I'll Walk You Home
.
.
Park Chanyeol & Byun Baekhyun
.
.
.
Malam-malam dengan kehangatan yang mereka bagi bersama membuat Baekhyun sedikit naif. Baekhyun pikir ia mengenal Chanyeol. Namun ratusan potret lama yang bertumpuk juga pintu tersembunyi diruang kerjanya membuat Baekhyun sadar jika ternyata Park Chanyeol begitu asing sekaligus menakutkan untuknya.
.
WARN ada adegan ehemnya diatas. Meski gak eksplisit tapi untuk yang tidak suka silahkan diskip aja oke. Ini GS GS, age-gap, hati-hati salah lapak. Jika ada kesamaan itu karena aku Jodohnya Kang Kyuhyun haha..
Happy Reading~
.
.
.
.
Previous Chapter
"Aku sudah memutuskan satu hal."
Kening pria itu mengerut heran,"Apa?" smirk diwajah Baekhyun, kerlingan matanya yang nakal juga lututnya yang perlahan menggesek keatas selangkangannya membuat Chanyeol belajar satu hal lain tentang sosok istri manisnya itu malam ini,
"Aku akan belajar memasangkan pengamannya untukmu, Chanyeol Oppa~"
Gadis itu kembali mengerling nakal kemudian,
Srek!
"O-Ouh.. Baek!"
Ugh! Gadisnya ini berbahaya Man!
.
.
.
Ruangan yang temaram, gordyn yang tertiup angin karena jendela tak tertutup rapat juga erangan halus yang feminim adalah apa yang terjadi setelah Baekhyun bertingkah diatas tubuh besar Park Chanyeol. Harusnya Baekhyun tahu jika pria yang lebih tua darinya itu punya masalah toleransi yang buruk jika gairahnya sudah diganggu, buktinya cukup ia kacau dengan gesekan nakal juga tatapan mengundang, Chanyeol membalikan posisi mereka dengan mudah dan Baekhyun tak menemukan kesempatan untuk melarikan diri.
Seperti malam-malam yang lain, pria itu menekannya diatas ranjang, membuat tubuh mereka menempel erat kemudian bergesekan dan menimbulkan desahan halus yang muncul dari keduanya.
Pakaiannya sudah tanggal dan kini Baekhyun benar-benar sudah telanjang bulat dibawah kungkungan Park Chanyeol, pria itu mengecupi seluruh bagian tubuhnya dan meninggalkan jejak panas yang membuat Baekhyun terbakar api gairahnya semakin jauh. Sekali lagi pria itu melelehkannya dalam sentuhan lembut dan Baekhyun benar-benar lupa daratan.
"Chanyeol-aah~"
Ia melenguh panjang saat lagi-lagi pria itu menyentuhnya di titik paling sensitif, tubuhnya nyaris dibanjiri keringat dan diam-diam Baekhyun merasa risih saat Chanyeol terus saja mengecupinya.
Kecupannya makin menjalar turun mulai dari bibirnya yang bengkak, lehernya, dadanya yang dipenuhi bercak kemerahan makin turun sampai kemudian Baekhyun memekik saat lidah panas pria itu menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhnya. Ia tidak menahan diri dari serangan Chanyeol yang begitu menyesatkan, lagi-lagi ia memekik kencang menekan kepala pria itu minta lepas namun yang terjadi pria itu malah makin tenggelam dalam pusat dirinya.
Kedua tangan Chanyeol yang meremas pinggangnya juga lidahnya yang bergerak nakal terlalu erotis untuk Baekhyun hingga selang beberapa menit kemudian saat pria itu memberinya hisapan kuat, Baekhyun melenguh panjang untuk pelepasannya yang kedua.
Sedangkan Chanyeol, pria itu tersenyum puas melihat gadisnya yang terlihat kepayahan. Tubuh mulusnya yang tanpa cela kini dibubuhi banyak tanda kemerahan yang diciptakan dengan hisapan dan lumatannya. Oh well, Chanyeol rasa Baekhyunnya ini sudah paham jika ia adalah tipe yang suka meninggalkan tanda dan oh.. Lihat wajah Baekhyunnya yang memerah dengan bibir terbuka itu.
Chanyeol merasakan bibirnya kering dan ia tidak bisa lagi menahan dirinya. Dengan perlahan, ia kembali merangkak ketas tubuh mungil dibawahnya kemudian berbisik tepat didepan bibir gadisnya yang terbuka,"Aku masuk ya, Bee."
Baekhyun memang gadis cerewet yang berisik, tapi saat berada dibawah Chanyeol ia hanya gadis tidak berdaya yang dilemahkan gairah buta yang menyesatkan. Saat Chanyeol berbisik dan menuntun lengannya untuk mengalung dibahunya yang kokoh, Baekhyun mengangguk dengan mata yang bersinar polos seraya melebarkan kedua kakinya.
Oh yeah, terkutuklah Park Chanyeol yang telah berhasil merusak kepolosan istri mungilnya yang manis ini.
"Eunghh.. Sa—Sakit."
Chanyeol tidak mengerti, ini bukan yang pertama tapi Baekhyun selalu saja merasa kesakitan saat ia mencoba masuk,"Sshh.. Rileks sayang," untuk menenangkan gadisnya yang mulai kalut, Chanyeol membawa lengannya untuk menjadi alas kepala Baekhyun dan menebar ciuman ringan disepanjang rahang seksi istrinya.
"Akh!"
Pekikan tertahan adalah apa yang terdengar saat Chanyeol berhasil membenamkan dirinya dalam tubuh Baekhyunnya yang cantik. Gadis itu menyerngit kesakitan dan untuk meredakannya, Chanyeol mengecup keningnya lamat-lamat.
"Aku bergerak ya,"
"Shh.. Pelan-pelan, Chan.."
Chanyeol mungkin pria dengan tingkat seksualitas yang tinggi tapi ia masih bisa memegang kewarasannya agar tidak bergerak terlalu gila diatas tubuh istri mungilnya yang belum berpengalaman. Ia hanya ingin bermain pelan dan tepat, karena sampai Baekhyun sudah terperangkap dalam kenikmatan bersamanya, gadis itu tak akan pernah menemukan celah untuk melarikan diri.
