Hiruk pikuk keramaian di korporasi Park perlahan mulai melenggang, lampu-lampu mulai dinyalakan dan beberapa karyawan telah menutup komputer mereka dan bersiap pulang. Tak berbeda dengan sosok pemimpin utama mereka yang belakangan ini begitu suka pulang lebih awal. Bertolak belakang dengan kebiasaannya yang selalu lembur dan baru pulang saat tik tok telah bertengger di angka sepuluh, Park Chanyeol telah menutup komputer lipatnya dan bersiap pulang. Membalas pamit sang sekertaris dan beranjak mengambil mantel.
Harusnya, malam itu Chanyeol sampai dirumah tepat sebelum makan malam. Harusnya ia kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya yang terasa sempurna, jika saja sosok berambut merah itu tidak muncul tiba-tiba dengan senyum yang begitu licik juga sapaan yang begitu ringan dan meninggalkan muak tak terkira,
"Terkejut, Park?"
Chanyeol berdiri dibalik meja kerjanya dengan tangan yang bersilang kaku juga rahang mengatup keras, melempar tatapan tajam pada sosok tak tahu malu yang kini tersenyum begitu cerah didepannya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Chanyeol? Apa sebelas atau dua belas?"
Baixian, wanita berpoles lipstick merah darah itu mengumbar basa-basinya dengan santai tanpa peduli dengan tatapan Chanyeol yang seakan melubangi tengkorak kepalanya.
"Ngomong-ngomong kau semakin tampan, mau mengingat beberapa kesalahan menyenangkan di masa lalu?"
Perempuan ini sakit dan Chanyeol, ia jelas tak punya apapun yang harus ia katakan atas omong kosong itu.
"Saat itu kita masih terlalu muda tapi aku rasa itu tidak benar-benar buruk bukan? Kau sangat tergila-gila padaku saat itu."
Namun Bian Baixian masih terus mengoceh dan Chanyeol tetap sama, ia tidak berserela untuk menanggapi semua bualan perempuan itu.
"Jika kau tidak keberatan bisakah kita memiliki kenangan terakhir yang sedikit menyenangkan diatas meja kerjamu, Chanyeol sayang?"
Apa yang baru saja jalang itu katakan?
Chanyeol mendengus geli, begitu tergelitik atas kalimat menjijikan dari si tidak tahu malu. Oh.. Inikah sosok perempuan yang telah membuatnya terbutakan selama bertahun-tahun? Chanyeol merasa begitu lucu, senaif itukah ia dimasa lalu?
"Atau jika kau mau, kita bisa menghilang diakhir minggu dan menghabiskan waktu bersama," wanita itu mendekat, menyendar tidak tahu malu didadanya dan berhasil bertingkah sebagai jalang paling memuakan didunia,"Bagaimana hm, kau mau?"
"Tapi lupakan tentang akhir pekan, aku rasa kau tidak akan sanggup menahannya terlalu lama. Uh oh, apa ini? Kau bahkan menyimpan fotoku Chanyeol sayang?"
Sudah cukup main-mainya, Chanyeol muak."Singkirkan tubuh menjijikanmu, jalang."
Suaranya terlampau dingin, Baixian cukup tahu diri untuk kemudian menarik diri dan menempatkan tubuhnya pada meja kerja yang telah rapih."Oke, santai hm? Kau berubah begitu banyak, Yeol-ah."
"Dan kau masih bermuka untuk muncul dihadapanku?"
Setelah bertahun-tahun mencampakannya dengan bayi malang tak berdosa, wanita tidak tahu diri ini kembali melenggang santai tepat didepan hidungnya. Haruskah Chanyeol memuji diri karena ia masih sanggup menahan hasratnya untuk mematahkan batang leher perempuan ini sekarang juga?
"Yeol-ah.. Bisakah kita melupakan masa lalu dan mengulang beberapa hal yang menyenangkan? Kemarilah Chanyeol, cium aku."
Chanyeol dengan seringai miringnya mendekat, membuat si rubah jalang berpoles lipstick merah tersenyum penuh kemenangan namun tak berlangsung lama, karena kenyataan pahit harus si rubah terima kala,
"Benar-benar tidak tahu malu, bahkan jika kau membuka kakimu dengan suka rela aku tak sudi untuk sekedar melirik."
Ucapan Chanyeol begitu tajam namun senyum tak tahu diri itu tak juga hilang,"Ugh, Chanyeol-ah.. masih marah saja hm?"
Decakan muak tak tertahan, Chanyeol lupa jika ia tengah berhadapan dengan mahluk paling bebal. Setajam apapun ucapannya tak akan bisa meruntuhkan tekad wanita itu untuk mendapatkan apa kemauannya. Jadi sekarang, ia hanya harus berhenti main-main dan mengusir si sialan ini pergi karena anak dan istrinya menunggu dirumah.
"Baixian, apa kau berpikir aku membuntuti karena aku masih berhasrat padamu?"
Kalimatnya mengantung dan perempuan bersurai merah tersenyum penuh kepalsuan,"Lalu apa ada alasan lain yang bisa menjelaskan foto ini sayang? Aku tahu aku salah tapi Chanyeol aku sadar, hanya kau yang mencintaiku dengan tulus. Jadi bisakah kita memulainya lagi?"
Tulus katanya? Katakan itu pada remukan hatinya yang telah tertiup kemalangan masa lalu.
"Jangan naif. Kau tidak semenarik itu untuk tetap membuatku menegang. Dan jika dimasa lalu aku begitu gila terhadapmu tolong dilupakan, itu hanya kesalahan pahaman."
