UNBREAKABLE PROMISE

.

Disclaimer : Karakter yang dipakai di dalam ff ini adalah milik Masashi Kishimoto

.

Original Story : Si Hitam

Written by : Valentinexxx, Si Hitam and JustNaruHinaAndKibaTamaLover

Editor : Si Hitam and JustNaruHinaAndKibaTamaLover

.

Warning : Erotic scene!

.

.

.

CHAPTER 3

FLASHBACK ON

Dahulu, saat wanita itu masih menikmati masa-masa sekolah menengah.

"Hei, Mei! rambutmu menghalangi pandanganku dari papan tulis."

Urat kekesalan tercetak di dahi Mei manakala mendengar lelaki di belakangnya mengatakan hal seperti itu dengan nada seolah tanpa dosa. Teman sekelas yang duduk tepat di belakangnya ini memang sering membuatnya naik darah.

"Kau, pirang jelek, diamlah! Rambutmu juga sudah panjang, lebih baik gunduli saja agar teman di belakangmu tidak terhalang juga!"

"Heh? Ini rambut model terbaru, kau tahu?"

Si pria kemudian mengusap rambutnya sendiri, menyisir helai poni hingga menutupi sebelah matanya, kemudian menjentikkan jari dengan senyum penuh pesona. Mei yang melihat itu hanya menatapnya datar namun dalam hati ia merutuk kesal. Anak ini benar-benar berhasil membuat seluruh pembulu sarafnya meradang.

Suara bel pertanda istirahat berdenting, seketika murid-murid sekolah menengah atas hilir mudik memadari koridor menuju tempat tujuan masing-masing. Namun ada dua orang yang tampak menyingkir dari keramaian warga sekolah.

"Maaf Senpai, tapi aku tidak bisa menerimamu."

Seorang gadis dengan mimik muka pura-pura menyesal sedang berhadapan dengan senpai-nya. Ia hanya ingin ke taman belakang untuk menikmati bento yang ia bawa namun tiba-tiba seorang senpai menarik tangannya menuju sudut koridor sekolah dan dengan tiba-tiba pula meminta untuk menjadi kekasihnya.

"Be-begitu ya, baiklah," ujar sang kakak kelas yang langsung berjalan berbalik dengan langkah lesu.

Tak mau mempedulikan kejadian barusan, Mei melanjutkan perjalanannya. Ia pun menikmati bentonya di bawah pohon sakura yang tumbuh di taman belakang sekolah. Begitu khidmat seolah bento yang ia makan adalah bento terenak yang pernah ia bawa. Namun kegiatannya terganggu saat...,

"Kau tidak akan pernah punya pacar kalau setiap laki-laki yang menembakmu selalu kau tolak."

Suara itu lagi. Suara berat dengan nada sarkastik yang terdengar sangat menyebalkan.

Mei menoleh cepat ke arah sumber suara. Teman sekelas yang ia juluki si pirang jelek berjalan ke arahnya sembari menyedot susu kotak. Terkadang Mei ingin tertawa, wajah lelaki itu cukup tampan dan berkharisma, lagaknya juga keren, tapi minumnya susu kotak.

Ppppffffttt.

Kenapa ia jadi memikirkan pirang jelek itu? Mei mengenyahkan pikiran ngelanturnya. Dengan cepat ia memasang kembali ekspresi garang.

"Kau menguping?"

Tanpa ba-bi-bu Mei menuduhnya.

Sang pria menggendikkan bahu. "Hanya melihat saja, dari gelagat senpai tadi aku tahu ia menembakmu," ujarnya.

Ya. Mei Terumi adalah gadis incaran nomor satu para siswa di sekolahnya untuk dikencani. Namun dari semua pernyataan cinta itu tak ada satupun yang diterima olehnya.

"Jangan mengguruiku, dasar pirang jelek!"

"Ya ampun, selain gemar menolak ternyata kau juga sangat galak. Aku yakin di masa depan kau tidak akan bisa menikah. Pasti tidak ada yang mau denganmu."

'Tidak bisa… me-ni-kah?'

Aura membunuh mulai menguar dari tubuh gadis itu yang dengan cepat mampu dirasakan oleh sang pemuda.

Glup.

Ia meneguk ludah. Apa baru saja ia membangunkan singa betina?

.

Mei POV

Suatu hal yang benar-benar tidak terduga adalah kala itu. Pertemuanku sekali lagi dengan pria yang selalu mengangguku semasa SMA setelah bertahun-tahun berpisah karena kami melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda. Kami-sama mempertemukanku dengannya di tempat yang tak terduga. Di sebuah pesta bisnis perusahaan ayah yang ternyata juga dihadiri olehnya.

"Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu. Terakhir ketika pesta kelulusan SMA. Dan ... um ... kau semakin cantik," katanya.

Aku mendengus geli, dia tak berubah.

"Kau masih sama. Pujianmu sangat payah," ucapku spontan. Namun aku tak menampik jika aku sangat senang berjumpa lagi dengannya.

"Kau tidak berubah ternyata, masih galak seperti biasanya. Aku yakin kau belum menikah sekarang ini."

"Jika kau sekali lagi menyinggung soal menikah, aku akan menghajarmu!"

Ah, ini seperti dejavu.

Hari-hari setelah pertemuan itu kami makin sering berjumpa. Kemudian pada satu sore di musim gugur, kami berjalan beriringan. Menapaki jembatan kayu yang membentang di atas sungai jernih. Hembusan angin membuatku harus merapikan helai rambut yang sedikit berantakan terkena angin. Aku berjengit kala tangannya menyentuh rambutku dan menyelipkannya di belakang telinga. Ini tidak seperti biasanya, dan kenapa jantungku jadi berdebar-debar seperti ini?

