I'll Walk You Home

.

.

.

Park Chanyeol & Byun Baekhyun

.

.

Semuanya berawal dari Nyonya Park yang lelah melihat putranya selalu sendiri dan Kyungsoo, sang anak yang menolak gagasan Mommy baru. Lalu karena klausul bodoh yang Kyungsoo buat dengan daddynya, ia harus menahan rahangnya agar tidak jatuh saat melihat siapa calon pengantin ayahnya."Demi apa kita bahkan duduk dikelas yang sama Byun!"

WARN: Ini GS! GS! GS!

.

.

.

Ada yang aneh dari istri dan anaknya. Ah tidak, tidak ini bukan karena Kyungsoo tiba-tiba berubah jadi pororo lucu dari kutub utara ataupun Baekhyunnya yang cantik bertransformasi jadi rubah manis bereyeliner. Hanya saja, dua gadis berisiknya itu jadi begitu pendiam dan pemurung. Ini jelas bukan situasi yang mudah. Kemana pergi Baekhyunnya yang suka mengadu? Kemana hilang Kyungsoonya yang hobi merengek?

Sudah seminggu ini keadaan mansion sepi dan jika Chanyeol bandingkan dengan beberapa bulan kebelakang keadaan ini menampilkan kurva yang bertolak belakang. Biasanya akhir bulan adalah waktu paling rawan dimana Chanyeol harus lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan menjadi penengah antara dua gadis muda yang estrogennya sedang naik tinggi. Oh yah, apalagi jika bukan pms? Akhir bulan kemarin anak dan istrinya itu saling serang dengan bantal sofa, akhir bulan kemarinnya lagi dengan remasan kertas tugas dan bulan ini? Err.. Tidak terjadi apa-apa dan sungguh Chanyeol ngeri.

Dan lagi, kenapa Baekhyun dan Kyungsoonya begitu tenang dikursi penumpang?

Khawatir dengan keadaan anak dan istrinya, Chanyeol berdehem kemudian memecah keheningan dengan pertanyaannya.

"Ehem, girls? Semuanya oke 'kan?"

kan karena memang tujuan Chanyeol untuk meyakinkan. Mengurusi putrinya itu sejak kecil membuat Chanyeol paham betul dengan habit putri sulungnya itu. Mulai dari kebiasaan tidur, makanan favorit, warna favorit sampai siklus bulanannya sekali pun dan harusnya anak dan ibu itu sedang saling serang karena kondisi hormon yang sedang naik. Oh well, itu bukan hal yang aneh karena saat pertama kali Kyungsoo dapat siklus bulanannya, anak perempuan kesayangannya itu datang padanya seraya menangis-nangis dan terpaksa ia membuat keributan dengan menelpon ibunya yang menetap di Jepang untuk pulang. Chanyeol dapat satu pukulan penuh kasih sayang dari sang ibu tercinta tepat dikepala sebelum ibunya yang cantik itu bilang,

"Anakmu baru saja mendapatkan siklus bulanannya, Chanyeol anak Mama yang bodoh."

Karena tidak suka dipanggil ibunya bodoh, mulai dari situ Chanyeol belajar lebih peka dengan kondisi sang anak. Sepaham Chanyeol siklusnya kadang tidak tetap dan berganti tapi satu hal yang pasti, jika putrinya itu sudah merengek tidak karuan dan perkataan tajamya sudah muncul kepermukaan itu artinya siklusnya akan segera datang. Tapi dalam kasus ini, jangankan pekataan tajam, bicara saja tidak. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan anak dan istrinya ini?

"Kyungsoo? Baekhyun?"

Kyungsoo yang pertama kali angkat bicara, enggan terus ditanyai ayah tampannya yang berubah cerewet,"All is okay, Dad. Jadi Daddy menyetir saja dengan benar, oke?"

"Tapi nak—"

"Chanyeol, kalau anak pinguinmu ini tidak oke aku akan mengikatnya. Jadi bisakah kau menyetir saja dengan tenang, hm?"

Ini lebih aneh lagi, sejak kapan lebah dan pinguin ini bisa kompak?

Chanyeol senang, tapi sepertinya ini bukan pertanda baik yang bisa membuatnya tenang. Namun memaksa menanyai anak dan istrinya ini tidak akan membuahkan hasil, jadi biarlah Chanyeol cari tahu sendiri nanti.

Pria tinggi berlesung pipit itu memutuskan kembali fokus dengan jalanan lenggang didepannya, memilih tutup mulut dan diam-diam memikirkan opsi yang mungkin jadi penyebab kacaunya komunikasi diantara mereka. Chanyeol bertanya-tanya, apakah karena belakangan ini ia selalu pulang terlambat? Ya, itu cukup masuk akal untuk menjadi sebab. Atau.. Mood anak dan istrinya saja yang tengah jelek? Tapi jika moodnya sedang hancur bukankah pasangan anak dan ibu tiri ini biasanya saling serang? Err.. Ini?

"Daddy tidak usah jemput, pulang nanti aku dan Baekhyun akan pergi ke toko buku. Biar pak Kang saja yang antar."

Ayah tampan itu mengangguk paham kemudian membelokan roda kemudinya tepat didepan gerbang kampus, ia melirik kebelakang dimana putrinya tengah sibuk dengan tas,"Jangan lupa makan siang, oke?"

"Oke, Dad. See you."

Kyungsoo turun dari kursi penumpang dibelakang dan kini tinggal Baekhyun yang juga sedang sibuk mengecek tasnya, Chanyeol pun menyandarkan tubuhnya santai kemudian menatap sang istri lekat-lekat. Dan Baekhyun yang merasa diperhatikan sontak mendongak melempar tatapan bingungnya,"Ada apa Chanyeol? Kenapa menatapku seperti itu?"

Gadis itu mengerjap gugup, tidak sanggup ditanyai Chanyeol macam-macam.

