UNBREAKABLE PROMISE

.

Disclaimer : Karakter yang dipakai di dalam ff ini adalah milik Masashi Kishimoto

.

Original Story : Si Hitam

Written by : Valentinexxx and JustNaruHinaAndKibaTamaLover

Editor : Si Hitam and JustNaruHinaAndKibaTamaLover

.

Warning : Rate M for the story containt

.

.

.

CHAPTER 2

Naruto turun dari pesawat penerbangan Delta Air Lines yang mendarat di Bandara Narita. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya Naruto kembali ke tanah air. Beruntung penerbangan yang dia pilih merupakan penerbangan kelas atas. Pelayanan terbaik dari maskapai ini membuatnya sedikit bisa menikmati perjalanannya. Kaos putih V-neck dipadukan dengan jaket hitam bertuliskan U.S Army membuat penampilannya nampak kasual.

Kacamata hitam yang Naruto kenakan dilepas dan digantung di leher kaos, lengan jaket digulung hingga sebatas siku. Hal itu sukses membuat para wanita yang ada di sana berhenti sejenak untuk memperhatikan dirinya. Setelah Naruto berlalu sambil menarik kopernya, para wanita yang tadinya mematung memperhatikannya pun ikut tersadar dan mulai melanjutkan aktivitas masing-masing.

Sebenarnya sepanjang langkah kaki menyusuri lobi bandara, tiap makhluk hawa yang berpapasan pasti melirik dan menahan napas kala melihat Naruto. Rambut pirang serta mata biru yang jernih membuatnya terlihat seperti gaijin/ orang asing yang sedang berlibur ke Jepang. Bertahun-tahun hidup di luar negeri membuat penampilannya menjadi lebih bercorak western.

Ponsel Naruto berdering, menampilkan sebuah panggilan dari Mei. Segera ia memasang earphone pada telinganya dan menggeser tombol hijau pada layar ponsel.

"Moshi-moshi ..."

"Kau sudah sampai?" Sebuah suara menyahut dari seberang sana.

"Sudah Mei-sama."

"Aku tunggu di lobi, dekat pintu masuk," ucap Mei.

"Hai, saya segera ke sana."

Panggilan itupun berakhir, Naruto berjalan cepat untuk menemui wanita yang menelepon tadi.

Dari kejauhan, Naruto melihat sosok Mei yang dikenalnya tengah duduk di kursi tunggu dengan didampingi dua pengawal yang berdiri di dekatnya, pengawal yang ia kenal bernama Ao dan Chojuro. Naruto mengulas senyum saat langkahnya semakin dekat dengan mereka.

Mei yang melihat Naruto pun bangkit dan menepuk pundak pria itu dengan pelan.

"Selamat datang kembali, Naruto," kata Mei.

"Yeah, saya pulang."

"Kau masih sama, breathtaker seperti biasanya," ucap Mei sambil melirik ke arah belakang punggung Naruto di mana eksistensi wanita mendadak meningkat.

"Huh?"

Naruto yang masih bingung pun kemudian ikut menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Mei. Beberapa wanita tertangkap basah tengah memperhatikan dirinya dengan intens. Naruto yang melihat itu hanya menggaruk bagian belakang kepalanya kikuk sedangkan Mei mendengus geli lalu mengajak Naruto keluar lobi. Naruto tersenyum tulus memandang Mei yang berjalan di depannya. Ia pun ikut melangkahkan kaki.

'Semua ini berkat Anda juga, Mei-sama,' ucapnya dalam hati.

Setelahnya, mereka menuju mobil yang sudah terletak di perkiran mobil bandara. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Naruto bercerita banyak hal tentang pekerjaannya selama di luar negeri. Mei mendengarkan dengan seksama. Terkadang tawa memenuhi area sempit di dalam mobil, terkadang pula hanya gumaman bisu yang tercipta. Saling berbagi kehangatan, saling berbagi tutur dan kata.

Setibanya di mansion, Naruto disambut oleh ayah ibunya serta beberapa maid di depan pintu utama. Bahkan Kushina menangis tersedu-sedu di pelukan Naruto ketika melihat putranya pulang. Rasa rindu orang tua akhirnya terobati.

Berita kepulangan Naruto sudah menjadi buah bibir di antara para maid sejak beberapa hari lalu. Beberapa dari mereka yang baru bekerja di Mizukage Mansion sama sekali belum pernah melihat sosok yang bernama Naruto. Memang Kushina yang dasarnya cerewet sering menceritakan pada mereka bahwa putranya itu sangat mirip dengan suaminya, tapi tetap saja kan mereka tidak bisa mengira-ngira seperti apa rupa Naruto itu.

