You fooled me not because I am a fool, but because in your lies there was more than I ever wanted from anyone else

.

.

Angin bulan November berhembus gila-gilaan, menyapa kota Seoul dipagi buta dengan dinginnya yang menusuk hingga ruas-ruas tulang. Guguran dedaunan yang menutupi jalanan berhamburan panik diterpa hawa musim gugur. Ditemani bulan yang muncul separuh, Baekhyun memeluk tubuhnya sendiri menghalau dingin.

Pandangannya kosong tak terarah, gadis itu menghela nafas tersenggal.

Di kepalanya bergema berbagai sahutan memintanya untuk lari tapi tidak, ia tidak lari. Lagipula mana mungkin ia lari? Pikirannya tengah miring tadi, tapi sekarang, setelah angin menerpa dan membuat rambutnya ikut berayun kepala Baekhyun terasa lebih ringan dan otaknya sudah kembali ke tempat semula.

Yah, setidaknya mungkin sedikit.

Hiruk pikuk kehidupan kota yang tak pernah padam membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang orang-orang cari? Mereka bekerja keras siang dan malam hanya untuk beberapa lembar won, tapi akankah itu cukup bahkan untuk membeli setoples kecil kebahagiaan?

Setahu Baekhyun itu tidak dijual dimana pun, bahkan di duty free kelas dunia sekali pun. Siapa yang bisa membeli kebahagian? Bukankah tidak ada?

Angin yang berhembus tenang bersama hawa dinginnya membantu Baekhyun sadar jika tidak ada yang sempurna didunia ini. Tidak ada musim gugur yang berlanjut hingga ke akhir dan tidak ada hujan yang tak kunjung berhenti. Tidak ada yang sempurna. Bahkan pertemuan pertamanya dengan Chanyeol yang selama ini ia anggap sangat mewakili kata itu pun tidak benar juga.

Mana ada hal yang sempurna? Tidak ada.

Jadi setidaknya, meski Chanyeol menikahinya hanya karena pria itu kasihan atau pun pria itu hanya menginginkan tubuhnya harusnya itu tidak menjadi masalah. Baekhyun hanya harus bangun dari kenaifannya, sikap menyenangkan juga hangat pribadi pria itu harusnya membuat Baekhyun cukup. Paling tidak, Park Chanyeol membuka diri untuk jadi tempat kembali baginya. Bukankah itu yang ia butuhkan?

Yang selama ini ia butuhkan adalah tempat kembali. Ia hanya perlu merasa pulang ke rumah dan Park Chanyeol mewujudkannya.

Gadis Byun itu kembali menghela nafas, menatap luas pada jantung kota Seoul yang terus berdenyut cepat lalu mengangguk tanpa sadar.

Kesalahan pria itu bisa diurus nanti, hal yang terpenting saat ini adalah Baekhyun masih memiliki rumah untuk pulang karena nyatanya, rumah yang ia bangun bersama Yifan telah hancur diterpa badai, pria itu pergi begitu saja dan tidak ada yang bisa ia selamatkan.

Tapi akankah terasa sama?

Ia telah menempatkan harapan yang terlalu tinggi pada Chanyeol, berharap pria itu bertulus hati dan sungguh-sungguh. Bisakah Baekhyun menangani hatinya yang patah dan bersembunyi dibalik aku baik-baik saja? Patah hati yang ia rasakan kali ini tidak sesederhana seperti sebelumnya. Baekhyun tidak pernah benar-benar berpikir untuk mati saat Yifan pergi dan mencampakannya dengan dingin, ia hanya merasa kosong. Tapi kenapa—

"Baekhyunie!"

Suara itu terdengar keras dibelakangnya hingga nafasnya tersendat dan tubuhnya berubah kaku. Baekhyun bergetar,

Apakah itu Park Chanyeol? Apa pria itu menemukannya? Apa pria itu akan menyakitinya lagi? Apa pria itu akan mengikatnya lagi? Apa pria itu akan berteriak lagi?

Gadis itu mematung dengan wajah pucat, seraut penuh ketakutan tak bisa ia sembunyikan dengan benar. Bayang-bayang malam itu benar membekas dan membuat seluruh sarafnya tegang tanpa bisa ia kendalikan bahkan saat Park Chanyeol berjarak sepuluh kaki darinya.

"C-Chanyeol.."

Nafasnya tersendat dipangkal saat pria itu memeluknya terlalu erat seolah akan membuat tubuhnya remuk. Irisnya bergolak, gemaan jantungnya menghentak dan Baekhyun bergetar kacau.

Tidak.. Tidak.. Chan-yeol.. Chanyeol..

"Aku pikir kau pergi, Ya Tuhan. Jangan pernah lakukan itu Baek. Tidak. Jangan pernah."

Park Chanyeol begitu kalut, bahunya naik turun dengan tegang dan pria itu sama sekali tak bisa mengendalikan situasi hingga luput dari keadaan istrinya sendiri. Chanyeol dikejar rasa takut hingga tanpa sadar jika pelukannya terlalu erat dan membuat Baekhyunnya sesak.

"Chanh-Aku su-sulit bernafas."

"Oh maaf,"

Si tinggi melepaskan pelukannya kemudian mengambil selangkah mundur, masih belum bisa mengendalikan dirinya sendiri dari ketakutan jikalau Baekhyun pergi. Ia mengenggam tangan si mungil didepanya dan mengusap memberi kehangatan."Apa yang sedang kau lakukan disini hm?"

Baekhyun masih menundukan kepala, keberaniannya untuk menatap langsung kedalam orbs kelam itu telah hilang tak berbekas. Ia masih sangat ketakutan."A-Aku-hanya tidak bisa tidur. A-Aku tidak akan pergi. Aku mohon jangan—jangan marah.."

Untuk beberapa detik Chanyeol terdiam menahan buruan nafasnya yang membuat si mungil bergetar ketakutan. Baekhyun jelas masih enggan menatapnya, gadis itu masih diburu bayangan sosoknya yang mengerikan. Chanyeol tidak boleh bertindak gegabah atau si mungil akan benar-benar lagi tunggang langgang meninggalkannya.

Lantas Chanyeol mengambil selangkah lebih dekat, merangkum wajah mungil itu dengan hati-hati dan memberikan tatapan yang teduh untuk menenangkan,"Maafkan aku. Aku pikir kau lari, sayang. Kau membuatku panik setengah mati."

Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dipipinya dan buru-buru menunduk dalam,"Aku tidak lari. Tidak akan. Lagipula untuk apa?"

Chanyeol menghela nafas lega mendengar jawaban dari gadis mungilnya. Setidaknya Baekhyun berkata untuk tidak pergi darinya. Ia bisa tenang.

Nafas berantakannya kembali normal namun ketika melihat kedua kaki yang lebih kecil itu tak berbalut apapun Chanyeol tak bisa menyembunyikan geramannya."Kau boleh marah. Tapi aku tidak mengizinkanmu menyakiti dirimu sendiri."

Baekhyun menggeret satu langkah mundur,"Ma..Maaf aku—"

Si jangkung Park menggeram dalam hati kemudian kembali melunakan ekspresi wajahnya. Ini bukan saat yang tepat untuk bersikap protektif secara terang-terangan, Baekhyun masih sangat takut padanya. Tenanglah Park!

Chanyeol menahan nafas,"Maafkan aku. Kakimu terluka, Baekhyunee."

Suara berat itu terdengar begitu menyesal hingga Baekhyun merasa turut merasa buruk entah untuk apa. Gadis mungil itu mendongak takut-takut kemudian mencuri pandang kearah si tinggi yang tengah tertunduk dalam sesal. Apa Park Chanyeol benar-benar menyesal?

Namun diam-diam tanpa Baekhyun tahu, Park tampan itu tersenyum miring. Begitu puas mengetahui jika Baekhyun yang naif berhati lembut tidak pernah pergi kemana pun dan tetap berada disana. Ia hanya perlu menarik simpati gadis itu untuk memberinya maaf karena Park Baekhyunnya yang manis masih berada disisinya.

"Apa kau sudah ingin kembali? Kakimu akan beku jika berada disini lebih lama lagi."

Baekhyun sontak menatap kearah kedua kakinya yang telanjang, jemarinya bergerak kaku. Ah benar juga, kakinya mulai mati rasa.

Gadis itu menahan nafas dengan mata membulat saat merasakan hangat melingkupinya dan wangi familiar itu tercium begitu kuat membuatnya ketakutannya kembali, namun setelah ia mendongak dan mendapati Chanyeol dengan tatapannya yang teduh, Baekhyun terdiam kaku.

"Kau kedinginan, sayang."

Park Chanyeol benar-benar terlihat menyayanginya

Pipi Baekhyun merona tanpa bisa ditahan dan gadis itu menggigit bibir bawahnya sebagai pengalih rasa gugup yang melanda.