Tapi Chanyeol hanya diam tanpa melakukan apapun dengan tangan bersidekap diatas dada, berusaha terlihat sedikit mengancam didepan perempuan mungilnya yang terlihat gugup. Kalau tingkahnya begini, Chanyeol paham betul ada yang salah.

"Jadi kapan kau berencana menatapku, Bee? Sedari pagi kau terus lari dan menghindar dariku."

"Err.. aku tidak menghindar kok. Sudah ya, ujiannya akan mulai aku harus pergi sekarang."

Baekhyun hendak turun dan kembali menghindar, namun Chanyeol bergerak cepat dengan menekan tombol kunci otomatis dipanel kemudi hingga perempuan manis itu tidak bisa kabur kemana-mana.

"C—Chanyeol—"

"Ujiannya akan dimulai 20 menit lagi, Baekhyun sayang. Jadi berhenti berkelit oke? Pindah kebelakang."

Menerima ucapan arogan sang suami membuat Baekhyun merengut tidak senang, lantas ia melempar tatapan penuh protesnya pada si tinggi Park,"Untuk apa pindah kebelakang? Jangan macam-macam Chanyeol, ini tempat ramai."

Pria tampan itu menyipitkan matanya,"Kau berharap aku berbuat macam-macam ya, Bee?"

Cih, dasar pria kelebihan hormon.

Meski mendengus gadis mungil yang kini bermarga Park itu tak urung pindah ke kursi belakang, sengaja memilih duduk begiru rapat dengan pintu agar jaraknya dengan Chanyeol bisa lebih dari aman. Oh well, itu hanya untuk upaya pencegahan. Park Chanyeol kan berubah kapanpun hidung tingginya itu mau. Baekhyun tidak mau terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan buat ia gagal ikut ujian semester.

"Ish! Jangan dekat-dekat!"

Mendapati sahutan galak dari lebah centilnya yang manis membuat Chanyeol ikut terkekeh,"Aku akan macam-macam jadi tahan sebentar, Bee. Hanya lima menit oke?"

Setelahnya Baekhyun tak bisa lagi mengajukan protes, otaknya dibuat kesulitan berpikir dan pikirannya dibuat setengah waras saat Chanyeol menempelkan bibir mereka begitu lama sebelum bibir tipis pria itu terbuka dan memberikan sesapan juga lumatan halus yang membuat Baekhyun memejamkan mata juga mencengkram bahu pria itu kuat-kuat.

Baekhyun dibuai dengan ciuman lembut yang membuat ketegangan emosinya sedikit berkurang dan saat Chanyeol rasa istrinya itu sudah sedikit melemas, ia memberikan sesapan terakhir sebelum melepaskan pangutannya dan memberikan usapan lembut diatas bibir gadisnya yang merah merekah juga basah menggoda.

"Jangan terlalu tegang untuk ujianmu. Kau pasti bisa, Baekhyun sayang. Semangat ya.."

Ugh, kalau begini caranya bagaimana bisa Baekhyun tidak jatuh cinta? Kenapa Park Chanyeolnya ini manis sekali sampai-sampai mau berikan ucapan semangat saja harus pakai ancaman manis segala? Baekhyun kan jadi meleleh.

"Nah, sekarang masuklah sayang."

Park Chanyel tersenyum manis dan ugh! Apa-apaan usapan dikepalanya itu! Ia kan jadi malu, uh Yoda!

Baekhyun menunduk makin dalam wajahnya merona parah.

"Bee, kau mau aku antarkan sampai kedalam? Eyy manjanya Baekbee ku ini."

"Ugh, Chanyeol bodoh! Kau masih mengunci pintunya!"

"O—Oh maaf, Bee."

Oke guys, maklum. Ada yang sedang malu setengah mati sampai bingung bertingkah haha..

.

.

I'll Walk You Home

.

.

The day has passed by,
Thirty seconds left
The sky turning grey and the freezing wind starts to blow
I am still standing in the same place
Under the heavy rain and between the thunderstrom
My two feet just refuse to step up
It's becoming hard to move even one step back
I am trapped in the past that only me was there

There's no anyone else
Only me, stayed in pain and caught in the prison of emptiness called sorrow

Baekhyun menghela nafas lelah, bibirnya mengerucut sebal dan tangannya tak berhenti menuliskan goresan abstrak diatas buku notenya yang nyaris penuh. Waktu untuk ujian untuk mata kuliah terakhir hari ini masih tersisa tiga puluh menit, masih cukup lama sebenarnya. Namun Baekhyun lebih memilih meninggalkan ruangan dan menutup lembar jawabannnya diatas meja. Well ini memang bukan Baekhyun yang biasanya, jika kemarin ia memeriksa lembar jawabannya nyaris tiga kali sebelum yakin untuk dikumpulkan tapi hari ini jangankan diperiksa lagi, dikerjakan saja sudah syukur.

Ah entahlah, Baekhyun hanya sedang malas saja. Melihat soalnya saja sudah malas apalagi memeriksa jawabannya, Baekhyun jengah. Dan oh.. ia sudah mengirim pesan pada Kyungsoo agar anak tirinya itu pergi ke cafetaria setelah ujian selesai, Baekhyun bertaruh si piguin lucu itu baru akan keluar saat bel tanda ujian berakhir sudah dibunyikan. Si anak pinguin itu kan—

"Halo, mommy Baekhyun. Cepat sekali kau mengerjakan soalnya."

Oh.. Oh.. Ini diluar prediksi, bagaimana bisa Park Kyungsoo sudah duduk disampingnya sedangkan waktu ujian baru akan berakhir dalam dua puluh menit kedepan?

"Pantas saja cepat, soalnya makananmu sehari-hari ya? Coba sini lihat,"

Baekhyun yang masih setengah sadar diam saja saat notenya direbut Kyungsoo dan dibaca keras-keras,"Under the heavy rain and between the thunderstrom—"

"Yayaya! Apa-apaan kau ini ish!"

