Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Drama, Hurt/Comfort
~ My Young Husband ~
.
Tiga hari berlalu setelah pertemuan Hinata dengan sang mantan kekasih beserta istrinya, Sakura Haruno, sahabat baiknya sendiri. Berharap kalau pertemuan mereka bertiga akan diiringi air mata serta perasaan haru setelah sekian lama tak bertemu tapi hal seperti itu tidak terjadi karena nyatanya dirinya malah mendapati fakta mencengangkan bahkan membuat hati begitu sakit juga kecewa.
Mengerti akan suasana hati Hinata yang sedang di rundung sedih sebagai seorang suami, Sasuke ingin melakukan sesuatu, membuatnya tersenyum kembali dengan mengajaknya pergi jalan-jalan ke taman bermain atau Disney Land Tokyo.
Kebetulan hari ini sekolah sedang libur karena tanggal merah dimana seharian mereka berdua bisa menghabiskan waktu bersama diluar rumah dan itu pasti akan sangat menyenangkan.
Sasuke mengatakan pada Juugo, pelayan pribadinya untuk tidak membicarakan mengenai pekerjaan di kantor termasuk tentang masalah keluarga Uchiha yang sangat tidak ingin didengarnya sama sekali. Lalu mengenai masalah Naruto, sementara waktu di kesampingkan karena Sasuke ingin fokus menikmati waktunya bersama sang istri.
Seperti hari-hari biasanya, pagi-pagi sekali Hinata sudah menyibukkan diri di dapur menyiapkan sarapan serta bekal makan siang untuk sang suami bukan dimakan ketika jam istirahat kantor maupun jam kerja melainkan waktu istirahat pelajaran sekolah.
Jika bertanya apakah suaminya itu masih berstatus sebagai pelajar?
Iya.
Memang benar adanya bahkan usianya terpaut delapan tahun lebih muda.
Sudah cukup Hinata menjelaskan mengenai suaminya karena jika diceritakan akan memakan waktu panjang apalagi dari awal pertemuan hingga mereka berdua bisa menikah.
Tapi inilah kisah hidupnya bersama pemuda tampan bermata kelam seindah malam tersebut.
Dimana memberikan warna baru serta kebahagian dalam hidupnya.
Hinata tidak menyesali sama sekali sudah menikah dengan Sasuke malah merasa senang karena suami mudanya itu begitu menyanginya bahkan selalu berusaha melindunginya dari apapun.
Jauh sekali dari penampilannya yang masih berusia belasan tahun namun sikap sekaligus pemikirannya begitu tua seperti orang dewasa namun dilain sisi mimiliki sifat manja, suka merajuk seperti anak kecil. Sebuah hal yang tak pernah diketahui oleh orang banyak karena hanya di tunjukkan kepada Hinata saja.
"Ngh~" Tubuh Sasuke menggeliat di atas kasur seraya membalikkan tubuh ke samping berharap bidadari cantik bersurai indigo tersebut masih ada didekatnya namun tangannya tidak meraih apapun.
Membuka mata perlahan menampilkan iris kelam seindah malam, lalu bergerak bangun perlahan menduduk diri.
Beberapa detik kemudian Sasuke beranjak bangun dari kasur dengan masih mengenakan piyama tidur melekat di tubuh bahkan ia tidak membasuh wajah sama sekali. Pikiran pertamanya setelah bangun tidur adalah ingin melihat istrinya lalu memeluknya.
Aroma harum masakan begitu terasa di hidung ketika memasuki ruang dapur.
Bibir Sasuke tersenyum kecil menatap sososk wanita bersurai indigo yang sedang membelakanginya terlihat sibuk memotong-motong sesuatu entah pagi ini istri cantiknya itu akan memasakan apa, tapi apapun masakan yang dibuatnya pasti akan selalu enak lebih enak dari masakan koki ternama sekalipun karena dibuat dengan cinta.
Berjalan santai menghampiri dengan kedua lengan terulur ke depan hendak memeluk.
"Selamat pagi, istriku." Sapanya dengan tangan mendekap erat dari belakang, hidung mancungnya ditaruh pada ceruk leher menghirup dalam aroma tubuh sang istri yang selalu membuat tenang juga nyaman.
