UNBREAKABLE PROMISE
.
Disclaimer : Karakter yang dipakai di dalam ff ini adalah milik Masashi Kishimoto
.
Original Story : Si Hitam
Written by : Valentinexxx, Si Hitam and JustNaruHinaAndKibaTamaLover
Editor : Si Hitam and JustNaruHinaAndKibaTamaLover
.
Warning : Rate M for the story containt
.
.
.
CHAPTER 1
"Ao, Chojuro, kita berhenti di sini dulu!"
Sebuah mobil limusin hitam mengkilat berhenti di depan sebuah taman bermain anak yang terletak persis di pinggir jalan raya.
Wanita berusia tiga puluhan turun dari dalam mobil. Kemeja putih berbalut jas kerja wanita dan rok span hitam melapisi tubuhnya. Sepatu highheels biru dongker menapak tanah, di tangannya ia menjinjing tas mewah berwarna senada dengan sepatu tersebut. Rambut panjang yang berwarna merah kecoklatan ia gelung sebagian ke atas.
"Ini minuman anda, Mei-sama."
Bodyguard bernama Choujuro menyerahkan sekaleng soft drink padanya sesaat setelah ia duduk di salah satu bangku taman.
Wanita bernama Mei Terumi itu mengambil minuman tersebut dan mengangguk singkat.
"Kalian boleh pergi."
"Tapi Anda ..."
"Aku baik-baik saja." Mei menyela ucapan Ao.
Ao adalah bodyguard yang lebih senior daripada Choujuro. Mukanya menampakkan raut khawatir akan kondisi nyonya besarnya ini.
Ao dan Chojuro saling pandang kemudian mengangguk. "Kalau begitu, kami akan menunggu di mobil saja, Mei-sama."
Sepeninggal bodyguardnya, Mei membuka kaleng minuman. Disesapnya minuman itu pelan. Ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Sekarang ia benar-benar suntuk. Pekerjaan yang tak ada habisnya membuat beban di otak semakin berat. Belum lagi masalah-masalah lainnya yang kapan saja bisa membuatnya depresi dan stres berat. Itu belum termasuk dengan sinyal-sinyal ketertarikan berpuluh-puluh pria tampan dan sukses dari bermacam sektor pekerjaan. Bahkan ada yang terang-terangan melamar dirinya. Bukan hal aneh karena sebagai wanita karir yang sukses, seorang Mei Terumi memang memiliki pesona kecantikan yang tak terkira. Tapi sungguh wanita ini tidak ingin diganggu dengan urusan asmara.
Beruntung ia rajin konsultasi dengan psikiater pribadi sehingga ia masih bisa mengontrol emosinya dengan baik.
Sekarang jam istirahat makan siang, Mei lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di tempat seperti ini. Sebenarnya ia ingin pulang ke rumah, pekerjaan setelah jam siang sudah ia serahkan pada anak buahnya, tapi saat melihat taman ini, tiba-tiba saja dirinya ingin singgah sebentar.
Matanya mengamati anak-anak berusia antara 5 sampai 7 tahunan bermain bersama di taman. Ia membayangkan jika saja ia dulu tidak keguguran, mungkin anaknya sudah seusia mereka. Mei tersenyum miris.
Benar, dirinya bukanlah gadis. Dia seorang wanita yang juga memiliki pengalaman tentang cinta, hanya saja Kami-sama tak menganugerahinya dengan akhir yang baik. Setelah diuji dengan keguguran sang jabang bayi, dua minggu kemudian, Mei harus menerima berita buruk kalau suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat.
Mei mengambil kotak kecil dari dalam tas, di dalamnya terdapat kalung dengan liontin berbentuk hati dengan berlian merah ruby kecil tergantung di bawah liontin. Ia membuka liontin itu, di sisi kiri liontin terdapat fotonya ketika masih remaja dulu dan di sisi kanan terselip foto suaminya yang juga masih muda. Ini adalah benda yang paling berharga baginya.
Dari semua hal yang diberikan oleh sang suami, hanya kalung ini yang sangat ia sukai. Jika melihat kalung ini, ia bisa mengenang kembali kenangan dengan suaminya. Ya, suaminya yang sudah lama tiada.
Drrtt ... drrtt ...
Mei menutup kembali kalung itu dan mengembalikannya ke dalam tas, ia ganti mengambil ponselnya yang berdering.
"Ada apa Konan?"
"..."
"Ya baiklah, siapkan semuanya di meja rapat. Lima belas menit lagi aku tiba."
Mei memutar matanya bosan. "Hhhh, Pak Tua itu seenaknya saja membuat jadwal," rutuknya.
Ia baru saja menerima telepon dari sekretarisnya bahwa CEO Raikage Corp dari Kumogakure tiba di kantornya dan sekarang sedang memaksa untuk memulai rapat kerjasama dengan semua dewan direksi untuk membahas pengadaan peralatan komputer ke Kumogakure. Mei Terumi adalah CEO perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknologi komunikasi. Tak hanya itu, ia juga memiliki perusahaan lain di bidang farmasi dan alat kesehatan. Hampir semua alat kesehatan di rumah sakit dan klinik yang tersebar di Konoha disediakan oleh perusahaannya, termasuk memasok berbagai macam produk obat-obatan.
Ia memasukkan ponselnya ke kantong jas. Meneguk habis minuman itu lalu membuang kalengnya ke tempat sampah. Berlalu menuju mobilnya di mana sopir dan bodyguardnya menunggu.
.
Mei tiba di kantornya. Sebuah gedung tinggi 40 lantai dengan arsitektur modern. Bagian atas gedung terdapat tulisan Mizu Corp dengan ukuran besar. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kantor, ia mendesah lelah. Ia bahkan belum ada satu jam keluar dari sini, berniat pulang namun mampir ke taman dulu untuk sejenak melepas penat, dan sekarang ia kembali lagi untuk mengurus proyek. Lagi?
Seluruh pegawai yang berpapasan di koridor dengannya menundukkan kepala hormat yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Mei. Di depan ruangan rapat ia melihat sekretarisnya yang memasang wajah gelisah namun berubah lega ketika melihatnya datang. Sekretarisnya membungkuk singkat lalu membukakan pintu untuknya.
"Berkas Anda sudah saya siapkan, Mei-sama," ucap Konan, sang sekretaris.
"Hm, ayo."
.
"Terima kasih atas kerja samanya, Terumi-san."
Pemimpin Raikage Corp itu menjabat tangan Mei setelah rapat kerjasama antara perusahaan keduanya.
Mei membalas dengan tersenyum simpul. Rapat hari ini berakhir cukup memuaskan. Tapi ...
"Maaf, Tuan A."
"Ah ya."
Raikage berinisial A terpaksa melepas jabat tangannya. Mei menatapnya dengan pandangan mengintimidasi padahal tidak sampai lima detik berjabat tangan.
