Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Drama, Hurt/Comfort
~ My Young Husband ~
.
Suasana kota Tokyo di malam hari begitu indah dan menakjubkan, banyak orang terlihat berjalan berlalu lalang di sekitar jalanan menikmati pemandangan kota. Kota Tokyo, terkenal sebagai kota yang tak pernah tidur sekaligus salah satu ikon negara Jepang.
Disalah satu sudut kota Tokyo, para pejalan kaki khususnya para wanita terlihat mencuri pandang bahkan tak sedikit yang tersenyum genit, menggoda ketika berpapasan dengan Sasuke. Bukan hal aneh bagi Sasuke melihat reaksi para gadis padanya mengingat wajahnya memang bisa di katakan tampan bak seorang Idol dari negeri ginseng yang di dapatkan dari warisan keluarga Uchiha.
Sasuke menyikapi para gadis dengan bersikap cuek tak ambil pusing tapi lain hal dengan wanita di sampingnya dimana terlihat tak suka, bahkan cemburu.
Tangannya merangkul mesra lengan Sasuke yang secara tak langsung memproklamirkan kalau pemuda tampan ini adalah miliknya.
Dahi Sasuke menyeringit bingung ketika wanita di sampingnya bergelayut manja di lengan kirinya. "Apa kau lelah, Hime?"
"Ah~T-tidak..." jawabnya gugup.
"Benarkah?" tanya Sasuke sekali lagi mencoba memastikan.
"Iya." Jawabnya seraya menyederkan kepalanya pada lengan Sasuke.
Senyuman kecil menghias wajah tampan Sasuke melihat sikap manja sang istri dan ia sama sekali tidak merasa risih malah senang.
Malam ini Hinata mengajak atau lebih tepatnya merengek ingin makan di luar bukan di sebuah restaurant mewah ataupun kafe melainkan di 'Ichiraku Ramen' sebuah kedai mie ramen terkenal di Tokyo. Awalnya Sasuke tidak menuruti keinginan sang istri untuk makan disana selain karena menurutnya ramen bukan makanan sehat. Tapi demi sang istri mau tak mau mengalah.
Setelah berjalan kaki hampir tiga puluh menit dari apartemen, akhirnya mereka berdua sampai di 'Ichiraku Ramen', ketika masuk ke dalam suasana kedai cukup ramai oleh para pengunjung.
Seorang pria paruh baya menyapa Sasuke dan Hinata dengan ramah, "Selamat datang." Sapanya dengan senyum lebar menghias wajah.
Hinata tersenyum lembut membalas sambutan ramah dari pemilik kedai, tak lama seorang gadis manis bersurai cokelat panjang datang dari arah dapur, wajahnya tersenyum cerah, "Perkenalkan aku Ayame, pelayan sekaligus anak perempuan pemilik kedai ini. Apa yang ingin kau pesan tampan," ujarnya seraya menatap nakal ke arah Sasuke.
Memutar mata bosan, Sasuke melirik ke arah sang istri, "Mau makan yang mana?" tanya Sasuke pada Hinata yang masih sibuk melihat-lihat menu ramen di sebuah papan berukuran cukup besar.
Setalah berpikir sejenak jari telunjuk Hinata mantap menunjuk ke depan, "Aku mau makan yang itu dalam porsi jumbo." Pintanya dengan nada manja.
"Kau yakin bisa menghabiskannya?" tanya Sasuke meyakinkan pesanan sang istri.
"Iya." Angguk Hinata penuh keyakinan.
Pemuda tampan bersurai raven ini menatap Ayame yang sejak tadi berdiri menunggu pesanan dengan wajah tersenyum lebar. "Kami pesan satu porsi ramen jumbo, dan gyoza."
"Hanya itu, tak ada tambahan yang lain?"
"Tidak. Itu saja."
"Baiklah kalau begitu. Mohon tunggu sebentar kami akan menyiapkannya."
"Terima kasih."
Suasana di dalam kedai cukup nyaman tapi sayang pengunjung yang datang tidak begitu banyak, hanya ada empat pengunjung termasuk mereka berdua, apakah ramen disini rasanya tidak enak tapi dari aroma ramen yang tercium jelas di hidung bisa dipastikan kalau rasa kuah dari ramen disini pastinya enak.