Pipi Hinata bersemu merah, bibirnya ingin bergerak berteriak protes tapi tak bisa mengingat bukan pertama kali hal seperti ini terjadi bahkan sudah menjadi kebiasaan yang sering dilakukan Sasuke tapi tetap saja selalu membuatnya malu sekaligus senang.
"Ini masih pagi, Sasuke-kun!" serunya protes dengan suara kecil namun masih terdengar jelas di telinga Sasuke.
"Pagi atau malam tak masalah bagiku, karena setiap saat aku selalu ingin mendekapmu." Sahutnya santai masih asik bergelayut manja.
Hinata tersenyum malu sekaligus sebal pada satu waktu karena suaminya ini bisa saja menggoda bahkan berkata manis seperti orang dewasa padahal usianya masih belasan tahun tapi begitu mahir memperlakukan seorang wanita.
Ingin rasanya bertanya dari mana Sasuke mempelajarinya.
Apakah dari Sai?
Sepupu jauh Sasuke.
Mengingat pria berkulit pucat tersebut semasa SMA terkenal sebagai playboy kelas kakap memiliki banyak pacar bahkan setiap minggunya selalu berganti-ganti perempuan, dan itu terjadi sebelum dekat juga menjalin hubungan dengan Ino Yamanaka.
"Aku tak bisa memasak jika kau terus menempel seperti ini." Keluh Hinata karena Sasuke masih asik menempel seperti seekor Koala tak mau melepaskan dekapannya.
"Baiklah akan aku lepaskan, jika kau memberikan ciuman selamat pagi untukku." Rajuknya dengan nada manja.
"Sasuke-kun!" Pekiknya dengan wajah bersemu merah karena masih saja mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Ya sudah kalau begitu aku akan terus seperti ini." Sasuke semakin mengeratkan dekapannya membuat Hinata semakin tak leluasa bergerak.
Menghela nafas cepat seraya memutar masa bosan. "Tutup matamu." Kata Hinata pasrah.
Sasuke tersenyum penuh kemenangan. "Hmm." Sahutnya seraya menyodorkan bibir.
Membalikkan tubuh dengan gerakkan cepat Hinata mengecup singkat bibir Sasuke bahkan tak ada satu detik sama sekali.
Wajah Sasuke nampak kecewa. "Ulangi lagi." Pintanya dengan nada menuntut.
"Hah!?" Seru Hinata bingung.
"Cium aku lagi." Ujar Sasuke dengan nada menuntut.
"Tadi'kan sudah aku cium." Jelas Hinata yang tak mau mengulangi adegan tadi sama sekali bukannya tak suka melainkan malu.
"Tidak. Tadi itu bukan ciuman tapi kecupan." Protesnya dengan mengetuk-ngetukkan bibir Hinata menggunakan jari telunjuk.
"Memang apa bedanya?" Tanya Hinata heran karena baginya sama saja.
"Beda." Jawab Sasuke cepat masih tetap protes menunut Hinata mengulanginya lagi, dimana sifat manja sekaligus merajuk Sasuke muncul.
"Dimana bedanya?" Tanya Hinata kembali yang semakin bingung.
Terkadang hal seperti ini memang sering terjadi dimana jika sifat manja Sasuke muncul pasti membuat Hinata sebal sekaligus bingung karena harus bisa mengartikan juga memenuhi permintaannya ditambah jika sifat overprotektifnya ikut muncul juga, ingin rasanya Hinata berteriak kencang.
Wajah Sasuke menyeringai membuat perasaan Hinata tak enak dan detik berikutnya bibir Hinata sudah di lumat dalam.
"Hhmphh..." Tangan Hinata mencengkeram kuat piyama bagian depan Sasuke.
Memasukan lidahnya kedalam mulut Hinata mengajaknya menari bersama.
Dua puluh detik berlalu Sasuke melepaskan pagutannya dimana untaian benang saliva terlihat jelas dari mereka berdua.
Pipi gembil seperti bakpau itu sudah memerah juga menggembung seperti ikan fugu menandakan kalau tengah kesal juga malu. "Itu baru namanya ciuman, sayang." Kata Sasuke santai menanggapi reaksi Hinata yang terlihat lucu juga menggemaskan.
BUGH~
Pundak kanannya di pukul pelan oleh Hinata. "Hentai!"
Tawa kecil menghias wajah tampan Sasuke. "Tapi kau cinta'kan." Godanya.