Dan senyum itu menghilang disana.
"Lalu apa maksud foto-foto ini, Park Chanyeol?"
Wanita rubah betina ini benar-benar tidak sadar diri,"Menurutmu apa?"
Sahutannya begitu santai hingga Baixian kehilangan kecerdasannya untuk tetap tidak terintimidasi. Apalagi kala senyum jahat terbalut kemanisan itu menguarkan aroma kebencian yang begitu kental dan hitam, ia berada zona yang lebih buruk bahkan dari perang sekali pun.
"Apa kau ingat sesuatu tentang London juga rumah modemu yang tiba-tiba kehilangan banyak investor?" bahunya terangkat ringan," Atau mungkin tentang saham Alfred yang semakin turun? Atau sesuatu lain tentang perselingkuhan suamimu?"
Wajahnya memerah dan Baixian berdiri tegak dengan tatapan nyalang kala menemukan jawab atas tanya dalam benaknya,"Kau!"
Senyumnya tak lagi palsu tersunging dengan begitu jahat dan Park Chanyeol nampak sangat puas dengan apa yang didapatnya.
"Tentu saja itu aku nona Bai. Bagaimana rasanya melihat seseorang yang kau cintai tidur dengan perempuan lain hum? Ah, kau harus melihat bagaimana ekspresimu kala itu, kau benar-benar seperti kucing terbuang. Atau juga saat rumah modemu bangkrut, ah.. Kau benar-benar seperti gelandangan saat itu."
"Sialan! Dalang dari semua kekacauan dalam hidupku adalah kau Park Chanyeol!"
Park Chanyeol hanya terkekeh dengan begitu hina atas lolongan kemarahan rubah betina yang kini berada dalam situasi terjepit.
"Ya, tentu saja aku memangnya siapa lagi? Jadi bagaimana rasanya hm? Apa kau merasa sengsara? Oh aku harap tidak, karena aku belum selesai jalang!"
Suaranya naik dan Chanyeol tak lagi tenang ditempatnya nafasnya memburu cepat. Namun sedikitnya, pria itu masih bisa mempertahankan sedikit kewarasannya agar tidak menerjang dan mencekik si jalang karena kemunculannya yang tidak terprediksi. Ia harus meningkatkan kewaspadaannya karena Baixian sudah berhasil mengecoh Sehun dan berani menampakan muka didepannya.
"Cih, kucing terbuang katamu? Park Chanyeol jangan pernah lupa jika kau memungut sebagian dari kucing buangan ini dan kau simpan baik-baik disisimu!"
Senyumnya begitu picik sebelum si tidak tahu malu itu melangkah begitu tenang meninggalkan Chanyeol yang terpaku dibelakang sana.
"Dan satu hal yang kau lupakan Chanyeol, Park Kyungsoo bukan anakmu. Gadis yang kau lindungi sejak masih segumpal darah itu bahkan tidak memiliki satu pun selmu dalam tubuhnya!"
"Kau pikir aku tidak tahu?"
Senyumnya miring, ketukan stiletto tinggi yang mengukung kakinya terhenti dan wanita itu berbalik untuk sebuah back shoot yang membuat si tinggi menggeram buas,"Oh ya? Lalu bagaimana jika Tuan dan Nyonya besar Park yang tahu? Atau mungkin akan jadi lebih menarik jika putri kesayanganmu saja yang tahu, Chanyeol sayang."
"Sentuh Kyungsoo maka kau tidak pernah bisa lagi melihat matahari terbit, jalang."
Namun yang Chanyeol lupa, wanita bersurai merah kadang terlalu bodoh untuk menangkap maksud dari ucapannya.
"Yang kau sebut jalang ini adalah ibu dari putrimu, Chanyeol. Berhati-hatilah dan lihat seberapa jauh permainan ini akan berlangsung."
Blam!
"Bian Baixian sialan!"
.
.
I'll Walk You Home
.
.
Pelipisnya berdenyut keras, teriakan kekesalan yang tersendat dipangkal tenggorokannya begitu menyiksa. Diantara kesulitan untuk menghadapi situasi dengan tenang, Chanyeol berusaha menenangkan monster dalam dirinya agar tetap berkepala dingin dan mendengarkan laporan asisten pribadinya satu per satu.
"Nona Baekhyun datang ke kantor tepat satu jam setelah anda pergi."
Gelas tinggi didepannya begitu mengundang iblis dalam diri Chanyeol agar bangun dan mengamuk, namun pria itu masih bisa bersikap tenang dengan kedua tangan yang terlipat kaku.
"Lalu pukul berapa Baekhyun meninggalkan hotel?"
"Pukul dua pagi, Presdir."
Hanya anggukan kaku yang diberikan si Presdir tampan, membuat Jongdae yang semula telah bersiap menerima amukan hebat berjengit tak karuan. Kemana perginya monster galak yang suka melemparkan gelas hingga remuk?
"Kau boleh pergi dan tolong wakili aku dalam beberapa pertemuan yang cukup penting, hubungi Minseok dan atur ulang jadwalku untuk beberapa hari ke depan. Dan satu lagi, tolong singkirkan semua frame yang aku letakan disudut ruangan."
Pria bermarga Kim itu membungkuk hormat tanpa bantahan apapun,"Baik Presdir Park."
