"Apa? Kenapa menatap Daddy seperti itu?"
Itu adalah sebuah sore saat Kyungsoo mendengar jika ayahnya akan menikah dengan perempuan dipilihkan neneknya. Kyungsoo menatap tajam sang ayah dengan bibir mencebik bak anak bebek yang kehilangan induk.
Kenapa Daddynya ini mau-mau saja disuruh menikah lagi? Macam perjaka tua saja, lupa apa jika sudah punya anak satu, sudah besar pula. Tidak sadar umur sekali.
Gadis Park itu mencebik kesal.
Tapi bukannya marah, mendapat tatapan sok tajam juga cebikan bibir pertanda kesal itu malah membuat Chanyeol yang baru saja pulang terkekeh gemas kemudian mengacak surai hitam sang anak dan menyentil dahinya main-main.
"Jangan protes okay? Kalau kau mengizinkan Daddy menikah, Daddy akan beri adik untukmu,"
Park sulung itu memutar bola matanya jengah,"Ditolak. Daddy tidak boleh menikahi siapapun. Aku tidak setuju."
Chanyeol tertawa renyah,"Baiklah. Kalau begitu tidak ada keluar sendiri saat weekend, Daddy akan membuntutimu kemana pun kau pergi."
Kyungsoo melotot galak,"Dad!"
Sedangkan si ayah tampan hanya mengangkat bahu seraya menyandar santai pada punggung sofa."No more me time every weekend,"
"Daddy!" oh tidak! Ayahnya ini makin menjadi-jadi!
Kyungsoo merengek tidak senang dan Chanyeol hanya menggeleng dengan senyum tipis."Tidak, tidak. Jangan mata itu Daddy tidak akan luluh Kyungsoo,"
"Tapi Dad—"
"Kalau begitu tidak ada kencan dengan Jongin sampai lulus!"
"Apa? Bagaimana bisa Dad!"
Yang lebih tua mengendik tak peduli,"Bagaimana?"
"Ish! Oke fine! Jangan memaksaku untuk bertemu dengan perempuan itu atau Daddy tanggung akibatnya sendiri!"
"Selamat punya Mommy baru Kyungsoo sayang."
"Berisik! Aku akan membenci Daddy jika Daddy melakukan yang aneh-aneh pada Jongin! Lihat saja, aku mengawasi Daddy!"
Semudah itu Chanyeol berjanji untuk menjadikan Baekhyun sebagai istrinya. Dan lagi, ia hanya butuh satu malam untuk mengkhianatinya dan membuat semuanya hancur tak bersisa.
.
.
I'll Walk You Home
.
.
"Bagaimana keadaannya?"
Matahari telah tinggi, suasana kamar itu sedikit gelap dengan gordyn yang setengah tertutup. Sesosok perempuan cantik terduduk disana, menghela nafas seraya bergerak lembut mengamati satu per satu luka ditubuh sosok yang kini berbaring tenang dibawah pengaruh obat. Tekanan darahnya turun drastis dan keadaan fisiknya begitu buruk, gadis ini sudah terlihat seperti korban pemerkosaan.
Luhan mendesis tajam dengan tatapan nyalangnya yang berkilat penuh amarah,"Dimana kau taruh otakmu Park? Demi Tuhan, gadis ini hanya sembilan belas!"
Perempuan mungil ini sangat kacau. Jemari lentiknya berbalut perban tak beraturan, ditubuhnya terlihat beberapa memar, Luhan juga melihat lecet didaerah kewanitannya. Oh! Sebenarnya apa yang dilakukan si gila Chanyeol pada istri rapuhnya ini?
Harusnya suara Luhan yang terdengar merendahkan bisa membuat sosok angkuh Chanyeol menggeram, namun pria itu hanya diam memandang Baekhyun yang terbaring tanpa adanya daya.
Luhan benar,
Chanyeol mengetuk pintu hatinya yang telah mati. Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan? Ia memperdaya gadis polos yang tidak tahu apa-apa untuk menikah dengannya, menjebak gadis itu untuk larut dalam pesonanya kemudian menyakiti gadis itu seolah ia adalah barang tidak berharga.
Apa yang sedang coba kau lakulan heh?
"Apa yang terjadi dengan jari dan pergelangan tangannya? Kau yang melakukannya juga? Jika iya, periksakan dirimu Chanyeol."
"Aku mencoba membangunkannya tapi tiba-tiba Baekhyun histeris dan mencoba menyayat lengannya sendiri dengan serpihan gelas pecah." suara pria itu terdengar gamang dan tatapan hampa dari iris tajamnya berubah kosong.
Menyayat tangannya sendiri? Luhan mendengus menyakitkan kemudian menggertak bak singa betina mempertahankan anaknya,"Tentu saja dia melakukannya. Gadis mana yang rela diperlakukan seperti ini? Kau tidak berotak Park."
Desisannya terdengar begitu berbisa namun Chanyeol hanya diam seperti idiot. Tak ada emosi yang jelas diwajahnya. Ia menerima umpatan itu karena Chanyeol rasa, ia memang bukan pria berotak.
Kenapa ia melakukan ini pada Baekhyun yang begitu polos dan rapuh?
Merasakan tak ada sahutan apapun dibelakangnya, Luhan menghela nafas lagi. Luhan tahu ia keterlaluan dan ia cari perkara, bagaimana bisa ia menggeram pada si iblis Park? Tapi pria gila ini sudah keterlaluan! Rasanya ingin Luhan cakar habis wajah datar si Park menyebalkan itu, namun melihat tatapannya yang terlihat begitu bingung ia jadi tidak tega. Lantas Luhan beranjak kemudian membuang kapas berdarahnya ketempat sampah disudut ruangan, ia melangkah mendekati Chanyeol kemudian menepuk bahu pria itu.
"Lukanya ditubuh dan tangannya akan kering dalam tiga atau empat hari, pastikan kau selalu membersihkannya. Dan jika Baekhyun menjerit lagi saat melihatmu beri dia pengertian kemudian peluk dia untuk menenangkan, aku rasa istrimu ini sedikit depresi. Jadi setelah ini perilakukan ia dengan baik atau tidak, Baekhyun akan mengalami trauma dan kau akan menyesal seumur hidup."
Desah nafas berat menyambut penjelasan Luhan yang panjang lebar, Chanyeol mengangguk kaku kemudian mendudukan tubuhnya disamping Baekhyun yang masih terlelap dibawah pengaruh obat. Ia menuntun jemarinya untuk merapihkan anak rambut yang turun didahi perempuan mungil itu kemudian mengusap sisi wajahnya yang pucat dengan hati-hati. Melihat wajah pucat ini terbaring tanpa tenaga membuat rasa bersalahnya kian membesar dan Chanyeol rasa ia adalah bajingan yang paling kejam.
Bagaimana bisa ia sampai hati gadis serapuh ini?
Luhan ada disana, ia berdiri ditengah ruangan dengan lengan terlipat diatas dada dan ia melihat dengan jelas bagaimana Chanyeol menyesali perbuatannya. Luhan berjengit ngeri, ini seperti bukan Chanyeol yang biasanya, Luhan nyaris tidak bisa mengenalinya. Chanyeol yang ia kenal adalah pria paling dingin dan tak berbelas kasih tapi pada Baekhyun?
Apa Chanyeol benar-benar menyesal?
Semoga saja begitu, Luhan bergumam dalam hati. Lantas ia bergerak mengambil tempat diseberang Chanyeol kemudian membenarkan letak selimut yang sedikit turun,"Apa yang terjadi sampai kau memaksanya Chanyeol?"
"Aku mabuk."