Setelah rombongan dari Kumo pamit meninggalkan ruang rapat, Mei pergi ke ruangannya. Biasanya ia akan memandangi kalung pemberian suaminya, membuat rasa lelahnya berkurang jika seperti itu.
Mei pikir tasnya sudah diletakkan oleh bodyguard di ruangannya terlebih dulu karena tadi ia langsung pergi ke ruang rapat tanpa membawa tasnya. Namun ia tidak menemukan tas tersebut di meja. Ia meraih ponsel dari dalam jas dan menghubungi Chojuro.
"Chojuro, apa tasku masih tertinggal di dalam mobil?"
"Sebentar, saya lihat dulu."
"Hm."
Berselang satu menit, suara Choujuro terdengar lagi.
"Tidak ada, Mei-sama."
'Oh tidak!'
.
"Kalian sudah menemukannya?"
"Kami sudah berkeliling taman namun tidak menemukan tas anda, Mei-sama."
Lima orang bodyguard menunduk dengan wajah takut. Nyonya mereka sedang dalam keadaan terburuk. Bayangkan, Mei Terumi yang selama ini selalu pandai mengontrol emosi, kini tengah mengamuk. Dia tidak bertindak anarki dengan menghancurkan barang-barang di sekitar, tapi raut mukanya jelas terlihat sangat mengerikan.
"Hhhhh!"
Ini sudah yang ke sekian kali Mei mendesah dan memijit pelipis demi menahan emosinya agar tetap stabil. Hanya kehilangan tas saja, sudah membuatnya sampai seperti ini.
Mei panik, tasnya masih belum ditemukan. Ia sudah menyuruh bodyguard dan supirnya untuk memeriksa dalam mobil. Ia pikir ia meninggalkan tasnya di mobil, namun ternyata tidak ada. Lalu mereka kembali ke taman, bodyguardnya sudah memeriksa semua area, namun tidak menemukan tas yang dimaksud. Ia menggigit jari, pasalnya sebuah benda berharga tersimpan di dalam tas itu. Ia tidak mempermasalahkan bila tas atau isi dan dompetnya dicuri orang, tapi kalung itu? Ia tidak bisa tenang tanpa kalung itu.
Ia mendesah pasrah di dalam mobil setelah keluar dari taman yang ia kunjungi tadi. Ia memutuskan untuk pulang. Selama di perjalanan Mei nampak amat murung. Ao dan Chojuro pun merasa turut sedih dengan hal menimpa nyonya besar mereka, tapi mereka sadar kalau saat ini mereka tak bisa apa-apa. Nyonya besar bukanlah tipe orang yang akan sedih jika uangnya hilang, walaupun belum tahu pasti tapi kedua bodyguard itu yakin pasti ada hal lain di dalam tas itu yang membuat nyonya mereka jadi begini.
Hari masih siang, namun mentari sudah jauh condong ke barat. Sesampainya di depan Mansion, dari balik kaca mobil Mei melihat penjaga gerbang rumahnya sedang beradu argumen dengan seorang pemuda. Nampak kalau mereka tidak hanya beradu argumen, bahkan nyaris terjadi adu fisik.
Si penjaga gerbang sudah mengepalkan tinju, "Kau gelandangan cepat pergi dari sin-"
"Jugo, ada apa ini?"
Si penjaga gerbang bernama Jugo itu tersentak kaget. Segera ia menunduk pada bosnya.
"Gelandangan ini memaksa ingin bertemu Anda, Mei-sama." Jugo menunjuk pada pemuda pirang di depannya.
Jugo tidak dapat disalahkan. Lagipula, mana mungkin seorang gelandangan punya urusan dengan Mei Terumi?
Mei mengamati pemuda itu, lebih tepatnya anak remaja. Rambut pirang dengan mata biru, wajahnya terlihat kotor, pakaiannya pun sudah lusuh dan sobek sana sini. Meski begitu, Mei dapat menebak cukup akurat kalau anak laki-laki remaja di depannya ini berumur sekitar 15 tahun.
"Nyonya, apa Anda yang bernama Mei Terumi? Saya menemukan tas Anda di taman bermain."
Si remaja langsung bertanya tanpa memikirkan siapa wanita yang sedang jadi lawan bicaranya ini.
Mei melihat benda yang diulurkan pemuda itu padanya. Sekejap dikenali, tas biru tua itu memang miliknya. Pikirannya masih penuh dengan kalung peninggalan suaminya. Jadi buru-buru ia meraih tas itu dari si remaja kemudian memeriksa isinya.
Menghela nafas lega dengan bahu yang turun dan raut muka yang berubah cerah, Mei amat sangat bersyukur kalung miliknya masih ada. Bahkan setelah ia memeriksa isi tasnya, ternyata semuanya masih ada, lengkap tak kurang apapun.
Pekerjaan hari ini, termasuk kehilangan kalung yang menyebabkan dirinya panik, membuat Mei merasa sangat lelah. Ia ingin segera masuk ke rumah, mandi lalu istirahat. Jadi agar urusannya cepat selesai, ia mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya kemudian mengulas senyum pada anak laki-laki itu.
"Terima kasih. Ini untukmu. Ambillah!" Mei berucap sambil menyodorkan uang. Ia sangat berterima kasih pada anak laki-laki yang mau mengembalikan tasnya.
"Tidak perlu Nyonya, saya ikhlas. Kalau begitu saya permisi."
Mei tertegun, pemuda itu menolak imbalan. Tak disangka masih ada anak muda baik hati di jaman ini. Padahal kalau dilihat-lihat, kondisinya cukup memprihatinkan. Tubuh kurus dan baju compang-camping, persis seperti yang dikatakan Jugo kalau pemuda ini gelandangan.
Abaikan semua itu, yang jelas ia senang bisa menemukan kalungnya lagi. Ia pun masuk ke dalam mobil. Halaman mansion terlalu luas untuknya berjalan kaki dari gerbang ke pintu depan, apa lagi dia sedang kelelahan.
Di dalam mobil, Mei menggenggam kalungnya dengan perasaan senang. Tak dapat ia bayangkan kalau dirinya benar-benar kehilangan kalung peninggalan suaminya yang sangat berharga ini.
Ia jadi teringat anak remaja tadi. Ia berfikir, anak tadi sungguh baik. Walau dirinya sendiri sedang sulit tapi masih mau bersusah payah mencari alamat pemilik barang yang ditemukannya. Bahkan meski sudah dihalang-halangi oleh Jugo, ia tak menyerah dan ingin memastikan barang tersebut kembali kepada pemilik aslinya tanpa perantara.
Mei tersentak.
"Berhenti!"
Choujuro yang menyetir menginjak pedal rem cukup keras hingga ban mobil berdecit di tengah halaman mansion, cukup terkejut dengan perintah sang nyonya besar yang cukup keras.
Mei membuka pintu mobilnya sendiri, kemudian dengan tergesa berjalan ke arah gerbang.
"Jugo!"
"Eh ... M-mei-sama."