Hinata menuburukkan diri pada Sasuke menutupi wajahnya yang begitu merona dan itu sudah menjadi jawab dari pertanyaan Sasuke tadi.
Bagi Sasuke melewatkan hari-hari bersama Hinata begitu menyenangkan banyak hal menarik terjadi selama mereka menikah, dan walau hanya tinggal berdua namun kehidupannya terasa sangat berwarna tidak seperti dulu dimana di kelilingi banyak pelayan, penjaga serta keluarga mendiang sang ayah tapi tidak membuatnya merasa senang atupun nyaman berada di rumah megah tersebut yang bagi Sasuke seperti neraka.
Keputusannya untuk keluar dari rumah lalu hidup sendiri dengan kedua kakinya adalah tepat dengan begitu ia bisa bertemu kembali dengan Hinata, gadis yang selama bertahun-tahun ini selalu ada dalam benaknya bahkan sudah mengisi relung hati terdalam.
Bagi Sasuke yang sudah ditinggal mati oleh kedua orang tua serta kakak laki-lakinya, Hinata adalah satu-satunya keluarga sekaligus orang yang paling berarti karena menjadi pusat dunianya.
Segala cara akan di lakukan untuk melindungi, menjaganya dari apapun sekalipun harus mengotori kedua tangan dengan darah.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Sasuke kembali lagi ke dapur bukan untuk menggoda Hinata melainkan sarapan pagi bersama.
"Kenapa kau memakai pakaian bebas?" Hinata menatap bingung penampilan Sasuke dari atas sampai bawah.
"Hari ini sekolah libur." Jawab Sasuke seraya mendekat ke arah meja makan.
"Kau tidak sedang berbohong padaku'kan Sasuke-kun?"
Mencubit hidung Hinata dengan gemas. "Tentu saja. Mana berani aku berbohong pada malaikat secantik dirimu."
Blush~
Pipi Hinata bersemu kembali. "G-gombal."
Sasuke hanya tersenyum menanggapi.
"Hari ini istriku yang cantik masak apa?" tanyanya menunggu Hinata menghidangkan makanan untuknya.
"Omurice." Jawab Hinata seraya menghidangkan masakannya pada Sasuke yang sudah duduk.
Mengambil sendok di samping piring Sasuke mulai memakan sarapannya dengan tenang menikmati masakan Hinata yang terasa enak dilidah.
"Hime." Panggil Sasuke di tengah-tengah kegiatan makannya.
"Ya?" Sahut Hinata seraya menoleh.
"Hari ini mau temani aku pergi ke taman hiburan."
Dahi Hinata menyeringit menatap Sasuke penuh arti. "Memang ibu hamil boleh jalan-jalan kesana dan naik wahana?" tanyanya memastikan.
Sasuke terdiam sejenak dan baru teringat kalau istrinya tengah hamil beberapa bulan. Dimana dokter juga mengatakan kalau Hinata tidak boleh teralu lelah atau melakukan aktifitas terlalu berbahaya karena tak baik untuk kandungannya, apalagi di taman bermain banyak wahana yang tak cocok dinaiki oleh ibu hamil.
"Sasuke-kun!" panggil Hinata yang merasa khawatir karena Sasuke terlihat bengong.
"Akh~ maaf. Kalau begitu kita pergi menonton saja bagaimana?" Tawar Sasuke.
"Kalau begitu biar tambah seru, aku ingin mengajak Ino-chan juga Sai."
"Jangan!"
"Kenapa?" wajah Hinata nampak kecewa.
"Aku ingin kita pergi berdua saja karena selama menikah kita belum pernah pergi menonton berdua atau berjalan-jalan bersama."
Hinata terdiam sejenak kemudian tersenyum lembut. "Baiklah."
.
.
.
Beberapa pasang mata khususnya para gadis muda yang duduk bersama di halte bus mencuri-curi pandang pada Sasuke, melirik malu sekaligus penuh damba pemuda tampan bersurai raven tersebut. Bagaimana para gadis tidak terpesona dan tertarik pada sosok pemuda di dekat mereka karena memiliki wajah putih mulus bak porseline, berhidung mancung sempurna, garis rahang yang tegas, kedua iris mata sekelam malam, bertubuh tinggi tegap serta rambut hitam legamnya melengkapi ketampannya yang begitu sempurna.