Jawabannya mengalir dengan begitu lancar dan Luhan mengangguk paham. Pantas tingkah pria itu seperti bajingan tak berakal. Orang mabuk mana yang masih bisa waras dan menggunakan otak untuk mengendalikan situasi? Luhan tidak sampai pikir, kenapa pria ini masih suka dengan kebiasaan minumnya yang tidak tahu aturan? Apa untungnya menyelsaikan masalah dengan minum alkohol? Hasilnya bukan makin baik yang ada malah tambah kacau.
"Kau tidak perlu membawanya kerumah sakit?"
Suara Chanyeol yang serak menarik Luhan dari lamunannya kemudian menggeleng singkat,"Baekhyun perlu istirahat dan menghabiskan obatnya," ia menatap Chanyeol prihatin,"Tapi aku bukan ahlinya Chanyeol, jadi setelah Baekhyun sadar bawa dia menemui Profesor Jung.." Luhan menelan ludahnya ragu,"Baekhyun—"
Ucapannya tertahan diujung lidah, pintu menjeblak terbuka dengan kasar membuat Luhan terlonjak dan terdengar teriakan berbalut kemarahan yang menyedihkan, tangis keras bak anak kecil yang tersesat jauh dari rumah, geraman tak berdaya bak kucing kecil dengan sayatan berdarah dimana-mana,"Aku bilang berikan padaku!"
Chanyeol sontak beranjak dari duduk gelisahnya, apa yang terjadi?
"Tuan, Nona muda.. Nona muda—"
Luhan menghela nafas lelah. Kebodohan macam apalagi yang kau ciptakan Park?
.
.
'—nomor yang anda tuju sedang tidak—tuttt—'
Kyungsoo berjalan resah seraya menggigiti ujung kukunya yang tumpul, sebelah tangannya lentik kembali menekan tombol dial dilayar ponselnya kemudian mendekatkan benda persegi itu pada telinganya.'—nomor yang anda tuju sedang tidak—tuttt—'
Suara operator centil itu lagi!
Sudah satu jam sejak ia menerima pesan tidak jelas yang berisi beberapa kalimat aneh, pengirim pesan itu adalah Jongin. Kyungsoo tidak tahu apa maksudnya, tapi pria itu hanya bilang Kyung aku pergi untuk urusan rumah sakit, sampai bertemu nanti. Apa maksudnya itu? Pergi? Jongin memang kerap pergi untuk beberapa seminar dan konferensi para dokter, tapi kenapa kalimatnya aneh sekali? Saat Kyungsoo coba untuk tanyakan apa maksudnya ponsel pria itu malah tidak bisa dihubungi dan terus tidak aktif.
Jongin tidak pernah pergi lebih dari seminggu dan selama ini pria itu selalu memberitahunya kemana dan bersama siapa ia pergi. Tapi sekarang?
Kyungsoo menghela nafas gusar kemudian mendudukan tubuhnya dipinggir ranjang. Keningnya mengerut tajam dan wajahnya berubah keruh. Ini bukannya sekali dua kali Jongin bersikap aneh, pria itu berubah sejak Kyungsoo bertanya tentang Wu Yifan beberapa waktu lalu. Jongin bilang ia tidak tahu padahal jelas-jelas Kyungsoo melihat sosok Wu Yifan dalam foto bersama rekan divisinya disebuah acara amal. Kebohongan macam apa itu? Dan saat ia coba mendesak, pria itu berubah makin banyak alasan dan sekaranglah yang paling aneh.
Pergi? Pergi kemana sih sampai mematikan ponsel?
Tunggu sebentar, Kyungsoo rasa ia punya tiga.
Poin pertamanya adalah Wu Yifan.
Kedua pertanyaannya pada Jongin dan yang ketiga, kepergian pria itu.
Mata Kyungsoo membulat. Ini jelas berhubungan dengan ayahnya!
Tanpa peduli dengan penampilan yang masih berantakan, gadis mungil itu berjalan tergesa meninggalkan kamarnya dengan tangan terkepal erat. Kyungsoo yakin, sangat yakin jika ini berhubungan dengan ayahnya. Jongin tahu sesuatu tentang Yifan dan—
"Jadi kau orang baru?"
Langkahnya terhenti diujung tangga saat mendengar suara tidak asing yang berasal dari pintu utama mansionnya. Keningnya menyerngit heran dan matanya memicing tajam, gadis itu mengurungkan langkahnya menaiki tangga kemudian berjalan mendekati pintu utama.
"Chanyeol sedang dalam situasi genting, sebagai gantinya kau bisa menyerahkan laporanmu padaku."
Kyungsoo rasa ia kenal sosok yang kini memunggunginya didepan pintu, bukankah itu...
"Paman Oh?"
Dugaannya terbukti, pria berjas hitam tanpa dasi yang kini berbalik menatapnya adalah Paman Sehun. Pengacara sekaligus teman dekat ayahnya. Sedang apa disini pagi-pagi?
"Selamat pagi, Kyungsoo. Maaf buat keributan, ayahmu meminta Paman datang dan kebetulan pegawai baru ayahmu ingin memberikan laporan," senyumnya terlihat aneh namun Sehun tak urung meneruskan kalimatnya,"Tapi sepertinya ayahmu belum bangun. Paman akan memintanya datang lagi nanti siang. Jadi—"
Tidak.. Tidak.. Bukannya tadi Paman Oh bilang bisa laporan saja padanya? Kenapa kalimatnya berubah? Jelas ada yang tidak benar disini. Kyungsoo lantas melemparkan tatapannya sosok pria asing yang berdiri dengan wajah datar didepan pintu masuk. Rasanya ia belum pernah bertemu dengan pria ini, lagipula ayahnya jarang sekali membawa pekerjaan kerumah. Kyungsoo bertekad, pria datar itu tidak bisa lolos begitu saja.
"Siapa namamu?"
Kyungsoo memotong ucapan teman ayahnya tanpa ragu dan Sehun mengendikan bahunya tidak peduli.
"Anda bisa memanggil saya Kim, Nona."
Gadis itu mengangguk dengan kening yang berkerut,"Laporan apa yang harus kau berikan pagi-pagi begini?"
Sehun mengerang dalam hati, situasinya jadi sulit man! Kenapa tidak langsung ia usir pria ini? Sehun yakin, apapun yang dibawa itu dalam map khusus berlogo Park Corporation itu berhubungan langsung dengan Jongin. Park Chanyeol baru saja membereskannya kemarin! Oh sial!
"Biarkan dia pergi Kyungsoo, ayahmu akan marah jika dia diganggu."
Tapi Kyungsoo tidak mendengar, firasatnya menyuruh ia untuk mengetahui maksud pria itu jadi Kyungsoo tidak akan mundur begitu saja."Dia bisa melapor padaku dan aku akan bilang pada Daddy. Jadi Paman Kim, berikan mapnya padaku."
Pria berwajah datar itu tak bergerak.
"Berikan padaku!"
Kyungsoo menjerit kesal hingga wajahnya memerah matang, emosinya sudah sangat buruk karena ia mendapat pesan tidak jelas dipagi buta, belum lagi Jongin yang tidak bisa dihubungi dan pikiran kalutnya yang menyiksa. Harusnya si datar itu tahu Kyungsoo tidak punya banyak stok kesabaran yang tersisa jika dia masih diam seperti patung, Kyungsoo akan bertindak nekat apapun resikonya.
Nafasnya memburu dan tatapannya meruncing dengan tangan terkepal,"Berikan padaku.." ia mendesis dengan suara setajam busur panah.
"Kyungsoo—"
"Aku bilang berikan padaku!"
"Maaf, Nona."
Kyungsoo tak lagi menahan diri. Emosinya habis terkuras, ia maju dengan berani merampas map berlogo perusahaan ayahnya itu kemudian mengamburkan isinya hingga berceceran diatas lantai.
Nafasnya tercekat, matanya buram saat melihat begitu banyak potret pria yang ia kenal dalam frame yang tergeletak diatas lantai. Itu..