Dan setelah mereka melihatnya sendiri, mungkin mereka baru mempercayai ucapan maid senior bahwa Naruto itu memang luar biasa tampan.

Acara makan malam digelar untuk merayakan kepulangan Naruto. Masakan khas negara matahari terbit tertata rapi di meja makan. Bahkan Naruto bingung memilih makanan mana yang ia ingin cicipi lebih dulu. Baru Naruto ingin mengambil sumpit, Mei menyodorkan semangkuk ramen kuah kari di depannya. Naruto memandang makanan kesukaannya itu dan Mei bergantian. Wajahnya penuh sirat tanya.

"Kushina-san bilang kau menyukai ramen, jadi aku membuatnya juga," ucap Mei.

Naruto terpukau dengan perhatian Mei padanya. Ia memandang Mei kemudian mengangguk singkat lalu mulai melahap hidangannya. Sudah lama rasanya ia tidak mencicipi ramen. Tekstur lembut mie dan kuah kaldu yang kental membuatnya seolah tak bisa berhenti makan.

"Terima kasih Mei-sama, ini sangat lezat," ujarnya tulus.

Naruto memandang sisa kuah ramen dalam mangkuknya. Entah kenapa jika memakan ramen, ia jadi teringat dengan seorang gadis di masa lalunya. Mungkin karena dulu ia sering memaksa gadis itu untuk menemaninya makan di kedai ramen langganannya. Pandangan matanya kemudian bergulir pada Mei dan Kushina yang sedang asyik mengobrol dan terkikik dengan topik khas wanita yang mereka bicarakan. Naruto tersenyum melihat wanita nomor satu di hatinya, -ibunya-, kini sudah nampak sehat dan kembali semangat.

Setelah acara makan malam selesai, Naruto kembali ke kamar. Ia duduk di ranjang dan tangannya menggenggam selembar foto. Satu-satunya kenangan tentang Hinata, sahabatnya yang ia cintai. Dan sejak hari itu ia selalu membawa foto ini ke manapun ia pergi.

.

FLASHBACK ON

.

"Semua sudah siap, Nak? Pastikan tidak ada yang tertinggal."

"Sudah, Tou-chan. Aku sudah membawa semuanya."

Hari ini adalah hari di saat Naruto dan keluarganya pergi ke kota seperti yang diminta Mei. Wanita itu meminta keluarga ini untuk tinggal bersamanya di mansion Mizukage.

Sebelum keluar dari kamar setelah selesai mengepak pakaian yang akan dibawa, Naruto sekali lagi menoleh ke dalam kamar, matanya tanpa sengaja melirik laci meja belajar.

Ia terlonjak. Dengan cepat ia kembali mendekat ke meja itu dan membuka lacinya. Selembar foto masih tersimpan di dalam. Ia mengambil foto itu, memandangnya sekilas kemudian bergumam,

'Hampir saja tertinggal,'

Naruto memasukkan foto itu ke dalam tas dan keluar kamar menyusul sang ayah yang juga sudah selesai berbenah.

.

FLASHBACK OFF

.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dengan cepat ia menyelipkan foto yang dipegangnya itu ke bawah bantal.

"Naruto, kau sibuk, Nak?" suara sang ibu terdengar. Naruto memandang kedua orang tuanya yang telah berdiri di depan kamar.

"Tidak Kaa-chan, Tou-chan ada apa?"

Kushina tiba-tiba dengan semangat merangkul pundak Naruto.

"Ne, kau tahu kan seminggu lagi adalah hari ulang tahun Mei-sama," kata ibunya tiba-tiba.

Naruto mengangguk kikuk.

"Jadi kami berencana membuat kejutan untuk Mei-sama," tambah Minato kemudian, tangannya ikut melingkari pundak Naruto.

Err- sebenarnya apa yang terjadi dengan ayah ibunya?

"Kau harus membantu kami. Kau tahu bukan selama ini Mei-sama sangat berjasa pada keluarga kita, bahkan dulu ia juga memberikan kejutan saat ulang tahun Kaa-chan."

Naruto menurunkan tangan ayah dan ibunya dari pundaknya, ia genggam kedua tangan yang telah sedikit keriput itu. Naruto memandang orang tuanya bergantian dan tersenyum.

