mengulas senyum tipis. Asyik juga ya mengerjai Baekhyun.
"Ck.." Baekhyun mendekatkan wajahnya dan mengecupi cuping telinga dan pipi Chanyeol secara bergantian. Karena merasa terganggu, Chanyeol menghidupkan mode otomatis mobil. Kepalanya menoleh dan mendapati tatapan puppy eyes dari Baekhyun. Sangat jarang sekali Baekhyun melakukan puppy eyes karena Baekhyun biasanya menampilkan wajah cuek dan dingin.
"Ada apa, eoh?" Chanyeol mengusap kepala Baekhyun perlahan. Matanya menatap lurus ke arah Baekhyun, menunggu bibir manisnya berkata sesuatu.
"Cium aku." Chanyeol menarik bibirnya ke atas. Oh ternyata Baekhyunnya sedang ingin dicium. Pantas saja sikapnya sangat manja. Apa ini efek dari sakitnya Baekhyun? Kalau benar ini efek sakitnya, Chanyeol sangat senang karena ia bisa mengecupi bibir manis Baekhyun sepuasnya.
"Kalau hanya itu kau tidak perlu memintanya, Baek." Chanyeol mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum Baekhyun. Dengan lihainya Chanyeol melumat bibir atas dan bawah Baekhyun secara bergantian. Tangan Baekhyun mengalung indah di belakang leher Chanyeol. Mendorong kepala Chanyeol untuk menciumnya lebih dalam. Lidah Chanyeol menelusup di sela-sela bibir Baekhyun. Memporak-porandakan seisi bibir Baekhyun.
"Hhh~ kau memang yang terbaik, Yeol." Baekhyun mengusap bibirnya perlahan setelah ciuman panjang mereka. Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dan memberinya sebuah kecupan sebagai penutup. Tangannya mengusap pipi Baekhyun dan tubuhnya semakin condong ke arah Baekhyun. Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat, menghirup aroma strawberry yang menguar dari tubuh Baekhyun.
"Kenapa kau tiba-tiba memintaku menciummu? Bukankah kau sering menolak dicium dan selalu memukul kepalaku?" Baekhyun menundukkan kepalanya. Sebenarnya alasan satu-satunya adalah ia tidak mau kehilangan Chanyeol dan Chanyeol hanya boleh melihatnya. Keposesifan? Ya. Baekhyun mengakui hal itu. Chanyeol adalah miliknya dan tidak ada orang lain yang boleh memilikinya.
"Apa ini karena Yejin yang memelukku saat di rumah sakit kemarin?" Baekhyun mengangguk kecil. Ia tidak suka Chanyeolnya dipeluk mesra seperti itu. Ia benci melihat Chanyeol juga membalas pelukan yeoja itu.
"Dia hanya temanku, Baek. Kemarin kan aku sudah menjelaskannya." Chanyeol menghembuskan nafasnya. Ia sudah berkali-kali menjelaskan kalau Yejin hanya temannya. Sayangnya Baekhyun terlanjur cemburu. Sebenarnya lucu juga melihat Baekhyun cemburu untuk pertama kalinya tapi melihat Baekhyun benar-benar serius cemburu akhirnya Chanyeol mencoba menjelaskannya.
"Tapi kau terlihat akrab dengannya. Apa kau pernah menjalin hubungan dengannya?" Uhh~ lihatlah. Pipi Baekhyun yang menggembung dan merona merah. Rasanya Chanyeol ingin mencubitnya gemas tapi Baekhyun sedang dalam mode ngambek.
"Iya. Aku pernah menjalani hubungan dengannya selama 3 bulan. Tapi astaga itu sudah masa lalu. Saat SMP, Baek." Baekhyun melotot kaget. Satu hal yang terpikirkan di otaknya adalah kenapa kemarin Chanyeol tidak menceritakannya.
"Kenapa kau tidak menceritakannya kemarin? Apa kau masih suka sama dia? Hiks... Chanyeol jahat." Chanyeol mulai panik melihat Baekhyun mulai menangis. Tangannya terus mengusap kepala Baekhyun dan mencoba menenangkannya.
"Maaf, Baek. Kemarin itu kau menangis terus. Bagaimana mungkin aku menjelaskan semuanya dan malah membuat keadaan semakin runyam? Sudahlah Baek. Sekarang aku hanya mencintaimu saja. Percayalah padaku Baek." Baekhyun menghapus air matanya kasar dan menatap lurus ke arah Chanyeol. Ia mendapati bola mata cokelat Chanyeol yang bening dan tulus. Tangan Chanyeol menghapus sisa-sisa air mata di pipi Baekhyun.
"Janji ya kau tidak akan melirik yeoja lain yang lebih cantik dari aku?" Chanyeol mengangguk pasti. Tangannya menggenggam erat tangan Baekhyun.
"Aku berjanji, Baek. Kau yang paling cantik menurutku." Baekhyun tersenyum manis dan menghadiahi sebuah kecupan manis di pipi Chanyeol.
"Jangan menggodaku terus, Baek." Chanyeol melihat ke arah Baekhyun sambil tersenyum menyeringai. Bibirnya mendekati cuping telinga Baekhyun dan mengulumnya perlahan.
"Chanyeol~"
Baekhyun keluar dari mobilnya dibantu oleh Chanyeol. Beberapa namja mulai mengerubungi mereka dan beberapa lainnya memantau dari kelas mereka. Raut wajah Baekhyun juga mulai cuek dan dingin seperti biasanya. Entah kenapa setiap bersama Chanyeol, Baekhyun bisa menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.