"Ada apa ini Sehun?"
Suara ayahnya yang terdengar diujung tangga membuat Kyungsoo mengangkat wajahnya dan melempar tatapan nyalang.
Kyungsoo tertawa pahit.
Ia benar, dugaannya benar. Kepergian Jongin memang berhubungan dengan ayahnya, sangat berhubungan. Senyumnya getir, matanya memerah, tangannya terkepal kuat menahan isakan yang nyaris pecah menahan sesak. Segala umpatan kekecewaan telah berada diujung bibirnya namun yang kemudian keluar hanya isakan lirih yang bahkan nyaris tidak terdengar siapapun kecuali dirinya sendiri. Layaknya disapu amukan badai, isi kepalanya luluh lantah dan hanya kepedihan yang tersisa. Daddynya yang selama ini ia percaya menghianatinya.
"Jadi Daddy buat Jongin pergi?" hanya sebatas itu yang bisa Kyungsoo katakan.
Pria itu diam dengan ekspresi datar.
"Hiks.. Daddy sudah janji tidak akan melakukan apa-apa pada Jongin. Daddy sudah janji padaku!"
Jeritan frustasi dari putri kecilnya yang begitu kecewa membuat Chanyeol merasa begitu terpengaruh. Tapi Chanyeol berusaha tenang, ia tidak boleh terprovokasi.
Pria itu menggeleng."Daddy tidak melakukan apapun Kyungsoo."
"Hikss.. Daddy berbohong padaku! Daddy bohong! Daddy membuat Jongin pergi karena dia berhubungan dengan Wu Yifan! Daddy membuat Jongin pergi karena tahu apa yang sudah Daddy lakukan! Aku benci hikss.. Aku benci pembohong! Aku benci Daddy!"
Kyungsoo berlari dengan tangis yang tak lagi terbendung meninggalkan sang ayah yang kini terpekur diam tanpa ia tahu. Setengah hatinya berdarah saat ia tahu ayahnya berkhianat, namun setengahnya lagi kini mengaum lirih saat tahu ayahnya tak sebaik yang ia kira. Ia benci ayahnya yang tak berhati, Kyungsoo benci ayahnya yang bisa begitu jahat dan ia benci semua prasangkanya menjadi nyata.
Pintu berdebum kasar. Sehun berdiri disana dengan wajah kaku, ia bisa melihat jelas roman penuh luka milik Chanyeol yang kini terdiam didepannya. Batin pria itu terpukul, putri kecil yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang dan jauh dari segala kehitamannya kini berteriak benci dengan begitu lantang. Memuntahkan kesakitannya dengan cara yang begitu menyakitkan dan berkata benci atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.
"Buang semua framenya dan tarik orangmu pergi."
Sehun mendongak menatap sosok temannya yang berbalik pergi.
"Baik, Tuan."
"Sehun, temui aku diruang kerja."
Chanyeol terdengar begitu dingin, namun raganya yang kini berlalu menaiki tangga itu tak lagi bernyawa. Disana, Luhan dan Sehun menghela nafas kemudian saling memandang, mencoba mengusir kecanggungan yang mengukung.
Luhan menggeleng kemudian menghela,"Awalnya aku ingin mencekik si Park tua itu. Tapi teriakan putrinya ternyata lebih ampuh."
"Yah.. Si gila itu memang hanya akan tunduk dengan Tuan putri. Jadi mantan istriku, cepat kembali ke kamar utama sebelum Tuan putri yang lainnya menangis histeris."
Luhan mendelik namun tak urung berlalu menaiki tangga dan kembali memantau keadaan Baekhyun yang masih tertidur dalam pengaruh obat. Well, Chanyeol telah membuat semuanya menjadi rumit tanpa celah keluar yang berarti.
.
.
Langkahnya begitu tenang dilorong yang sepi, tangannya bergerak membuka kotak password kemudian mengetikan beberapa angka disana.
6104
Kombinasi keamanan Chanyeol yang baru.
Sekali lagi saat Sehun membuka pintu, ia menemukan kegelapan yang terasa asing dengan sosok tinggi Chanyeol yang ada ditengah-tengahnya. Namun kali ini, Sehun tak menemukan segelas wine yang biasa ada disana menemani sang Tuan besar, hanya sosok Chanyeol dengan ekspresi mendungnya yang kini berdiri tegak menatap ratusan foto yang kini berhambur acak diatas lantai dan tangan berdarah-darah.
Benar kata Luhan, si bodoh ini berbuat yang tidak-tidak. Dinding mana yang ia pukul untuk melampiaskan emosi?
Sehun menggeleng prihatin kemudian menutup pintu rapat-rapat dan berdiri dibelakang Chanyeol yang masih saja membatu.
"Kau sudah melakukan tugasmu?"
Suaranya yang berat merambati udara dengan serak dan diam-diam Sehun yang mendengarnya menghela bingung. Semuanya tidak akan seburuk ini jika Chanyeol mau berdamai dengan masa lalunya.
"Well, aku belum bicara apa-apa, Chanyeol."
Chanyeol memang membatu dan mulutnya tertutup rapat-rapat, namun dari seberkas sinar yang menelusup melalui celah jendela dan jatuh dibahunya Sehun tahu, pria itu terlihat lega namun tak lantas mengurangi beban yang kini ditanggung kedua pundaknya. Beban berat yang ia peroleh karena kelakuannya sendiri.
"Aku akan meminta Luhan untuk bicara dengan Kyungsoo.."
"Apa keadaannya akan baik-baik saja?"
Selepas mendapat teriakan kebencian dari putrinya Chanyeol berlalu dengan wajah pucat, si jangkung itu mengurung dirinya diruang kerja dan menyerahkan istri dan anaknya pada pengacara juga teman dekatnya.
Chanyeol rasa ia terlalu pengecut, ia ingat dengan jelas tatapan penuh luka juga kesakitan yang tergambar disana saat Baekhyun dan Kyungsoo berteriak membencinya dan Chanyeol merasa tidak sanggup jika harus mendengar kalimat itu untuk yang kedua kalinya. Rasanya seperti dirajam penuh darah lalu dilempar ke laut lepas, perih dan sakit namun ia tak bisa berteriak.
"Harusnya baik, Luhan tidak akan membiarkan Kyungsoo memusuhi ayahnya sendiri."
Chanyeol hanya mengangguk kaku. Setidaknya anak dan istrinya akan baik-baik saja.
"Jadi Chanyeol, apa rencanamu setelah ini?" Sehun terdengar ragu dengan ucapannya,"Aku pikir kau belum melakukan apa-apa pada Jongin, tapi kenapa orangmu mengirim berita mengejutkan? Kim bilang Jongin diasingkan ke Busan."
Entahlah, Chanyeol juga tidak terlalu jelas. Ia hanya sudah terlalu jauh untuk menemukan jalan pulang.
"Semuanya kacau, Sehun." Chanyeol menghela nafas kemudian menyahut pendek,"Untuk sementara biarkan seperti ini."
Sehun merasa tidak puas dengan keputusan yang diambil teman karibnya itu. Chanyeol tidak menunjukan itikad untuk meminta pengampunan secepatnya. Tapi ia bisa apa? Semuanya ada ditangan Chanyeol dan Sehun tidak punya kuasa lebih dari sekedar menjalan perintah maha clientnya itu. Akhirnya, ia hanya pasrah.
"Saranku, jangan biarkan masalah ini berlarut dan segeralah minta maaf. Baekhyun dan Kyungsoo sangat kacau, kau tahu."
Park itu mengangguk kaku,"Hari ini perempuan itu menghubungiku."
Sehun diam terpekur. Mau apa perempuan itu?
