CHAPTER 4

...

Hinata membongkar pigura kecil yang selalu ia pajang di atas nakas samping tempat tidur. Selembar foto bergambar dirinya dirangkul oleh remaja laki-laki berambut pirang yang tengah tertawa lebar. Ini adalah satu-satunya kenangan yang ia punya tentang seseorang di masa lalunya.

"Aku merindukanmu, Naruto-kun."

Sudah 10 tahun ia tidak bertemu dengan laki-laki di dalam foto itu. Ia mengira-ngira seperti apa rupa sahabat terkasihnya itu sekarang.

Ia melirik kalender kecil di meja tempat ia menaruh buku dan berkas-berkas pekerjaannya. Kalender kecil dengan sebuah lingkaran biru di salah satu tanggal di bulan ini. Setiap tahun ia menandai satu tanggal pada kalendernya, dan terus melakukannya hingga sudah sepuluh tahun sekarang ini.

"Kita akan segera bertemu."

Keesokan paginya, Hinata mengemasi beberapa barang yang akan ia bawa pergi ke kampung halamannya. Tidak banyak, hanya jaket dan beberapa potong baju, serta selembar foto dirinya bersama sang sahabat. Jarak Ame dan Desa Konoha cukup jauh, butuh waktu seharian untuk sampai di sana. Sepertinya ia akan tidur di kereta demi mengurangi penat akibat perjalanan jauh.

"Nee-chan mau pergi dan tidak mengajakku?"

Suara cempreng menghentikan kegiatan Hinata berkemas. Dilihatnya sang adik, Hanabi, tengah bersandar di pintu kamarnya dengan wajah menekuk sebal.

"Besok kau harus sekolah dan aku tidak ingin kau membolos, Hanabi."

"Nee-chan juga besok harusnya masuk kerja," sanggah Hanabi cepat.

"Aku sudah meminta cuti untuk beberapa hari."

Bohong.

Sebenarnya Hinata sudah keluar dari pekerjaannya karena suatu hal. Ia tidak menceritakan semua pada kakak dan adiknya. Ia berjanji akan mencari pekerjaan setelah ini.

"Jadilah anak baik dan jangan merepotkan Neji nii-san di rumah," lanjutnya.

"Ugh, baiklah Nee-chan, aku akan jadi anak baik selama kau pergi," sahut Hanabi ogah-ogahan.

"Aku ragu."

Suara di belakang membuat kedua kakak adik itu menoleh. Neji dengan wajah stoicnya berjalan menuju tempat Hanabi berdiri.

"Huh? Neji nii-san meragukanku?"

"Tentu saja, kau pasti akan semakin merepotkan apalagi jika tidak ada Hinata di rumah."

"Hmph." Hanabi memalingkan muka dan bersedekap sebal.

"Omong-omong Hinata, taksimu sudah tiba."

"Eh benarkah? Tunggu sebentar, aku akan segera turun."

Hinata melambai pada kakak dan adiknya sebelum memasuki mobil. Ia senang sang kakak yang selama ini selalu overprotective itu mengizinkannya pergi ke desa tempat mereka tinggal dulu.

"Nee-chaaan, berhati-hatilah."

Hanabi berteriak dan melambaikan tangan dengan semangat. Hinata tersenyum singkat melihat tingkah adiknya. Sudah waktunya berangkat. Taksi yang ditumpanginya pun melaju membelah ramainya jalan raya Amegakure.


After long hiatus, finally we can present this chapter.

Sorry for waiting too long ^^.

.

.

.

UNBREAKABLE PROMISE

.

Disclaimer : Karakter yang dipakai di dalam ff ini adalah milik Masashi Kishimoto

.

.

.

Original Story : Si Hitam

Written by : Valentinexxx, Si Hitam and ForgetMeNot09

Editor : ForgetMeNot09


...

Stasiun Kereta Amegakure.

Hinata turun dari taksi dan memasuki area stasiun kereta. Jadwal keberangkatannya sekitar lima menit lagi. Ia duduk di kursi yang tersedia di peron stasiun. Ia jadi tidak sabar. Senyum-senyum sendiri selama lima menit hingga suara bel tanda kereta datang itu menyadarkannya dari lamunan.

Perjalanan panjang menuju Konoha membuatnya mengantuk. Melirik jam tangan, sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ternyata sudah berjam-jam ia duduk di kursi kereta. Penumpang lain pun sudah hampir tertidur semua.

Hinata meraih ponsel yang ada di dalam tas. Pesan singkat dan panggilan tak terjawab memenuhi notifikasi ponselnya. Ia sengaja mengatur mode diam pada ponselnya karena sedari siang ponselnya tak berhenti berbunyi. Ia mendapat banyak pesan dan telepon dari Neji. Kakaknya itu pasti khawatir setengah mati sampai-sampai harus menanyakan kabarnya setiap tiga puluh menit sekali.

'Aku akan mengabarimu saat aku tiba di sana Neji nii-san, jangan khawatir.'