"Naiklah."

Si mungil tercenung saat si besar berlutut dan menyuguhkan punggung didepannya,"C-Chan?"

"Melihat wajahku mengingatkanmu pada mimpi buruk tapi kau bisa tenang, Baekhyunee. Punggungku tidak akan pernah menyakitimu."

Sementara tanpa alasan yang jelas, Baekhyun tiba-tiba merasa luluh. Untuk sejenak ia bisa merasakan ketakutannya yang menggebu takut jika ia akan terjatuh lagi karena punggung itu seolah menyuguhkan perlindungan yang kokoh dan nyaman. Baekhyun enggan kembali berharap. Namun ia maju selangkah lebih dekat, memeluk bahu lebar yang tegap itu ragu-ragu.

Apakah benar punggung hangat ini tidak akan menyakitinya?

Ayunan lembut dari langkah jenjangnya membuat keraguan yang muncul dikepala Baekhyun sontak mengabur. Gadis itu kembali terbuai kemudian menyandar nyaman disana. Diluar kendali saraf sadarnya, Baekhyun mengusak wajahnya mencari kehangatan kemudian terlelap tenang tanpa terganggu dinginnya angin.

Malam itu, satu hal yang Baekhyun tahu. Dinginnya angin musim gugur atau badai salju sekali pun tak lagi dapat mengganggunya karena ia berlindung ditempatnya pulang. Park Chanyeol adalah rumahnya.

Dalam derapan langkahnya yang tenang diriingi musik alami dari dedaunan yang berguguran, Park Chanyeol menyungingkan senyum tulus dan membawa si mungil berayun pada setiap tap tapnya. Begitu lega ketika menyadari jika Baekhyun sudah sedikit tenang dan gadis itu tidak menjerit histeris saat melihatnya seperti tadi pagi.

Namun tak berlangsung lama, ekspresi pria tinggi itu kembali berubah tak terbaca. Aura kelamnya terpancar begitu kuat dan Chanyeol tak bisa menahan perasaan rendahnya ketika ia mendapati dirinya sebagai si bajingan yang memanfaatkan sisi lembut seorang perempuan untuk sebuah maaf.

.

Cause home is a feeling

.

Angin pantai berhembus kencang, Luhan yang sedari tadi berdiri disamping mobilnya mulai jengah melihat anak burung hantu yang merengek semalaman tetap membatu dengan mata bulatnya yang dibuat makin bulat. Oh demi apa, mereka sudah melalui perjalanan panjang penuh perjuangan dari Seoul menuju Busan. Apa Park Kyungsoo hanya akan tetap diam?

Dan lagi yang membuat Luhan lebih kesal adalah Kim Jongin yang hanya membeku didepan pintu rumah singgahnya. Pria itu berkedip untuk memastikan jika sosok yang kini berdiri didepannya ini benar-benar kekasihnya. Ini benar-benar pinguin manisnya?

"Tampar dia atau lakukan sesuatu."

"Kyungsoo, apa yang kau la—"

Plak!

Park Kyungsoo lebih memilih sebuah tamparan yang telak untuk sang kekasih.

Sehun berjengit sedang Luhan berkerut penuh simpati,"Err.. Itu pasti sakit."

Tapi suasana masih hening dan malah makin mencekam, bukannya protes karena mendapat tamparan sebagai salam pembuka Kim Jongin masih termenung seperti orang bodoh. Mulai tak sabar, Sehun melirik Luhan sebagai protes atas ucapan perempuan itu lantas yang ditatap buru-buru mengambil alih situasi.

"Kau tidak akan menyuruh kami masuk, Dokter Kim?"

Rusa China itu menyahut cukup kencang dan Jongin syukurlah tersadar dari shock dadakannya,"O-Oh, silahkan masuk Dokter Lu, Pengacara Oh."

Rumah singgah itu cukup nyaman meski tak terlalu besar, dengan warna putih pucat juga perabotan yang cukup berkelas. Uap yang dihasilkan mesin pemanas juga dapur elegant yang menyatu langsung dengan ruang makan membuat Kyungsoo diam-diam mengerut.

Kim Jongin diasingkan ke tempat seperti ini? Sejak kapan diasingkan jadi seenak ini?

"Silahkan diminum tehnya,"

Tiga cangkir teh yang mengepulkan uap disuguhkan dan Jongin berdiri bingung didepan kekasihnya yang masih berada dalam mode satan sebelum akhirnya nona muda itu mendongak dan menghujamnya dengan glare khas pinguin Park.

"Kau hanya akan berdiri tanpa mengatakan apa-apa?"

Tuh kan benar, gumamnya.

Menghindari murka lebih parah Jongin buru-buru mendudukan tubuhnya disofa kemudian bersiap menerima cercaan pertanyaan. Sedangkan Luhan dan Sehun yang melihatnya hanya bisa terkikik geli tanpa mencoba untuk mengurusi dua anak muda itu lebih jauh lagi. Mereka hanya akan jadi penonton tanpa bayaran ngomong-ngomong.

"Sebenarnya kau tidak perlu menyusulku, Kyungsoo. Lagipula aku tidak akan lama,"

Si Park sulung mendecih sinis dan diam-diam Luhan mengakui jika itu adalah usaha intimidasi yang sangat bagus,"Kau pikir ini tentang dirimu? Kau melarikan diri setelah berbohong padaku Kim Jongin kau lupa heh?"

Pedih Jongin rasa, ia pikir Kyungsoo pergi menyusulnya tapi ternyata kedatangan gadis itu untuk secuil informasi tentang Yifan. Ternyata isu ini belum berakhir, Jongin menghela nafas kemudian memandang Sehun untuk meminta pertolongan. Tapi dasar nasibnya buruk, pria bermarga Oh itu malah berdehem singkat kemudian beranjak dari duduknya,

"Sepertinya aku butuh angin pantai."

Jongin mendesah frustasi hendak meminta bantuan pada Luhan namun kemudian si Rusa China malah melakukan hal yang sama dengan sang mantan suami,"Tunggu. Aku ikut Oh!"

Pintu berdebum halus dan pria Kim itu menelan ludahnya gugup saat melihat sang kekasih masih setia dengan tatapan menusuk yang bukan main seramnya. Jongin mendesah halus pertanda ia menyerah,"Oke, baiklah. Kau dapat yang mau mau Nona Park, sekarang kemari."

Pria itu mengisyaratkan Kyungsoo agar bergerak lebih dekat namun si nona muda itu merengut dan kukuh ditempatnya,"Tidak. Aku tidak akan dekat-dekat sebelum kau berhenti bohong, Kim Jongin."

Pemuda Tan itu menggangkat bahu,"Ya sudah, kalau begitu kau tidak akan dapat apa-apa, Kyungsoo sayang."

"Ish!"

Akhirnya meski gadis Park itu mengeluh jengkel, ia tak punya pilihan selain berjalan seraya menghentakan kakinya kesal mendekati sang kekasih, bersiap duduk disampingnya saja namun memekik saat pria itu menariknya kedalam sebuah pelukan.

"Ya!"

Kyungsoo berontak namun Kim Jongin meluluhkannya dengan mudah,"Begini sebentar, kau tidak merindukanku apa?"

Si sulung mulai melupakan usaha protesnya kemudian mulai berpikir,"Eum.. Sedikit." Cicitnya.

Jongin tertawa kemudian mengecup pucuk kepala gadisnya gemas,"Ponselku tercebur ke pantai saat menolong anak anjing, maaf tidak bisa menghubungimu."

Kyungsoo mengangguk saja kemudian mendongak kearah sang kekasih."Bisa kita mulai?"

Jongin balas menyanggupi,"Tentu saja," pria itu menyandarkan dagunya dipucuk kepala Kyungsoo dan mulai bercerita,"Aku pergi karena ayahmu tunggu—jangan menyela dengarkan aku sampai selesai," Kyungsoo mencebik namun kemudian mengangguk setuju."Kau ingat saat Baekhyun bilang aku yang membuat kepalanya hampir botak? Sebenarnya itu bukan aku, tapi Yifan."

Kyungsoo mendongak menatap tak percaya,"Yifan?"

Dan yang lebih tinggi mengangguk lagi,"Dihari yang sama saat Baekhyun harus dapat prosedur bedah surat pengunduran diri Yifan ditanda tangani. Baekhyun adalah tanggung jawabku tapi saat itu Yifan datang dan memohon agar dia saja yang melakukannya. Ayahmu tahu dan dia melaporkan ku pada dewan kedisiplinan."

Penjelasan itu membuat kedua alis Kyungsoo bertaut,"Jadi kau disini karena kesalahanmu sendiri? Bukan karena ayahku?"