Si penjaga gerbang juga dibuat terkejut dengan tingkah bosnya ini. Ia mengira sudah masuk, tapi tiba-tiba saja ada di belakangnya ketika ia menutup lagi pintu gerbang.
"Kau lihat anak laki-laki tadi?"
Dengan wajah bingung Jugo menjawab, "Kurasa ia sudah pergi, Mei-sama."
Tak ingin membuang waktu, Mei segera keluar gerbang rumah yang belum tertutup sepenuhnya. Mengabaikan dirinya yang keluar rumah tanpa pengawalan bodyguard.
Ia menoleh sekeliling jalan di depan pagar mansionnya. Ketika menoleh ke kiri, matanya mendapati anak laki-laki yang ia cari tengah memeluk lutut. Bersandar pada dinding pagar rumah dan beralaskan kardus bekas yang mungkin saja diambilnya dari tempat sampah.
Terlihat sangat memprihatinkan, lebih dari cukup untuk menarik rasa iba dalam hatinya.
Mei berjalan mendekat. Ketika laki-laki itu mendongak, tatapan mereka bertemu. Binar kebingungan terpancar dari iris mata si remaja. Mei pun tersenyum mengulurkan tangannya.
"Kau terlihat menyedihkan, mau ikut bersamaku?"
"Tapi-"
Mei mengerti, tawarannya ini mungkin sangat aneh. Ia tersenyum lebih manis demi meyakinkan anak laki-laki di depannya.
"Ayolah, kau tidak perlu malu-malu. Apa kau sudah makan? Kau bisa ikut makan bersamaku. Anggap saja ini imbalan karena kau telah berbuat baik."
Si anak laki-laki terlihat menimbang-nimbang cukup lama dan akhirnya ia mengangguk. Mungkin rasa lapar di perutnya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi hingga terpaksa ia menahan malu.
.
Setelah membersihkan diri dan memakai baju pemberian Mei, pemuda itu duduk di meja makan bersama Mei.
Glukk.
Ia tak kuasa menahan air liurnya kala melihat hidangan lezat tersaji di meja.
"Makanlah, puaskan rasa laparmu," ucap Mei.
Ia makan dengan lahap sementara Mei di seberang meja mengajaknya mengobrol tanpa berniat melahap sesuap makananpun.
"Jadi namamu Naruto?"
"Iya, Nyonya." Naruto mengangguk.
"Panggil aku Mei saja. Omong-omong kau berasal dari mana, Naruto?"
"Saya dari desa di sebelah utara-uhuk!" Naruto tersedak.
Mei segera memberikan segelas air putih. Naruto meraih lalu meminumnya.
"Maafkan saya, Mei-sama. Sepertinya saya terlalu cepat makan hingga tersedak."
Naruto menggaruk belakang kepalanya kikuk. Tingkahnya terlihat cukup polos untuk anak laki-laki 15 tahunan tanpa meninggalkan sisi kesopanan. Jika saja sedang tidak kelaparan, pasti Naruto akan berkelakuan jauh lebih sopan.
"Tidak ... Tidak, ini salahku yang mengajakmu bicara padahal kau sedang makan."
Pada akhirnya mereka tertawa bersama.
Setelah acara makan, Mei mengajak Naruto ke ruang tengah. Naruto sedikit segan pada perlakuan Mei padanya. Ia hanya mengembalikan tasnya dan wanita itu memberinya makan yang lezat, baju bagus, bahkan ia yang hanya gelandangan diperbolehkan duduk di sofa empuk seperti sekarang.
"Jadi, ceritakan padaku dari mana kau berasal!"
"Saya dari desa di pinggiran utara Konoha, Mei-sama."
"Hmmm, terus bagaimana ceritanya kau bisa seperti, maaf, gelandangan."
"Tak apa, Mei-sama. Memang sekarang saya seperti gelandangan di kota ini. Begini ceritanya."
.
~Flashback~
Naruto menginjakkan kakinya di lantai stasiun. Akhirnya ia tiba di pusat kota Konoha. Berawal dari keinginannya untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga pasca Minato, ayahnya, diPHK dari pekerjaannya sebagai buruh kebun di desa akibat kerugian perusahaan karena gagal panen. Serta kondisi Kushina, sang ibu, yang sakit-sakitan. Naruto memutuskan untuk coba mencari peruntungan di pusat Kota Konoha. Berbekal ijazah SMP legalisir yang baru ia terima kemarin, ia memantapkan langkah keluar gerbong kereta kelas ekonomi yang mengantarnya.
Awalnya sang ibu melarang Naruto pergi karena ia masih terlalu kecil untuk bepergian jauh bahkan bekerja, tapi bagaimana pun ini sudah menjadi keputusannya.
Ia adalah anak satu-satunya dan ia tidak ingin membebankan semuanya pada orang tua. Ia ingin mandiri mulai sekarang. Ia akan mencari uang yang banyak agar bisa meringankan beban keluarga, dan membiayai pengobatan ibunya hingga sembuh. Ya, pemikiran sederhana anak remaja yang belum genap berusia 15 tahun seperti dirinya.
Naruto keluar area stasiun, peluh membasahi dahinya. Rasa-rasanya cuaca di kota jauh lebih panas dari pada di desanya. Merasa tas yang dibawa berat, ia meletakkannya di samping pot besar berisi pohon bonsai di area luar stasiun.
Ia mengambil lembaran uang yang disimpan di kantung tas. Menghitungnya sebentar dan menimbang-nimbang apa yang akan ia beli untuk makan siang kali ini. Ia melirik sekitar, melihat pedagang onigiri keliling tak jauh dari tempatnya beristirahat.
Naruto menikmati onigiri berukuran sedang dengan lahap meski hanya sepotong dan sebenarnya tak cukup untuk mengganjal perutnya yang kosong. Ia sedikit haus, celingak-celinguk mencari keran air, namun tidak menemukannya di sekitar sini.
"Maaf Ji-san. Apa Ji-san tahu kamar mandi sekitar sini?" Naruto bertanya pada seorang pria paruh baya yang ia tak sengaja berpapasan dengannya.
"Kamar mandi umum ada di dalam stasiun, Nak. Masuk saja dan belok kiri, di ujung koridor ada kamar mandi."
"Terima kasih, Ji-san."
Naruto membungkuk lalu berlari kecil memasuki gedung stasiun. Ia haus, dari pada mengeluarkan uang untuk membeli minum, lebih baik ia minum air kran saja. Tanpa menyadari ia melupakan tasnya yang masih bersandar di samping pot luar area stasiun.
"Hah segarnya ... Tapi aku harus segera mencari tasku."
Naruto keluar dari kamar mandi, mengusap wajahnya yang basah karena ia sekalian membasuh wajah tadi. Seingatnya ia membawa handuk kecil di dalam tas. Melihat gantungan kamar mandi ia tidak melihat tasnya. Saat itulah ia baru ingat bahwa ia meninggalkan tasnya di luar.