"Chan—Chanyeol Ahh.."
Chanyeol membuat sentakan lembut namun pasti, ia menekan dirinya dalam hentakan yang tepat dan dalam. Chanyeol tidak perlu menciptakan gerakan yang liar hanya untuk mencapai puncaknya karena ekspresi Baekhyun, cengkraman dindingnya yang akan segera mencapai puncak juga cairannya yang hangat itu selalu berhasil membuat Chanyeol merasa diinginkan lebih dari apapun.
"Oh, Bee. Jangan diketatkan. Ahh.."
"Ooh! Yeol-aah..!"
"Ugh, kaitkan kakimu dipinggangku sayang."
Dan karena malam ini bermula dari godaan Baekhyunnya yang manis maka bisa Chanyeol pastikan ini tidak akan berakhir dengan cepat.
.
.
.
Melalui malam yang panas, Baekhyun terbangun dengan mata yang bengkak dan tubuh yang terasa remuk, oh yeah hasil dari menggoda pria dewasa yang punya gairah bukan main-main tingginya. Gadis itu mengerjap, menyadari jika ini pagi buta dan sosok pria yang masih berbaring disampingnya membuat Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum dan merona seperti kepiting rebus.
Ia sangat senang mendapati Chanyeol masih terlelap disampingnya. Biasanya pria itu selalu bangun lebih awal dan meninggalkannya sendiri. Tapi sekarang,
Baekhyun mengerjap berkali-kali, tubuhnya ia buat berbaring miring dengan tangan Chanyeol sebagai bantalnya. Ia menghela nafas ringan dan menikmati apa yang tersaji didepannya dengan tenang.
Mata bulat yang terkatup rapat, bibir tebal yang mencumbunya lihai dan dalam kini setengah terbuka dan dada bidangnya yang hangat naik turun dengan irama degupan jantung yang menyenangkan. Baekhyun tak bisa lagi menahan diri, ia terlalu senang dengan apa yang baru saja dialaminya semalam. Baekhyun nyaris tertidur saat Chanyeol mencapai pelepasan terakhirnya namun beruntung saat itu ia masih setengah sadar, ia merasa tubuhnya didekap erat dan pria itu berbisik lembut ditelinganya,
Baekhyun terlarut dalam euforia yang menghentak, hingga tanpa sadar ia bergelung ditubuh Chanyeol semalaman sampai nyaris pagi buta. Selama ini Chanyeol selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang, namun Baekhyun pikir itu semua karena memang sifatnya yang baik. Tidak pernah sekali pun Baekhyun berpikir jika Chanyeol akan memandangnya seperti seorang perempuan,
Ia bocah ingusan. Beruntung ia bisa bertemu sosok seperti Chanyeol yang begitu sabar dengan tingkahnya, awalnya Baekhyun enggan berharap banyak. Ia punya banyak luka yang digoreskan secara sadar dihatinya. Tapi nyatanya pria itu mampu menyesatkannya begitu jauh dalam buaian penuh kasih sayang dan rasanya seperti menginjak lumpur, begitu sulit untuk melepaskan diri.
Baekhyun melipat tangan kirinya untuk ia jadikan sebagai alas, perlahan ia merosotkan tubuhnya hingga kini sejajar dengan dada bidang Chanyeol yang tidak tertutupi selimut, menempelkan dagunya disana kemudian menikmati degupan hangat yang serupa mozart yang paling indah untuknya.
Well, Park Chanyeol memang terlihat sempurna dan Baekhyun tidak bisa berhenti merasa beruntung bisa mengikatnya lebih jauh.
Tangan mungilnya bergerak keatas, menyentuh rahang tegasnya yang menonjol perlahan naik menuju telinganya yang sering ia jadikan bahan ejekan kemudian berakhir dirambut hitam legamnya yang kini turun diatas kening. Chanyeol benar-benar tahu bagaimana cara menampilkan pesonanya karena saat pria ini memamerkan kening lebarnya yang seksi Baekhyun benar-benar dibuat jatuh cinta.
Rasanya memang terlalu cepat untuk melupakan Yifan dan berpindah hati, tapi yang seperti Chanyeol bilang Baekhyun hanya perlu melupakannya karena kini masa depannya yang baru sudah menyambut.
Park Chanyeol-lah masa depannya.
Lagi, Baekhyun bersemu dengan senyumnya yang begitu sumringah. Melalaikan fakta jika pria yang sedari tadi ia tempeli kini turut terbangun dan menatap geli kearahnya.
"Aku rasa ini masih terlalu pagi, apa seranganku semalam tidak berarti apa-apa untukmu?"
Suaranya terdengar serak dan Baekhyun yang sadar Chanyeol terbangun karena tingkahnya kini malah sengaja mengusak puncak hidungnya dibahu polos sang pria.
"Sangat berarti, rasanya masih sakit." Rajuknya.
Chanyeol tersenyum lembut kemudian mengarahkan tangannya untuk membelai bagian yang sakit dibalik selimut mereka,"Maafkan aku, kau terlalu panas semalam."
Mendapat senyuman yang tulus, Baekhyun menggeleng kemudian memilih menjauhkan tangan Chanyeol yang tengah mengusap pusat tubuhnya,"Tidak apa-apa, aku yang menggodamu. Dan sejujurnya aku tidak sanggup untuk sesi lainnya pagi ini, Chanyeol."
"Ya, aku tahu. Kau pasti kewalahan, kau bahkan lupa memasangkan pengamannya untukku. Tapi tidak apa-apa, menyatu denganmu tanpa penghalang apapun rasanya sangat menyenangkan."
Oh yeah, Park Chanyeol dengan mulut nakalnya.
Baekhyun memutar bola matanya jengah dan menekan dada Chanyeol meminta lepas. Namun bukannya melepaskannya, Chanyeol malah makin mengetatkan lilitannya ditubuh Baekhyun hingga tubuh mereka yang masih sama-sama polos menempel begitu intim dibalik selimut.
