Chapter 5
...
Sebuah kamar dengan ukuran cukup luas, 6 kali 5 meter. Dinding bercat putih bersih yang hanya dihiasi dua buah pigura berukuran sedang, menampilkan foto sang pemilik kamar dengan keluarganya. Di sisi selatan ruangan ada sebuah ranjang berukuran king yang dilapisi sprei jingga. Sementara di sisi sebaliknya, diletakkan sebuah lemari kayu ek dengan ukiran yang cukup rapi. Dinding bagian timur dihiasi sebuah jendela besar yang menghubungkan kamar dengan balkon, jendela itu terbuka.
Sesosok laki-laki berambut kuning acak-acakan sedang berdiri menumpukan kedua tangannya ke pinggiran pagar balkon. Tatapan mata birunya mengarah hampa pada deretan tanaman hias di bawa sana. Warna warni varian bunga yang berjajar, beberapa tanaman kerdil bahkan tanaman berduri semacam kaktus tumbuh subur di taman ini. Sebuah kolam yang berisikan beberapa ekor ikan koi menambah asrinya taman tersebut.
Laki-laki itu bergeming. Pun wajahnya tak menunjukkan setitik ekspresi. Bibirnya terkatup rapat, hidungnya menarik napas dan mengembuskannya. Angin yang bertiup pelan membuai lembut helaian kuningnya, sedikit menggelitik tengkuk dan terasa dingin. Namun tak ada keacuhan apa pun yang ia tunjukkan.
Naruto, laki-laki itu, sedang larut pada dalamnya pikir. Ialah tentang ucapan seorang wanita yang sangat ia hormati, beberapa waktu lalu.
"Bisakah kau menikahiku?"
Deg!
Mendadak jantungnya berdegup kencang, memompa darah lebih cepat. Entah mengapa ia merasa perutnya mulas yang tidak biasa. Hangat juga menjalar sepanjang organ tubuhnya. Hingga jauh menyepuh merah wajah kecokelatannya.
"Ya Tuhan," keluhnya.
Perkara jatuh cinta ia pernah mengalami, pada seorang gadis yang pernah menjadi teman dekatnya. Ia bahkan masih menyimpan rasa itu hingga saat ini, tersemat rapi menghiasi hatinya.
Namun, yang sekarang benar-benar aneh. Pasalnya, wanita yang mengatakan kalimat sakral itu adalah wanita dewasa, yang sudah pernah menikah, dan yang begitu ia hormati. Laki-laki itu merasa kerdil dan tidak punya kemampuan untuk berkutik di hadapan wanita yang seolah sudah terlampau sempurna untuk urusan semacam ini.
Sebelah tangannya yang besar terangkat menutup mulut.
Gamang memenuhi jiwanya. Ia merasa bingung pun dilema. Pada satu sisi, sisi hatinya, ia masih mematri rapi cintanya pada si gadis Hyuuga seorang. Tentang gadis itu selalu mampu membuatnya gila. Dengan bayangan wajah dalam benak saja, bisa membuat Naruto salah tingkah, mendadak demam dan wajahnya memerah. Apa lagi saat mengingat janji masa kecil mereka, Naruto selalu merasakan detakan yang berkali lipat mendobrak ruang dadanya.
Hyuuga Hinata
Gadis yang teramat sangat ia sayangi. Gadis yang padanya ia berharap menghabiskan sisa cinta, gadis yang dengannya ia berharap ia bertumbuh menua. Gadis yang bersamanya ia berharap menjemput bahagia.
Lalu di sisi lain, sisi logikanya, berpikir pada yang lain. Seorang wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri. Rasa sayang yang dalam ia miliki, tetapi tak satu pun dari rasa itu bermakna romantis.
Mei Terumi
Wanita yang padanya ia menaruh rasa hormat, wanita yang karenanya ia dan keluarganya bisa menjadi seperti sekarang ini, wanita yang membuat dirinya mengucap janji. Janji untuk selalu melindungi dan membuat wanita itu bahagia.
Namun, apa daya jika ternyata inilah keinginan wanita itu. Keinginan seorang Mei Terumi untuk bersuamikan dirinya.
Sungguh Naruto tak habis pikir. Apa bagusnya seorang Uzumaki Naruto bagi wanita terhormat seperti Mei Terumi?
Naruto hanya seorang laki-laki miskin dari keluarga miskin, yang kebetulan bertemu dengan dewi fortuna semacam Mei. Naruto juga bukan laki-laki tampan dan menarik seperti kebanyakan laki-laki yang mendekati Mei. Apa lagi jika dibandingkan dengan mendiang suami Mei.
Eh?
Tunggu!
Suami Mei?
Naruto tersentak. Akalnya mengingat satu fakta yang semakin membuatnya bingung. Fakta bahwa Mei Terumi teramat mencintai mendiang suaminya. Itu bahkan menjadi salah satu alasan mengapa wanita itu lebih memilih hidup menjanda setelah bertahun-tahun dan enggan menerima lamaran yang diajukan beberapa pria padanya. Wanita itu mencintai mendiang suaminya. Bahkan kalung pemberian sang suami tak pernah lepas menghiasi leher putihnya.
Jika seperti itu, lantas mengapa mendadak ia berubah pikiran? Mungkinkah Mei telah jatuh cinta padanya?
Dengan cepat Naruto menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran aneh itu.
"Tidak mungkin," gumamnya.
