Rasanya Hinata ingin gantung diri saat ini juga, menghilangkan nyawanya dengan cepat agar bisa bertemu dengan ibunya yang sudah berada di alam baka meninggalkan semua beban hidup yang sangat berat untuk dipikul dan tak sanggup dijalani, terlebih mendengar perkataan orang-orang diluar sana mengenai dirinya, menikah dengan seorang pemuda yang masih dibawah umur. Lari dari pernikahan dan menolak, dinginnya lantai hotel rodeo sudah menanti karena tuduhan melakukan tindakan pelecehan seksual pada anak dibawah umur padahal Hinata melakukannya dalam keadaan mabuk berat.

Andai selisih umur mereka berdua bisa dibalik, Hinata yang berumur tujuh belas tahun dan Sasuke berumur dua puluh lima tahun mungkin akan beda cerita tidak akan serumit bahkan aneh seperti ini.

"Aku nyatakan kalian berdua sebagai suami istri."

~(0)-(0)~

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T posibbel M

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt/Comfort

Pair : Sasuke Uchiha X Hinata Hyuuga

(SasuHina)

~ My Young Husband ~

WARNING : AU, TYPO'S, CRACK PAIR, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR SANGAT CEPAT, DLL

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X

Rumah makan Cosplay atau Kosupure-kei inshokuten adalah rumah makan, kafe, atau izakaya bertemakan subkultur Jepang seperti anime, manga, permainan video game khususnya budaya Otaku. Pelanggan dilayani oleh pelayan yang memakai kostum seperti dikenakan dalam karakter anime dan manga. Kafe-kafe tersebut memiliki atmosfer yang berbeda dari kafe biasanya. Ditempat seperti ini biasanya, pelanggan dilayani seperti Tuan dan Nyonya di rumah sendiri.

Akatsuki kafe salah satu kafe yang mengusung tema seperti itu namun tak hanya ada pelayan wanita saja yang melayani beberapa pemuda tampan ikut melayani para pelanggan wanita. Tak heran jika Akatuski kafe cukup ramai di datangi apalagi di saat jam makan siang. Beberapa tahun lalu Akatsuki kafe dimiliki Konan namun seminggu lalu seorang pemuda datang membeli kafe dengan harga yang luar biasa tinggi.

Dan pemilik baru Akatsuki Kafe itu memiliki wajah tampan di atas rata-rata dengan kulit putih mulus tanpa noda setitik pun, hidung mancung sempurna tanpa bantuan alat bedah, tubuh tinggi tegap bak model internasional yang biasa berlenggak lenggok di atas catwalk, iris kelam seperti malam yang selalu mampu menghipnotis para gadis ketika bertatapan, bibir tipis berwarna merah nan menggoda membuat setiap gadis manapun selalu bermimpi atau berimajinasi sendiri bagaimana rasanya dicium oleh Sasuke. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan yang satu ini, begitu sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun membuat siapapun pasti akan jatuh hati walau hanya melihatnya saja. Tak hanya berparas tampan, bertubuh tinggi, dia juga terlahir dari keluarga kaya raya menambah nilai plus bagi para gadis.

Dan pemuda itu bernama Sasuke Uchiha, tujuh belas tahun, masih berstatus sebagai pelajar di Empire Gakuen. Pemuda yang belakangan ini membuat hari-hari tenang Hinata di Akatsuki Kafe berubahan menjadi seperti di Neraka karena harus melayaninya bak seorang Raja sedangkan dirinya adalah seorang budak. Hanya Sasuke saja yang harus Hinata layani tidak boleh orang lain terlebih pelanggan pria, jika berani melanggar maka hukuman disertai denda besar menanti.

Hal hasil Hinata hanya duduk diam berpangku tangan di dekat meja kasir memandangi teman-temannya bekerja, menunggu kedatangan Sasuke ke kafe sungguh kegiatan seperti ini membuat Hinata sangat bosan, kesal bercampur sedih karena tidak bisa bekerja membantu padahal saat ini kafe sedang ramai-ramainya.

Kenapa juga Hinata harus bertemu, mengenal bahkan berurusan dengan mahkluk bernama Sasuke Uchiha, si iblis kecil pembawa masalah. Andai saja malam itu Hinata tak salah menenggak minuman yang dikiranya adalah orange jus dan membuatnya harus terdampar bersama Sasuke tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Hinata perlu menjelaskan secara detil apa yang terjadi pada malam itu karena noda darah di atas sprei menjadi bukti kalau sudah terjadi sesuatu dengan mereka berdua.

Memang harus Hinata akui kalau sosok Sasuke sangat menggoda iman dan membuat siapa saja yang melihat pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama tapi tidak dengan Hinata. Apalagi setelah tahu kalau sikap Sasuke yang sombong, suka memerintah seenaknya, kurang ajar juga sok dewasa membuat Hinata sebal ingin melempar tubuhnya ke luar angkasa jauh dari bumi juga kehidupannya untuk selamanya.

Pernah terbesit keinginan untuk berhenti bekerja, mencari pekerajaan lain yang membuatnya tidak bertemu apalagi berhubungan dengan Sasuke tapi jika berhenti bekerja maka Sasuke akan memecat seluruh karyawan Akatsuki kafe tanpa terkecuali dan mengganti dengan pegawai baru, itu sama saja Hinata mencelakai teman-temannya sendiri tapi bekerja dibawah perintah Sasuke sangat tidak nyaman juga menyenangkan walau banyak gadis di luar sana rela mengantri bahkan rela melakukan apapun agar bisa dekat dengan Sasuke.

Kling~

Suara lonceng di atas pintu berbunyi menandakan ada tamu yang datang, iris bulan Hinata melirik sekilas ke arah pintu awalnya raut wajahnya terlihat biasa namun ketika mendapati yang datang bukanlah tamu biasa, matanya memandang bosan pemuda bersurai raven bermata kelam dalam balutan seragam Empire Gakuen tak ketinggalan tas punggung berwarna hitam polos yang disampirkan kesamping, dengan langkah pelan pemuda itu berjalan masuk dengan wajah agak sedikit mendongak ke atas, sekilas terlihat angkuh namun tetap saja dimata para gadis ia terlihat begitu elegan bak seorang Pangeran.

Hinata mendesah cepat karena biang masalah untuknya datang dan sudah waktunya Hinata melayani iblis kecil dalam sosok tampan bernama Sasuke Uchiha itu. Hinata menurunkan kedua kakinya, sepetu kerja miliknya menginjak lantai marmer kafe, pantatnya terasa sedikit sakit karena terus duduk lebih dari satu jam menunggu kedatangan Sasuke. Dengan langkah tergesa-gesa Hinata pergi ke dapur untuk menyiapkan kue juga minuman kesukaan Sasuke tanpa harus bertanya terlebih dahulu.