"Mei."

Panggilan itu membuatku mendongak, menatap iris mata hitamnya.

"Kalau kubilang aku mencintaimu, bagaimana?"

Aku terkejut. Aku meneliti kembali wajah pria di depanku ini, mencoba mencari kebohongan yang mungkin saja pria itu ciptakan untuk mempermainkanku. Karena aku tahu, sejak dulu ia memang sering melakukan hal konyol kepadaku.

Namun raut wajahnya serius, tak terlihat tanda-tanda kebohongan di matanya. Tanpa sadar aku tenggelam sepenuhnya dalam tatapan pria ini. Apa aku juga mencintainya? Karena selama ini aku terus bertanya-tanya, apa yang membuat jantungku selalu berdetak lebih laju dan memicu desir aneh tiap kali aku menatapnya.

"Ah mungkin kau terkejut karena ini begitu tiba-tiba, tapi kau taulah, aku tidak begitu mengerti cinta. Aku merasa cemburu saat siswa lain menembakmu, tapi aku lega saat mengetahui ternyata kau menolaknya," lanjutnya.

Dia mengatakan hal itu dengan sedikit kikuk. Aku menyunggingkan senyum. Dia persis seperti remaja labil yang baru pertama kali menyatakan cinta pada seorang gadis.

"Yah, bagaimana mengatakannya ya? Kurasa aku sudah mencintaimu bahkan sejak kita duduk di bangku SMA."

Aku tertegun. Dia, mencintaiku bahkan sejak saat itu?

"Jadi, maukah kau menjadi kekasihku?"

Eh?

Lamunanku tiba-tiba saja buyar akibat suara rendah pria itu. Aku kembali menatapnya. Jantungku kembali berdebar kencang. Sapuan lembut mengenai wajahku, kelopak sakura berjatuhan terbawa angin yang berhembus. Entah mengapa suasana sekitar seolah mendukungku untuk menerima pernyataan cintanya. Selain itu, aku yakin sekali aku memang mencintainya.

Beberapa bulan kami menjalani hubungan yang menggetarkan meski terkadang konyol. Ya, jangan salahkan sifat semasa SMA kami yang suka mendadak muncul. Jenjang selanjutnya yang sungguh tidka kusangkakan adalah ketika kemudian kami menikah. Masa pacaran kami tergolong singkat. Entah sebab idealisme atau memang kami merasa bahwa kami sudah lewat umur untuk sekedar menjalani hubungan pacaran yang tak tentu arahnya. Restu dengan mudah kami dapatkan dari orang tuaku. Selain itu, aku baru mengetahui jika kedua orang tuanya ternyata sudah tiada. Ia yatim piatu mengurus semua perusahaan peninggalan ayahnya dengan bimbingan orang-orang kepercayaan, yang mengantarnya menjadi pengusaha sukses. Dalam usia semuda itu ia bahkan mampu menyaingi perusahaan ayahku.

Aku mencintainya, dia mencintaiku, keluarga merestui. Ah, betapa sempurnanya kehidupan yang aku miliki.

Pesta pernikahan mewah digelar di mansion tempatku tinggal. Kolega ayahku semua sudah datang. Aku berdiri di depan cermin mengamati gaun yang aku kenakan. Gaun putih menjuntai kebelakang berhias payet dan bunga-bunga. Aku menikah? Aku tersenyum sendiri membayangkannya.

"Mengapa kau senyum-senyum sendiri?"

Suara itu membuatku kaget. Aku menoleh ke belakang dan menemukan calon suamiku berdiri di ambang pintu. Setelan jas putih bersih itu melekat pas di tubuhnya. Ia terlihat sangat tampan.

"Hmm, aku hanya ingat seseorang yang dulu menyumpahiku tidak akan bisa menikah, tapi kenyataannya aku akan menikah, membuktikan bahwa sumpahnya hanya omong kosong. Aku penasaran apa yang dipikirkannya sekarang," ucapku.

Aku tak dapat menahan senyum saat melihat ekspresinya beberapa saat kemudian. Wajahnya memerah menahan malu.

"Di-dia senang karena wanita yang ia sumpahi ternyata akan menikah dengannya."

Lihat, dia salah tingkah.

Kami menghabiskan malam sakral hari itu dengan penuh kebahagiaan. Membagi kasih dan rindu yang selama ini sempat terpendam. Mengungkap cinta yang terkuar dalam sebuah hasrat lembut mahligai pernikahan.

Kehidupan kami begitu bahagia. Waktu demi waktu terus bergulir hingga tanpa terasa satu tahun telah lewat.

"Mei-chan kemarilah, aku ada hadiah untukmu."

Aku mengangkat alis merasa heran, namun tetap aku menurut dan segera turun dari ranjang. Langkah kaki membawaku menyusulnya ke balkon kamar.

"Ada apa, Anata?"

"Berbaliklah!"

Aku tidak mengerti untuk apa ia menyuruhku berbalik. Hingga sebuah kalung dengan liontin hati melingkar di leherku.

"Ini ...," ucapku seraya berbalik ke arahnya.

"Hadiah untukmu, terima kasih sudah menemaniku satu tahun ini, Istriku."

Ia mengecup dahiku lama. Aku baru sadar ternyata ini hari ulang tahun pernikahan kami. Aku tersenyum, ini waktu yang tepat untuk mengatakannya sekarang.

"Anata, aku juga ingin menyampaikan sesuatu kepadamu," ucapku pelan.

