Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Drama, Hurt/Comfort
Pair : Sasuke Uchiha X Hinata Hyuuga
(SasuHina)
~ My Young Husband ~
WARNING : AU, TYPO'S, CRACK PAIR, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR KADANG CEPAT DAN LAMBAT, DLL
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X
Sepatu flat berwarna hitam terpasang di kedua kaki, menggoyangkan salah satu kaki memastikan kalau sepatu yang di kenakan pas tidak kebesaran atau kesempitan mengingat kemarin Sasuke baru saja membeli sepatu baru karena ukuran kakinya bertambah dari ukuran empat puluh tiga menjadi empat puluh empat.
Kedua manik hitam sekelam malam itu melirik ke depan seraya mengulurkan tangan, "Tas ku, Hime." Pintanya dengan nada selembut mungkin pada wanita bersurai indigo panjang dalam balutan apron bergambar kelinci yang sejak tadi terus mendekap tas sekolah miliknya di depan dada.
"Hime," panggilnya lagi dengan nada sedikit tinggi berharap kata-katanya bisa terdengar.
Namun tak ada sahutan sama sekali, seolah-olah wanita yang dipanggilnya adalah patung.
Menyeringitkan dahi bingung, Sasuke memandang seksama wajah istrinya dan mendapati kalau wanita cantik itu sedang terbengong entah karena sebab apa.
Tas hitam milik Sasuke masih setia di dekap, tubuh wanita cantik ini menegang kaku, manik seindah bulan tersebut melebar sedikit menatap tampilan Sasuke dari atas sampai bawah yang terlihat tak biasa dalam balutan seragam sekolah bukan jas hitam pekerja kantoran pada umumnya. Hati wanita ini terpana sekaligus terpukul dalam satu waktu mendapati kenyataan yang begitu menohok hati kalau sosok pemuda tampan bersurai raven dengan manik sekelam malam yang berdiri tepat di hadapanya kini mengenakan pakaian seragam sekolah SMA bukan kemeja kerja atau pun jas pekerja kantoran, dimana pada umumnya setiap hari para istri akan mengantar suami mereka pergi bekerja mencari uang bukan pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu.
Adakah wanita di dunia ini mengalami kejadian aneh sekaligus luar biasa seperti ini selain Hinata?
Dimana suaminya seorang pelajar, masih duduk di bangku SMA bukan seorang pekerja kantoran ataupun anak kuliahan.
Ingin menyangkal kenyataan tapi janin di dalam perut hasil perbuatan mereka berdua malam itu walau terjadi secara tidak sengaja membuat dirinya langsung tersadar kalaus semua ini adalah nyata bukan khayalan belaka, dan pemuda di depannya kini adalah suami sekaligus ayah dari bayi di dalam kandungnya walaupun usia mereka berdua jauh terpaut delapan tahun diaman suaminya lebih muda darinya tapi sebagai seorang istri sudah seharusnya menghargai, menghormati suami.
Wanita berwajah cantik ini masih dalam posisinya sejak semenit lalu berdiri diam bak patung, ekspresi wajahnya terlihat kaget seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Dahi Sasuke menyeringit bingung, "Kau kenapa, Hime?" tanya Sasuke heran melihat sikap istrinya yang aneh pagi ini tidak seperti biasa.
"Akh~" Hinata terlonjak kaget kemudian tersenyum manis berusaha menutupi keterkejutannya sendiri sekaligus rasa malu karena bengong di depan sang suami, "Ma-maaf." Katanya malu di iringi semburat merah muda di kedua pipi.
Tangannya yang sejak tadi berada di sisi tubuhnya terangkat perlahan hendak menyentuh kening Hinata namun di tepis pelan, "Kau mau apa?" wajah Hinata merona merah disertai rasa gugup.
"Diamlah!" omel Sasuke seraya menempelkan telapak tangan di kening mengecek suhu badan Hinata apakah panas atau tidak karena sikapnya sedikit aneh.
Menepis pelan tangan Sasuke dari keningnya, "Aku tak sakit, Sasuke-kun!" jelasnya dengan ekspresi wajah sedikit cemberut.
"Aku hanya mengecek saja dan ternyata kau memang tak demam," sahut Sasuke santai.
Kedua netra hitamnya melirik curiga sekaligus penasaran, "Tapi kenapa sikapmu aneh seperti melihat hantu saja,"
"T-tidak," elak Hinata gugup.