Saat masuk ke dapur, Hidan sedang sibuk memasak di depan kompor sedangkan Kakuzu asik menghias spon cake, sekilas ke dua pria dewasa ini terlihat mencolok karena penampilan mereka yang seperti preman tapi siapa sangka kalau memiliki keahlian yang tak terduga sama sekali jauh dari penampilan. Hidan sang koki di Akatsuki Kafe ternyata sangat jago memasak jenis makanan apapun karena pernah bekerja sebagai asisten koki selama dua tahun di Amerika sedangkan Kakuzu pria dewasa yang selalu memakai masker hitam untuk menutupi wajah adalah mantan pemilik toko kue sekaligus koki pastri terkenal, karena kesukaan mereka berdua pada aliran musik metal membuat penampilan keduanya seperti penyanyi metal dan tak jarang dikatai aneh bahkan pernah ada yang menyebutnya sebagai orang gila, walau dari luar terlihat menyeramkan, garang, bahkan seperti orang jahat tapi sikap, hati dan perlakuan mereka berdua sangat jauh berbeda dari pemikiran orang-orang di luar sana mungkin benar apa yang dikatakan banyak orang 'jangan pernah menilai buku hanya dari sampulnya saja' bisa saja sampulnya bagus tapi belum tentu dalamnya pun bagus begitu pula sebaliknya. Ada pepatah mengatakan 'tak kenal maka tak sayang' mungkin karena itulah banyak orang yang membenci, takut bahkan mengatai Hidan serta Kakuzu seperti itu. Tapi tidak bagi Hinata dan teman-temannya di Akatsuki kafe.

Harum bau masakan tercium jelas menyengat di hidung Hinata membuat air liurnya sedikit menetes membayangkan bagaimana rasa masakan yang sedang dibuat Hidan.

"Kakuzu-san, mana kue untuk si iblis kecil itu," Hinata berjalan menghampiri seraya mendekap nampan di dada.

"Maksudmu, Pangeranmu itu," goda Kakuzu disertai kekehan kecil.

"Pangeran dari negeri kegelapan mungkin itu yang tepat," timpal Hinata ketus.

Hidan tertawa lebar dengan masih konsetrasi dengan masakannya, "Hati-hati dengan ucapanmu manis, bisa-bisa kau di hukum karena berani mengatai bos baru kita seperti itu," kata Hidan memperingatkan.

"Aku tak takut dan tak peduli. Dia memang iblis kecil yang sangat menyebalkan," sahut Hinata dengan wajah cemberut kesal.

Kakuzu tersenyum kecil di balik maskernya, "Sudah jangan berwajah masam seperti itu. Cepat berikan kue ini, jika terlalu lama di sini nanti kau di marahi." Kakuzu memberikan sepiring kecil kue cokelat buatannya dengan ditemani segelas Macchiato.

Setelah menerimanya Hinata langsung membawanya dengan menggunakan nampan lalu keluar dari dapur. Kedu pria dewasa ini saling memandang dan melempar senyum melihat tingkah Hinata.

"Aku takut nanti dari benci menjadi cinta," gumam Hidan.

"Mungkin saja itu terjadi, tapi lucu juga jika itu terjadi mengingat sikap Hinata begitu ketus dan dingin padanya,"

"Bukankah wanita begitu pada awalnya, berpura-pura tak suka tapi kenyataan menyimpan perasaan dan itu dilakukan untuk menyembunyikan perasaannya,"

"Curhat," celetuk Kakuzu dengan diriringi kekehan kecil.

Semburat merah jambu menghiasi pipi Hidan, "Ti-tidak!" sanggah Hidan dengan nada tinggi.

Kakuzu hanya terkekeh pelan di balik maskernya dan tak melanjutkan lagi perbincangannya dengan Hidan karena jika di teruskan bisa-bisa mereka berdua bertengkar.

Lima menit berlalu.

Hinata datang membawakan pesanan Sasuke dengan ekspersi wajah tak menyenangkan.

Sementara itu Sasuke duduk menunggu di kursi khusus yang memang sengaja di sediakan hanya untuknya dan tanpa disadari sama sekali kalau para pengunjung perempuan di kafe mencuri-curi padang tapi apa peduli Sasuke karena baginya mereka tidak menarik sama sakali dan tidak bisa menarik atensinya dari sosok Hinata yang sedang berjalan tepat ke arahnya dalam balutan seragam maid bewarna hitam dengan renda-renda berwarn putih membawa nampan berisikan kue serta minuman kesukaannya.

Senyuman cerah terpatri jelas di wajah tampan Sasuke melihat Hinata berjalan ke arahnya walau dengan ekspersi wajah agak cemberut tapi menurutnya sangat manis dan menggemaskan. Dan para gadis menjerit dalam hati bahkan terpesona melihat senyuman mahal sekaligus langka dari Sasuke yang mampu membuat siapa saja pasti akan luluh, lumer hatinya jika melihatnya.

"Ini kue dan minumanmu," Hinata menaruh pelan sepiring kue cokelat dengan potongan agak besar ke atas meja disertai segelas Macchiato, minuman sejenis kopi yaitu espresso yang ditambahkan dengan sedikit susu, fungsi susu sendiri yang ditambahkan hanyalan sebagai pemberi tampilan terpisah antara warna kopi.

"Terima kasih. Duduklah, temani aku." Sasuke menepuk pelan bangku disebelahnya yang kosong.

Tanpa protes sama sekali Hinata langsung mendudukkan pantatnya diatas sofa berwarna merah marun tepat disamping Sasuke.

Ekspresi wajah Hinata sangat tidak bersahabat, terlihat ketus dan acuh tapi apa peduli Sasuke yang sedang asik menikmati kue serta minumannya. Duduk disebelah Sasuke seperti sebuah boneka, diam melihatnya menikmati hidangan tanpa mengajak bicara atau mengijinkan Hinata untuk pergi bekerja membantu teman-temannya melayani pelanggan karena pekerjaan barunya seminggu terakhir ini hanya melayani Sasuke.

Ya. Menemani bocah menyebalkan ini makan dan minum di kafe tanpa pernah menginjinkannya pergi barang sedetikpun.

Merasa bosan Hinata membuang muka, wajahnya sedikit manyum, menopang dagu melihat pemandangan di luar kafe dari balik jendela besar dan diam-diam Sasuke memperhatikan dari ujung mata, menyadari kalau sedang dipandang Hinata menoleh membuat Sasuke kaget juga malu.

"Uhuk..." Sasuke langsung terbatuk karena tersedak kue yang dimakannya.

"Makanya pelan-pelan jangan buru-buru seperti orang kelaparan saja," ledek Hinata seraya memberikan minum pada Sasuke.

"Kau pasti sengaja melakukannya'kan?" tuduh Sasuke mencoba menutupi rasa malunya.

Dahi Hinata berkerut bingung, "Melakukan apa? Dari tadi aku diam saja," Hinata membela diri dengan tuduhan Sasuke yang mengada-ada.