Ia tampak penasaran. Aku meraih lehernya agar ia sedikit menunduk. Berbisik lembut tepat di telinganya. Ia tertegun sejenak saat mendengar apa yang kubisikkan.

"Be-benarkah?"

"Uhm ...," aku mengangguk membenarkan.

Selanjutnya ia memelukku erat.

"Terima kasih, terima kasih, Mei-chan, Aku benar-benar bahagia."

Aku pun membalas pelukannya. Ia terlihat begitu gembira. Aku memberitahunya jika kami berdua akan segera menjadi orang tua.

Ya, aku hamil.

.

Di usia kehamilanku yang baru menginjak dua bulan, suamiku harus pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan di sana. Ayahku menggabungkan perusahaannya dengan perusahaan milik suamiku setelah kami menikah. Hal yang membuatnya sering bolak balik Konoha ke luar negeri untuk mengurus banyak proyek penting. Selama ini ia begitu protektif padaku yang sedang mengandung, itulah sebabnya aku sedikit tidak rela ia pergi. Namun ia berjanji akan segera pulang setelah proyek selesai.

Baru dua minggu ditinggal pergi saja rasanya berat sekali. Kurasa aku menjadi sangat bergantung padanya selama hamil. Aku menyibukkan diri dengan rutinitas kantor, walau suamiku sering menceramahiku lewat telepon berjam-jam, aku tetap ingin membantunya mengurus satu perusahaan yang di Konoha. Ia selalu khawatir karena dokter kepercayaan keluargaku pernah mengatakan kandunganku lemah. Namun bisa bertahan asal aku berhati-hati.

Hari itu saat aku pergi ke mall, aku berencana melihat-lihat baju bayi dan mungkin aku akan membeli beberapa jika ada yang bagus. Baju bayi terletak di lantai dua, aku berniat menggunakan eskalator saja untuk ke atas. Namun ketika aku baru menapakkan kakiku pada tangga eskalator, aku tak menapak dengan benar, membuatku tak mampu menyeimbangkan tubuh hingga aku terguling di tangga yang berjalan naik. Rasa sakit kurasakan dari perut hingga punggung, darah mengalir dari sela-sela kakiku.

Aku meringis kesakitan. Meski demikian, tetap berusaha kuredam rasa sakit tersebut. Hingga tanpa sadar air mata menetesi pipiku.

Melihat darah yang semakin mengalir, aku merasa cemas. Benakku mulai merapal sebuah doa.

'Kami-sama, kumohon lindungi aku dan bayiku.'

Selanjutnya kegelapan menguasai pandanganku. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi hingga ...

... kelopak mataku menggeliat terbuka, menampilkan iris zamrud bulat. Aroma zat obat-obatan menyeruak, menggelitik rongga penciuman. Kulirik sejenak, mendapati sebuah geometri ruang putih bersih, yang cukup menjelaskan bahwa aku sedang terbaring di rumah sakit. Kulihat ayah dan ibu yang menatapku penuh sesal. Membuatku sedikit berkernyit, apa gerangan yang membuat tatapan mereka demikian? Hingga suara pegangan pintu yang diputar memecahkan keherananku. Seorang dokter berjalan masuk menghampiriku dan kemudian mengatakan hal yang tak ingin aku dengar.

Aku kehilangan bayiku.

Bagai ada halilintar yang menyambar di langit siang yang cerah. Membuat terlepas organ pemompa darahku dari pengaitnya. Bagai seluruh udara terhempas keluar tak menyisakan sedikitpun untukku bernapas.

Aku begitu terpukul. Aku meminta ayah dan ibu agar tidak memberitahukan hal ini pada suamiku. Ia pasti akan sangat cemas. Berhari-hari aku menyembunyikan tentang keguguran yang kualami darinya yang sedang di luar negeri. Hingga suatu hari ia akhirnya mengetahui ketika ia menelepon ke mansion dan salah satu maid mengatakan jika aku sedang pergi keluar untuk pemeriksaan pasca keguguran.

Ia menangis di telepon ketika menghubungiku.

"Tak seharusnya kau menyembunyikan hal ini dariku, Mei-chan. Dan maafkan aku tak ada di sampingmu waktu itu."

Ia berbisik parau membuatku merasa bersalah.

"Justru akulah yang harus minta maaf, Anata. Aku tidak becus menjaga bayi kita,"

Ini semua salahku, andai saja aku menuruti semua perkataannya untuk tidak terlalu sering keluar rumah.

"Ssh, jangan salahkan dirimu. Kalau begitu besok aku akan pulang. Aku tidak ingin meninggalkanmu lagi."

Aku tersenyum mendengarnya. Jujur aku senang saat mengetahui ia akan pulang tepat dua minggu setelah insiden keguguran. Aku kembali tersadar hingga menangis. Rasanya sulit, tapi aku berjanji untuk mengikhlaskan bayiku.

.

Hari ini adalah waktu dimana suamiku akan pulang. Aku ingin menjemputnya di bandara namun orang tuaku melarang karena kondisiku belum benar-benar pulih.

"Kau tinggal di rumah saja, kami yang akan menjemputnya."

"Tapi Kaa-san," potongku.

"Tidak ada tapi-tapian. Tenang saja, kami akan membawakannya padamu."

Ayah dan ibu terkikik melihatku merajuk seperti anak kecil yang tidak diajak piknik dan hanya diberi janji dibawakan oleh-oleh ketika pulang.

Aku akhirnya mengangguk pasrah. Menunggu mereka pulang adalah yang terbaik.

Detik demi detik berlalu.