"Bisakah kalian membiarkan aku lewat?" ucap Baekhyun sarkatis. Beberapa namja mulai mundur perlahan. Baekhyun tahu mereka khawatir dengan keadaannya tapi tidak perlu menghalangi jalan dan membuat sesak. Chanyeol melirik raut wajah Baekhyun yang kesal.
"Tenanglah, Chagiya." Bisik Chanyeol. Baekhyun dibuat menegang sesaat dengan suara rendah Chanyeol yang mengusik telinganya. Setelah mendapat kesadarannya kembali, ia menganggukkan kepalanya. Damn it! Suara Chanyeol bisa merusak seluruh syaraf tubuhnya.
"Kajja, Baek." Dengan perlahan Chanyeol membantu Baekhyun berjalan. Sesekali ringisan lolos dari bibir Baekhyun. Kedua kakinya memang masih sakit tapi dia memaksa masuk sekolah. Padahal dokter menyarankan untuk istirahat selama 1 minggu. Yah.. Tapi siapa yang bisa mengalahkan kekeraskepalaan Baekhyun?
"Gwenchana? Apa perlu kugendong? Pipi Baekhyun memerah samar. Kenapa Chanyeol selalu menggodanya di saat yang tidak tepat seperti ini? Chanyeol menarik senyum seringai kala pipi Baekhyun memerah samar. Dengan kecepatan kilat Chanyeol mengecup bibir Baekhyun.
"Chanyeol!" desis Baekhyun samar. Beberapa penggemarnya masih mengerubungi dirinya dan Chanyeol malah melakukan hal yang tidak senonoh. Hal yang tidak senonoh tapi disukai Baekhyun.
"Kau terlalu lama, Baek. Sini aku gendong." Chanyeol langsung mengangkat tubuh Baekhyun dan berjalan masuk ke kelasnya. Sebenarnya Chanyeol dan Baekhyun itu sama-sama kelas XI. Tapi umur Chanyeol lebih muda dari Baekhyun dan Luhan karena dia mengikuti percepatan kelas. Jadi Chanyeol sempat memanggil Baekhyun 'sunbae' karena perbedaan umur itu.
Beberapa namja menjerit tertahan saat Chanyeol menggendong Baekhyun. Kau tahu fanboy Baekhyun kan? Sangat hiperaktif dan tidak bisa diam. Jadi Baekhyun hanya menelusupkan wajahnya di sela-sela blazer Chanyeol. Wajahnya terasa panas hingga ke telinganya.
"Kau harus terbiasa diperlakukan manis seperti ini, Baek." Suara rendah Chanyeol mengusik telinganya lagi, membuat sekujur tubuhnya bergetar. Chanyeol membetulkan tangannya yang menggendong Baekhyun.
'Chanyeol, kenapa kau membuat aku semakin jatuh dalam pesonamu?'
Seorang yeoja dengan kacamata berwarna coklat yang bertengger di matanya turun dengan anggun dari mobilnya. Semua namja yang tengah lalu lalang dekat parkiran langsung menengok yeoja tersebut. Yeoja bername tag Jennie Kim itu tersenyum angkuh saat beberapa namja berbisik membicarakan mobilnya.
'Sepertinya dia akan menjadi School Queen kita yang terbaru.'
'Benar..Lihatlah dia cantik dan kaya. Tidak berbeda jauh dengan Baekhyun.'
'Dan satu lagi dia sepertinya masih single. Setidaknya kita memiliki satu kesempatan untuk mendapatkan hatinya.'
'Benar katamu.. Dia cantik tapi sepertinya dia bukan asli Korea. Eropa mungkin?'
Jennie tersenyum angkuh saat mendengar beberapa percakapan pendek dari namja-namja yang melewati dirinya. Dengan anggun ia melepas kacamata coklat yang bertengger dan menaruhnya di dalam tas kecil yang dia bawa. Wajahnya memang tidak terlihat orang korea asli karena ibunya berasal dari percampuran Amerika dan Korea. Wajar saja kecantikannya berbeda dengan kecantikan orang Korea biasanya.
"Maaf... Ruang guru dimana ya?" Seorang namja dengan name tag Myungsoo sedikit menahan nafas saat melihat wajah Jennie. Jennie sangat maklum melihat wajah keheranan dari orang-orang Korea disini. Namja itu menjawab dengan tergagap dan sepertinya masih belum bernafas dengan baik pula.
"Gomawo, ehmm... Myungsoo-ssi." Namja bernama Myungsoo itu mengangguk dan membungkuk kecil pada Jennie. Jennie ikut mengangguk dan melanjutkan perjalanan kecilnya ke ruang guru. Dia benar-benar mantap pindah kemari karena mengejar cinta pertamanya, Park Chanyeol. Kalau Jennie sudah bertekad artinya semua keinginannya harus didapatkannya. Jika ia tidak mendapatkannya lewat jalan yang mudah, ia akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya.
"Park Chanyeol, I'm coming baby."
"Ayo kalian semua duduk di tempat masing-masing. Kita kedatangan murid baru." Chanyeol terlihat bosan dengan semua perkataan gurunya. Ia tidak peduli dengan murid baru yang tengah diperbincangkan sejak tadi karena kedatangannya yang menghebohkan. Bagaimana tidak dibicarakan? Murid baru itu keluar dari mobil Porsche edisi terbaru yang bahkan di Korea masih limited edition dan hanya dimiliki oleh 3 orang di Korea. Selain itu rumornya dia sangat cantik dan memiliki kecantikan yang unik. Perpaduan antara Eropa dan Asia. Satu lagi yang dibicarakan sikap sopannya pada seorang murid bernama Myungsoo yang membuatnya terkenal dan sebentar lagi masuk ke dalam School Queen.