"Pokoknya kau salah dan jangan membantah atau mengelak." Kata Sasuke tak mau kalah.

"Terserah!" Dengus Hinata kesal karena malas berdebat.

Memutar mata bosan Hinata membelakangi tubuh Sasuke, malas melihat wajahnya yang selalu membuat Hinata kesal juga emosi dengan tingkahnya yang kadang aneh juga membuat pusing kepala hingga berdenyut-denyut. Walaupun orang-orang mengatakan Sasuke adalah pemuda tampan, menawan dan kaya raya tapi bagi Hinata pemuda itu adalah orang yang sangat menyebalkan dan paling tidak ingin dilihatnya. Bahkan teman-temannya di kafe ikutan menggoda, meledek dengan mengatakan kalau sikap Sasuke ke padanya terlihat begitu manis dan membuat iri karena terlihat seperti sepasang kekasih dimana Sasuke selalu bersikap manja, menggoda pada Hinata. Bagi Hinata sendiri sikap Sasuke tidak terlihat manis tapi sangat menjengkelkan membuat tekanan darah Hinata naik setiap harinya.

"Hinata," panggil Sasuke.

Merasa dipanggil Hinata menolehkan kepalanya ke samping, "I-y-" kedua mata Hinata melebar sempurna karena bibirnya tanpa sengaja bersentuhan dengan bibir milik Sasuke.

"Kau!" teriak Hinata marah dengan pipi merona merah malu.

Mata Hinata menatap nyalang karena merasa perbuatan Sasuke tadi sengaja dan itu sangat tidak sopan apalagi Hinata lebih tua dari Sasuke.

"Itu hukuman dariku karena berani membelakangiku." Sahut Sasuke santai tanpa merasa bersalah sama sekali.

Hinata mengepalkan kuat tangan diatas paha, wajahnya memerah menahan marah sekaligus malu.

Jika saja Sasuke bukan bos sekaligus pemilik kafe ini sudah pasti bibirnya akan Hinata cubit kuat-kuat dengan tang tak peduli nantinya akan bengkak atau kalau perlu kepalanya ia pukul dengan nampan agar otaknya kembali ke tempat asalnya, biar tidak miring lagi dan bisa bekerja dengan baik tidak berbuat kurang juga sopan pada wanita yang lebih tua. Lama-lama jika berurusan dengan Sasuke tidak baik untuk kesehatan jantung karena harus menahan amarah juga emosi.

"Lama-lama aku bisa mati berdiri." Pikir Hinata.

Sasuke kembali menikmati kue cokelat buatan Hinata, memotong kecil-kecil kue berwarna cokelat dengan selai strawberrry didalamnya lalu mengunyahnya secara perlahan didalam mulut, gerakkan Sasuke saat menikmati kue seperti seorang pria bangsawan begitu elegan dan berkelas, para gadis disekitar meja Sasuke pun terus mencuri-curi pandang ke arahnya.

Setiap harinya Hinata selalu mendapati para gadis sedang asik membicarakan Sasuke, bahkan tak jarang berteriak histeris seperti seorang fans melihat idolanya, memang semenjak Sasuke datang kafe selalu ramai khususnya para gadis SMA bahkan murid SMP datang berkunjung bukan hanya ingin menikmati makanan, minuman saja di kafe tapi tujuan utama mereka adalah melihat wajah Sasuke dari dekat. Padahal Sasuke hanya murid SMA biasa, hidupnya memang sedikit beruntung karena terlahir dari keluarga kaya juga dianugerahi paras tampan tapi dia bukan seorang idola, artis atau penyanyi terkenal padahal menyanyi tidak bisa, suaranya saja seperti kucing kejepit menurut penilaian Hinata yang beberapa hari lalu mendengarnya bernyanyi di karaoke secara live, memang wajah Sasuke tampan diatas rata-rata membuat siapa saja pasti akan langsung jatuh hati, jika saja Sasuke masuk ke salah satu agensi artis di negeri ginseng yang belakang ini selalu mengadakan audisi global diseluruh dunia, pasti saat menjadi artis bisa dipastikan kalau Sasuke akan sangat terkenal juga banyak digilai wanita dari seluruh dunia.

Dan Hinata pun akan ikut gila bukan karena jatuh hati melainkan stress meladeni sikap Sasuke yang selalu membuat darah naik, kepala pusing apalagi setelah kejadian tadi dimana dengan sengaja Sasuke menjebaknya tanpa merasa bersalah atau malu sama sekali.

"Hey, Sasuke," panggil Hinata.

"Panggil aku dengan Sasuke-kun," protes Sasuke meralat panggilan dari Hinata.

Hinata memutar mata bosan seraya menghela nafas cepat, "Sasuke-kun," panggilnya kembali.

"Hm," sahut Sasuke datar.

"Bisakah aku meminta libur besok,"

"Untuk apa?" Sasuke balik bertanya dengan masih mengunyah kue cokelat dimulutnya.

"Aku ingin pergi ke rumah sakit,"

"Apa kau hamil," celetuknya dengan eksperesi wajah curiga.

Blush~

Wajah Hinata memerah seketika dengan disertai eksperesi wajah panik, "Te-tentu saja tidak!" teriaknya malu menyangga tuduhan Sasuke yang jika orang mendengarnya bisa salah paham.

"Lalu untuk apa?" tanya Sasuke penasaran.

"Aku ingin pergi menemui teman sekolahku," jawab Hinata dengan pipi masih merona merah.

"Bukankah kalian bisa bertemu di luar tak perlu di rumah sakit,"

"Dia bekerja di salon kecantikan di rumah sakit S dan aku ingin pergi konsultasi padanya," jelas Hinata dengan nada kesal karena Sasuke tak juga mengerti.

"Kalau begitu aku akan menemanimu,"

"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri. Kau sekolah saja jangan membolos, sayang biaya sekolahmu itu sangat mahal bahkan lebih mahal dari sewa apartemenku selama satu tahun," tukasnya.

"Apa peduliku, lagi pula siapa kau berani melarangku," Sasuke menatap Hinata tajam berusaha mengintimidasi.

Hinata mendelik tak suka karena ditatap seperti itu oleh Sasuke, merasa tak mau kalah ia balik menatap Sasuke, "Kau juga siapaku sampai ingin menemaniku pergi," sahut Hinata penuh emosi tak terima dengan perkataan Sasuke barusan.

"Pemuda spesial untukmu. Lagi pula bukankah kita sudah mel-hmphh..."

Hinata langsung menutup cepat mulut Sasuke, "Jangan katakan apapun lagi."

"Hhmph..." Iris kelam Sasuke menatap tajam Hinata, memberi tanda agar bekapan dimulutnya segera dilepaskan karena sulit bernafas dan seakan mengerti Hinata melepaskan tangannya, "Biarkan aku mengatarmu besok dan..."