Sosok Sasuke begitu mencuri perhatian orang-orang dan bagi Hinata hal itu sudah biasa terjadi bukan hal aneh atau sesuatu yang baru. Tapi tetap saja rasa kesal juga cemburu selalu ada dihati saat suaminya di goda oleh para gadis mengingat usia mereka masih muda bahkan sepantaran membuatnya suka down takut jika nantinya tergoda oleh mereka.
"Hatcim~" Hinata bersin dengan sangat keras membuat orang-orang yang didekatnya sedikit kaget terlebih Sasuke yang langsung menoleh cemas ke arahnya.
Dari hidung Hinata mengeluarkan cairan bening karena bersin tadi, dan tanpa merasa malu atau jijik sama sekali Sasuke langsung mengelap hidung Hinata menggunakan sapu tangannya tentu saja hal itu membuat sebagian orang merasa iri ingin juga diperlakukan seperti itu.
"Seharusnya tadi kau memakai syal, untuk menutupi leher agar terasa hangat." Ujar Sasuke dengan masih mengelap hidung Hinata layaknya seorang ibu dengan anaknya.
"Apa sebaiknya kita pulang saja." Sasuke terlihat cemas takut Hinata sakit atau terkena flu karena bersin tadi.
"Aku tak apa, Sasuke-kun, jangan terlalu berlebihan. Tadi aku hanya terkena debu makanya bersin." Jelas Hinata berharap Sasuke tak terlalu cemas berlebihan.
"Kau yakin?" tanya Sasuke yang masih cemas.
"Iya." Jawab Hinata penuh keyakinan.
Diam-diam para gadis melirik penuh iri sekaligus penuh tanya siapa Hinata sebenarnya dan ada hubungan apa dengan pemuda tampan tersebut.
Bus yang mereka tunggu akhirnya datang setelah hampir sepuluh menit duduk di halte.
"Ayo." Ajak Hinata menarik tangan Sasuke untuk bangun.
Ketika pintu bus terbuka Hinata langsung naik dengan Sasuke di belakangnya. "Pelan-pelan naiknya." Kata Sasuke cemas membantu sang istri menaiki tangga bus.
Para gadis yang tadi ikut duduk menunggu bus berdiri mengantri masuk di belakang Sasuke dan ketika masuk berjalan mengekor mengikuti.
Bangku bagian belakang menjadi pilihan Hinata dan Sasuke duduk.
Hinata duduk dekat jendela sedangkan Sasuke duduk disebelahnya seraya menggandeng erat tangan Hinata membuat para gadis yang ikut duduk di bangku belakang merasa kecewa sekaligus sedih.
Tapi melihat wajah serta penampilan Hinata yang bisa dikatakan sebagai wanita dewasa sedangkan pemuda tersebut masih terlihat sangat muda pasti keduanya bukan pasangan kekasih mungkin saja mereka berdua adalah saudara, kakak beradik atau ponakan dengan tante.
Jadi masih ada kemungkinan bagi mereka untuk bisa dekat dan berkenalan.
Tapi harapan seperti itu tak mungkin bisa terjadi melihat sikap Sasuke yang memasang wajah super jutek dan dingin membuat nyali para gadis menciut, tak berani mendekati karena dari raut wajah Sasuke sudah terlihat jelas kalau tak mau diganggu apalagi sampai didekati.
Namun gadis muda berpenampilan minim disebelah Sasuke tak mau begitu saja menyerah masih berusaha mencari celah juga kesempatan untuk bisa berdekat-dekatan dengan berpura-pura tidur.
Kepala gadis itu tiba-tiba saja berada dipundak kiri Sasuke seolah-olah mencari sandaran.
Kedua sudut bibir gadis ini terangkat membentuk sebuah senyuman merasa menang dan berhasil tapi sayangnya kebahagiannya tak berlangsung lama karena Sasuke langsung mendorong jauh kepalanya.
Namun gadis itu kembali menaruh kepalanya di pundak Sasuke tak mau menyerah sama sekali.
Merasa kesal Sasuke menarik tangan Hinata mengajaknya untuk pindah tempat duduk dan gadis yang berpura-pura tidur tadi langsung terjatuh kesamping karena tak ada sandaran membuat teman-temannya tertawa geli.
"Huh! Brengsek!" Umpat gadis ini merasa kesal karena merasa dipermalukan.
Teman-temannya masih saja tertawa geli karena aksinya tadi, padahal biasanya cara itu berhasil tapi kali ini tidak sama sekali.