Tiga jam sudah aku menanti. Dan mereka belum juga kembali? Aku mendengus, berpikiran jika pastilah mereka mampir dulu ke toko mochi. Bukan hal yang aneh karena suamiku tahu benar bahwa aku penggemar kue yang terbuat dari tepung ketan itu. Berniat melepas bosan, aku menghidupkan televisi. Layarnya menyajikan berita yang memperlihatkan puing-puing pesawat yang mengalami kecelakaan.

Tidak terlalu jelas tetapi ...

Deg!

Aku merasakan firasat buruk. Mataku tak terlepas sedetikpun dari layar datar yang menampilkan replay detik-detik kecelakan pesawat itu terjadi. Pesawat yang bertolak dari Amerika itu tergelincir saat akan mendarat. Guncangan dan gesekan badan pesawat dengan landasan membuat percikan api yang memicu pesawat itu meledak. Api menjalar membakar seluruh badan pesawat. Mencipta asap hitam yang membubung tinggi.

Aku berusaha menenangkan gejolak yang mendadak timbul dalam benak. Berusaha berpikir positif. Hembusan napas dalam sebagai pertanda bahwa aku sedang berusaha meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. Walau sudah hampir setengah hari, Ayah, Ibu dan suamiku belum juga pulang, tapi aku yakin semua baik-baik saja. Aku terus mendikte pikiranku demikian.

Hingga suara sirine ambulan terdengar di depan mansion.

Saat itu aku merasa duniaku runtuh. Orang-orang yang kusayangi memang pulang. Namun dalam kondisi tak bernyawa. Istri mana yang tak sedih, suami yang dinantikan kedatangannya justru pulang dalam bentuk abu kremasi. Anak mana yang tak sedih kala orang tua yang disayangi justru pulang dengan tertutup peti.

Polisi mengatakan suamiku menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat hari itu dan kedua orang tuaku menjadi korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalur utama menuju bandara. Lalu lintas yang padat saat orang-orang berbondong-bondong ingin melihat insiden kecelakaan di bandara memicu kecelakaan beruntun. Dan orang tuaku salah satu korbannya.

Duniaku seakan rubuh. Tak ada lagi kehidupan sempurna seperti yang kupikirkan dulu. Segalanya dariku terjungkir balik dalam sekejap. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sering histeris kala mengingat semua cobaan yang Kami-sama berikan. Nyaris gila jika dokter keluargaku tak membawa psikiater untukku.

Hanya ada Konan, asisten pribadi sebagai satu-satunya orang terdekatku yang tersisa. Dia menangis untukku, di depanku yang sedang meringkuk di Kasur.

"Mei-sama kumohon sembuhlah. Ayah serta suami Anda menitipkan semuanya pada Anda. Jangan pernah merasa bahwa Anda sendirian. Kami semua akan selalu ada untuk Anda."

Berkat dia, setitik kecil semangat yang tertinggal tidak jadi padam. Aku berusaha bangkit dan memulai kehidupanku yang baru.

Sejak saat itulah aku mulai berpikir.

Benar.

Tak seharusnya aku larut dalam rasa sedih berkepanjangan. Aku masih memiliki orang-orang di sekitarku. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi. Menemukan kebahagiaanku kembali.

FLASHBACK OFF

.

Author POV

Tes!

Tanpa sadar Mei menitikkan air mata. Seharusnya ia senang mengingat kejutan ulang tahun dari keluarga Naruto dan juga seluruh penghuni mansion tadi. Namun setelah ia naik ke kamar untuk beristirahat, tanpa sadar dirinya menangis. Bukan tanpa alasan ia menangis. Ia meraba lehernya, menelusur setiap inci kalung permata safir yang melingkar manis. Naruto dan cara pria itu memasangkan untai kalung di lehernya, entah mengapa membuat hati menghangat. Namun di sisi lain membuatnya seolah terlempar kembali ke masa lalu. Jika Naruto memberikan kalung tersebut di hari ulang tahunnya, suaminya justru memberikan hadiah kalung di hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.

Mei mengambil kalung berliontin hati yang terletak di meja rias. Sementara tangan kiri menggenggam liontin kalung pemberian Naruto yang masih melingkar di lehernya.

Ia mengamati keduanya bergantian. Bukan membandingkan, hanya saja kedua kalung ini sama-sama memiliki arti yang nanti dan seterusnya akan selalu ia ingat. Terutama, kalung pemberian sang mendiang suami.

"Mei-chan, kemarilah!"

"Ada apa, Anata?"

"Berbaliklah!"

"Ini ..."

"Ya, kalung ini untukmu, terima kasih sudah menemaniku satu tahun ini, Istriku."

Kembali Mei menitikkan air mata. Ia memejamkan mata. Terlalu lelah hingga tanpa sadar ia mulai mengantuk.

Dan malam itu, Mei jatuh tertidur dengan masih menggenggam kalung pemberian sang suami.

.

.

.

Malam yang lainnya lagi setelah hari-hari siang musim panas yang panjang. Bahkan sampai dini hari seperti ini pun hawa udara terasa cukup panas.

Naruto bangun dari tidurnya karena gerah akibat lupa menghidupkan pendingin ruangan. Haus menjadi sebab kakinya melangkah menuju dapur demi mencari tetes-tetes jernih pelenyap dahaga. Baru hendak menapak kaki di anak tangga menuju lantai bawah, Naruto berjengit kala netranya menangkap bias cahaya remang dari pintu ruangan yang terbuka di ujung lorong.

Glukkk...

Hei, di rumah ini mustahil ada hantunya, kan?

Mungkin terdengar sangat memalukan, pria luar biasa mempesona seperti Naruto ini selalu dibuat merinding oleh hal-hal berbau mistis.