"Tuan muda," panggil Jugo yang tiba-tiba datang menghampiri.

Pria bertubuh besar dengan rambut berwarna oranye dalam balutan kemeja hitam berdiri membungkuk memberi hormat pada Sasuke, padahal dari ukuran tubuh serta usia pria bernama Jugo itu lebih besar dan usianya jauh lebih tua dari Sasuke tapi sikapnya sangat hormat, sopan juga takut pada Sasuke yang notabennya bagi Hinata adalah anak kecil karena masih berstatus sebagai pelajar SMA juga anak dibawah umur.

Sasuke melemparkan pandangan dingin pada Jugo karena berani menginterupsi pembicaraannya dengan Hinata apalagi saat ini mereka berdua tengah berdebat, "Maaf jika menganggu waktu anda, tapi ini sudah waktunya anda harus pergi karena ada rapat penting yang harus anda hadiri,"

"Kau pergi saja duluan, nanti aku menyusul,"

"Mohon maaf Tuan muda, tapi semua orang sedang menunggu kedatangan anda,"

Sasuke menghela nafas pendek, "Baiklah."

Senyum merekah langsung mengembang di wajah cantik Hinata saat tahu kalau Sasuke akan pulang,"YES!"Batin Hinata senang.

Hinata berteriak keras dalam hati karena sang pengganggu akhirnya pergi dan bisa bergerak bebas, tanpa perlu menemani Sasuke makan karena itu sangat membosankan juga membuang waktu.

"Kau juga ikut pulang bersamaku," kata Sasuke dengan nada memerintah.

"Tapi," wajah Hinata berubah murung.

"Jangan membantah atau kau siap menerima hukuman dariku,"

Wajah Hinata memberengut tak suka, "Iya."

"Gadis pintar. Ayo kita pulang," Sasuke mengulurkan tangannya ke arah Hinata.

Hinata terdiam kaget, iris bulannya menatap bingung tangan Sasuke yang terulur ke arahnya, Sasuke mendecih sebal lalu menarik cepat tangan Hinata membawanya keluar dari dalam kafe dimana para gadis berteriak sedih melihat pangeran mereka pergi bersama Hinata apalagi mereka berdua bergandengan tangan.

"Tunggu dulu, Sasuke-kun. Tasku belum aku ambil,"

Sasuke menghentikan langkahnya, "Ya sudah cepat ambil, aku tunggu dimobil dan jangan coba-coba membohongiku apalagi kabur," kata Sasuke memperingatkan.

"Ya."

Hinata berjalan cepat ke ruang ganti, mengambil tas selempang miliknya yang ada didalam loker lalu mengganti seragam pelayannya dengan kaos lengan panjang berwarna lavender polos dan celana jeans hitam lalu bergegas pergi karena saat ini Sasuke pasti sudah menungunya dengan wajah kesal.

Dan benar sekali dugaan Hinata, wajah Sasuke benar-benar menyeramkan seperti Dewa Oni padahal ia tak lama berganti pakaian mungkin sekitar sepuluh menitan tapi bagi Sasuke itu terasa seperti satu tahun jika memang merasa Hinata lama kenapa tidak pergi saja meninggalkannya malah masih menunggu.

"Dasar aneh dan menyebalkan." Batin Hinata.

Hinata duduk didekat jendela, jaraknya agak jauh dari Sasuke seakan-akan mereka berdua sedang marahan atau tak saling mengenal satu sama lain padahal mereka berada satu mobil bukan sedang di dalam transportasi umum, tapi bukan Sasuke namanya jika tidak bisa mencari celah juga kesempatan pada Hinata. Tanpa berkata apa-apa, Sasuke langsung menaruh kepalanya diatas paha Hinata dan seperti dugaannya tak lama teriakkan protes juga kaget meluncur dari bibir Hinata.

"Diam dan jangan berisik! Biarkan aku tidur sebentar sampai depan rumahmu." Kata Sasuke dingin.

Dan diam-diam Jugo melihat dari kaca kecil didalam mobil, senyuman kecil mengembang diwajahnya melihat sikap manja sang Tuan muda yang belum pernah dilihatnya sama sekali saat berada di rumah bahkan dengan pulasnya tertidur dipangkuan Hinata menandakan kalau Hinata sangat dipercaya sebuah hal yang sangat jarang terjadi.

~(0)-(0)~

DOR

DOR

DOR

Ketukan keras sebanyak tiga kali di depan pintu masuk apartemen kecil Hinata terdengar jelas di telinga membuat waktu istirahatnya di pagi hari sangat terganggu. Tak tahukan orang di luar sana yang sedang menggedor pintu rumahnya seperti penagih hutang itu kalau ia baru tidur selama beberapa jam karena penyakit insomnianya yang dialami belakangan ini.

Berusaha bangun dari tempat peraduannya, Hinata duduk menyandar sebentar menatap ke sekeliling kamar yang masih gelap karena lampu kamar mati, matahari juga belum muncul dengan mata sedikit sipit efek masih mengantuk berat tapi suara gedoran di pintu depan apartemannya benar-benar mengusik waktu tenang Hinata dan mau tak mau memaksanya harus bangun dari kasur.

Tanpa menyadari penampilannya ketika bangun tidur Hinata langsung berjalan dengan menyeret kedua kakinya yang terasa berat seperti dirantai keluar kamar menuju pintu depan, sesaat sebelum membuka pintu iris bulan Hinata melirik ke arah jam di ruang tengah yang masih menunjukkan pukul enam kurang sepuluh dan ini masih sangat pagi untuk orang datang bertamu.

Hinata memutar kunci untuk membuka pintu, lalu melongok keluar melihat siapa yang datang dan mengganggu waktu tidurnya.

"Siapa?" tanyanya dengan suara serak ciri khas orang baru bangun tidur.

"Lama sekali membuka pintunya!" omel seorang pemuda bersurai raven dalam balutan jashitam merek terkenal tak ketinggalan sepatu hitam pantofel yang mengkilap menambah penampilannya terlihat sangat elegan juga mewah.

Apa Sasuke baru pulang dari acara pesta? Atau mau pergi ke pesta?

Tapi apa peduli Hinata karena kedatangannya benar-benar membuat kaget juga terganggu dengan ulahnya yang menggedor-gedor pintu seperti penagih hutang untung saja tak ada tetangga Hinata yang berteriak marah-marah protes karena tenganggu karena ulah Sasuke.

Mata Hinata langsung terbuka dan sedikit melebar, wajahnya kaget bercampur syok mendapati pemuda yang seminggu ini selalu mengusik hari-hari tenangnya di kafe datang ke rumahnya terlebih ini masih terlalu pagi dimana sebagian orang mungkin masih tidur nyenyak begitu pula dengan Hinata jika tidak diganggu.