Pria itu melemparkan tatapan dalamnya,"Ini masih jam 5 pagi tidurlah sebentar lagi, Bee."
Dan Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal, well ini masih sangat pagi dan rasa kantuknya sudah hilang. Kalau menganggu Chanyeol tidak berhasil, ia akan menganggu anak tirinya saja. Siapa tahu anak pinguin itu mau ia ajak pergi jalan-jalan pagi buta.
Senyum miring tercetak jelas diwajah cantiknya dan Baekhyun bergerak perlahan untuk melepaskan diri dari kungkungan Chanyeol namun ia merengut kesal karena setiap kali ia berhasil kabur pria itu kembali membelit kakinya lebih erat dan kini tubuhnya dikunci mati dalam pelukannya. Gadis itu mencebik kemudian memukul lengan Chanyeol yang berada tepat dibawah dadanya keras-keras,
"Menyebalkan! Lepas Chanyeol! Aku mau mandi kau ini ishh.."
"Sshh.. Apa kau tidak lelah ku kerjai semalaman? Kenapa kau begitu berisik pagi-pagi begini? Biasanya kau baru bangun saat matahari sudah tinggi, Baekhyun sayang."
"Tapi hari ini mau bangun pagi, Ahjussi. Lepaskaan.."
Kesal dengan Baekhyun yang malah beraegyeo ria, Chanyeol menggeram kecil kemudian menaikan kakinya untuk membelit kedua kaki Baekhyun agar itu makin terhimpit tubuhnya,"Hari ini aku memonopolimu diatas ranjang. Kau tidak boleh kemana-mana,"
"Aku mau lihat langitnya, Chan~ Bisakah kita mandi lalu pergi ketaman belakang? Sepertinya suasana pagi disana sangat indah."
Chanyeol yang hendak memejamkan matanya menjadi enggan dan kini menunduk menatap pada Baekhyun yang kini tengah memandangannya dengan tatapan penuh harap. Oh yeah, kalau sudah begini sih Chanyeol lemah. Ia tidak kuat menghadapi binar-binar menyilaukan dimata lebah centilnya ini.
"Baiklah. Pastikan jangan banyak ulah karena kau belum bisa berjalan dengan benar."
"Yeay! Tentu saja Ahjussi tampan! Sekarang antarkan aku ke kamar mandi!"
"Baik, Tuan putri."
.
.
.
Langit mulai terang, bias berwarna merah muda tergambar diufuk timur. Baekhyun menempel dipunggung Chanyeol dengan kepalanya yang terkulai dibahu lebar prianya yang tinggi. Bernafas tenang dan tak sekali pun mengalihkan pandangannya dari wajah Chanyeol. Entahlah, belakangan ini ia memang kurang kerjaan sekali, untuk apa menatapi Chanyeol sepanjang hari?
Si objek yang ditatap menyungingkan senyum miringnya dan terus melanjutkan langkahnya dengan tenang,"Cinta sekali ya padaku?"
Oh yeah, ini Park Chanyeol si manusia paling narsis dimuka bumi. Lihat senyumnya itu, ugh.. Baekhyun jadi mual.
"Hentikan senyum idiotmu itu, Ahjussi. Mengerikan tahu."
Walau mencebik, gadis itu tak urung mengeratkan pelukannya dileher sang suami."Mengerikan begini juga terus kau tatap sedari tadi, Baekhyun sayang. Akui saja kau sudah terpesona denganku."
"Aish berisik!"
Mendengar nafas lega yang dihela gadisnya membuat Chanyeol menoleh hingga pandangan mereka bertemu satu sama lain, senyum penuh feromon yang membuat Baekhyun tergila-gila kini kembali tersunging diwajah pria itu,"Aish Bee, apa ini musim semi? Kenapa saat aku melihatmu rasanya bunga-bunga bermekaran diatap rumah."
Blush!
Ugh! Park idiot Chanyeol! Mukanya pasti merah lagi kaan!
"Eyy, wajahmu merah sekali. Malu ya ku gombali? Duh, istriku manis sekali pagi ini."
"Ugh Chanyeol!"
Chanyeol tertawa puas kemudian mendudukan tubuhnya dikursi taman kemudian mengalihkan Baekhyun dari punggungnya,"Rasanya aku tidak perlu gula dikopiku, melihatmu saja rasanya aku kena diabetes. Habisnya kau manis sekali sih, Bee."
Gadis itu tersenyum lebar dengan rengkuhannya yang makin erat dileher Chanyeol,"Jangan kena diabetes, aku tidak mau ditinggal mati muda."
"Eyy.. Kalian semakin chessy saja. Tolong minggir dari sana, itu lapak milikku Dad."
Sosok yang muncul dibelakang mereka dengan pajama pororonya membuat Baekhyun memutar bola matanya jengah. Runtuh sudah bayangan pagi menyenangkannya. Oh guys, siapa lagi polimerase diantara ia dan Chanyeol? Iya, polimerase. Jika dalam ilmu biologi yang ia pelajari Polimerase adalah enzim pemisah rantai sense dan anti sense pada DNA maka dalam kehidupannya nyata, polimerase adalah perempuan bermata bulat bernama Park Kyungsoo yang punya hobi miring memanggilnya ibu tiri dan mengacau saat ia bersama Chanyeol.
Well, ini masih sangat pagi kenapa si polimerase ini harus bangun sih?
"Bergeser Byun, aku mau duduk."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal kemudian menggeser duduknya semakin merapat pada Chanyeol, bermaksud agar si pinguin cantik itu duduk disebelahnya saja. Tapi Park Kyungsoo dengan tingkahnya yang menyebalkan kini malah menelusup diantara jarak tubuhnya dengan Chanyeol hingga kini gadis itu berada ditengah-tengah mereka.
Ugh! Pinguin penganggu!
"Dad jangan terlalu sering menggendong Baekhyun seperti anak kangguru, salah-salah orang akan mengira Daddy ini pedofil."