Jongin menyambutnya dengan senyum,"Ya, bisa dibilang begitu. Ayahmu tidak mengambil peran besar, sayang."

Mendengar hal itu membuat Kyungsoo murung seketika, daddynya tidak sepenuhnya bersalah tapi ia berteriak dengan keras kemarin. Kyungsoo menghela nafas, dia menyesal.

"Hei, ada apa? Kenapa kau jadi murung?"

Jongin berkerut heran namun si burung hantu hanya menggeleng tanpa semangat,"Lanjutkan saja. Beritahu aku kenapa kau berbohong dan mengatakan tak mengenal Yifan?"

Kim tunggal itu menggaruk tengkuknya bingung,"Ayahmu menemuiku beberapa minggu lalu dan dia bilang Baekhyun tidak perlu tahu kenapa Yifan pergi dan aku menghargainya. Awalnya aku curiga jika ayahmu melakukan hal yang salah tapi kemudian aku sadar kadang-kadang kita harus melepas pergi tanpa perlu tahu alasannya."

Jongin berbohong, tidak mungkin ia berkata yang sebenarnya jika Park Chanyeol memiliki alasan terselubung. Campur tangannya hanya akan cukup sampai disini, ia tidak akan mengintervensi lebih jauh lagi. Lagipula ia sudah berhenti mengabari Yifan tentang Baekhyun dan karibnya itu menghormati keputusannya.

Kyungsoo menghela nafas berat dan meluruhkan tubuhnya dipelukan Jongin, menyandarkan wajahnya didada bidang pria itu dan memejamkan matanya lelah. Sejak mengetahui ayahnya membuntuti Baekhyun untuk waktu yang lama otaknya dipenuhi banyak pikiran negatif yang membuatnya panik. Tapi setelah mendengar apa yang diceritakan kekasihnya Kyungsoo rasa ia telah salah mengambil sikap dan bertindak terlalu berlebihan.

Daddynya pasti punya alasan tersendiri untuk itu, tak seharusnya ia mencampurinya terlalu jauh dan menduga-duga.

"Kau tahu, aku berteriak pada Daddy karena aku pikir Daddy yang membuatmu pergi."

Jongin menggeleng kemudian mengusap surai kehitaman yang tergerai didadanya,"Itu tidak benar, sayang. Kau harus minta maaf."

Dan Kyungsoo pun memikirkan hal yang sama. Berteriak pada ayahnya bukan hal yang benar, ia jelas harus minta maaf. Tapi kenapa rasanya berat sekali?

Gadis itu menghela frustasi kemudian menyandarkan keningnya dibahu Jongin yang tegap. Ia tidak tahu harus melakukan apa.

"Tenanglah, ayahmu pasti akan memaklumi. Sekarang tidurlah sebentar, kau pasti lelah."

Kyungsoo mengerjap berat. Jongin benar, ayahnya pasti akan mengerti dan mau memaklumi tingkahnya yang kelewatan. Kyungsoo hanya butuh meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama. Dan lagi, sepertinya ia memang butuh tidur. Kepalanya sakit sekali.

"Aku kacau, Jongin."

"Sshh.. Tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja. Tidurlah, sweetheart."

.

.

Sehun berjalan menyusuri bibir pantai dengan kedua lengan yang menyelami saku, melipat celana formalnya sebagian membiarkan air pantai yang dingin menyapa kakinya yang telanjang. Pria Oh itu menghirup udara dalam-dalam merasakan angin yang terasa begitu menusuk dan melempar tatapannya kearah rona merah mentari pagi yang masih terlalu malu untuk muncul.

"Kau tidak akan pulang ke Seoul?"

Suara dibelakangnya menarik perhatian, ia berbalik kebelakang dan tersenyum tipis saat melihat Luhan tengah duduk memainkan pasir seperti bocah tk. Ck, perempuan ini memang tidak tahu umur.

Sehun memilih mundur, mendudukan tubuhnya disamping Luhan kemudian meluruskan kakinya dan menyangga tangannya kebelakang sebagai tumpuan."Chanyeol menelpon dan bilang Baekhyun ditemukan diatap."

Diatap?

Pasir yang Luhan genggam berjatuhan dan perempuan itu mendongak panik,"Apa Baekhyun berusaha bunuh diri?"

Sehun menggeleng tipis, begitu menikmati eskpresi yang hadir diwajah cantik perempuan yang pernah menjadi teman hidupnya. Well, Luhan memang sangat cantik dan selalu menjadi yang paling cantik untuk Oh Sehun.

"Sehun?"

Pria Oh itu buru-buru mengalihkan pandangannya dan menegakan tubuh."Tidak," suaranya nampak aneh untuk sementara,"Mungkin juga belum. Tapi malam tadi Baekhyun hanya berdiri bingung dan tanpa melakukan apapun. Apa menurutmu dia akan melakukannya?"

Luhan mendesah kasar kemudian menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan remahan pasir."Aku tidak tahu pasti, tapi kemungkinannya sangat besar untuk Baekhyun mengalami PTSD. Aku takut dia akan mengalami self harming juga."

Kening Sehun mengerut tak paham,"Maksudmu?"

"Oh well, itu semacam gangguan kecemasan. Bisa jadi ringan bisa juga sangat parah. Sikap Baekhyun saat mencoba menyayat lengan saat pertama kali bangun yang membuatku berpikir begitu. Apa Chanyeol sudah buat janji dengan profesor Jung?"

Pria berkulit pucat itu mengangguk,"Baekhyun akan diperiksa pagi ini."

Luhan mengangguk kaku, terlalu bingung mencari topik untuk menimpali jawaban Sehun barusan. Well, hubungan mereka memang berakhir dalam cara yang tidak menyenangkan tapi sebelumnya, ia belum pernah merasa secanggung ini dengan Sehun. Kenapa?

Sebenarnya Oh Sehun merasakan hal yang sama namun pria itu memilih menyembunyikannya dibalik eskpresinya yang datar. Well, sudah nyaris berlalu satu tahun sejak perceraian mereka, dalam kurun waktu dua belas bulan ia kerap bertemu Luhan dalam beberapa acara besar mengingat gedung rumah sakit tempat perempuan itu bekerja adalah salah satu properti Park. Tapi yang Sehun ingat dalam beberapa kunjungan terakhir ia tidak bertemu gadis itu.

"Aku tidak melihatmu."

Rusa China itu mendongak bingung dan menghentikan gerakan jemarinya diatas pasir."Apa?"

Tapi Sehun menolak berbalik untuk itu,"Kau tidak ada dirumah sakit."

"Oh," perempuan itu menyahut singkat,"Aku memang sudah berhenti. Aku membuka klinik bersalinku sendiri di Apgujeong."

Hening yang lama.

Mereka bukan dua orang asing yang baru bertemu kemarin sore tapi entah kenapa berbulan-bulan tak bertemu dengan masing-masing mengantarkan kecanggungan yang begitu aneh yang sebenarnya tak perlu dirasa.

"Aku sengaja memutar untuk segelas coffee dan croissants tapi aku tak melihatmu,"

Dan selalu Luhan yang menjadi pihak pertama untuk sebuah kejujuran. Selalu perempuan itu yang pertama membuka apa yang sebenarnya belum selesai diantara mereka. Sehun meradang dalam hati, merasa kalah untuk fakta yang sebenarnya telah ia ketahui sejak lama. Pria itu beranjak dari duduknya dan tetap memandang lurus,"Aku pergi untuk menemui seseorang."

Langkahnya berlalu bersama angin dingin dan Luhan hanya bisa menatapnya dengan sendu. Bahkan punggung yang selalu ia tatap menjadi begitu dingin dan pemiliknya pun menjadi begitu jauh tanpa bisa ia raih.

Tentu saja Sehun menemui seseorang, ia sangat berhak untuk cinta baru yang lebih baik. Lagi pula Luhan tahu ini salahnya, ia telah mengkhianati Sehun saat ia tahu pria itu benar-benar tulus padanya, ia membuang semua kesempatan yang Sehun beri untuknya. Dan sekarang Luhan tahu apa tepatnya perasaan sesak yang menghantui ketika ia melihat pria itu.

Penyesalan. Sesal yang amat dalam.

Gadis itu menunduk, mengusap ukiran yang ia buat diatas pasir dan menyungingkan senyum sedih.

Oh Sehun

Punggung itu semakin menjauh seiring dengan bayangnya yang semakin pudar, dan satu hal menjadi jelas.

Penyesalan terbesar Luhan telah datang.

.

Karma always comes around in the right time

.

"Nona Park, apa anda keberatan jika saya mengajukan beberapa pertanyaan?"