Kedua mata Hinata tidak bisa diam, netra bulannya menatap sekeliling kedai yang banyak di hiasi ornamen kaligrafi tulisan kanji serta sebuah lukisan pemandangan berukuran cukup besar, bisa Hinata katakan kalau di kedai ini nuansa Jepangnya begitu terasa.
Dahi Sasuke menyeringit ketika menggenggam tangan sang istri. "Tanganmu dingin sekali, Hime." Kata Sasuke seraya mengusap kedua tangan Hinata mencoba menghangatkan. "Seharusnya tadi kita naik mobil saja." Keluhnya karena membiarkan Hinata berjalan kaki ditengah cuaca dingin.
"Aku tak apa, Sasuke-kun. Jangan terlalu khawatir."
"Tubuhmu harus dijaga karena si kecil juga pasti merasa kedinginan di dalam sini." Ujarnya mengusap lembut di perut Hinata yang sudah mulai sedikit membuncit karena usia kandungannya sudah memasuki minggu ke sebelas.
Rona merah menjalar menghiasi pipi gembilnya seperti buah plum.
"Setelah makan kita pulang tidak mampir kemanapun, cuaca malam ini cukup dingin."
"Iya. Dan terima kasih sudah mau menuruti keinginanku."
"Apapun untuk tuan putriku yang cantik ini."
Pipi Hinata bersemu kembali namun kali ini lebih merah saat di goda, dari mana Sasuke belajar berkata semanis itu padahal ia begitu terkenal akan sifat ketus, dingin, jutek oleh orang-orang.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit satu ramen jumbo serta sepiring gyoza datang, air liur Hinata mengalir deras menatap semangkuk ramen di hadapannya.
Mengambil sumpit di samping mangkuk Hinata buru-buru ingin mencicipi tak mempedulikan kepulan asap putih dari dalam mangkuk menandakan kalau ramen masih panas.
"Pelan-pelan, panas." Sasuke memperingatkan.
"Hmm..." angguk Hinata seraya meniup-niupkan mie ramen di sumpitnya.
Setelah di rasa mienya sudah agak dingin Hinata langsung memakannya.
Sluuurp~
Suara mie yang ditarik masuk kedalam mulut terdengar jelas ditelinga. "Hmmm...enak~" seru Hinata saat merasakan mie didalam mulutnya dengan rasa kuah yang begitu terasa, tekstur mienya pun begitu lembut.
"Kau harus mencobanya, Sasuke-kun. Ramen ini sangat enak, aku tak bohong."
"Iya." Sahutnya seraya mengusap puncak kepala Hinata.
Perut Sasuke masih terasa kenyang karena belum lama dirinya makan malam namun melihat Hinata yang begitu lahap memakan seporsi ramen jumbo sendirian membuatnya sedikit takjub walau bertubuh kecil tapi nafsu makan sang istri ternyata begitu besar melebihi Sasuke.
Ddddrrrttt~
Ponsel milik Sasuke yang berada di dalam kantong celana bergetar.
Sasuke menghela nafas cepat merasa kesal karena panggilan masuk di telponnya merusak waktunya bersama sang istri padahal hampir seminggu ia jarang sekali memiliki waktu berdua seperti ini, sibuk mengurus pekerjaan kantor sekaligus tugas sekolah.
Mengambil cepat ponselnya dengan ekspresi sebal, netra hitamnya melihat penasaran siapa yang menghubungi.
Ketika melihat sebuah nama tertera jelas di layar ponsel enam inci miliknya.
Eksperesi wajah Sasuke langsung berubah menjadi dingin.
"Hime, aku keluar sebentar untuk mengangkat telpon, aku tak lama." Pamit Sasuke seraya mengecup singkat puncak kepala sang istri.
"Hmm..." angguk Hinata dengan mulut penuh mie.
Tak banyak bertanya ataupun curiga sama sekali Hinata membiarkan Sasuke keluar meninggalkannya sendirian di dalam kedai ramen.
Sebenarnya Hinata ingin bertanya siapa yang menghubungi hingga Sasuke harus keluar kedai untuk mengangkat telpon.
Apakah itu dari orang penting. Tapi siapa?
Hinata tak mau bertanya-tanya sendiri, nanti saja akan ditanyakan di rumah saat ini ia ingin menikmati ramennya tanpa adanya gangguan dari siapapun.
Disaat Hinata tengah asik menyantap ramen dengan tenang tanpa pernah menduga sama sekali kalau akan bertemu dengan pemuda bersurai kuning pemilik manik biru seindah langit dalam balutan kaos hitam panjang yang terlihat berjalan santai memasuki kedai ditemani seorang gadis cantik bersurai merah muda dalam balutan mini dress bewarna peach.