Dengan tergesa-gesa ia menuju tempat pertama tadi, namun tak menemukan tasnya di manapun. Ia menumpukan tangan pada kepala dan meremas rambutnya sendiri.
"Oh siaaaaal!"
.
Hingga beberapa hari kemudian.
Naruto duduk di sebuah taman, ia cukup lelah hari ini. Setelah kemalangan yang menimpanya saat ia baru tiba di kota ini beberapa minggu yang lalu, ia benar-benar baru mengerti betapa kerasnya kehidupan di kota.
Tas hilang berikut dengan uang. Karena tak memiliki apapun, ia bahkan tidur di emperan toko-toko tiap malamnya. Jika pagi ia mencari pekerjaan seadanya. Pernah ia membantu menjadi penjual koran di lampu merah, bahkan menjadi kuli panggul di pasar yang berselang beberapa menit ia dimaki oleh sang pemilik karena tidak becus bekerja. Tentu saja Naruto yang masih kecil tidak kuat mengangkat karung yang berat mengakibatkan karung beras itu jatuh dan beras tercecer karena karungnya robek.
Naruto menghela nafas, berusaha tidak meratapi nasibnya lebih lama. Ia masuk ke dalam sebuah taman bermain kecil di pinggir jalan. Setidaknya ia masih bisa menemukan makanan sisa di tempat-tempat sampah yang bisa ia makan untuk hari ini. Sekarang sedang teriknya siang hari, sudah kelaparan, haus pula.
Naruto menatap lurus pada taman di depannya, ia mengernyit kala melihat benda biru tergeletak begitu saja di sebuah bangku taman. Ia mendekat dan dilihatnya tas biru tua di bangku. Ia melirik sekitar, tidak ada seorang pun di dekat bangku ini.
Matanya terbelalak ketika melihat isinya. Ada dompet yang terlihat penuh. Ketika mengintip lagi, ia melihat benda berkilau memantul dari dalam kotak kecil yang terbuka. Ditariknya benda berkilau itu. Sebuah kalung berbandul hati yang sangat cantik. Ia membawa tas itu ke sebuah gang sempit, memastikan keadaan aman karena takut seseorang memergoki dan menuduhnya membongkar tas hasil menjambret.
Kalung berlian itu terkesan vintage namun tetap terlihat mewah.
'Kalau dijual pasti harganya mahal,' pikirnya.
Ia menggeleng, mengenyahkan pikirannya yang mulai negatif. Ia meraih dompet yang ada di dalam. Terdapat lembaran uang ratusan ribu yen dan beberapa kartu ATM dari berbagai jenis bank yang tersebar di Jepang. Ia tak sanggup membayangkan betapa kayanya pemilik tas ini. Jika ia mengambil selembar uangnya, mungkin pemiliknya tidak mempermasalahkan.
Tidak! Tidak! Tidak!
Ia menggeleng lagi. Perut lapar membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Namun ia masih bisa mengingat apa yang dikatakan sang ibu.
'Naruto, kita memang miskin. Namun, walau kita sedang susah sekalipun, jangan pernah berpikiran untuk mengambil apa yang bukan menjadi hak kita. Kau anak baik, kan?'
Ia meneliti kembali isi dompet biru itu dan menemukan sebuah kartu nama berisi alamat dan nomor kontak.
"Jalan Konoha – Hi blok M nomor 7, Mizukage Mansion," gumam Naruto.
"Aku harus mengembalikannya," ujarnya kemudian.
~Flasback End~
.
"Aku tidak menyangka. Kau yang masih kecil ini sudah mengalami nasib sebegitu buruk."
Naruto jadi malu, ia menunduk. "Yah, begitulah. Tiap orang pasti punya nasib buruk masing-masing, bukan saya saja. Itu pun cukup untuk membuat saya masih bisa menghargai hidup."
Mei merasa kagum, tak dia sangka anak kecil di hadapannya ini sangat tegar menghadapi hidup. Dirinya juga pernah memiliki nasib buruk, tapi membutuhkan bantuan psikiater untuk terus melanjutkan hidup. Sedangkan anak ini hanya punya dirinya sendiri.
Mengindahkan pikiran sentimentil itu, Mei mengalihkan obrolan ke topik lain. Mumpung saat ini ia tidak dibebani pekerjaan, jadi ia ingin bicara lebih banyak dengan anak laki-laki yang cukup banyak menarik perhatiannya.
"Maaf kalau aku bertanya terlalu jauh. Emmm, kau masih punya orang tua, Naruto?" Mei tampak sedikit ragu menanyakan ini, tapi keingintahuannya begitu besar.
"Iya, ada."
"Huh?" Mei terkejut. "Lalu kenapa kau pergi ke kota?"
Meski enggan, akhirnya Naruto menceritakan bagaimana kondisi keluarganya. Ayahnya, pekerja buruh perkebunan yang baru saja di PHK karena perusahaan sedang krisis dan ibunya yang sakit-sakitan. Ia ingin sekali membantu kedua orang tuanya. Kehidupan ekonomi yang sulit membuatnya nekat pergi ke kota, namun yang ada malah hidupnya sendiri yang sangat susah.
Mei tidak bisa untuk tidak terharu dengan kisah anak laki-laki di depannya. Ketegaran menghadapi kerasnya cobaan hidup dan kebaikan hati Naruto pada sesama membuat hatinya tersentuh.
Merasa sudah cukup dengan obrolan ini, Mei mengakhirinya. "Malam ini menginaplah di rumahku, besok pagi aku akan mengantarmu pulang ke desa."
Tentu Naruto terkejut, ia tegas menolak. Ia hanya akan pulang kepada orang tuanya jika sudah membawa hasil, berapapun itu.
Dengan sedikit keberanian serta menurunkan harga diri, Naruto membuat keputusan cepat.
"Tolong jangan pulangkan saya! Ka-kalau boleh, biarkan saya bekerja pada Anda, Mei-sama. Saya bisa bekerja apa saja. Asal jangan pulangkan saya kembali ke desa."
Mei menggeleng cepat, "Aku tidak bisa mempekerjakan anak di bawah umur."
Keputusan Mei tidak bisa diganggu gugat. Meski kecewa, Naruto berusaha agar tidak menunjukkan kekecewaan di wajahnya. Ia sudah sangat berterima kasih atas makanan dan pakaian yang diberikan Mei dan tidak ingin berlaku tidak sopan.
"Sekarang kembalilah ke kamarmu!" Mei berucap.
Tanpa membantah, Naruto berjalan kekamar tamu yang disediakan Mei untuknya.
Mei memandang punggung Naruto dari belakang dan mengamati anak laki-laki itu ketika ia menaiki tangga satu demi satu. Ia mengingat apa yang diceritakan Naruto tentang orang tuanya, ibunya yang sakit-sakitan butuh biaya untuk berobat hingga ia nekat pergi ke kota. Ia tidak bisa menerima Naruto untuk bekerja di sini namun ia punya satu rencana yang mungkin jauh lebih baik bagi Naruto nantinya.