Ia menulis pesan singkat untuk Neji lalu kemudian mencoba tidur. Perjalanannya masih jauh.

.

.

.

Kelopak mata itu bergerak-gerak merasa terganggu dengan silau cahaya. Ia terbangun. Cahaya matahari menembus kaca jendela kereta tempat ia tertidur semalam. Kereta yang ditumpanginya masih melaju melewati areal persawahan, lalu tak lama kemudian jejeran pohon sakura menyambutnya sepanjang perjalanan.

"Ini kan ...,"

Mungkin sudah 10 tahun berlalu, tapi ia masih ingat jika tempat ini sudah dekat dengan desa yang ia tinggali dulu. Dari balik jendela kereta, matanya menerawang jauh ke area lahan yang dipenuhi pepohonan dan ilalang.

Semasa kecil, Hinata pernah mencari jalan pintas melewati pepohonan dan semak-semak di sebuah lahan tak jauh dari area perlintasan kereta bersama sahabatnya. Ya, Naruto. Bocah pirang itu mengajaknya masuk lebih dalam ke area lahan yang masih penuh dengan semak-semak dan ilalang. Dia bilang untuk latihan survival atau apalah itu namanya karena ia sering mendengar istilah itu dari guru pramuka di sekolahnya. Namun tanpa sengaja jauh di dalam sana mereka menemukan danau kecil dengan air yang jernih.

Setiap hari mereka kembali ke tempat itu dan menghabiskan waktu bermain di pinggir danau, dari sepulang sekolah hingga sore menjelang. Bagi mereka itu adalah tempat persembunyian rahasia mereka berdua. Tahun demi tahun berlalu hingga pada akhirnya mereka juga berpisah di tempat itu. Tanpa sadar, tempat itulah yang menjadi saksi bisu kehidupan mereka.

...

Hinata akhirnya tiba di stasiun kereta Konoha. Suasana di sini sedikit lebih ramai dari yang terakhir kali ia ingat. Ia melambai menghentikan sebuah angkutan desa yang melintas.

Kendaraan umum yang ditumpanginya berhenti di sebuah pertigaan. Salah satunya adalah jalan yang mengarah ke desanya dulu. Baru saja ia turun, ponselnya berdering.

"Halo"

"..."

"Aku sudah tiba di Konoha, Neji nii-san."

"..."

"Maaf aku mematikan ponselku semalam."

"..."

"Iya aku mengerti, kalian berdua juga baik-baiklah di rumah."

Hinata menutup ponselnya. Pandangan matanya tertuju pada jalan beraspal yang sudah terkikis di beberapa bagian, ini adalah jalan menuju desa tempat ia tinggal dulu.

Kelebat masa lalu membayanginya, hatinya menghangat, akhirnya ia akan bertemu dengan seseorang yang sudah ia tunggu lama. Ia bahkan masih hafal jalan menuju rumah sahabatnya itu meski sudah banyak perubahan di sana sini.

Dari jauh, ia bisa melihat rumah Naruto, ia mengenalinya dari pagar bambu yang tertutupi dedaunan. Perasaannya membuncah hingga ia berlari kecil agar cepat sampai. Ia melihat pagar bambu itu dipenuhi semak belukar dan tanaman merambat saat ia tiba di sana. Halaman rumahnya pun penuh dengan dedaunan kering.

Ketika ia menapakkan kakinya di teras rumah Naruto, lantai kayu yang ia pijak terlihat rapuh, dinding-dinding kayu yang mulai retak, juga daun pintu yang lapuk dimakan rayap. Pelan-pelan ia mendekat ke jendela. Ia mencoba melihat ke dalam rumah melalui jendela, namun tirai tipis yang sudah usang itu sedikit menutupi pandangan dari luar sini. Di dalam rumah pun tak ada tanda-tanda seorang manusia. Tangannya yang tadi menempel di kaca jendela perlahan merosot turun, meninggalkan jejak jari pada kaca jendela yang berdebu. Ia menyadari satu hal, namun enggan untuk percaya, bahwa rumah ini sudah lama tak berpenghuni.

"Naruto-kun di mana kau?" Ia bertanya entah pada siapa.

...

Hinata POV.

Naruto-kun tidak ada di rumahnya, bahkan keluarganya pun tidak ada. Rumahnya terlihat sudah lama tidak dihuni. Apa Naruto-kun pergi? Apa ia sudah lupa dengan janji kami?

Tidak ... tidak ...

Naruto-kun bukan orang yang seperti itu. Aku harus mencarinya ke tempat biasa kami bermain bersama dulu. Dia pasti ada di sana.

Aku meninggalkan rumah Naruto-kun, tujuanku sekarang adalah pergi ke tempat biasa kami bermain bersama semasa kecil. Lapangan desa tak terlalu jauh dari rumah Naruto-kun. Sesekali aku menoleh ke belakang, melihat rumah Naruto-kun yang semakin menjauh dari pandangan mataku hingga hanya terlihat sisi atap dan pagar depan saja. Entah kenapa aku terus melakukannya. Mungkin aku mengharapkan ketika aku menoleh ke belakang, aku bisa melihat Naruto-kun di sana.