Merasa tidak mampu lagi berpikir dalam keadaan kalut seperti ini, Naruto menyerah. Ia memilih masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjang. Lagi, pikirannya menerawang, tetapi tak bertahan lama karena beberapa menit kemudian ia terlelap.
A/N:
Hinata mulai berpikir apa yang menarik dari dunia selepas kematian ayahnya. Obsesi untuk menjadi penulis makin kandas. Hinata merasa kesepian. Namun pada suatu hari, ia ingat akan galeri ayahnya yang ada di ruang belakang. Sang ayah merupakan pelukis yang kerap mengunjungi daerah-daerah. Ketika Hinata memasukinya, ia menemukan sebuah lukisan yang amat menarik dengan judul 'Sunshine'. Sosok pria tampan beriris mata biru, yang berdiri di atas tebing dengan panorama matahari terbenam. Akan tetapi siapa sangka. Pria dalam lukisan tersebut muncul di depannya, dengan wujud 'sedikit' berbeda.
Sinopsis Light Novel MARRY SUNSHINE, project saya bersama Kimono'z
Untuk tanya-tanya dan pemesanan silakan PM saja ya ^^
Terima kasih
.
.
.
UNBREAKABLE PROMISE
.
Disclaimer : Karakter yang dipakai di dalam ff ini adalah milik Masashi Kishimoto
.
.
.
Original Story : Si Hitam
Written by : Valentinexxx, Si Hitam and ForgetMeNot09
Editor : ForgetMeNot09
Seminggu kemudian
...
Ia berjalan cepat memasuki kantor. Sudah terlambat beberapa menit dari waktu yang seharusnya dijadwalkan untuk rapat perusahaan. Salahkan pikirannya yang selalu berkecamuk sejak beberapa hari ini. Terlebih semalam, membuat Naruto tak mampu memejamkan matanya.
Ya, satu hal yang masih betah menaungi benaknya. Tentang lamaran Mei Terumi. Benarkah itu lamaran? Sebab di telinganya lebih mirip seperti,
"Bisakah kau menikahiku?"
perintah secara halus.
Namun, semalam Naruto telah membulatkan tekad. Mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya, yang berpengaruh besar pada kisah cintanya. Ya, ia telah membuat seluruh bagian dirinya untuk bersepakat.
"Naruto?"
Laki-laki itu tersentak. Sepertinya terlalu hanyut dalam lamunan membuat ia tidak menyadari bahwa dirinya telah sampai di depan pintu ruang rapat. Sekarang ia berdiri tegak tanpa berniat membuka pintu.
"Hei ..."
Kembali sapaan suara sopran itu menyapa. Naruto menatap wanita cantik di hadapannya.
Ya, Mei Terumi.
Sepertinya usia tak pernah menghalangi wanita itu untuk selalu tampil cantik. Lihat saja tubuh sintalnya yang berbalut gaun span selutut yang berwarna hijau pastel. Lukisan bunga sakura berjajar di ujung bawah garmen tersebut. Kemudian bagian atas, ditutup dengan blazer hijau tua lengan panjang. Rambut merah batanya disanggul tinggi dan diberi hiasan bunga sewarna dengan bunga sakura. Wajahnya hanya berpoles make-up tipis.
Wanita itu dilihat dari sisi mana pun, selalu cantik dan memukau.
"Ha-hai," jawab Naruto. Ia merasa malu karena terpergok tengah melamun.
"Jadi, kau mau masuk sekarang?"
Naruto mengangguk sebelum ia berucap,
"tetapi, Me-Mei-san, ada sesuatu yang ingin saya katakan."
Mei yang saat itu telah melangkahkan kaki, berhenti. Tanpa menoleh ia bertaya,
"apa ini tentang lamaranku?"
Mengatakannya tanpa beban, seolah tak peduli jika ada telinga-telinga para biang gosip mendengar dan mulut-mulut mereka menyebarkan kabar sekrusial ini.
Naruto mengangguk.
"Setelah selesai rapat hari ini, bolehkah saya membicarakan sesuatu dengan Anda?"
Mei memutar kepalanya sebatas lurus bahu. Ia tersenyum.
"Baiklah, aku tunggu di ruanganku."
Ruangan Mei
...
Sebenarnya ia lelah, tetapi apa boleh buat, apa yang akan baru saja ia lakukan adalah hal penting bagi dirinya. Mei duduk di kursi ruangan. Membereskan berkas-berkas rapat yang telah ia kumpulkan selama beberapa hari dengan bantuan Naruto. Beberapa menit berlalu, ia terlihat bersandar, merebahkan punggungnya yang terasa pegal ke sandaran kursi. Kemudian melepas kacamata yang ia pakai sejak rapat tadi. Matanya terpejam, rekaman memori percakapannya dengan Naruto selepas rapat tadi kembali terngiang.
.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
Mei bertanya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari mata biru Naruto. Sedangkan Naruto hanya menatap kikuk padanya. Laki-laki itu sepertinya sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk membicarakan hal ini dengannya. Terlihat dari sikap sungkan yang laki-laki itu tunjukkan.
"Katakan saja! Aku tidak mau ada yang kau sembunyikan dariku, jika itu menyangkut diriku," imbuh Mei.
Naruto mengangguk, ia mengambil napas dalam dan mengembuskannya kembali.
"Begini, Mei-san. Saya ingin meminta izin kepada Anda."