Karena posisi membelakangi Hinata tak tahu.
Baik sang pria juga wanita berpara cantik tersebut, keduanya sangat Hinata kenal baik bahkan pernah meninggalkan kesan tersendiri dalam hidup serta hati yang akan selalu di ingatnya sampai kapanpun.
Baik sang pria maupun sang wanita adalah anak dari keluarga kaya raya dimana selalu pergi atau makan di tempat restaurant mewah juga berkelas.
Dan, untuk apa orang kaya seperti mereka berdua datang ke kedai ramen sederhana ini.
Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam kedai netra birunya mendapati sosok gadis bersurai indigo tengah duduk sendirian menikmati semangkuk ramen.
Sebersit senyuman cerah menghias wajah tampannya, ada sebuah perasaan senang bercampur rasa rindu menatap sosok gadis bersurai indigo tersebut yang entah mengapa malam ini terlihat berbeda, juga cantik di matanya dalam balutan dress berlengan panjang bewarna navy.
"Hinata." Panggil pria ini dengan nada penuh rindu.
Pria tampan ini berjalan santai menghampiri tak mempedulikan wanita bersurai merah muda disampingnya yang wajahnya terlihat muram ketika ia menghampiri Hinata tak mempedulikan keberadaannya sama sekali.
Deg'
Jantung Hinata berdegup kencang.
Tubuh Hinata seketika menegang kaku mendengar suara bariton pria tersebut yang begitu dikenali.
Gret~
Meremas kuat sumpit ditangan mencoba bersikap setenang mungkin saat pria bersurai kuning tersebut mendudukkan diri tepat di sampingnya, padahal itu adalah tempat duduk Sasuke.
Hidung Hinata bisa mencium jelas aroma parfum yang menguar dari tubuh pria disampingnya yang masih sama tidak berubah sama sekali seperti wangi kesukaan Hinata.
Perlahan-lahan mencoba menoleh kesamping dengan ekspresi takut seperti melihat hantu bukan pria tampan seperti pandangan orang-orang di sekitarnya. "H-halo...Na-Namikaze-san..." sapa Hinata setenang mungkin namun gagal pada akhirnya karena dirinya terlalu gugup.
Kedua netra biru Naruto melebar saat mendengar Hinata memanggilnya dengan nama keluarganya bukan nama depannya lagi.
"Kenapa memanggilku seperti itu, Hinata. Apa kau masih marah, dan membenciku?" tanya Naruto santai seakan tidak merasa ada masalah sama sekali diantara mereka berdua.
"T-tidak." Geleng Hinata.
"Lalu kenapa kau memanggilku dengan nama keluargaku bukan dengan nama depanku seperti dulu." Protes Naruto dengan nada kecewa.
"Sekarang semuanya sudah berubah tak seperti dulu lagi, walau kita berdua pernah dekat." Kata Hinata dingin terlihat tak bersahabat sama sekali.
Selera makan Hinata hilang begitu saja padahal dirinya sedang asik makan ramen dan kenapa Naruto serta Sakura harus datang ke tempat ini mengacaukan moodnya yang mudah berubah-ubah karena hamil.
Baru juga bertemu setelah sekian bulan kini Naruto bersikap egois dengan meminta Hinata bersikap biasa saja setelah semua yang sudah terjadi tanpa pernah tahu rasa sakit karena dikhianati juga dicampakkan dan itu masih terasa sampai detik ini walau sudah ada Sasuke disisinya.
Tetapi Hinata tak bisa membohongi hatinya sendiri dimana terkadang rasa sakit itu masih terasa bahkan sampai membuatnya meneteskan air mata jika mengingat hari dimana dengan penuh kayakinan Naruto memberikan surat undangan pernikahan dengan Sakura, sahabat dekat Hinata yang juga teman kecil Naruto tak lama setelah mereka berdua putus.
Walau Hinata sudah memaafkan mereka berdua tapi tetap saja rasa sakit dihati masih ada, terlebih Naruto adalah orang yang dulu pernah di cintainya dengan sepenuh hati. Memang masa lalu biarkanlah berlalu karena jika terus menengok kebelakangan tak akan pernah membuat kita bangkit dan melangkah maju. Dan hal itu yang sekarang coba Hinata lakukan, melupakan semua perasaannya kepada Naruto menganggap pria tersebut sebagai orang asing dalam hidupnya karena ingin mengubur dalam-dalam segala kenangan yang pernah terjadi.