Aku pun tiba di belokan jalan setapak menuju tempat tujuanku. Bahkan sebelum benar-benar berbelok aku masih menyempatkan diri untuk menoleh ke arah rumah Naruto-kun di ujung sana. Kulihat sebuah mobil hitam berjalan pelan dan sepertinya berhenti di jalan depan rumah Naruto-kun. Aku tidak begitu yakin mobil itu memang berhenti tepat di depan rumahnya atau tidak karena jarak pandangku yang jauh.

Jarang ada mobil pribadi melintas di desa ini. Mungkin itu seseorang yang tersesat di sekitar sini. Kuabaikan itu dan aku pun berbelok melanjutkan perjalananku.

Tempat ini masih sama. Tak banyak yang berubah. Bangku panjang di sisi lapangan pun tak berubah. Duduk di sini dan mengamati seluruh area lapangan membuatku mengingat masa lalu.

Di tempat ini aku sering bermain bola bersamanya. Lempar-tangkap bola adalah kesukaanku karena aku tidak mahir dalam menendang bola. Tidak seperti Naruto-kun yang hebat dalam segala jenis olahraga. Lemparan bola Naruto-kun selalu sulit kutangkap dan justru mengenai kepalaku. Aku tahu ia pasti sengaja mengerjaiku walau dia mengelak dengan mengatakan aku yang tidak serius menangkap bola.

Bahkan tidak sadar aku cemberut sendiri membayangkan masa lalu kami. Kalau dia bisa mengerjaiku, aku juga bisa mengerjainya. Aku sering berpura-pura terjatuh dan keseleo karena permainan bola kami, kemudian meminta Naruto-kun menggendongku sampai rumah. Dia selalu melakukannya. Kami bercanda sepanjang perjalanan. Saking senangnya aku memeluknya begitu erat dalam gendongan. Saat sudah dekat dengan rumah aku seperti enggan melepasnya. Aku ingin bersamanya lebih lama.

Lagi-lagi Naruto-kun tidak ada di tempat ini. Aku kembali pergi ke tempat lain. Kemungkinan aku bisa bertemu Naruto-kun di sana.

Nihil.

Aku tidak menemukan Naruto-kun di manapun. Lapangan, kebun belakang sekolah kami yang dulu, taman desa, aku sudah menyambangi semua tempat biasa kami bermain, namun aku belum menemukannya. Cahaya matahari berubah keemasan di ufuk barat. Ini sudah senja. Masih ada satu tempat lagi yang belum aku kunjungi. Tempat di mana kami berpisah 10 tahun yang lalu.

Aku menuju perlintasan kereta. Tempat yang pertama kali kulihat saat aku tiba di desa. Tepat setelah kereta melintas, aku segera berlari menyusuri jalan utama dan berbelok ke jalan setapak menuju areal lahan yang masih penuh dengan ilalang yang meninggi.

Tak ada yang berubah dari tempat ini. Pohon kesemek di pinggir danau sekarang sudah mulai meninggi. Pohon ini menjadi tempat kami berteduh karena ini satu-satunya pohon yang tumbuh di dekat danau yang dikelilingi ilalang dan semak belukar. Beberapa helai daun kesemek yang menguning berjatuhan di atas air danau.

Aku terhanyut dalam refleksi air danau yang seolah memutar kembali masa laluku. Sepuluh tahun lalu kami berpisah di tempat ini. Ia memintaku menunggunya. Aku masih menyimpan semua perasaanku hanya untuknya. Tapi dia tidak datang. Ini sudah 10 tahun, Naruto-kun mungkin sudah lupa.

Aku mengambil selembar foto dari dalam tas. Foto di saat kami masih bersama-sama sebagai sahabat.

"Naruto-kun, aku sangat merindukanmu."

Aku menangis sendirian di depan danau. Aku tidak menemukan Naruto-kun. Apa dia benar-benar sudah lupa? Padahal aku telah lama menunggunya.

"Aku akan tetap menjaga perasaan ini untukmu. Kau tahu Naruto-kun, perasaanku padamu masih sama, bahkan semakin besar. Aku tidak peduli meski seumur hidupku kuhabiskan untuk menantimu. Ketika kita bertemu suatu hari nanti, aku akan mengatakan semuanya padamu. Aku mencintaimu, Naruto-kun."

Aku memutuskan untuk kembali. Tidak ada Naruto-kun di sini. Aku kembali menyusuri jalan yang sama, melewati jalan setapak kemudian berbelok ke jalan utama yang membawaku kembali ke perlintasan kereta. Senja sudah mulai meredup. Aku berjalan menunduk tak bersemangat, beberapa orang di depanku bahkan sudah menyeberang mendahuluiku. Aku tak menghiraukan beberapa pejalan kaki yang berpapasan denganku dari arah yang berlawanan. Aku memikirkan Naruto-kun.