"Tentu saja Kaa-chan, Tou-chan. Mei-sama sangat baik pada kita, ia adalah malaikat penolong kita, jadi kita akan membuat kejutan yang tak mungkin bias dia lupakan di hari ulang tahunnya nanti."

Ucapan Naruto terdengar sangat yakin, perasaannya begitu kuat untuk wanita yang sangat berjasa pada dirinya dan keluarganya.

.

.

.

Matahari pagi sudah semakin meninggi. Naruto berdiri di depan cermin kamar, ia sudah rapi dengan setelan jas hitamnya. Pria pirang itu telah memutuskan bahwa hari ini ia akan pergi ke desa tempatnya tinggal semasa kecil. Ia meraih foto yang tergeletak di atas meja.

'Sudah sepuluh tahun, akhirnya hari yang aku nanti-nantikan akan tiba. Hinata, aku datang,' gumamnya dalam hati.

"Naruto, kau rapi sekali mau ke mana, Nak?" Kushina bertanya heran saat melihat Naruto menuruni tangga dengan penampilan yang rapi.

"Kaa-san, katakan pada Mei-sama kalau aku akan pergi ke rumah kita yang di desa. Hanya sebentar," jawab Naruto.

"Eh? Untuk apa kau ke sana?"

Mendengar pertanyaan ibunya, Naruto menerawang. "Ada satu hal yang ingin aku pastikan, Kaa-san."

"Pastikan juga kau tidak lupa memikirkan rencana kita untuk Mei-sama. Aku akan menghajarmu jika kau sampai melupakannya," Kushina berkacak pinggang dan menodongkan kemoceng yang sedari tadi digunakan untuk membersihkan meja ke muka Naruto.

Naruto meneguk ludahnya ngeri karena sang ibu mulai mengaktifkan mode ganasnya.

"Te-tenang saja Kaa-san, aku akan kembali sebelum petang. Aku pergi dulu. Ittekimasu!"

Naruto langsung pergi setelah mencium singkat pipi sang ibu. Bahkan Kushina belum sempat bertanya lebih jauh, namun Naruto sudah menghilang di balik pintu. Ia menggeleng pasrah kemudian melanjutkan kegiatannya, sedikit bersih-bersih. Inilah kesehariannya, hitung-hitung sebagai balas budi daripada tidak melakukan apa-apa.

Sepanjang perjalanan Naruto tak bisa untuk berhenti tersenyum. Baginya, sepuluh tahun rasanya seperti seumur hidup. Namun penantiannya akan berakhir hari ini. Naruto memarkirkan mobilnya di tepi jalanan desa yang terhubung dengan halaman rumahnya dulu, hanya dibatasi pagar bambu yang rapuh dan dirambati tanaman serta semak belukar.

Naruto turun dari Range Rover hitam yang ia kendarai. Kaki tegap terbalut sepatu mengkilap menapak pada jalanan aspal yang sudah sedikit terkikis menyisakan kerikil-kerikil. Ia berdiri di depan rumah kecil yang dulu ia pernah tinggali. Sekarang rumahnya terlihat seperti gubuk tak terpakai. Lantai kayu yang rapuh serta pintu usang adalah hal yang ia lihat pertama kali. Menoleh pada jendela kaca, ia mengernyit mendapati bekas jejak jari tangan terlukis di kaca jendela yang berdebu. Ia menyentuh jejak jari itu dan mengusapnya.

"Seseorang baru saja dari sini?" Ia bertanya entah kepada siapa.

.

Naruto POV.

Sekarang aku berada di lapangan dekat sungai. Ini adalah tempatku dan Hinata sering bermain bersama dahulu. Mataku menerawang pandang pada hamparan rumput lapangan yang sedikit memanjang. Seiring alunan angin yang membawa ingatan masa laluku kembali, pita rekaman berputar di balik kepalaku, mengulas satu persatu kenangan indah bersamanya. Bersama gadis manis yang selalu membuatku terpaku. Tiba-tiba saja aku merasakan detak tak terkira di bagian dada. Sakit namun kuakui begitu menyenangkan. Hangat dan panas di kala yang sama.