Sasuke tersenyum miring kedua matanya menatap penuh arti, "Apa kau begitu terpesona melihat penampilanku," kata Sasuke mulai membanggakan diri.
"Percaya diri sekali," celetuk Hinata sebal seraya membuang muka ke samping malas melihat Sasuke yang sifat narsisnya mulai muncul.
Sasuke terkekeh kecil, "Memiliki sikap percaya diri itu baik dan sangat di butuhkan sebagai seorang pengusaha lagi pula aku memang sudah tampan dari lahir," sahut Sasuke membela diri seraya mencubit gemas hidung Hinata.
"Sombong sekali!" gerutu Hinata dengan mimik wajah sebal.
Tawa kecil meghias wajah tampan Sasuke, salah satu tangannya mengusap pipi kanan Hinata dengan gerakan lembut, "Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, Sai ataupun wanita berpony tail itu,"
"Namanya Ino Yamanaka!" kata Hinata memberitahu karena Sasuke selalu saja lupa nama dari kekasih sepupunya sendiri.
"Iya. Aku tahu," sahut Sasuke santai.
Mengusap puncak kepala Hinata, "Jika merasa bosan di rumah kau bisa pergi ke Akatsuki Kafe tapi bersamaku setelah pulang sekolah," kekeh Sasuke.
"Huft!" Pipi Hinata menggembung seketika dan Sasuke tersenyum senang malihat sikap istrinya yang manis sekaligus menggemaskan saat sedang marah.
"Wajahmu masih tetap cantik walaupun sedang marah," rayu Sasuke dan itu sukses membuat binti-bintik rona merah menjalar di sekitar pipi Hinata.
Tangan Hinata mengepal kuat lalu mengayunkannya tepat ke pundak Sasuke dengan gerakkan cepat namun tak bertenaga, "Gombal~" cicit Hinata dengan terkikik geli.
Kedua tangan Sasuke mencubit gemas pipi gembil Hinata, "Istriku memang cantik dan tak ada duanya," pujinya membuat Hinata semakin malu.
"Aku akan menyuruh Juugo untuk mengantar dan menjagamu selama di Akatsuki kafe,"
"Untuk apa? Lagi pula disana ada..."
"Ikuti perintahku, Hime. Jangan membantah!" sela Sasuke dingin dengan nada sedikit membentak.
Wajah Hinata langsung menunduk takut, "I-iya." Cicitnya.
Mengelus puncak kepala sang istri menyalurkan perasaan sayang sekaligus maaf karena sudah bersikap kasar tadi, "Gomen,"
BRUUUK
Kedua tangan Hinata melingkar erat di tubuh Sasuke, "Hiiksh~" satu isakan kecil lolos dari bibir.
Perasaan Sasuke seketika merasa sedih sekaligus bersalah karena tanpa sadar sudah membentak Hinata yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa dengan keadaan yang terjadi terlebih perselisihan Sasuke dengan keluarga Uchiha khususnya, Madara Uchiha.
"Gomenasai." Kata Sasuke penuh sesal.
Semenjak hamil sifat dan sikap Hinata sangat berubah seratus delapan puluh derajat tidak seperti biasa atau ketika pertama kali mereka berdua bertemu dimana Hinata selalu ketus, dingin, bahkan memperlakukan Sasuke seperti anak kecil karena perbedaan umur mereka. Namun kini semuanya berbanding terbalik, dimana sosok Hinata yang dulu seakan menghilang tergantikan dengan Hinata yang cengeng, manja, serta mulai mencintai dan menerima kehadiran Sasuke.
Terkadang Sasuke merasa sangat gemas ketika melihat Hinata sedang marah atau pun merajuk meminta sesuatu seperti anak kecil, selalu mencari perhatian di saat mulai di abaikan tapi ada satu hal yang paling di benci Sasuke yaitu melihat Hinata menangis, dan kalau sudah menangis seperti ini Sasuke-lah menjadi pihak yang harus mengalah, meredam tangis Hinata dengan berbagai cara. Dari buku tentang kehamilan yang pernah Sasuke baca beberapa waktu lalu menjelaskan kalau wanita hamil pada umumnya mengalami mood swing karena ketidak stabilan hormon jadi tak heran jika sikap mereka berubah-ubah.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan air matamu," rayu Sasuke semanis mungkin membujuk istrinya agar tidak menangis lagi.