Pintu berdebum halus dan kini tinggalah pria berekspresi datar dengan satu map ditangannya. Dan oh, ini adalah Kim asisten Chanyeol yang lain. Kim yang telah bekerja untuknya selama hampir empat tahun lebih, juga Kim yang telah membantunya membuntuti Baekhyun selama bertahun-tahun tanpa seorang pun tahu.
"Apa yang kau dapatkan?"
Tanpa perlu diminta, pria itu segera meletakan frame yang bawa dalam map dan menyusunnya diatas meja.
"Nona muda pergi menemui Nona Luhan pada pukul satu siang lalu pergi ke kantor anda dan sepertinya menemukan foto nona Bai. Setelah itu Nona muda memintaku mengantarnya untuk menemui anda dan melarikan diri pukul dua pagi tadi."
Pelipisnya berdenyut makin kencang dan Chanyeol rasa ia akan segera meledak,"Apa yang dikatakan Luhan?"
Namun pria itu hanya diam, merasa menyesal tak menemukan jawaban yang diinginkan Tuan besarnya.
"Aku akan mencari tahu sendiri. Jadi dimana Baekhyun sekarang? Apa kau sudah memastikan dia aman?"
Nasi sudah menjadi bubur, yang harus Chanyeol lakukan sekarang adalah menyusun ulang segala rencananya yang kacau dan memikirkan cara membujuk Baekhyunnya pulang. Gadis kecil itu tidak boleh lepas darinya terlalu lama karena Chanyeol bisa gila.
"Nona muda menaiki kapal kecil menuju pulau Jeju dan baru sampai pukul lima pagi tadi. Saya telah menempatkan beberapa orang dalam jarak aman saat ini nona muda tengah mencari tempat untuk tinggal sementara."
Ini memang kecerobohannya, jika saja malam itu Chanyeol tidak termakan ucapan Baixian dan menjadi mabuk Baekhyun tidak akan larinya sampai seperti ini, gadis itu tidak perlu tahu apa yang harusnya ia ketahui. Pengganti Baixian atau bukan, Byun Baekhyun harus tetap disisinya.
"Buat semuanya mudah dan jangan terlalu mencolok, aku ingin kau mengiriku gambar setiap jamnya dan Kim.."
Yang dipanggil begitu sigap dalam diamnya."Ya Tuan?"
"Aku tidak ingin Baekhyun mengalami luka sekecil apapun dan pastikan dia selalu berada dalam pengawasanmu. Aku tidak ingin dia lari lagi dan kau terkecoh seperti semalam. Ini adalah kesalahan terakhir yang kau buat. Dan.. Aku ingin melihatnya."
"Saya mengerti, Tuan."
Pria itu pergi setelah membungkuk hormat, meninggalkan Chanyeol dengan helaan nafas berat juga tubuh yang besandar letih pada punggung sofa. Tengah malam tadi Chanyeol masih bisa bernafas lega karena menemukan Baekhyunnya yang manis tertidur begitu pulas dalam dekapannya. Tapi sepertinya takdir begitu senang membuat lelucon murahan karena saat Chanyeol sadar dipagi buta, sosok itu telah raib dibawa angin malam.
Ia jelas panik, memanggil nama wanitanya dengan tenang dan berubah rusuh saat tak menemukannya dimana pun. Seluruh bagian suite itu kosong hanya tas merahnya yang tergeletak diatas meja dengan ponselnya yang mati, menyadarkan Chanyeol jika ia baru saja ditinggalkan.
Ia menuruni lift dan berlari seperti orang gila, membentak resepsionis baru yang menggeleng takut kala ditanya, berteriak pada keamanan yang begitu bodohnya membuat istrinya kabur. Namun jika Chanyeol pikir sekarang yang bodoh itu adalah dirinya sendiri, ia yang ceroboh. Bagaimana bisa Baekhyun tahu tentang Baixian?
Chanyeol termenung, menatap kosong kearah ranjang yang kini kembali rapih dengan satu frame kusut ditangannya.
Baekhyunnya pergi dan hanya satu orang yang berhak menerima seluruh kemarahannya.
"Bian Baixian. Kita lihat apa kau masih bisa bernafas besok,"
.
.
I'll Walk You Home
.
.
Jalanan setapak yang dilaluinya seolah tak berujung, angin lembab yang menyapu bersama deburan ombak seolah musik pengiring paling menyedihkan untuk hari barunya yang berajut angan kelam. Langkahnya tertelan angin, hembus nafasnya seberat lirihan gloomy sunday yang sayup dan irisnya meredup hampa tanpa harapan tersisa.
Baekhyun menatap luas pantai dengan pandangan kosong. Baginya pantai yang dingin tak lebih dari kekosongan mengakar, bak kesakitan yang kini tergambar dalam sorotnya yang dingin dan terlukis dalam catatan musim.
Jantungnya masih berdegup seirama helaan nafas namun hatinya seolah mati, tak ada yang bisa di rasa selain kehampaaan yang mengikis.
Apakah patah hati selalu semengerikan ini? Fisiknya baik-baik saja namun jauh didalam, Baekhyun merasa setiap rusuknya seolah patah, bahkan hanya untuk sekedar bernafas rasanya begitu sakit.
Semua pengkhianatan memiliki rasa yang sama, pahit dan menggetirkan. Kenapa harus ia yang merasakannya dua kali? Kenapa harus Chanyeol yang menggoreskan luka itu?
.
Keningnya mengerut kala mendapati binar menyilaukan diwajah sosok itu.
"A-Apa?"
"Suaramu begitu indah, seindah parasmu walau kau pucat."
Apa-apaan pria ini?