.
Perjalanan yang memakan waktu hampir setengah hari akhirnya membawa Mei dan Naruto tiba di desa. Selama perjalanan, Naruto lebih banyak diam.
Pagi tadi, Naruto masih dengan pendiriannya tidak ingin pulang tapi saat Mei memaksanya, ia tak punya kuasa untuk menolak.
Wanita itu menggunakan aura alaminya sebagai pengintimidasi kuat, membuat siapapun bertekuk lutut di kakinya. Termasuk Naruto yang masih remaja ini.
Bukan karena Naruto takut terhadap wanita itu, tapi karena pendirian yang ia pegang saat pergi ke kota diruntuhkan dalam sekejap oleh ucapan Mei.
Naruto berpikir, seperti ibunya saat masih sehat, maka Mei pun bisa sama mengerikannya.
Setelah mobil berhenti di ujung jalan berbatu, mereka turun.
Mei mengikuti langkah Naruto menuju sebuah rumah kecil. Halamannya minimalis dan asri. Kondisi rumah nampak tidak begitu baik, jendela kaca ada yang pecah dan hanya ditambal dengan lakban serta pintu yang sudah usang. Dinding bata pun hanya bagian depan rumah saja. Bagian samping semua terbuat dari dinding kayu yang tampak rapuh.
Tok ... Tok ...
Krieet
Minato membuka pintu, ia terkejut melihat sang putra berdiri di depannya, segera ia memeluk anaknya dengan erat.
"Naruto, kau pulang, Nak."
"Tadaima, Tou-chan." Naruto balas memeluk ayahnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, aku dan ibumu sangat mengkhawatirkanmu, kau tahu?"
Minato melerai pelukannya, "Ayo masuk, ibumu pasti senang," ajak Minato sambil menggandeng tangan putranya.
"Tunggu Tou-chan, ada yang ingin Naruto kenalkan"." Seorang wanita muncul dari belakang punggung Naruto. Minato memandang Naruto dan wanita itu bergantian dengan pandangan bingung.
"Dia sudah sangat membantuku selama di kota, Tou-chan."
"Terima kasih-"
"Mei Terumi," ucap Mei cepat.
"Terima kasih Terumi-san sudah banyak membantu Naruto. Perkenalkan, saya Namikaze Minato. Dia tidak merepotkan Anda, kan?"
Mei mengangguk dan tersenyum. "Tidak masalah, Namikaze-san. Malah aku sangat berhutang jasa padanya."
"Ah iya. Kalau begitu, mari masuk."
Ketiganya pun masuk ke rumah.
Minato, laki-laki paruh baya berusian 40 tahunan ini berbalik sejenak pada tamunya, "Maaf kalau tidak nyaman, begini lah kondisi rumah kami."
"Tak perlu memikirkan itu, Namikaze-san."
Setelah berbincang sebentar di ruang depan, tiba-tiba terdengar suara panggilan pilu dari arah kamar.
Segera Minato menuju sumber suara diikuti oleh Naruto dan Mei Terumi.
Di atas ranjang yang lapuk, Kushina terbaring dengan mata terpejam. Perempuan berambut merah itu mungkin baru saja mengigau.
Naruto mendekat ke sisi ranjang.
"Kaa-chan."
Kushina terbangun karena suara putranya. Pelan-pelan ia membuka mata. Naruto segera menghambur memeluk sang ibu. Kushina mengelus helaian pirang sang putra dengan sayang.
"Okaeri Naruto, Ibu sangat mengkhawatirkanmu."
"Tadaima, maafkan aku tak mengabarimu selama ini."
Naruto makin menenggelamkan wajahnya pada leher ibunya. Ia ingin menangis melihat kondisi ibunya yang semakin parah.
"Ya ya ya. Saat melihatmu sehat seperti ini di depan mataku, semua kekhawatiran Kaa-chan lenyap begitu saja."
Seterusnya, pasangan ibu dan anak berpelukan makin erat, melepaskan dahaga kerinduan mendalam yang memenuhi relung hati.
Lama seperti itu, akhirnya Minato angkat suara.
"Kushina, ada seseorang yang harus kau sapa."
Kushina melepas pelukan pada anaknya dan mengernyit kala melihat seorang wanita di sebelah kanan suaminya.
"Dia Mei Terumi, dia yang telah menolong dan mengantar Naruto pulang," kata Minato menjawab raut kebingunan Kushina.
Kushina mencoba mengubah posisinya menjadi duduk, Mei pun mendekat dan duduk menggantikan posisi Naruto. Kushina menggenggam tangan Mei erat. "Terima kasih, terima kasih," ucapnya berkali-kali dengan derai air mata.
Kushina tak tahu seperti apa, tapi ia merasa bahwa selama di kota, putranya menjalani hidup dengan sulit. Kekhawatiran itulah, yang mebuat sakitnya makin parah hingga saat ini ia hanya bisa berbaring di atas ranjang tanpa bisa melakukan apapun.
"Akulah yang harus berterima kasih. Kalian mendidik Naruto dengan sangat baik hingga ia menjadi anak yang baik pula."
Minato dan Kushina memandang Mei penuh tanya. Mei kemudian menceritakan semua yang terjadi hingga ia datang ke sini.
Mei menarik nafas dalam, lalu bergiliran menatap suami istri itu. Raut wajahnya penuh keyakinan. "Baiklah, aku akan mengatakan tujuanku kemari. Kushina-san, Minato-san, kumohon ikutlah bersamaku ke kota. Naruto masih terlalu muda untuk bekerja, jadi aku memutuskan ingin menanggung semua pendidikannya. Kushina-san juga, aku akan menanggung biaya pengobatanmu sampai sembuh."
Sontak ketiga anggota keluarga itu pun terkejut. Terlebih Naruto. Ia tidak menyangka bahwa Mei berpikiran sampai sejauh itu.
Dan tahun-tahun selanjutnya adalah hal yang tak pernah diduga oleh Naruto.
.
Mei Terumi benar-benar menepati ucapannya. Naruto didaftarkan di sebuah sekolah menengah bertaraf internasional yang ada di Konoha. Sang ibu, Kushina juga diobati di bawah pengawasan dokter spesialis profesional. Sebagai rasa terima kasih, Minato yang sedang tak memiliki pekerjaan dan tak ingin berdiam diri meminta pada Mei agar dirinya dipekerjakan.
Sebenarnya Mei sudah memiliki cukup banyak anak buah, termasuk bodyguard dan maid di rumahnya. Tapi karena ingin menjaga harga diri Minato, ia membiarkan laki-laki paruh baya itu bekerja di rumahnya sebagai tukang kebun. Ya, cukup tepat karena sebelum ini Minato bekerja sebagai buruh perusahaan perkebunan.