"Aku tidak tahu apa tujuannya tapi sepertinya kau harus bersiap. Dia tidak boleh mendekati Kyungsoo apalagi sampai bertemu, aku tidak ingin hal itu terjadi."
Tentu saja Sehun paham, Kyungsoo adalah segalanya untuk pria itu. Membuat sang anak bertemu dengan ibu kandungnya yang tidak baik memang meninggalkan banyak kerisauan dan Sehun menerima titahnya dengan baik.
"Aku mengerti."
Chanyeol menghela nafas lelah kemudian berbalik memunggungi karibnya itu."Kau boleh pergi."
Sebelum pergi memenuhi perintah, Sehun memandang Chanyeol dengan ragu kemudian membuka mulutnya hati-hati,"Apa kau benar-benar harus membuat Jongin pergi? Kemunculan perempuan itu beresiko besar, jika Jongin ada disini setidaknya pria itu akan sedikit membantu untuk mengendalikan Kyungsoo."
Tapi si jangkung itu menggeleng kukuh,"Setidaknya biarkan dia tetap disana sampai Baekhyun tenang. Bocah itu tidak berada dipihakku, Sehun."
Sehun mengangguk paham."Baiklah. Jangan lakukan lebih banyak hal bodoh, Chanyeol."
Pintu berdebum halus dan sepeninggal Sehun, Chanyeol meluruh diatas lantai yang dingin dengan pandangan mengabur. Yang terjadi hari ini adalah masalah sepele dan tidak seharusnya ia begitu terpengaruh sampai membuat otaknya sulit untuk berpikir.
Menghadapi Baekhyun dan Kyungsoo harusnya menjadi hal mudah, tapi saat lagi-lagi ingatan Chanyeol mengingat teriakan benci dari kedua sosok rapuh yang sangat ia sayangi juga tatapan penuh kekecewaan yang mereka layangkan, semuanya kacau dan ia kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Yang ada dalam benaknya hanya isak tangis menyedihkan dari anak istrinya yang terus berputar-putar sampai perlahan otaknya menjadi kusut seperti gulungan kaset rusak.
Sebelah tangan yang penuh luka akibat pelampiasan emosi yang meluap-luap terangkat meraih satu frame dekat dengannya, senyum Chanyeol tersunging sendu sebelum ia mengusap frame itu dengan pandangan yang buram. Itu adalah foto Baekhyun yang ia ambil saat pertemuan mereka yang pertama.
Meski samar, senyum cantik itu tetap menyapanya dengan begitu hangat. Tatapan Chanyeol berubah terluka.
Pertemuan pertamanya dengan Baekhyun adalah musim semi 3 tahun lalu saat gadis itu masih mengenakan seragam senior high schoolnya yang manis, Chanyeol ingat jelas jika saat itu Baekhyun tidak sengaja menabraknya dan membuat setelan mahalnya kotor dengan noda saus dari hotdog yang tengah gadis itu bawa.
"Ya Tuhan, maafkan aku Tuan. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Ya ampun.. Apa yang sebenarnya aku lakukan?"
Waktu itu Baekhyun terlihat panik dan mencoba membersihkan noda saus yang tertinggal dengan tangannya tapi itu membuat nodanya makin terlihat buruk. Saat itu Chanyeol hanya diam membantu, terlalu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tetap diam saat Baekhyun membungkuk berkali-kali meminta maaf dan baru tersadar saat gadis pergi setelah sebuah suara memanggilnya.
"Baekhyunnie!"
Itu Wu Yifan.
Senyumnya tersunging sinis saat melihat ucapan Jongin tempo hari, bocah itu bilang kenapa ia terlihat begitu peduli juga begitu paham dengan Baekhyun padahal baru bertemu?
Chanyeol tertawa miris.
Nyatanya ia memang peduli dan ia sangat amat paham. Pertemuan mereka bukan saat pertama kali Baekhyun sadar dari komanya, tapi 3 tahun lalu saat gadis itu masih anak sekolah menengah atas yang menggemaskan juga saat gadis itu masih menjadi milik Wu Yifan, Jongin hanya tidak tahu.
Chanyeol menghabiskan tiga tahun untuk membuntuti Baekhyun layaknya phsyco, ia menyuruh orangnya untuk mengikuti Baekhyun dan mencari tahu segala hal tentang gadis itu. Chanyeol mengetahui segala hal tentang Baekhyunnya yang manis, dari hal yang paling sederhana hingga rahasia menyedihkannya sampai ke akarnya tanpa terkecuali.
Gadisnya itu lahir dari pernikahan bisnis antara keluarga Byun juga keluarga Han, masa kecilnya ia habiskan untuk tinggal bersama neneknya di Bucheon sampai usianya menginjak angka tujuh, neneknya meninggal dan Baekhyun tinggal di Seoul bersama ayah dan ibunya. Baekhyun adalah gadis ceria yang tumbuh dalam kasih sayang melimpah yang diberikan nenek kakeknya namun Baekhyun yang ceria berubah jadi gadis pemurung saat ia terjebak dalam pertengkaran kedua orang tuanya yang tak pernah menemukan ujung.
Saat itu, Baekhyun kecil yang berusia tujuh tahun hanya menghabiskan waktunya untuk murung sepanjang waktu karena setelah saling meneriaki satu sama lain dan saling melempar berlusin-lusin piring, ayah dan ibunya akan berlalu begitu saja tanpa peduli dengan Baekhyun kecil yang meraung-raung meminta perhatian mereka.
Dan disanalah Wu Yifan masuk dalam hidupnya. Dimalam badai dengan yang bergemuruh, Baekhyun kecil yang terlelap harus terbangun karena lagi-lagi mendengar teriakan ibunya yang sangat keras. Baekhyun kecil berjalan dengan memeluk boneka kelincinya juga tubuh bergetar, ia terisak-isak dan memanggil-manggil ibunya untuk meminta perlindungan.
Namun saat menemukan sang ibu, bukannya pelukan penuh perlindungan yang ia dapat, Baekhyun kecil harus terseret-seret dalam langkah ibunya yang hendak pergi meninggalkannya.
Baekhyun kecil menangis keras, meminta sang ayah untuk membawa ibunya kembali. Namun pria itu hanya berlalu tanpa mencoba untuk menghibur putri kecilnya yang tidak tahu apa-apa. Wu Yifan datang dan berjanji akan melindungi Baekhyun selamanya.
"Gege berjanji akan melindungi Baekkie selamanya, jadi jangan menangis hm?"
Sejak kepergian ibunya, Baekhyun melewati hari-hari kelamnya dengan Yifan yang selalu ada disampingnya. Pria itu menghiburnya, pria itu membelikan Baekhyun kecil banyak es krim dan selalu membuatnya tertawa. Sampai diusianya yang keenam belas saat sang ayah memberinya sosok ibu dan kakak tiri, Baekhyun memutuskan untuk keluar dari rumah ayahnya dan hidup dengan Wu Yifan disampingnya.
Dan disanalah pertemuan mereka terjadi, saat Baekhyun menunggu Yifan dan saat gadis itu berlari begitu bahagia kearah Yifan yang datang menjemputnya.
Lagi, Chanyeol tersenyum miris kemudian mengambil sebuah frame dimana Baekhyun tengah tertawa begitu bahagia dengan sebuket bunga juga Yifan yang merangkulnya dengan hangat. Momen saat gadis itu lulus sekolah menengah atas. Chanyeol beralih ke foto berikutnya dimana hanya ada sosok Baekhyun yang berjalan dengan wajah tertunduk dibawah hujan deras. Chanyeol ingat jelas, Baekhyun berjalan dibawah hujan karena menunggu Yifan untuk menjemputnya pulang namun si brengsek itu tidak datang dan malah bersenang-senang dengan perempuannya yang lain.