Naruto sudah hapal betul seluruh seluk beluk ruangan dan sudut-sudut terdalam mansion mewah tempatnya tinggal ini. Ia bukan orang baru karena sejak remaja sudah berada di sini. Akan tetapi, ruangan yang ia pandang sekarang sama sekali belum terjamah olehnya. Bukan tanpa sebab, ia memang tidak mendengar larangan itu terucap bibir nyonya rumah tapi dari gelagat semua penghuni rumah lainnya, seakan mendekat pintunya saja adalah hal yang sangat tabu.

Dari apa yang pernah Naruto dengar, selain Mei hanya asisten pribadinya saja, Konan, yang pernah memasuki ruangan itu.

Terlintas di benak Naruto. Apakah sosok Mei yang sangat ia kagumi dengan respek setinggi langit, ternyata melakukan ritual pemujaan sesat dibantu oleh Konan sebagai sumber dari semua kejayaan dan kekayaannya ini?

Naruto menggeleng, itu sama sekali tidak mungkin. Semua kekayaan ini jelas diperoleh dengan kerja keras. Apalagi setahun ke belakang ini, dirinya lah yang mengelola dan mengawasi semua arus aset kekayaan milik Mei.

Sungguh, Naruto merutuki betapa konyol jalan pikirannya.

Ah, terlalu lama berpikir. Dengan mantap hati, akhirnya Naruto memutuskan untuk masuk ke ruangan di ujung lorong, dahaga yang mengeringkan kerongkongannya telah ia lupakan jauh-jauh.

Berdiri di depan pintu, Naruto bisa melihat seperti apa isi ruangan yang baru kali ini ia pijak. Tidak terlalu besar namun tidak juga sempit. Nampak seperti perpustakaan kecil dengan dua buah rak yang penuh buku. Furniturenya berbahan kayu dengan nuansa klasik yang didominasi warna coklat. Lampu gantung kecil memancarkan kemilau warna kuning dari api lilin yang dibiaskan oleh beningnya kristal yang pasti dipotong dengan sangat teliti oleh pengrajin batu permata.

Tepat di bawah lampu gantung, ada meja kecil bundar setinggi pinggang dengan sebuah vas berisi setangkai bunga mawar. Kursi goyang sederhana yang terbuat dari kayu diduduki oleh seseorang menghadap ke meja itu. Ah tidak, orang itu menghadap dan memandang sendu sebuah bingkai besar yang dipaku kuat di dinding.

Naruto pasti akan langsung lari seandainya tidak menyadari siapa sosok yang duduk di kursi goyang itu. Ia pun mendekatinya setelah mengambil mantel bulu yang tergeletak begitu saja di lantai.

"Mei-sama, pakaian tidurmu yang tipis ini terlalu banyak memberi kebebasan pada udara dingin. Anda bisa sakit."

Mei begitu terkejut akibat kesadarannya ditarik tiba-tiba oleh suara bernada rendah beserta hangat dan lembutnya mantel bulu yang menutupi punggung. Namun segera ia menyadari siapa sosok dibelakangnya,

"Oh, kau Naruto."

"Ya. Apa ada hal yang sedang membebani pikiranmu?"

"Ad-, ah tunggu. Kenapa kau bisa ada di ruangan ini?"

"Anda tak pernah melarangku 'kan?"

"Tapi aku juga tak pernah memberimu ijin."

"Baiklah, kalau begitu tolong maafkan aku."

"Bukan permintaan maaf namanya kalau tak kau sertai dengan penyesalan," seru Mei ketus.

"Hahaha, iya yaaa. Pasti ada sesuatu yang membebani pikiranmu kan?"

"Tidak ada."

"Ada."

"Tidak!"

"Hm?"

".…"

".…"

".…"

Tak lagi mendapat respon, Naruto menggulirkan matanya pada bingkai besar di dinding. Ia tidak pernah sekalipun melihat sosok laki-laki di dalam foto itu di tempat lain bagian rumah ini. Ia penasaran.

"Dia …, siapa?"

"Suamiku," jawab Mei jujur.

Naruto tak tahu apapun tentang cerita masa lalu Mei. Yang ia tahu, malaikat penolongnya ini sudah sendirian ketika menolong dirinya saat masih gelandangan dahulu.

"Kau mencintainya?"

"Pertanyaan bodoh! Tentu saja, aku sangat mencintainya."

"…."

"…."

Naruto tak tahu ingin berkata apa lagi. Dia menyentuh sebentar kedua pundak Mei dengan tangannya, meremas pelan sebelum melepaskan.

"Aku pergi. Maaf kalau aku menganggumu."

Mei mengangguk.

"Oh iya, sebaiknya lekaslah tidur."

"Hn."

Naruto berjalan keluar tapi sesaat sebelum mencapai pintu, langkahnya terhenti karena Mei mengatakan sesuatu yang membingungkan baginya.

"Naruto, aku ingin memberi satu nasehat padamu."

"Apa?" Naruto berucap setelah berbalik.

"Jangan sembarangan melakukan sesuatu yang bisa membuat seorang perempuan salah paham kalau kau tidak ingin terkena getahnya, mengerti?"

"Heeeeh! Nasehat macam apa itu?"

"Kheh, kau itu pintar jadi pikirkan saja sendiri!"

"Hahh, lebih baik aku melanjutkan tidur daripada memikirkan itu."

Tanpa menunggu Mei membalas ucapannya, Naruto beranjak keluar dari ruangan itu. Ia pasti akan kembali ke kamarnya kalau saja lupa dengan dahaga yang membuat kerongkongannya menjerit.