Aku menyeberang sebelum palang pembatas perlintasan ditutup. Aku mempercepat langkah kaki. Aku tak bisa lagi membendung air mata. Aku tak peduli dengan sekitar, tak peduli suara gesekan rel dan gerbong kereta sayup-sayup terdengar. Kereta melintas tak lama setelah aku menyeberang. Padahal dulu melihat kereta lewat adalah hal yang kami sukai. Ah lagi-lagi aku memikirkan dia.

Aku menyembunyikan tubuhku di belakang pohon sakura yang berjejer di pinggir jalan utama area perlintasan kereta. Air mataku masih mengalir. Aku benar-benar merindukannya sampai-sampai aku menangis. Tapi Naruto-kun takkan datang. Aku mengambil ponsel dan menghubungi Neji nii-san. Aku ingin kembali ke Ame hari ini juga.

"Neji nii-san, aku akan pulang hari ini."

Aku memutuskan panggilan sebelum Neji nii-san sempat bertanya lebih jauh. Aku mengusap kasar jejak air mata di wajah namun aku tidak bisa berhenti menangis. Suara kereta yang melintas terdengar semakin menjauh, aku tak acuh dengan itu. Aku masih terduduk di bawah pohon sakura dan menyembunyikan wajahku pada lutut. Aku ingin pulang. Aku mengusap sisa-sisa air mata kemudian bangkit. Aku menoleh ke belakang, beberapa pejalan kaki hilir mudik di perlintasan karena kereta sudah lewat dan palang pembatas perlintasan sudah dibuka sejak beberapa menit yang lalu. Apa aku tadi menangis terlalu lama? Sebelum aku berbalik, tanpa sengaja mataku melihat seorang pria berambut pirang di antara beberapa pejalan lain cukup jauh dari tempatku berdiri. Aku tidak melihat wajahnya karena dia berjalan berlawanan arah dengan tujuanku. Aku hanya melihatnya jauh dari belakang, sepertinya ia memakai jas hitam formal. Apa Naruto-kun sekarang seperti itu? Aku masih memperhatikannya beberapa saat hingga rombongan pejalan kaki lain menghalangi pandanganku. Beberapa di antaranya berambut pirang, laki-laki dan juga perempuan.

Aku berbalik dan mengusap sisi wajahku. Ya ampun aku bahkan mengira semua yang berambut pirang itu adalah Naruto-kun. Aku menggeleng merasa geli dengan pemikiranku. Aku menggeleng mengenyahkan pikiran yang aneh itu dan melanjutkan perjalanan pulang.

.

.

.

Hinata PoV

Hari ini aku mendapatkan panggilan wawancara kerja di sebuah perusahaan besar yang membuka cabang di kota tempatku tinggal ini, Amegakure.

"Haaahhh ...."

Aku mendesahkan nafas. Lagi-lagi aku berpindah pekerjaan.

Baiklah, mari kuceritakan sedikit bagaimana perjalananku mengumpulkan pundi-pundi uang.

Jangan berpikir jika aku adalah orang penuh dengan prestasi atau semacamnya. Aku hanyalah satu dari sekian banyak karyawan yang mengalami takdir keras dunia kerja.

Pertama kali aku bekerja, saat aku masih duduk di bangku SMA. Meski kebutuhan ekonomi cukup tercukupi dengan pekerjaan kakakku , Neji-nii, sebagai staf operator di sebuah perusahaan IT, namun aku tak ingin berpangku tangan saja.

Saat itu aku sudah mampu berpikir, Neji-nii bukan lagi remaja. Dia telah bertumbuh menjadi sosok laki-laki dewasa dan berada pada usia yang produktif untuk menikah. Jika dia hanya terfokus mengurusku dan Hanabi, aku khawatir ia akan lupa memikirkan masa depannya sendiri. Sebab itulah aku meminta izin padanya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhanku sendiri. Serta dengan sebuah niat agar ia bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung.

Walau pada awalnya menolak, tapi akhirnya Neji-nii menyetujui keinginanku. Sehingga untuk saat ini dia hanya perlu memenuhi kebutuhan Hanabi saja, adikku yang baru menginjak kelas 4 sekolah dasar.

Namun ternyata kenyataan tak seindah harapan.

Pekerjaan pertamaku adalah aku bertugas melayani pelanggan di sebuah butchery atau toko daging. Lingkungan kerja kurasakan cukup baik dan membuatku nyaman, tapi tidak bertahan lama. Tiga bulan waktuku untuk bekerja di tempat itu.. Toko itu mengalami kebangkrutan akibat kalah dalam persaingan usaha dengan supermall baru yang dibangun tak jauh dari lokasi toko.

Aku tidak berhenti bekerja begitu saja. Satu bulan lamanya, setiap pulang sekolah aku selalu terlambat sampai di rumah hanya demi mencari sebuah pekerjaan. Tak peduli setiap malam aku terkatung-katung di jalan.

Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan kembali. Aku mendapatkan upah yang cukup besar dari pekerjaan ini. Aku senang pada awalnya, tetapi kemudian Neji-nii mulai marah. Ia berkata bahwa aku terlalu memaksakan diri untuk menjalani pekerjaan ini hingga stamina tubuhku menurun membuat konsentrasi belajarku juga menurun. Dampak akhirnya adalah nilai-nilai mata pelajaran di sekolahku yang anjlok.

Semenjak kejadian itu Neji-nii tidak lagi mengizinkan aku bekerja. Tetapi aku tidak ingin niatku meringankan bebannya terhenti. Aku nekat dan memberanikan diri untuk mencari pekerjaan tanpa sepengetahuannya. Hingga aku berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai waitress di sebuah kedai kopi kecil.

Aku pulang membawa kabar itu pada Neji-nii. Kami terlibat adu argumen yang cukup memakan waktu, aku tetap bersikeras hingga akhirnya Neji-nii mengizinkan. Aku berhasil meyakinkannya jika pekerjaan baruku ini tidak akan mengganggu kegiatan sekolah. Aku menjalani pekerjaan itu hingga lulus SMA. Aku menerima upah yang tak seberapa, hanya cukup untuk kebutuhan sekolahku, walau hampir tak ada sisa meski untuk membeli sepotong roti di kantin.

Bisa dibayangkan bukan? Dengan kondisi yang seperti itu, masa SMA-ku tidak seindah anak-anak remaja lainnya. Aku bukan siswi yang pintar dan berprestasi. Aku tidak mengikuti kegiatan klub apapun. Di kelas, aku tidak memiliki orang yang benar-benar bisa kuanggap teman. Aku tidak populer bahkan seringkali diabaikan, sendirian bak dikucilkan walau sebenarnya tidak ada satupun orang yang bermaksud mengucilkanku.

Akhirnya aku lulus SMA dengan nilai standar, tapi aku mensyukurinya.

Neji-nii sebagai sosok kakak yang bertanggungjawab. Ia berkeinginan agar kami, adik-adiknya bernasib lebih baik dari dirinya. Dia benar-benar menjelma bagai seorang ayah bagi aku dan Hanabi.

Uang yang ditabung olehnya untuk keperluan masa depannya, malah dia gunakan untuk mendaftarkan aku kuliah. Ia berkata, saat itu sedang tidak memiliki seseorang yang bisa diajak untuk membangun rumah tangga hingga ia berpikiran untuk menggunakan uang tersebut bagi pendidikan kami.

Meski begitu, aku tidak bodoh. Aku cukup tahu jika Neji-nii berbohong. Pernah sekali waktu tanpa sengaja aku melihat isi ponselnya, kudapati ia sering bertukar pesan dengan nomor kontak seorang perempuan. Aku tidak tahu siapa, mungkin rekan kerjanya.

Masa kuliahku tidak lama, bukan karena aku lulus cepat tapi karena memang jenjang kuliah yang kuambil tidak tinggi. Hanya setara D2, itupun dari universitas biasa. Selama masa kuliah, aku bekerja tidak tetap dan serabutan. Menjadi pelayan restoran, SPG, badut taman bermain anak, loper koran, pengantar susu segar pagi-pagi buta, bahkan menjual balon mainan pun aku lakukan hanya agar tidak semakin memberatkan beban kakakku.

Lagi-lagi aku lulus dengan nilai standar sehingga aku mengalami kesulitan saat mencari pekerjaan.

Tiga bulan lamanya aku menganggur, barulah aku mendapat panggilan wawancara kerja di salah satu cabang perusahaan pengiriman barang. Tanpa perlu melewati proses yang belibet, aku berhasil diterima bekerja di perusahaan tersebut.

Dari sinilah, aku benar-benar masuk dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Dunia yang kupikir kejam, untuk seorang gadis seperti diriku.

Perusahaan pengiriman barang. Bisa dibayangkan seperti apa di sana? Dateline yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat dengan arus barang yang luar biasa banyak ditambah beratnya tekanan kerja yang menuntut cepat dan teliti dan tak boleh sedikitpun melakukan kesalahan. Hasilnya, tidak sampai satu bulan bekerja, aku jatuh sakit.

Kembali Neji-nii gusar. Dia meminta aku untuk keluar dari pekerjaan itu. Akan tetapi aku meminta agar tetap diizinkan terus bekerja, aku berujar bahwa tubuhku hanya belum terbiasa dengan pekerjaan ini.

Dua bulan berlalu aku menjalani pekerjaan ini hingga aku terpaksa resign. Aku tidak bisa membuktikan apa-apa pada Neji-nii bahwa aku mampu. Nyatanya sakitku malah semakin parah.