"Untuk?"
Naruto menghela napas lagi.
"Izinkan saya untuk pergi sebentar."
Naruto bisa melihat kernyitan di dahi Mei, tetapi ia tetap diam. Menunggu apakah wanita itu akan menanggapinya atau tidak.
"Pergi kemana?"
"Saya hanya ingin keluar sebentar dari rumah. Saya ingin melepaskan semua keterkaitan saya dengan Anda agar saya mampu berpikir lebih jernih tentang lamaran Anda kemarin. Bukan berarrti saya menolak lamaran Anda, Mei-san. Saya sudah memutuskan untuk menerima lamaran dan menjadi suami Anda."
Ucapan Naruto terhenti saat dia menyadari ada pergerakan tak nyaman dari wanita yang menjadi lawan bicaranya.
"Jadi kau menerimaku?"
Naruto mengangguk.
"Hanya saja setelah saya berhasil memantapkan hati saya. Saya tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari atas apa yang saya pilih. Itu karena hal ini adalah hal paling sakral dalam hidup saya."
Mei memundurkan tubuh dan kembali bersandar pada kursi kerjanya. Ia tetap memandang lurus mata biru Naruto. Wanita yang dikenal bijak itu langsung memahami apa yang termaksud dalam keinginan Naruto. Ia mafhum dam maklum atas keputusan Naruto dan hatinya juga mengungkap sependapat. Sebab Mei tahu benar bahwa selama 10 tahun ini, Naruto "terkungkung" oleh pengabdian dan balas jasa kepada dirinya. Meskipun pada kenyataannya Mei tulus melakukan semua itu untuk si bocah rambut kuning dan orang tuanya.
"Baiklah," ujar Mei.
Menuai tatapan penasaran yang diarahkan Naruto padanya.
"Tapi aku hanya memberimu waktu satu bulan. Setelah itu, kau harus pulang."
Naruto mengangguk tersenyum. Hatinya terasa ringan mendengar pernyataan Mei.
"Dan upacara pernikahan akan segera kita laksanakan."
Ucapan terakhir Mei sedikit mengejutkannya. Padahal Naruto telah siap menerima resiko itu, tapi tetap saja seperti ada sesuatu yang mengganjal di pernapasannya ketika mendengar ucapan Mei.
.
Mei tersenyum. Dalam hati ia merasa yakin bahwa Naruto tidak akan melarikan diri sebab menolak lamarannya. Mei memenuhi permintaannya atas dasar keinginan agar Naruto memantapkan apa yang menjadi keputusannya karena laki-laki itu sekarang adalah seorang pria, bukan lagi bocah yang pernah Mei pungut.
.
.
.
Naruto menatap rumah megah itu dari halaman depan. Sebelum kakinya membawa ia masuk ke mobil Range Rover kesayangannya.
"Selamat tinggal untuk sementara," ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian senyum itu menghilang. Ia duduk di balik kursi kemudi dan menatap lurus pada jalanan. Sebelum menyalakan mesin dan akhirnya menjalankan mobil, Naruto bermonolog.
"Tunggu aku Hinata. Aku pasti menemukanmu."
Amegakure
...
Naruto menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang terhubung dengan pusat kota Amegakure. Ini sudah dini hari, Naruto duduk di atas kap mobil, menikmati pemandangan yang dapat ia lihat sembari menyesap sekaleng soda. Kelap-kelip lampu kota terlihat indah dari tempat ini.
Angin malam berhembus membuat Naruto merapatkan jaketnya untuk menghalau hawa dingin. Ia ingin lebih lama di sini namun urung ketika dirasakan tetesan air jatuh di wajahnya. Ia memandang ke atas, langit tampak gelap tanpa bintang. Tetes-tetes air pun kian banyak turun.
"Sial."
Naruto menenggak habis minumannya dan segera masuk ke dalam mobil. Mungkin memang cocok kota ini disebut Amegakure. Baru tiba saja ia sudah disambut hujan. Seingatnya perjalanan yang ia lalui sebelum ia tiba di sini, cuacanya cukup bersahabat. Naruto menyalakan mesin dan melanjutkan perjalanan. Sepertinya ia harus mencari penginapan terlebih dahulu.
.
"Ini kunci kamar Anda, semoga Anda merasa nyaman. Silakan hubungi kami melalui pesawat telepon yang tersedia di kamar Anda jika Anda membutuhkan sesuatu. Daftar nomor penting ada di meja telepon."
Naruto mengangguk dan pergi menuju kamarnya setelah petugas penginapan dengan ramah memberinya kunci kamar. Penginapan ini tak terlalu besar, hanya terdiri dari dua lantai. Ornamennya kental dengan nuansa Jepang.
Meletakkan ransel dan jaketnya sembarang, ia membuka pintu geser yang terhubung dengan balkon kamar. Hujan deras kini tersisa gerimis, tetapi hembusan angin malam sedikit membuatnya menggigil. Dari jauh ia dapat melihat gedung tinggi dengan jendela-jendela kaca yang memantulkan temaram cahaya lampu kota. Gedung bertuliskan MizuTech Inc. itu cukup besar dibanding gedung-gedung lainnya. Naruto mendengus, ia berkelana untuk menenangkan diri dari segala hal yang berhubungan dengan seorang Mei Terumi, tapi justru malah membuatnya kembali teringat hanya karena melihat gedung perusahaan milik wanita itu.