Ah, ibu tirinya ini baru sadar rupanya. Kyungsoo mengendikan bahunya kemudian mengambil segelas jus yang tinggal setengahnya kemudian menyeruputnya tak peduli. Baekhyun yang melihatnya mendengus kemudian berdecak sebal,"Itu punyaku tahu,"

"Yang penting tidak dihabiskan," kilahnya dengan senyum lebar,"Dan.. Kenapa kau keluar cepat-cepat Baek?"

Baekhyun mengendikan bahu kemudian kembali mencoret notesnya malas,"Soalnya hanya 2 tapi susahnya minta ampun. Aku jadi mau muntah didalam sana,"

Wait a minute, mau muntah katanya tadi?

"Baekhyun, jangan bilang kau mau beri aku adik. Ku jambak kau kalau itu benar-benar terjadi."

"Aish berisik,"

Cih, Kyungsoo serius kalau sampai ayahnya itu memberinya adik ia tidak akan tinggal diam. Yang benar saja, Kyungsoo sudah sebesar ini! Usianya sudah dua puluh tahun jika dalam hitungan Korea dan oh please, si Mommy tirinya itu juga masih bocah sama sepertinya. Bocah melahirkan bocah? Oh tidak, itu ide buruk guys. "Serius, Baek. Awas saja kalau sampai kau hamil, kau dan Daddy akan habis ditanganku."

"Siapa yang hamil dan siapa yang akan habis Kyungsoo?"

Sosok yang tiba-tiba muncul dari punggung mereka membuat Baekhyun dan Kyungsoo sama-sama berteriak kesal kearah sosok itu,"Sunbae!"

Shim Changmin, sosok itu terkekeh geli kemudian mengambil tempat duduk tepat didepan Kyungsoo dan Baekhyun yang duduk bersampingan,"Maaf guys, habisnya kalian terlalu asik. Jadi apa aku ketinggalan berita? Siapa yang hamil? Kau Kyung atau Kau Baek? Oh, tidak aku ketinggalan banyak."

Baekhyun mendelik pada Kyungsoo, salahkan mulut cerewet si anak tiri. Kalau sudah berurusan dengan Changmin si mulut besar semuanya bisa luluh lantah dalam sekejap. Ck, Park Kyungsoo benar-benar."Lupakan tentang itu sunbae, tumben menghampiri kami. Bukankah hoobae tingkat satu sangat imut-imut?"

Bersyukurlah Kyungsoo atas kemampuan persuasif sang ibu tiri karena kini bukannya merecoki dengan desakan-desakan dengan jawaban atas pertanyaannya, Sunbae mereka yang hobinya makan itu malah menimpali pertanyaan Baekhyun dengan semangat. Saat si ibu tiri mendelik padanya Kyungsoo hanya nyengir tanpa dosa kemudian kembali menyeruput jus yang tinggal setengah.

"Kau benar, Baek. Aku sudah menggaet yang cantik-cantik dan bersuara bagus untuk jadi anggota klub."

Baekhyun memutar bola matanya jengah kemudian menutup notesnya,"Lalu apa hubungannya dengan kami?"

"Nah itu dia, untuk acara kampus menyambut Musim gugur. Kalian bisa tidak nyanyikan lagu duet? Lagipula anak-anak bilang kalian terlihat lebih akrab sekarang."

Lebih akrab?

Baekhyun dan Kyungsoo saling lempar tatap.

"Err.. Sunbae, sepertinya anak-anak salah paham. Kenapa aku harus akrab dengan bocah bogel ini?"

Bogel katanya?!

Baekhyun melotot kesal dengan tatapan yang siap menguliti Kyungsoo hidup-hidup, berani sekali anak pinguin itu cari masalah dengannya,"Malas sekali akrab dengan si bantet ini. Jangan mengada-ngada, Sunbae—Ugh—"

"Baek?!"

"Ugh—"

"Baek! Hei, Baekhyun! Jangan muntah disini!"

"K-Kyung.. A—Air—"

"Baekhyun aduh!"

.

.

"Bagaimana unnie?"

Kyungsoo berdiri gusar disamping bangsal, ia tidak berhenti meremas tangannya gugup sejak melihat Baekhyun digendong Changmin sunbae ke ruang kesehatan. Gadis itu sadar, hanya saja wajahnya pucat bukan main. Kyungsoo sampai ngeri melihatnya.

"Baekhyun baik-baik saja, kok. Hanya saja asam lambungnya naik tinggi, apa Baekhyun belum makan apa-apa?"

Yang ditanya menggeleng lemas, well saat sarapan tadi Baekhyun memang tidak sarapan dengan benar. Nafsu makannya hilang saat melihat wajah Chanyeol, entah kenapa.

"Ugh! Ku bilang makan dengan benar Baekhyun babo!"

"Jangan dimarahi begitu, Kyung. Biarkan Baekhyun istirahat, unnie pergi dulu ya."

"Ehehe.. Terima kasih, Unnie."

Sepeninggal sunbae mereka, Kyungsoo buru-buru duduk disamping Baekhyun dan mengeluarkan ponselnya,"Hei ibu tiri, semalam aku menyusup lagi. Dan taraa.. Lihat apa yang dapatkan."

Baekhyun menerima ponsel Kyungsoo dengan kening mengerut, jemarinya menggeser satu per satu foto dengan wajah yang bersemu merah. Ugh, dari mana Kyungsoo mendapatkan fotonya yang sedang tidur sebegini banyak?

"Nah, aku sudah tahu ini pasti akan membuatmu senang. Aku menemukan ini di laptop daddy, daddyku itu sepertinya benar-benar stalker. Wajah tidurmu yang jelek saja sampai dikoleksi begitu. Eyy.. Wajahmu merah seperti tomat busuk, Byun."

Masa bodoh dengan ejekan Kyungsoo, Baekhyun sedang senang! Senang sekali! Bagaimana bisa Chanyeol mengambil fotonya diam-diam begini. Ugh, kenapa sekarang Baekhyun merasa begitu dicintai ya? Uh Chanyeol!