Diam-diam dalam duduk tenangnya ia berubah resah. Apa selama koma kemarin ayahnya berulah dan membuangnya ke rumah sakit jiwa? Apa pria didepannya ini penderita obsesif kompulsif atau jangan-jangan psikopat berkedok ramah? Oh sial, orang jahat memang selalu terlihat lebih ramah.
Tidak, tidak jangan menyalahkan Baekhyun. Lagipula siapa pria ini? Benturan kepalanya memang parah karena hingga kini rasa sakitnya masih terasa, tapi terakhir kali ia cek tak ada satupun saraf ingatannya yang jatuh.
Jadi siapa pria aneh ini?
"Ini masih rumah sakit pertama yang kau datangi kok."
Oh sial, apa selain psikopat pria ini juga bisa baca pikiran?
Ia harus hati-hati, keselamatanya terancam. Kakinya bahkan terlalu lemah untuk sekedar digerakan, mana bisa dibawa lari?
"Aku Park Chanyeol. Senang bertemu denganmu Baekhyun. Dan lagi, tolong jangan tatap aku seperti itu, aku bukan psikopat keji aku juga tidak akan menggigitmu oke? Jadi santailah sedikit. Ngomong-ngomong kau manis."
Senyumnya terlampau santai, pun ucapannya yang terdengar begitu yakin memancing si mungil untuk tersenyum aneh seraya menarik diri supaya makin jauh dari jangkauan si besar.
Oh tidak, si Ahjussi berkaki panjang ini terlalu banyak tahu. Ini fix ia tidak aman!
.
.
Ingatan kecil itu membuat Baekhyun tersenyum tipis. Ditepi pantai angin bertiup kencang menerbangkan surai merah yang terurai dan membantu Baekhyun menyembunyikan air matanya yang meleleh habis-habisan.
Sapuan gelombang pantai Jeju menyapa kakinya yang telanjang namun tak benar membuat Baekhyun merasakan tertusuk dingin. Bahkan, suhu yang menelusup hingga tulang tak jua membuat Baekhyun merasa bergetar.
Semua yang ada pada dirinya seakan mati rasa. Satu-satunya yang membuatnya merasa masih hidup adalah kepingan-kepingan kecil dalam benak yang perlahan terkumpul menjadi ingatan berlabel tragedi dan merusak nafasnya hingga akar.
Tidak ada yang lebih buruk dari tidak dianggap juga dijadikan boneka pengganti, ia bahkan memuji diri karena masih sanggup menangis dan tidak menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Ia hamil dan lelaki yang menjadi suaminya tak benar menganggapnya ada. Sial, kenapa hidup menjadi begitu lucu?
"Hiks.."
Air matanya meleleh lagi dan kini Baekhyun tak bisa menahan tangisnya, terisak-isak seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Dan disudut lain, Park Chanyeol berdiri dengan air muka tak terbaca kala melihat gadisnya menangis hebat tanpa pegangan.
Skenario ini pernah ada dalam bayangnya, kala Baekhyun mengetahui sesuatu tentang Baixian ia akan berkelit dengan cepat dan membuat gadis itu mendengar semua kata-katanya namun kini, saat melihat Baekhyunnya terisak-isak sendirian dengan tubuh basah, Chanyeol kehilangan keberaniannya bahkan untuk sekedar berjalan mendekat.
Langkahnya tersuruk sunyi, terpaku pada punggung ringkih yang kini berjalan tanpa tujuan. Chanyeol tahu tak seharusnya ia melakukan ini, lantas apa yang membuat dirinya bisa begitu bersabar sedangkan setan dalam dirinya mengamuk untuk membawa gadis itu pulang? Baru sehari, dan Chanyeol merasa tidak sanggup tanpa sosok itu disisinya.
Ponselnya bergetar, Chanyeol merelakan gadisnya pergi ditelan jarak kemudian menghela nafas atas pesan yang diterimanya.
'Aku dengar Baekhyun menemui Luhan, kau ingin aku mengurus ini?'
Membiarkan Oh Sehun mengurus Luhan akan menjadi sia-sia, rusa itu tidak membuka mulutnya dengan mudah dan Chanyeol sedang tak memiliki banyak stok kesabaran."Akan ku lakukan sendiri."
Layar menggelap dan Park Chanyeol berlalu begitu saja melewatkan tangisan rindu yang tertuju padanya.
.
.
.
Hari ini Luhan memiliki terlalu banyak hal untuk dilakukan. Namun kemunculan sosok Chanyeol bersama rombongan peliharaannya membuat Luhan harus mengambil langkah mundur dan menyembunyikan sosok mungil itu jauh dibelakang punggungnya.
"Siapa nama jagoan tampan ini, apa paman boleh berteman denganmu?"
Seraut penuh ketakutan menjadi salam pembuka. Haowen, bocah kecil dengan air muka dingin itu merengut dan bersembunyi dibelakang sang ibu.
Luhan menghela nafas lelah, lantas menggenggam tangan putranya yang bergetar mencari pertolongan.
"Dengar Park Chanyeol, kau tidak akan mendapatkan apapun yang kau mau jika anakku tetap disini dan mendengar semuanya."
Pria itu tersenyum begitu menyebalkan dengan sebelah bahu yang terangkat."Tentu saja, bukankah jagoan kecil harus bertemu songsaengnim?"
Bocah itu merengut tak paham dan menarik ujung kemeja sang ibu meminta pertolongan.
"Haowen sayang, pergilah dengan bibi Nam. Mama akan menjemputmu untuk makan siang, okay?"