Mengangkat wajah perlahan memperlihatkan wajah sembabnya, "Jangan menangis lagi, tuan puriku yang cantik," membelai lembut pipi gembil sang istri penuh kasih seraya tersenyum kecil.
Andai saja orang lain di luar sana mendengar perkataan Sasuke saat ini pasti akan merasa kalau pemuda di hadapan Hinata saat ini bukanlah Sasuke Uchiha yang asli, dimana hanya fisik, wajahnya saja yang sama tapi sikap, sifat sangat berbanding terbalik dari sosok dari Sasuke Uchiha yang orang-orang kenal selama ini, mengingat Sasuke selalu bersikap dingin, ketus, kepada siapapun, tak pernah peduli pada apapun kecuali bisnis atau sesuatu hal yang dapat mendatangkan keuntungan bahkan tak jarang bersikap kejam kepada musuh atau para pesaing bisnisnya dan semua itu di dapatkan dari ajaran sang kakek, Madara Uchiha.
Sasuke diam menatap lembut kedua netra bulan milik sang istri begitu kontras dengan iris matanya yang sekelam malam, "Jawablah pertanyaanku tadi, sayang," rayunya dengan manis.
Rona merah menjalar di sekitar pipi gembil Hinata, denga tersenyum malu Hinata memandang balik Sasuke, "K-kisu..." suara Hinata hampir saja tak terdengar saking kecilnya tapi pendengaran Sasuke sangat baik jadi bisa mendengar permintaannya.
Walau agak sedikit kaget, tak menyangka namun tak lama Sasuke tersenyum manis, memperlihatkan sebuah ekspresi langka sekaligus jarang diperlihatkan kepada siapapun kecuali pada wanita cantik dalam dekapannya kini.
"As you wish, honey."
Menempelkan bibirnya kemudian melumatnya secara perlahan merasakan sensasi lembut, kenyal serta manis membuat sesuatu di dalam diri Sasuke bergejolak hendak terbangun dari tidur panjangnya. Bukan ciuman panas ataupun menuntut yang di lakukan Sasuke, namun itu cukup membuat tubuhnya sedikit panas seakan di rangsang sesuatu. Jika saja ini bukan pagi hari dan Sasuke harus pergi sekolah sudah pasti ia akan menggendong Hinata ke kamar tak memperdulikan jeritan protes dari Hinata.
"Hhmpph..." erang Hinata pelan.
Salah satu tangan Hinata mencengkeram erat lengan Sasuke, menikmati ciuman yang terasa begitu memabukkan serta manis bagaikan permen.
Satu menit berlalu, Sasuke melepaskan pagutannya, "Lanjutannya, nanti malam saja," bisik Sasuke seduktif membuat wajah Hinata langsung merah padam bahkan sampai mengeluarkan asap.
"Hentai!" pekik Hinata sebal.
"Hahaha..." Sasuke tertawa senang.
Hinata memukul pelan pundak Sasuke menggunakan kedua tangan mengekspresikan kekesalan sekaligus rasa malu.
"Jika terus disini nanti aku bisa terlambat sekolah,"
Hinata berhenti memukuli, wajahnya berubah panik karena baru sadar kalau Sasuke harus pergi sekolah, "Kalau begitu cepat sana pergi, ini tasmu!" Hinata memberikan cepat tas sekolah Sasuke.
Mengecup singkap bibir sang istri, "Aku pergi, Honey. Love you, bye." Ujar Sasuke seraya berjalan keluar dari apartemen dimana mobil pribadinya serta Jugo sudah menunggu sejak tadi.
"Hati-hati di jalan." Kata Hinata seraya melambaikan tangan.
Setelah pintu apartemen tertutup rapat, Hinata masih berdiri di depan pintu menatap datar pintu berwarna cokelat muda tersebut.
"Aaah~" menghela nafas pelan seakan melepaskan beban di pundak.
Wanita cantik berhamkota Lavender ini tersenyum sesaat memikirkan kembali sosok Sasuke, ada sebuah perasaan sedih dan tak rela melihat Sasuke pergi meninggalkannya sendirian di rumah yang menurutnya sangat luas untuk mereka berdua tempati walau nantinya akan bertambah dengan kelahiran anak mereka berdua beberapa bulan lagi.
"Sekarang hanya tinggal kau dan ibu saja." Gumam Hinata mengelus lembut perutnya yang terbalut apron.