"Kau?!" seru Hinata kaget tak percaya mendapati Sasuke berdiri di depan rumahnya.

Pemuda ini menyungingkan senyum dan merasa tak bersalah sama sekali, "Apa kau menggodaku dengan berpenampilan seperti itu,"

"Jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Hinata dengan nada kesal.

Jari Sasuke terangkat menunjuk lurus tepat ke arah dada Hinata, "Aku yakin kalau saat ini kau tak memakai bra juga piyamamu itu berantakan sekali bahkan aku bisa lihat dengan jelas belahan dadamu itu," jelas Sasuke seraya menyeringai.

Wajah Hinata langsung memerah seketika bahkan berasap karena saking malunya menyadari penampilannya yang begitu berantakan, menggoda dan ia lupa kalau kebiasaannya setiap malam saat tidur adalah tidak pernah memakai bra agar terhindar dari kanker payudara.

BLAM!

Hinata langsung menutup cepat pintu apartemenya karena merasa malu pada Sasuke yang sebenarnya masih bocah dan usianya jauh dibawah Hinata tapi setidaknya Sasuke adalah seorang pemuda dewasa bahkan mereka berdua juga pernah tidur bersama.

"Hey, buka pintunya!" teriak protes Sasuke menggedor pintu tak terima Hinata menutup pintu secara tiba-tiba dan perbuatannya itu sungguh tidak sopan sama sekali.

"Pu-pulanglah! I-ini masih pagi untuk bertamu," usir Hinata dengan wajah masih memerah malu.

"Buka pintunya atau aku dobrak," ancam Sasuke serius.

"A-aku akan panggil polisi jika kau berani melakukannya," teriak Hinata keras tak mau kalah.

"Apa aku harus membeli seluruh apartemen jelek dan kumuh ini agar kau mau membuka pintu dan menurut padaku!" teriak Sasuke dengan nada penuh amarah.

Hinata menghela nafas cepat, memejamkan kedua mata sesaat dan mencoba menenangkan hati yang sedang berkecambuk antara ingin marah atau mengalah dengan egonya. Dan Hinata memilih mengalah, membuka pintu apartemennya dimana Sasuke berdiri menjulang dihadapannya dengan tatapan penuh kesal begitupun dengannya yang tak kalah kesal dan sebal dengan tingkah Sasuke yang suka seenaknya itu.

"Ini masih terlalu pagi untuk bertamu, pulanglah," kata Hinata pelan mencoba mengusir secara halus.

"Tidak mau,"

Nyut~

Kepala Hinata langsung berdenyut-denyut, sepertinya tekanan darahnya mulai naik, "Mau apa kau kesini? Apa kau tahu ini baru jam enam pagi dan aku ingin beristirahat, tak bisakah kau membiarkanku tenang sedikit setidaknya di rumahku sendiri," kata Hinata geram dan penuh frustasi.

Ingin rasanya Hinata menjambak rambutnya kencang-kencang melihat tingkah laku Sasuke yang selalu menguji kesabaran.

"Aku hanya ingin sarapan pagi bersamamu, apa salah?" tanyanya dengan nada santai.

"Tidak. Tapi ini masih terlalu pagi,"

"Jam delapan aku sudah harus berada di bandara untuk pergi jadi bisakah kau mengijinkanku masuk, waktu terus berjalan dan aku tak mau menghabiskannya dengan berdebat didepan pintu seperti ini,"

Hinata menghela nafas cepat, "Masuklah, akan aku buatkan sarapan untukmu,"

"Aku ingin sarapan denganmu bukan meminta sarapan,"

"Iya." Sahut Hinata malas seraya berjalan ke arah dapur.

Sasuke berjalan dibelakang Hinata, iris kelamnya menatap ke sekeliling ruangan yang menurutnya sangat kecil, sumpek, tak ada barang mewah atau berkelas yang terpajang disini bahkan telivisi pun tak ada sungguh membosankan sekali jika berada di rumah karena tidak ada hiburan untuk dinikmati.

Sasuke duduk di atas tatami menunggu masakan Hinata matang lalu sarapan bersama, namun matanya masih asik memandang ke arah sekeliling ruangan, "Kandang kuda milikku lebih luas daripada rumahmu," katanya tanpa dosa mencela kediaman Hinata.

Empat buah sudut siku langsung muncul di dahi Hinata, "Tapi aku nyaman tinggal disini, duduklah dengan tenang jangan banyak bicara atau berkomentar apapun." Sahut Hinata kesal karena rumahnya disamakan dengan kandang kuda memang seluas apa dan seberapa banyak kuda yang dimiliki Sasuke hingga berani menghina tempat tinggalnya yang memang harus di akui sempit juga tak mewah tapi nyaman untuk ditempati.

Hinata mengambil apron bewarna biru polos yang menggantung disamping kulkas lalu memakainya, melihat ke dalam kulkas bahan makanan apa yang bisa ia buat untuk sarapan bersama Sasuke. Disaat Hinata sibuk dengan aktifitas memasaknya, Sasuke juga sibuk mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan hingga iris kelamnya menangkap sebuah figura foto berukuran sedang terpajang di atas sebuah lemari kayu dan ia sangat mengenali pria yang ada didalam foto itu.

"Kenapa dia masih menyimpan foto pria brengsek ini ." Batin Sasuke kesal bercampur cemburu.

Tanpa banyak kata dan sepengetahuan Hinata, ia langsung mengambil dan memasukkannya ke dalam jas bingkai foto yang berisikan gambar Hinata dengan Naruto yang sedang foto berdua di depan gedung sekolah saat acara kelulusan sekolah yang diambil tujuh tahun lalu ke dalam tempat sampah karena merasa tak ada gunanya lagi Hinata masih menyimpan foto pria brengsek, bodoh itu karena sudah mencampakkan Hinata demi bisa bersama Sakura sahabat baiknya sendiri. Jika bertanya darimana Sasuke bisa mengetahui banyak hal mengenai Hinata itu adalah rahasianya tapi tak ada hal yang tak diketahui Sasuke mengenai Hinata karena jika ia sudah menginginkan sesuatu harus didapatkannya dan jika sudah didapatkan tak akan pernah dilepaskan sama sekali.

Hampir dua puluh menit Hinata berkutat di dapur memasak, dan masakan yang tadi dimasaknya sudah matang.

"Apa ini?" tanya Sasuke bingung menatap piring pemberian Hinata berisikan sarapan untuknya.

"Omurice. Cepat makan sebelum dingin dan jangan banyak tanya atau protes jika tak mau jangan dimakan." Sahut Hinata ketus.

Tanpa bertanya kembali, Sasuke mengambil sendok lalu memasukan satu suapan penuh kedalam mulut awalnya merasa agak ragu untuk memakannya tapi ini adalah masakan Hinata pasti akan terasa enak juga istimewa di lidahnya.