"Hum!"
Nyatanya, Haowen hanyalah bocah kecil yang bahkan tidak sadar jika bahaya tengah mengancamnya begitu dekat. Ia mengambil tangan pengasuhnya dan berlalu dengan tatapan yang enggan terlepas dari sang ibu disudut ruangan.
Sosok mungil kesayangannya menghilang dibalik pintu yang berdebum halus. Tidak ada lagi Luhan dengan tutur kata lembut penuh kasih sayang, perempuan bermata rusa itu membidik sosok didepannya dengan tatapan menusuk penuh peringatan.
"Apa-apaan ini Park?"
Park Chanyeol adalah si bebal yang bisa berubah begitu menyebalkan tanpa bisa diterka. Ketika Luhan menyerangnya dengan tatapan membunuh, pria itu menyandar begitu santai dengan iris yang berpendar keseluruh ruangan.
"Jadi Oh Sehun kecil huh?"
Luhan menggeram bak singa betina yang mempertahankan anaknya dari pemburu kejam."Kau tidak boleh menyentuhnya Chanyeol. Haowen adalah anakku."
"Hei Lu, jangan naif. Bukankah dia Oh?"
"Jangan berbicara macam-macam. Cukup katakan apa maumu hingga harus membawa selusin peliharaan untuk menemui perempuan lemah sepertiku?"
"Kau cukup cerdas untuk itu."
Suaranya terdengar datar dan Luhan mengenal benar sosok Chanyeol yang ini. Sosok didepannya ini mengingatkan Luhan pada Park Chanyeol naif yang dipenuhi kemarahan di masa lalu. Apa yang membuat sisi gelap si Park kembali bangkit setelah tertidur sekian lama?
Park Chanyeol tengah diliputi api kehitaman yang menghanguskan, ia tidak boleh terprovokasi.
"Tentang apa ini? Hanya bicara padaku dan jangan pernah muncul dengan tampang mengerikan dan buat anakku ketakutan!"
Luhan telah mencoba usaha terbaiknya untuk sedikit meredakan amarah Chanyeol, namun kepungan emosi yang melingkupi pria itu terlalu kuat untuk membuat Luhan paham.
"Kau tahu dengan jelas Lu, Byun Baekhyun menemuimu kemarin."
Sial, Luhan tahu seharusnya ia tak lengah. Argumen macam apa yang harus ia berikan pada si kepala batu ini?
Perempuan Lu itu menetralkan suasanya dan kembali duduk tegak,"Bukankah harusnya kau lebih tahu? Perempuan itu adalah istrimu."
Prang!
Suara pecahan yang mengerikan membuat Luhan berjengit namun tak lantas menurunkan dagunya.
Jiwa iblis Park Chanyeol yang lama tertidur telah kembali.
"Berhenti mengatakan omong kosong dan beritahu apa yang kau katakan hingga gadis kecil itu lari dariku!"
Park Chanyeol terengah dalam kepungan emosi dan Luhan hanya menyungingkan senyum tipis. Ah, jadi si mengerikan Park ini telah kehilangan gadis kecilnya? Ini terlalu cepat dari perkiraannya.
"Chanyeol, aku tidak mengatakan apapun."
Senyum miring yang tersungging diwajah rupawannya memberi Luhan peringatan yang cukup jelas agar tak memancing keributan mengerikan. Maka Luhan menurunkan dagunya, menatap Chanyeol dengan tatapan yang lebih bersahabat dan mulai berbicara dengan halus.
"Park dengar, dia hanya gadis duapuluhan yang telah mengalami banyak hal yang berat. Dia datang padaku untuk menangis karena menyesal telah menolakmu. Sama seperti Kyungsoo, Byun Baekhyun hanya datang padaku untuk menangis dan mengutarakan apa yang membebani hatinya."
"Berhenti berbasa-basi Luhan. Kau tahu aku tidak terlalu bersabar untuk itu."
"Chanyeol.. Aku tidak bodoh untuk bermain denganmu. Semua yang aku tahu tentang Baekhyun hanya sebatas ingatan mengerikan dan ketakutan. Dengarkan aku Chanyeol, Baekhyun hanya gadis kecil, dia telah lama kehilangan tempat untuk pulang. Bawa dia pulang dan bujuk dengan cara yang benar, jangan memaksa dan membuatnya semakin jauh."
Luhan ada disana, dengan janjinya pada Baekhyun untuk tutup mulut tentang apa yang belum saatnya Chanyeol tahu. Ini bukan sesuatu yang harus diketahui oleh Park Chanyeol dalam mode iblisnya.
.
I'll Walk You Home
.
"Bibi berikan aku seporsi Jjajangmyeon!"
"Baik!"
"Bibi berikan aku satu tambahan lagi disini!"
"Tunggu sebentar!"
Langit Jeju bersinar lebih redup dari biasa, disana Byun Baekhyun masih senantiasa bergerak cepat menyiapkan pesanan para pengunjung kedai, tangan rapuhnya yang lentik bekerja cekatan mengantarkan nampan-nampan itu pada pelanggan. Setetes peluh menetes dipelipis namun senyum tak pudar dari wajah cantik yang kian pucat.
"Silahkan menikmati."
"Terima kasih."
Gadis itu berlalu dengan senyum, sebelah tangan menyeka peluh dan segera kembali dibalik meja kasir. Tatapannya beredar keseluruh penjuru ruangan dan terpaku pada jendela besar yang menampakan hamparan pasir bersama ombak yang menggulung-gulung. Ini sudah tiga minggu.