Chanyeol tersenyum saja, ia meluruskan tangannya diatas punggung kursi hingga kini Kyungsoo menyandar dilengannya dan ia bisa memeluk Baekhyun juga."Bilang saja kau juga mau Daddy gendong, Soo."
Putri sulung itu mencebik dan Baekhyun memeletkan lidahnya mengejek.
"Kalau aku mau tinggal bilang saja Dad, aku kan tidak banyak modusnya seperti seseorang."
Apa si anak tiri itu bilang?
"Kau menyindirku huh?" Baekhyun menyela sengit dan gadis muda disebelahnya itu hanya mengendikan bahunya tidak peduli. Chanyeol yang melihatnya terkekeh geli kemudian mengusak pucuk kepala putrinya gemas.
"Jadi kenapa putri kesayangan Daddy ini sudah bangun? Ini kan masih sangat pagi,"
Kyungsoo mendongak menatap ayahnya kemudian tersenyum lebar saat mendapat usakan dipucuk kepalanya,"Aku mendengar tanda-tanda kehidupan ditaman belakang. Lagipula ini jadwalku mengambil foto langit paginya, Dad."
"Coba Daddy lihat,"
Baekhyun yang merasa diabaikan kini mengerucutkan bibirnya kesal dan melipat tangannya didada. Tahu begini lebih baik ia tidur saja tadi, dari pada jadi obat nyamuk kan. Huh, dasar ayah dan anak sama saja.
Gadis itu menggerutu dalam hati dan Chanyeol yang merasakan gadisnya hanya diam meliriknya sekilas kemudian mengusap bahu Baekhyun dengan ujung jarinya dan mengeratkan pelukannya dilengan gadis itu saat tangannya dipeluk erat.
"Hari ini warna langitnya bagus, Dad."
"Tetap saja bagusan aku," Baekhyun menyambar ketus dan Kyungsoo mencibir geli,"Ngawur kau, Byun. Pergi tidur sana, kau penganggu."
"Heol, siapa yang penganggu disini?"
"Eyy, perempuan mudamu ini galak sekali pagi-pagi, Dad. Sana, jauh-jauh kau Byun."
Baekhyun mendelik seram,"Siapa juga yang mau dekat-dekat denganmu. Dasar bodoh!"
Kyungsoo yang ta terima dikatai bodoh balas mengatai si ibu tiri,"Ya! Ya! Ya—"
"Girls, tenang oke?"
"Lebah centil!"
"Ngaaah.. Pinguin bantet!"
"Ya! Kelinci cerewet!"
"Burung hantu!"
"Huwee... Daddy lebah centil ini mengataiku burung hantu!"
"Chanyeol! Anakmu mengataiku lagi hikss.."
"Kenapa Daddy diam saja?! Katakan sesuatu Dad!"
"Chanyeol! Kau tidak mau membelaku?"
Hah/
Jangan ditanya siapa yang menghela nafas dan angkat tangan. Cari aman guys, cari aman! Bubar! Bubar
.
.
.
.
"Hei, Baek. Selamat ulang tahun."
Di malam yang dingin, Baekhyun yang tengah berbaring santai kini menatap anak tirinya yang masih memeluk toples camilan juga menonton kartun kesayangannya, Pororo. Dan apa katanya barusan? Selamat ulang tahun? Apa Baekhyun salah dengar? Ah, rasanya tidak mungkin. Telinganya sehat kok, tidak pernah mengalami gangguan apapun. Jadi si anak pinguin itu benar-benar mengucapkan selamat ulang tahun padanya?
"Err.. Ngomong-ngomong ulang tahunku sudah lewat sekitar dua minggu. Kenapa kau baru ucapkan selamat sekarang?"
Kyungsoo yang mulanya sibuk dengan pororo kini mengalihkan tatapannya kesamping tepat kearah sang ibu tiri,"Kenapa kau tidak bilang?"
Pertanyaan yang tidak tuntas dari sang anak tiri membuat Baekhyun merengut bingung,"Tidak bilang apanya?"
Gadis bermata bulat itu kembali menguyah keripiknya dengan eskpresi datar,"Kalau kau bilang mungkin Daddy akan rayakan pesta dan mengundang badut karakter untukmu, Baek."
Geez, apa katanya? Badut karakter? Memang Kyungsoo pikir Baekhyun ini anak playgroup apa."Kau pikir aku ini bocah yang belum tumbuh gigi huh? Kalau mau juga undang oppa-oppa tampan sekelas DBSK, Super Junior atau EXO. Ini badut karakter payah sekali kau, Kyung."
"Eyy.. Kau mau seratus badut karakter dari mulai Spongebob sampai si Arnold juga pasti Daddy datangkan. Kalau mintanya Oppa tampan sih jangan harap, aku pernah mencoba dan gagal. Lagipula anak yang belum tumbuh gigi biasanya takut dengan badut Baek, jangan-jangan kau takut ya Baekhyun?"
Melihat ekspresi Kyungsoo yang begitu datar tanpa emosi membuat Baekhyun terkikik geli. Coba saja air muka si anak pinguin ini terus datar, Baekhyun yakin lama-lama wajahnya akan ikut datar. Lihat wajah malasnya itu,"Memang kau minta didatangkan siapa?"
Kyungsoo tersenyum sumringah tanpa mengalihkan tatapannya dari Pororo dilayar televisinya,"Tentu saja, EXO. Babo.."
Ah, jadi anak tirinya ini juga fangirls?
"Teman-teman dikelas sudah bertarung untuk tiket konser EXO nanti, kau dapat tidak?"
Bukannya menjawab, Kyungsoo malah mencebik."Boro-boro, Daddy tidak izinkan. Aku nonton di youtube saja,"
"Ah.. Ayahmu itu payah."
"Ayahku itu suamimu, berarti suamimu juga payah Byun."
"Yeah.. Dia memang payah. Bagaimana bisa dia meninggalkan kita kering disini sedangkan dia pergi main bowling? Jahat sekali."