Mengabaikan hal tersebut, Naruto kembali masuk ke kamar, membenahi barang bawaannya dan segera membersihkan diri. Pencariannya untuk menemukan Hinata akan dimulai esok hari.
Konoha Airlines
...
"Gluk! Gluk!"
Malu pasti Hinata rasakan seandainya ada penumpang lain yang mendengar suara kasar saat dirinya meneguk ludah. Dalam hati ia berharap semoga suara memalukan tadi tertelan sepenuhnya oleh suara mesin jet dari sayap pesawat yang ia tumpangi.
Ya, mau bagaimana lagi?
Harus Hinata akui, ini kali pertama bagi dirinya naik burung besi. Gendang telinga berdenging dan terasa nyeri setelah pesawat ini lepas landas, dan meneguk ludah kasar adalah satu-satunya solusi yang ia tahu.
Sekarang pesawat sudah terbang stabil di atas awan, Hinata menarik napas lega, ia bisa sedikit lebih tenang. Namun, detak jantungnya belum kembali normal sepenuhnya. Bukannya paranoid, memang siapa yang tidak grogi ketika pertama kali naik pesawat?
Bagaimana jika pesawatnya jatuh?
Mengapa pula harus naik pesawat?
Kota tujuan sebenarnya tidak terlalu jauh. Bahkan tidak sampai 3 jam jika ditempuh naik shinkansen.
Mungkin inilah nasib yang harus Hinata terima karena ikut perjalanan dinas rombongan karyawan dan petinggi dari perusahaan sebesar MizuTech Inc.
"Huuufffhh..." Napas panjang ia embuskan.
Konoha lah tujuan penerbangan ini. Padahal belum lama wanita itu pergi kesana. Menyebut kota itu membuat dirinya kembali teringat sosok Naruto.
"Ya Tuhan, apakah aku masih bisa bertemu dengannya setelah gagal pada janji 10 tahun yang lalu itu?" Ia bergumam. Bagaimana pun, ia masih merindukan sosok laki-laki itu.
"Hei, Hinata-san. Kau sakit? Lihat! Wajahmu pucat."
"Eh?"
Hinata langsung menoleh pada pria yang duduk di sebelahnya.
"Yang benar? Apa aku memang terlihat begitu?"
Pria itu mengangguk.
Hinata tidak akan marah laki-laki itu mengganggu lamunannya, setidaknya itu bisa mencegah dirinya mengalami depresi karena terus memikirkan pertemuan dengan Naruto yang tak kunjung tiba. Namun, dalam hari wanita itu masih percaya jika ia akan dipertemukan dengan Naruto walau tak tahu pasti kapan waktunya tiba.
Mengenai sosok pria di sebelah, ekspresi wajahnya menunjukkan jika dia mengkhawatirkan Hinata.
"Ah tidak ada apa-apa. Aku sehat-sehat saja."
"Lantas, mengapa wajahmu berkata sebaliknya?"
Hinata membuat isyarat dengan tangan, "tolong rahasiakan ini ya."
Kiba mendekatkan telinganya lalu Hinata berbisik, "aku baru pertama kali naik pesawat."
Seketika pria itu meledakkan tawanya.
"Pfffttt. Ahahaha...."
Kiba tertawa cukup keras sambil memegang perut. Rasanya Hinata ingin sekali memukulnya. Dia ingin meledek Hinata rupanya.
"Aku kira apa? Kau lucu, Hinata-san."
"Hmmpph."
Hinata mendengus dan memalingkan muka dari Kiba. Masih dengan wajah cemberut Hinata menyamankan diri duduk di sandaran kursi penumpang.
"Hei... hei... jangan ngambek begitu dong!"
"Sudahlah, Kiba. Jangan menggangu Hinata-san lagi."
Laki-laki yang duduk di sebelah Kiba terdengar bersuara.
Kursi penumpang kelas ekonomi ini memang berjajar tiga. Hinata duduk dekat jendela, Kiba di tengah, dan Shino duduk di tepi, tepat di samping bordes.
"Apa masalahmu, Shino? Bilang saja kau iri padaku karena tidak duduk disamping Hinata-san."
"..."
"..."
"..."
Dan begitulah seterusnya, kedua pria ini meributkan hal yang tidak penting, kebiasaan mereka setiap hari di kantor. Hinata sampai tidak habis pikir, bagaimana bisa pria berisik penyuka anjing yang senang menjahili orang lain bersahabat dekat dengan pria penyendiri, irit bicara dan penyuka serangga yang hawa keberadaannya sangat tipis?
Setelah bekerja di perusahaan MizuTech Inc., kehidupan Hinata jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kontrak kerja dua tahun dengan gaji yang lebih dari cukup membuat Hinata tidak perlu mengkhawatirkan masalah ekonomi keluarga lagi. Meskipun demikian, Hinata belum menerima gaji pertama karena baru bekerja selama dua minggu.
Hal paling bagusnya, Hinata menyukai lingkungan kerja baru ini. Tidak pernah ia bekerja sebetah ini selama berganti-ganti pekerjaan.
Kedua teman barunya tadi, Kiba dan Shino yang berada satu divisi yang sama, adalah rekan kerja yang ramah dan senang membantu orang lain. Berkat mereka berdua, Hinata bisa mengakrabkan diri dengan rekan-rekan lainnya bahkan dari divisi yang berbeda.