"Silahkan masuk." Semua namja kecuali Chanyeol menahan nafasnya saat kaki jenjangnya mulai melangkah ke dalam kelas diiringi senyum cantik di wajahnya. Rambutnya yang coklat alami tertata rapi dengan sebuah pita merah polkadot sederhana menghiasi poninya. Ia menggunakan seragam yang harganya lebih tinggi dari seragam kebanyakan yang dipakai siswa lainnya. Rumornya seragam itu hanya dipakai kalangan orang kaya dan harganya mencapai 1 juta won. Di sekolah ini seragam dibedakan menjadi dua. Seragam seharga 500 ribu won yang dijahit oleh mesin dan seragam seharga 1 juta won yang dijahit oleh tangan. Kualitasnya tentu sangat berbeda karena seragam seharga 1 juta won itu sangat halus dan jahitannya rapi. Selama ini hanya Baekhyun, Luhan, Sehun, Kai, dan beberapa siswa kaya lainnya yang memakai seragam itu.
"Annyeonghaseyo... Naneun Jennie Kim imnida. Bangapta, Chinguya. Aku harap kita bisa berteman lebih baik lagi." Jennie membungkuk 90° dan memamerkan senyum manisnya. Namja-namja yang terkenal bengal dan nakal hanya melongo melihat senyum manis Jennie. Beberapa namja lainnya terus menarik nafasnya, terbius akan kecantikan Jennie.
"Sepertinya kau akan memiliki banyak teman, Jennie. Juga memiliki banyak penggemar tentunya. Silahkan duduk di samping Chanyeol. Park Chanyeol angkat tanganmu." Dengan malasnya Chanyeol mengangkat tangannya. Matanya bertubrukan dengan kedua mata coklat kehijauan Jennie. Sepertinya kedua mata itu tidak asing tapi Chanyeol tidak ingat pernah melihatnya dimana. Tapi dia tidak ambil pusing dan berdiri sejenak membiarkan Jennie masuk ke kursi di sampingnya ( mejanya nempel satu sama lain). Beberapa namja berdecak kesal karena tidak berhasil duduk bersama Jennie.
"Namamu Chanyeol kan? Ayo kita berteman baik." Chanyeol menerima uluran tangan Jennie dan memberikan senyum tipis. Ia mengingat pesan Baekhyun untuk tidak terlalu dekat dengan yeoja lain. Baekhyun itu sangat posesif akan dirinya dan dia termasuk yeoja yang egois. Jennie tersenyum tipis menanggapi tangan hangat Chanyeol yang menggenggam tangannya. Sepertinya Chanyeol tidak ingat dengan wajahnya karena Jennie mengalami pubertas yang mengubahnya sedemikian rupa.
'Ini bahkan permulaan dari semua rencanaku untuk memilikimu seutuhnya.' pikir Jennie. Jennie mengeluarkan alat tulisnya dan mendengarkan guru di depan yang tengah menjelaskan. Sesekali matanya melirik Chanyeol yang tengah menulis dengan serius. Tangannya terus memutar-mutar pulpen sambil menatap Chanyeol. Sebenarnya semua pelajaran disini sempat dipelajarinya di Amerika dan disini dia cukup mengulangnya kembali. Kedatangannya hanya untuk Chanyeol.
"Ah.. Mian.." Pulpen Jennie terpental ke lantai di samping Chanyeol. Konsentrasi yang dibangun Chanyeol buyar begitu saja. Rasanya ia ingin mengumpat tapi ia harus menjaga kesopanannya. Dengan berat hati ia mengambil pulpennya dan memberikan pulpen itu pada Jennie. Jennie sekali lagi mengucapkan terimakasih dan meminta maaf mengganggu konsentrasinya. Chanyeol mengiyakannya dengan malas-malasan. Sebenarnya alasan Chanyeol mengosongkan bangku di sebelahnya karena dia ingin fokus belajar tanpa diganggu teman sebangkunya. Entah kenapa Ji sosaengnim membiarkan dia duduk di sampingnya padahal ada beberapa bangku kosong yang bisa dia duduki dan tempatnya strategis.
"Sekali lagi aku minta maaf." Chanyeol mengangguk. Aishh.. Dia tidak bisa berkonsentrasi lagi. Ia melihat ke arah papan tanpa minat. Beberapa soal di depan tidak lagi menarik. Biasanya ia sangat tertarik dengan soal disertai rumus. Jennie melirik ke arah Chanyeol yang sepertinya tidak fokus akan pelajaran. Ia mengambil permen di sakunya dan menaruh permen itu di atas meja Chanyeol.
"Makanlah. Kau sepertinya tidak fokus." bisik Jennie. Chanyeol mengambil permen itu dan menaruhnya di saku. Jennie mengernyitkan dahinya. Mungkin dia tidak suka rasanya, pikir Jennie. Dia mengambil permen yang berbeda dari dalam sakunya dan menaruhnya di atas meja Chanyeol. Lagi dan lagi Chanyeol tidak menanggapi dan hanya memasukannya ke dalam sakunya. Seakan tidak menyerah Jennie mengambil permen yang berbeda rasa pula dan menaruhnya di atas meja Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan hah?!" Suara Chanyeol langsung menjadi pusat perhatian teman-temannya termasuk Ji sosaengnim. Chanyeol langsung membungkuk meminta maaf. Dengan raut wajah kesal ia meminta maaf dan minta pindah ke sebelah Suho. Ji sosaengnim mengijinkan dan membiarkan Chanyeol membereskan bukunya dan pindah.