Dulu ketika masih bersama pernah terbersit di benak Hinata kalau kelak dirinya akan menikah dengan Naruto, menjadi menantu keluarga Namikaze, membangun sebuah keluarga kecil nan bahagia tapi keinginannya harus pupus karena Naruto lebih memilih menikahi Sakura dengan beralaskan perjodohan tanpa mau berusaha ataupun memperjuangkan hubungan mereka berdua yang sudah terbangun selama bertahun-tahun.
Sementara itu Sakura yang sejak tadi diam mematung di ambang pintu masuk melihat interaksi Naruto dengan Hinata akhirnya melangkahkan kaki lalu ikut mendudukkan diri tepat disamping sang suami, Naruto. Suasana canggung sekaligus tak enak begitu terasa saat Sakura ikut hadir bahkan duduk di samping Naruto membuat Hinata merasa bingung harus bersikap apa.
"Lama tidak bertemu, Hinata. Apa kabarmu?" sapa Sakura seraya tersenyum cerah walau nyatanya hatinya sedang menjerit sedih.
"Ba-baik, Sakura-san." Balas Hinata kaku.
"Aku tak mengira kalau kita akan bertemu disini, bukankah tempat ini jauh dari apartemenmu. Apa kau kesini dengan seseorang?' Tanya Sakura dengan nada menuntut, merasa penasaran apa yang dilakukan Hinata disini terlebih dimalam hari.
"I-iya." Sahut Hinata mantap tanpa keraguan sama sekali karena dirinya memang datang dengan seseorang yaitu suaminya sendiri.
Wajah Sakura terlihat antusia sekaligus penasaran, "Siapa? Apa kau datang dengan seorang pria?" tanyanya dengan senyuman lebar seraya melirik sekilas ekspresi wajah Naruto yang sedikit berubah tampak tak suka dengan pertanyaannya barusan.
"Iya." Jawab Hinata datar membuat eksperesi Naruto semakin kesal.
Tersenyum sekilas Sakura, "Kau sedang tidak berbohong padaku'kan, Hinata,"
Hinata menggeleng pelan, "Tidak. Aku memang datang dengan seseorang, tapi dia sedang keluar untuk menerima telpon." Jelas Hinata berusaha membela diri karena tak mau di anggap pembual.
"Tapi diluar tadi aku hanya melihat seorang pemuda tampan tengah asik menelpon pacarnya."
"Itu..." Hinata bingung harus mengatakan apa, atau menjelaskan kalau memang pemuda yang dilihat Sakura adalah suaminya.
"Sudahlan, Sakura-chan. Jangan terus menggodanya seperti itu. Bukankah kita datang kesini untuk makan." Naruto berusaha membela Hinata secara tak langsung sekaligus mencairkan suasana tegang antara kedua wanita berbeda warna rambut tersebut.
"Aku hanya bertanya sekaligus penasaran saja dengan siapa Hinata datang." Lirik Sakura sinis pada sang suami yang diam-diam masih peduli pada Hinata dan itu benar-benar membuatnya tak suka sama sekali.
Bungkam.
Hinata memilih diam tak menanggapi perkataan dari sahabat sekaligus istri dari mantan kekasihnya tersebut. Kenapa mereka berdua ada disini, bukankah katanya mereka akan tinggal di Amerika demi mengurus bisnis keluarga Naruto disana.
Disaat Hinata sibuk dengan pemikirannya sendiri, paman pemilik kedai datang dengan wajah tersenyum cerah menatap sepasang suami istri yang duduk disebelahnya.
Paman Teuchi, nama pemilik kedai Ichiraku Ramen menyapa keduanya. "Oh, rupanya pasangan pengantin baru yang datang. Bagaimana bulan madu kalian, apakah lancar?" Tanyanya dengan nada menggoda yang langsung membuat wajah Sakura bersemu merah.
Ayame yang terlihat baru keluar dari dapur langsung berlari senang melihat Naruto, dan Sakura datang.
"Sakura-san, Naruto-san. Sudah lama sekali kalian tidak datang berkunjung kesini setelah menikah, padahal dulu saat masih berpacaran kalian berdua sering makan disini sekaligus berkencan." Ujar Ayame dengan santainya tanpa tahu kalau perkataan ia tadi membuat seseorang kaget setengah mati, karena rahasia besar antara Sakura dan Naruto terbongkar tepat di depan orang yang selama ini mereka berdua bohongi.