Chanyeol marah, ia murka besar melihat gadis mungilnya menangis dibawah hujan dan hari itu adalah hari dimana Chanyeol menemukan pengkhianatan Yifan sekaligus hari dimana ia memutuskan untuk memiliki Baekhyun dan memenuhi ambisi liar yang terpecik karena kenangan masa lalunya yang menyedihkan.
Saat itu, Chanyeol mulai menghubungi beberapa relasi besarnya untuk membuat sebuah pertunjukan sederhana. Ia bermain licik dan membuat perusahaan keluarga Byun nyaris bangkrut lalu disaat yang tepat, ia akan muncul sebagai sosok penyelamat.
Chanyeol benar-benar menjerumuskan semua anak perusahaan keluarga Byun kedalam situasi terjepit sehingga tak ada celah untuk selamat selain dengan uluran tangannya. Saat itulah, Chanyeol menawarkan kerja sama dengan Baekhyun sebagai jaminan dan Tuan Byun sama sekali tak memiliki kesempatan menolak. Chanyeol memukulnya dititik tepat dan pria paruh baya itu jatuh dibawah kuasanya.
Ia memang brengsek yang tidak berperasaan.
Akan berapa ribu kali Baekhyun mengatakan benci padanya jika gadis itu tahu tentang hal ini?
Akan seberapa nyalang tatapan yang dilayangkan gadis itu padanya saat tahu jika ialah yang membuat Yifan pergi?
Akan seberapa besar kebencian juga kemarahan yang ia terima jika Baekhyun tahu alasan dibalik Chanyeol menikahinya adalah karena sosoknya yang begitu mirip dengan seseorang dimasa lalu? Sosok tak berhati meninggalkannya dengan kejam. Sosok yang memberinya perpisahan yang begitu dingin. Sosok perempuan jahat yang mengantar Chanyeol pada luka menganga yang tak kunjung sembuh. Sosok itu adalah ibu Kyungsoo,
Baixian.
Saat pertemuan mereka yang pertama Chanyeol terpana karena menyadari paras Baekhyun yang manis begitu mirip dengan perempuan jahat yang telah pergi darinya. Semua kegilaan pria itu mengikuti Baekhyun dimulai dengan perasaannya yang belum sepenuhnya hilang pada Baixian meski setelah kepahitan yang menggetirkan.
Chanyeol berambisi mendapatkan Baekhyun karena sosoknya yang begitu mirip dengan Baixian hingga buta dan menghalalkan segala cara.
Namun seiringnya waktu, Chanyeol mulai sadar jika Baekhyun adalah sosok yang berbeda. Baekhyun adalah gadis yang ceria meski ia memiliki beban yang berat. Gadis itu begitu hangat meski terkadang diselubungi awan hitam yang pekat, gadis itu begitu tulus meski goresan nyata terlihat dalam setiap senyumnya. Dan fakta terakhir yang memukul batin Chanyeol dengan telak adalah kenyataan jika ia telah salah membawa gadis itu pada situasi sulit yang membuatnya merasa tak punya seorang pun untuk ia jadikan pegangan.
Ia telah melenyapkan senyum diwajah cantik yang selalu ia tatap sepanjang malam.
Semalaman Chanyeol mengatai gadis itu jalang karena kelibatan kenangan menyedihkan tentang Baixian muncul dalam benaknya yang kacau. Semalaman ia mengikat gadis tak berdosa itu diatas ranjang dan memperlakukannya dengan begitu rendah. Semalaman Chanyeol membuat Baekhyun mungilnya menangis pilu tanpa sedikit pun tergerak untuk mendengar lirihan mohonnya.
Chanyeol mengepalkan tangannya frustasi, nafasnya memburu cepat seakan ia akan meledak dalam hitungan nano sekon. Apa yang harus ia lakukan? Cara seperti apa yang harus ia gunakan agar Baekhyun bersedia memaafkan ketololan juga kenaifannya yang terlanjur membutakan? Apa yang harus Chanyeol perbuat agar Baekhyun bisa tetap disisnya? Ia bisa gila jika Baekhyun tidak memaafkannya. Chanyeol sekarat jika Baekhyun pergi tanpa ampunannya.
Bayangan Baekhyun pergi begitu saja membuatnya kalap dan melempar semua benda disekitarnya dengan brutal, Chanyeol mengamuk seperti singa jantan yang kehilangan betinanya dan tercakar dimana-mana. Namun gedoran pintu juga teriakan panik didepan ruang kerjanya membuat Chanyeol berlari tanpa berpikir dan mengambil seluruh ego juga ketololannya yang telah menyakiti Baekhyun untuk ia telan bulat-bulat meski rasanya seperti menelan duri.
"Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol buka pintunya! Kyungsoo ingin membawa Baekhyun lari!"
.
I'll Walk You Home
.
Angin bertiup lirih menelusup melalui celah yang terbuka, Baekhyun mengerjap lemah saat tidur lelahnya diusik bisikan musim gugur dan wajahnya dibelai penuh kehangatan. Tubuhnya begitu sakit dan kepalanya berdentam ngilu. Iris kelamnya berpendar tak tentu arah dan ia merasakan hujaman kecil yang menyesakan saat tahu dimana ia berada.
Dikamar gelap, dengan tubuh yang terbaring lemah diatas ranjang mengerikan yang jadi saksi bisu tentang betapa rendahnya seorang Byun Baekhyun dimata Park Chanyeol.
Matanya memanas dan Baekhyun merasa pernafasannya rusak. Ingatan mengerikan itu lagi-lagi muncul dibenaknya dan telinganya begitu pekak dengan teriakan Chanyeol masih terasa nyata.
'Diam kau jalang!'
Tubuhnya bergetar dan saat Baekhyun sadar dengan dimana ia berada, sarafnya seakan mati rasa, tubuhnya dialiri kejut menyedihkan dan ia menggelepar tanpa daya. Baekhyun tidak sanggup lagi menahan ini lebih lama, ia ingin pergi. Ia ingin lari. Ia ingin menghapus Park Chanyeol dalam hidupnya dengan begitu semuanya terasa benar. Tubuhnya akan berhenti bergetar, dadanya tak akan mengerut sakit dan nafasnya tak akan lagi sesak. Baekhyun bertekad, ia harus pergi!
Tangannya yang berbalut perban menyingkirkan selimut dengan susah payah, tubuh lemahnya yang beranjak tiba-tiba oleng kebelakang membuat ia harus mencengkram pinggiran ranjang dan membuat tangannya kembali berdarah. Rasanya sangat perih. Baekhyun menggigit bibir bawahnya menahan ringisan kemudian berjalan pincang menuju pintu.
Harusnya ini mudah, dokter perempuan yang sedari tadi mengawasinya tidak ada, Kyungsoo tidak pernah muncul meski ini nyaris gelap dan Chanyeol juga tidak terlihat sepanjang hari. Mansion kosong dan ini kesempatan Baekhyun untuk lari. Ia tidak boleh menyerah meski kakinya sakit, ia tidak boleh lemah walau tubuhnya lelah. Baekhyun harus pergi, ia harus menjauh dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Chanyeol. Ia harus lari!
Langkah pincangnya tersuruk tak tentu arah, tangannya yang berbalut kassa tebal kini kembali ternoda dengan darah yang kembali merembes dari jemarinya yang terluka. Baekhyun merabai dinding seraya meringis, kaki rantingnya melangkah begitu berat. Bibir tipisnya nyaris berdarah karena tergigit terlalu kencang saat tubuhnya oleng dan hendak jatuh.
Namun Baekhyun tak gentar, ia harus lari. Penderitaan ini harus cukup sampai disini. Baekhyun tidak mau mati didepan Park Chanyeol yang akan tertawa puas didepan jasadnya. Ia harus pergi. Harus.
"Apa yang kalian lakukan disini? Minggir! Biarkan aku masuk!"