Baekhyun menggeleng kaku, mencengkram selimut dan menutupi kaki sampai pinggangnya. Park Chanyeol duduk disampingnya dengan jarak yang menandakan mereka masih canggung satu sama lain, pria itu diam dan serius mendengarkan semua pertanyaan yang diajukan Professor Jung.

"Maafkan saya jika membuat Nona takut, tapi ini hanya pemeriksaan biasa dan nona bisa tenang,"

Senyum ramah diwajah pria paruh baya itu menggerakan setengah hati Baekhyun untuk yakin dan turut mengangguk,"Ba-Baik Dokter."

"Nona terlihat begitu tegang, apa nona sedang mencemaskan sesuatu?"

Tangannya yang berada dibalik selimut terkepal,"Se-Sebenarnya aku takut dengan pemeriksaan ini. Kenapa aku diperiksa? Apa.. Apa aku gila? Aku sakit?"

"Itu sama sekali tidak benar, Nona. Suami anda berkata jika anda mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan dan saya hanya mencoba memastikan kecemasan Tuan Park tidak benar."

Baekhyun mendongak menatap Chanyeol meminta penjelasan.

"Maafkan aku, tapi bisakah—"

Tak ada celah, suaminya itu kukuh untuk sesi wawancara bersama Dokter Jung. Jadi Baekhyun berbalik cepat,"Ba-baik. Silahkan lanjutkan Dokter."

"Terima kasih, Nona." Pria paruh baya tersenyum profesional kemudian kembali membuka kertasnya dan mencacat sesuatu,"Saya dengar anda pergi keatap tadi malam?"

Baekhyun mengangguk tanpa beban,"Benar. Aku tidak bisa tidur jadi aku memutuskan pergi mencari angin segar. Tapi aku tidak berpikiran untuk kabur, sungguh."

Professor Jung mengangguk paham dan kembali mencatat."Apa yang anda lakukan diatap?"

Butuh beberapa detik untuk Baekhyun menjawab pertanyaan selanjutnya namun gadis itu tak urung dan kembali menjawab dengan jujur,"Aku.. Memikirkan semuanya,"

Park Chanyeol menatap Professor Jung dan pria paruh baya itu memberi tanda agar tetap tenang dan mendengarkan kalimat berikutnya.

"Apa yang terjadi padaku mungkin memang seharusnya terjadi dan aku tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, termasuk suamiku."

Profesor Jung mengangguk kemudian menutup catatannya,"Apa nona keberatan jika aku mengajukan beberapa pertanyaan pribadi?"

Baekhyun kembali mendongak menatap Chanyeol meminta persetujuan, pria itu balas menatapnya dan mengangguk pertanda ya. Jadi segera Baekhyun mengangguk,"Tidak masalah."

"Sejak kapan anda mengalami kesulitan bernafas saat menangis?"

Kening Baekhyun mengerut tanda gadis itu sedang berpikir,"Mungkin sejak aku delapan tahun entahlah aku tidak terlalu ingat. Tapi saat itu terjadi seseorang akan memelukku dari belakang dan perlahan nafasku akan kembali normal."

"Apa kejadian sebelumnya separah yang anda alami kemarin?"

Gadis itu menggeleng ringan,"Yang kemarin adalah yang paling parah, mungkin karena aku sendirian."

Dokter itu mengangguk,"Apa belakangan saat anda menangis rasa sesaknya serta merta muncul?"

Lagi, Baekhyun menggeleng."Saat aku menangis beberapa minggu lalu tidak, lalu.." gadis itu enggan melanjutkan ucapannya dan Dokter Jung siap-siap dengan analisanya,"..saat malam itu.. Aku tidak merasa sesak meski aku menangis kencang. Tapi.. sesaknya datang saat aku ingin pergi keluar dan pintunya terkunci.."

Penjelasan Baekhyun diakhir dengan ekspresi gadis belia itu yang mulai kacau. Profesor Jung buru-buru beranjak dari duduknya dan memberi kode pada si Tuan besar agar mendekat dan memeluk sang istri. Dan Park Chanyeol memahaminya dengan baik, ia segera mendekati Baekhyun kemudian memeluk perempuan itu hati-hati.

"Tidak apa-apa sayang, itu tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji. Hal yang seperti itu tidak mungkin terjadi lagi."

Professor Jung memperhatikan gesture tubuh sang Nona dengan cermat kemudian mencatat beberapa hal penting dalam otaknya. Tak lama setelahnya, pria paruh baya itu berpamitan kemudian segera berlalu dengan alasan kunjungan untuk pasien lain.

Segera setelah pintu tertutup, Chanyeol melepaskan pelukannya kemudian menatap langsung kearah sipit Baekhyun yang menatapnya,"Maafkan aku, apa kau ingin aku memanggil dokter?"

Baekhyun menggeleng lemah,"Aku baik-baik saja, Chanyeol."

Chanyeol mendesah berat kemudian menggenggam tangan Baekhyun yang dingin,"Wajahmu pucat, Bee."

"Tidak apa, aku hanya mengantuk. Mungkin obatnya sudah bekerja."

Pria Park itu menghela pasrah,"Kalau begitu tidurlah, aku akan menemanimu."

Baekhyun pun berbaring memunggungi Chanyeol, memejamkan matanya dan mati-matian menahan bayangan kelam itu agar tidak muncul dan membuat isi kepalanya kacau.

Chanyeol bersikap baik, Baek. Chanyeol bersikap baik.

Jangan takut dan membuatnya marah. Jangan..

Ketakutan itu masih ada dan masih amat besar bersemayam dalam diri Baekhyun.

.

I'll Walk You Home

.

"Aku ingin ice cream."

"Tidak. Terakhir kali kau makan ice cream tenggorokanmu mengalami peradangan dan kau demam tinggi selama 3 hari."

Yang lebih kecil mengerucutkan bibirnya dan mengumbar tatapan marah yang tidak ada seram-seramnya sama sekali,"Kalau begitu permen kapas yang disana!"

Telunjuk kecilnya mengarah pada penjual permen kapas beberapa meter didepan lalu si tinggi melirik kemudian kembali fokus dengan kemudinya,"Kau sudah menghabiskan dua porsi stawberry shortcake, tidak ada lagi makanan manis sebelum makan siang."

Kyungsoo menjadi-jadi,"Kim Jongin! Kau ini pacarku atau baby sitterku sih!"

Jongin sontak tertawa kemudian mengacak surai hitam arang milik sang kekasih dengan gemas. Nah, kalau sudah begitu Jongin tidak bisa menahan diri untuk mengabaikan Kyungsoonya lebih lama lagi.

"Tentu saja, pacarmu sayang. Kenapa masih bertanya hm?"

Nona muda Park itu terbukti masih sangat kesal, tangannya terlipat didada dan bibirnya mencebik maju."Tingkahmu tidak ada manis-manisnya! Baekhyun saja tidak pernah melarangku makan ini itu. Kau bahkah jadi lebih mengerikan dari ibu tiriku tahu!"

Kyungsoo merajuk parah dan membuang tatapannya kesamping. Enggan menatap kekasih dokternya yang kini tengah sibuk tertawa dengan suara sumbangnya yang buat Kyungsoo makin kesal. Si hitam ini benar-benar keterlaluan! Ini adalah kesempatan langka karena mereka bisa pergi kencan, tadinya Kyungsoo ingin memanfaatkan situasi ini untuk menjadi manja dan merengek seharian ditangan Jongin tapi pacarnya itu sama sekali tidak peka.

Sudah tidak peka tidak romantis pula. Haah.. Kenapa nasibnya malang sekali?

"Jangan cemberut begitu, nanti cantiknya hilang."

Jongin berusaha mengeluarkan rayuan andalan agar gadisnya berhenti merajuk. Namun sepertinya itu tidak berhasil karena bukannya luluh, ia malah dapat sentakan dari suara imut kekasihnya yang merajuk parah.

"Jangan bicara padaku!"

Oh lihat, pinguin yang melotot itu. Ingin rasanya Jongin bawa pulang tapi sayang statusnya masih anak orang. Ayahnya seram pula. Haha..

Pemuda Kim itu tersenyum miring, menemukan ide dalam benaknya."Oke, kau boleh beli ice cream."

Tak butuh waktu lama, Jongin rasa pacar mungilnya itu mulai luluh. Pinguin menggemaskan itu mulai mendongak dan melirik diam-diam kearahnya. Jongin tersenyum tampan. Nah kalau sudah begini, semuanya akan menjadi mudah. Tapi sepertinya umpannya masih belum cukup,

"Kau boleh beli dua es krim,"

"Dengan satu permen kapas?"