Dulu kami bermain lempar-tangkap bola. Gadis itu sangat payah. Tak satu pun kesempatan ia gunakan untuk menangkap bola itu. Semua terlepas dan bahkan terkadang mengarah pada kepalanya. Bukannya menangis, Hinata malah marah-marah dan berlari mengejarku. Berusaha membalas setiap tindakku yang ia anggap sebagai sebuah kesengajaan. Lalu tawaku pecah saat pada akhirnya ia terjatuh dan dengan manja memintaku menggendongnya pulang. Tentu saja aku tak bisa menolak. Aku memanggulnya di bagian belakang tubuhku. Ia begitu ringan nyaris tak berasa. Aku mematri senyuman malu karena mengingatnya. Kuakui langkah kaki yang membawaku berkeliling desa ini membangkitkan semua kenanganku bersamanya.

.

Aku terus berjalan menyusuri tepian desa. Waktu sudah bergulir menampilkan senja, semburat jingga di ujung langit yang memancar pekat bagai genangan darah, membias pesona pada sang bumantara.

Tiba-tiba saja aku merasa sedih. Sesenja ini aku belum bisa menemukan Hinata. Berpikir apakah mungkin gadis itu sudah melupakanku? Apakah janji kami masa dulu hanyalah sebuah angan lalu? Rasanya menyakitkan jika memang begitu. Kuremas bagian depan bajuku hanya untuk meredakan degupan lantang dari dalam rongga dada. Mungkinkah kau tak lagi mengingatku, Hinata?

Kuputuskan untuk mendatangi rumah yang dulu Hinata tinggali, karena kupikir Hinata mungkin kembali ke sana. Namun ternyata rumah itu sudah dihuni pemilik yang baru yang tidak mengenal siapa pemilik yang lama karena ia membeli rumah itu melalui agen.

Sekarang tersisa satu tempat lagi yang harus kukunjungi. Tempat terakhir yang menjadi kenangan kebersamaan kami sepuluh tahun lalu.

Aku berjalan menuju satu tempat yang agak jauh dari rumah-rumah desa. Langkahku tak laju juga tak lambat. Sesekali kutengok sisi kanan dan kiri untuk mengamati perubahan yang ada di desa ini. Meski sudah sepuluh tahun berlalu, namun aku masih hafal betul jalan menuju tempat tersebut. Aku pun sampai di jalur perlintasan rel kereta. Pohon-pohon sakura berjajar sepanjang jalan. Saat ini sudah memasuki musim semi. Kelopak-kelopak sakura berjatuhan. Aku menyeberang bersama beberapa warga desa yang sudah berjalan lebih dulu di depanku. Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari Kaa-san rupanya.

'Cepat pulang atau kubunuh kau!'

Aku tersenyum geli membaca pesan singkat dari Kaa-san. Meski ganas, ia takkan benar-benar membunuhku. Mungkin telingaku yang jadi korban tarikannya nanti. Aku masih menunduk memandang ponsel tersebut untuk menulis pesan balasan untuk Kaa-san. Namun tiba-tiba hidungku tergelitik kala aroma lavender menyeruak. Kuhirup pelan gangsi lembut itu, sungguh menenangkan. Mataku nyaris terpejam karena terlalu terhanyut dalam suasana.

'Aroma ini!?' pikirku.

Mataku membuka cepat saat tersadar akan sesuatu. Sepertinya memang ada seseorang yang berjalan dari arah berlawanan denganku. Aku penasaran, kutolehkan kepala ke belakang ketika sadar kalau aku telah melewati perlintasan kereta. Aku bisa melihat gerbong kereta yang melintas cepat. Mencipta pagar bagi pandanganku untuk melihat sosok yang baru saja menyeberang. Dengan sabar aku menunggu hingga kereta itu berlalu. Namun sayang, aku tak melihat siapapun.

Hah ...

Hatiku terasa nyeri. Aku berpikir mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku merasa ada yang salah dengan ini, jelas-jelas tadi aku merasakan keberadaaan dirinya tapi dimana? Layaknya sebuah pin yang hilang dalam tumpukan jerami.

Kupandang langit yang mulai kelam. Aku tidak menampik, ini mengingatkanku padanya. Pada gadis yang selalu menguarkan aroma lavender yang entah sejak kapan selalu kusimpan rapi dalam ingatan. Mungkin bermula ketika aku memeluknya untuk terakhir kali di senja hari itu? Mungkin saja.

.

Langkah gontai membawaku ke sebuah danau kecil yang jernih. Rumput ilalang di sekitarnya tumbuh semakin meninggi. Memilih duduk di bawah pohon di pinggir danau, aku meraih foto yang sejak tadi kusimpan di saku.