"Jangan bersikap malu-malu seperti itu, biasanya kalian berdua terlihat mesra, juga romantis membuat siapa saja yang melihat merasa iri termasuk aku." Kekeh Ayame diiringi cengiran tanpa tahu kalau ada seorang wanita yang merasa sakit hati.
Deg'
Jantung Hinata seakan mau copot dari rongga mendengar perkataan Ayame barusan.
Jadi selama ini Hinata sudah di bohongi oleh mereka berdua, dan ternyata Naruto juga Sakura memang diam-diam menjalin hubungan dibelakangnya.
Tapi, kapan?
Kenapa Hinata tak tahu, dan menyadarinya.
Lalu perkataan mereka berdua waktu itu bohong dan hanya sebuah karangan belaka demi menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Hinata merasa menjadi orang paling bodoh karena dengan mudah mempercayai setiap perkataan Sakura juga Naruto bahkan dengan ikhlas melepaskan Naruto, memaafkan pengkhianatan keduanya karena tahu kalau pernikahan mereka berdua berlandaskan perjodohan keluarga.
Sumpit yang berada ditangan Hinata remas kuat hingga buku-buku jarinya memutih saking kuatnya karena melampiaskan perasaan kesal, sedih sekaligus sakit hati.
Sementara itu Ayame merasa bingung melihat Hinata yang tiba-tiba saja bersikap aneh malah terlihat seperti ingin menangis, apakah terjadi sesuatu pada pemuda tampan yang datang bersamanya tadi karena tidak terlihat sama sekali. Gadis manis ini sama sekali tidak peka, juga menyadari suasana tegang yang sedang terjadi pada ketiganya.
"Kalian berdua ingin pesan apa?" tanya Ayame pada Naruto.
"Nanti saja, Ayame-chan." Jawab Naruto kaku.
"Tapi..."
"Bantu ayah di dapur, Ayame." Paman Teuchi menarik paksa anak perempuannya untuk tidak ikut campur dalam masalah ketiganya yang pemicunya adalah perkataan Ayame tadi.
"Jadi..." Hinata meremas kuat sumpit di tangan, "Semua yang kalian katakan waktu itu adalah bohong." Lirih Hinata dengan mata berair membentuk sebuah bendungan.
"I-itu, bisa aku jelaskan, Hinata..."
"Tak perlu. Sudah tak ada yang perlu dikatakan, Namikaze-san. Semuanya sudah jelas sekarang, dan aku merasa menjadi orang paling bodoh karena tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dibelakangku selama ini." Hinata mencoba tertawa lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.
"Hinata..." Panggil Naruto lirih disertai perasaan sesal mendalam.
Tes
Liquid bening mengalir membashi pipi gembilnya.
Hinata merutuki dirinya sendiri karena lemah, rapuh dan kini malah menangis di hadapan Naruto.
Kenapa juga dirinya harus menangis terlebih menangisi keadaannya sendiri yang menurutnya sangat menyedihkan karena dengan mudah di bodohi, bohongi oleh dua orang yang paling ia percaya.
Mengapa mereka berdua kejam dan dengan tega melakukan ini padanya.
Apa salah Hinata dan mengapa tidak ceritakan hubungan mereka berdua yang sebenarnya sejak awal agar Hinata tak perlu merasakan sakit hati seperti ini.
Digigitnya kuat-kuat bibir bagian bawah agar tidak keluar suara isakan, Hinata mencoba kuat, tak terlihat lemah juga cengeng di hadapan Naruto serta Sakura walau pada akhirnya gagal karena lelehan air mata sudah membanjiri pipi.
Kini Hinata sedang jatuh terperosok dalam ke jurang kesedihan lagi, dan dirinya butuh pegangan agar tidak terjatuh lebih dalam.
"Sasuke-kun..." lirih Hinata memanggil penuh harap pada sang suami.
Naruto merasa sangat bersalah pada Hinata, melihat gadis cantik bersurai indigo tersebut menangis hingga seperti itu membuat hatinya seakan diiris-iris pisau, begitu menyakitkan terlebih alasan dari kesedihan Hinata adalah dirinya sendiri.
"Sakura-chan, aku tak pernah mengira kalau kau akan sejahat itu padaku." Hinata memandang dengan sorot mata penuh luka pada sahabat baiknya.