Satu tahun berikutnya, akhirnya Kushina sembuh total. Kushina juga ikut mengabdi bersama suaminya di mansion milik Mei sebagai balas jasa. Meski sembuh, namun tubuhnya tidak benar-benar fit sebagaimana ibu usia 40 tahunan. Kondisi yang lemah membuatnya tak bisa membantu banyak. Namun, sifatnya yang ramah dan periang membuat suasana di mansion milik Mei menjadi lebih berwarna.
Dua tahun setelah sang ibu sembuh, Naruto lulus dari SMA dengan nilai sempurna. Mei tahu Naruto jenius, itulah sebabnya ia berencana mengirim Naruto untuk kuliah di luar negeri. Naruto memiliki potensi besar karena kecerdasannya. Dan yang terpenting, Naruto adalah anak yang jujur. Mei berpikir, mungkin suatu saat nanti ia bisa mengandalkan Naruto sebagai seseorang yang ia percayai.
.
"Semua sudah lengkap?" Mei mengamati Naruto yang sedang menutup kopernya dari pintu kamar.
"Sudah, Mei-sama."
"Ayo segera ke bawah! Ayah ibumu menunggu."
"Hai."
Ini adalah hari Naruto pergi ke luar negeri untuk kuliah. Jurusan managemen bisnis di Amerika adalah pilihannya dan sangat disetujui oleh Mei.
"Kaa-chan, Tou-chan, baik-baiklah di sini." Naruto memeluk kedua orang tuanya.
"Berjanjilah kau juga baik-baik di sana Naruto," ucap Kushina.
"Pasti. Aku berjanji, Kaa-chan!" Naruto mengepalkan tangan dan meninjukannya pada dadanya sendiri. Simbol bahwa ia berjanji akan baik-baik saja.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya dan juga Mei, Naruto melambaikan tangan pada ketiganya dari balik mobil yang mengantarnya ke bandara. Dari jauh ia masih bisa mendengar sang ibu berteriak, "Jaga dirimu!"
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat. Setelah 4 tahun kuliah, Naruto menjadi lulusan terbaik di kampusnya dengan segudang prestasi serta mendapat predikat summa-cumlaude karena IPK-nya yang sempurna. Beberapa hari kemudian Mei datang menyusul Naruto ke Amerika dan memutuskan bahwa Mei menyerahkan sepenuhnya kendali salah satu cabang perusahaannya pada Naruto. Naruto resmi diangkat menjadi General Manager cabang perusahaan Mei yang ada di Amerika.
"Kau menikmati pestamu?"
Naruto menoleh pada suara di belakangnya. Dilihatnya Mei yang memakai gaun hitam berkilauan mendekat.
"Ya, saya sangat menikmatinya."
Mei tersenyum. "Baguslah, nikmati pesta kecil ini!"
"Pesta kecil yang berlebihan, Mei-san," sambung Naruto.
Mei tertawa renyah. Dipandangnya wajah Naruto yang kini tampak dewasa. "Ini sepadan dengan hasil yang kau berikan padaku," ucapnya.
.
Tiga tahun pun berlalu sejak lulus kuliah. Sekarang usia Naruto hampir menginjak angka 25.
Naruto telah berusaha keras menjadi pemimpin yang baik. Para klien dan investor mengagumi cara kerja dan kepribadian Naruto sebagai pemimpin perusahaan. Dalam dua tahun saja, Naruto sukses membuat perusahaan di bawah naungannya itu berkembang pesat. Ia menjadi pimpinan teladan bagi bawahannya, pebisnis handal di mata kliennya, serta lawan yang disegani oleh para rivalnya.
Sebagai eksekutif muda, prestasinya yang membanggakan membuat fotonya terpampang di cover majalah bisnis ternama tingkat dunia.
Naruto mematikan laptop di meja kerjanya. Gurat lelah nampak terlukis di wajah. Melirik ke samping, ia melihat pigura kecil berisi foto dirinya yang di rangkul Mei dan diapit oleh ayah dan ibunya.
Seperti sebuah keluarga. Benar, Mei seperti anggota keluarganya sendiri. Walau hingga sekarang, Naruto masih kesulitan untuk menentukan sosok anggota keluarga yang bagaimana Mei itu. Ibu bukan, kakak pun bukan. Sulit memikirkannya, yang jelas Naruto memiliki perasaan sayang yang kuat terhadap wanita itu sebagaimana pada ibunya sendiri.
Juga rasa terima kasih yang teramat besar karena telah berjasa mengubah hidupnya dari yang bukan siapa-siapa menjadi seperti sekarang ini. Kehidupan bergelimang harta, pangkat dan jabatan, namun ia yakin dirinya tidak tenggelam dalam hal-hal keduniawian seperti itu.
Termasuk tentang wanita yang seperti tak pernah berhenti berlomba-lomba mengelilingi dirinya dan memikatnya dengan berbagai macam upaya saat ia sudah sukses seperti sekarang ini. Namun ia tak pernah menanggapi itu, baginya tak ada perempuan lain di pikirannya saat ini selain ibunya yang nomor satu, Mei Terumi, serta seorang lagi dari masa lalunya.
Naruto menerawang, ia tentu masih ingat ketika Mei menawarinya menjadi CEO untuk menangani semua perusahannya. Padahal seingatnya dulu Mei hanya menjadikannya General Manager untuk cabang Amerika, namun sudah hampir satu tahun ini wanita itu memberinya kepercayaan penuh untuk menangani semua perusahaan multinasional miliknya. Mengangkatnya sebagai CEO yang berkuasa penuh atas semua perusahaan milik Mei. Sedangkan Mei Terumi sendiri berkata kalau dia ingin perlahan mundur dari dunia karir dan ingin menikmati sisa hidup.
.
Naruto POV
Saat itu, Mei-san berkata padaku, bahwa ia mempercayaiku hingga tanpa ragu memberikan jabatannya sebagai CEO. Ia bilang ingin bersantai saja tanpa perlu memusingkan soal perusahaannya. Waktu itu aku sedikit meragukan kemampuanku. Namun pernyataan Mei-san yang mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayai seketika membuatku percaya diri dan menerima jabatan itu.
Aku tersenyum kecil, mengingat kembali segala hal yang dilakukan Mei-san hingga aku bisa seperti sekarang ini. Tidak pernah aku duga sebelumnya, aku yang dulu menjadi gelandangan dan sering duduk di emperan toko kini duduk di kursi kebesaran perusahaan. Mei-san benar-benar mengubah duniaku yang kelam menjadi penuh cahaya.
Tou-san dan Kaa-san juga mengatakan hal yang sama. Mereka dengan senang hati mengabdi pada Mei-san karena bagaimanapun berkat dialah Kaa-san bisa sembuh seperti sekarang. Seperti halnya Kaa-san dan Tou-san, aku juga akan mengabdi padanya, memegang semua kepercayaan Mei-san padaku. Selama hidupku aku akan terus bersamanya dan tidak akan mengkhianatinya.
Lamunanku kembali berlanjut pada saat-saat lalu ketika aku masih di Konoha.