"Kenapa kita pindah Sasuke-kun?" tanya Hinata bingung.
"Tak apa." Jawab Sasuke santai menutupi masalah tadi.
"Huaam~" Hinata menguap kecil.
Wajah Hinata nampak sayu karena mengantuk.
"Apa kau mengantuk?"
"Sedikit."
"Kalau begitu tidurlah di pundakku."
"Tidak mau, aku malu dilihat orang."
"Sudah tidur saja." Sasuke menarik kepala Hinata untuk bersandar padanya.
Jika Hinata merasa malu tidur dipundak Sasuke karena takut dilihat orang padahal mereka berdua adalah suami istri sedangkan gadis itu berpura-pura tidur dan tanpa merasa malu sama sekali menaruh kepalanya di pundak Sasuke.
"Jangan lupa kita turun di halte berikutnya." Kata Hinata mengingatkan.
"Tidurlah, aku akan menjagamu." Mengelus lembut pipi gembil sang istri.
Selama hidupnya baru pertama kali Sasuke naik bus, bukannya mau menyombongkan diri atau pamer karena sejak kecil hingga sekarang selalu diantar jemput dengan mobil pribadi jika pun pergi sendiri pasti mengendarai mobil atau motor belum pernah menggunakan kendaraan umum.
Seperti kata Hinata tadi mereka berdua turun di halte berikutnya karena mall yang dituju tak jauh darisana, dan lagi-lagi para gadis itu ikut turun seolah-olah mengikuti namun Sasuke tak menaruh curiga sama sekali karena mungkin saja mereka memang mau pergi ke mall mengingat ini hari libur.
Jalanan begitu padat, dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang dimana setiap hari bukan hari libur jalanan di pusat Kota Tokyo selalu ramai apalagi kini hari libur semakin ramai, Sasuke terus menggandeng tangan Hinata takut jika terpisah.
"Kita mau menonton apa, Sasuke-kun?"
"Kata Sai ada film menarik minggu ini dan sedang ramai dibicarakan orang-orang."
"Judulnya apa?"
"Kalau tidak salah 50 Shades of Grey bagian ke tiga."
Seketika wajah Hinata langsung cemberut mendengar judulnya karena dulu Ino pernah sekali menunjukkan film itu dimana banyak adegan dewasa walau secara keseluruhan ceritanya memang bagus tapi tak cocok di tonton anak dibawah umur seperti Sasuke meskipun masih anak kecil namun sudah pandai membuat anak.
"Kita nonton yang lain saja."
"Baiklah. Aku akan mengikuti."
Ketika sampai di bioskop yang terletak di lantai paling atas gedung mall suasana disana sangat ramai dipenuhi para pasangan muda-mudi, ditambah antrian tiket juga cukup panjang.
"Ramai sekali!" seru Hinata.
"Wajar saja karena ini hari libur. Kau ingin menonton film apa, Hime?" tanya Sasuke sebelum pergi mengantri membeli tiket.
"Bisakah kita tak jadi menonton dan pergi ke tempat lain saja." Rajuk Hinata tiba-tiba menarik ujung baju Sasuke.
"Memang kau ingin kemana?" tanya Sasuke lembut.
"Aku ingin pergi ke toko pakaian melihat-melihat baju bayi."
Wajah Sasuke langsung sumeringah senang. "Kalau begitu tunggu apalagi." Sasuke menarik tangan Hinata keluar dari bioskop.
Toko perlengkapan bayi yang mereka datangi begitu besar serta luas segala macam kebutuhan untuk bayi ada serta lengkap. Sasuke sengaja mengambil Trolly karena ingin memborong, membeli apa yang Hinata pilihkan untuk anak mereka.
Keduanya nampak begitu menikmati moment belanja dan itu terlihat jelas dari raut wajah dimana terus tersenyum lebar. Trolly mereka sudah hampir terisi penuh dengan mainan serta perlengkapan bayi dan sekarang mereka pergi ke bagian baju bayi.
Mata Hinata langsung tertuju pada pakaian bayi yang terpajang dimana nampak begitu lucu.
"Sasuke-kun, lihat ini." Dengan wajah tersenyum lebar Hinata memperlihatkan pakaian pilihannya.
"Bagus. Apa kau suka yang itu?" tanya Sasuke.