"Maafkan aku Hinata, sejak dulu Naruto memang mencintaiku tapi aku selalu menolaknya karena menganggapnya sebagai teman namun setelah melihatnya menjadi milikmu. Diriku baru menyadari kalau ternyata tak ada pria yang mencintaiku setulus Naruto-kun."
Tangis Hinata semakin pecah dirinya sudah tak mau mendengar apapun dari keduanya yang nantinya hanya akan menyakitkan hati saja.
"Jangan berkata apapun lagi, Sakura-chan!"
"Tidak. Naruto-kun. Aku harus mengatakan semuanya pada Hinata dan dia harus tahu." Kata Sakura dengan nada tinggi.
Wanita bersurai merah muda ini bangkit dari kursinya, ekspresi wajahnya pun tampak marah bercampur sedih menatap Naruto. "Kenapa kau selalu membelanya! Apa kau masih mencintainya dan sudah lupa dengan apa yang sudah kita berdua lakukan selama ini."
"Hentikan Sakura-chan. Sudah cukup! Aku mohon padamu."
"Tidak!" pekik Sakura.
Suasana kedai langsung ramai orang-orang mulai melihat ke arah mereka bertiga yang dianggap sedang bertengkar, dari pemikiran orang-orang kalau kedua gadis tersebut sedang bertengkar hebat memperbutkan pemuda bersurai kuning itu.
Nyut~
Kepala Hinata langsung berdenyut-denyut disertai rasa pusing yang tiba-tiba mendera. Tubuh Hinata sedikit limbung hendak jatuh namun sekuat tenaga Hinata mencoba bertahan dan saat berusaha berdiri Hinata hampir jatuh dengan reflek Naruto menangkapnya. Membawa tubuh Hinata dalam dekapannya, tentu saja hal itu membuat Hinata tak suka terlebih Sakura.
"Lepaskan aku Namikaze-san."
"Tidak. Kau sakit..."
BRUUUK
Tubuh Naruto tiba-tiba saja terhempas kuat kebelakang membuat dekapannya pada Hinata terlepas.
Manik birunya menangkap seorang pemuda bersurai raven berdiri menjulang tinggi di hadapannya. "Siapa kau?!" seru Naruto marah.
"Jangan sentuh istriku dengan tangan kotormu!" mata Sasuke memincing tajam, raut wajahnya terlihat tak bersahat sama sekali.
"Sasuke-kun."
BRUK
Hinata langsung menubrukkan diri pada pemuda bersurai raven tersebut, mencari perlindungan sekaligus pegangan, "Sasuke-kun..." isaknya meremas kuat jaket Sasuke.
Salah satu tangan Sasuke melingkar kuat di pundak Hinata, seakan menjadi pagar pelindung tubuh ringkih dari sang istri. "Aku disini, Hime." Ucapnya selembut mungkin seraya mengecup puncak kepala Hinata.
Seketika perasaan Hinata menjadi lebih tenang, tangisnya pun perlahan berhenti. Hinata benar-benar merasa sangat nyaman sekaligus aman berada dalam pelukkan Sasuke.
Naruto bereaksi keras melihat perlakukan Sasuke yang seperti seorang kekasih atau bisa dikatakan lebih dari itu. "Jangan bercanda denganku bocah!"
Kedua netra hitamnya menatap dingin, dan tajam ke arah Naruto yang menurutnya sangat menyebalkan juga berisik karena berteriak-teriak seperti itu. "Apa wajahku terlihat bercanda, Tuan!"
"Sudahlah, Naruto-kun." Ujar Sakura menahan sang suami agar tenang.
"Sebaiknya kau dengarkan perkataan istri mu, Paman." Sasuke tersenyum sinis dengan kedua tangan kini melingkar erat di pundak Hinata, seakan mengurung tubuh mungil Hinata.
Jika Naruti terlihat kesal dan marah, tak terima dengan apa yang dilakukan Sasuke lain hal dengan wanita yang di peluknya malah merasa nyaman.
"Sasuke-kun, perutku mual sekali, dan kepalaku juga pusing." Keluh Hinata seraya menenggelam kepalanya di dada bidang Sasuke.
Ekspresi wajah Sasuke berubah cemas. "Kita pulang sekarang."
Hinata mengangguk patuh.
Mengeluarkan selembar uang pecahan sepuluh ribu Yen untuk membayar makanan yang dipesan tadi tanpa meminta kembalian.