Melihat wajah si ibu tiri yang mulai berseri-seri Kyungsoo menghela nafas lega, ini lebih baik karena sejak menemukan fotonya bersama Wu Yifan partner in crimenya berubah tidak seru. Terlalu banyak melamun, berubah pendiam dan yang paling menyebalkan adalah ibu tirinya susah sekali diajak berdebat meski sudah Kyungsoo recoki berkali-kali. Kyungsoo kan jadi kesepian. Sekarang si ibu tiri itu sudah bisa tersenyum jadi, saatnya mengacau!

"Sudah ah! Berhenti tersenyum seperti idiot. Kau sudah baikan? Mau pulang sekarang?"

Gadis itu malah menggeleng dengan mata yang penuh binar menyilaukan,

"Boleh kita pergi ke kantor Daddymu? Aku sedang ingin menciumnya sekarang juga! Haha.."

"Cih, gadis mesum. Seenaknya saja kau cium ayahku."

"Eyy, jangan sirik begitu. Cium saja Jonginmu kalau kau mau!"

"Yaish! Tutup mulutmu ibu tiri!"

"Tidak akan pernah, Kyungsoo sayang."

Yaiks menjijikan!

.

.

I'll Walk You Home

.

.

"Kau sudah pastikan semuanya aman?"

Chanyeol bersidekap dengan air muka yang datar, iris tajamnya bergerak cepat mengikuti beberapa foto yang kini dijejerkan didepannya.

"Semua dokumen kepindahan atas nama Wu Yifan sudah selesai diurus, Presdir. Anda tidak perlu khawatir jika Wu Yifan akan tiba-tiba kembali ke Korea karena seperti yang anda minta, Tuan Wu sudah menandatangani kontrak kerja dengan pihak rumah sakit di Canada untuk beberapa tahun kedepan."

Pria itu mengulas senyum miring,"Bagaimana dengan Huang Zitao?"

"Tuan Wu dan Nona Huang resmi menikah kemarin, Presdir."

"Akhirnya si brengsek itu bertanggung jawab juga. Dan tentang Kim Jongin?"

"Tuan muda Kim masih sering bertukar kabar dengan Tuan Wu."

"Atur pertemuanku dengan Jongin dan jangan sampai Kyungsoo tahu. Ah.. Bagaimana tentang map yang kacau di ruangan pribadiku?"

"Itu—"

Tok.. Tok.. Tok

"Presdir, Nona Kim dari Senju Inc. Sudah datang."

Chanyeol menatap datar kearah pintu masuk dan Jongdae, sang tangan kanan pun segera membereskan foto yang berjejer dan kembali memasukannya kedalam map."Jongdae, tolong pastikan anak buahmu yang mengawasi Baekhyun tidak lengah, keadaannya sedang buruk belakangan ini. Aku khawatir terjadi sesuatu."

"Saya mengerti, Presdir."

"Kau boleh pergi sekarang."

Setelah Jongdae berlalu dan membungkuk hormat, Chanyeol segera menormalkan air mukanya kemudian tersenyum ramah pada sosok perempuan yang bersandar santai diujung pintu ruang kerjanya.

"Sepertinya Mister Presdir begitu sibuk, bahkan setelah membuat janji pun aku masih dibuat menunggu lama."

Chanyeol tersenyum tipis kemudian beranjak dari duduknya. Oh well, itu adalah Kim Yebin, perempuan yang terakhir yang ia kenalkan pada Kyungsoo sebelum ia menikahi Baekhyun. Sosok yang Kyungsoo musuhi setengah mati entah karena apa. Yebin adalah temannya sejak sekolah menengah atas dan yah, perempuan itu kurang lebih tahu bagaimana sosok Chanyeol dimasa muda sebelum jadi ayah bagi sang putri sulung.

"Silahkan masuk, Nona Kim."

"Heol, kau jadi begitu sopan Chanyeol. Kemana perginya Park Chanyeol panas yang selalu menyambutku dengan ciuman penuh gairah?"

Pria itu mengendikan bahu,"Aku sudah menikah, kau lupa?"

Gadis bersurai coklat itu mendengus jengah,"Yayaya.. Dan yang aku dengar yang kau nikahi adalah perempuan yang masih bocah dan juga teman anakmu yang posesif. Seleramu berubah drastis, Chanyeol. Sejak kapan kau suka dengan bocah?"

"Sejak aku menikahi istriku. Jadi ada apa dengan pertemuan mendesak yang minta sejak seminggu lalu?"

Perempuan itu menyilangkan kakinya, menatap Chanyeol dengan sorot menantang dengan seulas senyum licik dibibirnya yang kemerahan,"Aku bertanya-tanya apa kau bisa meluangkan waktu untuk bersamaku selama beberapa hari, seminggu lagi aku akan menikah. Dan rasanya aku perlu melakukan salam perpisahan denganmu."

"Kau masih saja suka bertingkah, bagaimana jika calon suamimu tahu huh?"

Tawa gadis itu terdengar begitu santai,"Dia bukan tipe pria kolot dan tebakanku, kau akan menolak Chanyeol. Seberapa cantik bocah mungilmu sampai kau bisa menolakku?"

"Well, dia sangat cantik. Dan tolong bisakah kau lupakan bagian yang itu? Aku saja sudah lupa."

Cih, arogan yang brengsek. Sekali brengsek tetap saja brengsek. Tapi Yebin akui si brengsek Park ini memang pandai menutupi kebusukanya dirinya. Saat bertemu putri sulung Chanyeol beberapa waktu lalu Yebin dibuat terkejut setengah mati dengan cara pria itu membesarkan putrinya. Untuk ukuran pria brengsek yang suka memainkan hati perempuan, Park Chanyeol begitu pandai mendidik putrinya menjadi gadis baik-baik, Yebin rasa bocah perempuan itu bahkan belum pernah tahu bagaimana rasanya berciuman bahkan setelah usianya tujuh belas.