Binar dimata bulat itu membuat Jongin merasa tak tertolong dan jika ia tidak sayang nyawa, mungkin sekarang ia akan memeluk pinguin manisnya dan menciumnya banyak-banyak. Tapi yah, ia tidak mungkin membahayakan nyawa kekasih mungilnya dan membuatnya berada dalam bahaya. Sekedar info saja, ayahnya lebih galak dari herder mana pun dan Jongin yakin ia akan berakhir dicabik dengan kejam jika Kyungsoonya ini lecet sedikit saja. Jadi, cari aman saja bung.

"Semua yang kau mau."

"Semua?"

"Se-mu-a yang kau mau."

"Yeay! Aku sayaaang Jongin!"

Kau lebih menyayangi ice creammu. Jongin membantin miris. Tapi masa bodohlah yang penting,"—aku juga menyanyangimu."

Kyungsoonya senang.

.

.

Sore yang cerah mereka habiskan dengan berjalan-jalan ditepian pantai, ini bukan akhir pekan dan disana tidak terlalu ramai. Love birds itu berjalan berdampingan dengan tangan yang bertaut erat juga Kyungsoo yang menempel begitu dengan Jongin. Suasana sore yang tidak terlalu panas memang sangat tepat dimanfaatkan untuk kencan. Senyum miring Jongin tersungging untuk itu.

"Kapan terakhir kali kita kencan?"

Jongin menoleh kesamping, wajah kekasihnya yang diterpa cahaya matahari sore membuatnya makin terpesona. Lekuk wajahnya yang cantik tercetak jelas, garis hidungnya yang tinggi, bibir shape heart yang penuh juga pipi tembamnya yang menggemaskan. Ia tidak bisa berhenti merasa beruntung bisa mendapatkan gadis ini. Bantu kuatkan iman Jongin please.

"Kau selalu sibuk dan belakangan ini aku selalu jadi nyamuk diantara Daddy dan si lebah centil. Itu mengesalkan tahu."

Rengekan pinguinnya terdengar begitu manis dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum,"Maaf, sayang."

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya kemudian menghentikan langkahnya dan berdiri didepan Jongin dengan wajah kesal,"Kita jarang bertemu dan sikapku sama sekali tidak membantu. Itu membuatku tidak bisa tidur, Jongin. Aku percaya padamu tapi aku—"

Ucapan Kyungsoo terhenti saat Jongin menggenggam erat kedua tangannya dan pria itu menatapnya dengan tatapan dalam yang menghanyutkan.

"Apa yang kau takutkan hm?"

Kyungsoo menunduk, ia merasa tak sanggup dengan tatapan Jongin yang membuat jantungnya berdebar begitu kencang."Aku.. Aku—" gadis itu terdiam karena suaranya mendadak hilang. Namun detik berikutnya, Kyungsoo mendongak dengan matanya yang bersinar dengan sorot yang tidak terbaca. Ia menemukan keberanian untuk mengungkapkan beban hatinya.

"Aku bahkan hanya bocah tapi kau bahkan bisa melakukan apapun, Jongin. Sikapku kasar aku..."

Suaranya berubah dalam dan entah bagaimana Jongin mempunyai firasat jika hari ini tidak berjalan baik. Ia mulai panik tapi kemudian ia berusaha menyembunyikannya dan berusaha tetap tenang. Kyungsoo tidak boleh meragukannya.

"Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu Kyungsoo?"

"Aku hanya mencoba menjadi sedikit realistis, Jongin. Kau adalah pria dewasa dan aku hanya bocah kecil, aku terlalu posesif dan mungkin.. mungkin kau tidak tahan denganku. Aku—"

Jongin mengeratkan genggaman tangannya kemudian menarik gadis itu untuk menyandar didadanya, ia terlalu lemah dengan tatapan lembut yang kini mengintimidasinya tanpa celah untuk lari."Kyungsoo, kita sudah selesai dengan isu ini. Aku butuh kau, hanya Park Kyungsoo. Harus bagaimana lagi untuk membuat semua itu jelas? Kau percaya padaku kan?"

"Percayalah padaku hm?"

Kegamangan itu terpancar dari kedua irisnya yang berbinar redup. Kyungsoo berada dalam pergulatan batin hebat yang menuntutnya untuk sebuah keputusan. Ia sangat ingin percaya tapi rasa takutnya tentang menjadi bocah yang dibodoh-bodohi seorang pria dewasa begitu menguasai.

"Aku berjanji hanya kau, Dear."

Kyungsoo mendongak, menari-cari kesungguhan iris kelam yang kini menatapnya dengan teduh. Jongin terlihat begitu tulus disana, pria itu berkata dengan seluruh kesungguhannya lantas kenapa ia harus merasa ragu?

Jongin bilang itu dirinya. Hanya dirinya. Jongin tidak pernah berbohong."Kau janji?"

Diiringi dengan senja yang makin redup bersama desiran ombak yang menyahut mesra desiran pasir, senyum lega terpancar dari sosok yang lebih tinggi.

"Hanya Park Kyungsoo, aku janji."

.

It's not distance ruin everything. But surely doubt does.

.

Baekhyun melamun kosong menatap hilir mudik orang-orang yang berlalu dilorong. Rambut hitamnya tergerai bebas, jatuh diatas bahunya menyembunyikan pundak lemahnya yang ringkih. Baju pasiennya berganti dengan pakaian casual dipadu dengan mantel tebal yang membantunya berlindung dari hawa November yang menusuk tulang.

Semua pemeriksaannya sudah selesai dan Dokter bilang tidak ada hal serius yang bisa menahannya lebih lama dirumah sakit. Hah.. Baekhyun sangat bersyukur untuk itu. Lagipula ia sudah sangat bosan, Kyungsoo pun tak memunculkan batang hidungnya sejak tadi pagi. Kemana perginya si pinguin centil?

Nyonya muda Park itu kembali duduk dikursinya, menghitung derapan yang melintas didepannya dan sesekali termenung bosan. Kenapa Park Chanyeol dan urusan administrasinya begitu lama? Ia sudah kering menunggu sedari tadi.

"Hiks Mama! Mama!"

Atensinya buyar, buru-buru Baekhyun beranjak dari duduknya saat melihat bocah kecil yang jatuh berguling karena tongkat penyangganya oleng namun langkahnya terhenti saat ia melihat sosok familiar yang merengkuh dan mengusap bocah malang itu dengan sayang.

"Hei, jagoan. Jangan menangis hm? Lihat kataknya melompat."

"Ung?"

Baekhyun terkekeh geli, usaha menghibur macam apa itu?

"Iya, kataknya sudah melompat jadi jangan menangis. Sekarang beri tahu paman, siapa namamu adik manis?"

Park Chanyeol yang berdiri diujung lorong dengan seorang bocah dalam dekapannya terlihat begitu tulus hingga Baekhyun dibuat bertanya-tanya. Apakah benar sosok itu yang mengikatnya semalaman diatas ranjang?

"Mphii.."

Tawa beratnya terdengar begitu hangat. Apakah benar itu pria yang mengatai jalang dan merendahkannya tanpa hati?

"Pi?"

"Mphii.."

"Mpi?"

"Ish ahjussi! Itu mphii.. Mphii! Namaku mphii!"

"Itu V, Chanyeol. V-i-e, apa noona benar adik manis?"

Baekhyun melangkah lebih dekat kemudian mencubit gemas pipi bocah lugu itu hingga sang empu tertawa senang dan berterpuk tangan bahagia,"Noona jjang!"

Chanyeol terkekeh gemas kemudian mengusap pucuk kepala anak itu gemas,"Aigoo.. Baiklah, mphi. Kenapa keluar sendirian? Dimana Mama?"

Bibir tipisnya mengerucut dan bocah itu menggeleng imut,"Mollayo.. Mphi tidak tau."

Baekhyun dan Chanyeol mengerutkan kening kemudian saling melempar pandang.

"Ahjussi! Antalkan mphii beltemu Kookie ne? Mphii ingin beltemu Kookie dan membeli Kookiee bickuit ne ne?"

Melihat bocah imut yang belum bisa belajar dengan benar kemudian memohon-mohon membuat Baekhyun gemas sendiri hingga gadis itu tak kuasa untuk memberikan satu kecupan dipipi gembil si anak polos."Baiklah, karena Mphi sangat lucu Noona akan mengantar Mphi bertemu Kookie. Apa Mpih senang?"

"Tangaat cenang yeay!"

"Tapi bagaimana jika Mama mphi mencari?"

Raut bahagia anak itu tak berkurang sedikit pun meski Chanyeol mencoba mengusiknya,"Anhiyoo! Mama Kookie akan antal Mphih pulang jadi Mama tak akan mencali! Ahjussi ayo beltemu Kookie! Ppaliyo ppali!"