Tugas Hinata sebagai seorang istri belum usai, masih ada pekerjaan rumah yang harus di kerjakan walau Sasuke sendiri sudah mempekerjakan orang untuk membantu mengurus rumah tapi tetap saja untuk urusan memasak, menyiapkan bekal serta merapihkan kamar mereka berdua harus Hinata yang melakukan walau hal itu membuat keduanya sempat berdebat kecil.
Sasuke sangat memanjakan Hinata, menjaganya dengan baik sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, walau usianya bisa dikatakan lebih muda karena masih berusia belasan tahun dimana pada umumnya anak seusia itu masih suka bermain, bersenang-senang menikmati masa muda belum bisa berkomitmen untuk menjalankan sebuah hubungan serius seperti menikah apalagi sampai memiliki anak.
Hinata benar-benar merasa beruntung sekaligus berterima kasih kepada Tuhan karena setelah di tinggal kekasih dirinya di pertemukan dengan Sasuke, sosok yang luar biasa.
Beberapa tahun lalu Hidan pernah berkata kalau Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Dan, kini Hinata mengerti serta memahami perkataan dari pria pemuja dewa Jashin tersebut karena dirinya memang membutuhkan sosok pendamping seperti Sasuke walau yang diinginkan adalah Naruto.
Kruyuuuk~
Suara perut Hinata terdengar jelas membuatnya langsung terdiam sesaat karena kaget kemudian tertawa kecil, ternyata sang anak sudah merasa lapar padahal tadi sebelum Sasuke pergi Hinata sudah makan dua potong roti sandwich serta segelas susu hangat tapi sepertinya itu belum cukup.
.
.
.
.
Mobil mewah berwarna hitam keluaran pabrikan luar negeri melaju dalam kecepatan sedang di jalanan kota Tokyo, dimana di dalamnya seorang pemuda bersruai raven dalam balutan seragam SMA duduk santai di belakang kemudi supir menikmati pemandangan di luar dari balik kaca mobil.
Dari seragam yang di kenakan serta lambang sekolah pada jas bagian depan bisa dipastikan kalau pemuda tampan ini salah satu murid di Empire Gakuen.
Dimana Empire Gakuen adalah sebuah sekolah Elit yang sengaja di bangun untuk anak-anak dari kalangan atas atau biasa di sebut jetset demi bisa mencetak lulusan terbaik mengingat sistem pendidikan di sini bisa dibilang nomor satu karena para pengajarnya sendiri berstandar internasional, bahkan bahasa Inggris menjadi bahasa asing yang wajib dikuasai, dimana setiap hari senin serta kamis para murid di wajibkan menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi hingga sekolah usai dan jika melanggar akan di kenakan sangsi atau hukuman dari pihak sekolah.
Untuk masuk ke Empire Gakuen tak hanya harus dari keluarga kaya karena biaya masuknya yang terkenal begitu mahal namun sesuai dengan fasiltas, dan para pengajar, disini juga di tuntut harus memiliki nilai akedemis baik atau di atas rata-rata namun pihak sekolah menyiapkan beasiswa full selama tiga tahun setiap tahunnya untuk sepuluh orang dimana program ini sengaja di lakukan agar masyarakat dari kalangan biasa bisa ikut belajar dan menikmati bersekolah disini. Tapi untuk mendapatkan beasiswa tersebut harus penuh perjuangan karena menggunakan sistem ujian serta tes bahasa Inggris tapi setiap tahunnya ribuan perserta dari seluruh penjuru Negeri mengikuti ujian seleksi demi bisa bersekolah di sana. Karena menjadi salah satu murid Empire Gakuen adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka terlebih mereka yang dari kalangan biasa.
Dari seribu lebih murid Empire Gakuen yang terdaftar tahun ini baik dari kelas satu hingga kelas tiga, Sasuke Uchiha adalah salah satu murid kebanggan Empire Gakuen di angkatannya sekaligus idola seluruh gadis di sekolah. Jangan bertanya mengapa Sasuke bisa sangat populer karena itu adalah sebuah pertanyaan bodoh. Dari melihat fisik serta wajahnya saja sudah pasti siapa pun akan jatuh hati.
Memiliki paras tampan, hidung mancung sempurna, kulit putih seperti salju, kedua matanya hitam kelam seperti malam, bertubuh tinggi tegap seperti model, memilik perut dengan bentuk enam kotak idaman setiap pria dimana membuat para gadis selalu berteriak histeris ketika melihatnya walau harus curi-curi pandang setiap pelajaran olahraga. Tak hanya memiliki fisik sempurna Sasuke juga selalu berada di peringkat satu selama tiga tahun berturut-turut di Empire Gakuen, tidak sampai di situ saja Sasuke juga terlahir sebagai salah satu anggota keluarga Uchiha yang begitu terkenal, membuat para gadis jatuh hati bahkan sampai mengidolakan.