Mengunyah perlahan makanan di mulutnya dengan raut wajah sedikit aneh tapi tak lama wajahnya berubah senang karena rasa masakan Hinata seperti dugaannya, "Enak!" seru Sasuke.

"Kalau begitu habiskan,"

"Hm."

Andai Hinata tahu kalau ini adalah kali pertamanya Sasuke makan masakan rumahan Jepang seperti Omurice karena sejak kecil ia tinggal di luar negeri dan baru tiga tahun terakhir ini pulang untuk memenuhi tugasnya sebagai penurus Uchiha mengambil alih seluruh tanggung jawab sebagai kepala keluarga Uchiha generasi ke delapan.

"Terima kasih atas hidangannya,"

"Sama-sama. Lain kali jika kau ingin datang beritahu aku dulu jangan mendadak seperti ini bahkan hampir membuat keributan untung saja tak ada satu pun tetangga yang keluar marah-marah," kata Hinata seraya merapihkan piring kotor di atas meja.

"Maaf. Kedatanganku pagi ini bukan hanya ingin sarapan bersama denganmu tapi juga memberitahu padamu kalau dua minggu ini aku akan pergi ke luar kota,"

Dahi Hinata menyeringit penasaran, "Bagaiamana dengan sekolahmu?"

"Sekolah itu milik keluargaku, bukan hal sulit untuk ijin sekolah selama dua minggu. Aku harus segera pergi ke bandara agar tidak ketinggalan penerbangan pertama," Sasuke bergegas beranjak dari duduknya.

Hinata buru-buru membersihkan tangannya lalu berjalan menghampiri Sasuke ke pintu depan, "Aku pergi," pamit Sasuke.

"Hati-hati di jalan semoga urusanmu cepat selesai," kata Hinata datar mencoba bersikap baik dan peduli pada Sasuke.

"Hanya itu saja tak lebih,"

Hinata mendelik bingung menatap Sasuke yang wajahnya agak sedikit kecewa seperti seorang anak kecil yang sedang menantikan sesuatu, "Memang aku harus apa? Menangis meraung-meraung mengiringi kepergianmu?" tanyanya ketus.

Tanpa berkata apa-apa Sasuke menarik tenguk Hinata, bibirnya bersentuhan dengan bibir Hinata selama beberapa detik.

"Kau lupa memberikan ciuman perpisahan padaku. Aku pergi dulu, nanti aku akan menghubungimu." Kata Sasuke seraya beranjak pergi meninggalkan apartemen Hinata dengan melambaikan tangan.

Blush~

Wajah Hinata langsung merona merah seketika, lagi-lagi Sasuke menciumnya tanpa seijinnya.

"SASUKE!" geram Hinata.

.

.

.

.

.

.

DRAP!

Hinata berlari secepatnya ke arah kamar mandi, satu tempat yang ditujunya adalah closet. Ada sesuatu yang melesak ingin keluar dari mulutnya, saat ini perutnya terasa diaduk-aduk sesuatu membuatnya sangat mual.

"Uekh..." Hinata memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya berupa cairan kental berwarna kekuningan karena perutnya belum terisi apapun sejak semalam.

"Uekh..." Hinata muntah kembali.

Dan itu dilakukan Hinata sampai beberapa kali bahkan tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, untung saja jarak kamar mandinya berdekatan dengan kamar jadinya tidak perlu berjalan teralu jauh. Membasuh wajah serta mulutnya, Hinata menatap pantulan dirinya didalam cermin. Kantung mata menghitam seperti panda, wajah pucat seperti orang sakit tifus, pipi gembil bak bakpau juga rambut indigonya berantakan seperti habis terkena angin kencang tapi nyatnya ia baru bangun tidur setelah beberapa jam tertidur dan satu kata yang bisa Hinata katakan melihat pantulan dirinya didalam cermin, jelek dan tak menarik sama sekali. Pantas saja jika Naruto meninggalkannya, lebih memilih bersama Sakura yang terkenal berwajah cantik, pintar, bahkan bekerja sebagai dokter dirumah sakit. Hinata tersenyum miris mendapati fakta dan kenyataan karena merasa mereka berdua memang sebanding juga pantas bersama.

"Haah~" menghela nafas cepat, Hinata mematikan keran air lalu menarik handuk kecil berwarna putih yang tergantung disamping wastafel.

Mengelap wajahnya agar kering dan setelahnya menaruh haduk itu kedalam keranjang pakaian kotor lalu keluar kamar mandi dengan langkah terhuyung seperti sedang terkena gempa. Tubuh Hinata lemas tak bertenaga, kepalanya pusing dan perutnya masih terasa mual seperti mau muntah kembali. Apa ini efek dari stress dan insomnianya belakang ini. Mengganti piyama tidurnya dengan kaos, bagaimana pun hari ini ia harus pergi bekerja membantu Hidan di dapur mengingat Sasuke sedang pergi entah kemana selama dua minggu dan hari-harinya di kafe terasa lebih menyenangkan karena bisa bekerja membantu Hidan sekaligus menambah keahlian masaknya dengan meminta diajarkan resep masakan terbaru.

Saat Hinata datang kafe belum buka, tapi Deidara dan Sasori tengah sibuk membersihkan kafe.

"Selamat pagi semuanya," sapa Hinata.

"Selamat pagi juga, Nyonya bos," balas Deidara dengan nada menggoda.

"Hentikan panggilan itu! Aku benci mendengarnya," protes Hinata kesal pada Deidara yang hanya dibalas cengiran.

Hinata membantu membersihkan kafe dengan mengelap kaca jendela dibantu Sasori yang meninggalkan Deidara mengepel lantai seorang diri.

Pemuda tampan bersurai merah ini memperhatikan wajah Hinata yang sedikit agak pucat, "Apa kau sedang sakit Hinata?" tanyanya cemas.

"Tidak. Aku hanya sedikit pusing dan mual saja,"

"Mungkin kau masuk angin. Duduklah jangan banyak bergerak, biar aku saja yang mengerjakan tugas ini,"

"Terima kasih. Tapi aku masih kuat,"

Sasori menarik tubuh Hinata menjauh dari jendela lalu mendudukkan tubuh Hinata diatas kursi meminta untuk tidak melakukan apapun karena ia benar-benar cemas melihat wajah Hinata yang pucat tidak seperti biasanya, "Jadilah anak manis. Diam dan jangan melakukan apapun, aku tak mau terjadi apa-apa padamu,"

Hinata tersenyum manis mendengarnya, "Terima kasih Sasori-kun, kau sangat baik,"

"Sama-sama." Sahutnya seraya tersenyum.