Ia tidak menyangka Park Chanyeol yang liar dan begitu sulit dijinakan bisa menjadi sosok ayah kolot dan begitu disegani putrinya. Dan tentang istrinya, Yebin ragu jika Chanyeol benar-benar menaruh rasa pada bocah itu. Park Chanyeol bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta, bahkan setelah beberapa tahun menjadi partnernya saja Yebin kesulitan mencari celah untuk masuk kedalam hati pria itu. Chanyeol seolah telah membuang hatinya kedasar dan tidak akan membukanya untuk siapapun lagi, itulah alasan kenapa pria itu mundur dengan begitu mudah saat anaknya bilang tidak suka dengan pilihannya.

Tapi dengan sosok ini, bagaimana Chanyeol terasa berbeda?

Yebin mengulum senyum,"Santai Chanyeol, aku hanya bercanda. Ternyata kau memang berubah banyak, aku kemari hanya untuk memberimu undangan. Rasanya tidak etis jika aku menitipkannya pada sekertarismu, kau ini kan mantanku yang paling brengsek."

Karena mereka berteman sejak lama, itulah kenapa Chanyeol bisa bertahan lama menjadikan Yebin sebagai partnernya. Perempuan itu tidak kaku dan tidak membuatnya susah seperti mantan partnernya kebanyakan, itulah yang menjadi alasan kenapa ia mengenalkan Yebin pada Kyungsoo dan mengajaknya menikah. Sejak ibu Kyungsoo meninggalkannya, Chanyeol tidak pernah lagi mempercayakan hatinya untuk siapa pun. Perempuan itu memberinya pelajaran yang cukup dan ia tidak berniat hancur untuk yang kedua kalinya.

"Selamat dan seriuslah sedikit. Kau ini sudah terlalu tua untuk main-main, Yebin-ah."

"Kau mengataiku tua, Park bodoh."

"Kau juga mengataiku bodoh," timpal Chanyeol.

Gadis bermarga Kim itu menyandar santai,"Jadi bagaimana hubungan anakmu dengan ibu tirinya? Kau tidak ada niat untuk mengenalkan anakmu itu pada ibu kandungnya? Terakhir aku bertemu perempuan itu di Venezuela, dia mengencani pria dari perkebunan anggur di Burgundy. Kecantikannya memang bukan main meski usianya sudah tidak muda, pantas saja kau dibuat susah berpaling."

Chanyeol hanya mengendik malas,"Putriku sudah punya ibu sekarang, jangan bahas perempuan itu didepanku."

Yebin mengulaskan senyum miringnya, Chanyeol memang belum sepenuhnya bisa melepaskan bayang-bayang perempuan itu dari hatinya. Bagaimana bisa pria brengsek itu menikahi gadis lain sementara hatinya masih belum jelas?

"Kau menikahi perempuan muda, Chanyeol. Jika kau hanya berniat main-main segera lupakan niatmu karena apa yang kau lakukan ini hanya akan menorehkan luka yang sama pada orang lain. Perempuan itu meninggalkanmu diusia yang begitu muda dan lihat hasilnya sekarang. Kau tidur denganku tapi yang kau bayangkan adalah perempuan yang meninggalkanmu."

"Kau terlalu jauh, Yebin-ah."

"Kau yang terlalu jauh, Chanyeol. Pikirkan dengan baik apa yang kau lakukan ini benar atau tidak. Kadang kesempatan tidak datang dua kali."

Chanyeol mengetuk bagian hatinya yang paling dalam atas ucapan Yebin.

Menikahi Baekhyun.

Yang ia lakukan ini benar atau tidak?

.

.

I'll Walk You Home

.

.

Sepanjang lobby utama, Kyungsoo tidak berhenti mengipas kedua tangannya didepan wajah berusaha mengurangi sensasi panas yang seakan membakar kulitnya meski ia tahu itu percuma. Oh ini salah si ibu tiri yang tiba-tiba saja punya mata jelalatan, harusnya mereka sudah sampai dikantor ini sejak setengah jam yang lalu. Namun saat mobil mereka melewati salah satu festival makanan, si lebah centil itu kembali kedalam mode memusingkan dan merengek-rengek minta dibelikan ice cream. Lihatlah wajah bahagia penuh binarnya itu, cih senang sekali bisa membuatnya susah!

"Kyung, lain kali belikan lagi ya."

Kyungsoo mendengus kemudian berjalan mendahului Baekhyun memasuki lift."Beli saja sendiri bodoh!"

"Hei, begitu saja marah! Kau sedang pms ya?"

"Terserah!"

Kyungsoo bersidekap tangan didada kemudian memperhatikan Baekhyun lekat-lekat,"Apa perempuan yang sudah menikah akan selalu mengalami kenaikan berat badan?"

Baekhyun yang tengah asik dengan ice creamnya berpaling sebentar,"Tidak semua kok, hanya perempuan yang bahagia dengan pernikahannya saja yang akan mengalami kenaikan berat badan. Biasanya berat mereka bertambah beberapa pound setiap bulan. Memangnya kenapa?"

Gadis Park itu meringis,"Kau ini spesies apa sih Baekhyun? Kalau perempuan lain menaiki kenaikan badan hanya beberapa pound kenapa kau bisa sampai berkilo-kilo? Lihat pipimu itu, aish.. Kau jadi penjual mochi sekarang?"

Baekhyun paham, secara tidak langsung anak tirinya itu tengah mengatainya gendut. Tapi masa bodohlah, yang penting Baekhyun bahagia. Kalau tubuhnya berubah gendut dan Chanyeol tidak suka ia tinggal diet dan olahraga, gampang kan? Nah, sekarang biarkan Baekhyun habiskan ice creamnya lebih dulu.

"Aku serius Baekhyun, kapan terakhir kali kau menimbang berat badanmu?"

"Entahlah, mungkin sebelum menikah dengan ayahmu."

"Kau harus—"

Lelah direcoki, Baekhyun memegang sendok ice creamnya kuat-kuat kemudian menatap Kyungsoo dengan mimik marahnya yang menggemaskan,"Aku akan diet! Kau puas?! Sekarang tutup mulutmu dan kita temui ayahmu, aku tidak sabar mau menciumnya!"