Bisa di bilang Sasuke adalah paket lengkap sempurna untuk di jadikan kekasih karena sudah tampan, pintar, plus kaya raya. Jadi tak heran kalau Sasuk selalu menjadi kandidat pertama incaran para gadis di sekolah.
Setiap hari di sekolah ada saja murid perempuan yang menyatakan cinta atau menaruh surat cinta di loker sepatu padahal sudah berulang kali diperingatkan untuk tidak menyampah di lokernya, Sasuke juga berkata dengan tegas kalau tidak tertarik dengan siapapun, tak mau menjalin hubungan apapun dengan gadis manapun karena sebenarnya diam-diam sudah memiliki gadis idaman bahkan sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah tapi hal itu sengaja di rahasiakan dari masyarakat luas demi keselamatan Hinata terlebih Sasuke sendiri tidak suka mengumbar masalah pribadinya dimana nantinya hal itu bisa menjadi santapan lezat bagi para pemburu berita.
"Juugo," panggil Sasuke dari kursi belakang supir setelah sejak tadi diam mengamati pemandangan di luar.
"Ya, Tuan muda," sahut Juugo seraya menganggukkan kepala cepat.
"Terus awasi Hinata. Waspadai orang asing yang berusaha mendekati Hinata," kata Sasuke tegas.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Tuan besar Madara?" tanya Juugo mencoba menyinggung kembali kejadian beberapa waktu lalu.
GREET~
Tangan Sasuke mengepal kuat di atas paha sorot matanya berubah dingin saat di singgung nama sang kakek yang beberapa waktu lalu dikabarkan jatuh sakit bahkan dokter mengatakan kalau keadaanya tengah kritis tapi ternyata semua itu adalah trik curang sang kakek demi bisa membawa Sasuke pulang ke mansion Uchiha.
Dulu Sasuke sangat menghargai, menghormati sang kakek dimana setelah kematian keluarganya Madara lah orang yang merawat, membesarkan Sasuke hingga bisa menjadi orang hebat hingga sukses seperti kini. Namun setahun belakangan diam-diam Sasuke menyelidiki kasus penyebab pembantaian keluarganya sepuluh tahun lalu karena terus dihantui rasa penasaran yang besar, dan sebulan setelah menyewa seorang dekteftif terkenal Sasuke mendapati fakta sekaligus bukti mencengangkan dibalik alasan mengapa sang kakak laki-laki, Itachi sampai tega membunuh kedua orang tuanya sendiri kemudian bunuh diri setelahnya meninggalkan Sasuke sendirian tidak ikut serta membunuhnya juga.
"Sampai mati akan aku lindungi keluargaku. Tak akan aku biarkan siapapun menyakiti Hinata walau hanya seujung jari saja." Desisnya dengan nada penuh amarah.
Pria bersurai orange ini terdiam, hanya menatap sendu sosok sang Tuan muda dari sebuah kaca kecil, dirinya bukan tidak tahu apa yang sedang terjadi atau lebih tepatnya pertikaian Sasuke dengan keluarga Uchiha karena waktu itu dirinya sendiri yang di perintahkan langsung oleh Madara untuk membawa Sasuke pulang ke mansion Uchiha.
"Setelah mengantarku jemput Hinata lalu antarkan ke Akatsuki kafe dan jaga dia selama aku tak ada,"
"Baik, Tuan muda. Saya akan menjalankan perintah anda,"
"Bagus. Karena aku tak mau terjadi sesuatu dengan istri dan anakku." Kata Sasuke dingin dengan sorot mata sendu.
Mobil milik Sasuke mulai memasuki pekarangan sekolah dimana sepanjang jalan masuk sudah terlihat banyak siswa berdatangan mengingat setengah jama lagi bel masuk berbunyi terlebih jika sampai telat masuk kelas walau hanya satu menit saja bisa dipastikan tidak akan bisa mengikuti pelajaran karena itu sudah menjadi peraturan disini dimana kedisiplinan waktu sangat di tuntut tak ada toleransi sama sekali.