Sasuke menggendong Hinata secara bridal style, dan tangan Hinata langsung dikalungkan ke leher Sasuke mencari pegangan, wajahnya pun disandarkan nyaman pada pundak Sasuke tak peduli ataupun merasa malu menjadi pusat perhatian para pengunjung kedai termasuk paman pemilik kedai serta anak perempuannya, Ayame.
Sasuke cuek tak mau meladeni Naruto karena hanya membuang-buang waktu sekaligus tenaga, lagipula ia harus segera membawa Hinata ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Hinata takut terjadi apa-apa.
Jadi jika meladeni ocehan dari pria bersurai kuning itu benar-benar tak ada gunanya.
.
.
.
Sasuke bernafas lega ketika dokter mengatakan kalau kondisi Hinata serta sang janin baik-baik saja, Hinata hanya memerlukan istirahat cukup serta minum vitamin. Walau pada awalnya dokter merasa kaget ketika Sasuke mengatakan kalau Hinata adalah istrinya apalagi ditambah statusnya sebagai pelajar SMA.
Supir sekaligus pelayan pribadi Sasuke datang ke rumah sakit untuk menjemput, Hinata terlelap tidur setelah menjalani pemeriksaan terlebih pada umumnya wanita hamil cenderung mudah lelah dan mengantuk.
Selama perjalanan pulang Sasuke terus mendekap tubuh sang istri.
"Apakah telah terjadi sesuatu, Tuan muda?" tanya Juugo membuka pembicaraan.
"Iya. Ada sedikit masalah, tak teralu besar namun cukup menyebalkan karena gara-gara itu membuat istriku sampai menangis sedih."
"Apa yang membuat Nona Hinata sampai bersedih?"
"Sudahlah aku tak mau membahasnya sama sekali karena hanya akan membuatku sebal harus mengingat-ingat pria bodoh itu."
"Baik, Tuan muda."
Tak butuh sampai tiga puluh untuk Sasuke sampai ke apartemen, tubuh Hinata yang terlelap tidur di gendong ala bridal sytle dengan Juugo berjalan di belakang mengikuti sekaligus memberi penjagaan sekalipun penjagaan di gedung ini sudah sangat ketat.
Membaringkan tubuh sang istri ke atas kasur, membuka perlahan sepatu flat yang melekat di kedua kakinya kemudian menyelimuti hingga sedada. "Mimpi indah, sayang." Dikecupnya penuh kasih kening sang istri.
Mematikan lampu kamar kemudian menutup pintu Sasuke berjalan ke arah ruang tamu dengan membawa sekaleng minuman beralkohol. "Ini, minumlah."
"Terima kasih, Tuan muda." Juugo menerimanya dengan senang hati.
Sasuke mendudukkan diri pada kursi di sebelah Juugo seraya meluruskan kedua kaki ke atas meja apa yang ia lakukannya memang terkesan tak sopan sama sekali apalagi ada Juugo di dekatnya.
"Bisakah kau mencari tahu tentang Naruto Namikaze."
"Apa yang anda inginkan darinya?" tanya Juugo yang sangat mengerti sifat sang Tuan muda.
"Memberinya sedikit pelajaran sekaligus hukuman karena sudah menyakiti hati istriku." Jawabnya santai tanpa merasa beban sama sekali.
"Tapi bagaimana jika Nona Hinata sampai tahu mengenai hal ini."
"Rahasiakan hal ini darinya."
"Baiklah Tuan muda."
"Terima kasih. Kau memang orang bisa aku andalkan Juugo."
"Ini memang sudah menjadi tugasku, untuk melayani serta melindungi Tuan muda."
Walau usia Sasuke masih bisa dikatakan belia belum genap berumur dua puluh tahun tapi jangan pernah meremehkan atau mengangapnya sebagai anak kecil yang tak berbahaya sama sekali karena pemikiran seperti itu salah besar dimana tanpa banyak orang tahu kalau Sasuke memiliki sifat kejam, dingin kepada orang-orang yang sudah dianggapnya sebagai musuh, dan jika sudah tak suka atau benci akan ia lakukan segala cara untuk menghancurkan orang itu hingga ketulang-tulang sama seperti yang akan dilakukan kepada Naruto dimana akan ia buat pria bersurai kuning tersebut menyesal karena telah berurusan dengannya apalagi sampai menyakiti hati istrinya, Hinata.
TBC