"Aku minta maaf. Aku hanya berusaha mengusir kebosananmu. Maaf-"
"Jangan mencari perhatianku. Kau hanya bisa menggangguku. Apa perhatian dari orang lain tidak cukup hah? Kau terlalu serakah, Jennie-ssi." desis Chanyeol. Setelah membereskan bukunya ia pindah ke belakang bersama Suho. Lega rasanya setelah keluar dari yeoja pengganggu itu. Akhirnya dia bisa berkonsentrasi lagi.
'Cih.. Ancaman seperti itu tidak akan membuatku berhenti mengejarmu, Park Chanyeol.'
"Baekhyun.." Luhan mendekati meja Baekhyun dan duduk di depannya. Raut wajahnya terlihat menyesal dan murung. Baekhyun menoleh ke arah sahabatnya. Ia rindu dengan omelan dari temannya dan segala petuah yang terkadang tidak penting keluar dari bibirnya. Entah berapa hari ya Luhan tidak mengunjungi dirinya dan hanya mengutus Sehun menemui dirinya untuk memastikan keadaannya. Bahkan saat ia masuk ke kelas, Luhan terlihat mengacuhkan keberadaannya.
"Aku minta maaf. Aku harusnya mempertimbangkan posisimu saat itu dan tidak memintamu bercerita saat itu. Aku tahu kau merasa trauma dengan kejadian menakutkan itu. Aku minta maaf memaksamu bercerita seperti itu. Aku harusnya menunggu kau siap bercerita itu padaku. Aku-"
"Ssst~ aku memaafkanmu, Lu. Kita kan berteman baik. Dalam berteman pertengkaran itu biasa kok. Tidak perlu dipusingkan. Kau tetap teman terbaikku, Lu." Luhan beranjak dari tempat duduknya dan memeluk tubuh Baekhyun erat. Rasanya sangat melegakan saat bermaaf-maafan dengan temanmu sendiri. Berhari-hari ia khawatir dengan keadaan Baekhyun dan mengetahui keadaan Baekhyun dari Sehun. Sehun juga tidak bisa diandalkan dengan baik karena sifatnya terlalu pendiam. Jika Luhan menanyakan keadaan Baekhyun, Sehun hanya menjawab dia baik. Hanya itu saja. Tidak ada penjelasan lainnya yang membuat Luhan lebih lega.
"Baek, kau tahu ada murid baru di sekolah kita. Dia cantik sekali dan dia sekarang ada di kelas Chanyeol. Kau tahu dia menggunakan Porsche keluaran terbaru yang hanya dimiliki 3 orang di Korea. Bayangkan Baek! Sepertinya gelar School Queen kita akan bertambah satu lagi." ucap Luhan sumringah. Seperti tidak pernah terjadi pertengkaran antara mereka. Baekhyun tidak mempedulikan apapun penjelasan Luhan dan hanya mempedulikan kalau yeoja itu sekelas dengan Chanyeol. Ingatlah kalau Baekhyun itu sangat posesif dengan miliknya.
"Lu~ murid baru itu namanya siapa?" Luhan menscroll semua comment yang masuk ke SNSnya. Mencari sebuah nama yang tengah diperbincangkan satu sekolahnya.
"Namanya Jennie Kim. Sebentar dia adalah penerus Kim Company. Oh my God! Kim Company itu salah satu perusahaan terkaya di Korea. Dia adalah anak ketiga dari keluarga Kim. Ehm.. Anak ketiga? Aku tidak pernah dengar tentang anak pertama dan keduanya. Harusnya diberitakan disini." Luhan terus mencari beritanya tapi yang diberitakan hanyalah Jennie Kim. Anak pertama dan keduanya disamarkan dan sampai sekarang tidak ada yang tahu. Luhan terus membaca penghargaan yang didapatkan Jennie saat usianya masih muda. Dia berhasil menjalankan perusahaan cabang di saat umurnya baru menginjak 13 tahun. Bayangkan itu! Jennie bukan hanya cantik tapi jenius. Benar-benar yeoja idaman semua namja.
"Baek.. Kau harus menjaga Chanyeol baik-baik. Yeoja itu luar biasa cantik juga jenius. Kau tahu kan maksudku apa? Aku tidak meragukan Chanyeol tapi yah bisa saja dia berpaling kan. Jennie itu terlalu sempurna untuk seorang yeoja. Kai saja yang sudah memiliki Kyungsoo masih sering melirik-lirik yeoja lain. Tidak menutup kemungkinan kan kalau Chanyeol juga begitu." Baekhyun menggelengkan kepalanya beberapa kali. Chanyeol bukan namja yang seperti itu. Dia namja yang setia dan tetap pada pendiriannya.
"Aku percaya Chanyeol bukan namja gatal seperti Kai. Aku percaya dia kok, Lu. Kau lebih baik menjaga Sehun. Jangan sampai dia tergoda dengan murid baru itu." Luhan mendengus kesal saat ucapannya dibalik mentah-mentah oleh Baekhyun.
"Aku sangat percaya pada Sehun. Sehun bukan namja yang suka dengan yeoja seperti itu. Dia hanya menyukaiku saja." Baekhyun memutarkan bola matanya malas mendengar ocehan narsis Luhan. Rasanya senang berbaikan dengan Luhan tapi ia sekarang mengkhawatirkan Chanyeol.