Oh ya, sudah seminggu ini si Ahjussi tampan itu akan pulang larut malam dan saat Baekhyun tanyai, pria itu hanya tersenyum tidak berdosa dan mulai berkelit dan menyogok Baekhyun ini itu. Kesempaan sih sebenarnya, tapi Baekhyun juga ingin ikut main bowling! Lain kali harus ia pikirkan caranya agar bisa ikut Chanyeol bersama teman-temannya main bowling. Pria itu tidak bisa menang sendiri begini.
"Hei, Baek. Buatkan aku itu, kau bisa tidak?"
Baekhyun yang semula fokus dengan lamunannya kini megikuti arah telunjuk si anak tiri, kearah layar plasma yang kini menampilkan berbagai macam rainbow cake dalam sebuah jar. Oh iya, Baekhyun ingat. Si anak tiri ini kan minta dibuatkan cup cake."Aku hanya bisa buat yang stawbery cheese cake, rasanya tidak terlalu bagus tapi ya masih bisa dimakan. Kenapa kau tidak minta tolong chef Kim saja?"
Gadis itu menggeleng kemudian menyimpan toples camilannya diatas meja,"Buatkan ya, Baek?"
Cih, lihat agyeo dengan bibir mengerucut juga mata yang bersinar. Sekarang Baekhyun tahu bagaimana pembagian gen keluarga Park. Kalsium adalah milik Chanyeol sepenuhnya dan agyeo adalah milik Park Kyungsoo yang mutlak. Tak heran jika Chanyeol kelihatan begitu menggelikan saat beraegyeo dan Kyungsoo begitu pendek jika dibandingkan dirinya. Oh, sekarang Baekhyun baru percaya kalau dunia ini sungguh adil.
Guys, abaikan Baekhyun dengan pemikiran sesatnya karena kini, si sulung Park itu mulai berubah mode dari anak baik-baik jadi devil mengerikan yang siap buat Baekhyun kesusahan. Oh guys, lihat matanya yang berkilat aneh.
"Baekhyun, mau buatkan tidak? Kalau tidak mau aku akan bilang pada daddy kalau kemarin kau masuk keruang kerjanya diam-diam,"
Baekhyun mengerjap, ia dilaporkan pada Chanyeol? Menyelinap diam-diam? Oh tidak boleh! Ia tidak mau berakhir jadi bola bowling untuk pria itu!
"Mau tidak, Baek?"
Ancaman bernada halus yang dilayangkan si anak tiri membuat Baekhyun mendelik tajam seraya mendengus.
"Oke, oke aku buatkan! Jadi tutup mulutmu itu anak manis."
Senyum kemenangan terulas sempurna diwajah Kyungsoo,"Oke, mommy Baekki! Ayo kita buat chesse cakenya! Yuhuu!"
Kalau begini caranya Baekhyun lebih memilih Kyungsoo tidak usah memanggilnya dengan embel-embel mommy. Si anak tiri itu selalu punya treat yang menjengkelkan saat memanggilnya mommy. Baekhyun kan jadi ngeri.. Hiii..
.
.
Suara mesin pengaduk adonan terdengar, para maid berjejer rapih dibelakang kicthen set berjaga-jaga jika dua nona muda mereka membuat kekacauan parah yang bisa meledakan dapur. Park Kyungsoo yang masuk kedapur adalah jarang, sangat jarang bahkan hampir tidak bisa ditemukan. Tapi malam ini? Oh berdoa saja supaya tidak terjadi badai besar di wilayah Seoul dan sekitarnya.
Oke abaikan bagian yang itu. Kini Baekhyun tengah serius mengisi cetakan cup cakenya dengan adonan yang sudah jadi dan si anak tiri, kini ia mencebik kesal karena sedari tadi Baekhyun menyuruhnya ini itu. Kyungsoo ambilkan telur, Soo jangan matikan pengaduknya padahal kan tangannya pegalbukan main dan ngaahh.. Kyungsoo sebal setengah mati! Niatnya kan ingin mengacau Baekhyun agar kesal, tapi kenapa ibu tirinya itu malah kelihatan senang-senang saja? Ini namanya senjata makan tuan! Haiish..
Seraya mengaduk cream didalam mangkuk, Kyungsoo menatap sebal pada Baekhyun yang tengah memasukan adonan ke dalam oven dan mengatur suhu.
"Kalau kuenya tidak enak bagaimana?"
Gadis dengan apron merah muda itu berlalu santai kemudian mendudukan tubuhnya diatas konter dapur,"Tenang saja, masih ada Toben kok. Kalau tidak enak kita bisa korbankan anak kesayangan ayahmu itu saja."
"Tapi Baek,"
"Hm?"
"Kemarin kau berhasil menyusup ke ruang kerja daddy, bagaimana caranya? Kau tahu passwordnya?"
Itu benar, kemarin saat Baekhyun mencari-cari notes kesayangannya ia tidak bisa menemukannya dimanapun. Dan Baekhyun ingat jika Chanyeol suka diam-diam membacanya, jadilah ia berinisiatif mencarinya diruang kerja pria itu dan tara.. ternyata pintu itu dikunci dengan kode keamanan. Baekhyun tersenyum miring,
"Aku berhasil membajaknya, kau tahu."
Mendengar nada sombong sang ibu tiri Kyungsoo mendengus. Ia mematikan mesin pengaduk kemudian beralih duduk disamping sang ibu tiri."Apa Daddy beritahu passwordnya padamu?"
Ayahnya itu memang terlihat santai didepannya tapi Kyungsoo yakin jika sikapnya itu hanya topeng. Pernah saat beberapa kali Kyungsoo berkunjung ke kantor, ia menemukan ayahnya dalam sosok arogan yang tidak punya belas kasihan. Pada awalnya ia terkejut, namun kemudian saat ayahnya memberi perngertian akhirnya Kyungsoo bisa mengerti. Ia tidak tahu apa-apa tentang dunia bisnis dan mungkin apa yang dilakukan ayahnya itu adalah suatu keharusan. Tapi diam-diam dalam hati kecilnya ia takut melihat sosok Daddynya yang seperti itu.
"Sebelumnya tidak pernah ada yang bisa masuk kesana kecuali, Jongdae."