"Di mana kau Hinata? Aku tidak bisa menemukanmu, tapi aku percaya kau juga pasti ke sini untuk menemuiku."

Sepertinya aku mulai gila mengajak selembar foto berbicara. Entahlah, pikiranku dipenuhi pertanyaan di mana keberadaan Hinata. Bukankah seharusnya ia datang menemuiku di sini? Benarkah Hinata sudah lupa dengan janji itu? Sakit kembali mendera. Ulu hatiku kembali ngilu.

Mengapa Hinata?

Matahari kian tenggelam dan aku belum juga bertemu dengan Hinata. Mungkin sekarang saatnya aku kembali meski aku belum menyerah.

"Hinata, aku tidak akan membiarkanmu melupakanku. Aku pastikan kita akan bertemu dan kembali menyatukan takdir. Semoga Kami-sama mengabulkan permohonan ini."

.

.

.

Author POV

Pria itu berjalan dengan santai. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Langkahnya begitu ringan menapaki lantai keramik dari gedung kantor yang cukup megah di pusat kota Konoha. Sesekali bibirnya mengerucut, mencipta siulan ringan yang mengalun sebuah lagu. Rona mukanya jelas tengah berbunga-bunga kendati hati tidak sepenuhnya. Apa boleh buat?, ketika seharusnya ia bisa bertemu kembali dengan gadis di masa lalunya, tetapi justru tidak ada sesuatu pun yang terjadi beberapa hari lalu. Terlalu lama ia memendam rasa, terlalu lama ia memendam rindu pada sosok gadis tersebut.

Ah. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Naruto punya kepentingan lain mengapa ia memasuki gedung yang tidak pernah lagi ia sambangi ini. Tujuannya hanya satu, menjemput Mei Terumi.

"Naruto?"

Suara anggun yang menyiratkan ketegasan terdengar di telinga sang pria. Naruto menoleh ke kanan, matanya menatap takjub pada sang wanita yang selalu ia hormati. Hanya perasaannya atau saat ini Mei memang tampak menakjubkan. Gaun brokat merah menyala dengan hiasan payet black pearl di setiap titik, membalut sempurna tubuh sintal wanita paruh baya itu. Belum lagi, rambut merah yang ia ikat tinggi model ekor kuda, semakin menyeka fakta bahwa ia sebenarnya berusia kepala empat.

"Mei-sama," sambut Naruto.

Pria itu mendapatkan senyum manis sebagai balasan. Sempat terjadi keheningan karena keduanya saling tatap. Tak ada yang menampik, ada satu titik tertentu yang membuat masing-masing merasakan keanehan yang tak mampu terungkap.

"Jadi, ada apa kau kemari?"

"Ah, aku hanya ingin mengunjungi tempat ini. Rasanya sudah lama aku tidak kemari, yah mungkin aku merindukannya."

Mei tersenyum mendengar pernyataan Naruto yang disertai cengiran rubah. Wanita itu mengangguk kemudian memutar tumitnya lalu mulai melangkahkan kaki.

"Jadi, kita mau berkeliling gedung?"

"Aaaa, jika tidak merepotkan Mei-sama."

"Kau tidak pernah merepotkan apapun bagiku, Naruto. Kau tahu itu."

Naruto menyamakan langkahnya dengan Mei. Berjalan lurus tanpa memedulikan tatapan dan bisikan dari beberapa pegawai yang kebetulan berpapasan.

Tak membutuhkan waktu lama, keduanya sampai di ruang kerja Mei. Sebuah ruangan yang tidak terlalu lebar namun tertata rapi. Hiasan berupa lukisan bunga terpajang rapi, hampir menutupi seluruh lapis dinding. Di bagian ujung, terdapat meja marmer dengan segala ornamen khas meja kerja.

Naruto mengedarkan pandangannya, merasa kagum dengan selera sang wanita yang bisa dikatakan cukup tinggi. Decakan kagum terulas dari bibirnya menuai senyuman lebar Mei.

"Duduklah," ujar sang wanita. Naruto mengalihkan pandangan dan mengangguk. Ia menghempaskan tubuhnya pelan ke sofa yang terletak beberapa jengkal dari pintu masuk.

Beberapa saat mereka habiskan dalam keheningan. Mei yang masih sibuk di balik layar laptop Fujitsunya serta Naruto yang memilih memainkan sebuah game pada ponsel pintarnya.