Merapihkan kemeja sekolah lalu mengambil tas sekolah yang berada di samping, Sasuke keluar dari dalam mobil setelah Juugo membukakan pintu, "Terima kasih," ucapnya setelah keluar dari mobil.
"Ingat perintahku tadi, Juugo," ujar Sasuke dengan nada pelan agar tidak terdengar orang-orang di sekitar.
"Iya, Tuan muda."
"Bagus. Aku pergi dulu."
"Semoga hari anda menyenangkan." Juugo membungkukkan tubuh dalam memberi hormat.
"Terima kasih." Sahut Sasuke.
Tak lama Sasuke melangkahkan kaki memasuki gedung sekolah dimana di depan loker pasti sudah banyak para gadis berdiri menunggu seperti hari-hari biasanya dimana para gadis berdiri berjejer rapih di sekitar koridor loker sepatu membentuk barisan rapih layaknya tim pemandu sorak yang akan berteriak histeris menyemangati bertanding, tapi Sasuke bukan sedang bertanding apapun hanya berjalan santai di koridor menuju loker sepatu untuk mengganti sepatu luarnya dengan Iwabaki lalu pergi ke kelas.
Sudah hampir tiga tahun hal seperti ini terjadi tapi tak pernah sekalipun Sasuke membalas sapaan dari para gadis, padahal Sasuke sendiri selalu bersikap dingin, acuh, cuek, tak mau berkometar apapun, meladeni setiap tingkal laku para gadis yang terkadang selalu membuat mengelus dada sekaligus tepuk jidat, karena sebenarnya dirinya sangat malas meladeni sikap aneh mereka semua padahal kumpulan gadis-gadis tersebut adalah para nona-nona kaya sekaligus terpandang sudah seharusnya menjaga sikap serta prilaku. Tidak bertindak aneh juga tak jelas seperti beteriark-teriak memanggil namanya dengan histeris.
.
.
.
.
.
.
Malam ini ada yang terasa aneh dan tak biasa bagi Hinata bahkan hatinya terasa resah gelisah tak nyaman sama sekali. Mencoba membuat perasaan sedikit lebih tenang dengan tidur tapi tubuhnya hanya bergulang guling ke kanan ke kiri sejak satu jam lalu mencoba mencari posisi enak dimana bisa membuatnya terlelap tidur tapi nyatanya tidak bisa, bahkan Hinata terus berganti-ganti posisi tetap saja matanya tak mau terpejam.
Kemana rasa kantuk yang tadi mendera seakan-akan mata di tempeli lem tak mau terbuka setelah usai makan malam, bahkan untuk urusan mencuci piring bekas makan malam Sasuke yang mengerjakan karena Hinata langsung pergi ke kamar untuk beristirahat.
Merebahkan tubuh di atas ranjang berukuran king size dengan sprei berwarna biru langit, Hinata langsung memejamkan kedua mata berharap kalau mimpi indah segera menghampiri tapi lima menit kemudian matanya terbuka tak bisa di pejamkan lagi seakan ada yang kurang membuat Hinaya tak bisa tidur dengan nyaman serta nyenyak.
Melirik ke samping ranjang dimana biasanya ada Sasuke di sana namun netra bulannya hanya mendapati bantal yang biasa digunakan Sasuke. Sosok pemuda bersurai raven dengan manik seindah malam itu tidak ada di sampingnya kini dimana biasanya akan memeluk tubuh Hinata dengan erat, dan Hinata sendiri akan menyenderkan kepala ke dada bidang pemuda tersebut menikmati setiap detak jantung yang terdengar di telinga bagaikan sebuah lagu pengantar tidur untuk Hinata. Wangi musk yang menguar dari tubuh Sasuke bagaikan aroma terapi yang selalu bisa membuatnya tertidur lelap bahkan bermimpi indah. Dan, semua perubahan itu terjadi setelah Hinata hamil juga menikah. Mungkinkan apa yang dialami akibat dorongan hormon kehamilan, membuatnya selalu ingin berdekatan dengan sang suami tapi itu tak buruk malah Hinata sangat menikmati.
Dan, seperti malam ini alasan dimana Hinata tak bisa tidur sama sekali sebenarnya karena tak ada Sasuke di dekatnya.
Merasa frustasi sekaligus kesal, Hinata memutuskan bangun lalu turun dari ranjang. Mengenakan sandal kamar yang terbuat dari bulu-bulu halus dengan bentuk kepala boneka beruang, ketika bulu-bulu tersebut menyentuh telapak kaki ada sebuah sensai lembut serta geli namun menenangkan.