Kim Jongdae. Tangan kanan ayahnya.
Baekhyun merengut,"Ayahmu menggunakan satu kode yang sama untuk semua sistem pengamanannya. Aku tidak tahu itu kombinasi apa tapi seperti tanggal ulang tahun seseorang." Ia mengucapkannya hati-hati dan mendapati air muka Kyungsoo yang nampak keruh ia menjadi merasa bersalah.
"Err.. Soo, kau mau pergi kesana? Aku yakin ayahmu tidak akan pulang dalam waktu dekat."
Gadis itu mendongak menatap Baekhyun dengan pandangan linglung,"Boleh Baek?"
Baekhyun membalasnya dengan anggukan mantap,"Semuanya aman selama tidak ada yang tahu. Ayo cepat, Ahjumma! Tolong teruskan ya!"
Melepaskan apronnya, kedua perempuan itu berlari tergesa menaiki tangga. Melalui lorong yang panjang sebelum akkhirnya berhenti tepat disebuah pintu ganda berwarna hitam mengkilat dan saling melempar tatap. Baekhyun yang pertama kali mengambil tindakan, ia menekan beberapa angka dan Kyungsoo memperhatikannya lekat-lekat.
04041982
Itu jelas bukan tanggal lahir ayahnya apalagi tanggal lahirnya, jadi...
"Masuklah, Soo."
Ruangan itu luas, dengan buku-buku yang tertata rapih dalam rak yang tinggi juga meja kerja yang sama seperti yang terakhir kali Kyungsoo ingat. Rasanya sudah lama ia tidak pernah masuk keruangan ini, ayahnya membuat kehadiran ruangan ini kali Kyungsoo masuk kesini adalah saat ia berada ditingkat pertama sekolah menengah atas. Saat itu ia tengah mencari buku biografi untuk tugas sekolahnya dan hampir membuka suatu file penting yang entah apa. Sejak saat itu ayahnya melarang siapapun masuk kedalam ruang kerjanya. Sudah lama Kyungsoo penasaran dan akhirnya kini ia bisa menuntaskan rasa itu, tapi tidak ada hal aneh—
"Hei, Kyung. Lemari ini bisa digeser."
Kyungsoo berjalan mendekati Baekhyun kemudian membantu gadis itu menggeserkan lemari buku yang menempel didinding. Saat pintu tergeser Kyungsoo terperangah, dibalik lemari itu ada ruangan lain!
"Aku tidak tahu jika Chanyeol adalah tipe pria yang bisa menyimpan rahasia, dia terlalu santai."
Untuk kali ini Kyungsoo setuju dengan Baekhyun. Ia juga memikirkan hal yang sama.
"Oh lihatlah ini, apa ini file rahasia perusahaan ayahmu? Kenapa banyak sekali?"
Atensi keduanya teralih pada kumpulan amplop berlogo Park Corporation yang menumpuk dimeja nakas. Baekhyun dan Kyungsoo berjalan mendekat, membawa satu amplop itu kemudian duduk diranjang besar yang berbalut bed sheet berwarna putih, membukanya disana hingga foto berhamburan diatas ranjang.
"Apa sebelumnya kau tahu—"
Deg!
Ucapan Baekhyun terputus saat ia melihat foto-foto yang berserakan diatas ranjang, semua objek foto itu adalah—
—dirinya bersama Wu Yifan.
"Jangan sentuh apapun Baek!"
Ia menatap Kyungsoo dengan pandangan tidak bisa mengerti, semua objek foto itu adalah dirinya semasa sekolah menengah atas! Bagaimana bisa—
"Aku tahu kau pasti terkejut dan aku juga. Tapi jangan sentuh apapun, kita tidak boleh ambil resiko. Daddy sangat teliti dan aku yakin Daddy hafal jumlah foto dalam amplop ini. Menyingkir dari sana, kita akan buat salinannya sendiri."
Kyungsoo benar, mengingat apa yang mereka temui hari ini Chanyeol memang pria yang rapih dan teliti. Pria itu akan mengingat setiap detail hal penting dan jika ada berubah sedikit saja ia bisa tahu. Menghindari resiko, Baekhyun beranjak dari duduknya kemudian membiarkan Kyungsoo memotret foto-foto itu dengan ponselnya.
"Apa kita harus buka amplop yang lainnya juga?"
Baekhyun melirik jam digital pada meja nakas,"Setengah jam lagi Daddymu pulang, Soo." Lebih tepatnya Baekhyun tidak siap melihat potret ia bersama Yifan lebih banyak lagi.
Kyungsoo yang tidak tahu apa-apa mengangguk paham kemudian kembali memasukan foto-foto itu kedalam amplop dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Sedangkan Baekhyun masih berdiri dengan bingung, terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Kyungsoo yang melihat itu menghela nafas, ayahnya memang tidak terduga.
"Ayo keluar, Baek."
Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Baekhyun berjalan dibelakang mengikuti Kyungsoo dan mengikuti sang anak tiri. Menggeser lemari itu kembali ketempatnya kemudian menutup pintu rapat-rapat. Melihat ibu tirinya yang seolah tidak bernyawa, Kyungsoo berinisiatif mendudukannya dimeja makan kemudian memberinya segelas air.
"Minumlah."
Perempuan itu menurut dengan sedikit meminum airnya kemudian mencengkram gelas erat-erat."Boleh aku lihat fotonya sekarang?"
Kyungsoo mengangguk kemudian memberikan ponselnya pada Baekhyun, bertanya hati-hati pada perempuan itu,"Boleh aku tahu siapa pria di foto itu?"
Baekhyun menatap layar ponsel Kyungsoo dengan tatapan sedih kemudian tersenyum pahit,"Aku tidak yakin menyebutnya apa. Harusnya aku bisa memanggilnya mantan pacar jika saja dia tidak bilang dia hanya kasihan padaku. Ini Wu Yifan."
Wu Yifan? Kenapa ia merasa tidak asing? Namun buru-buru Kyungsoo menepis pikirannya. Baekhyun sedang goyah, tidak boleh ia rongrongi dengan pemikiran macam-macam atau gadis ini akan kesulitan bersikap didepan ayahnya.