Oh siapapun, tolong bantu kuatkan Kyungsoo!

Lift berdenting dan pintu bergeser pelan, Baekhyun berjalan terburu-buru meninggalkan Kyungsoo yang jauh dibelakangnya.

"Yuhuu Chanyeol-ie. Baekbee datang!"

Duh si ibu tiri! Kapan sih kelakuannya bisa normal? Kalau begini ceritanya besok-besok Kyungsoo tidak mau jalan berdua lagi dengan si penggila eyeliner itu. Bisa-bisa dianggap gila nanti, hiii

"Chanyeol-ah!"

"Ampun Baekhyun! Tutup mulutmu ini bukan hutan!"

Tubuh mungil perempuan itu menghilang disebuah pintu ganda bercat hitam, ruangan ayahnya. Kyungsoo mendorong pintunya pelan dan ia disambut dengan keheningan aneh dari sang ibu tiri yang tengah berdiri dengan wajah berkaca-kaca didepan pintu ruangan ayahnya. Oh, oh ada apa ini?

"Aku tidak tahu bualanmu tentang jadi bar-bar itu bisa jadi nyata."

"Kau kenapa, Baek?" Kening Kyungsoo mengerut dalam, ada apa dengan Baekhyun? Lantas ia melempar tatapan penuh tanya pada sekertaris sang ayah.

"Presdir Park tengah menerima tamu, Nona muda."

Kening Kyungsoo makin mengerut,"Siapa?"

"Kim Yebin, nona muda."

Kyungsoo dan Baekhyun saling melempar tatap penuh isyarat,"Aku tunggu disudut yang tepat, Kyung."

"Siap-siap saja ibu tiri."

Kedua sosok itu melayangkan high five kompak sebelum menghilang dibalik pintu. Minseok yang ditinggalkan menggaruk tengkuknya bingung,"Itu tadi apa ya? Err.. Sejak kapan Pinguin dan lebah akur?"

Belum sempat menemukan jawabannya, pintu tiba-tiba terbuka dan sosok Presdir Park muncul dengan mantan partnernya disana. Buru-buru Minseok membungkuk hormat dan dibalas anggukan ramah oleh Yebin.

"Jangan lupa datang dan bawa istrimu, Park. Sekarang waktunya kau pamer."

Chanyeol tersenyum tipis,"Lihat saja nanti."

"Kalau begitu aku permisi, dah Minseok-ie."

"Selamat siang, nona."

Sebagai sekertaris yang sudah bekerja hampir 5 tahun untuk Chanyeol, Minseok tak asing lagi dengan Yebin. Sosok perempuan yang selalu datang disiang yang panas dengan pakaian provokatif dan selalu membuatnya dapat sentakan kesal dari para klien karena Presdirnya itu selalu membatalkan janji dengan sebelah pihak. Well, untung si nona merah itu sudah jarang berkunjung, belakangan ini telinga Minseok aman dari amukan klien yang sebelumnya tak pernah absen buat kepalanya sakit.

"Minseok, apa Jongdae sudah mengkonfirmasi jadwalku padamu?"

Mendapat sahutan serius membuat Minseok tertarik dari dunia flashbacknya,"Jongdae sudah menelpon saya setengah jam yang lalu, Presdir."

"Bagus. Aku akan pergi, jika pekerjaanmu sudah selesai kau juga boleh pulang."

"Baik presdir. Selamat siang. Presdir Park—" anak dan istri anda datang.

Oke, Minseok tahu itu terlambat. Atasannya itu sudah menghilang dibalik pintu.

"Hah.."

.

.

I'll Walk You Home

.

.

Yebin tengah berjalan santai menuju restroom sebelum tiba-tiba langkahnya dijegal oleh sosok mungil berambut hitam yang kini menatapnya tajam. Oh tunggu sebentar, rasanya Yebin tahu siapa gadis mungil ini. Bukankah ini anak Park Chanyeol?

"Park Kyungsoo?"

Perempuan itu tersenyum miring,"Masih ingat aku ahjumma? Aku juga masih ingat Ahjumma kok, ngomong-ngomong ada yang ingin bertemu denganmu jadi kau harus ikut denganku. Ayo pergi, ahjumma."

Yebin tak bisa mengelak, belum sempat ia bicara tubuhnya tiba-tiba ditarik paksa menuju restroom dan pintu menjeblak terkunci,"Kyungsoo.. Apa yang sedang kau lakukan?"

Gadis itu tidak menjawab dan hanya menyahut santai,"Baek, ini Yebin ahjumma. Perempuan yang Daddy kencani sebelum dia menikah denganmu dan perempuan yang baru saja ada diruangan Daddy."

Kening Yebin mengerut hebat, apalagi saat ia melihat sosok lain yang tengah duduk dan menunduk diwastafel seraya mengayunkan kakinya kedepan dan kebelakang persis seperti bocah. Oh tunggu sebentar, sepertinya Yebin paham dengan situasi ini,"Jadi.. Ini adalah istri Chanyeol?"

Kyungsoo menyeringai dan mengangguk santai,"Ya, perkenalkan dirimu, mommy Baek."

Baekhyun mengangkat wajahnya dan menyeringai, "Halo ahjumma, aku Park Baekhyun."

Siang itu, Kim Yebin terdiam dengan wajah pucat.

.

.

.

Di lain sisi di sore yang redup, Jongin duduk diam seraya mencengkram gelas sakenya kuat-kuat. Ia baru saja selesai melakukan visit pasien saat ponselnya tiba-tiba bergetar dan menampilkan nomor asing dilayar ponselnya. Awalnya ingin Jongin abaikan namun kemudian tangannya berkhianat dan ia malah menggeser ikon hijau diponselnya dan tara, yang menghubunginya adalah Park Chanyeol, paman Park, ayah kekasihnya yang imut sekaligus calon ayah mertuanya dimasa depan.

Ada apa Park Chanyeol menelponnya?