Sebagian besar teman baru Hinata dari kalangan laki-laki, bukan sebab ia sebagai perempuan yang pesonanya mampu menarik minat mereka tapi karena kelakuan Kiba yang mengenalkan Hinata hanya pada para karyawa. Menurut Kiba, berteman dengan karyawati-karyawati di perusahaan ini sulit dan merepotkan. Hinata tidak percaya kata-kata itu, sebab ada beberapa karyawati yang sengaja mendekati dirinya pertama kali lalu mengajak berteman. Dan para karyawati itu meminta Hinata agar tidak terlalu dekat dengan Kiba. Mereka mengatakan bahwa Kiba adalah pria narsis yang tak laku, senang tebar pesona dan suka mengaku jika dirinya adalah playboy yang digilai banyak wanita.
Ada-ada saja tingkah pegawai perusahaan ini. Hinata tidak tahu apa yang pernah terjadi antara Kiba dengan para karyawati. Tapi ia pikir itu bukan hal serius, mungkin hanya guyonan antar pegawai untuk menghindari stress di tempat kerja.
Saat ini, seluruh staf divisi keuangan sedang dalam perjalanan ke kantor pusat Mizu Group. Selama dua minggu ke depan akan jadi hari yang sibuk, sebab divisi keuangan dari semua anak perusahaan yang tergabung dalam naungan Mizu Group dikumpulkan dalam agenda tahunan rapat besar keuangan perusahaan. Hinata tidak bisa membayangkan sebesar apa perusahaan Mizu Group sehingga rapat keuangan saja sampai menghabiskan dua minggu lamanya.
Banyak hal yang akan dibahas. Anggaran keuangan tahunan perusahaan, rencana investasi, dan semua hal yang berhubungan dengan keuangan perusahaan. Selain rapat besar, juga ada rapat penting dan rahasia yang hanya diikuti oleh petinggi-petinggi perusahaan dan para pemegang saham.
Saat asyik dengan lamunannya, tiba-tiba Hinata mendengar suara pramugari menggema dalam kabin. Pemberitahuan jika sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Konoha. Penerbangan pertama Hinata akan usai.
Ia bisa bernapas lega sekarang.
Ah tidak
Setelah pendaratan yang menegangkan nanti, barulah ia benar-benar bisa bernapas lega.
Wanita itu sampai merutuk, "lihat saja dua minggu lagi, pokoknya pulang ke Ame nanti aku akan naik kereta, tidak peduli jika harus berpisah dari rombongan."
Amegakure
...
Hari ke empat belas setibanya di Amegakure, Naruto mengunjungi sebuah desa kecil. Seingatnya Hinata sangat menyukai pedesaan, mungkin saja Hinata pindah ke tempat seperti ini. Ia mendatangi tempat-tempat ramai, berharap ia bisa menemukan Hinata di sana. Naruto berkali-kali bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya dengan menunjukkan foto Hinata, namun tak seorang pun yang mengenal sosok gadis dalam foto itu. Tentu saja, wajah Hinata mungkin sudah berubah sekarang. Foto yang ia bawa adalah foto Hinata 10 tahun yang lalu, saat mereka masih remaja.
Putus asa, ia menerka-nerka apa pekerjaan Hinata sekarang, Naruto mendatangi berbagai tempat. Seingatnya pula, Hinata kecil pernah berkata ingin menjadi seorang guru. Naruto menghabiskan hari-harinya untuk mengamati tiap taman kanak-kanak dan sekolah dasar di pelosok desa.
"Aku pasti sudah gila," tawanya pada diri sendiri.
Sengaja Naruto memakirkan mobil di depan gedung sekolah hanya untuk melihat para guru yang keluar saat jam pulang sekolah. Namun nihil. Ia tak melihat Hinata.
Ia berpikir lagi, bisa saja Hinata bekerja di klinik kesehatan? Ya, pekerjaan itu sangat cocok untuk Hinata. Lagi, ia mencari beberapa klinik kesehatan dan mengamati wajah-wajah para dokter dan petugas kesehatan di sana. Namun tak ada Hinata.
Hari demi hari berlalu. Mengira usahanya tak membuahkan hasil, Naruto memutuskan untuk kembali ke pusat kota Amegakure. Sepanjang perjalanan ia tak sepenuhnya terfokus pada jalanan. Sesekali matanya melirik pada foto Hinata yang ia letakkan di dashboard mobil. Ia memikirkan Hinata. Entah mengapa semua terasa sulit sekarang. Dulu ketika ia kembali ke desa kelahirannya, ia tak bisa menemukan Hinata. Lalu sekarang, memutari kota Amegakure pun hasilnya tak jauh berbeda.
...
Suatu hari di kota Amegakure, Naruto terdiam di dalam mobil tanpa berniat keluar. Ia memandangi jalan dengan pandangan hampa. Lalu lalang para pegawai kantoran yang melewati mobilnya yang terparkir pun tak dihiraukannya. Sudah hampir satu bulan ia berada di kota ini, sudah beberapa kali pula pindah penginapan. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Hinata.
Gurat kelelahan tampak di wajahnya. Berhari-hari ini ia kurang tidur. Sisa bungkus makanan ringan dan cup ramen tergeletak begitu saja di dalam mobil. Baju dan kaus berserakan di jok belakang.
"Hinata," gumam Naruto sembari menyapukan jempolnya pada lembar foto.