Sudah duapuluh tiga hari sejak ia lari dari Seoul, bagaimana kabarnya Park Chanyeol? Ah, pria itu pasti tengah terawa puas dibalik meja keagungannya.
Oh kenapa memikirkan si brengsek itu lagi?
Baekhyun mendongak, mencegah air yang menggunung dipeluk mata kemudian mengusapnya dengan kasar. Tak seharusnya ia memikirkan si brengsek Chanyeol sedangkan hidupnya diambang batas begini. Ia harus bekerja dengan semangat dan bersembunyi dengan benar, melupakan segala hal karena kini ia mempunyai sosok lain diperut yang harus ia perjuangkan sekuat tenaga.
Baekhyun rasa ia akan mati jika ayahnya tahu ia melarikan diri dalam keadaan begini, ia juga tidak ingin lagi bertatap muka dengan Park Chanyeol, mengingat pria itu hanya membuatnya sakit hati. Tapi kenapa? Semakin ia ingin berhenti memikirkan Chanyeol bayang pria itu selalu menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Sosok Chanyeol yang selalu mengusap pucuk kepalanya dengan sayang begitu sulit untuk hilang meski Baekhyun tahu jika itu adalah kasih sayang palsu.
Senyumnya terukir getir, tangannya bergerak diatas perut tanpa sadar dan irisnya yang menatap kosong kearah pantai kembali berembun. Baekhyun tahu seberapa menyedihka dirinya sekarang, bahkan saat Chanyeol menyakitinya dengan cara yang paling kejam ia tetap merindukan pria itu bersama dengan kasih sayangnya yang palsu. Bahkan ia berkhayal jika pria itu tengah menatapnya dari jalanan sebrang.
Tanpa sadar dengan sosok diseberang yang mengamatinya dengan pandangan tak terbaca adalah benar sosok suaminya.
Itu adalah Park Chanyeol. Pria menyedihkan diserang demam rindu mengerikan hingga fungsi tubuhnya rusak. Ia tak lagi dapat terlelap dengan benar, ia tak dapat lagi merasakan manisnya gula kala lidahnya kelu menahan kata rindu. Kehilangan Byun Baekhyun membuatnya sakit.
Melihat gadisnya bekerja keras memeras peluh membuat Chanyeol sedikit kurang waras, ingin rasanya menarik gadis itu pergi. Namun ia sadar, dengan keadaan diantara mereka yang kacau itu kedengaran sia-sia.
Nyaris tiga minggu, Chanyeol memuji diri atas pertahanannya untuk tetap diam dan memberi Baekhyun waktu, namun sepertinya hari ini ia akan mengangkat tangan dan mengaku kalah.
Derapnya langkahnya terbalut tenang, iringan angin musim dingin menemani setiap langkahnya menuju kedai kecil disimpang jalan. Lonceng tua berbunyi, Chanyeol terpaku atas sosok mungil yang berbalik menyapanya dengan senyum yang perlahan meluntur,
"Selamat da—tang…"
Byun Baekhyun membantu dengan tubuh bergetar.
"Kita butuh bicara Baekhyun."
Gadis itu tak dapat mengelak, menahan gejolak diperutnya akhirnya Baekhyun melepaskan celemek usangnya dan melangkah mendahului Chanyeol.
Secangkir teh yang mengepulkan uap tersaji, irisan velvet cake yang cantik menjadi pelengkap namun semua itu tak membantu kekakuan diantara mereka mereda. Baekhyun berusaha menarik diri dari pusaran kekecewaan karena hari ini dia akan menentukan akhir dari itu semua.
"Bukan hal yang benar jika kau pergi begitu saja, Baekhyunee."
Baekhyunee
Gadis itu menelaah dalam hati, menemukan denyutan menyakitkan kala mendapati pria itu masih memanggilnya dengan cara yang sama. Manis dan penuh kehangatan namun meninggalkan bilur yang nyata.
"Apapun yang kau simpulkan dalam pikiranmu itu tidak benar. Aku punya penjelasan yang kau inginkan."
Jemarinya digenggam akrab, namun Baekhyun tak lagi merasakan hangat. Hanya perasaan tertusuk yang membuatnya sesak dan ingin melarikan diri.
"Chanyeol,"
Panggilannya bersahut kesungguhan yang berbinar dipelupuk mata."Kenapa sayang?"
Kepala Baekhyun penuh akan ketakutan, kecemasan juga keraguan yang menumpuk menunda gadis itu dari apa yang ingin ia sampaikan dipertemuan yang menyedihkan ini,
"Aku ingin bercerai."
Park Chanyeol merasa bom atom baru saja jatuh diatas kepalanya, meski ia sudah menduga namun mendengar kata mengerikan secara langsung turut membawa efek yang mengerikan pada tubuhnya.
"Tidak,"
Rahangnya mengeras, irisnya menggelap. Park Chanyeol telah kehilangan kendali untuk dirinya.
"Apa yang terjadi diantara kita rumit dan aku tidak sanggup lagi, Yeol. Aku ingin bercerai."
"Berhenti Baekhyun."
Namun Baekhyun tak sadar dengan dimana dirinya berada, kemarahan yang mulai tersulut tak benar ia sadari."Pernikahan kita tidak terdaftar jadi tak ada satu hal pun yang perlu kita urus. Semoga kau bahagia. Aku pergi."
"Aku bilang berhenti Byun Baekhyun!"