Jongin gugup setengah mati, apa yang akan terjadi hari ini? Kenapa pria super sibuk itu tiba-tiba minta bertemu?

"Santailah Jongin, putriku bukan poin utama dalam pertemuan ini."

Jongin mendesah lega, oke itu artinya hubungannya dengan Kyungsoo masih aman. Tapi tetap saja, kenapa Park Chanyeol ini tiba-tiba menelponnya meminta bertemu?

"Ini tentang Baekhyun."

Pria berkulit Tan itu menegang saat mendengar nama Baekhyun disebut. Perasaannya berubah tidak nyaman,

"Setahuku kau adalah dokter yang menangani Baekhyun saat ia terlibat kecelakaan beberapa bulan lalu. Apa itu benar?"

Pria paruh baya didepannya begitu tenang tapi entah kenapa Jongin merasa sangat terinmidasi, ayah dari kekasih mungilnya itu bahkan tak menajamkan matanya ataupun meninggikan nada bicaranya. Hanya saja, aura yang keluar dari belakang punggungnya benar-benar buat Jongin merinding.

"Benar, Paman. Dan aku juga dokter penanggung jawab untuk Baekhyun selama dia koma. Tapi setelah Baekhyun sadar pihak keluarga meminta mereka untuk menggantiku dengan dokter lain."

Chanyeol mengangguk paham, ia tersenyum tipis kemudian menenggak sakenya."Sebenarnya, Jongin. Akulah yang meminta Tuan Byun untuk menggantimu dengan dokter yang lain."

Kening Jongin mengerut dalam. Apa maksudnya ini?

"Dokter yang melakukan tindakan bedah untuk Baekhyun adalah Wu Yifan bukan kau,"

Yang harus Jongin tahu itu merupakan pernyataan dan ia tidak perlu mengelak. Pria tinggi itu begitu menikmati perubahan ekspresi yang ditunjukan sosok didepannya. Chanyeol bukan sedang main-main, ia hanya sedang meluncurkan serangan rapih agar tujuannya bisa tercapai dengan sempurna. Jongin harus berhenti mengirimi Wu Yifan kabar tentang istrinya.

"Aku benar lagi bukan?"

"Bagaimana paman bisa tahu?"

Chanyeol tersenyum, nyali pemuda ini memang bagus. Tak menyesal Chanyeol mengizinkan Jongin memacari putri kesayangannya, tapi ada beberapa hal yang perlu diluruskan disini."Itu bukan hal yang sulit, Jongin. Dan aku juga dengar jika Wu Yifan memintamu mengawasi Baekhyun dan mengabarinya tentang segala sesuatu yang terjadi, itulah kenapa aku meminta kau diganti dengan dokter yang lain."

Sudah Jongin duga ada yang tidak beres dengan kepindahan Yifan yang tiba-tiba juga penggantian penanggung jawab untuk Baekhyun. Ternyata Park Chanyeol-lah pelakunya. Tapi apa tujuan pria itu sebenarnya? Saat Baekhyun dirumah sakit Jongin tidak pernah sekalipun melihat kemunculan sosok calon mertuanya itu disana, Park Chanyeol terlalu pandai bersembunyi. Setahu Jongin Baekhyun selalu sendirian dan gadis itu sangat bersedih karena kehilangan Yifan, jadi kapan pria dewasa ini masuk kedalam kisah keduanya?

"Setelah Baekhyun sadar dan dokter penanggung jawabnya diganti aku selalu datang tengah malam, terlalu beresiko jika aku muncul didepanmu. Kau paham putriku bukan?"

Jongin mengangguk mengiyakan."Apa maksud paman menemuiku dan mengatakan semua ini?"

"Kau harus berhenti mengirimi kabar istriku pada Yifan."

Jongin mulai mengerti situasi ini. Kenapa Yifan pergi, kenapa Baekhyun mengalami kecelakaan dan kenapa dua orang itu bisa berpisah. Jawaban dari semua pertanyaan ini adalah Park Chanyeol. Ia mendongak kemudian melempar tatapan seriusnya pada pria didepannya.

"Maafkan aku mengatakan ini, Paman. Yifan adalah temanku kami bekerja dirumah sakit yang samadan aku sedikit tidak asing dengan kisahnya bersama Baekhyun meski aku baru mengenal Baekhyun saat ia sadar. Yifan bilang dia harus pergi karena seseorang mengancam dan menyuruhnya pergi. Jadi, apa paman-lah yang ada dibalik cerita menyedihkan ini?"

Jongin dan Yifan adalah teman dekat sejak mereka bekerja dirumah sakit yang sama dan pada bagian yang sama. Jongin tidak asing dengan Yifan juga ceritanya tentang kekasih mungilnya yang begitu ia cintai sampai suatu hari, Jongin menemukan Yifan dalam keadaan kacau. Pria itu berantakan dengan bau alkohol yang menyengat, racauannya aneh dan disela-sela usahanya menyadarkan Yifan, Jongin mendengar cerita yang mengalir dari bibir pria tinggi itu.

"Dia bilang aku harus pergi, aku harus meninggalkan Baekhyun. Hik.. Jongin.. Bagaimana bisa aku meninggalkan Baekhyun? Aku sudah bersamanya sejak kecil hik.. Bagaimana bisa pria brengsek itu menyuruhku meninggalkannya dengan mudah? Hik.. Baekhyun-ah.. Baek~"

Hari ini semuanya menjadi jelas, pria yang dimaksud Yifan adalah Park Chanyeol, ayah dari kekasihnya juga suami dari Baekhyun. Pria yang mengancam dan menyuruh Yifan pergi meninggalkan Baekhyun adalah Park Chanyeol. Jongin menghela nafas tenang kemudian mendongak dan melempar tatapan dinginnya.

"Paman keterlaluan. Mereka saling mencintai, apa paman tahu?"