"Di mana kau?" Ia berujar putus asa.
Di satu sisi, ia masih memikirkan permintaan Mei padanya. Namun di sisi lain, ia berharap bisa bertemu dengan Hinata. Naruto menumpukan tangan pada keningnya yang berdenyut. Memikirkan semua ini membuatnya pening.
"Jadi Hinata yang pergi dinas ke luar kota? Ah mengapa dia pergi dengan orang lain sih. Padahal aku juga ingin dekat dengannya."
Suara seorang pria yang melintas, menarik perhatian Naruto. Ia mengangkat kepala dan melihat seseorang yang sepertinya pegawai kantoran itu sedang mengobrol dengan temannya dan menyebut nama Hinata saat lewat. Ia mengamati dua orang itu dari dalam mobil. Saat itu Naruto baru menyadari sekitarnya, banyak pegawai hilir mudik di sekitar sini karena ini adalah komplek perkantoran yang juga dekat dengan MizuTech Inc.
Didorong oleh rasa penasaran, Naruto keluar dari mobil dan duduk di kursi sebuah kafe yang berkonsep outdoor. Ini sudah memasuki jam istirahat, banyak pegawai yang keluar mencari makan siang. Mungkin bosan dengan menu di kantin kantor. Naruto ikut memesan makan siang untuk mengganjal perutnya yang kosong karena sejak pagi ia hanya makan ramen instan. Ia merutuki dirinya sendiri. Biasanya ia selalu menjalani hidup dengan baik. Tidur cukup dan makan teratur. Namun semua berubah akhir-akhir ini karena beban pikiran yang mengganggu. Susah tidur, tidak nafsu makan, oh ingatkan juga bahwa sejak pagi tadi Naruto banyak melamun.
Naruto mengamati kantor besar milik Mei Terumi dari kafe yang ia singgahi. Terlintas di pikirannya untuk pergi ke sana kemudian meminta daftar nama pegawai. Dengan begitu mungkin ia punya petunjuk untuk menemukan Hinata. Tidak masalah bukan? Dia adalah CEO perusahaan Mei Terumi. Tapi sebentar, ia menggeleng lagi mengingat penampilannya siang ini. Jaket jingga-hitam kusut dan rambut berantakan, bukan ide bagus jika ia ke sana. Mungkin ia sudah terkenal sebagai pebisnis handal seantero Konoha, tetapi ia tidak begitu yakin ia seterkenal itu di Amegakure.
Tidak sadarkah Naruto bahwa sejak tadi ia sudah menjadi pusat perhatian kaum hawa yang melintas di sekitar kafe?
Dengan langkah tenang ia kembali ke mobil, melupakan rasa penasaran dengan nama Hinata yang dimaksud orang tadi.
"Mungkin Hinata yang lain," gumamnya dalam hati.
Konoha
...
"Gwaaaaa, Shinoooo. Kau lihat tidak kunang-kunang yang mengelilingi kita?"
"Tidak ada kunang-kunang di sini, Kiba."
"Aku takjub, kunang-kunang bisa berkembang biak di dalam hotel ini."
"Buka matamu lebar-lebar."
"Padahal kunang-kunang biasanya hidup di hutan pinggir danau."
"Hhahhh. Bicara dengan orang mabuk memang mengesalkan."
"Aku tidak mabuk."
"..."
"Aku tidak mabuk, kau dengar tidak huh?"
"..."
"Berisik sekali kau, Shino!"
Hinata hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum miris melihat kelakuan temannya. Sudah bicara sembarangan, padahal Shino sama sekali tidak menanggapi.
Hari ini rapat terakhir dan selesai lebih awal dari rencana, Kiba menyeret kedua temannya ke kedai sake. Jadi lah, dia mabuk dan terpaksa Shino memapahnya ke kamar hotel. Hinata sendiri masih sadar karena menolak untuk ikut minum sake.
"Sudah sampai, Hinata-san. Kami masuk dulu, semoga saja aku bisa tidur nyenyak malam ini," ucap Shino ketika kami telah sampai di pintu kamar.
"Ya, semoga saja."
Shino berpaling dan mengambil kunci, "ayo masuk, Kiba!" Ucapnya begitu pintu terbuka.
"Aku terbaaaaaanggg~~~..."
Kiba rupa benar-benar mabuk.
Hinata berbalik dan masuk ke kamar. Mereka menginap di hotel tempat rapat diadakan. Dan kebetulan kamar Hinata dan kamar kedua temannya berhadapan.
Hinata melepas jas kerja lalu meletakkannya di sandaran kursi. Kemudian menghempaskan tubuhnya yang lelah ke kasur.
"Aaahh, nyamannya ..."
Empat belas hari sudah Hinata berada di Konoha. Dan selama empat belas hari pula ia hampir tidak pernah melihat matahari di kota ini.
Bagaimana tidak?
Seluruh aktivitasnya dilakukan di dalam hotel ini. Pagi-pagi keluar dari kamar menuju ruang rapat dan kembali ke kamar lagi pada malam harinya. Begitu setiap hari.
Hinata memalingkan kepala ke arah jendela. Tampak indah sekali gemerlap lampu-lampu di kota ini. Jika dibandingkan dengan Ame, kota ini terlihat lebih hidup di malam hari.