"Kenapa Chanyeol tidak kesini ya? Ini kan sudah istirahat."
"Park Chanyeol bisa kesini sebentar?" Chanyeol segera membereskan bukunya dan maju ke depan menemui gurunya.
"Sepertinya kau terlalu kasar pada Jennie. Ayahnya itu salah satu yang mendanai sekolah ini. Dia sepertinya memiliki ketertarikan lebih padamu. Ajaklah berkeliling sekolah ini dan bantulah dia sebisa mungkin. Aku mengandalkanmu, Park Chanyeol." Chanyeol mengangguk pasrah. Ia benci seseorang yang menggunakan kekuasaannya untuk memaksa orang lain. Sebagai ketua kelas dia juga tidak bisa menolak permintaan gurunya karena memang kewajibannya mengajak murid baru berkeliling sekolah. Tapi jika hari ini Chanyeol mengajaknya berkeliling, ia tidak bisa menemui Baekhyun.
"Berdirilah. Aku ajak keliling sekolah. Hanya 15 menit saja. Aku sibuk." Jennie tersenyum sumringah. Dia membereskan bukunya dan menolak beberapa ajakan namja di kelasnya ke kantin. Namja-namja yang mengajak Jennie langsung mengumpat kesal dan pergi.
"Chanyeol-ssi, aku benar-benar minta maaf atas sikap lancangku tadi. Di sekolahku dulu saat pelajaran diperbolehkan memakan permen jadi aku kira peraturannya sama." Chanyeol menoleh ke arah Jennie yang tengah menunduk dan berjalan sedikit jauh di belakangnya. Ia menghela nafas dan menyamakan langkahnya dengan Jennie. Bagaimanapun Jennie belum mengenal peraturan disini dan masih menggunakan peraturan di sekolah lamanya.
"Sekolahmu dan sekolah disini berbeda. Disini tidak diperbolehkan makan saat di kelas. Kau harus tahu itu. Jadi sekarang kita berkeliling di sekitar sini dulu ya. Sekalian aku ingin menemui seseorang." ucap Chanyeol lebih lembut dari sebelumnya ( saat di kelas). Jennie mendongak dan melirik ke arah Chanyeol yang tengah tersenyum. Sebenarnya ia sudah tahu semua peraturan disini dan seluk beluk sekolah ini. Tapi ini salah satu rencananya untuk lebih dekat dengan Chanyeol.
"Apa kau ingin menemui yeojachingumu?" Chanyeol mengangguk. Ia masuk ke salah satu kelas diikuti Jennie di belakangnya. Semua namja di kelas Baekhyun langsung menoleh ke arah Jennie. Beberapa langsung mendekatinya secara frontal. Dengan lembut, Jennie menjawab satu persatu pertanyaan dari namja-namja di kelas Baekhyun. Tapi matanya tak pernah lepas dari Chanyeol dan Baekhyun.
"Apa dia Jennie huh?" Chanyeol mengangguk. Ia melihat ke arah Jennie yang tengah diajak mengobrol oleh beberapa namja. Baekhyun langsung mendengus kesal melihat wajah Jennie. Benar kata Luhan kalau Jennie memiliki paras yang cantik dan ramah.
"Kenapa kau mengajaknya kemari, Yeol? Apa kau mendekatinya terang-terangan di depanku?" Baekhyun melipat tangannya kesal. Matanya terus menatap tajam ke arah Jennie yang masih setia memamerkan senyumnya. Huh~ cari perhatian sekali dia.
"Baek jangan salah paham begitu dong. Ji sosaengnim memintaku untuk menemaninya berkeliling sekolah. Kau tahu kan aku ketua kelas? Aku tidak mau mendekatinya karena sudah ada kau." Chanyeol mengusap surai rambut Baekhyun namun langsung ditepisnya kasar.
"Oh kalau kau tidak punya aku, kau bisa mendekatinya sepuasnya begitu. Ya dekatilah sekarang dan anggap aku tidak ada. Memangnya tidak ada orang lain yang bisa mengajaknya berkeliling? Kan ada Suho wakil ketua kelas? Kenapa kau tidak minta tolong sama dia? Ck.. Kau memang mau dekat dengannya kan?" Chanyeol menghela nafas panjang atas sikap posesif Baekhyun.
"Ji sosaengnim memintaku langsung lalu bagaimana mungkin aku menolaknya, Baek? Suho tidak ada di kelas saat itu. Pilihan terakhir ya aku. Kenapa kau tidak bisa mengerti sedikit saja? Aku hanya menyukaimu saja, Baek." Baekhyun masih memanyunkan bibirnya kesal.
"Baek.. Bagaimana ya aku menjelaskannya padamu. Kau percaya aku kan? Aku tidak akan mengkhianatimu. Aku tidak suka dengan murid baru itu. Kalau perlu tanyakan ke satu kelas bagaimana sikapku padanya tadi." Baekhyun mulai penasaran dengan perlakuan Chanyeol padanya. Karena berhasil mengalihkan perhatian Baekhyun, Chanyeol tersenyum tipis.
"Tadi dia memberiku permen saat pelajaran dan yah kau tau kan aku bagaimana jika ada yang mengganggu konsentrasiku belajar? Aku membentaknya. Aku sedikit menyesal tapi itu konsekuensinya menggangguku. Bagaimana? Kau masih perlu bukti kalau aku tidak menyukainya, Baek?" Chanyeol mengambil permen di sakunya dan menaruh permen itu di atas meja Baekhyun. Melihat kesungguhan Chanyeol, Baekhyun mengulum senyum manis. Ia melihat sekelilingnya dan memberi sebuah kecupan manis di bibir Chanyeol.