Ketika di dapur ia sedang menuang air,

"Susah tidur ya?"

Bulu kuduk Naruto langsung meremang karena suara tiba-tiba yang mengetuk gendang telinganya. Dua kali dirinya dibuat takut karena memikirkan hal-hal mistis. Untung saja dia cukup kenal dengan suara tadi, suara perempuan yang baru saja menenggak bir kalengan sambil bersandar di pintul kulkas, sebatang rokok di sela jemarinya.

"Konan-san, kau kelihatan keren sekali."

"Hahahaha, aku hanya berlagak keren."

Konan si asisten pribadi Mei, dengan Naruto tidak bisa dikatakan dekat, keduanya berbicara sering kali hanya untuk urusan pekerjaan. Meski begitu, sebagai orang yang sama-sama dekat dengan Mei, mereka bisa berbicara akrab.

"Jadi bagaimana keadaannya?"

"Bagaimana…, apanya?"

"Dia."

"Aish, kenapa perempuan selalu mengatakan hal yang sulit dimengerti sih?"

Malam ini saja, belum berselang lima menit sudah dua kali kejadian. Itu belum dihitung dengan kelakuan ibunya, Kushina yang akhir-akhir ini sejak dia pulang dari luar negeri, selalu bertingkah aneh seperti mengeluh punya anak bodoh seperti dirinya dan berkhayal punya anak perempuan.

"Lupakan saja!" Konan berkata ketus, ia lalu menyunggingkan senyum dengan pandangan menerawang ke atas. "Aku senang melihat Mei-sama lebih hidup akhir-akhir ini."

"Ya ampun, Konan-san. Kau pikir selama ini Mei-sama mati ha?"

"Ufufuuuu, dunia akan sangat menggelikan kalau semua laki-laki bodoh seperti dirimu."

"Tch! Apaan sih!?" Naruto mendengus.

Raut muka Konan tiba-tiba berubah serius, menatap Naruto. "Kau tahu, Naruto? Mei-sama sudah cukup lama terpuruk dalam penderitaan, sudah saatnya ia mendapat kebahagiaan lagi. Dan kuharap, kau akan terus di sisinya kapanpun itu."

Naruto tersenyum lebar penuh optimisme.

"Tentu saja. Aku pasti akan selalu ada di sisi Mei-sama, tidak akan pernah mengkhianati budi baiknya padaku dan kedua orang tuaku."

"Yayayaaaa, buktikan saja ucapanmu itu."

"Pasti."

.

.

.

Mei PoVON

Segarnya badan sangat terasa sehabis aku mandi. Kebanyakan orang Jepang mungkin hanya mencuci muka dan menggosok gigi sehabis bangun tidur di pagi hari apalagi kalau sedang musim dingin, tapi aku tidak seperti itu.

Aku beranjak keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang membungkus tubuhku. Hanya tinggal rambutku yang belum kering. Kuambil hair dryer lalu duduk di depan meja rias. Suara dengungan mesin pengering rambut memenuhi seluruh ruang kamar. Terasa makin nyaman kala angin hangat mengembus helaian rambutku di pagi yang lumayan dingin ini.

Lima menit selesai dengan rambut, kemudian aku berdiri dari kursi. Tersenyum simpul yang dibalas dengan senyum yang persis sama oleh sosok di balik cermin. Aku tidak perlu buru-buru, agendaku hari ini hanya datang ke kantor untuk mengenalkan Naruto pada semua anggota dewan direksi. Itupun jam 11 nanti siang, tapi aku tetap harus disiplin.

Selama ini, bocah itu kusuruh mengurus cabang perusahaan di luar negri, sudah saatnya dia mengurus yang di sini. Lagipula akan lebih menyenangkan kalau dia menetap di sini saja, terutama untuk kebahagiaan Kushina-san. Dia tampak jauh lebih hidup dibanding ketika terpaksa mengikhlaskan putranya yang kukirim menuntut ilmu di luar negri.

Kuambil ikat rambut karet lalu kugigit ujungnya, kemudian kedua tanganku kugunakan untuk menggelung rambut tinggi-tinggi hingga memperlihatkan leherku yang jenjang lalu kuikat dengan karet tadi agar memudahkanku merias diri. Setelah itu, kuraih ikatan handuk kimono di belakang pinggang untuk melepasnya.

Handuk pun meluncur turun sehingga tak tersisa apapun untuk menutupi tubuhku. Aku tidak perlu malu, toh ini kamar pribadiku yang tak seorang pun mungkin melihat apa di dalamnya. Tak ingin berlama-lama, segera kuberanjak mengambil pakaian dari dalam lemari.

Tapi entah kenapa sebelum meraih pintu lemari, tiba-tiba langkahku berbalik dengan sendirinya ke depan cermin. Tidak tahu ada angin apa, mataku menelusuri setiap inci lekuk mulus tubuhku.

Lagi-lagi aku tersenyum, benar kata orang-orang di luar sana. Pantas saja, meski umurku sudah tidak lagi muda tapi tak pernah berhenti silih berganti laki-laki yang mengungkapkan ketertarikannya padaku, secara terang-terangan maupun tersirat bahkan tidak sedikit yang gelagat dan tindak tanduknya kurang sopan. Segala hal yang melekat di diriku ini, terlalu indah hingga tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata.

Jemari tanganku mulai terasa bergetar kesemutan.

Ahh, kurasa datang lagi.

Sialann!

Aku tidak ingin munafik, jadi kuakui kalau aku hanyalah wanita dengan segala kompleksitas kebutuhannya. Mencari kesenangan demi penyaluran hasrat tanpa melanggar batasan.