Saat tiba di Konoha, Hinata berpikir akan punya waktu sebentar untuk keluar. Bagaimanapun juga, harapannya untuk bertemu Naruto tidak sedikit pun terkikis. Siapa tahu Naruto ada di kota ini. Semua kenangan tentang mereka 10 tahun lalu ada di Konoha, sehingga di sinilah satu-satunya tempat yang Hinata pikir bisa untuk bertemu dengannya.
Nyatanya, realitas jauh dari harapan.
Empat belas hari Hinata tidak bias pergi kemana-mana.
Selama melewati hari-hari itu, tidak ada satu pun hal yang membuatnya terkesan selain padat tugas dan agenda rapat yang membuat kepalanya hampir pecah.
Tapi sekarang Hinata bisa lega, dan hal yang tidak bisa untuk tidak ia syukuri adalah waktu tambahan lima hari lagi di kota ini. Bukan untuk rapat, melainkan hadiah dari para atasan pada mereka untuk bersantai di kota ini sebagai kompensasi atas empat belas hari kerja lembur.
Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya, para atasan masih memiliki agenda rapat jangka panjang lima tahunan. Barulah hari kesembilan belas nanti mereka kembali dikumpulkan untuk mengikuti rapat terakhir pengesahan rencana anggara keuangan. Lalu setelahnya pulang sama-sama satu rombongan.
Ya, itu berarti Hinata memiliki waktu lima hari penuh berkelana di Konoha agar bisa bertemu Naruto.
Hinata senang.
Ia bahagia.
Meski tahu, kecil sekali kemungkinan harapan itu bisa terkabul.
Hanya saja,
hanya saja ada satu masalah. Hinata ragu Kiba dan Shino mau melepas dan membiarkannya jalan-jalan sendiri. Meski belum lama mereka saling kenal, tapi Hinata dapat merasakan sikap mereka yang selalu ingin melindungi teman.
Ah salah
Yang benar adalah Hinata yang akan menyeret mereka berkeliling Konoha, menemaninya mencari Naruto tanpa mereka sadari.
"Hihiii ..."
Hinata tertawa dalam hati. Tak ia sangka bisa berbuat jahil seperti ini, mungkin karena tertular sifat kedua temannya.
Semakin malam, kantuk semakin kuat menyerang Hinata. Ia memejamkan mata, tapi ... bukannya tertidur, malah ia terbayang hari pertama rapat.
Rapat pembukaan yang dihadiri lebih dari 150 staf keuangan hari itu, dipimpin langsung oleh pemilik saham terbesar Mizu Group, Mei Terumi-sama.
Dari barisan belakang Hinata duduk, ia melihat dan tak dapat menyangkal kesempurnaan yang Mei miliki. Hinata tidak mengerti bagaimana bisa menarik kesimpulan seperti itu. Ia bahkan tak tahu apapun tentang wanita cantik itu.
Namun, melihat penampilannya secara langsung, mendengar dia bicara, memperhatikan caranya bersikap, dan merasakan aura yang terpancar dari dirinya. Semua itu membuat Hinata merasa sangat kecil.
Hinata bahkan tak percaya jika di dunia ini ada wanita seperti diri Mei.
Lalu, ada hal yang tak tahu mengapa, mampu menarik rasa ingin tahu Hinata. Yaitu saat Mei Terumi menyampaikan bahwa CEO baru Mizu Group tidak bisa mengikuti agenda rapat tahunan karena urusan yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan. Hinata menganggap hal itu biasa sampai ia menyadari kalau seketika itulah suara desahan kecewa memenuhi ruang rapat. Bagian anehnya saat Hinata tahu desahan kecewa itu keluar dari mulut para karyawati, dan semakin aneh, semangat mereka yang berapi-api sebelum rapat dimulai langsung menguap begitu saja.
Barulah Hinata mengerti setelah Shino berbisik padanya dan menjelaskan jika CEO baru yang dimaksud itu adalah pria muda seumuran dirinya yang mapan memesona sehingga digilai dan dipuja seluruh pegawai wanita Mizu Group, serta statusnya yang masih sendiri.
Tidak.
Bukan Hinata tertarik pada pria itu, karena hatinya sudah terkunci untuk satu orang. Ini hanya sebatas penasaran, tentang siapakah gerangan orang itu. Tidak lebih.
Akhirnya, tanpa sadar Hinata benar-benar terlelap dan memimpikan CEO yang tidak hadir itu, dimana bagian wajahnya buram seperti tayangan film yang terkena sensor.
Pagi hari saat Hinata terbangun, ingin ia berteriak kesal sekencang-kencangnya.
Bukankah jauh lebih baik kalau ia memimpikan Naruto
.
.
.
Hinata menutup mulutnya yang terbuka karena menguap. Netra ametis memotret setiap panorama indah perbukitan di luar jendela. Ya, ia benar-benar pulang naik kereta. Namun tidak pulang sendiri sebab Kiba bersikeras ingin menemaninya dan memaksa Shino turut serta. Mereka duduk bersebelahan dan kedua pria yang bersamanya telah terlelap.
"Hhhhhh ..."
Kesekian kalinya Hinata hembuskan napas berat nan panjang. Perasaan kecewa yang bersarang di dada tak dapat ia tolak walau sedari awal tahu betapa kecil kemungkinan untuk bisa bertemu dengan Naruto dalam waktu sisa lima hari menyusuri tiap sudut Konoha. Bahkan tiga kali ia bolak-balik ke desa di pinggiran Konoha tempat dirinya dan Naruto pernah bersama dulu.