"Uh~ aku tidak tau kau bisa membentak seseorang. Biasanya kau terlalu baik pada orang." Chanyeol mendekati wajah Baekhyun dan mengusap pipi putihnya yang sedikit merona.
"Karena aku memilikimu. Jadi aku tidak akan biarkan seseorang mencoba mendekatiku. Aku tahu kok dia itu tertarik padaku. Cih.. Lewat koneksinya dia minta duduk sebangku denganku dan minta ditemani berkeliling sekolah denganku juga. Aku tidak suka yeoja yang seperti itu, Baek." Baekhyun merasa bangga dengan kesetiaan yang ditunjukkan Chanyeol padanya.
"Uduhhh~ Chanyeolku sangat berani. Aku makin suka." Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol dan memberikan tatapan cemooh pada Jennie. Jennie sempat melihat tatapan mengejek dari Baekhyun saat memeluk Chanyeol. Dalam hati, ia bertekad menyingkirkan Baekhyun dan menjadikan Chanyeol miliknya.
"Aku juga makin menyukaimu, Baek. Ah.. Bagaimana kalau kita ke kantin? Aku akan menggendongmu sampai ke kantin." Baekhyun memukul lengan Chanyeol pelan. Malu atas ucapan Chanyeol yang membuatnya berada di langit ketujuh.
"Lalu bagaimana urusanmu dengan yeoja ular itu?" Baekhyun melirik Jennie yang masih dikerubungi namja-namja di kelasnya. Chanyeol ikut melihat ke arah Jennie dan mengendikkan bahunya.
"Bisa kuserahkan ke Jonghyun atau Taemin kan? Mereka sepertinya bersemangat mengajak Jennie pergi bersama. Kajja kita pergi." Chanyeol membantu Baekhyun berdiri pelan-pelan. Satu tangannya merangkul pundak Baekhyun dan satunya lagi memberi isyarat pada Jonghyun untuk mendekat.
"Jong, ajak dia berkeliling sekolah. Ajaklah Taemin juga atau siapapun lah. Aku mau menemani Baekhyun ke kantin. Kasihan Baekhyun tidak bisa pergi kemanapun okay? Nanti aku yang sampaikan ke Ji sosaengnim kalau kau yang menggantikanku. Aku mengandalkanmu." Jonghyun mengangguk dan berbisik ke Taemin serta beberapa teman lainnya. Taemin dan teman-temannya langsung tersenyum sumringah lalu berterimakasih pada Chanyeol.
"Makasih ChanBaek couple. Semoga kalian makin mesra ya. Jennie-ssi, aku akan menemanimu berkeliling. Kajja." ucap Jonghyun dengan senyuman di bibirnya. Jennie berdiri dan terlihat tidak terima. Ia menembus gerombolan namja yang mendekatinya dan langsung berjalan ke arah ChanBaek.
"Chanyeol-ssi, kenapa kau tidak mengajakku berkeliling? Ji sosaengnim kan bilang kalau kau yang-"
"Aku sudah menyerahkan tugasku pada Jonghyun kok. Kan kau berniat keliling sekolah. Dengan siapapun tidak masalah. Tidak harus aku, kan? Nanti aku yang sampaikan ke Ji sosaengnim kalau Jonghyun menggantikan tugasku. Aku mau ke kantin dulu dengan yeojachinguku. Kasihan kakinya terluka dan tidak ada yang menemaninya. Sesama yeoja kau mengerti kan?" ucap Chanyeol disertai senyum menawan. Jennie mengangguk kaku dan membiarkan ChanBaek pergi. Dia sempat melihat tatapan merendahkan dari Baekhyun.
"Bagaimana Jennie-ssi? Kita yang akan menemanimu berkeliling sekolah." Jennie langsung memasang wajah cuek dan dingin. Moodnya sangat buruk setelah dilecehkan seperti itu. Sudah cukup moodnya memburuk saat melihat Chanyeol bersama Baekhyun ditambah dengan kehadiran namja di sekitarnya yang terus mengganggu. Lalu Chanyeol mengatakan hal yang sangat melukai harga dirinya. Rasanya sikap ramah tamah yang ditunjukkannya kepada semua orang terasa percuma dan sia-sia. Ia mendorong semua namja yang menghalangi jalannya dan langsung pergi ke kelasnya sendiri. Dia seperti dihina secara tidak langsung oleh Chanyeol dan Baekhyun. Rasanya seperti dia kalah telak dari Baekhyun.
"Jika lewat jalan halus tidak bisa, aku akan lewat jalan yang kasar dan kotor untuk mendapatkanmu." batin Jennie. Tangannya mengambil ponsel dan menelepon kakaknya.
'Hm.. Ada apa adikku sayang? Bagaimana harimu?' Hanya kakaknya yang bisa mengerti keadaannya.
"Semua rencanaku gagal mendekatinya secara halus oppa. Aish... Rasanya aku ingin mencakar wajah yeojachingunya yang merendahkanku. Bisakah kau membantuku lewat jalan lain?" Di seberang sana Taehyung menaikkan bibirnya tersenyum miring.
'Aku sudah katakan padamu. Chanyeol itu namja berpendirian. Dia tidak akan melihat yeoja cantik lalu langsung berpaling begitu saja. Sudah kubilang kau langsung menggunakan jalan licik saja. Kau saja yang tidak percaya padaku.' Taehyung menyeruput kopinya perlahan lalu menghisap rokok di tangannya. Membiarkan nikotin-nikotin itu memenuhi paru-parunya dan membuatnya jauh lebih bersemangat dari sebelumnya.