Perlu dua minggu bagi tubuhku untuk kembali pulih, dan empat minggu tambahan untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Selama bekerja di perusahaan pengiriman barang ini, aku sempat menjadi perhatian beberapa pria kawan kerjaku. Entah apa yang membuat mereka tertarik padaku, padahal aku merasa tak ada sesuatu yang istimewa dari dalam diriku. Suigetsu, salah seorang dari mereka bahkan terang-terangan melamarku saat ia mengajak makan malam bersama sepulang kerja. Aku hanya tersenyum canggung dan menolaknya dengan hati-hati. Aku jelaskan padanya bahwa aku belum siap untuk menikah, tanpa memberitahukan alasan yang sebenarnya bahwa masih ada seorang pemuda yang entah berada di mana, tengah merajai hatiku saat ini. Membuatku tidak mampu berpaling sedikit pun dari dirinya.

Lepas dari perusahaan pengiriman barang, aku bekerja di kantor pemerintahan. Aku menandatangani kontrak kerja satu tahun sebagai staf bagian administrasi.

Lingkungan kerja baruku ternyata tidak lebih baik dari sebelumnya. Memang jobdesk-nya tidak terlalu memberatkan fisik dan otakku, tapi suasana kantor sungguh sangat tidak ramah. Bekerja di kantor pemerintahan lumayan berbeda dengan kantor swasta. Di sini, karyawan bukan berlomba kejar target tapi berlomba bermalas-malasan dan saling lempar tugas. Selain itu, hal yang paling tidak mengenakkan adalah karyawan sekantor terbagi menjadi beberapa kubu yang terlihat cukup jelas di mataku. Mereka suka bergosip dalam satu kelompok, membicarakan hal buruk tentang orang lain.

Bahkan aku pernah menjadi korban gosip tersebut. Mereka mengatakan bahwa aku merayu kepala subdivisiku agar bisa dengan cepat meraih kenaikan posisi jabatan. Padahal, berinteraksi dengannya pun aku nyaris tak pernah.

Oh, tidak juga.

Laki-laki tampan bernama Utakata itu sempat mengajakku kencan ke taman kota dan menyatakan perasaannya padaku. Tak ada yang kurang padanya, wajah rupawan, jabatan tinggi, kekayaan tak diragukan lagi, tapi apa daya saat itu hatiku tak mau beranjak dari Naruto-kun. Hingga akhirnya tentu saja aku melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan pada Suigetsu dulu, aku menolak Utakata-san. Mungkin kejadian inilah yang akhirnya menimbulkan kabar miring tentang hubunganku dengan Utakata-san. Terlebih saat ku tahu, Utakata-san sama sekali enggan menyapaku. Ia hanya tersenyum mengejek saat ada yang berbisik tidak mengenakkan tentang hubungan kami. Apa mungkin laki-laki itu sengaja melakukan hal ini?

Satu tahun berlalu, aku tidak berniat memperpanjang kontrak kerjaku. Lingkungan kerja di sana sangat tidak nyaman. Meski gaji yang kudapat sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan, tapi terlalu lama tenggelam dalam keadaan itu aku bisa tertekan.

Setelahnya, aku tidak lagi berusaha mencari pekerjaan di kantor. Aku mencoba bekerja mandiri dengan wirausaha. Tabunganku hanya sedikit, jadi hanya cukup untuk modal berjualan makanan. Memanfaatkan kemampuan memasakku yang lumayan, aku berjualan yakisoba dan takoyaki. Aku tidak punya uang untuk menyewa bangunan toko, jadinya aku berjualan dari satu stand ke stand lainnya ketika ada event atau festival. Karena itulah, arus pemasukanku tidak banyak. Aku berjualan hanya seminggu sekali atau bisa dua minggu sekali.

Kesusahan karena kebutuhan yang belum tercukupi, akhirnya aku kembali mencari pekerjaan kantoran.

Lalu terjadilah hal terburuk dari sekian pengalaman aku bekerja.

Aku diterima di sebuah perusahaan bidang periklanan. Sebagai perempuan, aku senantiasa bersikap sopan dan lemah lembut dalam tindakan dan bertutur kata, tapi jika ditanya orang lain tentang perusahaan ini, aku berani menyebut bahwa ini adalah perusahaan busuk.

Awalnya memang semua berjalan lancar. Aku menjadi asisten salah satu karyawan senior yang sangat penting bagi perusahaan. Dia wanita yang baik dan ramah, walau kehidupan rumah tangganya tidak bagus karena bercerai tapi karirnya membuatku takjub. Aku sendiri, seperti kembali menjadi pekerja magang dengan dia sebagai trainer.

Setelah sebulan bekerja, barulah aku benar-benar mengerti bagaimana lingkungan kerjaku ini berjalan. Penuh intrik dan drama kotor, serta persaingan yang tidak sehat.

Aku memanggilnya Kurenai-senpai. Walau senior, tapi dia sangat disiplin. Aku meniru kebiasaannya bekerja seperti datang selalu tepat waktu bahkan lebih pagi. Dia juga rajin, seringkali pulang paling akhir untuk menyelesaikan semua pekerjaan agar tidak ada tugas hari ini yang berpindah ke esok hari.