Waktu seakan berjalan lambat bagi Naruto. Ia yang mulai merasa bosan mengalihkan tatapan mata birunya pada sosok Mei. Pria muda itu berdecak kagum saat mendapati wanita tersebut tengah larut dalam pekerjaannya. Roman serius jelas tampak dari wajahnya, dipertegas dengan kacamata model cat-eye yang berbingkai merah tebal, senada dengan warna gaun yang ia kenakan.

Sejenak terpaku hingga sebuah kesadaran menyentaknya. Naruto melirik Louis Vuitton Tambour yang melingkar di pergelangan tangan kiri, kemudian berdiri. Tak sedikitpun mampu menyita atensi Mei, hingga pria muda itu terpaksa mengeluarkan dehemn.

Mei yang mendengar isyarat suara itu segera mendongak. Alisnya bertaut dan matanya memancar heran.

"Ano, Mei-sama. Ini sudah larut, kurasa ada baiknya kau hentikan pekerjaan ini dan kita pulang."

"Kalau kau lelah, pulanglah dulu, Naruto. Aku masih harus menyelesaikan yang ini," jawab Mei.

Naruto menggeleng tegas. Ia berjalan mendekati meja kerja Mei dan memutarinya. Berhenti tepat di samping sang wanita. Perlahan pria itu menarik Mei berdiri kemudian mematikan laptop di atas meja.

"Hei ...!"

Belum sempat Mei melancarkan protes, Naruto terlebih dahulu menariknya.

Sepanjang perjalanan meninggalkan ruangan dan kantor, Mei tak henti-henti mencari kesempatan untuk bertanya perihal keanehan sikap Naruto. Namun, pria pirang itu bergeming dan hanya terus berjalan. Langkahnya berhenti di basement tepat di depan Range Rover hitam yang terparkir di sisi selatan. Naruto terlebih dahulu membuka pintu penumpang dan mempersilakan Mei masuk, sebelum ia sendiri memutar dan duduk di balik pintu kemudi.

"Jadi, kau bisa menjelaskannya sekarang, Naruto!?"

Yang dipanggil hanya mengerutkan dahinya tanpa menoleh sedikitpun.

"Menjelaskan apa, Mei-sama?"

Mei mendengus kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sementara bibirnya mengerucut. Naruto yang tanpa sengaja melihatnyapun hanya tertawa. Pria pirang itu benar-benar merasa geli saat berpikir tentang kelakuan kekanak-kanakan yang muncul dari diri seorang wanita yang cukup berumur.

"Apa perlu aku jelaskan huh!?"

"Hehehe ... Tidak perlu, Mei-sama. Aku hanya tidak ingin kau terlalu lelah. Ingatlah kesehatanmu, jangan terlalu diforsir untuk bekerja."

Mei terdiam untuk sesaat. Selanjutnya sebuah senyum tertoreh manis di bibirnya. Ia mengangguk pelan. Tak menampik ada gelenyar aneh yang menggerogoti hatinya.

.

.

.

Malam ini suasana rumah utama di mansion Mizukage cukup lengang. Rumah bergaya mediterania dengan dominasi warna cokelat susu dan dikelilingi taman di sekitarnya. Sebatang pohon palem berdiri dengan anggun tepat di serong kanan pintu masuk rumah. Bagian dalam rumah tersebut lebih banyak dilapisi cat kuning gading, membuat keadaan rumah terlihat temaram namun elegan di saat bersamaan.

Lebih jauh masuk ke dalam, sebuah ruang keluarga tengah disulap menjadi ruangan dengan dekorasi yang cukup menarik. Tidak ada unsur meriah di setiap sudut ruangan, namun keanggunan jelas menjadi topik utama.

Ruangan tersebut dipenuhi dengan aneka warna bunga Mandevilla yang memang menjadi favorit dari sang pemilik rumah. Jalinan rotan yang dibentuk sedemikian rupa sebagai wadah bagi sulur yang merambat. Semakin terasa indah saat aroma Mandevilla itu menguar menyesaki atmosfer. Beberapa orang dengan pakaian maid tampak berlalu lalang dan terlibat kesibukan. Tetapi yang paling menarik perhatian adalah seorang wanita berambut merah yang terlihat marah-marah serta pria pirang yang sedang berusaha menenangkan wanita tersebut. Mungkin ada beberapa pekerjaan yang kurang berkenan bagi wanita karena tidak biasanya ia dalam kondisi sekalut ini.