"Ehm, jadi foto ini diambil saat kau kelas?"
"Mungkin saat ditingkat dua sekolah menengah atas. Ah entahlah, aku lupa.."
Well, jadi ayahnya sudah membuntuti Baekhyun sejak tingkat duanya ya. Kenapa ayahnya melakukan hal seperti itu? Dan lagi, menebak reaksi Baekhyun, Kyungsoo rasa pria bernama Wu Yifan itu bukan seseorang yang biasa saja. Ada apa sebenarnya?
"Err.. Kau bisa bersikap normal kan Baek? Kalau kau ingin tahu apa maksud dari foto-foto barusan kau harus tenang, oke? Bersikap seperti biasa didepan Daddy. Kau bisa kan?"
Baekhyun mengusap air mata yang mengalir diwajahnya dengan punggung tangan kemudian mengangguk patuh,"Hikss.. Aku mengerti.."
Kyungsoo meringis saat melihat ibu tirinya itu menangis tersedu-sedu seraya menyembunyikan wajahnya diatas meja. Melihat foto itu sepertinya Baekhun benar-benar kesulitan mengendalikan diri, setahunya Baekhyun bukan tipe gadis cengeng dan hobi mengadu macam dirinya. Tapi untuk malam ini, tidak ada Baekhyun yang tegar. Yang ada hanya Baekhyun yang tidak lebih dari seorang bocah kecil yang hilang ditengah keramaian, kebingungan, ketakutan dan sendirian tanpa seseorang pun yang dikenal. Gadis ini tersesat dalam lukanya yang dalam.
Ia mendekat dengan canggung, berdiri disamping sang ibu tiri kemudian menepuk-nepuk punggungnya dengan halus."Sshh.. Baek, jangan menangis. Oke? Ceritakan saja padaku, jangan kau simpan sendirian."
Kyungsoo itu cengeng, melihat anak kucing yang mengeong kelaparan saja ia menangis apalagi melihat seseorang yang menangis hebat didepannya. Baekhyun itu adalah teman berdebatnya yang paling setia, perempuan ini juga partner in crimenya yang paling bisa diandalkan. Melihatnya lemah begini Kyungsoo tidak suka, ia merasa tidak berguna.
"Baek, katakan sesuatu jangan membuatku khawatir. Baek, Baekhyun-ah.."
Mendapat satu panggilan tulus untuknya, Baekhyun mendongak dengan wajahnya yang sembab,"Hikss.. Maafkan aku, aku.. Aku hanya sedih.. Aku merindukan Yifan tapi— tapi hikss.. Dia bahkan tidak pernah mengingatku lagi."
Kyungsoo menghapus air matanya yang mengalir dan menahan isakan,"Jangan jadi perempuan bodoh, Baek. Kau tidak boleh larut dalam perasaanmu, si Yifan brengsek itu sudah meninggalkanmu. Kenapa kau harus mengingatnya lagi?"
"Aku sakit, hikss.. Hatiku sakit sekali, Kyungsoo.. Dia bahkan pergi begitu saja saat tahu aku nyaris mati padahal dia bilang dia tidak akan pernah meninggalkanku. Aku sudah mencoba tidak mengingatnya tapi melihat semua foto itu aku tidak bisa.. Hikss.. Saat dia menelponku dan bilang kami berakhir aku rasa itu mimpi karena setelah itu semuanya jadi gelap dan telingaku pekak. Tapi saat aku bangun, aku hanya sendirian. Dia tidak ada dimana-mana meski aku menjerit memanggil namanya meminta kembali.."
"Tapi Baek, dia sudah meninggalkanmu dengan kejam. Harusnya kau marah dan membencinya. Bagaimana bisa—"
"Hikss.. Aku tidak tahu Soo, aku memang marah aku juga membencinya. Tapi ternyata rasa rinduku jauh lebih besar hikss.. Aku harus bagaimana?"
Kyungsoo menghela nafas, tangannya tidak berhenti mengusap punggung Baekhyun. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ternyata sesakit apapun, sedalam apapun dan separah apapun. Bekasnya tidak akan pernah terhapus dengan mudah. Baekhyun yang mengajarinya itu.
"Berhentilah menangis, Baek. Sudah cukup oke?" ia meraih wajah Baekhyun kemudian megusap jejak air mata yang tertinggal diwajah sembabnya."Saatnya berubah, kau bukan Byun Baekhyun yang merindukan Wu Yifan. Sekarang kau adalah Park Baekhyun ibu tiriku yang menyebalkan. Kita harus pintar menghadapi situasi, kita pecahkan satu per satu. Urus dulu tingkah ayahku baru kita temukan Wu Yifan dan hajar bersama-sama, oke?"
Err.. Jadi mana yang ibu dan mana yang anak diantara mereka?
"Hiks.. Oke anak tiri. Ja—di.."
"Ada apa ini?"
Suara husky diujung ruang makan membuat Baekhyun dan Kyungsoo menoleh serentak."Daddy/Chanyeol?!"
Chanyeol yang mendapat sahutan kompak menaikan sebelah alisnya heran. Ia baru saja pulang kerja, berharap sambutan hangat untuknya yang seperti biasa. Tapi.. Sedang apa anak dan istrinya itu dengan wajah bengkak dan.. sembab? Oh tunggu dulu, jangan katakan mereka habis saling serang dengan pisau dapur! Duh ampun! Dua gadis labil ini!
"Apa yang sedang kalian lakukan? Kalian tidak sedang perang'kan?"
Hening,
Baekhyun menyikut perut Kyungsoo dan si anak pinguin itu melakukan hal yang sama kemudian saling berbisik rusuh."Lakukan sesuatu babo!"
"Kau yang lakukan sesuatu!"
"Hei, jadi ada apa ini?"
Tak mendapat jawaban yang diinginkan Chanyeol berjalan mendekat. Tingkah tidak biasa kedua perempuan kesayangannya ini membuat ia curiga, Baekhyun dan Kyungsoo seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Tapi apa?