Elusan tangan kananku di bagian perut kini telah turun ke area bawah, sementara tangan kiri menjelajah di bagian dada. Bibirku yang mulanya tertutup rapat, kini telah mengeluarkan erangan-erangan halus bercampur rintihan nikmat.

Tak sanggup lagi berdiri akibat desakan gejolak kuat dari dalam diri, punggungku pun menghentak di permukaan kasur. Kubiarkan kakiku menjuntai di sisinya. Kedua paha saing menggesek dan mengapit kuat tangan kananku diantaranya.

Menit demi menit berganti tapi aku tak kunjung aku memperoleh pelepasan tertinggi walau sudah beberapa kali aku melenguh kencang dengan punggung melengkung. Wajahku memerah dan pasti tampak menjijikkan, tapi aku tak kuasa berhenti. Kututup saja dengan telapak tangan kiriku.

Hangatnya likuid bening yang turun dari ekor mataku, terasa amat sangat menyesakkan. Hanya di saat-saat seperti inilah, aku yang kata orang adalah sosok yang kuat, tegas dan anggung, menjadi sangat rapuh.

"Hiikkss …"

Aku lemah.

Aku kesepian.

Aku sendirian.

"Tidak! Kau tidak sendirian, Sayang. Ada aku bersamamu."

"Eh?"

S-suara ini? Suara yang sangat kuinginat ini!?

Kusingkirkan tangan dari wajahku, membuka mata walau hanya buram yang tampak.

Ketika kurasakan hangat dari telapak tangan yang besar membelai pipiku, netraku semakin jelas menangkap.

Rahang kuat yang membalut wajahnya sempurna. Iris gelapnya menatapku penuh kelembutan kendati intensi tersembunyi jelas kentara. Rambut pirangnya acak-acakan, membingkai bagian atas dahi yang tegas. Ia tersenyum tulus menatapku.

"K-kau! Hikkss … Hikkss … Anata."

"Ya, ini aku."

"Benar itu kau?" Kau… suamiku yang amat sangat kurindukan selama ini.

"Kau pikir matamu berbohong eh?"

Senyum di bibir laki-laki yang mengurungku di atas ranjang dengan tubuhnya yang kekar ini tampak sangat meyakinkan. Meski aku tahu dengan pasti, semua ini hanyalah delusiku belaka.

Kepalaku menggeleng sebagai jawaban.

Yah. Aku tahu ini dusta, tapi aku sangat menginginkannya.

Bibirku pun mematri senyum bahagia, yang dibalas seringaian tipis oleh bibirnya.

"Aku datang datang Sayang. Terimalah."

"I-iya. Ngghhh…"

Niat hendak mengangguk namun apalah daya, kepalaku mendongak tatkala inti tubuhku merasakan hentakan kuat dari dorongan pinggulnya. Tubuhku penuh sesak oleh miliknya dan oleh gelenyar memabukkan yang menyertainya, yang kusalurkan lewat tangan mencengkram sprei Kasur.

"Ahhh… Ah-hhh. Nngghhh."

Nafasku tersengal becampur erangan liar yang terdengar syahdu bersamaan gerakan harmonis yang dia lakukan padaku.

Kuberanikan menatap wajahnya lagi. Wajahnya yang tak pernah kulupa sedetikpun, yang kini basah oleh cucuran peluh.

Tetes demi tetes memenuhi dahinya. Rambut pirang yang tampak lembab akibat produksi keringat berlebih. Membias wajah kemerahan penuh rona malu pria itu yang penuh akan hasrat menggebu. Sorot matanya sayu, membuatku semakin menelan ludah kasar. Rahang itu begitu keras namun lembut dalam kala yang sama. Bibir tipisnya tertarik mencipta sebuah seringai nakal yang sangat menggoda.

Kami-sama!

Kukalungkan kedua tanganku pada lehernya, memandu wajahnya turun agar aku mendapatkan pagutan panas yang sedari tadi kuinginkan.

Dia tak melawan, dengan senang hati ia memberi apa yang kuinginkan.

Aku memejamkan mata menikmati setiap buai nikmat yang dia beri.

Pada titik lain, dorongannya makin kuat dan cepat. Aku tak kuasa menahan, akan tetapi erangan liarku dibungkam olehnya.

"Hnggghh…"

Kuangkat kedua kakiku dan kulingkarkan dipinggulnya. Memberikan dirinya akses untuk masuk lebih jauh di dalam diriku.

Pelepasan yang kuinginkan…..

Aku akan segera datang.

"Aaaaaahhhnnn."

Desahan panjang keluar dari bibirku pada saat-saat terakhir, kala ia melepaskan pagutannya.

Mataku masih terpejam, menikmati sisa-sisa kehangatan yang dia tinggalkan di dalam tubuhku.

"Buka matamu, Mei-sama."

Aku mengernyit, warna suara dan caranya memanggilku kini berbeda?

Kutatap suamiku lekat. Dia masih tersenyum lembut seperti semula.

Aku senang, akan tetapi pandanganku tiba-tiba memburam. Kupejam-pejamkan mataku, berharap netraku menangkap gurat wajahnya sejelas tadi.

Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Helaian rambutnya masih berwarna pirang, namun kini terpangkas pendek. Warna kulitnya sedikit menggelap serta tanda lahir di kedua pipi. Iris matanya pun sangat berbeda, tidak lagi sehitam jelaga namun biru berkilau bak permata sapphire jernih.

"Mei-sama."

"Kau!?"

"Iya, ini aku Mei-sama."

"Naruto!"

"Hu'um. Aku, laki-laki yang sangat kau inginkan saat ini."

"TIDAAAAKKK!"