"Bagaimana mungkin lilinnya lupa kau beli? Kemana saja selama ini?"

Pelayan berrambut hitam itu hanya menunduk merasa bersalah saat Kushina meluapkan amarahnya.

"Hei, Kushina, sudahlah. Shizune sudah mengatakan alasannya bukan? Dia lupa meletakkan di mana lilin yang sudah dibeli itu."

Minato berusaha menenangkan istrinya yang tengah panik, membelai punggung Kushina dan menariknya untuk duduk di kursi.

"Shizune, coba ingat-ingat kau kemana saja setelah membeli lilin itu!"

"Ah, seingat saya ada di atas lemari dapur, Minato-san. Tapi pagi tadi saya mencarinya tidak ketemu."

"Sebelum ke dapur kau mampir kemana?"

Shizune tampak berpikir, dahinya berkerut saat otaknya berusaha mengingat kembali. Semenit kemudian ia menjentikkan jarinya.

"A-ah ... Aku tahu!"

Dan tanpa berpamitan ia berlari ke luar ruangan. Minato menggelengkan kepalanya merasa geli sedangkan Kushina hanya menatap penuh tanya.

"Nah, Kushina. Kurasa sebaiknya kau segera bersiap. Sebentar lagi Mei-sama akan datang."

"Ah, kau benar, Anata. Bagaimana mungkin aku menyambut Mei-sama dengan pakaian yang semacam ini?"

Kembali Minato dibuat terkekeh oleh ulah wanita tercintanya ini. Satu jenak selanjutnya ia termenung, memorinya memutar rekaman ucapan sang istri semalam.

.

"Naruto sudah dewasa, Anata."

"Hm ... Lalu?"

"Dan kita sudah semakin tua."

"Katakan saja apa maksudmu, Sayang. Aku tidak paham jika kau berbelit-belit seperti itu."

Kushina mengerucutkan bibirnya sebelum menjawab.

"Kau itu bodoh ya? Tentu saja seusia kita seharusnya kita sudah bisa menimang cucu, Minato."

"A-ah ... Aku mengerti. Lalu bagaimana? Naruto sendiri belum mengenalkan siapapun kepada kita. Atau memang dia belum memilikinya?"

"Entahlah."

Kushina merenung. Pandangannya menerawang.

"Aku hanya tidak ingin mati sebelum menimang cucu."

.

"Haaahhhh ..." Minato menghela nafas.

.

.

.

Range Rover hitam itu menepi setelah memasuki pagar mansion. Mengantar sepasang manusia menuju ke rumah utama.

Naruto keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Mei. Keduanya berjalan memasuki rumah. Gurat lelah jelas terpatri pada wajah Mei. Anggap saja sebagai akibat pekerjaan yang menyita waktu dan tenaganya beberapa waktu belakangan ini. Meski sebenarnya ia telah menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada Naruto, namun pada beberapa bagian ia tetap harus memberikan pengawasan. Terutama untuk urusan di kantor Konoha.

"Masuklah dulu, Mei-sama. Ada yang ketinggalan di mobil dan aku harus mengambilnya."

Mei tersenyum mengangguk. Sedikit merasa heran saat melihat ke bagian depan rumah yang tampak gelap, namun terang di bagian dalam. Terusik rasa penasaran, Mei mempercepat langkahnya memasuki rumah. Belum sempat wanita itu membuka handle pintu, tiba-tiba saja ia merasakan sepasang telapak tangan menutupi penglihatannya. Ia terkejut sesaat dan menghembuskan nafas lega setelah mencium aroma citrus yang sangat ia kenali. Ya, aroma tubuh Naruto. Juga rasa hangat dari tubuh pria itu yang menyelimuti punggungnya seakan ia tengah dipeluk dari belakang.

"Ada apa ini?"

"Hehehe ... Mei-sama terus saja berjalan."

Naruto melangkah di belakang Mei, memandunya dari belakang. Setelah sampai di ruang keluarga, pria pirang itu menarik tangannya. Membuat Mei membuka kedua matanya.

Wanita itu terkejut bukan kepalang saat melihat sebuah suasana yang terbilang cukup meriah. Dan ia semakin terharu saat mendengar teriakan-

"SURPRISE!"

Wanita yang dikenal tegas dan lembut di saat yang sama itu, mengedarkan pandangannya. Menatap tiap senti ruangan yang didesain sederhana. Matanya berkaca-kaca saat menemukan senyuman tulus yang diberikan oleh Minato dan Kushina, juga semua pelayan yang bekerja di rumahnya.