Melihat Chanyeol yang makin dekat sontak Baekhyun merebut ponsel Kyungsoo diatas meja dan menyerahkannya pada gadis itu. Ia beranjak panik kemudian tersenyum lebar tidak wajar,"Kyungsoo, rencana kita gagal jadi cepat—"
"Happy birtday to you! Happy birtday to you! Happy birthday! Happy birtday! Happy birthday to you!"
Chanyeol melongo ditempat.
Baekhyun dan Kyungsoo terkekeh canggung seraya menggaruk tengkuk masing-masing,"Eh—Eheh.."
"Nyanyian apa itu barusan? Kau sedang memberi selamat atau demo minta tiket konser disubsidi huh?" Baekhyun mengejek melalui sudut bibirnya yang mengerucut. Dan yang diejek kini melempar tatapan membunuhnya dan,
"Tutup mulutmu!"
Kening Chanyeol mengerut dalam,"Daddy tidak sedang ulang tahun, Soo."
Kedua gadis itu mengerjap. Kyungsoo menginjak kaki Baekhyun keras-keras hingga—
"Aw! Shh.. Bu-Bukan kau yang ulang tahun Chan! Tapi aku! Aku yang ulang tahun eheh.. Ahjumma! Sudah aku bilang saat Kyungsoo bernyanyi bawa kuenya kedalam ish!"
Kyungsoo yang memulai skenario buru-buru menimpali,"E—Eh iya Dad, Baekhyun yang ulang tahun. Kemarin tepatnya."
Baekhyun mendelik,"Apa-apaan! Ulang tahunku dua minggu yang lalu ku bilang!"
Kyungsoo balas mendelik lebih kejam,"Bodoh! Kau bilang kemarin!"
"Dua minggu yang lalu bantet!"
"Kemarin bogel!"
"Hei apa?! Ini ulang tahunku kenapa kau yang ngotot!"
"Tapi tadi kau bilang ulang tahunmu kemarin Baekhyun bodoh!"
"Ini ulang tahun siapa sih sebenarnya?"
Oh.. Oh..
Chanyeol spechless.
Kedua gadis itu saling melempar tatapan mematikan sebelum akhirnya serentak menoleh kearah Chanyeol,"Menurutmu kapan ulang tahunnya Chanyeol/Dad?"
Mendapat glare dari kedua perempuan kesayangannya membuat Chanyeol menelan ludah, membenarkan Baekhyun ia akan didiamkan seminggu penuh dan membela Kyungsoo ia akan tidur diluar tanpa selimut. Jadi..
"Chanyeol/Daddy?"
Chanyeol menggaruk tengkuknya bingung,"Err.. Karena ini ulang tahun Baekhyun jadi Daddy rasa jawabannya adalah dua minggu yang lalu, Soo. Maafkan Daddy ya?"
"Yeay! Assah!" Baekhyun melompat kegirangan dan Kyungsoo memasang wajahnya yang paling datar,"Oh. Daddy jadi di team Baekhyun ya? Tidak masalah. Ya sudah kalau begitu, cakenya akan aku habiskan semua! Kalian tidak boleh minta hahaha!"
Kyungsoo tertawa brutal dan Baekhyun menjerit tidak terima,"Ya! Mana bisa begitu! Aku yang membuatnya! Hei, soo! Kyungsoo! Ya! Anak tiri!"
"Beli saja cakemu sendiri ibu tiri hahaha!"
"Yah!"
"Eum Baek, kita beli saja oke?"
"Hiks Chanyeol! Kau dipihak siapa sih sebenarnya!"
"Baek.. Hei, Baek!"
"Tidak tahu! Tidur diluar kau caplang!"
Aish, ini sih namanya maju kena mundur kena. Bagaimana bisa ia tidur diluar sedangkan ia sudah tidak sabar memeluk dan mengacau Baekhyunnya semalaman?"Baek, Baekhyun sayang.. Bee?"
"Bodo!"
"Aish.. Baek!"
"Eyy.. Tidak ada gunanya, Dad. Jadi selamat tidur diluar, daddy tampan. Semoga mimpi indah ya."
Uh! Apa-apaan putrinya ini?!
"Daah daddy sayang~"
"Ugh! Park Kyungsoo!"
Hahaha..
Err.. Jadi guys jangan pernah tiru Kyungsoo. Oke?
.
.
.
To Be Continue
A/N: Oke, gimana gimana? Makin aneh? Makin gaje? Bodo ah, yang penting gue gak kena sambit pisau gara ngecut naenya Papih loey haha. Gak hot gapapa ya Baek kan masih bocah unyu wkwk jangan panas-panas dulu wkwk.. Jangan sambit gue please wkwk.
Gue ragu ini ff ada yang nungguin apa nggak tapi setelah chapter ini rampung dan gue fermentasi semingguan akhirnya gue berani publish juga. Sorry upnya yang selalu ngaret. Makasih buat reviewnya ya gaes terutama buat review paling cetar sepanjang masa punya kak Istri Park Ganteng Chanyeol yang mulai dari Seoul ke Bucheon sampe Seoul lagi baru beres hahaha, gue paling cinta reviewnya kakak apalagi bagian gosipin si ayah wkwk.. And betewe kak Markeu Noona gue semester 3 jadi ini mah fix ya gue yang tuir wkwk. Buat kak Aerellia ini udah masuk konflik yaakak.
Ayo gaess direview yaa, maap gak bisa bales satu-satu. Saranghaeyo/
Jewika-katsumi99-Markeu Noona-lovebaekhyun-Twelvelight-Anhwa-parkobyunxo-parkwillsy-rimaaa-Aerellia-Yoon745-boyaamii-shinshiren-pinkeury-Nadhefuji-Freakyducky04-ay-baekkiepuppy-Park RinHyun-Uchiha-Lisha231-4kimhyun-katsumi99-afrilany pahsya-selepy-minami Kz-mons'cbhs'kjd-Istri Park Ganteng -Arum364-nnukeybum-CussonsBaekby-rizkaa-rly-BaekHill
See ya~