Sahutan penuh kemarahan itu membuat langkah Baekhyun limbung, tercenung atas nada asing yang ia tangkap disana. Chanyeol tidak pernah berteriak semengerikan itu padanya. Sosok yang kini Baekhyun lihat begitu mengerikan dan mengingatkannya pada sosok Chanyeol yang menyiksanya malam itu.
"Kita tidak akan bercerai, kau tidak pergi kemana pun. Tidak akan pernah."
Satu langkah diambil dan wangi Chanyeol yang terhirup tajam adalah apa yang Baekhyun ingat sebelum segalanya menghitam.
.
I'll Walk You Home
.
Ada suatu titik saat Baekhyun kira itu adalah akhir dari hidupnya, saat Yifan pergi tanpa penjelasan dan berkata tidak ada perasaan yang tersisa. Namun setelah ia pikir kemudian, hidupnya tak benar-benar berakhir saat itu. Ia hanya terluka dengan sangat parah dan berakhir sembuh dengan bekas luka.
Pun pernah Baekhyun kira jika sebenarnya ia telah mati kala sang ayah menyerahkannya pada pria asing untuk dimiliki secara utuh.
Namun ternyata inilah rasanya sekarat, inilah rasanya mati. Ia bahkan nyaris tak bisa merasakan jari-jarinya sendiri, ia nyaris tak bernafas.
Cahaya menelusup dibalik celah tirai, ruangan itu masih hening dengan teralis besi yang mengelilingi seluruh celah jendela. Baekhyun terbangun dengan pusing mendera dan mengerang kala menemukan ruang geraknya terbatas, irisnya membola kala menemukan ia berada tempat asing.
"Sudah bangun sayang?"
"Chanyeol?"
Suaranya dipenuhi nada terkejut yang tak menyenangkan, dan Baekhyun dipaksa terhenyak dari tidur tak menyenangkannya kala menemukan sosok itu didepan mata.
"Ya. Ini aku Park Chanyeol, suamimu."
Bukan, sosok yang berdiri diujung jendela itu sama sekali bukan Park Chanyeol yang ia kenal. Pria dengan tatapan dingin itu begitu asing dan Baekhyun hanya pernah menemuinya sekali dimalam yang terasa bagai neraka dunia baginya.
"Aku mau pulang."
Baekhyun menyentak, mencoba melepaskan diri karena Park Chanyeol yang ini adalah Chanyeol yang harus ia hindari setengah mati. Namun si tinggi hanya tersenyum dingin dengan pandangan menusuk,
"Ini rumahmu sayang, kau mau pulang kemana?"
"Bukan, minggir Chanyeol. Biarkan aku pergi. Aku mau pulang!"
Tapi pria itu hanya mencengkram bahu dengan tenang lantas mendudukan si mungil diranjang mereka."Baek, dengar. Perempuan itu adalah Baixian, dia adalah ibu Kyungsoo dan dia sama sekali tidak ada hubungannya denganmu."
Tapi Baekhyun yang sudah terluka tak lagi dapat Chanyeol kendalikan dengan lidahnya yang manis."Pembohong," irisnya terguncang kesedihan mendalam,"Kau menjadikan aku bonekamu Chanyeol! Kau melakukan semua hal gila ini atas dendam mu pada perempuan itu! Kau menipuku! Kau bahkan mengatakan cinta padaku dan mengikatku sejauh ini hanya karena kau menganggapku sebagai perempuan itu!"
Jeritannya bahkan tak mampu membuat Chanyeol bergeming, pria itu hanya diam dengan pandangan tak terbaca namun cengkramannya tak sedikit pun mengendur. Diam-diam membuat Baekhyun meringis diantara ketakutannya yang menjadi-jadi.
"Baekhyun sayang," suaranya yang rendah mengantarkan nada menusuk yang dalam."Itu sama sekali tidak benar. Aku tidak menganggapmu sebagai Baixian. Kau adalah, Baekhyun. Baekhyunku yang manis. Jangan salah paham."
Air matanya mengalir deras, Baekhyun meluruh diatas lantai yang dingin kala cengkraman ditangannya terlepas. Jutaan sarafnya seakan berhenti bekerja kala kebohongan lain ia terima dengan nyata.
"Kau tidak menganggapku sebagai Baixian?" pandangannya rumit, Chanyeol bahkan tak bisa menangkap apa yang dimaksud gadis itu dibalik tanyanya. Namun geraknya begitu halus kala ia memilih turut meluruh bersama istri mungilnya diatas lantai dan mengenggam tangannya yang dingin.
"Tentu saja tidak, sayang."
Berikutnya tawa menyakitkan terdengar nyaring dan Baekhyun tak lagi mampu untuk menyembunyikan tangisnya yang menyakitkan.
"Kau bilang tidak tapi selama ini kau menganggapku sebagai jalangmu, Park Chanyeol! Kau membeliku dari ayahku! Kau bahkan membuntutiku bertahun-tahun! Kau membuat yifan pergi dariku dan kau juga yang membuatku sekarat! Lalu apa? Kau bilang kau mencintaiku? Kau sakit Park!"
Teriakan Baekhyun bersambut jeritan pilu kala rahangnya yang cengkram kasar juga hujaman tajam dari pandangan asing yang diberikan Chanyeol padanya."Dengar Baekhyun, aku tidak tahu darimana kau mendengar semua omong kosong ini. Tapi satu hal, ini adalah rumahmu dan kau tidak akan pernah bisa pergi dari sini. Jadilah anak baik dan jangan memancing kemarahanku."