"Iya, tapi sayang warnanya hanya merah muda saja. Aku takut kalau nanti bayi kita lahir ternyata laki-laki."
"Apapun jenis kelaminya yang terpenting kalian berdua sehat dan selamat."
"Bukan itu maksudnya Sasuke-kun! Tapi akan terlihat aneh jika bayi laki-laki memakai baju berwarna merah muda."
"Kalau begitu pilih yang warna biru saja karena bisa dipakai perempuan atau laki-laki."
"Tapi aku suka yang ini." Rajuk Hinata dengan nada manja.
Mengela nafas perlahan, Sasuke meraih pakaian bayi yang dipegang Hinata. "Tunggu disini, jangan kemana-mana. Akan aku tanyakan kepada pegawai toko mencarikan warna biru untuk model baju ini."
"Hmmm." Angguk Hinata patuh.
Sasuke pergi mencari salah satu penjaga toko untuk menanyakan warna baju yang diinginkan istrinya, sementara Sasuke pergi Hinata kembali lagi mencari pakaian bayi untuk sang buah hati siapa tahu ada yang bagus lagi.
"Hinata?!" panggil seorang wanita dari belakangnya.
Merasa dipanggil Hinata menoleh kebelakang. "S-Sakura-san..." gumamnya kaget tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Aku tadi sempat agak ragu menyapa takut jika salah orang dan ternyata ini memang benar kau." Ujar Sakura seraya berjalan mendekati dengan mendorong Trolly berisikan belanjaannya.
Siapa yang akan menduga kalau akan bertemu Sakura disini.
Wanita bermahkota merah muda ini melirik tangan Hinata yang sedang memegang pakaian bayi dan sebuah senyuman penuh arti langsung menghias wajah cantiknya yang terpoles make up tebal. "Jangan terlalu repot-repot Hinata, kandunganku baru berusia tiga bulan dan masih setengah tahun lagi dari perkiraan waktu lahir oleh dokter kandugan. Tapi aku merasa senang sekaligus terharu karena kau sudah menyiapkan kado untuk anakku dan Naruto dari jauh-jauh hari." Kata Sakura dengan bangga dan percaya diri seolah-olah meledek.
Hinata hanya tersenyum kaku, bingung harus berkata apa karena Sakura salah paham.
Dia memang berencana membeli pakaian serta peralatan bayi tapi bukan untuk wanita bermahkota merah muda itu melainkan untuk bayinya sendiri.
"Aku ucapkan selamat atas kehamilanmu."
"Terima kasih. Aku pikir kau masih marah dan tak akan memaafkan kami berdua tapi ternyata kau berhati lapang sekali." Puji Sakura yang sebenarnya menganggap kalau Hinata sangat bodoh juga naif sekali.
Iris matanya menangkap sebuah trolly tepat disamping Hinata yang sudah terisi penuh peralatan bayi, bukannya ingin menghina atau meremehkan Hinata tapi semua barang ditoko ini terkenal mahal karena bermerek bahkan sebagain produk di impor langsung dari luar negeri.
"Ngomong-ngmong apa kau mampu membayar semua belanjaanmu itu?" tanya Sakura dengan nada setengah mengejek.
"Tentu saja." Jawab Hinata penuh keyakinan karena Sasuke pasti akan membayarnya kalau mau toko ini juga bisa dibelinya.
"Aku bukan bermaksud menghina tapi semua produk disini mahal dan impor dengan gajimu sebagai pelayan kafe tidak cukup membayarnya."
Hinata meremas kuat baju bayi ditangannya karena merasa diinjak-injak oleh Sakura.
"Tapi aku hargai usahamu karena tahu kalau aku tak suka menerima barang murah apalagi untuk bayiku."
Sasuke yang sejak tadi berdiri mendengar istrinya di hina merasa marah ingin sekali merobek mulut kotor Sakura. Berjalan secara tergesa-gesa menghampiri Hinata yang kedua matanya sudah berkaca-kaca, menarik cepat tubuhnya kemudian mendekapnya erat berusaha melindungi dari nenek sihir jelek tersebut.
Kedua kuping Hinata di tutup oleh tangan Sasuke karena ia akan berbicara kasar pada wanita tak sopan ini sekaligus memberinya pelajaran bagaimana menghargai orang lain.
"Percaya diri sekali anda, Nyonya."