"Oppa, aku ingin meminta sesuatu padamu. Kau bisa membantuku sedikit lalu aku akan melanjutkan sisanya. Otte?" Taehyung mulai tertarik dengan rencana adiknya. Dia akui adiknya sangat pintar membuat strategi baik cara licik dan kotor. Oleh karena itu sebutan cantik dan jenius sangat cocok untuknya.
'Katakan saja apa rencanamu. Kupastikan aku akan membantumu, uri dongsaeng.'
"Baek, makan yang banyak. Kau sedang dalam masa penyembuhan." Chanyeol memberikan beberapa sayuran ke atas mangkuk Baekhyun yang ditanggapi dengan bibir yang dimajukan. Baekhyun tidak suka sayur dan sejak tadi Chanyeol terus memaksanya memakan sayur.
"Aku tidak mau lagi sayurnya, Chan. Pahit. Tidak enak. Kau saja yang makan." Chanyeol melihat ke arah sekelilingnya yang terlihat sepi. Ia pindah duduk di samping Baekhyun dan memeluk pinggangnya.
"Ck.. Kau selalu mencuri kesempatan." Chanyeol tertawa lebar dan semakin mempererat pelukannya.
"Aku tahu satu cara yang membuat sayuran ini rasanya enak." Baekhyun menaikkan alisnya penasaran.
"Bagaimana ca-"
Chanyeol mengambil sayuran di mangkok Baekhyun dan mencium bibir Baekhyun. Mendorong sayur itu dari mulutnya ke mulut Baekhyun. Bahkan Baekhyun tidak sempat menutup matanya karena serangan tiba-tiba dari Chanyeol. Tapi seiring waktu ia menutup matanya dan menikmati bibir tebal Chanyeol melumat bibirnya hingga 'habis'. Bahkan Baekhyun langsung menelan sayur itu tanpa dikunyah karena lidah Chanyeol lebih menarik dari sayur pahit itu. Benar kata Chanyeol sayurnya lebih manis karena bibie Chanyeol.
"Chanyeol! Aish...nanti ada yang melihat tau!" Baekhyun menutup pipinya yang memerah hingga ke telinganya.
"Ehm.. Kantinnya sedang sepi kok jadi tidak ada yang melihat. Tempat kita juga strategis. Hehe.." Chanyeol menaikkan dua jarinya membentuk V-sign. Bibir Baekhyun seperti berkata padanya 'nikmati aku, lumat aku, masukkan lidahmu, Park Chanyeol'. Rasanya manis dan kenyal. Bagaikan candu yang melebihi opium, ekstasi, atau narkoba jenis lainnya.
"Ya! Tetap saja.. Ah sebentar.." Baekhyun mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Tangannya bergetar saat membaca pesan itu.
"Kenapa, Baek?" Chanyeol langsung merebut ponsel itu dari Baekhyun.
'Hai, Baek. Cepatlah ke rumah atau appamu dalam bahaya.' Satu pesan terkirim ke ponselnya lagi. Sebuah foto yang menampilkan appa Baekhyun tergeletak di lantai. Baekhyun langsung merebutnya lagi dari Chanyeol. Tubuhnya bergetar lebih hebat lagi.
"Appa... Appa.." Chanyeol langsung memeluk tubuh Baekhyun dan mengusap punggungnya. Satu telepon membuat pelukan antara Chanyeol dan Baekhyun terlepas. Baekhyun langsung menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Bagaimana dengan kejutanku, Baek? Apa kau suka? Lebih baik kau pulang dan kuperingatkan tanpa diantar Chanyeol. Aku sudah memesankan supir yang akan membawamu ke appamu. Aku sangat baik kan? Bersenang-senanglah dengan kejutannya, Baek." Baekhyun langsung mematikan teleponnya dan berdiri. Tanpa memerhatikan kakinya yang terluka, ia berlari ke parkiran.
"Baek lebih baik kau kuantar. Byun Baekhyun!" Chanyeol menarik lengan Baekhyun dan menatap kedua mata Baekhyun.
"Lepaskan Chanyeol! Appaku sedang dalam bahaya dan b-bajingan itu menyuruhku langsung kesana tanpamu. Sana pergilah. Aku tidak apa-apa!" Chanyeol kembali menahan lengan Baekhyun. Ia memeluk erat tubuh Baekhyun sambil menenangkannya.
"Dia hanya menjebakmu, Baek. Percayalah! Aku akan bersamamu. Kita pastikan bersama. Okay? Uljimayo." Satu pesan suara masuk ke dalam ponsel Baekhyun.
'Baekhyun-ah.. Tolong appa.' Sebuah pesan suara pendek yang membuat Baekhyun semakin histeris lagi. Ia mendorong tubuh Chanyeol dan berlari ke arah parkiran. Chanyeol langsung menangkap tubuh mungil itu dan menggendongnya hingga ke parkiran.
"Aku akan menemanimu. Jangan membantahku, Baek. Kau sedang sakit. Berhenti membuatku khawatir." Baekhyun hanya bisa menangis tersedu-sedu di pelukan Chanyeol. Walaupun hubungannya dengan appanya tidak baik tapi dia tetap appanya. Orang yang menghidupinya sejak lama.
"B-Baekhyun hiks..." Seseorang dengan tudung hitam dan topi hitam menodongkan pisau di leher Luhan. Luhan hanya bisa menangis memanggil Baekhyun. Baekhyun langsung segera turun dari gendongan Chanyeol.