Hinata benar-benar merasa berterima kasih pada Sasori karena sangat mengerti keadaannya pagi ini, ia memang tidak kuat berdiri karena pusing yang mendera ditambah perutnya benar-benar mual. Apa karena sering telat makan siang Hinata jadi mengalami maag mungkin saat pulang dari kafe ia akan mampir ke apotik untuk membeli obat. Hinata duduk melihat Sasori bekerja membersihkan jendela kafe dan sesekali Sasori menggodanya dengan di akhiri tawa lebar dari Hinata membuat seorang gadis bersurai cokelat pendek merasa sangat iri bahkan cemburu melihat kedekatan mereka berdua.

"Kenapa kau malah berdiri disini Matsuri," omel Hidan mendapati gadis bernama Matsuri malah berdiri diam mengamati Hinata dan Sasori dari jauh.

"Pekerjaanku sudah selesai Hidan-san,"

"Kalau begitu bantu aku siap-siap di dapur,"

"Bukankah ada Kakuzu-san disana,"

Hidan menatap tajam Matsuri, "Baiklah. Aku akan membantu di dapur," ucap Matsuri lesu.

"Gadis pintar. Ayo ikut aku ke dapur." Hidan menarik tangan Matsuri untuk ke dapur.

Sekilas Matsuri menatap sedih ke arah Sasori yang tersenyum lebar di samping Hinata sebuah ekspresi langka.

Kafe buka seperti biasanya dan Hinata bekerja membantu teman-temannya melayani tapi hanya pelanggan perempuan tidak boleh laki-laki karena Konan sudah memberikan larangan itupun atas perintah dari Sasuke pastinya.

"Hinata aku punya dua tiket konser Laruku, apa kau mau menemaniku pergi," ajak Sasori dengan penuh harap Hinata mau ikut pergi menemani.

"Wah! Kapan?" tanya Hinata antusia karena salah satu penggemar dari band legendaris itu.

"Tanggal dua puluh enam nanti, sabtu besok jam enam sore di Tokyo Dome,"

Deg'

Jantung Hinata tiba-tiba berdegup kencang karena baru menyadari kalau ini sudah hampir akhir bulan, seharusnya tamu bulanannya datang tapi ini sudah lewat dua minggu. Perasaan Hinata langsung tak enak, karena selama ini tak pernah terlambat datang bulan terlebih gejala yang dialaminya seminggu belakangan ini seperti gejala orang hamil membuat rasa takut tiba-tiba menghinggapi hati.

Sasori melirik cemas karena Hinata tiba-tiba saja diam seperti tengah berpikir keras memikirkan sesuatu, "Hinata," panggil Sasori.

"Ekh...I-iya Sasori-kun,"

"Apa kau ada masalah?"

"Ti-tidak. A-aku hanya merasa sedikit pusing saja, maaf,"

"Sebaiknya kau pulang dan berisitirahat, aku akan bilang pada Konan-san untuk meminta ijin pulang,"

"Tidak perlu, terima kasih Sasori-kun tapi aku masih kuat untuk bekerja,"

"Tapi jika kau merasa pusing dan tak kuat jangan dipaksakan, duduk beristirahat saja," kata Sasori cemas dan khawatir.

"Ya. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,"

Sasori mengacak-acak pelan puncak kepala Hinata, "Sama-sama."

Hinata tertawa kecil mendapati perlakukan manis dari Sasori yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri karena usianya memang lebih tua dari Hinata.

.

.

.

.

"Uagh~" Hinata memuntahkan seluruh makan malamnya yang baru dimakannya kurang dari satu jam lalu.

Lagi-lagi Hinata memuntahkan makananya dan ini sudah sering terjadi belakangan ingin terus di hantui perasaan takut serta cemas Hinata harus memastikannya sendiri apakah dirinya hamil atau tidak mengingat hanya satu kali mereka melakukannya itupun tanpa sadar.

Hinata mengganti pakaian tidurnya dengan kaos berlengan panjang dengan bawahan rok hingga selutut, berjalan gontai ke apotek yang jaraknya lumayan jauh dari apartemennya dan membutuhkan waktu hingga lima belas menit jika berjalan kaki. Saat masuk ke apotek dengan ramah penjaga wanita menyambut kedatangan Hinata lalu bertanya apa yang ingin dibeli, Hinata terdiam sesaat, tampak ragu mengatakan ingin membeli testpack atau tidak tapi demi menghilangkan rasa cemas dihati Hinata meminta pada pelayan toko untuk memberikan testpack dengan hasil akurat.

"Terima kasih." Kata Hinata seraya menerima bungkusan kecil berisikan beberapa testpack yang disarankan tadi.

Menggengam erat bungkusan kecil itu, Hinata berjalan agak cepat kembali ke rumah karena hari sudah semakin malam dan kepalanya pusing bahkan badannya terasa lemas tak bertenaga sama sekali mengingat ia selalu muntah jika makan, untuk berjalan dari apotek ke apartemen saja Hinata harus mengeluarkan tenaga dan rasanya jarak dari apotek ke apartemennya seperti berkilo-kilo meter saja.

Menaiki anak tangga satu persatu dengan sedikit kepayahan bahkan nafas sedikit terngengah-ngengah seperti seorang nenek akhirnya Hinata tiba juga di lantai tiga dimana apartemennya berada, merogoh kantong roknya mengeluarkan kunci rumah lalu membukanya kemudian masuk kedalam baru juga Hinata berjalan beberapa langkah tiba-tiba kepalanya sangat pusing dan semuanya tiba-tiba menjadi gelap setelahnya Hinata tak mengetahui apa-apa hanya samar-samar mendengar suara seseorang yang berteriak cemas memanggil.

~(0)-(0)~

"Ngh~" lenguh Hinata pelan seraya membuka kedua mata perlahan menampilkan iris bulannya yang menatap sayu ke sekeliling ruangan yang di dominasi warna putih.

Hal pertama yang dilihat dari indera penglihatannya adalah seorang pemuda bersurai raven dalam balutan kemeja putih polos dengan bawahan celana hitam duduk tegap disampingnya dengan kedua tangan melipat didepan dada, iris kelamnya menatap tajam namun penuh rasa cemas sekaligus rindu.

"K-kau!" seru Hinata kaget.

Mencoba bangun tapi ditahan oleh Sasuke dan memaksanya untuk tetap berbaring, "Aku ada dimana? Dan mengapa kau disini?" tanya Hinata bingung.

"Rumah sakit. Aku menemukanmu jatuh pingsan di depan pintu apartemenmu berserta benda ini," Sasuke memperlihatkan testpack yang dibeli Hinata di apotek.

Wajah Hinata yang sudah pucat menjadi lebih pucat karena Sasuke mengetahui kalau ia sudah membeli alat tes kehamilan tapi Hinata tak boleh panik apalagi menunjukkan kecemasan, "I-itu bukan punyaku,"

"Dokter mengatakan kalau kini kau sedang mengandung tiga minggu," kata Sasuke dingin yang sukses membuat Hinata bungkam dan wajahnya dipenuhi keringat dingin sebesar biji jagung bahkan kedua tangannya ikut dingin karena syok berserta takut.