~Flashback~
Mataku melirik ke arah jam kecil di atas meja kerjaku. Sedikit membelalak saat ternyata jarum pendek telah mengarah pada angka 6. Satu sentakan membuat tubuhku nyaris terjungkal. Aku terbangun dengan cepat dan segera merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kemudian menyambar tas hitam yang ada di kursi.
Mulutku terus merutuk sepanjang perjalanan keluar ruangan bahkan hingga aku tiba di lift. Merasa panik karena seharusnya malam ini aku segera kembali ke rumah setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Bukannya melamun dan menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu. Hari ini adalah hari ulang tahun Kaa-san dan kami telah bersepakat untuk mengadakan perayaan sederhana di dalam rumah. Tentu saja ide ini tidka sepenuhnya datang dariku, melainkan dari Mei-san.
Wanita itu benar-benar baik. Aku tidak menyangka jika di jaman seperti saat ini, ada sosok malaikat berhati mulia seperti dirinya. Di mana sebagian besar orang lebih memilih menumpuk kepingan harta untuk dirinya sendiri. Di mana mereka lebih peduli pada gaya hidup ketimbang mendermakan sebagian miliknya untuk orang yang membutuhkan. Aku benar-benar mengagumi Mei-san.
Suatu ketika Kaa-san jatuh sakit, Mei-san memilih tinggal di rumah dan merawatnya. Tak ada secuilpun rasa terbebani karena ia telah melayani kami. Tak setitikpun gurat kecewa menghiasi wajahnya saat ia dengan setia menunggu tubuh rapuh Kaa-san yang terbaring di ranjang. Wanita dari kalangan atas itu dengan telaten merawat Kaa-san, membuat kami semua terpana akan kebaikannya yang seakan tidak terbatas.
Terlalu lama melamun, aku baru menyadari jika saat ini telah sampai di depan gerbang mansion. Secepat mungkin aku memasukkan mobil dan memarkirkannya. Tanpa memperhatikan langkah kaki, aku mulai berlari memasuki rumah dan mendapati ruang keluarga yang telah didekorasi dengan meriah. Pita dan balon digantung di dinding dan atap. Beberapa meja dan kursi disingkirkan hingga ruangan ini terlihat lebih luas. Di bagian tengah terdapat sebuah meja besar dengan kue ulang tahun yang tingginya hampir mencapai pinggangku. Aku tersenyum takjub, tak menyangka jika akan semeriah ini Mei-san mempersiapkan segalanya untuk Kaa-san.
"Naruto ..."
Aku membalikkan badan dan menatap wanita yang entah mengapa malam ini terlihat cantik sempurna. Bibir merahnya memasang senyuman manis khas wanita dewasa.
"Kau pasti lapar. Mau makan dulu? Atau kita buka acaranya dulu?"
"Kita buka saja dulu, Mei-san. Nanti kita bisa makan sama-sama."
Mei-san mengangguk kemudian menggandeng tangan dan menarikku ke tengah ruangan. Malam itu kami merayakan ulang tahun Kaa-san dengan penuh kebahagiaan. Bukan hanya Kaa-san, Tou-san dan aku yang menampilkan roman bahagia. Bahkan Mei-san tak henti-hentinya tersenyum sepanjang acara. Sekali lagi, aku berterimakasih kepada Kami-sama yang telah mengirimkan malaikatnya di kehidupan kami.
~Flashback end~
.
.
.
"Terima kasih, Naruto-sama."
Wanita dengan setelan kerja yang modis itu langsung mengambil kembali berkas yang baru saja ditandatangani oleh pria di hadapannya.
"Sudah kubilang berkali-kali kan, jangan bersikap formal padaku saat begini, Sakura-chan!" Pria itu langsung melotot pada lawan bicaranya.
"Tehee. Kau sendiri yang terlalu serius, Naruto. Sepuluh menit aku hanya diam dan berdiri menunggumu selesai membaca berkas, pegal tahu!"
"Argh, terserahlah. Aku pusing!"
"Makanya, jangan lembur terus. Sekali-kali kau harus ikut kami hangout, clubbing kek, atau minum-minum."
"Dan kau pikir aku punya waktu untuk itu, -ttebayou?"
"Iya iya deh, bos yang super-duper sibuk."
"Tch!"
"Ahahaha.." Sakura, wanita yang dikenal perfeksionis itu kini tertawa lepas tanpa beban. Wajar saja. Mereka adalah sahabat lama sejak masih di sekolah menengah atas.
Selama tiga tahun mereka berdua ada di kelas yang sama, sebelum akhirnya mereka lulus dan berpisah. Naruto pergi untuk melanjutkan studinya di Amerika, sedangkan Sakura di London. Sakura sendiri adalah putri seorang jaksa terkenal di Konoha. Namun ketimbang bergelut di ranah hukum seperti sang Ayah, Sakura lebih tertarik dengan dunia bisnis.
Hingga dua setengah tahun yang lalu, saat Naruto sudah menjadi GM di perusahaan cabang Amerika, tanpa sengaja ia bertemu Sakura dan menawari gadis musim semi itu pekerjaan di perusahaannya.
Sebagai seorang atasan dengan bawahan, hubungan mereka benar-benar dekat. Saking dekatnya, publik sering kali mengartikannya lain. Namun, mereka benar-benar hanya sahabat, lagipula Naruto tahu bahwa Sakura sudah memiliki tunangan.
"Sakura-chan, lebih baik kau keluar dari ruanganku. Suara tawamu itu menyakitkan telingaku, -ttebayou!"
Duagh
"Ahh!" pukulan sayang pun mendarat di kepala Naruto.
"Sembarangan! Suaraku itu merdu, tahu!"
Naruto masih saja mengusap-usap kepalanya yang sakit, sedang sang pelaku penjitakan—Sakura—melengos begitu saja, tidak peduli.
"Serius, Naruto. Kurasa kau harus ikut kami hangout, daripada makin stress."
"Tidak mau!"
"Ino-chan berkata padaku, ada banyak wanita cantik yang akan ikut berkumpul nanti."
Ino Yamanaka, blasteran Jepang-Turki, sahabat Sakura ketika kuliah di London juga bekerja di perusahaan ini sejak satu tahun lalu sebagai Manajer Pemasaran. Karena itulah Naruto juga cukup dekat dengan Ino meski sebenarnya ia tidak terlalu menyukai gadis itu.
"Aku tidak peduli!" sanggah Naruto cuek. "Di dalam hidupku, hanya ada tiga perempuan yaitu—"
"—Kaa-chan, Mei-sama, dan gadis kecil dari masa lalu." potong Sakura.
"Dari dulu kau selalu bilang begitu, mau sampai kapan, huh? Lama-lama kau akan jadi perjaka tua karena ideologimu itu."
"Biarin." Naruto memeletkan lidah.
"Mau kujitak lagi, huh?"
Sakura menghela nafasnya, lelah berdebat dengan bos kuningnya ini.
"Hei, Naruto"
"Apa -ttebayou?"