Kiba sampai menganggapnya gila karena mengunjungi tempat yang sama tiga kali.
Hinata menerawang dan bertanya-tanya dalam hati,
"Kami-sama, apakah aku tidak Kau takdirkan bersama dengannya? Jika iya, tolong buat hatiku mampu mengikhlaskannya. Namun jika tidak, selama apa pun akan kutunggu."
Amegakure
...
Satu bulan berlalu, Naruto melajukan mobilnya meninggalkan Amegakure. Sepanjang perjalanan pikirannya melayang pada malam kemarin, saat sang ibu tiba-tiba meneleponnya.
.
Flashback on
Naruto merebahkan tubuhnya di sebuah kasur single sebuah motel. Penginapan kesekian kali yang ia singgahi. Seharian mencari petunjuk keberadaan Hinata namun tak mendapat hasil membuatnya kelelahan.
Drrt ....
Ponselnya yang berada di nakas itu bergetar, menampilkan panggilan dari ibunya. Segera ia menggeser layar dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Apa kau lupa pada ibumu ini hah? Pergi berhari-hari tanpa pernah mengirim kabar pada orangtuamu!"
Suara nyaring dari seberang sana membuatnya menjauhkan ponsel dari telinganya seketika. Ia meringis mendapati sang ibu murka. Ini juga salahnya, terlalu sibuk mencari gadis pujaan hingga ia lupa mengabari orangtuanya.
"Maaf Kaa-chan, aku hanya sedang sibuk, tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja di sini."
"Dasar kau ini! Sebenarnya apa yang kau cari? Cepatlah pulang! Bukankah pernikahanmu dengan Mei-sama akan segera dilangsungkan?"
Perkataan sang ibu membuatnya terdiam. Pernikahannya dengan Mei memang tinggal menghitung hari, tetapi entah mengapa ia justru semakin ragu, ia masih belum bisa memantapkan hatinya. Dan lagi, ia belum bertemu dengan Hinata.
"Naruto?"
Suara Kushina kembali terdengar, bingung karena Naruto tiba-tiba tak bersuara.
"Kaa-chan, apa Mei-sama akan bahagia bersamaku?"
"Heh?! Pertanyaan macam apa itu? Justru itu, apa kau bisa membahagiakan Mei-sama?"
"Aku selalu ingin membuatnya bahagia Kaa-chan, aku selalu ingin menjadi orang yang ia percaya, selama ini aku tidak pernah mengkhianati kepercayaan yang dia berikan. Tapi Kaa-chan, apa semuanya masih belum cukup? Mengapa harus dengan menikah? Aku-"
"Naruto"
Ucapan pelan dan dalam dari Kushina memotong perkataan Naruto. Kushina tahu putranya itu pasti bingung dengan apa yang dirasakan hatinya.
"Mei-sama sudah sangat baik pada kita sejak dulu, Nak. Kaa-san sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Apapun yang kau lakukan takkan mampu untuk membalas semua kebaikannya padamu, pada keluarga kita."
Naruto masih terdiam mendengarkan tiap kata yang diucapkan sang ibu dari seberang telepon.
"Naruto, menikahlah dengan Mei-sama. Dari luar dia terlihat tegar dan bahagia, tapi tiap kali kulihat matanya, dia juga menyimpan banyak luka dan itu membuatnya rapuh. Hanya kau yang ia percaya, Naruto. Buatlah Mei-sama bahagia!"
Perkataan Kushina membungkam Naruto.
"Lagipula...."
Kushina menggantung ucapannya lalu tertawa kecil.
"Kami sudah merestui kalian".
Mendengar itu pipi Naruto tiba-tiba memerah. Entah kenapa rasanya aneh begini. Sebagai pria yang belum pernah memiliki pengalaman mendalam tentang percintaan, ia merasa ibunya sedang menggodanya. Namun bisakah ia bernapas lega sekarang? Rasa ragu di hati yang selama ini membebaninya kini sudah menguap meski tersisa sedikit. Ia merasa lebih baik setelah berbicara dengan sang ibu.
"Terima kasih, Kaa-chan. Aku akan membahagiakan Mei-sama. Aku berjanji."
Flashback Off
.
Dan di sinilah Naruto sekarang. Ia memutuskan pulang kembali ke Konoha karena waktu yang ia minta dari Mei sudah habis.
Pelan-pelan ia berpikir, mungkin memang harusnya begini. Mungkin memang takdir dari Kami-sama bahwa ia belum bisa bertemu Hinata sekarang.
Sedikit mengandai-andai, jika saja kemarin ia bertemu dengan Hinata, lalu selanjutnya apa?
Apa yang harus ia katakan pada gadis itu?
Mengajak Hinata kawin lari? Tidak. Ia akan menyakiti orang-orang yang dikasihinya di Konoha.
Menceritakan semuanya dan berkata bahwa ia tidak bisa bersama gadis itu? Tidak. Naruto tidak yakin ia sanggup melakukannya.
Mungkin inilah yang terbaik. Ia sudah berjanji pada ibunya untuk membahagiakan Mei Terumi. Dan soal Hinata, biarlah perasaan itu menjadi rahasia. Di balik semua ini, ia yakin Kami-sama memiliki rencana untuknya.
"Maafkan aku, Hinata."
.
.
.
TBC