"Tunggu. Bukankah kau pemuda yang waktu itu?" Tunjuk Sakura.
Mata Sasuke memincing tajam menatap dingin Sakura. "Jangan berani menghina atau merendahkannya."
"Tunggu dulu. Memang kau siapanya Hinata? Dan ada hubungan apa kalian berdua karena dilihat dari wajah serta penampilan kau pasti masih muda."
"Bukan urusanmu. Sekarang pergilah dan jangan menampakkan wajah jelekmu di hadapanku."
"Berani sekali kau berkata kurang ajar seperti itu padaku! Memang kau pikir siapa dirimu?!"
"Uchiha." Kata Sasuke menyebut nama marga keluarganya dan detik berikutnya tubuh Sakura langsung menegang kaku seolah kaget sekaligus takut.
"K-kau pasti bercanda denganku." Sakura mencoba bersikap santai tak menanggapi perkataan bocah di hadapannya yang bisa saja berbohong lagipula mana mungkin Hinata bisa memiliki hubungan dengan keluarga kaya raya tersebut.
"Namaku Uchiha Sasuke, putra dari pasangan Fugaku Uchiha dan Mikoto Uchiha, adik dari Itachi Uchiha, keponakan laki-laki Obito Uchiha, juga cucu laki-laki Madara Uchiha. Jadi sudah jelaskan siapa aku sebenarnya, Nyonya Sakura Haruno." Desis Sasuke.
Tubuh Sakura langsung beringsut jatuh terduduk di hadapan Sasuke kedua kakinya seakan tak bertulang, eksperi syoknya begitu tergambar jelas di wajah tak pernah menyangka sama sekali kalau pemuda dihadapannya adalah seorang Uchiha dimana dulu kedua orang tuanya selalu berkata jangan pernah mencari masalah dengan keluarga Uchiha.
Sebuah keluarga yang terkenal akan kekejamnnya dalam menyingkirkan setiap lawan atau musuhnya baik dalam persaingan bisnis atau semacamnya tanpa pernah kenal ampun.
Tubuh Sasuke berdiri tegap menjulang tinggi menatap rendah sekaligus jiji sosok Sakura yang tadi bersikap sombong dengan menghina, merendahkan istrinya, dan kini akan ia balas perbuatan itu dengan berkali lipat hingga tak bisa di lupakan sama sekali.
"Bersiaplah kehilangan rumah sakit kebangaan keluargamu itu." Ancam Sasuke dingin.
"Aku mohon padamu, maafkan aku Tuan muda Sasuke. Aku sungguh tak tahu kalau Hinata adalah teman dekat anda."
"Apa teman dekat?" Sasuke menatap sinis Sakura.
Tubuh Sakura bergetar takut karena merasa salah bicara.
Sasuke masih mendekap erat tubuh Hinata menutup kedua kuping sang istri agar tidak mendengar setiap perkataannya.
"Jangan sembarangan bicara. Hinata bukan teman dekatku melainkan istri sah ku dan kini ia juga tengah mengandung jadi semua perlengkapan bayi juga pakaian itu bukan untukmu melainkan untuk bayi kami." Jelas Sasuke dengan eskpersi wajah dingin.
Kedua mata Sakura melebar sempurna dirinya hampir saja terkena serangan jantung karena pengakuan Sasuke dan awalnya ia sempat tak mempercayai tapi melihat setiap sikap serta perlakukan Sasuke kepada Hinata membuatnya mau tak mau harus percaya.
"Ayo Hime, kita pergi dari sini." Sasuke menarik tangan Hinata seraya mendorong trolly berisikan perlengkapan bayi yang sudah dipilih mereka tadi.
Sakura mengira kalau setelah merebut Naruto maka kehidupan Hinata akan terpuruk namun siapa yang mengira kalau Hinata bisa mendapatkan pria yang luar biasa hebat jauh lebih baik dari Naruto dalam segala hal. Dan itu membuat Sakura kesal sekaligus marah karena merasa kalah dari gadis kampung seperti Hinata.
"Aaaarggghh!" Sakura berteriak keras membuat beberapa pelanggan yang berada di dekatnya merasa aneh.
Semua belanjaan milik Hinata di bayar cash tidak menggunakan kartu kredit sama sekali dan meminta petugas toko untuk mengirimkannya ke alamat yang diberikan dan Sasuke akan membayar lebih untuk semua belanjaannya.