K—Kyungsoo?
"Maaf Nona, Tuan besar tidak mengizinkan siapapun masuk. Nyonya muda butuh istirahat penuh."
"Aku tidak menganggu! Aku hanya ingin bertemu Baekhyun!"
"Maaf Nona."
"Aku bilang minggir!"
"K—Kyung.. Kyungsoo?"
Baekhyun menangis memanggil nama Kyungsoo. Ia ingin bertemu Kyungsoo, ia ingin pergi, semua ini menakutkan."Hiks.. Kyungsoo-ya tolong!"
"Baek? Kau mendengarku? Baekhyun-ah apa yang terjadi padamu Baek—"
"Maaf, Nona anda tidak boleh seperti ini."
"Lepaskan aku! Baekhyun-ah! Baek!"
Apa yang terjadi dengan Baekhyun? Kenapa ibu tirinya itu dikurung didalam sana? Kenapa suaraya terdengar begitu menderita?
Kyungsoo menggeram tajam,"Buka pintunya."
Dua pria datar itu hanya diam dengan ekspresi kaku,"Maaf, Nona. Ini adalah perintah tuan besar."
Tapi tidak, Kyungsoo adalah keturunan Park yang punya arogansi tinggi tidak akan membiarkan siapapun membantahnya. Pintu ini harus terbuka tidak peduli reaksi ayahnya tetap saja pintu ini harus dibuka!
"Aku bilang buka!"
"Hikss.. Kyungsoo."
Baekhyun menangis keras seraya memukul-mukul pintu yang terkunci rapat dengan kedua tangannya. Ia ingin keluar, ia ingin pergi dari sini."Kyungsoo tolong.."
Kegetiran dari si pemilik suara menular dan diam-diam Kyungsoo menghapus air matanya yang jatuh meleleh dengan cepat, ia sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Baekhyun didalam sana tapi dari suaranya saja Kyungsoo tahu Baekhyun telah sangat menderita. Perempuan itu ketakutan, sangat ketakutan.
"Baek.. Jangan menangis ya? Aku akan membuka pintu ini. Katakan apa yang terjadi."
Kyungsoo mati-matian menahan isakannya, ia tidak tahu harus melakukan apa karena kekuasaan ayahnya adalah hal mutlak yang begitu sulit dilawan. Ia ingin bertemu Baekhyun, ia ingin perempuan itu berkata semuanya baik-baik saja karena hatinya telah koyak tapi ternyata keadaan perempuan itu jauh menyedihkan dari apa yang ia alami meski penyebabnya adalah hal yang sama.
Ayahnya.. Park Chanyeol.
"Hikss.. Ayahmu monster.. Dia jahat.. Dia mengikatku.. Tolong aku, aku takut hikss.. Kyungsoo.. Aku takut."
"Baekhyun-ah jangan takut, aku disini. Aku akan menjagamu. Hikss.. Daddy tidak akan mendekatimu lagi. Jadi jangan menangis ya? Jangan menangis, aku mohon."
Dan Chanyeol berdiri disana, ia melihat bagaimana putrinya yang bersimpuh dilantai dengan air mata yang mengalir deras hingga membuat tubuhnya bergetar.
Park Chanyeol brengsek.
Luhan yang berdiri dibelakang pria itu segera mendekat dan merengkuh Kyungsoo yang menangis hebat,"Kyung hei, Baekhyun tidak apa-apa. Dia hanya sedang ketakutan jangan menangis hm? Itu akan membuatnya makin ketakutan."
Kyungsoo menangis keras dan mendekap Luhan erat-erat sebagai tumpuannya. Semua ini mengerikan, ayahnya monster.. ayahnya monster.
"Kyungsoo.. Hikss.. Tolong aku!"
Sementara didalam sana, Baekhyun masih menangis mencari pertolongan dengan sisa tenaganya yang tersisa. Luhan mendesah khawatir, keadaan Baekhyun lebih buruk dari yang ia kira. Lantas ia mendongak, menatap Chanyeol yang masih berdiri kaku tanpa melakukan apapun,"Buka pintunya Chanyeol. Kau membuat keadaan makin buruk!"
Tanpa banyak kata, dua orang berbadan besar itu membuka pintu kemudian berlalu dari sana. Kyungsoo menyerbu masuk dan ia menangis makin keras saat melihat Baekhyun yang terduduk lemah diatas lantai dengan nafas yang kacau."Baek.. Baekhyun-ah.. Baekhyun bangun.. Baek."
"Kyung.. Hikss.. Sakit.. Tolong aku hiks.."
Luhan menyerngit panik,"Oh tidak! Biarkan ayahmu menggendongnya Kyungsoo! Baekhyun harus dibawa kerumah sakit!"
.
.
Chanyeol tak berhenti berjalan gusar sepanjang lorong rumah sakit dan Kyungsoo duduk diam dengan pandangan kosong dalam pelukan Luhan. Saat pintu dibuka, ia menemukan Baekhyun kesulitan bernafas dan mencengkram kepalanya hingga buku jarinya memutih. Sebelum kesadarannya menghilang, perempuan itu merintih kesakitan dengan nafas yang begitu berat.
Kyungsoo melamun dengan pikiran penuh.
Nyaris satu jam Baekhyun ditangani tim dokter dalam ruang perawatan khusus tapi belum ada satu pun tim dokter yang keluar untuk memberikan kabar tentang kondisinya.
Dalam gusarnya Chanyeol dicekik panik, ini semua ulahnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Baekhyun?
Luhan yang melihatnya menghela nafas atas kelakuan ayah dan anak ini,"Tolong berhenti melamun dan berjalan seperti orang bodoh."
Duo Park itu mendelik kompak dan Luhan gelagapan dibuatnya.
"Mak—Maksudku lakukan sesuatu yang lebih berguna. Berdoa misalnya?"
Ayah dan anak itu tak sengaja saling bertemu pandang. Sinar mata mereka menyiratkan pertanyaan yang sama sebelum Kyungsoo memutus kontak mata mereka dengan sebal,"Daddy tidak pernah mengajariku untuk berdoa, Jie." Adunya dengan bibir mengerucut.
"Daddymu memang bodoh maklum saja, Kyungsoo."
Kyungsoo mencebik kearah ayahnya kemudian memejamkan mata dengan kedua tangan saling bertaut.
Diam-diam, Chanyeol merasa terhibur dengan tingkah putri sulungnya yang ketus. Yah setidaknya, gadis mungil tidak benar-benar membencinya.
"Tuan Park?"
"Ya dokter?" Pria itu maju dengan cepat mengabaikan dua sosok lain yang sama ingin tahu dengannya."Keadaan psikis dan fisik Nyonya muda sangat buruk, itulah yang memicu kepalanya menjadi sakit tak tertahankan. Kami masih belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi sepertinya tapi Nyonya Park butuh bimbingan terapis untuk sementara."
Kening Luhan mengerut. Bimbingan terapis, seperti semacam.. Psikolog? Tapi untuk apa? Apa keadaan Baekhyun separah itu?
"Nyonya sudah sadar, tapi untuk sementara Nyonya harus tetap berada dirumah sakit untuk memantau kondisinya."
"Apa aku boleh masuk?"
Pertanyaan tak terduga itu datang dari sosok mungil yag berdiri ditengah-tengah mereka, dokter dengan tag Kim Jaehyun itu mengerjap kemudian segera mengangguk mempersilahkan,"Tentu Nona, hiburan dari temannya mungkin akan membantu Nyonya Park menjadi lebih baik."
"Maaf dokter, aku ini anaknya."
Dokter Kim mendelik bingung dan Luhan terkekeh canggung,"Maaf?"
"Anak-anak zaman sekarang memang begitu pintar bicara, terima kasih atas penangannya Dokter."
"Ah kalau begitu saya permisi."