Aku berteriak, mendorong keras tubuhnya. Kuedarkan pandanganku kesekeliling. Tidak ada seorangpun, sejak awal aku memang sendirian di kamar ini.

Aku duduk di tepi kasur, mengusap wajahku sembari mengembuskan nafas panjang. Tubuhku basah bermandikan peluh. Aku menunduk dan memeluk erat tubuhku sendiri.

"Apa-apaan itu tadi?"

"Jangan bercanda!"

"Apa cinta dan kesetiaanku sedang diuji? Sampai-sampai bocah itu muncul menggantikan dirinya?

"Engggggghh, siaaallll!"

Kugelengkan kepalaku, demi mengurai emosi yang meluap-luap.

Aku sadar, bocah itu tidak lagi seorang bocah seperti saat dulu dia kupungut. Tak sanggup kupungkiri pesonanya sebagai laki-laki yang sudah selesai bertumbuh sangat lah luar biasa.

Tapi…

Tapi tak mungkin berhasil mempengaruhiku sampai sejauh ini kan?

Tidak mungkin!

Yah, kurasa aku harus melakukan sesuatu. Ini tak bisa dibiarkan begitu saja.

Mei PoV OFF

.

.

.

Jam 9.30 malam, walau terlalu dini tapi Naruto sudah ingin tidur di kamarnya. Akan tetapi niat itu harus batal akibat suara ketukan pintu.

Ctekkk.

Begitu pintu kamar dibuka, ternyata Shizune si kepala pelayan yang telah mengganggu tidurnya. Naruto terkekeh tanpa suara saat ingat cerita ayahnya setelah merayakan ulang tahun Mei bahwa ibunya sempat naik darah gara-gara kecerobohan Shizune yang lupa meletakkan lilin untuk kue ulang tahun. Konyol.

Tapi mendadak perasaan Naruto berubah drastis saat menyadari Shizune tidak sendiri, ada Konan di sisinya. Asisten pribadi Mei ini memang tidak jarang menginap di mansion ini kalau ada keperluan, tapi kalau sampai mendatangi kamarnya malam-malam begini?

"A-ada apa ini?"

Naruto merasa ada sesuatu yang tak beres.

"Ikut lah," pinta Konan.

"Eh, kemana?"

"Mei-sama menunggumu di ruang keluarga," kata Konan, lalu ia pun melangkah pergi tanpa mengunggu jawaban Naruto. Lagi pula mana mungkin Naruto berani menolak perintah nyonya rumah. Shizune mengikuti di belakangnya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Naruto keluar dari kamar mengikuti kedua wanita itu.

"Memangnya ada apa sih?"

"Kau akan tahu sendiri kalau sudah di sana, Naruto." Shizune menoleh ke belakang sedikit saat menjawab.

"Ahh, pasti kalian sudah tahu, ya kan? Katakan saja padaku, tidak perlu pakai rahasia-rahasiaan."

Bukan apa-apa, hanya saja Naruto merasa sedikit gugup kalau dirinya diperlakukan seperti ini.

".…"

"…."

Baik Konan maupun Shizune sama-sama tak mau menjawab, dan ini malah menambah kegugupan Naruto.

Ada apa sebenarnya? Tanya Naruto dalam hati.

Urusan bisnis dan pekerjaan pasti bukan, hal yang sangat jarang bagi Mei membahas pekerjaan kalau sudah di rumah. Apalagi Naruto merasa bahwa semua pekerjaan di kantor telah beras dan tidak ada yang perlu dibawa pulang. Liburan dan piknik keluarga? Bukan juga, tanggal-tanggal sibuk kerja masih terus bersambung sampai berminggu-minggu lagi. Wasiat atau warisan? Ah itu makin tidak mungkin, memangnya siapa yang mau mati.

Kalau bukan semua itu, lalu apa?

Mengira-ngira hanya membuat Naruto makin berpikiran ngawur. Lebih baik mendengar langsung dari mulut Mei.

Begitu sampai di ruang keluarga, Naruto makin heran. Yang menunggu bukan hanya Mei saja, tapi juga ada ayah dan ibunya. Ditambah lagi suasananya yang tidak biasa, lebih sunyi dan serius padahal kalau sedang berkumpul seperti ini pasti akan banyak tertawa.

"Ada apa ini?" Naruto berucap saat dia duduk di sofa kosong yang memang seperti sengaja disediakan untuknya.

"Kok tegang yah," katanya lagi bermaksud mencairkan suasana.

"Naruto."

Suara tegas yang menyebutkan namanya, membuat Naruto menegakkan badan.

"I-iya, Mei-sama."

"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Kushina-san dan Minato-san."

"Uh huh."

Mau ada apa sebenarnya? Pikir Naruto penasaran. Saat ini sedang serius dan ia sama sekali tidak tahu kemana arah obrolan ini.

"Tapi keputusan akhir tetap di tanganmu sepenuhnya."

Glupp.

Naruto meneguk ludah kasar.

"Naruto, ini mungkin akan terdengar sangat mengejutkan bagimu."

"Ya." Naruto mengangguk sekali.

".…"

".…"

Setelah hening sesaat yang menegangkan, Naruto benar-benar dikejutkan oleh perkataan Mei kemudian.

"Bisakah kau menikahiku?"

.

.

.

TBC

.

.

.

Si Hitam Note:

Hanya mau sedikit menjawab review. Hinata belum pernah muncul kan? Ufufuuu, oke baiklah. Yang menantikan Hinata, akan full diceritakan mulai chapter depan. Cerita Naruto dan Mei kita skip dulu, entah nanti akan bagaimana jadinya.