"Aku penasaran, siapa sih sebenarnya yang kau maksud dengan gadis kecil dari masa lalu itu? Dari pertama kali kita kenal sampai sekarang kau sama sekali tak pernah bercerita sedikit pun padaku. Aku ini sahabatmu atau bukan?"
"Haha, sesukaku dong." Sakura memejamkan kedua matanya. Sudah menduga jawabannya akan seperti itu. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan.
"Ya sudah. Aku pergi."
Brakk!
Sakura membanting pintu ruangan itu. Tak peduli dengan tatapan heran karyawan lain yang melihatnya. Biarlah mereka berpikir kalau 'Naruto-sama bertengkar dengan Sakura-sama, cinta mereka akan kandas, dan lain sebagainya', ia tak perduli. Sudah cukup dirinya dibuat penasaran dengan rahasia sahabatnya itu. Mulai detik ini, ia takkan peduli lagi.
Sementara itu, di dalam ruangan Naruto tampak tidak terlalu memusingkan perbuatan Sakura. Ia masih saja menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaaannya.
Drrtt Drrtt
Dering ponsel pintar di atas meja mengusik ketenangannya. Ia pun menatap kesal layar ponsel tersebut. Seketika raut wajahnya berubah kala membaca nama si pemanggil. Segera ia angkat panggilan telepon itu.
"Moshi-moshi, Kaa-chan."
"Hei, Baka! Lama sekali kau mengangkat telepon ibumu!"
Keringat jatuh turun di pelipisnya. Padahal ia hanya telat beberapa detik, sudah dimarahi seperti itu. Tapi ia bersyukur, ibunya kembali ceria semenjak sehat.
"Maaf. Aku sedang sibuk kerja."
"Ohh, jadi kau lebih mementingkan pekerjaan daripada ibumu sendiri, -ttebane?" Naruto menepuk jidatnya, wanita memang tidak pernah mau kalah.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Yah, tadi aku terkejut waktu menerima telepon dari Kaa-chan yang sangat aku rindukan. Saking senangnya aku melompat-lompat di atas kursi hingga hampir lupa mengangkat, ehehe," kilah Naruto.
"Ah, ya. Bagus, anak baik memang harus selalu merindukan ibunya."
"Tentu. Oh iya, Kaa-chan. Tou-chan ada di situ juga?"
"Sebentar."
Sesaat kemudian, smartphone Naruto memunculkan notifikasi untuk mengubah panggilan suara menjadi panggilan video. Ibunya memang cepat belajar menggunakan gadget. Setelah mengkonfirmasi, layar smartphone Naruto kini menampilkan sosok sang ayah yang sedang memotong tanaman bonsai di halaman rumah.
"Ehh, Tou-chan masih kelihatan segar saja, padahal sudah lewat 50," komentar Naruto.
"Kau mau mengatakan kalau umur Kaa-chan juga 50 kan?"
"Eh?! Tidak kok," sahut Naruto cepat. Bisa gawat kalau ibunya salah paham. Lagipula, mengapa ibunya bisa begitu sensitif?
"Pfft ...," kini Naruto berusaha menahan tawanya ketika melihat di seberang sana, ayahnya gagal menghidupkan mesin pemotong rumput. Bukannya menyala, mesin itu malah mengeluarkan asap. Berbanding terbalik dengan sang ibu, ayahnya itu tidak terlalu mahir menggunakan teknologi.
Kini, layar smartphone Naruto kembali menampilkan wajah ibunya.
"Jangan hiraukan ayahmu! Dia memang bodoh dari sananya, bersyukur kau tidak mewarisi kebodohannya."
"Kaa-chan, jangan menjelekkan Tou-chan. Meski begitu, dia 'kan juga suamimu."
Ibunya pun terkekeh pelan.
"Ada apa Kaa-chan? Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan." ucap Naruto yang bisa membaca situasi.
"A-ahh, sebenarnya kami sangat merindukanmu, -ttebane. Kapan kau mau pulang kemari?"
"..."
Naruto terdiam, ia sama sekali tidak tahu harus berbicara apa.
Wajah Kushina berubah sendu.
"Kaa-chan sangat ingin bertemu denganmu, -ttebane," ucapnya lirih.
Sebenarnya Naruto juga sangat ingin pulang, bertemu ibu dan ayahnya. Hanya saja, dia benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya di Amerika. Sebagai CEO, ia meng-handle semua cabang perusahaan Mei. Sedangkan ayah dan ibunya memilih untuk menetap di Jepang. Jauhnya jarak dan padatnya jadwal membuat Naruto tidak bisa pulang sekehendak hati.
"Kaa-chan?"
Naruto heran melihat layar smartphone-nya kini tidak lagi menampilkan wajah ibunya. Ada apa gerangan di sana?
"Naruto!"
"M-Mei-sama?!"
Naruto terkejut, sejak kapan ponsel ibunya berpindah ke tangan nyonya besar? Suara ibunya juga tidak terdengar lagi, pasti karena kepergok menelepon dirinya saat sedang kerja. Ia sendiri pun pasti akan dimarahi. Apalagi sekarang ia melihat wajah garang Mei Terumi di layar smartphone-nya, membuatnya meneguk ludah.
Namun sesaat kemudian, ekspresi Mei berubah menjadi lembut.
"Pulanglah, Naruto. Semua yang ada di sini merindukanmu."
Hufft ...
Naruto lega.
Eh? Tunggu.
Apa tadi katanya?
Pulang?
Serius?
Apa telinganya tidak salah dengar?
Naruto amat-sangat senang mendengarnya, ia sudah lama ingin pulang tapi tak berani meminta ijin pada Mei. Dari selesai kuliah sampai sekarang, ia selalu menantikan kata-kata tadi terucap dari sang Nyonya Besar.
Namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan, Naruto mengangguk.
"Baiklah, Mei-sama. Saya akan pulang."
Klik.
Panggilan video berakhir.
Naruto menyandarkan punggungnya pada badan kursi. Badannya sungguh terasa pegal setelah seharian duduk di tempat ini.
Sembari menerawangkan pandangan ke atas, Naruto mengeluarkan selembar foto usang yang ia ambil dari dalam laci meja kerjanya. Ia angkat dan tatap foto itu. Satu-satunya kenangan yang ia miliki sejak 10 tahun lalu. Figur dirinya yang sedang tersenyum lebar dengan gadis kecil bersurai biru gelap di sisinya, sedang tersenyum malu.
Naruto sangat merindukan ibunya, juga ayahnya. Mei pun menyuruhnya untuk segera pulang ke Konoha.
Namun lebih dari semua itu, inilah alasan utama Naruto ingin pulang. Sebuah janji sejak 10 tahun silam.
.
"Saatnya aku pulang ke Konoha. Sebentar lagi, kita akan bertemu kembali, Hinata-chan."
.
.
.
TBC
.
.
.
Terimakasih telah menyediakan waktu untuk membaca fic ini.
Salam,
Valen, Si Hitam, Nai ^^