Luhan tersenyum sopan kemudian buru-buru mencengkram lengan Chanyeol yang hendak beranjak masuk, ia harus memastikan sesuatu."Tidak Chanyeol, masuk saat Baekhyun sudah tidur dan Kyungsoo sudah pulang."
Park tunggal itu mengerut tak senang,"Aku ini suaminya Luhan, menurutmu apa yang sedang kau katakan?"
Tentu saja aku tahu Park bodoh.
Perempuan China itu mencibir dalam hati, namun sejurus kemudian ia melunakan tatapannya dan berbicara lebih lugas,"Dengar, Baekhyun belum siap bertemu denganmu. Setidaknya tunggu sampai besok, Baekhyun akan kesulitan jika kau terus mendesaknya seperti ini."
Argumentasi Luhan adalah fakta akurat yang tidak memberi sedikit pun celah untuk Chanyeol bantah, jadi dengan bahu yang turun dan ekspresi penuh kecewa yang coba ia sembunyikan, pria itu berkata oke dan membiarkan Luhan masuk seorang diri.
"Hubungi aku jika Baekhyun sudah tidur."
Dan rusa China itu tersenyum menang,"Jangan lakukan hal bodoh lagi Chanyeol, dan cepat cari pacar putri sulungmu jika tidak mau dimusuhi seumur hidup."
"Cepat masuk rusa centil."
.
"Apa yang terjadi denganmu?"
Ruangan itu hening, sumber pencahayaan utama telah dimatikan dan hanya tersisa seberkas sinar yang berlomba menerobos celah jendela. Baekhyun menatap kosong pada hamparan langit putih diatasnya, masih teringat pertanyaan Kyungsoo saat gadis itu menemuinya tadi.
"Aku tidak apa-apa."
Harusnya Baekhyun mencari jawaban yang lebih lugas karena jawaban klise itu tidak akan perah cukup untuk si burung hantu.
"Katakan apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu, apa.. Daddy?"
Gadis itu menatap nyalang dan berapi-api, dan Baekhyun paham. Lagipula memar disudut bibir Baekhyun juga lengan berbalut kassanya tidak memungkinkan ia untuk menghindar tapi setidaknya, ia masih punya satu alasan bagus untuk menyangkal.
"Hanya saja, menentang ayahmu bukan ide yang bagus Kyungsoo."
Selepas itu, Kyungsoo diam dan Baekhyun melirik pada Luhan yang kemudian menggeleng pelan memberinya isyarat agar tetap diam juga. Sampai kemudian, Kyungsoo menatapnya dengan mata memerah dan berkaca-kaca,
"Jongin mengenal Yifan tapi kita tidak bisa tahu apa-apa. Daddy membuatnya pergi. Aku tidak tahu, tapi bukankah sebaiknya kau juga lari Baek?"
Helaan nafas yang berat terdengar panjang, Baekhyun mengerjap kemudian beralih menatap luka berbalut plester tipis dipergelangan tangannya yang memerah. Sipitnya mengedar pandang, menyapu sepi kehitaman disekelilingnya lalu kembali menghela nafas.
Lukanya sudah tidak begitu sakit, nyaris tidak terasa tapi kilasannya begitu membekas dalam benak. Tatapan Chanyeol malam itu adalah satu-satunya yang membawa Baekhyun pada mimpi buruk yang membuatnya ingin mati, iris kecoklatannya begitu jujur berkata bahwa Baekhyun hanyalah pelampiasan nafsunya semata.
Tidak lebih.
Rasanya sakit sekali, lebih sakit dari saat Yifan pergi tanpa kalimat perpisahan. Lebih sakit dari saat Baekhyun bangun sendirian dengan kepala yang nyaris kosong. Rasa sakit itu muncul karena bagi Chanyeol, ia hanya kucing jalanan tak berharga.
Baekhyun menghela nafas lagi. Menekan dadanya yang masih terasa sesak.
Pintu bergeser terbuka dan derap langkahnya terdengar berirama, ia tidak bodoh untuk menyadari siapa yang datang. Wangi pria itu terlalu khas dibawa angin, derapannya yang terlalu tenang cukup untuk membuat Baekhyun tahu jika itu adalah Park Chanyeol, suaminya. Alih-alih menyambutnya seperti biasa, Baekhyun lebih memilih pura-pura mati dan berusaha melupakan luka hati yang baru saja terbuka. Ia belum siap menatap iris itu lagi.
"Baekhyun-ah,"
Mendengar suara itu memanggilnya begitu akrab membuat hatinya kembali tenggores serpihan tak kasat mata. Baekhyun merenung dalam sepi, apa salahnya? Kenapa Chanyeol sampai hati memperlakukannya seperti ini? Kenapa Chanyeol bisa begitu tega padanya?
Usakan kecil yang mendarat dipucuk kepala tak lagi membuat hatinya menghangat, Baekhyun makin mengkerut kecil. Sentuhan ringan itu meninggalkan kekosongan yang hampa.
"Maaf aku, Baekhyun."
Maaf? Kenyataan ini terlalu getir bahkan hanya untuk tersenyum pahit, Baekhyun rasa sudut bibirnya telah mengeras. Lantas bagaimana bisa Chanyeol meminta maaf dengan begitu mudahnya?
"Aku mabuk semalam, tapi percayalah Baek. Aku sama sekali tidak berniat memperlakukanmu seperti itu. Aku tidak bermaksud melukaimu sayang."
Sayang?
Baekhyun mengerjap pedih.
Mungkin Chanyeol tak tahu, namun badai pun tak pernah berencana untuk datang. Ia hanya datang untuk merusak kemudian berlalu tanpa peduli dengan apa yang telah ia hancurkan sekali pun semuanya remuk tak meninggalkan sisa. Kyungsoo benar. Sebelum badai itu pergi dengan kerusakan yang makin parah, bolehkah Baekhyun lari dan menghindar sejauh mungkin?
.
I've been yearning to make love,
But you taunt me to give you sex.
Our bodies are always rubbing againts each other,
But we never see the fire.
(L. Figaro)
.
Nyaris pagi buta saat Luhan mengerang karena tidur lelapnya terganggu, ia menggerutu kesal pada tamu tak tahu waktu yang menekan bel apartemen seperti kucing kesetanan minta disetubuhi.
"Tunggu sebentar!"
Luhan berteriak kesal, membuka pintu apartemennya dengan kasar kemudian dibuat menganga saat melihat sosok yang kini berdiri didepannya dengan tampang tak punya dosa.
"Antarkan aku ke Busan!"
Itu Park Kyungsoo, bocah labil yang baru saja menginjak usia duapuluh dan mendeklarasikan dirinya sebagai pecinta pinguin yang paling menggemaskan sepanjang masa. Tapi apapun itu masa bodoh, Luhan tidak peduli, satu-satunya hal yang menjadi fokusnya saat ini adalah pria berwajah datar yang memasang muka sombong yang memuakan yang lagi-lagi menghalangi jalannya.
"Hei ladies, jadi apa yang kalian lakukan pagi buta begini? Apa kalian habis having fun?"
Having fun kepalamu. Kyungsoo berdecih kesal kemudian maju selangkah untuk memulai konfrontasi,"Dengar paman, singgirkan mobilmu sekarang juga karena aku tidak punya waktu!"
Park Kyungsoo adalah bocah kecil dengan level bossy kelewatan tinggi didapatkan dari sang ayah. Dan jangan panggil ia Oh Sehun jika tidak lihai bermain dengan watak menyebalkan si Park junior yang galaknya minta ampun itu, ia sudah pandai menangani ayahnya juga well, meski kadang berakhir dengan bogem mentah.
"Kyungsoo, ini pukul dua pagi. Apa yang ada dikepala cantikmu saat kau memutuskan untuk lari dari rumah padahal gaya gravitasi sepuluh kali lipat lebih tinggi dari normal?"