Dasar bocah pemaksa. Chanyeol berdecak dalam hati namun tak urung mengayunkan kakinya mengikuti petunjuk dari telunjuk pendek si anak polos. Ia memang sangat menyukai anak kecil dan rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali berinteraksi dengan batita yang belum bisa menyebutkan huruf 'r' dengan benar. Hah.. Ia jadi merindukan putri sulungnya yang kabur sejak semalam. Ngomong-ngomong si Oh datar belum memberinya kabar, apa tuan putri manja itu masih marah padanya?

"Nde noonah Mphih teljatuh caat belmain cepeda belsama Kookie. Hyung doktel bilang Mphi tidak boleh pelgi padahal Mphih kan ingin beltemu Kookie."

"Apa Kookie juga tidak bisa berjalan seperti Mphi?" Baekhyun menimpalinya dengan suara khas bocah yang tak kalah menggemaskan.

Bocah itu menggeleng kuat dan bibirnya mengerucut kesal diakhir kalimat."Anhiyo.. Kepala Kookie beldalah dan Kookie muntah-muntah. Mphih kawatil dengan Kookie jadi Mphih ingin beltemu Kookie tapi tadi tongkatnya jatuh!"

Chanyeol diam menyimak obrolan kecil antara dua bocah beda ukuran disampingnya. Well, jika dipikir-pikir Baekhyun itu memang bocah, bocah yang terperangkap dalam tubuh dewasa. Lantas bagaimana bisa ia melakukan ini pada Baekhyun?

Ekspresi Chanyeol berubah pahit. Pria itu tak lagi fokus pada obrolan kecil antara V dan Baekhyun karena otaknya mulai dipenuhi dengan pikiran-pikiran ribut yang memojokan dirinya sendiri. Harusnya ia tidak mabuk, harusnya ia tidak pulang dan harusnya ia tidak menyeret Baekhyun terlalu kedalam masa lalunya. Karena jika tidak mungkin saat ini ia bisa menggenggam tangan gadis itu tanpa berpikir apakah si mungil ketakutan atau tidak.

Tapi Chanyeol terlambat, ia telah memilih alur yang salah dan jalan pulang telah tertutup untuknya. Yang bisa ia lakukan adalah menyelamatkan puing yang tersisa dan mengaisnya untuk ia kumpulkan kembali.

"Yeol.. Chanyeol?"

"Ahjussi! Ahjussii!"

"Oh, ada apa?"

Park Chanyeol memasang tampang terkejutnya yang terlihat aneh saat merasa ujung jas formalnya ditarik lembut.

"Ruangan Kookie sudah terlewat dua pintu,"

Jawaban singkat yang diberikan Baekhyun membuat pria itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri dengan bingung."Oh benarkah? Sudah terlewat?"

"Kili Ahjussi! Pintu yang kili itu adalah kamal Kookie!"

Bocah itu meronta tak sabar dalam gendongannya dan Chanyeol buru-buru menuju pintu yang ditunjuk si anak kecil diikuti dengan Baekhyun dibelakangnya. Sebelah tangan Chanyeol yang bebas bergerak membuka pintu dan ia dibuat kewalahan saat V bergerak penuh semangat melihat teman kecilnya yang terduduk diatas ranjang.

"Kookie apa Kookie baik-baik caja? Apa Doktel hyung cudah mengobati Kookie? Kookie lihat kaki mphih takit tadi mphi teljatuh taat ingin beltemu Kookie!"

Seloroh anak kecil itu membuat Chanyeol menggelengkan kepalanya gemas, buru-buru ia menempatkan V dibangsal yang sama dengan anak perempuan sebayanya dan mengambil langkah mundur memberi salam pada seorang perempuan paruh baya disana.

"Omo Taehyungie.. Kenapa Taehyungie bisa ada disini hm? Dimana Mama?"

Bocah itu menunjuk Chanyeol dengan telunjuk kecilnya,"Ahjussi antal mphih!"

"Terima kasih, Tuan. Maaf Taehyungie merepotkan anda."

"Sama sekali tidak, Nyonya. Taehyung anak yang manis, bukankah begitu mphih?"

"Ne!"

Sahutan semangat itu membuat para orang dewasa tertawa geli,"Kalau begitu kami permisi. Daah mphih.. Cepat sembuh ya!"

"Annyeong Ahjussi! Nonaa!"

Baekhyun melambai ramah pada dua anak kecil yang duduk diatas bangsal kemudian berpamitan pada sosok yang menunggui mereka. Ia berjalan tenang disamping Chanyeol dengan bahu yang menyisakan jarak.

Chanyeol menoleh dan menatap risih kearah jarak diantara mereka,"Apa kau suka anak kecil, Bee?"

Ia mendongak kearah Chanyeol yang tengah menatapnya kemudian mengangguk semangat,"Mereka sangat lucu Chanyeol!"

Tawa beratnya tak tertahan untuk sahutan manis itu, Chanyeol mendesah lega karena setidaknya Baekhyun tidak benar-benar mengacuhkannya seperti terakhir kali. Well, hasil pemeriksaannya dengan Professor Jung tidak menunjukan hal yang mengkhawatirkan. Meskipun Baekhyun mempunyai riwayat perinatal yang tidak cukup baik tapi gadis itu tumbuh dengan mental yang kuat hingga trauma yang dialami atas kejadian pemaksaan itu tak terlalu mendalam meski Chanyeol yakin, lebah mungilnya itu masih akan ketakutan dengan sentuhannya yang tiba-tiba.

"...tawa mereka menggemaskan apalagi saat menangis menginginkan—Chanyeol?"

Baekhyun berbalik bingung saat tak mendapati pria itu berjalan disampingnya. Suara Baekhyun berdengung ragu karena Chanyeol berdiri cukup jauh dibelakangnya dan pria itu menatapnya dengan pandangan yang sulit Baekhyun tebak artinya.

"Yeol?"

Tapi Chanyeol hanya diam, membiarkan hiruk pikuk orang-orang melewatinya dan terpaku dalam waktunya sendiri. Memandang Baekhyun dengan pandangan dalamnya yang tak terjabarkan kemudian melangkah tergesa dan menangkap gadis itu dalam pelukan posesifnya yang paling memenjara

"Chanyeol ada a—"

Baekhyun tersentak dan mundur beberapa langkah saat pria itu tiba-tiba menerjang tubuhnya dengan pelukan erat dan berbisik begitu lirih ditelinganya.

"Jangan pergi, Baek. Jangan. Jangan pernah.."

"Y-Yeol?"

.

The best a man can give a woman is; his time, his attention, his love, his protection, his trust and his support.

.

Malam telah larut, semua lampu telah dimatikan dan sosok Chanyeol yang berjalan dilorong sepi nampak bagai siluet hitam dalam kegelapan. Pria tinggi itu berjalan dengan sebelah tangan yang menyelami saku celana, iris kelamnya yang tajam bergerak-gerak mengamati setiap sisi yang ia lewati hingga ia berhenti tepat dipintu geser yang terbuka.

Keningnya mengerut heran,

"Kenapa belum tidur?"

Gadis dengan surai hitam terurai itu mendongak dan balas tersenyum,"Langitnya sangat cerah, Dad. Aku jadi tidak bisa tidur."

Saat sang ayah duduk disampingnya menawarkan sebuah pelukan Kyungsoo tak menolak, ia bergeser makin dekat kemudian menelusup kedalam rangkulan hangat penuh perlindungan yang hanya mampu diberikan ayahnya. Nyatanya, Kyungsoo memang sangat membutuhkan pelukan hangat sang ayah sekarang. Kepulangannya dari Busan memberikan Kyungsoo begitu banyak kekhawatiran.

"Apa ada yang salah sayang?"

Usapan dipucuk kepalanya menuntun Kyungsoo untuk memeluk ayahnya makin erat. Memejamkan mata dan mencari kenyamanan disana.

"Aku minta maaf, aku menyesal berteriak pada Daddy."

"Jadi itu yang membuatmu murung sepanjang hari hm?"

Selama ini Kyungsoo hanya hidup berdua dengan ayahnya, ia tidak pernah punya tempat lain untuk berbagi tapi lain setelah Jongin datang. Semuanya berubah dan tak melulu tentang ayahnya, Kyungsoo belajar jika selama ini ia terlalu bergantung dengan sang ayah. Ia terlalu manja dan tidak bisa benar-benar lepas dari semua pengawasan ayahnya. Saat Jongin bilang ia harus berubah, Kyungsoo melakukannya. Ia mencoba meminimalisir interaksi manjanya pada sang ayah dan mencoba lebih mandiri.

Kyungsoo pikir dengan mengubah tingkahnya menjadi sedikit dewasa dan menempeli Jongin adalah tindakan yang tepat tapi nyatanya, itu tak sepenuhnya benar. Ia sangat merindukan ayahnya.

"Itu buruk. Aku tidak seharusnya berteriak pada Daddy."