Apa yang Hinata khawatirkan juga takutkan menjadi kenyataan, dirinya benar-benar hamil dan itu adalah anak dari pemuda dihadapannya.

Menelan ludah susah payah Hinata mencoba tertawa pada Sasuke karena menganggap perkataannya tadi ada sebuah lelucon, "Bisa saja kau bercanda, Sasuke-kun,"

Iris kelam Sasuke memandang tajam Hinata, "Apa wajahku menunjukkan kalau aku sedang bercanda," katanya dingin.

"T-tidak," sahut Hinata takut.

Sasuke memandang penuh arti Hinata, "Kita menikah," katanya mengambil keputusan sepihak tanpa bertanya terlebih dahulu pada Hinata.

Wajah Hinata tercengang mendengar ajakan menikah dari mulut seorang pemuda dibawah umur yang lebih pantas disebutnya sebagai adik, "Tidak!" tolak Hinata.

Rahang Sasuke mengeras menahan amarah, disaat seperti ini masih saja Hinata bersikap keras kepala sudah jelas kalau kini sedang hamil anaknya masih saja tidak mau menerimannya memang apa kurang dirinya.

"Kau tinggal pilih, menikah denganku atau tinggal selama beberapa tahun di hotel rodeo," ancam Sasuke.

"Kau mengancamku," Hinata menatap ketus Sasuke.

"Tidak. Hanya memberi peringatan,"

"Sama saja, tapi atas dasar apa kau ingin memenjarakanku? Bukankah aku melakukannya secara tak sadar," Hinata mencoba membela diri karena tak mau disalahkan karena menurutnya ia adalah korban.

Sasuke menyeringai kecil, "Aku memiliki rekaman malam itu, kau bisa menilai sendiri apakah kau yang menjadi korban atau aku" Sasuke merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah ponsel pintar berukuran enam inci dengan layar sentuh berwarna hitam metalik, "Lihat dan setelahnya pikirkan baik-baik tawaranku," ujar Sasuke seraya memberikan ponselnya pada Hinata.

Wajah Hinata syok luar biasa melihat video di ponsel Sasuke dimana dirinya sangat nakal, genit bahkan yang menyerang Sasuke bahkan melepaskan baju adalah Hinata sendiri dan Sasuke didalam video terlihat seperti seorang pemuda tak berada, teraniaya karena diserang oleh Hinata yang seperti orang gila. Rintihan serta teriakkan penuh kenikmatan terus keluar dari mulut Hinata, tak ada rasa malu ataupun risih saat kedua tangannya meraba-raba, menyentuh bagian vital milik Sasuke tak sanggup melihatnya Hinata memberikan ponsel itu pada Sasuke.

Wajahnya memerah malu bercampur rasa bersalah karena ternyata dirinya bukanlah korban melainkan pelaku. Sepertinya mulai saat ini dan selamanya Hinata tak akan menyentuh ataupun mendekati minuman beralkohol apapun jenisnya karena bisa membawa bencana seperti ini.

Tubuh Hinata langsung lemas, wajahnya yang sudah pucat menjadi lebih pucat karena ternyata yang menjadi korban adalah Sasuke sedangkan dirinya adalah pelaku. Sungguh hancur hatinya dan sangat malu karena merasa menjadi wanita yang tidak bermoral dengan menyerang anak dibawah umur.

"Ma-maaf..." lirih Hinata yang merasa bersalah.

Sasuke meraih kedua tangan Hinata yang terasa dingin bahkan bahunya gemetar ketakutan, "Bagimu aku memang anak kecil karena usiaku jauh lebih muda darimu tapi aku bukanlah orang brengsek yang lari dari tanggung jawab, jadi ijinkan aku untuk bertanggung jawab karena ini adalah anakku. Aku berjanji akan membahagiakanmu juga anak ini jadi percayalah padaku, Hinata."

"Tapi bagaimana dengan sekolahmu, orang tuamu, keluargamu dan teman-temanmu pasti mereka semua tidak merestui pernikahan ini," kata Hinata sedih.

"Kenapa kau harus peduli pada mereka yang tak peduli padamu, lagipula aku sudah tidak memiliki orang tua sejak usiaku sepuluh tahun. Aku akan lulus tahun ini dan aku juga tak punya teman karena tak ada orang yang bisa aku percaya tapi tidak denganmu,"

Sasuke menyentuh dagu Hinata meminta untuk menatap kedua matanya, "Apa kau tak percaya kalau aku bisa membahagiakanmu dan anak kita. Aku mohon jangan tolak aku, biarkan aku menikahimu,"

Bulir-bulir air mengalir dari iris bulan Hinata dengan sendirinya, entah mengapa ia harus menangis seperti ini apakah merasa terharu dan senang mendengar perkataan Sasuke yang tak pernah di duganya sama sekali. Perkataan, perbuatan Sasuke sangat dewasa jauh dari imagenya sebagai seorang murid SMA yang menurut Hinata masih senang bermain.

Sasuke membawa Hinata ke dalam pelukkannya membiarakannya menangis di dada, tanpa mengeluarkan sepatah katapun hanya dekapan hangat dan lembut dibahu Hinata yang bisa ia lakukan untuk menyalurkan perasaan sayangnya.

"Hiiiksh..." Isak Hinata mencengkeram erat kemeja abu-abu Sasuke yang sudah basah oleh air matanya sendiri.

TBC

A/N : Mohon maaf saya baru bisa melanjutkan Fic ini dan kelanjutannya tidak sesuai harapan kalian semua#Bungkuk badan dalam-dalam.

Untuk kelanjutannya saya tidak bisa janji cepat tapi akan saya usahakan tidak menelentarkan Fic ini untuk terlalu lama.

Maaf saya tidak bisa membalas satu persatu Riview dari kalian semua. Namun saya sangat berterima kasih karena ternyata Fic ini banyak yang menyukai dan menantikan kelanjutannya.

Big Thank's :

Chiharu Kasumioji,hiru neesan,Moku-chan,Mikku hatsune,Lin Xiao Li,einselhyuri,BYE-chan,HipHipHuraHura,HimeNara-kun,Dita250,Green Oshu,Yanie Uzumaki,icaraisaa11, ,Bernadette Dei,Ukikun,mew,Hinata hime,NillaariezqysekarrSarry470,Cieluca,himechan tea,Hana Mi,yulia,Hinataholic,heira,Guest,Baenah231,Tio,budiii,lavendernai,Guest,Guest,Uchiga,NamikazeRael,Hime,VinuraOsake,Lovely sasuhina,Lc,pengagumlavender26,Ryosan,scarlet zora,uchiha wulan,Hinataholic,ameyukio2,Lala,evi,byunhime.

Terima kasih kepada siapapun yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca Fic ini dan jika berkenan tinggal jejak dan komentarnya^^

Ogami Benjiro II