Chanyeol mengetukan jemarinya diatas meja, air mukanya masih saja tenang meski Jongin sudah berhasil menjawab teka-teki yang selama ini belum terpecahkan. Chanyeol sama sekali tidak terintimidasi dengan pandangan Jongin yang seolah mengatainya brengsek melalui tatapannya yang dingin. Hanya saja, ia bukan pria bodoh yang bertindak tanpa tujuan yang jelas dan apapun alasannya Jongin tidak perlu tahu.

"Yang menyuruh Yifan pergi memang aku, Jongin. Dan tentang ancaman, apa Yifan pernah bercerita ancaman apa yang aku berikan padanya?"

Pria bekulit Tan itu terdiam, Yifan tidak pernah mengatakan apa-apa tentang isi ancaman yang didapatnya.

Chanyeol tahu Yifan tidak akan pernah bercerita, mana mau pria itu membongkar kebusukannya? Dan maaf, Chanyeol tidak berniat membuat dirinya terlihat begitu jahat dengan kalimat kau yang memisahkan mereka. Yang ia lakukan hanya menyelamatkan Baekhyun.

"Dia memang pria yang cerdik dan pandai berkelit. Apa kau mengenal Huang Zitao, Jongin?"

Huang Zitao? Hoobaenya berasal dari China?

"Ada apa Zitao? Aku mengenalnya, dia adalah hoobae yang datang dari China untuk salah satu program rumah sakit."

"Dia dekat dengan Yifan dan yang tidak kau tahu, perempuan itu tengah mengandung anak Wu Yifan. Dia begitu brengsek karena tidak mau bertanggung jawab dan menikahi Zitao, karena itulah Tuan Byun memilih menjodohkan Baekhyun denganku dan membiarkan aku mengurus sisanya. Aku menyuruh Yifan pergi karena pria itu tidak pantas untuk Baekhyun dan jika kau mengatakan tentang cinta. Cinta seperti apa yang Yifan punya untuk Baekhyun sementara dia menghamili perempuan lain?"

Jongin terdiam.

"Jadi Jongin, kau mengerti alasanku bukan? Aku hanya sedikit meluruskan semua ini, Yifan tidak pantas untuk Baekhyun dan Baekhyun berhak untuk mendapatkan yang lebih baik. Aku harap kau mengerti, aku tidak mau Baekhyun terluka lagi karena bagaimana pun, perasannya untuk Yifan masih sangat dalam. Bisakah kau berhenti mengirimi Yifan kabar tentang Baekhyun?"

Jongin paham namun semua ini tidak sesederhana itu, Park Chanyeol terlihat begitu berambisi dan berbahaya. Jongin tidak bisa menerima semua cerita ini dengan mudah. Apa yang dilakukan Paman Park dengan mendepak Yifan jauh-jauh ke Canada kedengaran berlebihan jika hanya untuk menjauhkan, cukup beri tahu Baekhyun kebenarannya Jongin yakin perempuan itu akan memilih melepaskan Yifan tanpa harus ada skenario yang membuatnya celaka.

Jongin yakin Baekhyun adalah gadis yang dewasa, Baekhyun menyayangi Yifan dan ia tidak mungkin pernah setuju jika Yifan berubah jadi pria yang tidak bertanggung jawab dengan menelantarkan Zitao yang mengandung anaknya. Tanpa Yifan berpura-pura memberikan perpisahan yang menyedihkan, Jongin tahu Baekhyun akan melepaskan Yifan dengan rela. Apa yang dilakukan paman Park membuat Jongin memikirkan opsi lain selain sekedar Yifan tidak pantas untuk Baekhyun. Ia yakin alasan Park Chanyeol lebih dari itu.

Lantas Jongin menegakan tubuhnya, melemparkan ekspresi menantangnya dan menegaskan rahangnya. Jongin tidak terlalu bodoh dan ia tidak akan pernah membiarkan pria didepannya ini memainkan perasaan sahabatnya.

"Atas dasar apa paman melakukan ini semua? Paman bisa saja menikahi Baekhyun tanpa menyuruh Yifan pergi dan buat Baekhyun celaka. Cara paman terlalu rapih. Paman terlihat begitu peduli pada Baekhyun seakan paman sangat memahaminya padahal pertemuan pertama kalian adalah saat pertama kali Baekhyun sadar. Jadi.."

Jongin menjeda ucapannya dengan tatapan yang makin tajam,"Apa alasan paman melakukan ini semua?"

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Hallo dear, it's been a while ya? Entah kapan terakhir kali gue update dan kayaknya temen-temen yang baca ff ini udah pada ngibrit gegara kelamaan nungguin update. I am so sorry, gue minta maaf banget guys. Sekali lagi sorry dan gue harap masih ada yang nungguin ff ini lanjut ya dear. Sebenernya mood gue ilang buat ff ini tapi ketika gue bacain review kalian dari chap 1 sampe chap kemarin itu bikin gue semangat lagi buat lanjut. Gimana nih? Apa ceritanya makin ancur? Apa makin gak layak baca? Maaf yaa guys gue udah usahain yang terbaik buat kalian dan semoga aja kalian suka.

Terakhir, maaf gak bisa bales review kalian satu-satu, bukannya gue gak mau tapi waktunya mepet huweee TT Pokoknya review kalian tetep gue baca satu-satu jadi keep review yaa biar gue tetep semangat. See you next chap guys byeeee~~~

Gue sayang kalian muhehehe

Jewika - YOON745 - Nini baby - Lupika - Selepy - Markeu Noona - Istri Park Ganteng Chanyeol - loeeeeyy - n3208007 - selepy - parkobyunxo - aerellia - ji - - nenegbudiarti - anhwa - danactebh - yousee - ay - yerseoul - ssuhosnet - hass - afrilany pasha - park yeolna - fansanakayam - Byun Jaehyunee - Istri Park Ganteng Chanyeol - sherli898 - booyaamii - YeolliePoppo - Lylidew98 - rizkaa - BaekHill - BLUEFIRE0805 - rly- vhyo3107 - ge-chan1902 - Kasiyaa - rima - C-ChuB - prktower - readlyf - sicaratih - nadila ayu -
Realglh