Helaan nafasnya terdengar dan Kyungsoo bisa merasakan degupan jantung ayahnya yang teratur dan entah kenapa itu membuatnya senang.

"Rasanya memang buruk sayang," suara dalam ayahnya mengalun diiringi dengan keheningan malam yang makin larut,"Tapi tidak ada satu hal pun didunia ini yang berjalan sempurna. Jadi tidak seharusnya kita menilai segala hal secara sepihak. Kau lihat apa yang terjadi dengan Daddy?"

Kyungsoo mendongak, menatap sang ayah dengan tatapan penuh dan ia menemukan sorot penuh luka dalam iris kelamnya yang kian tajam. Melihat itu membuat hatinya terasa retak dan Kyungsoo rasa, ia bisa mendengar suara retakan mengerikan itu sendiri.

"Daddy selalu berpikir semua hal berjalan sempurna sampai perempuan itu pergi begitu saja dan Daddy disadarkan dengan cara yang begitu menyakitkan. Kau tahu? Perempuan itu adalah cinta pertama Daddy dan saat Daddy melihatnya, Daddy tidak pernah berpikir untuk menikahi perempuan selain dia. Tapi nyatanya.."

"Dia meninggalkan Daddy.." Kyungsoo melanjutkan dan ia bersumpah, ia belum pernah melihat senyum ayahnya yang seperti itu seumur hidupnya. Senyum tanpa hampa yang sarat akan luka yang mendalam. Diam-diam, senyum itu hinggap turut menggoreskan bekas baru dihatinya. Ternyata ibunya benar-benar jahat.

"Kau benar," suaranya terdengar pahit,"Dan jika kau melakukan hal yang sama Daddy tidak tahu apa yang akan terjadi."

"Kenapa Daddy berpikir begitu?"

Chanyeol menunduk dan tersenyum melihat rengutan diwajah putrinya, tangannya bergerak mengusap pucuk kepala Kyungsoo dengan sayang."Kau adalah kesayangan Daddy. Kadang apa menurut Daddy baik untukmu malah akan melukaimu, sayang."

Kyungsoo mendongak,"Seperti Jongin? Daddy berpikir kalau aku jauh dari Jongin itu baik? Heol.. Bilang saja Daddy cemburu."

Chanyeol menyungingkan senyum tipis kemudian mengusak pucuk kepala putrinya sayang dan Kyungsoo tertawa senang,"Apa itu lucu huh?"

"Mhmm.. Daddy adalah ayah posesif dan idiot sepanjang masa—" gadis kecil itu mengeratkan pelukannya dan tersenyum didada sang ayah,"-tapi aku sayang Daddy."

"Daddy juga menyayangimu, Kyungsoo."

Chanyeol mengusap punggung putrinya dengan sayang, iris kelamnya menatap hamparan air yang bergerak-gerak tertiup angin. Sudah lama sekali ia tidak punya momen seperti dengan putrinya. Belakangan ini Kyungsoo seperti menghindar darinya.

"Jadi apa kau masih tidak mau menceritakan apa yang membuatmu murung dan nekat menyusul Jongin ke Busan?"

Kyungsoo mengusak wajahnya manja, tangannya melingkari perut sang ayah kemudian mencengkramnya tepat dibagian punggung, mencari-cari alasan yang tepat menutupi alibinya,"Jongin adalah pria yang sibuk, Dad. Dia tidak punya banyak waktu untukku dan aku coba untuk mengerti," desah nafasnya terdengar panjang,"Tapi belakangan aku jadi meragukan diriku sendiri. Jadi aku menyusulnya ke Busan."

"Kenapa kau meragukan dirimu sendiri? Anak Daddy adalah gadis yang pintar, yakinlah hm?"

Gadis itu mengangguk. Ayahnya benar tapi..

"Meski aku yakin tapi tapi aku tidak bisa bohong, Dad. Aku takut. Sikapku begitu buruk, apalagi intensitas pertemuan kami yang sedikit."

Ya, Chanyeol tahu.

Tentu saja ia tahu. Lagipula mana mungkin ia meninggalkan putrinya sendiri tanpa pengawasan?

"Jongin bahkan tidak punya banyak waktu untukmu, jadi bagaimana bisa ia punya waktu untuk sikapmu hm?"

Si pinguin menunduk lesu,"Dia akan merasa terganggu, Dad."

"Percayalah kau tidak perlu khawatir, sayang. Tapi jika memang Jongin merasa terganggu bilang padanya untuk mengatakan bagian mana yang membuatnya terganggu. Berjanjilah kau akan memperbaikinya."

Tawa Kyungsoo pecah setelahnya, gadis itu tertawa dengan cara yang begitu menggemaskan hingga Chanyeol tak bisa berhenti bersyukur dengan kenyataan jika anak gadisnya tumbuh dengan baik bahkan tanpa seorang sosok ibu. Tiap kali mengingatnya, ada rasa marah juga rasa bersalah yang begitu besar dalam hatinya. Ia merasa bersalah karena memilih perempuan yang salah dan membuat putri tumbuh tanpa ibu, ia juga merasa marah pada dirinya sendiri karena begitu buta dengan kenyataan dan memandang segala hal dengan sebelah mata. Ia marah karena kenaifan cintanya pada ibu Kyungsoo yang membuatnya buta.

"Kenapa tertawa?"

"Daddy out of character sekali malam ini. Padahal jika aku bercerita biasa Daddy tidak akan menunggu lama dan bilang putuskan saja pacarmu dan cari yang lain."

Anaknya menirukan cara bicaranya dengan cara yang sama persis. Chanyeol tersenyum tipis, ia senang putrinya kembali ceria."Harusnya kau senang, sayang."

"Daddy benar. Aku sangat senang, sepertinya lebah centil itu berhasil buat isi kepala Daddy jadi miring."

"Kau senang Baekhyun menjadi ibumu?" itu retoris, Chanyeol hanya perlu untuk meyakinkan pendengarannya.

"Mmhm.." Kyungsoo mengangguk dan mendongak,"Aku juga senang dia menjadi istri Daddy, belakangan ini Daddy banyak tertawa."

"Dan kau harus berhenti membuatnya marah-marah,"

"Tidak akan, Dad. Dan jika lebah centil itu tahu kita menghabiskan waktu bersama-sama tanpa dirinya dia pasti akan marah-marah dan mencebik seperti anak bebek. Aku suka melihatnya begitu hahaha.."

"Itu tidak sopan sayang.."

"Tapi aku suka Dad~"

"Oke, terserah padamu."

"Jadi aku yang menang?"

"Ya, tentu saja. Park Kyungsoo akan selalu menang."

"Daddy menyedihkan sekali ya ampun hahaha.."

Tanpa ayah dan anak itu sadari, sosok yang tengah mereka bicarakan berdiri diujung pintu seraya memeluk tubuhnya sendiri. Tersenyum dengan begitu sendu sebelum kembali menaiki tangga dan duduk diujung ranjangnya yang besar dan dingin. Baekhyun melirik ponselnya dengan ragu.

Haruskah ia menelpon ayahnya?

Melihat interaksi Chanyeol dan Kyungsoo yang begitu manis membuat Baekhyun iri setengah mati. Ia tidak pernah punya hubungan baik dengan ayahnya apalagi setelah ayahnya membuat ibunya pergi dan pria paruh baya itu menikahi perempuan lain dan memberinya sosok ibu tiri. Baekhyun sama sekali tidak punya satu pun kenangan manis yang bisa ingat ketika merindukan ayahnya. Yang ada hanya kepahitan dan kekecewaan yang telah menghitam.

Ayahnya itu mengabaikannya dan lebih menyayangi kakak tirinya hingga Baekhyun kecil yang berusia 15 tahun lebih memilih keluar dari rumah dan hidup sendiri.

Ayahnya yang dingin tidak pernah peduli dengan tangisannya.

Ayahnya tidak pernah menyayanginya bahkan membiarkannya dibawa pergi pria asing tanpa rasa khawatir.

Tapi malam ini, saat ia melihat Chanyeol dan putrinya. Kehitaman itu meluntur berganti dengan kerinduan yang begitu mendalam, Baekhyun merasa ialah satu-satunya orang yang paling tidak beruntung. Ia punya ayah dan ibu yang lengkap, tapi kenapa ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh?

Baekhyun mengusap air matanya.

Bagaimanapun, ayahnya yang tidak peduli masih lebih baik dari ibunya yang bahkan menganggap Baekhyun tidak ada.

Jadi dengan ragu-ragu, perempuan itu mendial nomor ayahnya dan menunggu dalam cemas. Masa bodoh dengan jarum jam yang bertengger di angka satu, ia hanya perlu mendengar suara ayahnya.