Juugo datang menjemput setelah dihubungi, acara jalan-jalan mereka berdua rusak karena kehadiran wanita bernama Sakura itu dimana membuat istri cantik jelitanya menangis bahkan berani menghina Hinata di depannya. Padahal Sasuke berencana ingin mengajaknya berjalan-jalan, berbelanja juga makan di restaurant mewah favoritnya.
Namun semuanya hancur berantakan karena kedatangan Sakura Haruno dan bagaimanapun wanita itu harus membayar mahal perbuatannya.
"Hiiksh~" isak Hinata tertahan.
"Sudah jangan menangis lagi." Bisik Sasuke pelan di telinga Hinata.
Kepala Hinata mengangguk pelan mematuhi keiginan Sasuke.
Diam-diam Juugo memperhatikan dari kaca kecil dihadapannya. "Apa telah terjadi sesuatu Tuan muda?" tanyanya penasaran.
"Jangan membahasnya karena membuatku semakin kesal." Jawab Sasuke dengan ekspersi dingin.
"Maafkan saya, Tuan muda."
"Tak apa. Sebaiknya kau fokus menyetir."
"Baik. Tuan muda."
Setelah puas menangis akhirnya Hinata tertidur selama perjalan pulang dan setelah sampai di basement gedung apartement Sasuke tak tega membangunkannya apalagi wajah Hinata terlihat begitu lelah.
Tadinya Juugo berinisiatif menggendong sang Nona muda namun dicegah karena Sasuke sendiri yang akan melakukannya.
Membaringkan perlahan tubuh Hinata diatas kasur kemudian menyelimutinya hingga sedada, lantas Sasuke tak segera pergi meninggalkan kamar. Ia mendudukan diri dipinggir ranjang memandangi wajah lelap sang istri dimana terlihat jelas bekas jejak air mata di kedua pipinya yang gembil dan itu benar-benar membuat kesal pada wanita bernama Sakura Haruno tersebut.
"Sasuke-kun~" panggil Hinata ketika membuka kedua matanya.
"Ya, Hime. Aku disini." Mengusap lembut keningnya penuh kasih.
"Apa menjadi gadis miskin dan jelek adalah sebuah kesalahan..." Kedua mata Hinata mulai berkaca-kaca.
"Siapa yang sudah berani mengatakan seperti itu padamu? Katakan padaku Hime, aku akan merobek mulut lancangnya itu."
"Tak ada...itu semua pemikiranku saja."
"Jangan berkata seperti itu. Kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui."
Hinata langsung beranjak bangun seraya mendekap erat tubuh Sasuke. "Terima kasih sudah menerima dan mencintai waninta sepertiku."
Membalas pelukan sang istri. "Seharusnya yang berkata seperti itu aku bukan dirimu."
Melepaskan dekapannya Hinata menatap penuh arti wajah Sasuke dari dekat, keduanya saling berpandangan satu sama lain. Bibir Sasuke maju mengecup lembut bibir Hinata awalnya tak ada reaksi dari Hinata namun tanpa diduga kalau kecupannya akan dibalas membuat permainan Sasuke semakin menggila.
Merebahkan kembali tubu Hinata ke atas ranjang dengan bibir masih saling bertautan satu sama lain. Tangan Sasuke ikut bermain beranjak naik dari pinggang ke kini meremas pelan dada Hinata membuat satu rintihan kecil lolos dari bibir Hinata.
"Akh~"
Seketika Sasuke menghentikan kegiatannya dan mengingat kembali kalau Hinata tengah hamil belum boleh melakukan hubungan intim karena takut akan mempengaruhi perkembangan janin.
"Ma-maafkan, aku." Ucap Sasuke penuh sesal karena kehilangan kendali.
Tangan Hinata membelai lembut pipi Sasuke, kedua sudut ujung bibirnya tersenyum. "Dari buku kehamilan yang aku baca jika usia kandunganku saat ini sudah bisa melakukan..." Hinata tak mampu melanjutkan perkataannya sendiri karena wajahnya sudah merah padam, malu mengatakannya pada Sasuke.
Tersenyum penuh arti Sasuke mengecup kening sang istri. "Aku akan melakukannya secara pelan dan lembut."
Hinata mengangguk pelan dan detik berikutnya bibir Sasuke sudah melumat dalam.
TBC