Mei merasa bahagia. Kehangatan ini mengingatkannya pada sosok mendiang suami dan keluarganya dahulu saat semuanya masih ada, sebelum ia tersisa sendirian. Perasaan wanita itu membuncah hingga membuat dadanya terasa sesak. Memaksa ia untuk menitikkan air mata haru.

"Mei-sama," panggil Naruto pelan.

Mei menoleh dan menemukan tangan Naruto yang tersodor.

"Ayo tiup lilinmu."

Sedetik setelah Mei menyambut, Naruto menarik tangannya agar mendekat ke tengah ruangan di mana Kushina dan Minato berdiri memegangi kue dengan lilin menyala di atasnya.

Mei berdiri di hadapan Kushina dan Minato, mereka mengangguk padanya agar meniup lilin. Mei memejamkan mata membuat pengharapan. Sebuah pengharapan tentang masa depannya yang sama sekali tidak pernah terlintas sebelumnya.

Selanjutnya pesta berlangsung cukup riuh, meski hanya dihadiri oleh orang rumah saja. Mei menatap satu per satu orang-orang yang muncul di kehidupan barunya dan begitu saja menyiramkan kebahagiaan. Sungguh wanita itu tidak pernah menyangka kehidupannya akan tetap berjalan kendati tanpa orang-orang terkasihnya. Atau mungkinkah mereka kini menjadi yang terkasih bagi dirinya?

Iris wanita itu meneduh, menatap penuh hasrat kerinduan. Selintas bayang mendiang suaminya mendadak melintas tepat saat pria muda berambut pirang berjalan mendekat.

"Mei-sama, ada yang ingin aku berikan sebagai hadiah ulang tahun."

Kerutan tercipta di dahi Mei, namun Naruto tidak peduli. Ditariknya tangan sang wanita menuju balkon. Berdiri dengan tangan bertumpu pada pagar balkon, Mei menatap penuh tanya pada Naruto sedang sang objek hanya tersenyum lebar.

"Berbaliklah, Mei-sama."

Kendati bingung dengan permintaan Naruto, Mei tetap menurut. Ia berbalik dan memejamkan mata. Sedikit bingung dengan perasaan yang seketika menghangat. Dan ia semakin terkesiap kala merasakan lengan Naruto bergerak melewati kepalanya dan memutar ke belakang leher.

Butuh beberapa detik bagi wanita cantik itu untuk mengerti apa yang terjadi. Netra hijaunya melebar saat melihat sebuah pendulum permata safir yang menggantung cantik di leher putihnya. Terlihat kontras namun sangat manis.

Mei membalikkan badannya kembali, menatap lekat rupa Naruto. "I-ini?"

"Maafkan aku yang hanya bisa memberikan ini, Mei-sama."

Naruto terlihat sedih karena menyangka bahwa Mei tidak menyukai hadiah darinya. Namun di luar dugaan, wanita itu tersenyum haru.

"Terimakasih, Naruto."

Naruto ikut tersenyum.

Sepasang insan menikmati sisa malam di balkon rumah utama. Hembusan sang bayu mengalun pelan, menerbangkan helaian lembut keduanya. Dinginnya udara bagai tak terasa, tertutup oleh hangatnya pendaran bulan yang memucat. Tanpa ada kesengajaan, pasang netra saling melirik, mengagumi tiap jengkal sang lawan. Bukan dalam arti harfiah, hanya sebuah pengungkapan akan kekaguman.

Mei, memandang takjub pada sosok anak laki-laki gelandangan yang kini berubah menjadi seorang pria. Aura sang pria yang memancarkan kedewasaan. Gurat tandas dan rahang tegas memperkuat sisi maskulinnya.

Sementara di sebalik sisi, Naruto menatap tertegun pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Tak ada asa selain ia mengagumi tegas yang tersembunyi dalam anggun seorang Mei Terumi. Pria itu tak menampik, respek yang ia miliki begitu tinggi untuk sang wanita.

.

Seujung rasa yang kan menjelma menjadi rona yang berbeda. Bukan cinta bukan pula nafsu. Hanya sebuah lantunan rindu ...

.

.

.

TBC

.

.

.

Terimakasih telah menyediakan waktu untuk membaca fic ini.

Salam,

Valen, Si Hitam, Nai ^^