"Sudah kubilang. Jangan membawa Chanyeol. Kau terlalu sulit diberitahu ya?" ucap orang itu menggunakan pengubah suara. Orang itu semakin menempelkan pisau itu ke leher Luhan. Membuat sedikit goresan di leher Luhan.
"Baiklah... Baik.. Chan.. Tolong jangan ikut aku. Tetaplah disini dan jaga Luhan. Aku baik-baik saja. Jebal, Chan." Baekhyun mendorong Chanyeol mendekat ke arah Luhan dan berjalan ke arah parkiran. Chanyeol tidak dapat berbuat banyak. Ia tidak bisa langsung menarik Luhan dari penyerang itu. Penyerang itu juga menunggu hingga Baekhyun masuk ke mobil dan keluar dari sekolah.
"Sekarang cepat serahkan Luhan! Baekhyun sudah mengikuti kemauanmu." Penyerang itu mendorong Luhan ke Chanyeol dan berlari secepat mungkin ke dalam sekolah. Chanyeol tidak dapat menangkap penyerang itu karena Luhan masih dalam pelukannya dan tampaknya sedang dalam kondisi trauma.
"Luhan sunbae tenanglah.. Aku akan mencari Sehun sunbae." Luhan mengangguk dan membawa Luhan pelan-pelan ke dalam sekolah. Kenapa penyerang itu bisa dengan mudah masuk sekolah?
"T-tapi Baekhyun bagaimana?"
"Baekhyun yeoja yang kuat. Dia pasti bisa melaluinya."
Setelah Luhan bertemu Sehun, Chanyeol segera menelepon Baekhyun. Tapi setelah beberapa kali ditelepon, Baekhyun tidak menjawabnya sama sekali. Chanyeol mulai khawatir.
"Chanyeol-ssi, ada apa? Kenapa kau terlihat khawatir?" Jennie mendekati Chanyeol dan berpura-pura bertanya. Padahal semua ini adalah rencananya.
"Pergilah. Kau membuat suasana makin runyam saja." Chanyeol berjalan menjauh tapi Jennie masih di belakang mengekori Chanyeol.
"Tidak mengerti kata pergi ya?" ucap Chanyeol sarkatis. Jennie hanya tersenyum angkuh dan menatap Chanyeol balik.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu Chanyeol. Ah tapi mungkin ini lain kali saja. Tidak terlalu penting juga untukmu. Ini mengenai Baekhyun pacarmu." Mendengar nama yeojachingunya disebut Chanyeol langsung tertarik.
"Ehm.. Tapi lebih baik kita bicara di lorong saja." Chanyeol tidak merasa curiga dan menerima ajakan Jennie.
Jennie melirik kesana kemari dan mengetahui kalau lorong cukup ramai. Jadi pasti banyak yang melihat kejadian ini dan pasti viral di SNS mereka.
"Cepat katakan ada apa dengan Baekhyun!" Jennie mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Chanyeol. Serangan yang tiba-tiba itu tidak terduga. Jennie memejamkan matanya dan melumat bibir Chanyeol walaupun hanya beberapa detik. Chanyeol langsung mendorong tubuh Jennie ke dinding. Ia melihat semua orang menatap mereka penasaran. Bahkan beberapa mengambil gambar. Jennie hanya tersenyum licik.
"Apa yang kau lakukan, Jennie?!" teriak Chanyeol.
Jennie mendekatkan dirinya dan menatap wajah Chanyeol yang lebih tinggi darinya. Ia menarik dasi Chanyeol hingga lebih dekat dengan wajahnya.
"Aku menyukaimu, Park Chanyeol. Tidakkah kau sadari itu?"
TBC
Kesel pake maksimal ya sama Jennie. Chapter yang lumayan panjang dan cukup bikin marah sama Jennie. Jadi aku bocorin sedikit ini. Rencana yang dibuat Taehyung dan Jennie itu semata biar Jennie bisa nunjukin perasaanya pada Chanyeol lewat jalan yang licik. Karena Chanyeol gak bisa dirayu lewat jalan halus. Dia minta bantuan oppanya buat ngejauhin Chanyeol dan Baekhyun. Yah tapi kalian tau kan sepsikopat apa Taehyung jadi dia gunain rencana itu juga buat bikin Baekhyun menderita.
Rencananya serem sih tapi cuman buat jauhin Chanyeol dari Baekhyun. Bagian serem-seremnya itu Taehyung yang ngambil kecuali bagian bertudung topi itu ya karena aku kasih tahu itu bukan Taehyung melainkan orang lain dan juga bukan Jennie yang menyamar. Ada pengkhianat di sekolah yang benci Baekhyun juga. That's all penjelasan yang tadi ya.
Spoiler chapter selanjutnya...
Baekhyun ngeliat dari media sosial kalau Jennie mencium Chanyeol. Dia bertengkar hebat dengan Chanyeol dan berakibat hubungan mereka sempat break. Di chapter ini juga Jennie makin ngelakuin aksi gila buat narik perhatian Chanyeol karena mengetahui hubungan ChanBaek mulai retak. Dan kalian bakal tau pengkhianat yang pake tudung topi itu di chapter ini.
Kupastiin kalian bakal kaget sama pengkhianat yang ngelakuin hal ini sama Baekhyun. Karena ini salah satu temen Baekhyun. Antara DO, Kai, dan Sehun. Dari antara 3 orang itu ada yang jadi pengkhianat dan jadi kaki tangan Taehyung mengawasi semua kegiatan Baekhyun.
Makasih yang udah baca. Gomawo~~~