Melihat betapa kerasnya Kurenai-senpai bekerja, aku menjadi malu pada diriku sendiri. Selama ini aku sering mengeluh dengan pekerjaan dan sukar menerima nasib yang kujalani.

Suatu ketika, aku melihat dirinya yang untuk ke sekian kali pulang terlambat. Aku jadi sungkan pulang awal lalu berpikir untuk menawarkan bantuan padanya. Kami pun lembur berdua tanpa ada tambahan upah.

Besok harinya, telingaku mendengar fitnah yang diarahkan padaku, sengaja mendekati atasan dan mencari muka. Itu sangat tidak benar. Ingin mengklarifikasi tapi Kurenai-senpai lebih dulu bicara padaku.

'Tak perlu menghiraukan gonggongan anjing yang penuh rasa iri.'

Aku berusaha sabar, memfokuskan pikiran pada target pekerjaanku agar bisa tak mengacuhkannya.

Tidak berselang lama, aku kembali mendapat musibah. Saat mendapat tugas lembur hingga malam hari, aku menjadi korban pelecehan seksual beberapa karyawan laki-laki. Beruntung aku berhasil kabur. Jika tidak, entah akan jadi seperti apa diriku.

Aku sudah hendak mengajukan surat pengunduran diri, mengalah demi menghindari masalah berbuntut panjang jika berurusan dengan aparat hukum, tetapi niat itu kubatalkan karena Kurenai-senpai. Setelah tahu kenyataan bahwa dia juga diperlakukan tidak baik oleh karyawan senior lainnya, aku memutuskan untuk terus berada di sisinya, menemaninya. Diapun bercerita bahwa pernah mengalami nasib serupa denganku, menjadi korban pelecehan. Bersyukur dia juga selamat ketika itu.

Sejak saat itulah, aku dan dia lebih hati-hati agar tidak terulang kejadian buruk yang sama.

Tapi yang namanya nasib buruk, datang tanpa bisa dicegah.

Kurenai-senpai diminta tolong oleh karwayan senior lain. Ia tahu bahwa dirinya hanya dimanfaatkan, tapi sebagai karyawan teladan dia tak enak menolak.

Nyatanya, itu adalah sebuah muslihat. Kurenai-senpai dijebak dan dituduh menggelapkan uang perusahaan.

Musibah terberat ini akhirnya membuat Kurenai-senpai tertekan juga. Semua tampak jelas dari raut mukanya.

Sore hari setelah jam kerja usai, sekali lagi aku menawarkan bantuan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi kali itu dia menolak, tidak biasanya. Dia malah menyuruhku segera pulang.

Sebelum aku pergi, dia mengucapkan kata terakhir padaku,

'Hinata, bagaimanapun kondisinya, bahkan di saat yang terburuk sekalipun bagimu, tetaplah pegang teguh kejujuran.'

Dan ….

Ternyata itu memang kata-kata terakhir Kurenai-senpai.

Saat aku tiba di kantor pagi-pagi, sudah ada banyak polisi di sana.

Aku terkejut, bahkan pingsan ketika melihat tubuh Kurenai-senpai yang sudah tak bernyawa diangkut ke mobil ambulan.

Aku sadar saat siang harinya, meski masih shocked tapi aku berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Informasi yang kudapat, pihak kepolisian mengumumkan bahwa Kurenai-senpai mati gantung diri di ruang kerjanya malam hari saat lembur.

Aku sama sekali tidak percaya.

Pasti ada yang salah dengan penyelidikan polisi.

Kurenai-senpai yang kukenal tak akan berbuat seperti itu. Sedepresi apapun, dia pasti tegar menghadapinya.

Aku yakin dia dibunuh.

Aku mencurigai seseorang, Asuma Sarutobi. Karyawan senior yang kutahu menjebak Kurenai-senpai. Tapi aku tak punya bukti, jadi aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Beruntung, sore harinya aku sempat mengikuti prosesi pemakaman Kurenai-senpai.

Satu kenyataan yang membuatku menangis menitikkan air mata hingga tampak seperti orang tertawa. Dari keluarga Kurenai-senpai, aku mengetahui kalau Asuma Sarutobi adalah mantan suaminya.

Yang benar saja? Sama sekali tidak lucu.

Kenyataan macam apa ini?

Besoknya, karena tidak ada hal apapun lagi yang menahanku. Aku menyerahkan surat pengunduran diri akibat tidak tahan bekerja di sana.

Tapi apa yang terjadi?

Atasan yang menerima surat pengunduran diriku malah berkata sinis,

'Nona, seharusnya kau harus lebih tahu diri! Pengunduran diri hanya bagi karyawan berprestasi, tidak untuk karyawan rendahan sepertimu.'

Aku tak bisa berkata apa-apa untuk membalasnya. Satu hal yang aku mengerti, mereka semua berkelompok, bersatu, berusaha bersama untuk menyingkirkan Kurenai-senpai dari perusahaan ini dengan cara yang kotor dan keji.