Menyeret sendal kamar yang dikenakan hingga menimbulkan suara karena bergesekan dengan lantai kamar.
Hinata melangkahkan kaki cepat meninggalkan kamar dan tujuannya adalah ruang kerja Sasuke yang berdekatan dengan ruang tamu. Ada perasaan sebal mengganjal di hati karena sampai jam segini Sasuke belum juga kembali ke kamar padahal besok harus pergi sekolah, tapi sebenarnya alasan yang tepat adalah Hinata merasa kesepian.
Berdiri gelisah di depan pintu berwarna putih gading dengan gagang berwarna emas Hinata nampak ragu mau masuk atau tidak, takut jika kedatangannya mengganggu tapi dorongan hormon kehamilannya menutupi semua rasa itu dan dengan mantap Hinata mendorong pelan pintu kemudian melangkah kaki masuk ke dalam ruang kerja Sasuke.
Ketika netra bulannya melihat ke sekeliling ruangan dirinya mendapati Sasuke tengah duduk di dekat jendela dengan sebuah laptop didepan, sorot mata Sasuke begitu fokus menatap layar laptop karena saking fokusnya tidak menyadari kedatangan Hinata.
"Sasuke-kun~" panggil Hinata manja mendekati Sasuke.
Mengalihkan pandangannya dari laptop ke depan, Sasuke nampak kaget karena mendapati Hinata datang terlebih belum tidur di jam segini bukankah tadi istrinya itu merasa mengantuk ingin segera tidur makanya Sasuke sengaja tidak masuk ke kamar karena tak mau mengganggu Hinata beristirahat.
"Kenapa belum tidur," kata Sasuke lembut seraya mengulurkan tangan dan Hinata menyambutnya uluran tangannya dengan senang hati.
"Aku tak bisa tidur," sahut Hinata pelan.
Membawa tubuh Hinata ke atas pangkuannya, Sasuke memandangi penuh damba wajah tembab istri tercintanya, "Apa kau bermimpi buruk? Atau ingin memakan sesuatu?" tanya Sasuke seraya mengelus pipi Hinata.
Wanita bersurai dua puluh tahunan tersebut menyenderkan kepalanya di atas bahu Sasuke, "A-aku ingin di temani tidur," rajuknya dengan nada penuh manja.
Tersenyum sekilas kemudian menoleh kesamping, "Oke," sahutnya memenuhi keinginan sang istri.
Mematikan layar laptop setelah sebelumnya mensave file yang tadi di kerjakan, Hinata masih asik bergelayut manja duduk diatas pangkuan Sasuke tak terlihat ingin melepaskan diri malah melingkarkan kedua tangan di leher.
Sikap Hinata benar-benar manja, bahkan Sasuke harus menggendongnya ala bridal sytle ketika kembali ke kamar. Jika sudah keluar sifat manjanya sosok Hinata berubah seperti anak kecil sedangkan Sasuke harus bisa bersikap dewasa sekaligus berperan sebagai seorang suami yang baik, dimana harus mengerti, memahami, keadaan istrinya yang kini tengah mengandung, butuh banyak perhatian lebih terlebih dorongan kehamilan selalu membuat mood Hinata berubah-ubah.
Sasuke ikut membaringkan tubuh di samping sang istri, "Sudah malam, tidurlah."
Tubuh Hinata beringsut mendekat kemudian memeluk erat sang suami, menghirup dalam-dalam aroma Musk yang selalu membuat tenang, "Nyayikan sebuah lagu untukku,"
Senyuman lebar menghias wajah tampan Sasuke, merasa lucu dengan permintaan aneh Hinata dimana memintanya untuk bernyanyi. Apakah Hinata sudah lupa kejadian beberapa bulan lalu saat mereka pergi karaoke bersama dimana ketika Sasuke sedang bernyanyi mic yang ada ditangan Sasuke langsung direbut padahal lagu belum selesai dan setelahnya Hinata langsung marah-marah mengatai suara Sasuke seperti kucing kejepit tidak enak di dengar bahkan membuat kuping sakit. Tak perlu Hinata katakan saja Sasuke sudah menyadari kekurangannya yang satu itu dimana tak jago dalam bernyanyi, untung saja ia bukanlah seorang artis dimana dituntut harus bisa segalanya demi menghibur orang banyak.