'Halo,'

Suara ayahnya yang berat membuat Baekhyun berkeringat dingin,"A—Ayah.. Ini Baekhyun." kemudian bergumam ragu.

Hening yang lama dan Baekhyun sama sekali tidak bisa menebak reaksi sang ayah diseberang sana.

'Oh, Baekhyun. Ada apa menelpon pagi buta?'

Apa ini reaksi seorang ayah saat putrinya menelpon pagi buta?

Perempuan itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tangannya terkepal menahan luapan rasa sakit hatinya atas sikap dingin yang diterimanya sebagai balas."Maaf.. Aku—Aku hanya ingin mendengar suara ayah."

Reaksi ayahnya yang begitu datar membuat Baekhyun urung mengatakan aku merindukan ayah meski itulah satu-satunya kalimat yang ingin ia ucapkan saat ini.

Ia kecewa.

Dan lagi hening yang lama, Baekhyun pikir ayahnya merasa terganggu dan enggan bicara dengannya jadi ia berinisiatif mengucapkan beberapa kata lagi dan menutup telepon namun belum genap niatnya, suara sang ayah yang tiba-tiba terdengar dalam membuat Baekhyun urung,

"Ayah—"

'Apa kau bahagia?'

Pertanyaan singkat yang membuat Baekhyun resah setengah mati. Kenapa ayahnya bertanya seperti itu dan kenapa ia merasa begitu sedih mendengarnya? Apa ia bahagia?

"A..Aku bahagia ayah, Chanyeol dan putrinya menerimaku dengan baik. Jika ayah khawatir dengan itu, ayah bisa tenang."

'Syukurlah.'

Sekilas ia bisa mendengar ayahnya menghela nafas lega seolah terlepas dari beban berat yang menunggu dibebaskan. Diam-diam Baekhyun bertanya-tanya, apa ayahnya menyesal melepaskan ia dengan Chanyeol? Akankah ayahnya merasakan hal seperti itu? Jika ia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya akankah ayahnya tergerak untuk peduli?

'Lalu kenapa kau menelpon ayah malam-malam begini?'

Sejenak Baekhyun ragu, haruskan ia bilang jika ia rindu? Atau haruskah ia bilang ingin pulang? Tapi kemudian ia urung.

"Tidak apa-apa ayah, rasanya ini sudah lama dan aku tidak lagi bertemu orang-orang ayah untuk menanyakan kabar. Jadi aku menelpon."

'Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Hiduplah dengan benar dan jangan buat ayah malu.'

Baekhyun menggigit ujung bibirnya."Ba..Baik ayah."

'Tutup teleponnya.'

"Selamat malam—ayah."

Sambungannya tertutup sepihak, ada memar yang bertambah parah saat ia bicara dengan sang ayah meski untuk waktu yang singkat dan hanya sebatas bertukar kabar dalam situasi yang kikuk.

Ayahnya sama sekali tidak peduli.

Baekhyun mengusap matanya yang basah. Tidak, ia tidak apa-apa.

"Bee?"

Baekhyun tersentak, ia mendongak kemudian berubah gugup mendapati Chanyeol yang menyandarkan diujung pintu dengan ekspresi mengkerut."O-Oh Chanyeol."

"Ada apa? Kenapa kau belum tidur?"

Gadis itu menggeleng kosong dan Chanyeol makin dibuat khawatir saat wajah istrinya itu berubah makin pucat.

"Aku baik."

Tapi Chanyeol bukan bocah ingusan yang mudah dibodoh-bodohi dengan kalimat aku baik sedangkan air mata tengah menggenang bersiap untuk mengalir. Ia mengambil langkah cepat kemudian duduk disamping istrinya,"Hei, tidak apa-apa. Katakan, ada apa hm?"

Bahunya berguncang, sipitnya memerah dipenuhi air mata yang siap melesak turun dan bibirnya bergetar menahan isakan."Yeol hiks.. Chanyeol—"

"Baekhyun-ah katakan ada apa hm? Apa yang salah? Siapa yang membuatmu menangis?"

Tapi Baekhyun terlalu sakit untuk menumpahkan apa yang membuat memar hatinya makin parah. Kesedihannya terlalu mendalam saat mengetahui sosok yang paling dekat dengannya pun enggan untuk sekedar peduli. Baekhyun terluka parah saat menyadari saat ia tidak seberuntung Kyungsoo atau pun gadis lainnya yang memiliki sosok ayah untuk mengadu. Ia tidak punya siapa-siapa. Ia hanya sendirian. Ia tidak diinginkan oleh siapapun.

"Shh.. Jangan menangis, aku disini. Aku disini."

Chanyeol mendekap Baekhyun erat-erat, menekan lembut agar gadis itu luruh didadanya. Berusaha meyakinkan Baekhyun jika kehadirannya adalah nyata dan gadis itu tak sendirian,"Tidak apa-apa, jangan menangis hm?" Tapi tangisnya begitu pilu, membawa Chanyeol untuk merasakan kepedihan yang bahkan lebih dalam untuk dirasa.

"Baekhyunee?"

Isakan gadis itu mengalun lirih, membasahi dadanya dengan air mata dan tak berhenti mencengkram punggungnya untuk mencari pegangan dari jurang kerapuhan yang mencoba menelannya. Baekhyun tampak begitu bersedih, ia terlampau kecewa dan kehilangan satu-satunya harapan. Tapi Chanyeol sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya nampak begitu lemah dan kecil.

"Chanyeol.. Hiks.."

Suaranya yang parau terdengar perih dan Chanyeol meringis menyadari betapa rapuhnya gadis ini,"Ini aku, sayang. Kenapa hm?"

"Chanyeol.. Chanyeol.." Baekhyun merintih putus asa tak tahu harus bagaimana mengurangi sesak didadanya.

"Tidak apa-apa. Aku disini. Aku selalu disini bersamamu, Sweetheart."

Pria itu benar dan selalu benar. Hanya Park Chanyeol yang peduli. Hanya Park Chanyeol yang mampu menorehkan luka dan memberinya penawar. Hanya Park Chanyeol yang bisa mengerti seluruh hatinya yang telah babak belur. Hanya Park Chanyeol yang mampu memberinya alasan untuk yakin dan tetap bernafas.

Karena hanya Park Chanyeol yang menginginkannya, Baekhyun hanya butuh Chanyeol. Tak peduli jika pria itu hanya mengangapnya jalang kecil murahan. Tak peduli seberapa dalam pun luka yang pria itu berikan untuknya, Baekhyun akan sembuh asalkan pria itu tetap bersamanya. Asalkan Chanyeol bersamanya dan tetap menginginkannya Baekhyun akan baik-baik saja.

.

Because you are my man

I apologize for everything

I will forgive you for everything, let's not break up

Just because you drink through the night

And smoke a few cigarettes, I won't nag you anymore

Because I love you, even though I hate you

.

.

To Be Continue

.

.

Ayo angkat tangannya yang doain gue dapet hidayah! Mana orangnya mana mana?

Ya ampun ngakak deh gue baca review kalian chapter ini xD Kehilapan gue yang suka ngaret update ini bener-bener gak ketolong. Ayo angkat tangannya yang udah lupa lagi sama ff gue sampe harus baca ulang XD Gue parah banget wkwk
Gimana chapter ini? Masih bertanya-tanya? Masih kepo? Masih pengen dilanjut?
Oke jangan mual ya abis baca a/n gue, gue tau kok gue alay haha

Baekhyuneenya gak ilang ya xD Gak dulu deh kan kesian Mas Cahyono lagi habede nanti yang ngasih kado special pake telornya gak ada haha
Gue bingung mau ngomong apa, ff gue aneh emang iya guenya aneh jadi diharapkan bersabar ya~

Oke deh last,

Makasih yang udah setia review maafin gak gue bales satu-satu. Apalah daya pinjem modem kakak gue ya gini jadinya TT

Puarkchim readlyf Baekbyours614 Dudu Luv Nini viantika baeeki6104 6104chanbaek selepy Intan Theresia341 melfanfan hulas99 ssuhoshnet myliveyou lolilolyk-pop Kim L L Princess835 loeybee kepala jamur park yeolna lolilolyk-pop piggy69 Guest parkobyunxo bbqqque ay istiqomahpark01 BaekHill lupika loeyaBee MeAsCBHS EvieBeeL afrilany pasha Anhwa94 Yoon745 JeongHana Muth Guest diyozi kajedetroll afrilany pasha n3208007 danactebh ParkYooAh chenma AileeCY vion hamidah baekbiie rly bluepandass lil'chanbyun Hunel112

Squadnya Baekhee mana suaranyaa? Squadnya kak Chanyono mana suaranyaa?
Ayooo angkat jempol kakinya tinggi tinggi

Dadaah gaess/ SARANGHAEYO/

Toben