Keberadaan Kurenai-senpai sebagai karyawan terbaik, dianggap penghalang oleh semua orang. Bos takut jabatannya direbut, karyawan setingkat iri dengki, dan karyawan di bawahnya tidak bisa mendapatkan promosi jabatan karena kalah tenar dengan prestasi Kurenai-senpai.

Sungguh, sebuah perusahaan yang hampir semuanya diisi oleh manusia bertabiat busuk.

Aku bersyukur telah keluar dari perusahaan itu.

Begitulah, nasibku yang tidak pernah baik jika tentang pekerjaan. Namun dari sana aku mempelajari banyak hal berharga, di antaranya tentang kedisiplinan dan rajin bekerja. Di atas semua itu, kejujuran mutlak paling utama bagaimanapun kondisinya ketika baik maupun buruk.

Aku sangat berharap, semua kejadian itu tidak lagi menimpaku. Kepada Tuhan kuberdoa, semoga dari panggilan wawancara ini aku diterima bekerja. Dengan kondisiku yang sekarang, aku tak terlalu memikirkan berapa gajiku asal lingkungan baru tempatku bekerja ini membuatku nyaman dan betah.

"Selamat, Anda kami terima bekerja."

Bapak kepala bagian personalia yang bertugas mewawancaraiku, mengulurkan tangannya mengajakku berjabat.

Ini serius?

Aku tidak salah dengar bukan?

"A-aah ya, terima kasih."

Kujabat tangannya, sedikit malu karena suaraku tiba-tiba gagap.

Sungguh, ini berita membahagiakan. Neji-nii dan Hanabi pasti senang mendengarnya.

"Nona, mulai Senin lusa Anda sudah mulai bekerja di kantor ini. Saya telah membaca dan mempelajari CV yang Anda tulis. Posisi asisten manajer keuangan kantor ini sedang kosong dan saya pikir Anda cukup berkompeten untuk menempatinya."

Aku mengangguk, tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Kepala bagian personalia berdiri.

"Baiklah, saya masih ada pekerjaan lain."

"Umm, kalau begitu saya permisi."

Aku membungkukkan badan sebentar lalu berjalan keluar.

Hatiku diliputi kebahagiaan.

Namun.

Entah datang darimana aku mendapatkan firasat tidak mengenakkan.

Ketika aku menutup pintu ruangan kepala bagian personalia tempatku menjalani tes wawancara, aku sempat melihat dia tersenyum padaku. Bukan senyum ramah seperti yang dia sunggingkan selama wawancara, tapi senyum tak wajar.

Meskipun aku tidak pernah mendapatkan pelajaran semasa kuliah, tapi sekian waktu kujalani dengan berpindah-pindah lingkungan kerja, aku mendapatkan banyak pengalaman tentang membaca mimik muka orang lain.

Ahh tidak!

Tidak sepantasnya aku berpikir buruk. Aku harus berpikir positif, aku meyakini kalau di tempat kerjaku yang baru ini, takdir baik benar-benar akan datang kepadaku.

Aku berhenti melangkah ketika sudah keluar dari gedung kantor, kubalikkan badan untuk sekali lagi melihat tempatku bekerja mulai lusa. Deretan huruf-huruf balok berkuran besar dengan sebuah logo menempel di curtain-wall bagian depan bangunan.

Mizutech Comp Inc.

Nama perusahaan ini, perusahaan yang bergerak di bidang industri perakitan komputer dan laptop. Perusahaan terbesar yang berdiri di Kota Ame. Karena itulah, diterima bekerja di perusahaan ini terlebih langsung ditempatkan pada posisi yang cukup penting membuatku sangat senang.

Meski besar, kenyataannya Mizutech Comp Inc hanyalah anak dari perusahaan multinasional yang menjalankan bisnis multisektor. Induk perusahaannya adalah Mizu Group yang berkantor pusat di Konoha. Perusahaan yang menjalankan bisnis teknologi komunikasi sampai farmasi dan alat kesehatan, tidak hanya di Jepang saja tapi juga sampai ke Amerika.

Secuil yang aku tahu, perusahaan multinasional Mizu Group adalah milik seorang wanita karir paling sukses di Jepang. Wajahnya cukup sering tampil di layar kaca maupun majalah bisnis. Kalau tidak salah namanya,

Mei Terumi.

Sebelum benar-benar pulang, sebuah doa terlintas dalam benakku.

Semoga hari ini menjadi awal titik balik perjalanan hidupku.

.

.

.

TBC

.

.

.

Mohon maaf bagi yang sudah menunggu lama. Ya, terlalu lama malahan. Sebenarnya chapter ini sudah dibuat oleh Valentinexxx dan SiHitam sejak lama, mungkin hampir dua bulan yang lalu. Tetapi karena saya terlalu soksibuk, jadi baru sempat menambahkan bagian saya dan editing akhir.

In syaa Allah chapter berikutnya tidak akan selama itu ^^

Terima kasih.