Pada waktu itu Sasuke sama sekali tidak marah ataupun sakit karena apa yang dikatakan Hinata memang benar adanya, dan satu-satunya orang yang berani mengatakan hal seperti itu hanyalah Hinata saja, sedangkan orang lain berpura-pura senang bahkan tak jarang mengatakan suaranya bagus seperti penyanyi terkenal.
"Aku tak pandai bernyanyi, bagaimana kalau aku ceritakan sebuah kisah padamu," Sasuke mencoba merayu Hinata berharap istrinya itu berubah pikiran.
"Tidak mau! Aku bukan anak kecil yang harus di dongengkan ketika tidur," Hinata mulai merajuk bahkan ngambek karena keinginanya tak dipenuhi.
Hati Hinata kesal sekaligus sebal pada Sasuke, memang apa susahnya bernyanyi tinggal nyanyikan sebuah lagi untuknya lagipula Hinata tidak meminta hal sulit dengan ingin makan buah mangga asam atau es serut di tengah malam. Katanya Sasuke sayang, peduli, dan akan memenuhi semua keinginan Hinata tapi kenapa sekarang disaat di suruh menyanyi Sasuke tak mau.
Menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, Sasuke mencoba menenangkan diri, "Akan aku nyanyikan sebuah lagu yang selalu di nyanyikan ibu untuk ku,"
Senyuman cerah langsung terbit di wajah cantik Hinata yang beberapa saat muram bahkan akan menangis, "Benarkah?!" tanya Hinata antusias.
Sasuke mendekatkan diri, menaruh bibirnya ke telinga Hinata dan mulai bernyanyi sebuah lagu pengantar tidur yang selalu dinyanyikan mendiang sang ibu jika dirinya tidak bisa tidur atau bermimpi buruk.
Dan, satu menit berlalu Sasuke menyudahi nyanyiannya.
Sasuke menjauhkan wajahnya dan menatap wajah sang istri yang ekspresi wajahnya nampak aneh membuat Sasuke tersenyum geli karena sudah menduga komentar seperti apa yang akan dikatakan Hinata nanti.
"Suaramu jelek sekali Sasuke-kun! Seperti kucing kejepit," keluh Hinata dengan raut wajah penuh kecewa saat mendengar suara Sasuke tadi.
Sasuke terkekeh kecil menanggapi protes dari Hinata,"Siapa yang tadi merajuk ingin aku bernyanyi, hm..."
"Jadi kau menyalahkanku," ujar Hinata yang tak mau disalahkan, lagipula permintaannya tadi karena dorongan hormon kehamilannya bukan murni ke inginannya sendiri.
"Tidak. Aku yang salah karena suaraku jelek, dan sebaiknya kita jangan bertengkar. Ayo kita tidur karena besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali." Sasuke merentangkan kedua tangan dan tak lama Hinata beringsut mendekat.
Hinata memposisikan diri dengan nyaman dalam dekapan Sasuke, "Oyasuminasai, Anata." katanya seraya memejamkan kedua mata.
"Oyasuminasi, Hime." Balas Sasuke mengecup singkat puncak kepala Hinata.
Tak lama keduanya terpejam dan pergi ke alam mimpi bersama, berharap di dalam mimpi mereka juga bisa bertemu walau keduanya tak pernah mengira atau tahu kalau sebuah badai besar akan datang menerjang biduk rumah tangga mereka berdua.
TBC
A/N : Sebelumnya saya meminta maaf karena baru bisa update#Bungkuk badan dalam-dalam.
Maaf jika kelanjutannya tidak sesuai harapan dan belum ada konflik yang terjadi tapi chapter depan sudah mulai ada konflik.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk semuanya yang sudah memberikan Riview, memfavoritkan, memfollow Fic ini terima kasih banyak karena kalian semua adalah penyemangat sekaligus energi untuk saya agar tetap bisa menulis.
Dan saya ingin memberi sedikit pemberitahuan kalau saya memindahkan cerita 'My Young Husband' ke salah satu situs baca Wattpad namun menggunakan karakter berbeda. Tapi jangan khawatir karena saya akan tetap menyelesaikan Fic My Young Husband hingga tamat, menulis semua cerita tentang perjalanan pernikahan Sasuke dan Hinata.
Silahkan mampir dan membaca. Nama akunnya LittleAlien88
Terima kasih sudah mau menyempatkan diri membaca Fic ini yang jauh sekali dari kata bagus apalagi sempurna.
Ogami Benjiro II