Tubuhnya dicampakan kasar dan Baekhyun hanya bisa menangis keras atas kenyataan pahit yang harus ia terima.
"Park Chanyeol!"
Baekhyun masih belum menyerah dengan sisa hatinya yang tersisa."Bukankah kau bilang kau mencintaiku?"
Pria itu masih diam dibalik punggung dinginnya.
"Lalu kenapa kau masih menemui Kim Yejin?"
Debuman pintu yang menjadi jawab membuat Baekhyun sadar jika Park Chanyeol tidak pernah mencintainya. Pria itu hanya menjadikannya objek balas dendam tanpa tahu apa dosanya. Dan pada akhirnya, ia adalah si bodoh yang terlalu banyak berharap.
.
.
Sedangkan dibalik pintu Sehun ada disana menunggu dan melihat seberapa kacaunya Park Chanyeol yang kini hanya melamun kosong seolah tanpa nyawa. Wajahnya nampak sangat pucat dan karena itu Sehun memiliki banyak tanya dalam benak. Bukankah seharusnya iblis ini senang istrinya telah kembali?
"Apa yang ingin kau bicarakan Chanyeol? Bukankah seharusnya kau menerima penjelasan atas tiga minggu ini?"
"Baekhyun tahu semuanya. Dia tahu aku membuntutinya bertahun-tahun, dia tahu aku melenyapkan Yifan. Dia bahkan tahu aku menemui Kim Yejin. Bagaimana bisa dia tahu? Siapa yang lancang menghancurkan rencanaku?"
Pria itu jelas tengah meracau, Sehun yakin seratus persen. Bagaimana bisa Byun Baekhyun mengetahui rahasia gelapnya dengan begitu mudah?
"Chanyeol—"
"Oh Sehun bawa utuh-utuh Bian Baixian kehadapanku. Jalang itu akan segera menemui neraka yang ia buat sendiri."
.
I'll Walk You Home
.
Hari-hari berjalan lambat, Baekhyun masih tersekap ditempat yang sama dengan gorden tertutup dan tubuhnya yang meringkuk diatas lantai yang dingin. Menolak selimut hangat yang disediakan Park Chanyeol dan memilih memeluk tubuhnya sendiri. Bergelung menyembunyikan perutnya yang mulai membuncit seolah melindungi bayi itu dari kejamnya dunia.
Tubuhnya menirus dan wajahnya pucat, dimalam-malam yang sepi dia masih harus bergelut dengan mual yang mendera namun benar-benar bersyukur karena Park Chanyeol tak pernah menemukannya dalam keadaan seperti itu.
Pagi ini, kala Baekhyun terbangun ia mendapati tubuhnya masih terbaring diatas lantai yang dingin. Jauh berbeda dengan pagi sebelumnya kala menemukan tubuhnya terbaring diatas ranjang dengan selimut tebal. Apa Park Chanyeol tak datang semalam?
Tubuh meringkuk makin dalam, Baekhyun merasa begitu kedinginan meski yakin pendingin ruangan telah dimatikan. Dia memiliki masalah besar kala mual melejit hebat namun ia tak memiliki tenaga untuk sekedar bangkit.
Baekhyun menangis putus asa. Haruskah ia tetap hidup seperti ini? Sungguh ia tak sanggup jika harus seperti ini lebih lama. Baekhyun tak sanggup jika bayinya harus mengalami segala hal buruk seperti yang telah ia dapatkan. Ia tidak akan pernah rela jika bayinya terlahir seperti dirinya yang tak memiliki siapa-siapa.
Haruskah ia mati bersama bayi ini?
Pandangannya berubah kosong. Dengan sisa tenaga, ia mencoba beranjak dan menelisik sekeliling, pandangannya terhenti pada pantulan bayangannya didepan cermin besar sedangkan tangannya bergerak memutar mengusap perut.
"Sayang, maafkan Mommy. Sebentar lagi kita akan hidup bahagia, bersabarlah sedikit hm?"
Langkahnya tertatih, Baekhyun berusaha sekuat tenaga menggeserkan meja nakas untuk menghalangi pintu masuk. Mengabaikan lututnya yang bergetar dan pandangan memburam, gadis itu terus berusaha mendorong meja yang sebenarnya tak seberapa berguna tapi ia harus cepat.
Nafasnya putus-putus kala meja itu telah mengalangi pintu, senyumnya tersungging lemah. Lalu gadis itu berjalan kesudut ruangan, kearah vas kecil yang berisi mawa merah segar. Dengan sisa tenaga Baekhyun melemparkan benda itu kearah kaca dan pecahannya berhamburan seketika hingga melukai kakinya dan mengeluarkan darah.
Namun gadis itu tak gentar, langkahnya masih tersuruk lemah dan kala ia menemukan serpihan besar yang tajam, Baekhyun bersimpuh. Menangis tanpa suara karena rasa berdosa harus merenggut nyawa lain yang sangat berharga baginya. Namun semua ini harus tetap ia lakukan, ia tidak mau membiarkan bayinya lahir dan menderita. Semua siksaan ini harus diselesaikan sekarang juga.
Kala air matanya tepat jatuh diatas serpihan kecil, Baekhyun menutup matanya dan berbisik lirih seraya memeluk perutnya.
"Selamat tinggal, Park Chanyeol."
.
I'll Walk You Home
.
To be continue
.
.
.
Too much drama, yeah I know. Maaf kalo lanjutan lama dan makin jelek, mungkin akan end di chapter depan, so guys, kalo masih pengen dilanjutin mohon dukungannya.