Masa bodoh dengan gravitasi, Kyungsoo tidak peduli. Yang ia inginkan adalah menemui Jongin.
"Minggir paman!"
Sehun menggeleng kaku dengan kedua tangan yang menyelami saku celana formalnya."Pulang, anak kecil."
"Aku bukan anak kecil!"
Sebelum perdebatan konyol itu berlarut-larut, Luhan maju dan menarik Kyungsoo agar mengambil langkah mundur dan berdiri dibelakangnya. Biar Oh bebal Sehun menjadi urusannya saja.
"Ini tidak akan lama Sehun, kami hanya akan ke Busan untuk menemui temanku dan pulang pagi hari. Chanyeol tidak akan marah karena Kyungsoo bersamaku."
Setengah alis pria Oh itu naik tinggi, lalu senyum miring terbit disudut bibirnya. Luhan pikir ia mudah dibodohi?
"Tidak mantan istriku. Dengar, ini bukan tentang kembali pada pagi harinya atau kau ada bersama Kyungsoo. Chanyeol dengan jelas meminta Kyungsoo untuk tidak pergi kemana pun, kau tidak lupa jika temanmu itu punya tempramen yang em, lumayan buruk?"
Luhan menghela nafas jengah saat Sehun terus mengungkit masa lalu mereka dengan cara yang kekanakan, jadi dengan gerakan tegas, ia mundur kemudian membuka pintu penumpang."Masuk Kyungsoo,"
Gadis belia itu menurut tanpa banyak ulah dan Sehun mengerut melihatnya.
"Apa-apaan ini Luhan?"
Rusa cantik itu menyilang tangannya didepan dada dan melempar tatapan tak senang,"Bukankah sudah jelas? Aku menolak memulangkan Kyungsoo, jadi minggir dan berhenti bicara."
Sebelum perempuan itu kembali ke belakang kemudi, Sehun menggeram da nburu-buru menahannya, membidik rusa cantik itu dengan tatapan tajamnya,"Benar-benar perempuan keras kepala."
Yang terjadi selanjutnya adalah Luhan yang terseret tegas duduk dikursi penumpang disusul Sehun yang kemudian duduk dibelakang kemudi, membiarkan supirnya pulang sendiri dan membuat gadis bermata bulat yang sedari tadi memperhatikan bertopang dagu menikmari sajian drama singkat yang romantis.
Oh ayolah, pengacara Oh yang terkenal dingin itu nyatanya luluh dengan Luhan jie yang selalu dia labeli mantan istri. Itu tandanya masih ada cerita yang belum selesai, tidakkah?
"Ngomong-ngomong kalian manis sekali."
Dua orang dewasa itu berseru tidak senang,"Apa-apaan."
Kyungsoo terkikik geli,"Eyy.. Jangan begitu, kalian membuatku cemburu."
Luhan menghela nafas lelah,"Tutup mulutmu, Nona manis. Segera pergi tidur atau tidak kau akan terlihat seperti panda didepan kekasihmu."
"Ayay captain! Ingat, jangan bertengkar selama aku tidur."
Ck bocah ini!
"Kyungsoo.."
Sehun memanggil penuh ancaman dan gadis Park itu menggeram tak senang,"Iya, baiklah. Aku tidur. Terima kasih sebelumnya Paman bodoh Oh."
Tak berselang lama, gadis pinguin kecil itu terlelap dengan bibir setengah terbuka. Luhan berbalik untuk kemudian menyelimuti gadis kecil itu dengan selimut tipis dan mengusap pucuk kepalanya sayang. Park Kyungsoo yang malang, kenapa ia harus terlibat dalam urusan ayahnya yang begitu rumit?
Luhan kembali duduk tenang kemudian menghela nafas kearah jalanan gelap yang mereka lewati.
"Kenapa Kyungsoo bisa bersamamu?"
Gadis Lu itu menjawab tanpa mengalihkan pandang dari jalanan gelap,"Dia menekan bel apartemenku dengan brutal dan minta diantar ke Busan. Menurutmu bagaimana bisa dia tahu kalau pacarnya ada di Busan?"
Oh Sehun menggeleng singkat,"Dia sepintar ayahnya, kau tahu."
Kemampuan si Park idiot itu memang tidak bisa diremehkan dan Kyungsoo menuruni ayahnya seratus persen. Lagi, Luhan melirik ke belakang pada gadis yang tertidur lelah."Hanya Busan? Kedengarannya tidak Chanyeol sekali."
Sehun memutar kemudinya saat mereka memasuki jalanan yang masih ramai,"Jongin tidak sesederhana yang kau lihat. Itulah kenapa Chanyeol tidak bisa menyingkirkannya dengan mudah."
Kening cantik Luhan mengerut tak paham, ia meminta penjelasan lebih untuk itu. Namun belum genap ia berbicara, Sehun memotongnya terlebih dahulu dan berbicara dalam ponselnya."Ya, ini aku."
Luhan mendengarkan dengan seksama. Suara Sehun terdengar panik dan-
"Segera setelah aku mengatasi Kyungsoo aku akan kembali kesana. Pastikan semua orangmu menyisir seluruh gedung rumah sakit terutama bagian atap. Jangan lupakan cctv dan Chanyeol.."
'Ya?'
"Jangan panik. Tetap tenang, kau pasti bisa menemukan Baekhyun."
'Aku mengerti.'
"Oke, tutup."
Sambungan terputus, pria Oh itu segera mematikan mode teleponnya dan memasukan direksi baru pada kolom GPS. Mengundang spekulasi yang membuat mantan istrinya mengerut curiga,"Kenapa kau merubah direksinya Oh?"
Pria itu mengendikan bahu,"Park Baekhyun menghilang."
Luhan membeku.
Ini tidak benar, semua benar-benar terjadi diluar kontrol. Baekhyun menghilang. Perempuan muda itu menghilang.
Akan menjadi seberapa gila lagi Park Chanyeol jika Baekhyun tak bisa ditemukan?
.
.
.
To Be Continue
Gaess gue update!
Gue bingung mau bilang apa, yang jelas gue lagi ngumpet dipunggung Kang Gyu karena takut kena sambit XD
Ini telat.. Telat banget banget /banget banget woyy/ Iya gue tau basi, gue minta maaf gulu tiap up gara-gara ngaret tapi gaes jangan timpuk pliss TT
Chap kemaren gue bilang gak akan ngaret emang iya bukan ngaret lagi molor malahan wkwk maapkeun ya XD
Jadi gimana? Apa ceritanya makin kek sinetron alay-alayan apa gue yang makin alay haha.. Iya tau, gue alay emang. Tapi mau kan kalian tetep kasih gue saran harus gue gimanain ini Mas cahyo sama Baekkie? Harus gue gimanain dek Uco sama aa Ojong xD
Gue bikin Baekkienya ngibrit aja kali ya, terus ketemu cogan terus jatuh cinta terus jadi nikah terus terus.. Gue dicekek. Nggak berani deh gue, lakinya Baekkie ironyeol kan galak wkwk..
Makasih buat review kalian part kemaren gue terhura banget. Jadi buat part ini gue tunggu banget tanggapan kalian apa ff ini masih layak apa nggak.
Dah jagi-jagi! See you next chap, walau ngaret jangan kapok buat review ya wkwk
SARANGHAE/
P .s Ini lagi hujan loh gak gitu yang mau kirimin gue martabak?
P .s .s Oke abaikan keknya gue kebanyakan nyemilin micinnya emak gue deh. Kalo kebaca ikhlasin aja wkwk..
Pay Pay!
P .s .s .s Buat yang nebak Baixian yeay! Selamat kalian bener
Oke yang ini beneran, daah temen-temen ^^/
